What do you think?


Korpus Uterus
Tak ada yang lebih diinginkan Luh selain kembali ke rahim. Sebagai anak hasil pemerkosaan yang berulangkali berusaha digugurkan, Luh merasa dunia fana ini begitu kejam. Tak ada kasih sayang dari ibunya. Dia dipelihara bagai hewan ternak yang cukup diberi makan tiga kali sehari.
Pengabaian sang ibu membuat Luh lari dari rumah. Dalam bentang hidupnya, dia bertemu perempuan-perempuan dengan kehamilan tak diinginkan. Hal itu mendorong Luh kelak menjadi ahli aborsi yang lihai. Baginya, aborsi adalah jalan agar janin yang tak diharapkan tidak menemui kenestapaan, dan agar para perempuan memiliki otonomi atas pilihan.
Luh pikir, hidup demikian akan memberinya kedamaian. Bukankah dia akhirnya dapat menolong janin-janin agar tak menderita seperti dirinya? Namun, niat baik itu kini membuatnya diburu bahaya. Bersama sebentuk rahim dalam stoples yang dia bawa, Luh berkelana sembari
Pengabaian sang ibu membuat Luh lari dari rumah. Dalam bentang hidupnya, dia bertemu perempuan-perempuan dengan kehamilan tak diinginkan. Hal itu mendorong Luh kelak menjadi ahli aborsi yang lihai. Baginya, aborsi adalah jalan agar janin yang tak diharapkan tidak menemui kenestapaan, dan agar para perempuan memiliki otonomi atas pilihan.
Luh pikir, hidup demikian akan memberinya kedamaian. Bukankah dia akhirnya dapat menolong janin-janin agar tak menderita seperti dirinya? Namun, niat baik itu kini membuatnya diburu bahaya. Bersama sebentuk rahim dalam stoples yang dia bawa, Luh berkelana sembari
296 pages, Paperback
Published July 30, 2025
About the author
Sasti Gotama
22 books21 followersSasti Gotama adalah seorang dokter yang mencintai aksara. Ia gemar mengintip sisi tergelap jiwa manusia dan melukiskannya dalam deretan karya. Karyanya telah dibukukan dalam Kumpulan Cerita Penafsir Mimpi (Indigo Publisher, 2019). Cerpen-cerpennya telah tersiar di media cetak dan media online Indonesia.
Bukunya, Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam (Diva Press, 2020), masuk dalam 5 besar buku sastra pilihan Tempo 2020, menjadi nominee Penghargaan Sastra Badan Bahasa Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi 2021, dan pemenang I Hadiah Sastra “Rasa” 2022.
Bukunya, Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam (Diva Press, 2020), masuk dalam 5 besar buku sastra pilihan Tempo 2020, menjadi nominee Penghargaan Sastra Badan Bahasa Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi 2021, dan pemenang I Hadiah Sastra “Rasa” 2022.
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 30 of 183 reviews
July 19, 2025
…. dia tahu tubuhnya hanya sulur kacang panjang yang bertumbuh membelit bilah bambu bernama kehidupan; tanpa rasa tanpa perasaan. Tubuh dan jiwanya kebas. (p.1)
Kalimat ini adalah pembuka yang sangat bagus dan menjanjikan sebuah kisah dengan belitan sureal akan tumbuh-tumbuhan. Terlebih kisah besar novel ini adalah tubuh perempuan dan rahim yang saya bayangkan akan sangat indah bila Sasti memakai imajinasi dan metafora tetumbuhan.
Kisahnya seputar Luh yang “anak terbuang”, dibuang ibunya, dibuang oleh sistem juga, lantas menemukan pelarian dan peneriman oleh Dokter Markus lantas mengajarinya menjadi ahli kuret. Menariknya adalah Sasti sangat hadir sebagai dirinya yang dokter. Dibandingkan Ingatan Ikan-Ikan porsi hal-hal seputar kedokteran dalam novel ini rasanya lebih penuh, lebih kuat, dan menjadikan novel ini sangat istimewa.
Tapi….. ada beberapa poin yang saya sendiri mengernyitkan dahi:
1. Mengapa harus ada isu 1965 dan 1998 di novel ini? Apakah aneh kehadiran dua isu ini? Jelas tidak…. sama sekali tidak, sebab semua orang berhak menulis apa saja. Namun, saya rasa dua perkara ini tidak begitu esensial dalam novel ini. Mengapa? Andai dua perkara ini dilepas dari kisah Luh, cerita akan masih penuh. Jadi, saya malah menyayangkan kehadiran dua isu ini sebab lagi-lagi hanya menjadi hook masuk ke “sastra”. Apalagi dua peristiwa sejarah ini tidak dielaborasi dengan porsi yang pas. Sayang saja….
2. Perlu diperiksa kembali; tahun 70-an ketika orang menulis di media massa (dan kemudian buku) bagaimana sistem pembayaran royalti/honor? Transfer atau wesel pos? Kalau wesel pos, bagaimana cara Kalimah menerima uangnya? Padahal Kalimah kabur (meski tidak dijelaskan kemudian dia pakai ET atau tidak di KTP-nya, ketiadaan ini juga menjadi alasan saya nyebut poin 1). Apa pakai ktp palsu? Entah juga, tapi yang pasti lingkungan Kalimah menyebut dia pe ka i. Jadi andai pakai ktp palsu, harus berurusan dengan rt rw keluarahan yang ribet pastinya. Bagian ini rasanya banyak yang luput detail kecilnya.
3. Luh SMP bekerja di rumah sakit dan kemudian belajar. Rasanya tidak akan jadi masalah. Cuma entah kenapa karakter dengan plot seperti ini hanya mengingatkan saya pada bagaimana novel zero to hero bergerak. Keajaiban-dan-keberuntungannya sangat sinetron sebenarnya. Saya bayangkan andai Luh masih menjadi kacang panjang kemudian hidupnya penuh misteri, keajaiban ini masuk akal.
4. Terkait poin 3, saya merasa banyak karakter yang belum terbangun secara utuh. Apakah buru-buru ingin selesai, sehingga karakternya kurang tergarap. Saya tidak tahu. Cuma rasanya serampungnya membaca, saya belum berempati kepada tokoh Luh. Untuk epik yang cukup berkdekade-dekade empati seharusnya mudah terbentuk.
