Tak ada yang lebih diinginkan Luh selain kembali ke rahim. Sebagai anak hasil pemerkosaan yang berulangkali berusaha digugurkan, Luh merasa dunia fana ini begitu kejam. Tak ada kasih sayang dari ibunya. Dia dipelihara bagai hewan ternak yang cukup diberi makan tiga kali sehari.
Pengabaian sang ibu membuat Luh lari dari rumah. Dalam bentang hidupnya, dia bertemu perempuan-perempuan dengan kehamilan tak diinginkan. Hal itu mendorong Luh kelak menjadi ahli aborsi yang lihai. Baginya, aborsi adalah jalan agar janin yang tak diharapkan tidak menemui kenestapaan, dan agar para perempuan memiliki otonomi atas pilihan.
Luh pikir, hidup demikian akan memberinya kedamaian. Bukankah dia akhirnya dapat menolong janin-janin agar tak menderita seperti dirinya? Namun, niat baik itu kini membuatnya diburu bahaya. Bersama sebentuk rahim dalam stoples yang dia bawa, Luh berkelana sembari
Sasti Gotama adalah seorang dokter yang mencintai aksara. Ia gemar mengintip sisi tergelap jiwa manusia dan melukiskannya dalam deretan karya. Karyanya telah dibukukan dalam Kumpulan Cerita Penafsir Mimpi (Indigo Publisher, 2019). Cerpen-cerpennya telah tersiar di media cetak dan media online Indonesia.
Bukunya, Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam (Diva Press, 2020), masuk dalam 5 besar buku sastra pilihan Tempo 2020, menjadi nominee Penghargaan Sastra Badan Bahasa Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi 2021, dan pemenang I Hadiah Sastra “Rasa” 2022.
…. dia tahu tubuhnya hanya sulur kacang panjang yang bertumbuh membelit bilah bambu bernama kehidupan; tanpa rasa tanpa perasaan. Tubuh dan jiwanya kebas. (p.1)
Kalimat ini adalah pembuka yang sangat bagus dan menjanjikan sebuah kisah dengan belitan sureal akan tumbuh-tumbuhan. Terlebih kisah besar novel ini adalah tubuh perempuan dan rahim yang saya bayangkan akan sangat indah bila Sasti memakai imajinasi dan metafora tetumbuhan.
Kisahnya seputar Luh yang “anak terbuang”, dibuang ibunya, dibuang oleh sistem juga, lantas menemukan pelarian dan peneriman oleh Dokter Markus lantas mengajarinya menjadi ahli kuret. Menariknya adalah Sasti sangat hadir sebagai dirinya yang dokter. Dibandingkan Ingatan Ikan-Ikan porsi hal-hal seputar kedokteran dalam novel ini rasanya lebih penuh, lebih kuat, dan menjadikan novel ini sangat istimewa.
Tapi….. ada beberapa poin yang saya sendiri mengernyitkan dahi: 1. Mengapa harus ada isu 1965 dan 1998 di novel ini? Apakah aneh kehadiran dua isu ini? Jelas tidak…. sama sekali tidak, sebab semua orang berhak menulis apa saja. Namun, saya rasa dua perkara ini tidak begitu esensial dalam novel ini. Mengapa? Andai dua perkara ini dilepas dari kisah Luh, cerita akan masih penuh. Jadi, saya malah menyayangkan kehadiran dua isu ini sebab lagi-lagi hanya menjadi hook masuk ke “sastra”. Apalagi dua peristiwa sejarah ini tidak dielaborasi dengan porsi yang pas. Sayang saja….
2. Perlu diperiksa kembali; tahun 70-an ketika orang menulis di media massa (dan kemudian buku) bagaimana sistem pembayaran royalti/honor? Transfer atau wesel pos? Kalau wesel pos, bagaimana cara Kalimah menerima uangnya? Padahal Kalimah kabur (meski tidak dijelaskan kemudian dia pakai ET atau tidak di KTP-nya, ketiadaan ini juga menjadi alasan saya nyebut poin 1). Apa pakai ktp palsu? Entah juga, tapi yang pasti lingkungan Kalimah menyebut dia pe ka i. Jadi andai pakai ktp palsu, harus berurusan dengan rt rw keluarahan yang ribet pastinya. Bagian ini rasanya banyak yang luput detail kecilnya.
3. Luh SMP bekerja di rumah sakit dan kemudian belajar. Rasanya tidak akan jadi masalah. Cuma entah kenapa karakter dengan plot seperti ini hanya mengingatkan saya pada bagaimana novel zero to hero bergerak. Keajaiban-dan-keberuntungannya sangat sinetron sebenarnya. Saya bayangkan andai Luh masih menjadi kacang panjang kemudian hidupnya penuh misteri, keajaiban ini masuk akal.
4. Terkait poin 3, saya merasa banyak karakter yang belum terbangun secara utuh. Apakah buru-buru ingin selesai, sehingga karakternya kurang tergarap. Saya tidak tahu. Cuma rasanya serampungnya membaca, saya belum berempati kepada tokoh Luh. Untuk epik yang cukup berkdekade-dekade empati seharusnya mudah terbentuk.
Saya membayangkan andai Luh bukan anak tapol, hanya buangan sebab perkosaan, tanpa harus menyinggung 65, dia akan utuh sebagai novel soal ibu, rahim, dan bagaimana Luh si laki-laki dengan kuping bunga kol ini menjadi tokoh ajaib, sekaligus membantu.
Namun, dari novel ini saya belajar banyak soal rahim dan proses yang terjadi di sana. Kehamilan, aborsi! Harusnya ini menjadi stand point penting Sasti sebagai perempuan penulis sekaligus dokter. Sampai akhir, saya masih menanti soal kacang panjang dan kol yang menjadi titik pertama saya jatuh cinta.
Korpus Uterus tampak sebagai novel yang memenuhi konsep kuna dulce et utile Horatius: nikmat dari segi bentuk, berguna dari segi konten. Pada bentuk dan kontennya bisa ditemukan sajian-sajian khas seperti dalam prosa-prosa lain Sasti Gotama: diksi dan sintaksis yang segar, karakter-karakter dominan yang tak hitam putih, gerak alur yang mengecoh ekspektasi, variasi isu yang dibidik dari sudut-sudut pandang unik sehingga alih-alih menjejali pembaca dengan tendensi justru mengajak menyegarkan nalar.
Meski bertabur penanda latar tegas, Korpus Uterus tampaknya tidak dimaksudkan sebagai fiksi sejarah. Pembaca yang tahu sedikit saja perihal Ilmu Sastra dan mengenal konsep Anakronisme jelas juga tak akan pernah membaca Korpus Uterus dan fiksi mana pun dengan nalar remaja yang lantas menilai kualitas fiksi menggunakan timbangan selaras tidaknya latar fiksi dengan hafalan tanggal, bulan, tahun dari buku-buku tarikh sekolah menengah.
Namun, bahkan jika Korpus Uterus adalah fiksi sejarah maka mengharuskan kesesuaian teksnya dengan teks buku tarikh adalah malapraktik yang hanya mungkin dilakukan oleh pengulas karbitan. Sikap semacam itu tetap malapraktik bahkan jika didalihkan pada konsep Realisme dalam sastra: realisme adalah perkara hukum realitas, bukan perkara tarikh. Contoh sederhana: Pram melakukan anakronisme dalam Arok Dedes, tetapi hal itu tak berdampak apa pun pada kualitasnya sebagai salah satu karya cemerlang Pram. Selain itu, anakronisme di dalamnya justru perlu untuk menjaga kesesuaian alur novel tersebut dengan hukum realitas.
Jika ada kekurangan pada Korpus Uterus maka hal itu terkait jumlah halaman: novel ini kurang tebal dan karenanya tuntas dibaca dalam sekali duduk. Atau mungkin kelekastuntasan baca itu bukan merupakan konsekuensi dari kurang banyaknya jumlah halaman, melainkan konsekuensi dari tingginya kenikmatan yang ditawarkan. Gerak maju pembacaan halaman demi halaman Korpus Uterus mungkin berbanding lurus dengan peningkatan ekspektasi kenikmatan tekstual dan peningkatan produksi Dopamin pada otak sehingga mampu mengalahkan segala potensi godaan lain, termasuk godaan untuk menutupnya saat kita baru menjangkau halaman-halaman permulaan. Hatur nuhun, 😇
"Panuluh. Ya, Panuluh. Karena dia akan jadi suluh, penerang sekitarnya. Kelak, dia akan dikejar-kejar banyak perempuan." (p.9)
Sebagai anak yang terlahir hasil dari pemerkosaan di tahun 1965, Panuluh atau Luh hidup dengan penolakan dari ibunya. Saat usia 5 tahun, ia terpisah dari ibunya dan bertemu dengan Nur, seorang pekerja seks komersial yang menjajakan diri dengan "menikah" sesaat. Dari sana Luh bertemu banyak perempuan. Sesuai namanya, Luh pun dikejar banyak perempuan karena menjadi ahli aborsi.
Aku mengerti mengapa buku ini masuk kategori mendapat perhatian dari juri DKJ—meskipun bukan pemenang. Karena premis di buku ini segar dan menyajikan hal yang masih dianggap tabu oleh masyarakat, yaitu aborsi.
#
Aborsi sebagai tema besar di buku ini dibagi menjadi dua perspektif:
1) Yang sangat mencintai rahim Melalui tokoh Dokter Marcia atau Dokter Markus, aku menyelami dalamnya filosofi rahim yang "indah". Sudah sewajarnya perempuan melahirkan bayinya. Entah itu bayi hasil dari pemerkosaan kah, atau ibunya tidak sanggup lagi membesarkan anak karena berkalang kemiskinan, semua itu tidak dipedulikan. Rahim akan "rusak" jika diluruhkan secara paksa—lewat kuretase—jika bukan dalam keadaan "darurat" melalui aspek medis. Bukan urusan jika itu aspek kejiwaan ibu, moral, asusila, bahkan ekonomi. Bagi Dokter Markus, rahim itu indah. Seperti rahim ibunya yang diawetkan setelah ibunya memutuskan merenggang nyawanya sendiri akibat depresi pasca melahirkan.
2) Yang meluruhkan para janin Luh tahu rasanya diabaikan ibunya karena ia adalah anak yang tak inginkan. Berawal dari kejadian itu membuat Luh ingin "menyelamatkan" para wanita yang merupakan korban pemerkosaan. Para janin yang tidak diharapkan. Janin yang kelak akan menjadi anak yang "membebani" orang tuanya.
Perdebatan Luh dan Dokter Markus bagaikan suara-suara di luar sana yang pro dan kontra pada aborsi.
"Tanpa legalisasi, mereka akan mencari jalan secara sem bunyi-sembunyi. Hasilnya? Banyak yang terkena infeksi setelah aborsi. Tapi yang begitu lebih beruntung, karena sisanya banyak pula yang mati kehabisan darah. Perempuan punya hak atas tubuh mereka sendiri. Atas rahim mereka sendiri. Anda tak punya hak untuk melarang karena bukan Anda yang menjalani." (p.180)
#
Banyak yang menarik perhatianku—selain tema yang diangkat, yaitu penggunaan diksi yang cantik. Setelah membaca karya-karya penulis, ku bisa menarik kesimpulan bahwa tulisan beliau itu padat, lugas, namun puitis.
Luh dan Dokter Markus bercinta dengan bayangannya masing-masing. Dokter Markus dengan aroma luar biasa yang melingkupinya sepanjang tindakan, dan Luh dengan suara-suara lembut berirama ketika sendok kuretase mengerok sedikit demi sedikit lapisan endometrium", seperti simfoni angin lembah tatkala menyusuri dan mengikis lapisan gembur lumut-lumut basah. (p.127)
Lalu, latar belakang penulis yang sebagai dokter membuat buku ini terasa sangat "medis" di beberapa bagian. Tetapi, tidak perlu takut bingung karena ada penjelasannya di catatan kaki.
#
Untuk hal yang agak kurang menurutku, yaitu:
1. Penggunaan peristiwa 1965 dan 1998 yang sekadar tempelan Kedua tahun itu merupakan tahun "sakral" bagi setiap cerita lokal berlatar masa lalu. Namun, di buku ini hanya disajikan di awal untuk tahun 1965 dan bahkan untuk 1998 hanya disebutkan saja bahwa tahun itu ada datanya sekian banyak korban pemerkosaan. Aku rasa tidak mengambil latar tahun itu pun tidak akan apa-apa. Hanya informasi selewat. Sehingga bagi pembaca sepertiku tidak memperoleh keterikatan emosional di era itu pada buku ini karena penyajiannya pun kurang mendalam.
2. Subplot(s) yang tumpang tindih Luh dan segala dinamikanya dengan ibunya, menurutku sudah menjadi hal yang sangat bagus. Sayangnya premis ini tidak dieskekusi maksimal karena terlalu banyak tokoh-tokoh yang hadir dengan keruwetannya. Dan semuanya kebanyakan wanita. Seakan setiap masalah aborsi, ada perwakilannya di buku ini. Mulai dari PSK yang "diperkosa", mati karena aborsi ilegal, bercita-cita ingin menjadi ibu tapi berakhir rahimnya diawetkan, nenek yang cucunya merupakan korban pemerkosaan, korban yang dikeluarkan dari sekolah, karma sang lelaki yang membiarkan istrinya mati karena aborsi, dan lain sebagainya.
Karena terlalu banyak itu, akhirnya penyelesaian di act 3 terlalu terburu-buru. Diselesaikan dalam satu adegan. Untuk ending pun tidak terlalu membekas karena hanya sekadar oh begitu dan menggantung. Jadi, kayak ada yang belum selesai—banyak malah yang belum selesai. Bukannya mendapat conclusion, tetapi mendapat plot hole.
#
Meski demikian, buku ini meninggalkan impresi yang bagus karena aku suka tema besar yang diangkatnya. Empat bintang untuk tema itu.
Pernah gak kamu baca novel yang bikin ngilu sampai ke tulang?🤔 Asli, ini yang aku rasain pas baca Korpus Uterus.😖
Novel ini bercerita tentang Luh, anak dari korban pemerkosaan yang gagal digugurkan. Ia tumbuh dalam pengabaian dan trauma, tanpa kasih sayang sang ibu. Takdir mempertemukannya dengan perempuan-perempuan yang terjebak dalam kehamilan tak diinginkan. Luh pun bertekad menjadi ahli aborsi yang handal, menyelamatkan ribuan janin dari hidup penuh nestapa.
Kisah Luh dituturkan Kak Sasti dengan narasi yang tajam, lugas, getir, tapi juga puitis & magis. Dialognya frontal, penuh kritik sosial yang berani. Latar sosialnya kompleks, tapi diramu dengan rapi hingga terasa nyata. Sepanjang baca, rasanya seperti dihantam gelombang pedih tanpa henti.😭
Rasa pedih itu bukan tanpa alasan. Kak Sasti menyuarakan isu-isu sensitif dan tabu: hak atas tubuh, stigma aborsi, legalitas aborsi bagi korban pemerkosaan, ketidakadilan hukum, minimnya pendidikan seksual, hingga trauma lintas generasi. Semua dirangkai dalam alur yang mengurai tragedi tiap tokoh menjadi kisah yang hidup, emosional, dan terjalin pada satu benang merah—kuasa tubuh perempuan.
Yang paling nyesek buatku: stigma terhadap perempuan yang memilih aborsi kerap dicap "pembunuh tak bermoral". Stigma ini berakar pada anggapan bahwa rahim adalah "aset publik" yang wajib melahirkan, seolah nilai perempuan hanya diukur dari kemampuannya menjadi ibu. Sulit rasanya menyetujui pandangan ini. Keputusan aborsi tak sesederhana hitam-putihnya norma agama dan sosial-budaya. Ada faktor medis, psikis, bahkan hukum yang kerap diabaikan.
Semua kepahitan itu membuatku tak bisa menuntaskan novel ini dalam sekali duduk. Aku butuh jeda untuk memproses dilema moral para tokohnya. Latar belakang Kak Sasti sebagai dokter membuat risetnya tak perlu diragukan: akurat, detail, dan istilah medis disisipkan dengan cerdas tanpa terasa menggurui.
All in all, Korpus Uterus meninggalkan kesan mendalam buatku—kisah sarat emosi, intens, dan penuh perjuangan. Bukan bacaan nyaman yang disukai orang, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Novel ini menampar realitas, mengaduk pikiran dan rasa, lalu menegaskan: tubuh perempuan miliknya sendiri, bukan milik publik untuk dihakimi.
Oh ya, fun facts: Sasti Gotama sudah melahirkan banyak karya dan meraih segudang penghargaan bergengsi, salah satunya Kusala Sastra Khatulistiwa 2025. Dan jelas, Korpus Uterus gak akan jadi karya terakhirnya yang kubaca.
P.S. Desain cover dari @illustrationpoetry juga patut diapresiasi—penuh makna dan merepresentasikan isi novel ini!🤩
Anyway, menurut kamu, aborsi tuh legal atau illegal? Kenapa?🤔 Yuk, diskusi!
Buku ini mengulik banyak aspek yg cukup sensitif untuk di bahas serta diskusi di khalayak umum. Sejarah kelam, isu sosial, aborsi, prostitusi, pembunuhan, perempuan, patriarki, dan masih banyak lain nya. Cukup membuatku marah, kesal, sedih, semua bercampur aduk jadi satu. Tapi ada bbrp bagian scenes yg menurutku terlalu mulus utk posisi karakternya si Luh. But it’s okay, banyak sekali isu yang disampaikan secara menohok oleh penulis. Jadi penasaran pandangan para cowo2 kalo baca buku ini gimana opini nya🤨🥸
Buku ini akan memberikan dua pandangan mengenai kehamilan wanita: 1) dilahirkan, atau 2) dibinasakan.
Menceritakan tentang Kalimah yang menjadi korban pemerkosaan di tahun 1965 oleh aparat karena suaminya dituding sebagai dalang PKI ketika bekerja sebagai seniman Lekra.
Kalimah mengandung bayi yang tidak diinginkan, yakni Luh (Panuluh). Keinginannya untuk membinasakan bayi nyatanya sulit untuk dilakukan dan Luh tetaplah lahir dengan keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain. Luh memiliki telinga kembang kol yang pendengarannya setara lumba-lumba. Ajaib dan sangat peka.