Saya membayangkan andai Luh bukan anak tapol, hanya buangan sebab perkosaan, tanpa harus menyinggung 65, dia akan utuh sebagai novel soal ibu, rahim, dan bagaimana Luh si laki-laki dengan kuping bunga kol ini menjadi tokoh ajaib, sekaligus membantu.
Namun, dari novel ini saya belajar banyak soal rahim dan proses yang terjadi di sana. Kehamilan, aborsi! Harusnya ini menjadi stand point penting Sasti sebagai perempuan penulis sekaligus dokter. Sampai akhir, saya masih menanti soal kacang panjang dan kol yang menjadi titik pertama saya jatuh cinta.
July 23, 2025
Korpus Uterus tampak sebagai novel yang memenuhi konsep kuna dulce et utile Horatius: nikmat dari segi bentuk, berguna dari segi konten. Pada bentuk dan kontennya bisa ditemukan sajian-sajian khas seperti dalam prosa-prosa lain Sasti Gotama: diksi dan sintaksis yang segar, karakter-karakter dominan yang tak hitam putih, gerak alur yang mengecoh ekspektasi, variasi isu yang dibidik dari sudut-sudut pandang unik sehingga alih-alih menjejali pembaca dengan tendensi justru mengajak menyegarkan nalar.
Meski bertabur penanda latar tegas, Korpus Uterus tampaknya tidak dimaksudkan sebagai fiksi sejarah. Pembaca yang tahu sedikit saja perihal Ilmu Sastra dan mengenal konsep Anakronisme jelas juga tak akan pernah membaca Korpus Uterus dan fiksi mana pun dengan nalar remaja yang lantas menilai kualitas fiksi menggunakan timbangan selaras tidaknya latar fiksi dengan hafalan tanggal, bulan, tahun dari buku-buku tarikh sekolah menengah.
Namun, bahkan jika Korpus Uterus adalah fiksi sejarah maka mengharuskan kesesuaian teksnya dengan teks buku tarikh adalah malapraktik yang hanya mungkin dilakukan oleh pengulas karbitan. Sikap semacam itu tetap malapraktik bahkan jika didalihkan pada konsep Realisme dalam sastra: realisme adalah perkara hukum realitas, bukan perkara tarikh. Contoh sederhana: Pram melakukan anakronisme dalam Arok Dedes, tetapi hal itu tak berdampak apa pun pada kualitasnya sebagai salah satu karya cemerlang Pram. Selain itu, anakronisme di dalamnya justru perlu untuk menjaga kesesuaian alur novel tersebut dengan hukum realitas.
Jika ada kekurangan pada Korpus Uterus maka hal itu terkait jumlah halaman: novel ini kurang tebal dan karenanya tuntas dibaca dalam sekali duduk. Atau mungkin kelekastuntasan baca itu bukan merupakan konsekuensi dari kurang banyaknya jumlah halaman, melainkan konsekuensi dari tingginya kenikmatan yang ditawarkan. Gerak maju pembacaan halaman demi halaman Korpus Uterus mungkin berbanding lurus dengan peningkatan ekspektasi kenikmatan tekstual dan peningkatan produksi Dopamin pada otak sehingga mampu mengalahkan segala potensi godaan lain, termasuk godaan untuk menutupnya saat kita baru menjangkau halaman-halaman permulaan. Hatur nuhun, 😇
Meski bertabur penanda latar tegas, Korpus Uterus tampaknya tidak dimaksudkan sebagai fiksi sejarah. Pembaca yang tahu sedikit saja perihal Ilmu Sastra dan mengenal konsep Anakronisme jelas juga tak akan pernah membaca Korpus Uterus dan fiksi mana pun dengan nalar remaja yang lantas menilai kualitas fiksi menggunakan timbangan selaras tidaknya latar fiksi dengan hafalan tanggal, bulan, tahun dari buku-buku tarikh sekolah menengah.
Namun, bahkan jika Korpus Uterus adalah fiksi sejarah maka mengharuskan kesesuaian teksnya dengan teks buku tarikh adalah malapraktik yang hanya mungkin dilakukan oleh pengulas karbitan. Sikap semacam itu tetap malapraktik bahkan jika didalihkan pada konsep Realisme dalam sastra: realisme adalah perkara hukum realitas, bukan perkara tarikh. Contoh sederhana: Pram melakukan anakronisme dalam Arok Dedes, tetapi hal itu tak berdampak apa pun pada kualitasnya sebagai salah satu karya cemerlang Pram. Selain itu, anakronisme di dalamnya justru perlu untuk menjaga kesesuaian alur novel tersebut dengan hukum realitas.
Jika ada kekurangan pada Korpus Uterus maka hal itu terkait jumlah halaman: novel ini kurang tebal dan karenanya tuntas dibaca dalam sekali duduk. Atau mungkin kelekastuntasan baca itu bukan merupakan konsekuensi dari kurang banyaknya jumlah halaman, melainkan konsekuensi dari tingginya kenikmatan yang ditawarkan. Gerak maju pembacaan halaman demi halaman Korpus Uterus mungkin berbanding lurus dengan peningkatan ekspektasi kenikmatan tekstual dan peningkatan produksi Dopamin pada otak sehingga mampu mengalahkan segala potensi godaan lain, termasuk godaan untuk menutupnya saat kita baru menjangkau halaman-halaman permulaan. Hatur nuhun, 😇
May 14, 2026
buku ini mengangkat banyak sisi: tentang penderitaan perempuan, tentang rahim, tentang aborsi. tapi sasti nulis ini kayak sebagai outsider yang jaga jarak aman karena gak mau menyinggung siapapun. karakter-karakter dipaparkan cuma buat menguatkan sisi pro dan sisi kontra aborsi, gak ada rasa manusia-manusianya sama sekali. kayak sengaja ditulis menjengkelkan semua sampai bahkan gak bisa empati sama yang menderita. tulisan tentang luka tapi ditulisnya dengan dingin. gak ada rasa empati. banyak hal yang bisa dieksplor seperti "gang dolly" tapi nggak, pada akhirnya semua itu jadi pajangan doang
dan pattern yang sama kayak di ingatan ikan-ikan terjadi juga di sini. sepertiga terakhir selalu dijejelin banyak hal sampai nggak tau lagi maksud pengarangnya apa. tiba-tiba ada banyak tokoh, scene scenenya tiba tiba terasa begitu cepat. opening selalu terkesan lambat. ending selalu terkesan rush dan kayak diakhiri sampai situ biar ceritanya berakhir aja. saya yakin sepertiga akhir ditulis demikian cuma agar ceritanya berakhir, tanpa esensi lebih. cerpen sasti terasa begitu lincah (ini mungkin akan berubah kalau saya baca ulang) tapi kalau novel yang panjang, kelihatan banget semua flaw dan rushnya.