Luh ditinggal begitu saja oleh Kalimah, sementara Kalimah memulai hidup baru menjadi penulis stensil dengan nama pena Mardi S (mengaku sebagai pria agar naskahnya bisa diterima penerbit).
Luh ditemukan oleh seorang PSK yang bernama Nur, kemudian diajak tinggal bersama di gang kecil hingga gang Dolly. Luh disayang oleh para PSK; Yati, Siti, Farida—yang mana tokoh mereka bukanlah tempelan cerita. Mereka berpisah saat muda dan dipertemukan lagi ketika dewasa.
Selama remaja, Luh berusaha mencari uang dengan menjadi petugas kebersihan di rumah sakit. Dia suka menguping pasien di ruang ginekologi, mempelajari buku-buku tebal, dan bertemulah dia dengan dr. Markus.
Siapa sangka jika dr. Markus tertarik dengan kegigihan Luh. Wanita itu memberikan tempat tinggal dan mengajarinya banyak hal. Namun, baik Luh dan dr. Markus punya perbedaan pendapat mengenai aborsi dan melahirkan.
Ada banyak istilah kedokteran tentang kuretase yang dijelaskan di buku ini. Isinya lugas dan mudah dipahami dengan catatan kaki. Ceritanya mengalir disertai lompatan waktu yang cepat: 1965, 1971, 1998, 2000an. Tema yang diangkat begitu kompleks yakni aborsi, pemerkosaan, kekerasan, tuduhan PKI, medis, dan legalitas aborsi.
Ada satu tokoh bernama Danang seorang polisi yang rasanya benar-benar tak layak menjadi manusia, seolah-olah dialah penyelamat amal ibadah seseorang, dan sok menggurui ketika bertemu dengan pasien pemerkosaan yang berusaha untuk bunuh diri.
Untuk plot-twist mengenai bra merah lumayan agak membuat saya kepikiran melenceng (hope this is not get too far). Meskipun bagian ending akan menimbulkan banyak pertanyaan, closure yang diberikan sudah cukup menjawab aksi Luh yang selama ini ingin dia temukan.
Satu hal lagi, tokohnya banyak. Pastikan mencatat atau mengingat detail di dalamnya. Soalnya ringkasan saya belum termasuk pengenalan karakter Lara, Luri, Maryam, dan kisah dibalik rahim yang hilang.
Ceritanya berpusat pada Luh, anak laki-laki yang lahir dari rahim seorang perempuan korban pemerkosaan di tengah konflik PKI. Sejak awal, kisah ini sudah berat—penuh trauma, penolakan, dan luka yang diwariskan dari ibunya. Luh lahir dengan cacat telinga berbentuk kembang kol, tapi justru dari situ ia punya kemampuan super: mendengar suara-suara yang tak bisa ditangkap orang lain, termasuk detak jantung janin dalam kandungan.
Perjalanan hidup Luh membawanya pada satu misi: menyelamatkan perempuan dari praktik aborsi ilegal yang berbahaya. Ia belajar otodidak hingga setara dokter obgyn dan membuka praktik aborsi dengan standar medis, meski tetap dianggap ilegal. Dari sini, isu aborsi, trauma, dan pilihan hidup perempuan jadi pusat cerita, dieksplorasi lewat riset medis yang kuat.
Kalau kata beberapa reviewer lain konflik besar seperti PKI atau ’98 cuma jadi “tempelan” semata, menurutku itu sah-sah aja; karena memang fokus utamanya bukan di sejarah, tapi bagaimana trauma personal dan pilihan hidup individu terbentuk di tengah latar waktu tertentu. Justru, meskipun hanya sekilas, kita tetap dapat sense tentang kondisi sosial-politik saat itu. Yang cukup menantang bagiku adalah gaya alurnya yang maju-mundur, hanya ditandai oleh tanggal di awal bagian. Bukan berarti salah, karena memang banyak novel lain juga pakai pola ini, tapi tetap bikin pembaca harus ekstra teliti untuk mengikuti urutannya. Ditambah lagi ada gap waktu yang terasa jomplang yang membuat transisinya agak mengejutkan, misalnya dari cerita masa kecil Luh yang langsung loncat ke usianya yang sudah 30 tahun—jadi seolah ada ruang kosong yang tidak terisi.
Meski begitu, Sasti berhasil menghadirkan karakter-karakter lain yang kuat dan memorable. Misalnya dokter Markus dengan penciuman tajamnya, atau tokoh sampingan lain yang punya kisah sendiri-sendiri, sehingga novel ini terasa penuh lapisan. Di sisi lain, ada juga tokoh yang sengaja bikin emosi, seperti Danang—seorang polisi yang sejak awal sampai akhir tetap jadi bajingan yang ditinggalkan tanpa perkembangan karakter sama sekali.
Yang paling disayangkan hanya bagian endingnya yang terkesan terburu-buru: semua karakter dipertemukan di satu titik, lalu ditutup begitu saja. Padahal sebelumnya tiap bagian dibangun dengan detail dan atmosfer yang begitu kuat. Walaupun begitu, aku tetap mengapresiasi keberanian Sasti Gotama mengangkat isu sensitif seperti aborsi, trauma, dan kemanusiaan dalam narasi yang penuh riset medis serta bahasa yang kaya.
5/5 for the content 5/5 for the writing 4/5 for the storytelling & plot
buku yang harus dibaca semua orang yang pro-life!!!! 😤😤😤 menceritakan kisah-kisah perempuan yang bernasib sengsara karena ulah laki-laki, yang merampas otonomi perempuan atas dirinya sendiri. sudah dirampas oleh laki-laki, dirampas pula oleh negara. kisah-kisah ini tidak hanya 1-2, namun cukup banyak. bisa dibilang bukunya sangat fast-paced. namun ternyata makin dibaca, kisah perempuan-perempuan ini makin berhubungan. untuk aku yang sangat invested dari halaman pertama, ketika aku membaca bagian kisah-kisah ini interconnected, itu menimbulkan rasa satisfying dan haru sih. gotta appreciate the idea. buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang agak puitis dan beberapa kali aku harus google kata-kata yang baru di mataku. ini buku yang ingin sekali aku rekomendasi ke semua orang, tapi aku sadar tidak semua orang akan cocok dengan buku ini. vulgar, aneh, tidak jarang membuatku bergidik nyeri dan berkata “ini yang nulis make ya?” tapi menurutku jika deretan trigger warning di buku ini dirasa masih aman, buku ini bagussss bgt sih buat dibaca 😁 #myopinigw
Buku pertama di 2026 yang SANGAT THOUGHT PROVOKING.
Sesungguhnya aku gatau harus riviu seperti apa, karena saking banyaknya hal-hal kritis dan mengundang diskusi dalam buku ini, tentang perempuan, makna rahim, legalisasi atau tidak aborsi, guna parenting yang benar dan masih banyak lainnya.
Menceritakan sudut pandang Luh, si anak hasil dari kehamilan yang tidak diinginkan dan tumbuh diabaikan oleh Ibunya sendiri, Luh mulai mempertanyakan banyak hal dari pertemuan pertemuannya dengan perempuan perempuan yang mewarnai kisah ini dari yang baik seperti Nur, Siti, Farida dan Yati, hingga yang turut mempertanyakan logika dan perasaan Luh seperti dr Markus. Dari perjalanan dan pertanyaan pertanyaan itu Luh tumbuh dan memaknai Ibu dan rahim dengan pandagannya sendiri.
Gila sih menurutku buku ini, sangat lugas, kritis tapi juga disusun dengan bahasa yang sangat indah, banyak term term kedokteran yang aku baru tau (ternyata kak Sasti emang dokter ya!) yang karenanya, hal yang dibahas di buku ini menjadi sangat logis tapi juga penuh perasaan. Kayak pribadi T dan F kamu diuji ketika baca Korpus Uterus.
Kamu tau yang dilakukan Luh itu salah, tapi apa yang dilakukannya itu didasarkan dari apa yang dia lewati dan minimnya parenting dan kasih sayang, jadi sedikit banyak kamu tau apa yang Luh lakukan tuh jadi seperti, "oh pantes" moment. Buku ini mempertanyakan dan menjelaskan hasil keputusan keputusan kecil dan besar yang dilakukan manusia sebelum menjadi orang tua, atau yah melakukan persetubuhan. Tapi sungguh aku jatuh cinta sama bahasa penulisan Kak Sasti yang indah.
Korpus Uterus karya Sasti Gotama merupakan novel yang menjadi salah satu naskah menarik perhatian juri di ajang Sayembara Novel DKJ tahun 2023. Bercerita tentang Panuluh, seorang anak yang lahir tanpa diinginkan ibunya, Kalimah. Berkali-kali dilakukan percobaan aborsi namun Luh memilih untuk lahir kedunia, meskipun kehadirannya tidak diinginkan oleh ibunya. Hal itu dikarenakan, Luh merupakan buah dari seorang bajingan yang memerkosa Kalimah saat ia dituduh menjadi salah satu anggota PKI sesaat setelah suaminya Hafidin yang lebih dulu telah ditangkap seusai berhubungan intim dengan selingkuhannya. Cerita dalam novel ini sebagian besar berlatar di Surabaya tahun 1965, 1971,1998 dan 2009.
Hidup Luh yang sedari mula tidak pernah dianggap ibunya,membuat dirinya diperlakukan seperti hewan ternak. Ia tumbuh dalam ombang-ambing ketidakpastian hingga ia bertemu dengan Nur, Yati, Siti dan Farida yang berprofesi sebagai PSK serta bertemu dengan dr. Marcia seorang ginekolog terkenal di Surabaya. Dari orang-orang tersebutlah Luh tumbuh menjadi seorang yang peka terhadap isu perempuan terutama tentang aborsi. Luh memiliki kemampuan pendengaran diatas rata-rata manusia umumnya, telinganya yang berbentuk seperti bunga kol mampu mendengar hingga detak jantung sekalipun. Hal itu turut memuluskan cita-cita Luh menjadi seorang ahli aborsi ilegal, yang dikemudian hari menjadikan ia buronan.
Novel ini bukannya tidak bagus, namun buat sy pribadi sebagai pembaca awam merasa ada beberapa hal yang dirasa perlu digaris bawahi:
1. Pemilihan latar di tahun 1965 sy rasa tidak begitu saja dipilih tanpa alasan oleh penulis, namun sy menyayangkan dampak dari kejadian 1965 hanya dibahas diawal saja dan jika ada efek jangka panjangnya hanya berwujud titik balik untuk hal-hal yang baik. Menurut saya, akan menjadi lebih menarik ketika bayang-bayang 1965 tetap melekat pada karakter Luh atau Kalimah. Karena buat saya, mengolah luka batin dan menjadikan titik balik ke hal yang positif itu tidaklah mudah.
2. Kemampuan mendengar Luh yang tidak biasa, alih-alih menjadi keunggulan Luh namun buat saya terlihat terlalu berlebihan. Setiap masalah yang dihadapi oleh Luh seolah bisa diselesaikan karena ia mempunyai kemampuan itu. Satu sisi merupakan hal baik, namun menjadi terlihat terlalu mudah dan beberapa kali justru menjadi shortcut jalan hidupnya berubah ke arah yang lebih baik.
Terlepas dari hal tersebut diatas, sy pun mengagumi bagaimana penulis yang juga seorang dokter banyak sekali menggunakan istilah medis dan sangat berkaitan dengan alur cerita. Hal lain adalah bagaimana tema tentang rahim yang dipilih penulis, sebab hal tersebut merupakan hal yang penting.
Ini adalah definisi buku yang bagus banget. Bagus secara harfiah, dan bagus bangeeet secara selera personal. Selain analogi dan prosa yang indah banget dibaca, juga sangat bermakna dari segi konten cerita.
Ini sesuatu yang baru dan segar. Membahas proses aborsi dengan detail melalui analogi suara. Buku yang selama ini aku cari-cari karena memuat isu perempuan yang masih dianggap tabu. Penyajian dialog antar tokoh membuat aku semakin sadar akan stereotipe perempuan.
Dikemas dengan bahasa medis yang keren abis. Bagian yang paling aku suka yaitu bagaimana penulis menyajikan konten medis dengan analogi aroma. Bahwa aroma vagina yang sehat itu seperti aroma keju basi, bukan bau ikan asin 😭 bagaimana penggambaran kondisi rahim terkena iritasi akibat kuretase yang tercium seperti bau anyir bercampur besi logam. Semua analogi itu tergambar nyata 😭 penggunaan kalimat sulur kacang panjang juga merupakan analogi yang indah banget menurutku.
Lalu aku suka banget bagaimana cerita ini tidak berpusat pada Luh dan ibunya saja. Tapi makna cerita ini juga datang dari pasien-pasien Luh yang muncul karena korban pelecehan, KDRT, ekonomi, bahkan kenakalan remaja. Cerita ini juga menyinggung perihal hukum Indonesia yang alot banget menangani setiap kasus perizinan aborsi.
FIKS INI KEREN BANGET 😭 dialog tiap tokohnya membuat aku ga berhenti untuk berdecak kagum 🥲🔥 sangaaaat worth it untuk dibacaa.
Mungkin endingnya aja yang menurutku kurang memuaskan. Seolah-olah memang sengaja digantung agar pembaca yang harus menafsirkan sendiri keputusan Luh kedepannya.
Sebuah novel tentang perempuan yang lagi lagi menyentuh hatiku. "Apa kabar, Ibu?" di akhir cerita yang dilontarkan Luh terasa nyeri ketika dibaca. Luh, yang sejak masih di dalam kandungan itu tidak pernah sedikit pun diinginkan oleh sang ibu, tetapi hal itu tidak menghalanginya untuk tetap menganggap perempuan yang melahirkannya Ibu meskipun perempuan tersebut pun membencinya. Alih-alih membenci, Luh melainkan memahami bagaimana rasanya menjadi perempuan yang harus mengandung meski tidak menginginkan bayi yang ia kandung. Ia memahami rasanya hidup sebagai anak yang tidak diinginkan oleh ibunya sendiri.
Orang-orang terlalu fokus kepada hak kehidupan akan sebuah kehadiran gumpalan darah tak berjiwa daripada sang ibu yang mengandung. Orang-orang tidak peduli akan kesehatan atau bahkan psikis si ibu jika benih itu dipaksa untuk tetap lahir. Berujung tetap menghasilkan lingkaran setan tak berkesudahan yang memberikan efek kepada anak-anak yang dilahirkan secara tidak diinginkan. Orang-orang terlaku fokus memaksa perempuan untuk tetap melahirkan benih yang tidak diinginkannya meski pada akhirnya tetap ibu seorang diri yang menghadapi kesulitan itu.
Moralitas jika tidak dibarengi dengan kemanusiaan tidak akan memberikan keadilan kepada yang tertindas.
stunning! ended & outsold Tersesat yang sesat, lol. should’ve won the first prize instead. sasti wrote it so well, but personally i thought that if the main character were a girl/woman it would’ve been better but i do understand why she chose luh tho. kudos sasti!
Oke, setelah berpikir panjang agak lama sekitar 40 menit setelah baca buku ini, banyak hal yang harus di bahas, tapi aku mau milih satu kategori yaitu "aborsi" dari kata-kata nya aja kayak "wahhh haram" "berdosa" "gk sayang anak"
Jujur setelah baca ini, aku ngerasa ada hal lain yang perlu kita ketahui tentang "aborsi" ini, sebelum masuk ke buku nya, mau menyesuaikan dengan keyakinan banyak nya orang yaitu Agama.
Bagaimana Agama memandang Aborsi ? Dalam keyakinan ku, yaitu Islam, sudah pasti di haramkan aborsi apalagi di saat sudah ditiup ruh ke dalam rahim Ibu, menjadikan hal ini merupakan membunuh manusia yang sedang di kandung. Aku pun ada baca² jurnal mengenai "Aborsi dalam pandangan Islam" yang dimana di dalam Al-qur'an surat QS. al-Isra’ (17): 31 " Janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar."
Di sana sudah di tentukan bahwa membunuh anak (kandungan ) sama saja membunuh rezeki yang diberikan oleh Allah.
Dari sini kita kembali ke buku Korpus Uterus, sebenarnya pandangan seperti iti di curahkan oleh Dokter Markus dan Mbak Nur yang berpendapat kurang lebih seperti ini : "Ya bagaimana pun dia berhak hidup, mau semisalnya orang yang melahirkan menglantarkan dia di panti asuhan atau dimanapun, ya itu urusan dia, terpenting orang ini harus mengandung sampai melahirkan"
Namun sebelum ke part dimana Mbak Nur berkata seperti ini, sebelumnya ada karakter Luh yang membantu melakukan aborsi legal untuk menyelamatkan perempuan yang tidak mau melahirkan anak nya, jujur ya aku pun sebenarnya suka sekali apa yang di lakukan oleh Luh, tapi satu sisi memang hal ini tidak dapat di benarkan semua hal yang berhubungan dengan hukum yang tetera boleh melakukan aborsi. Dan ternyata menurut ku wajar memang jika berpikiran apa yang dilakukan oleh Luh itu benar, namun kita harus lihat sesuai dengan pernyataan hukum yang berlaku dan kesyariatan Agama yang kita yakini
Semalam aku sempat cari mengenai hukum aborsi dan di nyatakan :
Hukum aborsi di Indonesia dilihat dari sudut pandang KUHP adalah tindak pidana yang dilarang dan dapat dikenakan sanksi pidana bagi siapapun yang melakukan aborsi.[3] Namun, UU Kesehatan memberikan ruang dan celah untuk dilakukannya aborsi dengan kondisi tertentu
Dalam UU Kesehatan : "Aborsi diatur dalam Pasal 75, Pasal 76, Pasal 77, dan Pasal 194 UU Kesehatan. Pada dasarnya, setiap orang dilarang melakukan aborsi.[5] Namun, Pasal 75 ayat (2) UU Kesehatan memberikan dua alasan untuk dapat dilakukannya aborsi, yaitu:
1. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; 2. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan."