what irked me the most is the "tertawa sendiri seperti penderita psikosis lupa minum obat". kalimat seableist itu diucapkan oleh seorang dokter (it comes from me, fellow doctor who is also disabled and needs meds only to function) rasanya tuh... gak empatik sekali ya :)
dan pattern yang sama kayak di ingatan ikan-ikan terjadi juga di sini. sepertiga terakhir selalu dijejelin banyak hal sampai nggak tau lagi maksud pengarangnya apa. tiba-tiba ada banyak tokoh, scene scenenya tiba tiba terasa begitu cepat. opening selalu terkesan lambat. ending selalu terkesan rush dan kayak diakhiri sampai situ biar ceritanya berakhir aja. saya yakin sepertiga akhir ditulis demikian cuma agar ceritanya berakhir, tanpa esensi lebih. cerpen sasti terasa begitu lincah (ini mungkin akan berubah kalau saya baca ulang) tapi kalau novel yang panjang, kelihatan banget semua flaw dan rushnya.
what irked me the most is the "tertawa sendiri seperti penderita psikosis lupa minum obat". kalimat seableist itu diucapkan oleh seorang dokter (it comes from me, fellow doctor who is also disabled and needs meds only to function) rasanya tuh... gak empatik sekali ya :)
September 15, 2025
"Panuluh. Ya, Panuluh. Karena dia akan jadi suluh, penerang sekitarnya. Kelak, dia akan dikejar-kejar banyak perempuan." (p.9)
Sebagai anak yang terlahir hasil dari pemerkosaan di tahun 1965, Panuluh atau Luh hidup dengan penolakan dari ibunya. Saat usia 5 tahun, ia terpisah dari ibunya dan bertemu dengan Nur, seorang pekerja seks komersial yang menjajakan diri dengan "menikah" sesaat. Dari sana Luh bertemu banyak perempuan. Sesuai namanya, Luh pun dikejar banyak perempuan karena menjadi ahli aborsi.
Aku mengerti mengapa buku ini masuk kategori mendapat perhatian dari juri DKJ—meskipun bukan pemenang. Karena premis di buku ini segar dan menyajikan hal yang masih dianggap tabu oleh masyarakat, yaitu aborsi.
#
Aborsi sebagai tema besar di buku ini dibagi menjadi dua perspektif:
1) Yang sangat mencintai rahim
Melalui tokoh Dokter Marcia atau Dokter Markus, aku menyelami dalamnya filosofi rahim yang "indah". Sudah sewajarnya perempuan melahirkan bayinya. Entah itu bayi hasil dari pemerkosaan kah, atau ibunya tidak sanggup lagi membesarkan anak karena berkalang kemiskinan, semua itu tidak dipedulikan. Rahim akan "rusak" jika diluruhkan secara paksa—lewat kuretase—jika bukan dalam keadaan "darurat" melalui aspek medis. Bukan urusan jika itu aspek kejiwaan ibu, moral, asusila, bahkan ekonomi. Bagi Dokter Markus, rahim itu indah. Seperti rahim ibunya yang diawetkan setelah ibunya memutuskan merenggang nyawanya sendiri akibat depresi pasca melahirkan.
2) Yang meluruhkan para janin
Luh tahu rasanya diabaikan ibunya karena ia adalah anak yang tak inginkan. Berawal dari kejadian itu membuat Luh ingin "menyelamatkan" para wanita yang merupakan korban pemerkosaan. Para janin yang tidak diharapkan. Janin yang kelak akan menjadi anak yang "membebani" orang tuanya.
Perdebatan Luh dan Dokter Markus bagaikan suara-suara di luar sana yang pro dan kontra pada aborsi.
"Tanpa legalisasi, mereka akan mencari jalan secara sem bunyi-sembunyi. Hasilnya? Banyak yang terkena infeksi setelah aborsi. Tapi yang begitu lebih beruntung, karena sisanya banyak pula yang mati kehabisan darah. Perempuan punya hak atas tubuh mereka sendiri. Atas rahim mereka sendiri. Anda tak punya hak untuk melarang karena bukan Anda yang menjalani." (p.180)
#
Banyak yang menarik perhatianku—selain tema yang diangkat, yaitu penggunaan diksi yang cantik. Setelah membaca karya-karya penulis, ku bisa menarik kesimpulan bahwa tulisan beliau itu padat, lugas, namun puitis.
Luh dan Dokter Markus bercinta dengan bayangannya masing-masing. Dokter Markus dengan aroma luar biasa yang melingkupinya sepanjang tindakan, dan Luh dengan suara-suara lembut berirama ketika sendok kuretase mengerok sedikit demi sedikit lapisan endometrium", seperti simfoni angin lembah tatkala menyusuri dan mengikis lapisan gembur lumut-lumut basah. (p.127)
Lalu, latar belakang penulis yang sebagai dokter membuat buku ini terasa sangat "medis" di beberapa bagian. Tetapi, tidak perlu takut bingung karena ada penjelasannya di catatan kaki.
#
Untuk hal yang agak kurang menurutku, yaitu:
1. Penggunaan peristiwa 1965 dan 1998 yang sekadar tempelan
Kedua tahun itu merupakan tahun "sakral" bagi setiap cerita lokal berlatar masa lalu. Namun, di buku ini hanya disajikan di awal untuk tahun 1965 dan bahkan untuk 1998 hanya disebutkan saja bahwa tahun itu ada datanya sekian banyak korban pemerkosaan. Aku rasa tidak mengambil latar tahun itu pun tidak akan apa-apa. Hanya informasi selewat. Sehingga bagi pembaca sepertiku tidak memperoleh keterikatan emosional di era itu pada buku ini karena penyajiannya pun kurang mendalam.
2. Subplot(s) yang tumpang tindih
Luh dan segala dinamikanya dengan ibunya, menurutku sudah menjadi hal yang sangat bagus. Sayangnya premis ini tidak dieskekusi maksimal karena terlalu banyak tokoh-tokoh yang hadir dengan keruwetannya. Dan semuanya kebanyakan wanita. Seakan setiap masalah aborsi, ada perwakilannya di buku ini. Mulai dari PSK yang "diperkosa", mati karena aborsi ilegal, bercita-cita ingin menjadi ibu tapi berakhir rahimnya diawetkan, nenek yang cucunya merupakan korban pemerkosaan, korban yang dikeluarkan dari sekolah, karma sang lelaki yang membiarkan istrinya mati karena aborsi, dan lain sebagainya.
Karena terlalu banyak itu, akhirnya penyelesaian di act 3 terlalu terburu-buru. Diselesaikan dalam satu adegan. Untuk ending pun tidak terlalu membekas karena hanya sekadar oh begitu dan menggantung. Jadi, kayak ada yang belum selesai—banyak malah yang belum selesai. Bukannya mendapat conclusion, tetapi mendapat plot hole.
#
Meski demikian, buku ini meninggalkan impresi yang bagus karena aku suka tema besar yang diangkatnya. Empat bintang untuk tema itu.
Sebagai anak yang terlahir hasil dari pemerkosaan di tahun 1965, Panuluh atau Luh hidup dengan penolakan dari ibunya. Saat usia 5 tahun, ia terpisah dari ibunya dan bertemu dengan Nur, seorang pekerja seks komersial yang menjajakan diri dengan "menikah" sesaat. Dari sana Luh bertemu banyak perempuan. Sesuai namanya, Luh pun dikejar banyak perempuan karena menjadi ahli aborsi.
Aku mengerti mengapa buku ini masuk kategori mendapat perhatian dari juri DKJ—meskipun bukan pemenang. Karena premis di buku ini segar dan menyajikan hal yang masih dianggap tabu oleh masyarakat, yaitu aborsi.
#
Aborsi sebagai tema besar di buku ini dibagi menjadi dua perspektif:
1) Yang sangat mencintai rahim
Melalui tokoh Dokter Marcia atau Dokter Markus, aku menyelami dalamnya filosofi rahim yang "indah". Sudah sewajarnya perempuan melahirkan bayinya. Entah itu bayi hasil dari pemerkosaan kah, atau ibunya tidak sanggup lagi membesarkan anak karena berkalang kemiskinan, semua itu tidak dipedulikan. Rahim akan "rusak" jika diluruhkan secara paksa—lewat kuretase—jika bukan dalam keadaan "darurat" melalui aspek medis. Bukan urusan jika itu aspek kejiwaan ibu, moral, asusila, bahkan ekonomi. Bagi Dokter Markus, rahim itu indah. Seperti rahim ibunya yang diawetkan setelah ibunya memutuskan merenggang nyawanya sendiri akibat depresi pasca melahirkan.
2) Yang meluruhkan para janin
Luh tahu rasanya diabaikan ibunya karena ia adalah anak yang tak inginkan. Berawal dari kejadian itu membuat Luh ingin "menyelamatkan" para wanita yang merupakan korban pemerkosaan. Para janin yang tidak diharapkan. Janin yang kelak akan menjadi anak yang "membebani" orang tuanya.
Perdebatan Luh dan Dokter Markus bagaikan suara-suara di luar sana yang pro dan kontra pada aborsi.
"Tanpa legalisasi, mereka akan mencari jalan secara sem bunyi-sembunyi. Hasilnya? Banyak yang terkena infeksi setelah aborsi. Tapi yang begitu lebih beruntung, karena sisanya banyak pula yang mati kehabisan darah. Perempuan punya hak atas tubuh mereka sendiri. Atas rahim mereka sendiri. Anda tak punya hak untuk melarang karena bukan Anda yang menjalani." (p.180)
#
Banyak yang menarik perhatianku—selain tema yang diangkat, yaitu penggunaan diksi yang cantik. Setelah membaca karya-karya penulis, ku bisa menarik kesimpulan bahwa tulisan beliau itu padat, lugas, namun puitis.
Luh dan Dokter Markus bercinta dengan bayangannya masing-masing. Dokter Markus dengan aroma luar biasa yang melingkupinya sepanjang tindakan, dan Luh dengan suara-suara lembut berirama ketika sendok kuretase mengerok sedikit demi sedikit lapisan endometrium", seperti simfoni angin lembah tatkala menyusuri dan mengikis lapisan gembur lumut-lumut basah. (p.127)
Lalu, latar belakang penulis yang sebagai dokter membuat buku ini terasa sangat "medis" di beberapa bagian. Tetapi, tidak perlu takut bingung karena ada penjelasannya di catatan kaki.
#
Untuk hal yang agak kurang menurutku, yaitu:
1. Penggunaan peristiwa 1965 dan 1998 yang sekadar tempelan
Kedua tahun itu merupakan tahun "sakral" bagi setiap cerita lokal berlatar masa lalu. Namun, di buku ini hanya disajikan di awal untuk tahun 1965 dan bahkan untuk 1998 hanya disebutkan saja bahwa tahun itu ada datanya sekian banyak korban pemerkosaan. Aku rasa tidak mengambil latar tahun itu pun tidak akan apa-apa. Hanya informasi selewat. Sehingga bagi pembaca sepertiku tidak memperoleh keterikatan emosional di era itu pada buku ini karena penyajiannya pun kurang mendalam.
2. Subplot(s) yang tumpang tindih
Luh dan segala dinamikanya dengan ibunya, menurutku sudah menjadi hal yang sangat bagus. Sayangnya premis ini tidak dieskekusi maksimal karena terlalu banyak tokoh-tokoh yang hadir dengan keruwetannya. Dan semuanya kebanyakan wanita. Seakan setiap masalah aborsi, ada perwakilannya di buku ini. Mulai dari PSK yang "diperkosa", mati karena aborsi ilegal, bercita-cita ingin menjadi ibu tapi berakhir rahimnya diawetkan, nenek yang cucunya merupakan korban pemerkosaan, korban yang dikeluarkan dari sekolah, karma sang lelaki yang membiarkan istrinya mati karena aborsi, dan lain sebagainya.