Nah sudah ya indikasi mengenai aborsi dan tata hukum nya, yang pengen aku bilang adalah, sebenarnya canggung sih untuk meluapkan ini di satu sisi memang aborsi itu salah, tapi aku juga ngerasa gk semua hal itu dapat di batasi jika memang mereka tidak sanggup untuk melakukan nya. Di kasus korpus uterus memang tidak sedikit yang melakukan aborsi ilegal setelah melakukan hal yang tidak senonoh maksudnya "mereka yang melakukan itu dengan sengaja, tapi malah di aborsi" sebenarnya salah di sana, jika tidak mau terjadi dengan hal yang tidak di inginkan ya jangan dilakukan karena akan berdampak untuk dirinya atau janin yang dia kandung, itu pun aku menolak dengan keras hal itu.
Namun di satu sisi, banyak juga menjelaskan dengan latar belakang dimana kondisi korban yang dilecehkan, dan jika harus ingin melakukan aborsi legal harus ada surat polisi, jujur aku gk paham sih kenapa harus pake ke polisi segala, karena mereka adalah tempat yang aman untuk masyarakat? Tapi setelah di beritahu kronologi nya malah merasa itu adalah sebuah dosa, loh jadi yang dosa tuh siapa? Polisi atau pelaku pemerkosaan? Apakah tidak memikirkan jiwa si korban???
Dan memang asing sekali, jika ada wanita seperti Mbak Nur yang notabene nya adalah pelacur, jika dia lapor ke polisi atas masalah kekerasan seksual pasti akan di bilang " wah itu kan memang tugas kamu" jujur aku masih bingung ingin membahas seperti ini karena aku belum mengerti apakah hal tersebut boleh dilakukan atau ya memang harusnya seperti itu?
Aku tidak bisa salahkan pekerjaan nya, karena mereka pun juga berjuang untuk dirinya, untuk anaknya teringat cerita di Sisi Tergelap Surga dan cerita dosen ku yang dimana meneliti mengenai PSK, dan di saat dosen ku bercerita mengenai wawancara yang dilakukan oleh salah satu PSK tersebut, menjadi kasihan dengan PSK nya dan air mata pun jatuh setelah wawancara.
Hufftt, ini sangat susah untuk di utarakan, karena pekerjaan yang mereka lakukan adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dijalani, tapi dengan dunia yang tidak lebih memang masih mengatakan bahwa perempuan/wanita harus tunduk kepada laki-laki menjadikan pekerjaan PSK ini salah satu hal yang bisa di anggap wajar di seluruh dunia, karena mereka (perempuan) di anggap remeh, tidak bisa kerja berat, berpikir keras dlll. Nyatanya, mereka bisa seperti itu asal orang-orang sekitar nya tidak membunuh mimpi mereka.
Aku masih sedih setelah baca buku ini, dan aku senang bisa tau mengenai rahim melalui fiksi, ini jadi salah satu buku favorit aku mengenai pengetahuan yang tidak aku pelajari.
And The End Korpus Uterus your broke my heart into the piece, so Shout for women who fighting for they're live, long live women you deserve more for everything you need it .
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Perempuan punya hak atas tubuh mereka sendiri. Atas rahim mereka sendiri. Anda tak punya hak untuk melarang karena bukan Anda yang menjalani." Hal 180 - Korpus Uterus Sasti Gotama Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2025 📑 296 Halaman - Membaca buku ini membuatku harus beberapa kali mengambil jeda. Isu yang diangkat masih amat tabu dan selalu jadi pembahasan yang dilahap para perempuan ketika moral dan hak mereka dibungkam. Sudah selayaknya perempuan memilih jalannya sendiri. Baik itu dosa atau tidak, biarlah mereka sendiri yang menanggungnya. Sebagai manusia hanya bisa mengingatkan, bukan memberikan pilihan. - Seperti Panuluh, seorang anak yang lahir dari hasil pemerkosaan di 1966. Setelah kesulitan digugurkan akhirnya terpaksa dilahirkan lalu dibesarkan layaknya seekor hewan ternak diberi makan, minus kasih sayang. Melihat wajah Luh, mengingatkan Kalimah pada lelaki bejad yang memberantas tiap perempuan yang dianggap pe ka i dengan cara paling gila. - Luh kecil yang tidak bisa berbicara karena tidak pernah diajari. Menemukan kasih sayang dari sosok-sosok perempuan yang menjual dirinya demi bisa bertahan di hari ke hari dengan jalan berdosa. Hidup seperti itu adalah pilihan pada tahun-tahun itu. Dan kehamilan yang tidak diinginkan menjadi nestapa berkepanjangan yang terjadi pada perempuan yang menyayangi Luh. Membuat Luh ingin menyelamatkan semua janin agar tidak menderita seperti dirinya yang tidak diinginkan. Serta menolong mereka yang tidak bisa berjanji menjadi ibu yang baik. Luh dan para perempuan memiliki trauma masing-masing. - Ketidakberdayaan itu membuat Luh membantu para perempuan yang tidak siap melahirkan karena aib, atau sebagai korban pemerkosaan. Membebaskan para janin yang tidak bersalah. Mempelajari kuretase dari sang ahli obygen. - Isu aborsi serta trauma akibat pelecehan seksual dan kesiapan menjadi ibu bercampur jadi satu. Isu patriarki juga disenggol di sini dan itu bikin geram. Ilmu tentang anatomi tubuh terutama rahim memang amat jarang ditemukan. Harus browsing atau tanya pada ahlinya. Tapi itu juga nggak banyak. Karena memang jarang digaungkan di publik. Hak-hak perempuan mengenai tubuh mereka pun harusnya dijelaskan dan diberikan bimbingan terhadap pilihan-pilihan mereka ketika menyadari tubuhnya berbadan dua atau dampak yang ditimbulkannya ketika melakukan hubungan seksual. - Karakter Luh begitu rapuh, tapi di satu sisi juga kuat dan tenang yang membuat dirinya ingin membangun dunia yang damai tanpa penderitaan. Mengintip kehidupan Luh dengan kelebihan yang dia miliki menjadi sebuah hal yang memikat pembaca. Tapi di sisi lain, aku merasa tidak bisa menerima tentang melenyapkan nyawa yang belum tumbuh sempurna. Sudah jelas berdosa. Namun, ketika penyintas memiliki trauma. Semuanya jadi terasa sulit. - Karakter Dokter Marcia yang mencintai rahim. Memiliki filosofinya sendiri. Bahwa perempuan sudah sewajarnya melahirkan. Apa pun yang terjadinya baik sebagai korban atau karena aib atau hamil di luar nikah. Tetap saja, rahim tidak boleh di utak atik. Terserah setelah lahir mau dibuang atau tidak dianggap pun tidak masalah, yang penting harus dilahirkan agar tidak menjadi dosa. Tapi prinsip itu juga terdengar salah buatku. Kalau dilahirkan tidak dirawat atau dibuang ataupun dibunuh juga tetap saja berdosa sebagai seorang yang telah melahirkan. - Buku yang seolah menyuarakan banyak sekali pro dan kontra terkait aborsi yang legal atau isu akan hak hak perempuan dengan tubuhnya, isu moral serta aspek kejiwaan perempuan tentang pilihan-pilihan pada tubuhnya sendiri ketika ada janin di dalamnya. Buku yang wajib dibaca sekali sumur hidup.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Review singkat: Bercerita ttg Luh, anak hasil pemerkosaan yang sejak lahir nggak diinginkan sama ibunya. Trus dia tersesat dan akhirnya tumbuh bareng Nur si sundal berkedok syariah, lalu Luh terobsesi jadi juru aborsi saat tinggal sama dr Markus karena dia nggak mau anak-anak yang “gak diinginkan orangyianya” ngerasain penderitaan yang dia alami. Ceritanya tuh gelap dan nunjukin gimana tubuh perempuan dijadiin alat kontrol, dari penganiayaan sampai kriminalisasi hak reproduksi. Pas bacanya tuh rasanya jadi marah sekaligus sedih.
Yg kusuka dari novel ini: tema cerita novel ini tuh sgt menarik, ttg tubuh perempuan, feminisme, kritik sosial.