Karena terlalu banyak itu, akhirnya penyelesaian di act 3 terlalu terburu-buru. Diselesaikan dalam satu adegan. Untuk ending pun tidak terlalu membekas karena hanya sekadar oh begitu dan menggantung. Jadi, kayak ada yang belum selesai—banyak malah yang belum selesai. Bukannya mendapat conclusion, tetapi mendapat plot hole.
#
Meski demikian, buku ini meninggalkan impresi yang bagus karena aku suka tema besar yang diangkatnya. Empat bintang untuk tema itu.
August 14, 2025
4.3/5⭐️
Pernah gak kamu baca novel yang bikin ngilu sampai ke tulang?🤔
Asli, ini yang aku rasain pas baca Korpus Uterus.😖
Novel ini bercerita tentang Luh, anak dari korban pemerkosaan yang gagal digugurkan. Ia tumbuh dalam pengabaian dan trauma, tanpa kasih sayang sang ibu. Takdir mempertemukannya dengan perempuan-perempuan yang terjebak dalam kehamilan tak diinginkan. Luh pun bertekad menjadi ahli aborsi yang handal, menyelamatkan ribuan janin dari hidup penuh nestapa.
Kisah Luh dituturkan Kak Sasti dengan narasi yang tajam, lugas, getir, tapi juga puitis & magis. Dialognya frontal, penuh kritik sosial yang berani. Latar sosialnya kompleks, tapi diramu dengan rapi hingga terasa nyata. Sepanjang baca, rasanya seperti dihantam gelombang pedih tanpa henti.😭
Rasa pedih itu bukan tanpa alasan. Kak Sasti menyuarakan isu-isu sensitif dan tabu: hak atas tubuh, stigma aborsi, legalitas aborsi bagi korban pemerkosaan, ketidakadilan hukum, minimnya pendidikan seksual, hingga trauma lintas generasi. Semua dirangkai dalam alur yang mengurai tragedi tiap tokoh menjadi kisah yang hidup, emosional, dan terjalin pada satu benang merah—kuasa tubuh perempuan.
Yang paling nyesek buatku: stigma terhadap perempuan yang memilih aborsi kerap dicap "pembunuh tak bermoral". Stigma ini berakar pada anggapan bahwa rahim adalah "aset publik" yang wajib melahirkan, seolah nilai perempuan hanya diukur dari kemampuannya menjadi ibu. Sulit rasanya menyetujui pandangan ini. Keputusan aborsi tak sesederhana hitam-putihnya norma agama dan sosial-budaya. Ada faktor medis, psikis, bahkan hukum yang kerap diabaikan.
Semua kepahitan itu membuatku tak bisa menuntaskan novel ini dalam sekali duduk. Aku butuh jeda untuk memproses dilema moral para tokohnya. Latar belakang Kak Sasti sebagai dokter membuat risetnya tak perlu diragukan: akurat, detail, dan istilah medis disisipkan dengan cerdas tanpa terasa menggurui.
All in all, Korpus Uterus meninggalkan kesan mendalam buatku—kisah sarat emosi, intens, dan penuh perjuangan. Bukan bacaan nyaman yang disukai orang, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Novel ini menampar realitas, mengaduk pikiran dan rasa, lalu menegaskan: tubuh perempuan miliknya sendiri, bukan milik publik untuk dihakimi.
Oh ya, fun facts: Sasti Gotama sudah melahirkan banyak karya dan meraih segudang penghargaan bergengsi, salah satunya Kusala Sastra Khatulistiwa 2025. Dan jelas, Korpus Uterus gak akan jadi karya terakhirnya yang kubaca.
P.S. Desain cover dari @illustrationpoetry juga patut diapresiasi—penuh makna dan merepresentasikan isi novel ini!🤩
Anyway, menurut kamu, aborsi tuh legal atau illegal? Kenapa?🤔 Yuk, diskusi!
#tiareadsbooks #tiawritesreviews
Pernah gak kamu baca novel yang bikin ngilu sampai ke tulang?🤔
Asli, ini yang aku rasain pas baca Korpus Uterus.😖
Novel ini bercerita tentang Luh, anak dari korban pemerkosaan yang gagal digugurkan. Ia tumbuh dalam pengabaian dan trauma, tanpa kasih sayang sang ibu. Takdir mempertemukannya dengan perempuan-perempuan yang terjebak dalam kehamilan tak diinginkan. Luh pun bertekad menjadi ahli aborsi yang handal, menyelamatkan ribuan janin dari hidup penuh nestapa.
Kisah Luh dituturkan Kak Sasti dengan narasi yang tajam, lugas, getir, tapi juga puitis & magis. Dialognya frontal, penuh kritik sosial yang berani. Latar sosialnya kompleks, tapi diramu dengan rapi hingga terasa nyata. Sepanjang baca, rasanya seperti dihantam gelombang pedih tanpa henti.😭
Rasa pedih itu bukan tanpa alasan. Kak Sasti menyuarakan isu-isu sensitif dan tabu: hak atas tubuh, stigma aborsi, legalitas aborsi bagi korban pemerkosaan, ketidakadilan hukum, minimnya pendidikan seksual, hingga trauma lintas generasi. Semua dirangkai dalam alur yang mengurai tragedi tiap tokoh menjadi kisah yang hidup, emosional, dan terjalin pada satu benang merah—kuasa tubuh perempuan.
Yang paling nyesek buatku: stigma terhadap perempuan yang memilih aborsi kerap dicap "pembunuh tak bermoral". Stigma ini berakar pada anggapan bahwa rahim adalah "aset publik" yang wajib melahirkan, seolah nilai perempuan hanya diukur dari kemampuannya menjadi ibu. Sulit rasanya menyetujui pandangan ini. Keputusan aborsi tak sesederhana hitam-putihnya norma agama dan sosial-budaya. Ada faktor medis, psikis, bahkan hukum yang kerap diabaikan.
Semua kepahitan itu membuatku tak bisa menuntaskan novel ini dalam sekali duduk. Aku butuh jeda untuk memproses dilema moral para tokohnya. Latar belakang Kak Sasti sebagai dokter membuat risetnya tak perlu diragukan: akurat, detail, dan istilah medis disisipkan dengan cerdas tanpa terasa menggurui.
All in all, Korpus Uterus meninggalkan kesan mendalam buatku—kisah sarat emosi, intens, dan penuh perjuangan. Bukan bacaan nyaman yang disukai orang, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Novel ini menampar realitas, mengaduk pikiran dan rasa, lalu menegaskan: tubuh perempuan miliknya sendiri, bukan milik publik untuk dihakimi.
Oh ya, fun facts: Sasti Gotama sudah melahirkan banyak karya dan meraih segudang penghargaan bergengsi, salah satunya Kusala Sastra Khatulistiwa 2025. Dan jelas, Korpus Uterus gak akan jadi karya terakhirnya yang kubaca.
P.S. Desain cover dari @illustrationpoetry juga patut diapresiasi—penuh makna dan merepresentasikan isi novel ini!🤩
Anyway, menurut kamu, aborsi tuh legal atau illegal? Kenapa?🤔 Yuk, diskusi!
#tiareadsbooks #tiawritesreviews
December 19, 2025
Buku ini mengulik banyak aspek yg cukup sensitif untuk di bahas serta diskusi di khalayak umum. Sejarah kelam, isu sosial, aborsi, prostitusi, pembunuhan, perempuan, patriarki, dan masih banyak lain nya. Cukup membuatku marah, kesal, sedih, semua bercampur aduk jadi satu. Tapi ada bbrp bagian scenes yg menurutku terlalu mulus utk posisi karakternya si Luh. But it’s okay, banyak sekali isu yang disampaikan secara menohok oleh penulis. Jadi penasaran pandangan para cowo2 kalo baca buku ini gimana opini nya🤨🥸
August 10, 2026
dari awal udah dar der dor sih ni buku. banyak bgt isu mengenai perempuan yang disinggung di buku ini. jalan ceritanya asikk. mungkin ada yang menganggap beberapa bagian di cerita ini tuh aneh, tapi menurut aku keanehan itu malah nunjukkin betapa beragam dan uniknya manusia, juga sisi suram kehidupan yang selama ini belum ku ketahui segitu dalamnya.
January 18, 2026
Buku ini akan memberikan dua pandangan mengenai kehamilan wanita: 1) dilahirkan, atau 2) dibinasakan.
Menceritakan tentang Kalimah yang menjadi korban pemerkosaan di tahun 1965 oleh aparat karena suaminya dituding sebagai dalang PKI ketika bekerja sebagai seniman Lekra.
Kalimah mengandung bayi yang tidak diinginkan, yakni Luh (Panuluh). Keinginannya untuk membinasakan bayi nyatanya sulit untuk dilakukan dan Luh tetaplah lahir dengan keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain. Luh memiliki telinga kembang kol yang pendengarannya setara lumba-lumba. Ajaib dan sangat peka.
Luh ditinggal begitu saja oleh Kalimah, sementara Kalimah memulai hidup baru menjadi penulis stensil dengan nama pena Mardi S (mengaku sebagai pria agar naskahnya bisa diterima penerbit).
Luh ditemukan oleh seorang PSK yang bernama Nur, kemudian diajak tinggal bersama di gang kecil hingga gang Dolly. Luh disayang oleh para PSK; Yati, Siti, Farida—yang mana tokoh mereka bukanlah tempelan cerita. Mereka berpisah saat muda dan dipertemukan lagi ketika dewasa.
Selama remaja, Luh berusaha mencari uang dengan menjadi petugas kebersihan di rumah sakit. Dia suka menguping pasien di ruang ginekologi, mempelajari buku-buku tebal, dan bertemulah dia dengan dr. Markus.
Siapa sangka jika dr. Markus tertarik dengan kegigihan Luh. Wanita itu memberikan tempat tinggal dan mengajarinya banyak hal. Namun, baik Luh dan dr. Markus punya perbedaan pendapat mengenai aborsi dan melahirkan.
Ada banyak istilah kedokteran tentang kuretase yang dijelaskan di buku ini. Isinya lugas dan mudah dipahami dengan catatan kaki. Ceritanya mengalir disertai lompatan waktu yang cepat: 1965, 1971, 1998, 2000an. Tema yang diangkat begitu kompleks yakni aborsi, pemerkosaan, kekerasan, tuduhan PKI, medis, dan legalitas aborsi.
Ada satu tokoh bernama Danang seorang polisi yang rasanya benar-benar tak layak menjadi manusia, seolah-olah dialah penyelamat amal ibadah seseorang, dan sok menggurui ketika bertemu dengan pasien pemerkosaan yang berusaha untuk bunuh diri.
Untuk plot-twist mengenai bra merah lumayan agak membuat saya kepikiran melenceng (hope this is not get too far). Meskipun bagian ending akan menimbulkan banyak pertanyaan, closure yang diberikan sudah cukup menjawab aksi Luh yang selama ini ingin dia temukan.
Satu hal lagi, tokohnya banyak. Pastikan mencatat atau mengingat detail di dalamnya. Soalnya ringkasan saya belum termasuk pengenalan karakter Lara, Luri, Maryam, dan kisah dibalik rahim yang hilang.
Menceritakan tentang Kalimah yang menjadi korban pemerkosaan di tahun 1965 oleh aparat karena suaminya dituding sebagai dalang PKI ketika bekerja sebagai seniman Lekra.
Kalimah mengandung bayi yang tidak diinginkan, yakni Luh (Panuluh). Keinginannya untuk membinasakan bayi nyatanya sulit untuk dilakukan dan Luh tetaplah lahir dengan keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain. Luh memiliki telinga kembang kol yang pendengarannya setara lumba-lumba. Ajaib dan sangat peka.
Luh ditinggal begitu saja oleh Kalimah, sementara Kalimah memulai hidup baru menjadi penulis stensil dengan nama pena Mardi S (mengaku sebagai pria agar naskahnya bisa diterima penerbit).
Luh ditemukan oleh seorang PSK yang bernama Nur, kemudian diajak tinggal bersama di gang kecil hingga gang Dolly. Luh disayang oleh para PSK; Yati, Siti, Farida—yang mana tokoh mereka bukanlah tempelan cerita. Mereka berpisah saat muda dan dipertemukan lagi ketika dewasa.