Yg gak kusuka dari novel ini: - Sebenernya narasi awal buku ini tuh puitis banget, metafora sulur kacang panjang itu keren bgt, semacam menjelaskan dehumanisasi kalimah (ibunya Luh) yg udah ngrasa gak berdaya setelah mengalami trauma, “dia tahu tubuhnya hanya sulur kacang panjang yang bertumbuh membelit bilah bambu bernama kehidupan; tanpa rasa tanpa perasaan. Tubuh dan jiwanya kebas”. (p.1).. tapi pas masuk ke bab selanjutnya, keindahan metafora itu hilang.. kayak rasanya penulis buru2 pengen nyampein semua isu berat dalam satu napas. - Saat Luh usia 5 tahun dan bertemu Nur.. plotnya menurutku juga terasa agak aneh dan klise. Tokoh Nur dan teman-temannya seperti versi lain dari tokoh-tokoh dalam Nayla atau Tuhan, Izinkan Aku Jadi Pelacur.. perempuan yang “memilih” melacurkan diri dengan kesadaran penuh, tapi ternyata nggak siap menghadapi konsekuensinya — dpt pelanggan jahat, hamil dan punya anak akhirnya aborsi. - Pendalaman karakternya kurang banget! Terlalu banyak karakter jadinya nggak fokus, apalagi kasusnya banyak. Peralihan antar ceritanya juga kurang mulus. - Luh digambarkan punya masa lalu yang rumit, tapi perkembangan karakternya terasa loncat dan ada gap. Dari trauma masa kecil, ia tiba-tiba tertarik sm praktik aborsi tanpa ada perenungan batin yang meyakinkan. Kayak gak ada transisi batin yang logis dari trauma ke rasa ingin tahu medis. Harusnya ada momen refleksi yang menunjukkan kenapa dia tergerak ke arah itu. Scene saat dia dia perpustakaan RS baca buku kedokteran.. rasanya kayak penulis pengen banget nyambungin semuanya ke isu tubuh dan rahim, tapi gak sabar ngebangunnya. Pdhl sebelum2nya Luh ini kan diceritainnya memang suka baca buku sih tp buku fiksi dan stensil😆 - Obsesi Luh terhadap praktik aborsi bahkan terkesan absurd dan mengganggu, tanpa dasar emosi yang cukup kuat. Akibatnya, karakter yang seharusnya kompleks justru terasa artifisial. Kasus lara juga singkat gitu aja, gak ada penjelasan lebih lanjut kenapa dia mengubur lara dan mengawetkan rahimnya alih2 mengembalikan ke orangtuanya. Untuk apa? Apa cm sekedar psikopat aja? tapi pembangunan karakternya seakan si Luh ini orang baik. - Latar 1965 juga rasanya cuma jadi semacam “hook estetis” tanpa dampak emosional sm karakter. Nggak ada korelasi yang nyata antara situasi zaman dan keputusan2 tokohnya, termasuk Luh. I mean cerita ini tuh bs aja terjadi kapanpun.
Rating: 3/5. Alih2 mendapat cerita yg dalem, sepanjang cerita rasanya disuguhkan kasus2 yg udh sering kita denger, yg sering digaungkan aktivis2 perempuan.. kurang gregettt
Aku awalnya beli novel ini karena judulnya yang unik dan nggak biasa. “Korpus uterus,” kedengerannya klinis, tapi juga puitis. Ditambah covernya yang bener-bener merepresentasikan isu yang diangkat dalam novel: tabu, menyayat, tapi indah dalam caranya sendiri. Blurb-nya pun menarik perhatian.
Masuk ke bab-bab awal, perasaan yang muncul ketika baca halaman demi halaman adalah satu: ngilu. Bener-bener ngilu ngebayangin proses kuretase yang dijelaskan Sasti Gotama dengan detail dan runut.
Lanjut ke pertengahan, ketika Luh mulai berinteraksi dengan Nur dkk, perasaan yang muncul adalah marah. Sangat marah. Terutama membaca kisah Nur (bagaimana suami kontraknya memaksa berhubungan tanpa pengaman, sambil bawa-bawa ayat suci buat melegitimasi nafsu dan kelakuan bejatnya). Laki-laki busuk. Setan!
Setelah bagian itu aku sampai berhenti baca beberapa waktu dan beralih dulu ke novel yang lebih ringan, misteri thriller dan metropop, karena terlalu emosi untuk lanjut. Tapi desember ini aku balik lagi, dan cuma butuh 3 jam buat menamatkan seluruhnya.
Apa yang aku rasakan sepanjang membaca? Geram. Jijik. Sedih. Trauma. Marah. Campur jadi satu sampai dada rasanya mau pecah. Apalagi saat novel menunjukkan kepicikan aparat yang merasa dirinya paling suci. Danang honestly deserve hell!
Buku ini harus dibaca dengan kepala dingin, karena kalau nggak, batas antara cerita dan ingatan pribadi bisa kabur. Pas aku baca, banyak bayangan lama ikut muncul, dan rasa amarah yang udah lama kupendam tiba-tiba numpuk lagi.
Aku nggak mengalami hal yang dialami para perempuan di novel ini. Tapi aku tahu rasa sakitnya. Aku tahu rasa marahnya. Dan justru makin sakit ketika sadar: ini bukan sekadar fiksi. Banyak perempuan di dunia nyata yang hidup dalam luka yang sama. Novel ini ada karena realitasnya ada.
Yang paling menohok, novel ini bahkan bikin rasa marah dan kebingunganku terhadap Tuhan muncul lagi. Tentang bagaimana hukum karma bekerja. Kenapa banyak orang brengsek hidupnya sejahtera lahir batin, sementara orang yang mereka lukai harus bertahun-tahun menanggung trauma? Kenapa seolah Tuhan mengadili yang satu, tapi meniadakan yang lain?
Secara teknis, novel ini juga luar biasa. Penulis menjabarkan teknis medis dengan bahasa dan tahapan klinis, tapi tetap mudah dicerna. Dalam menggambarkan kejadian, suasana, dan perasaan yang dirasakan karakter-karakternya, gaya bahasa yang digunakan banyak bermain dengan metafora dan puisi, tapi tidak pernah terasa berlebihan, justru memperkuat emosi setiap adegan.
This novel deserves more hype. Ini bukan bacaan yang mudah, tapi justru itu yang membuatnya penting. Novel yang mampu mengguncang, menyayat, dan membuka mata.
Buku pertama yang aku selesaikan di tahun 2026!!! Aku sangat suka dengan tema yang diangkat di buku ini!!
Pacenya cukup cepat tapi setiap tokoh memiliki kisahnya sendiri dengan uterus. Karena latar belakang penulisnya kedokteran, maka buku ini dapat menambah pengetahuan kita terkait dunia tersebut. Dari bab pertama saja sudah mengerikan, tidak cocok dibaca saat makan karena akan mual dan ngilu....
Dari buku ini terlihat bahwa penulisnya sangat cerdas, setiap profesi yang ada di dalam cerita dikupas sangat detail. Penulis tidak asal menggunakan berbagai macam profesi di dalam cerita, seperti Danang yang seorang polisi atau Luri yang seorang fotografer di salah satu koran.
Mendekati akhir cerita semakin seru tapi terkesan sangat buru-buru. Ada bagian-bagian menarik yang menurutku kurang diceritakan. Menurutku jumlah halaman di buku ini kurang banyak, karena akan sangat menarik jika diceritakan dengan slow pace dan lebih detail. Aku masih sangat penasaran tentang kisah Lara, bagaimana kelanjutan Luh dan ibunya, bagaimana kisah hidup Kalimah yang merupakan korban pemerkosaan di tahun 1965, dan kisah para perempuan di kontrakan Surabaya.
Buku ini berhasil memunculkan rasa iba tetapi benci secara bersamaan. Meskipun beberapa tokoh terkesan menyebalkan, tetapi pembaca dapat memakluminya karena selalu dijelaskan sebab terjadinya karakter tersebut dan trauma yang dimiliki oleh setiap tokoh. Cerita tidak hanya berputar di kehidupan Luh saja, tetapi juga orang-orang di sekitar Luh, terutama para perempuan. Buku ini banyak sekali mengangkat permasalahan-permasalahan yang sering dialami oleh perempuan dan betapa menyedihkannya menjadi perempuan.
Topik-topik yang diangkat cukup sensitif, pembaca diajak untuk mengetahui sisi lain dari hal-hal yang masih dianggap tabu. Tetapi sebenarnya kasus-kasus yang ada di buku ini masih sangat sering terjadi di sekitar kita. Analogi yang digunakan sangat indah, seperti ketika Luh sangat menghargai rahim. Banyak menggunakan istilah medis sehingga bisa menambah pengetahuan pembaca.
Menariknya buku ini juga mengingatkan para orang tua untuk memberikan edukasi seksual kepada anaknya sejak dini, orang tua harus jujur dan tidak boleh menutup-nutupi agar anak tidak menjadi korban atau bahkan pelaku kekerasan seksual. Bahkan di buku ini juga diceritakan bahwa beberapa orang tua tidak memberikan edukasi seksual yang tepat kepada anak mereka, dan dampaknya dapat terlihat pada kisah Lara.
Aku suka sekali pada bagian akhir ketika Luh bertemu dengan Nur. Dua tokoh di buku ini mengingatkanku ke tokoh yang ada di Aroma Karsa. Buku ini berhasil membuat bertanya-tanya bagaimana tanggapan kita terhadap aborsi. Jadi bertanya-tanya juga sebenarnya buku ini pro atau kontra terhadap aborsi, karena keduanya diceritakan dengan porsi yang pas.
Gak berhenti melongo baca buku yang satu ini. Dari bab pertama sudah dibuat merinding dengan yang dialami oleh setiap tokohnya.
Buku ini menceritakan tentang Luh— seorang anak yang lahir dari hasil pemerkosaan. Kalimah, ibu Luh sudah berulang kali mendatangi ahli aborsi demi menggugurkan Luh tapi tidak pernah berhasil. Sampai akhirnya, Luh lahir dan tidak pernah mendapatkan kasih sayang sedikitpun dari Kalimah. Bahkan untuk menatap mata Luh saja, Kalimah enggan. Di mata Kalimah, Luh ini tidak ada bedanya dengan kotoran yang harus dia singkirkan. Sampai akhirnya Luh tumbuh menjadi ahli aborsi.