Selama remaja, Luh berusaha mencari uang dengan menjadi petugas kebersihan di rumah sakit. Dia suka menguping pasien di ruang ginekologi, mempelajari buku-buku tebal, dan bertemulah dia dengan dr. Markus.
Siapa sangka jika dr. Markus tertarik dengan kegigihan Luh. Wanita itu memberikan tempat tinggal dan mengajarinya banyak hal. Namun, baik Luh dan dr. Markus punya perbedaan pendapat mengenai aborsi dan melahirkan.
Ada banyak istilah kedokteran tentang kuretase yang dijelaskan di buku ini. Isinya lugas dan mudah dipahami dengan catatan kaki. Ceritanya mengalir disertai lompatan waktu yang cepat: 1965, 1971, 1998, 2000an. Tema yang diangkat begitu kompleks yakni aborsi, pemerkosaan, kekerasan, tuduhan PKI, medis, dan legalitas aborsi.
Ada satu tokoh bernama Danang seorang polisi yang rasanya benar-benar tak layak menjadi manusia, seolah-olah dialah penyelamat amal ibadah seseorang, dan sok menggurui ketika bertemu dengan pasien pemerkosaan yang berusaha untuk bunuh diri.
Untuk plot-twist mengenai bra merah lumayan agak membuat saya kepikiran melenceng (hope this is not get too far). Meskipun bagian ending akan menimbulkan banyak pertanyaan, closure yang diberikan sudah cukup menjawab aksi Luh yang selama ini ingin dia temukan.
Satu hal lagi, tokohnya banyak. Pastikan mencatat atau mengingat detail di dalamnya. Soalnya ringkasan saya belum termasuk pengenalan karakter Lara, Luri, Maryam, dan kisah dibalik rahim yang hilang.
September 20, 2025
⭐ 4.8
Ceritanya berpusat pada Luh, anak laki-laki yang lahir dari rahim seorang perempuan korban pemerkosaan di tengah konflik PKI. Sejak awal, kisah ini sudah berat—penuh trauma, penolakan, dan luka yang diwariskan dari ibunya. Luh lahir dengan cacat telinga berbentuk kembang kol, tapi justru dari situ ia punya kemampuan super: mendengar suara-suara yang tak bisa ditangkap orang lain, termasuk detak jantung janin dalam kandungan.
Perjalanan hidup Luh membawanya pada satu misi: menyelamatkan perempuan dari praktik aborsi ilegal yang berbahaya. Ia belajar otodidak hingga setara dokter obgyn dan membuka praktik aborsi dengan standar medis, meski tetap dianggap ilegal. Dari sini, isu aborsi, trauma, dan pilihan hidup perempuan jadi pusat cerita, dieksplorasi lewat riset medis yang kuat.
Kalau kata beberapa reviewer lain konflik besar seperti PKI atau ’98 cuma jadi “tempelan” semata, menurutku itu sah-sah aja; karena memang fokus utamanya bukan di sejarah, tapi bagaimana trauma personal dan pilihan hidup individu terbentuk di tengah latar waktu tertentu. Justru, meskipun hanya sekilas, kita tetap dapat sense tentang kondisi sosial-politik saat itu. Yang cukup menantang bagiku adalah gaya alurnya yang maju-mundur, hanya ditandai oleh tanggal di awal bagian. Bukan berarti salah, karena memang banyak novel lain juga pakai pola ini, tapi tetap bikin pembaca harus ekstra teliti untuk mengikuti urutannya. Ditambah lagi ada gap waktu yang terasa jomplang yang membuat transisinya agak mengejutkan, misalnya dari cerita masa kecil Luh yang langsung loncat ke usianya yang sudah 30 tahun—jadi seolah ada ruang kosong yang tidak terisi.
Meski begitu, Sasti berhasil menghadirkan karakter-karakter lain yang kuat dan memorable. Misalnya dokter Markus dengan penciuman tajamnya, atau tokoh sampingan lain yang punya kisah sendiri-sendiri, sehingga novel ini terasa penuh lapisan. Di sisi lain, ada juga tokoh yang sengaja bikin emosi, seperti Danang—seorang polisi yang sejak awal sampai akhir tetap jadi bajingan yang ditinggalkan tanpa perkembangan karakter sama sekali.
Yang paling disayangkan hanya bagian endingnya yang terkesan terburu-buru: semua karakter dipertemukan di satu titik, lalu ditutup begitu saja. Padahal sebelumnya tiap bagian dibangun dengan detail dan atmosfer yang begitu kuat. Walaupun begitu, aku tetap mengapresiasi keberanian Sasti Gotama mengangkat isu sensitif seperti aborsi, trauma, dan kemanusiaan dalam narasi yang penuh riset medis serta bahasa yang kaya.
Ceritanya berpusat pada Luh, anak laki-laki yang lahir dari rahim seorang perempuan korban pemerkosaan di tengah konflik PKI. Sejak awal, kisah ini sudah berat—penuh trauma, penolakan, dan luka yang diwariskan dari ibunya. Luh lahir dengan cacat telinga berbentuk kembang kol, tapi justru dari situ ia punya kemampuan super: mendengar suara-suara yang tak bisa ditangkap orang lain, termasuk detak jantung janin dalam kandungan.
Perjalanan hidup Luh membawanya pada satu misi: menyelamatkan perempuan dari praktik aborsi ilegal yang berbahaya. Ia belajar otodidak hingga setara dokter obgyn dan membuka praktik aborsi dengan standar medis, meski tetap dianggap ilegal. Dari sini, isu aborsi, trauma, dan pilihan hidup perempuan jadi pusat cerita, dieksplorasi lewat riset medis yang kuat.
Kalau kata beberapa reviewer lain konflik besar seperti PKI atau ’98 cuma jadi “tempelan” semata, menurutku itu sah-sah aja; karena memang fokus utamanya bukan di sejarah, tapi bagaimana trauma personal dan pilihan hidup individu terbentuk di tengah latar waktu tertentu. Justru, meskipun hanya sekilas, kita tetap dapat sense tentang kondisi sosial-politik saat itu. Yang cukup menantang bagiku adalah gaya alurnya yang maju-mundur, hanya ditandai oleh tanggal di awal bagian. Bukan berarti salah, karena memang banyak novel lain juga pakai pola ini, tapi tetap bikin pembaca harus ekstra teliti untuk mengikuti urutannya. Ditambah lagi ada gap waktu yang terasa jomplang yang membuat transisinya agak mengejutkan, misalnya dari cerita masa kecil Luh yang langsung loncat ke usianya yang sudah 30 tahun—jadi seolah ada ruang kosong yang tidak terisi.