Gak cuma itu saja, dalam bukunya juga sedikit menyinggung terkait kekacauan tahun 1965 dan juga 1998. Tentang bagaimana kehidupan para korban setelahnya. Bagaimana pengalaman individu dalam sejarah kelam tersebut.
Pesan yang aku tangkap selama membaca buku ini adalah mengenai luka dan trauma yang dialami oleh para korban kekerasan seksual. Juga, lewat buku ini aku jadi sadar betapa minimnya perlindungan terhadap korban kekerasan seksual. Terus sepanjang ceritanya pun yang menjadi topik utama adalah 'rahim'— sangat sesuai dengan judul bukunya. Di mana dalam buku ini, rahim digambarkan sebagai ibu sesungguhnya yang bentuknya sangat indah. Gak tau berapa kali kalimat itu di ulang dalam bukunya. Intinya, sering banget. Rahim gak cuma jadi simbol keindahan saja di sini, tapi luka juga.
Pokoknya, isi bukunya tuh daging banget. Mengangkat isu kekerasan seksual, hak tubuh perempuan, kesehatan mental terkait trauma atas kekerasan seksual yg pernah dialami dan penolakan dari masyarakat, dan yang paling penting adalah kritik keras terhadap sistem hukum yang berlaku. Walaupun ini mengambil latar tahun 60an sampai 2000 awal, aku ngerasa isu-isu dalam cerita ini masih sangat relate dengan yang terjadi saat ini di negara kita.
Selain itu, gaya bahasa kak Sasti Gotama juga bagus banget. Puitis tapi gak berlebihan sama sekali, malah bikin suasana ceritanya semakin hidup. Emosi dalam ceritanya pun tersampaikan dengan sangat baik ke aku. Gak ada yang bikin bingung selama baca ini. Semuanya dijelaskan dengan sangat detail. Oiya, ada baiknya untuk baca ini wajib berusia 21+ juga karena diksi yang dipakai pun cukup frontal dan blak-blakan. Temanya juga agak berat, takutnya ada yang ketrigger pas baca.
Novel ini menceritakan tentang Para Perempuan. Para Perempuan yang tidak punya kendali atas tubuhnya sendiri.
Cerita dimulai dengan karakter Kalimah, seorang perempuan yang terpaksa melahirkan anak hasil pemerkosaan keji, yang gagal ia gugurkan, meski sudah ia coba berkali-kali.
Dibantu oleh Mak Tin, Kalimah berhasil melahirkan Luh ke dunia, yang sebenarnya juga tidak diinginkan oleh Luh, karena selama hidupnya, yang ia ingat hanya pengabaian dari Ibunya. Dan bagi Luh, hidup adalah cinta sepihak yang tak kunjung usai.
Dalam perjalanan Luh setelah kabur dari rumah —karena sadar ia tak diinginkan oleh ibu kandungnya — Luh dipertemukan dengan perempuan-perempuan yang terjebak dalam kehamilan yang tidak diinginkan, seperti ibunya. Yang kemudian mendorong Luh untuk menjadi ahli aborsi ilegal, dengan tujuan untuk menyelamatkan bayi-bayi tak berdosa yang bernasib sama sepertinya, tidak diinginkan dan hidup dalam pengabaian.
Sepanjang membaca buku ini, bahkan dari paragraf pertama pun sudah dibuat sesak dengan penggambaran situasi saat Kalimah melahirkan Luh. Di mana Kalimah digambarkan bak manusia yang hanya tinggal raganya saja, dengan jiwa yang sudah melayang entah kemana.
“…karena dia tau dirinya hanya sulur kacang panjang yang tumbuh membelit bilah bambu bernama kehidupan; tanpa rasa tanpa perasaan. Tubuh dan jiwanya kebas.”
Kemudian dilanjutkan dengan pengalaman para perempuan yang mengasuh Luh setelah pelariannya dari rumah, yang punya cerita masing-masing, namun memiliki nasib yang sama, yaitu tidak memiliki kendali atas tubuh mereka sendiri dan terjebak dalam kehamilan yang tidak diinginkan.
Semua tragedi tentang perempuan di buku ini disajikan dengan diksi yang indah dan memukau, sehingga membuat perasaan saya campur aduk.
Di satu sisi saya memuji pemilihan diksi penulis, namun di sisi lain, saya dibuat ingin memaki, yang bahkan makian tersebut tidak bisa saya tujukan ke siapapun, karena saya pun tidak tahu harus marah ke siapa atas apa yang dialami oleh para tokoh dalam buku ini. Dan yang paling membuat saya marah adalah, apa yang diceritakan dalam buku ini merupakan isu-isu nyata, yang terjadi, dan dialami oleh para perempuan.
Dan berkat buku ini, saja jadi mempertanyakan kompas moral saya, di mana ada banyak sekali isu sensitif dan tabu, yang tidak bisa dipandang secara hitam dan putih saja.
Secara keseluruhan, saya menikmati buku ini, hanya saja ada beberapa hal yang cukup disayangkan.
Yang pertama adalah penggunaan latar tahun 1965, yang saya pikir akan cukup melekat pada karakter Kalimah dan Luh, tapi ternyata tidak terlalu berpengaruh secara mendalam dan jadinya seperti dipilih secara acak dan tanpa alasan khusus.
Kemudian, jumlah karakter yang terlalu banyak cukup membuat bingung, meskipun mungkin memang tujuannya untuk menceritakan pengalaman kolektif para perempuan, tetapi malah terkesan all over the place.
Lalu kemampuan pendengaran Luh dan penciuman Dokter Markus yang menurut saya digambarkan secara berlebihan, sehingga membuat kemampuan yang seharusnya menjadi kelebihan mereka, malah jadi tidak masuk akal.
Terlepas dari semua itu, saya tetap akan memuji diksi-diksi indah yang dipakai penulis, juga tema yang diangkat — rahim — karena dari situlah semua manusia berasal dan seperti salah satu kutipan dalam buku ini, tidak ada yang lebih mulia daripada uterus.
Buku ini sangat menarik jika kita benar-benar mengupasnya. Tokoh utama dalam buku ini—3/4nya adalah laki-laki. Tetapi, kebanyakan cerita dan sudut pandang yang diambil adalah perempuan. Perempuan dengan uterusnya (atau rahim) digambarkan sebagai suatu harta yang sangat berharga, bahkan obsesi laki-laki dalam tokoh yang ada adalah pada rahim yang digambarkan sebagai "ibu yang sesungguhnya" dibandingkan oleh sosok perempuan itu sendiri. Obsesi, seks, dan unsur politik menjadi satu dalam cerita ini.
Di awal buku ini, diceritakan asal-usul Luh, si tokoh utama—seorang laki-laki yang mengagumi rahim sebagai ibu dan memuja bayangan dirinya dalam balutan wanita. Luh adalah seorang anak yang tak diinginkan, hasil perkosaan investigator ketika ayahnya dituduh sebagai anggota PKI pada peristiwa 1965. Ibunya menjadi mati suri dalam kehidupannya, dan Luh menjadi dewasa tanpa asuhan orang tua kandung. Ia besar bersama perempuan-perempuan yang hidup di Gang Dolly sebagai pelacur, melihat kebusukan dunia dan bagaimana dunia selangkangan bekerja. Dari situlah ia menyadari perannya dalam dunia, yaitu sebagai ahli aborsi.
Perjalanannya menjadi ahli aborsi menyisakan banyak sekali kisah dari berbagai wanita—baik yang karena ekonomi tak mampu lagi punya anak, bekas perkosaan, remaja yang bodoh bersama pasangannya, ada pula perempuan tak beruntung yang bertemu dengan laki-laki bajingan. Dari semua kisah ini kita dapat melihat betapa mirisnya hidup menjadi perempuan yang memiliki rahim. Rahim yang dianggap dan dipuja sebagai ibu juga dianggap murah oleh beberapa orang, mungkin seperti kacang saja. Dari buku ini pula kita mengetahui sudut pandang orang-orang terkait praktik aborsi—baik yang legal maupun ilegal.
Tapi, hal menarik dari buku ini adalah ketika membahas ketidakbecusan polisi menangani kasus orang hilang dan memberikan surat izin melakukan aborsi legal. Menurutku, dua hal itu saja sudah sangat jelas menggambarkan kebusukan kepolisian negara.
Tidak diinginkan sejak dalam kandungan, Luh—lengkapnya Panuluh—tumbuh menjadi anak lelaki yang jauh lebih kuat dibandingkan anak-anak lain. Bahkan ketika ia menghilang, sang ibu tak mencarinya. Hingga akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Nur, perempuan berhati sebening makna namanya: cahaya. Nur membesarkan Luh dengan penuh kasih, namun bayang-bayang pekerjaannya yang kelam meninggalkan trauma mendalam hingga ia pun menghilang tanpa jejak.
Luh menapaki perjalanan panjang untuk menemukan sosok yang telah memberinya arti kasih. Dari satu tempat ke tempat lain ia mencari, sambil membanting tulang demi bertahan hidup dan melanjutkan sekolah. Di masa itu, Luh sempat bekerja di rumah sakit—tempat ia semakin sering berhadapan dengan “rahim manusia”. Segala yang ia saksikan di sana—penderitaan, kehilangan, dan harapan—terasa menembus hingga ke sanubarinya.
Dalam Korpus Uterus, hadir pula Dokter Markus, seorang spesialis obgyn dengan kemampuan langka: ia mampu mengenali berbagai aroma dengan ketajaman luar biasa. Sementara Luh, selain memiliki kepekaan serupa, juga mampu merasakan detak jantung, pergerakan otot, hingga bisikan hal-hal paling halus dalam tubuh manusia—lalu menafsirkannya. Melalui dua tokoh ini, satu demi satu kenyataan hidup terurai, dari yang termanis hingga yang paling pahit.
Buku ini layak disebut sebagai ensiklopedia rahim yang dibungkus dalam bentuk fiksi. Penggambaran rahim sebagai “ibu sejati” terasa begitu tepat: melindungi dari benturan, memberi kehangatan, dan menyalurkan kehidupan.
Pengetahuan disampaikan dengan begitu mengalir melalui narasi yang rapi dan pilihan diksi yang menakjubkan. Majas-metafora yang digunakan sang penulis membentuk teater visual dalam benak pembaca—menghidupkan setiap detail dan emosi. Dari riset yang mendalam hingga ke fiksi yang bernyawa, Korpus Uterus menjadi refleksi atas keresahan penulis terhadap minimnya pemahaman publik tentang akses aborsi legal di Indonesia.
salah satu buku terbaik yang saya baca tahun ini!!!
jujur awalnya ekspektasi saya gak terlalu tinggi. saya milih buku ini karena memang tertarik sama topik yang dibahas, tapi yang saya dapat bukan cuma topik utama yang dibelah dari berbagai aspek dengan cara yang gak pernah menggurui (tapi selalu bikin mikir), tetapi juga gaya bercerita yang luar biasa luwes, pilihan kata yang kaya dan gak pernah monoton, dan tokoh-tokohnya! saya rasa gak gampang nulis buku dengan banyak tokoh dan tetep berhasil bikin semua karakternya punya ciri khas dan kompleksitas masing-masing, dan berhasil juga bikin pembaca (saya) merasa terikat dengan *setiap* tokohnya sampe ikutan sedih kalo mereka udah gak masuk plot lagi. tapi karena *setiap* karakternya menarik, walaupun ada tokoh yang hilang (sesaat), tokoh penggantinya ini bisa bikin novelnya tetep gripping dan gak membosankan… sebagai orang yang sangat mementingkan penokohan di novel, buat saya ini ajaib banget.
topiknya memang berat, tapi penting, bikin mikir. pengen rekomendasiin ini ke semua orang, termasuk yang nyari buku ringan dan gak bikin mikir, karena bukunya bikin melek (both literally dan metaphorically). saya lumayan gampang bosen, tapi saya gak bosen sama sekali selama baca ini (bikin melek). dan ceritanya yang berani mengeksplor hal yang seringkali dihindari untuk dibicarakan, gak mengkeret dan tabah menyajikan detail-detail yang mengerikan dan menjijikkan, bikin saya mikir.. mungkin memang harus dipaparkan seperti ini supaya akhirnya kita semua mau belajar mengerti, belajar membuka mata (bikin melek).
saya juga susah muji, lebih gampang ngomel panjang lebar soal buku yang gak saya suka dibanding mengelu-elukan buku yang saya suka, jadi review panjang ini artinya emang saya suka BANGETTT
Gilaaaaaa novel gilaaa, karakternya sinting semua. Bukunya menarik banget sih walau agak stres ya bacanya. Cerita nya beririsan sama peristiwa sejarah 65, 98 sampai 2009. Disini kita akan lihat bagaimana korban persekusi PKI dilucuti, digunduli, dicabuli hingga akhirnya hamil, bayangkan hamil anak dari orang yang memperkosa kamu. Aku sih gak kebayang gimana jadinya Kalimah, segala upaya aborsi ilegal tp gagal hingga akhirnya harus melahirkan anaknya yg tiap kali dia lihat ngingetin sama peristiwa terpedih di hidupnya. Dan seperti yg kita bisa duga, anaknya gak akan keurus, disini pun kita gak bisa nyalahin Kalimah. Tapi yang bikin makin menarik ketika anak Kalimah yaitu Panuluh akhirnya memutuskan buat jadi dukun aborsi ilegal walaupun praktiknya berdasarkan ilmu kedokteran yang dia pelajari sepintas dari Dokter Markus. Di buku ini kita juga bisa lihat praktik kawin kontrak dari sosok Nur yang mengasuh Luh sampai remaja, yang masih dianggap ibu olehnya. Disisi lain kita juga bisa lihat bagaimana aturan terkait korban-korban perkosaan untuk melakukan aborsi akhirnya di sahkan setelah berpuluh-puluh tahun berlalu dan pada kenyataan nya institusi bobrok di negara ini tidak mau mengeluarkan surat nya. Bajingan sampah memang. Aku jijik banget ketika disodorkan sosok polisi yang sangat patriarki, yang hanya mau istri perawan karena dia mau jadi polisi dengan membuang istri lamanya yang mantan pelacur bahkan ketika istri lamanya hamil anaknya hingga akhirnya mereka meninggal pun tidak ada satupun penyesalan di hatinya. Dasar bajingan sampah masyarakat. Bener-bener dibikin mendidih baca ini walaupun seru ya.
Novel pertama dari Sasti Gotama yang berhasil aku baca, karena sejujurnya aku lebih tertarik dengan novel Sasti Gotama berjudul Ingatan Ikan Ikan, tapi jujur saja, akhirnya aku mengerti kenapa novel ini berhasil menarik perhatian juri, karena isinya sangat sangat 'daging' hampir semua halaman aku notes kalau tidak ingat, novel ini akan berubah jadi coretan coretan. Tentu saja aku gak mau, aku ingin menyimpan buku ini se estetik mungkin xixix.
Back to topic, di halaman pertama buku ini membuat ku banyak ngantuk sih, alurnya cepat banget serius, aku pikir alur cerita yang lambat bakalan bikin aku ngantuk seperti biasa, tapi alur cerita yang cepat ini juga bikin aku begitu. Tapi, alur ceritanya oke, hanya saja mungkin dapat diberikan ruang lebih panjang agar detail tersampaikan dengan baik, misalnya 500halaman sudah cukup.
Yang paling bikin aku terkesima, aku gak bisa benci siapapun yang jadi Tokoh dalam novel ini, serius. Untuk Kalimah, untuk Panuluh, Untuk Nur, Untuk Yati, bahkan untuk dokter Markus dan Lara Luri. Aku selalu bertanya sepanjang cerita, sejujurnya aku berpihak pada siapaa? tapi satu yang aku tahu, benar, semua perempuan dapat dan harus punya haknya sendiri, hak untuk mengandung, hak untuk melahirkan dan bahkan aborsi. Tidak seharusnya negara memiliki kekang yang lebih kuat dari diri perempuan itu sendiri, tidak seharusnya peraturan dan undang-undang justru mempersulit perempuan untuk menemukan kehidupan yang benar- benar 'hidup'.
Aku paling suka, kutipan "bahwa rahim adalah ibu, ibu yang sebenarnya ibu" bahkan, ketika fisik dan mental perempuan itu tidak menerima keberadaan kehidupan lain yang tumbuh, berusaha membinasakan nya, namun rahim adalah tempat yang paling jujur, memeluk dengan hangat dan memberikan rasa aman.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Panaluh a.k.a Luh, adalah anak tidak diinginkan yang terlahir dari rahim Kamilah. Kamilah ditinggalkan oleh suaminya, dan diperkosa oleh petugas saat dituduh sebagai antek PKI. Luh memiliki keistimewaan pada telinganya yang berbentuk seperti kembang kol. Dia mampu mendengarkan suara-suara yang tidak dapat didengarkan oleh telinga manusia biasa. Segala bebunyian mulai dari detak jantung hingga warna suara bisa menjadi pertanda baginya. Karena tidak diperhatikan oleh ibunya, Luh kecil terbawa pergi dari rumah tanpa sengaja. Perjalanan hidup membawanya ke kota Surabaya dan bertemu dengan banyak wanita. Setiap pengalaman wanita yang dijumpainya membuat Luh bertekad untuk membantu para perempuan yang tidak menginginkan janin tumbuh di rahimnya.
Meski Luh adalah seorang lelaki, namun novel ini berkisah banyak tentang perempuan. Perempuan yang menjadi korban rudapaksa, perempuan yang dianggap rendah seperti binatang, perempuan yang berambisi, perempuan yang termakan oleh cinta, dan banyak kisah perempuan lainnya. Semuanya dirangkai menjadi sebuah kisah yang berawal dari seorang Kalimah, dan juga berakhir pada Kalimah.
Ada salah satu tokoh yang berprofesi sebagai dokter kandungan. Namanya dr. Markus. Awalnya pembaca akan berpikir dia adalah seorang pria dengan kemampuan penciuman luar biasa. Namun ternyata dia adalah seorang perempuan yang mengakrabkan diri dengan aroma kematian. Kehadiran penulis yang ternyata seorang dokter, terasa dalam karakter dr. Markus. Berbagai istilah medis digunakan dengan baik. Memberikan lebih banyak pemahaman bagi pembaca.