Meski begitu, Sasti berhasil menghadirkan karakter-karakter lain yang kuat dan memorable. Misalnya dokter Markus dengan penciuman tajamnya, atau tokoh sampingan lain yang punya kisah sendiri-sendiri, sehingga novel ini terasa penuh lapisan. Di sisi lain, ada juga tokoh yang sengaja bikin emosi, seperti Danang—seorang polisi yang sejak awal sampai akhir tetap jadi bajingan yang ditinggalkan tanpa perkembangan karakter sama sekali.
Yang paling disayangkan hanya bagian endingnya yang terkesan terburu-buru: semua karakter dipertemukan di satu titik, lalu ditutup begitu saja. Padahal sebelumnya tiap bagian dibangun dengan detail dan atmosfer yang begitu kuat. Walaupun begitu, aku tetap mengapresiasi keberanian Sasti Gotama mengangkat isu sensitif seperti aborsi, trauma, dan kemanusiaan dalam narasi yang penuh riset medis serta bahasa yang kaya.
August 31, 2026
5 stars.
oh wow. jujur sangat tidak expect isi konten buku ini.
literally wow. speechless. isi kontennya seputar aborsi & it’s genuinely a big slap for “pro-life”.
i genuinely enjoyed this so much karna diksinya beneran memukau.
saranku adalah baca dan rasakan aja sensasi baca bukunya tanpa harus analisa plot hole nya.
bukunya menarik banget and i really love the ambience.
oh wow. jujur sangat tidak expect isi konten buku ini.
literally wow. speechless. isi kontennya seputar aborsi & it’s genuinely a big slap for “pro-life”.
i genuinely enjoyed this so much karna diksinya beneran memukau.
saranku adalah baca dan rasakan aja sensasi baca bukunya tanpa harus analisa plot hole nya.
bukunya menarik banget and i really love the ambience.
November 9, 2025
5/5 for the content
5/5 for the writing
4/5 for the storytelling & plot
buku yang harus dibaca semua orang yang pro-life!!!! 😤😤😤 menceritakan kisah-kisah perempuan yang bernasib sengsara karena ulah laki-laki, yang merampas otonomi perempuan atas dirinya sendiri. sudah dirampas oleh laki-laki, dirampas pula oleh negara. kisah-kisah ini tidak hanya 1-2, namun cukup banyak. bisa dibilang bukunya sangat fast-paced. namun ternyata makin dibaca, kisah perempuan-perempuan ini makin berhubungan. untuk aku yang sangat invested dari halaman pertama, ketika aku membaca bagian kisah-kisah ini interconnected, itu menimbulkan rasa satisfying dan haru sih. gotta appreciate the idea. buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang agak puitis dan beberapa kali aku harus google kata-kata yang baru di mataku. ini buku yang ingin sekali aku rekomendasi ke semua orang, tapi aku sadar tidak semua orang akan cocok dengan buku ini. vulgar, aneh, tidak jarang membuatku bergidik nyeri dan berkata “ini yang nulis make ya?” tapi menurutku jika deretan trigger warning di buku ini dirasa masih aman, buku ini bagussss bgt sih buat dibaca 😁 #myopinigw
5/5 for the writing
4/5 for the storytelling & plot
buku yang harus dibaca semua orang yang pro-life!!!! 😤😤😤 menceritakan kisah-kisah perempuan yang bernasib sengsara karena ulah laki-laki, yang merampas otonomi perempuan atas dirinya sendiri. sudah dirampas oleh laki-laki, dirampas pula oleh negara. kisah-kisah ini tidak hanya 1-2, namun cukup banyak. bisa dibilang bukunya sangat fast-paced. namun ternyata makin dibaca, kisah perempuan-perempuan ini makin berhubungan. untuk aku yang sangat invested dari halaman pertama, ketika aku membaca bagian kisah-kisah ini interconnected, itu menimbulkan rasa satisfying dan haru sih. gotta appreciate the idea. buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang agak puitis dan beberapa kali aku harus google kata-kata yang baru di mataku. ini buku yang ingin sekali aku rekomendasi ke semua orang, tapi aku sadar tidak semua orang akan cocok dengan buku ini. vulgar, aneh, tidak jarang membuatku bergidik nyeri dan berkata “ini yang nulis make ya?” tapi menurutku jika deretan trigger warning di buku ini dirasa masih aman, buku ini bagussss bgt sih buat dibaca 😁 #myopinigw
January 25, 2026
5 ⭐️
Buku pertama di 2026 yang SANGAT THOUGHT PROVOKING.
Sesungguhnya aku gatau harus riviu seperti apa, karena saking banyaknya hal-hal kritis dan mengundang diskusi dalam buku ini, tentang perempuan, makna rahim, legalisasi atau tidak aborsi, guna parenting yang benar dan masih banyak lainnya.
Menceritakan sudut pandang Luh, si anak hasil dari kehamilan yang tidak diinginkan dan tumbuh diabaikan oleh Ibunya sendiri, Luh mulai mempertanyakan banyak hal dari pertemuan pertemuannya dengan perempuan perempuan yang mewarnai kisah ini dari yang baik seperti Nur, Siti, Farida dan Yati, hingga yang turut mempertanyakan logika dan perasaan Luh seperti dr Markus. Dari perjalanan dan pertanyaan pertanyaan itu Luh tumbuh dan memaknai Ibu dan rahim dengan pandagannya sendiri.
Gila sih menurutku buku ini, sangat lugas, kritis tapi juga disusun dengan bahasa yang sangat indah, banyak term term kedokteran yang aku baru tau (ternyata kak Sasti emang dokter ya!) yang karenanya, hal yang dibahas di buku ini menjadi sangat logis tapi juga penuh perasaan. Kayak pribadi T dan F kamu diuji ketika baca Korpus Uterus.
Kamu tau yang dilakukan Luh itu salah, tapi apa yang dilakukannya itu didasarkan dari apa yang dia lewati dan minimnya parenting dan kasih sayang, jadi sedikit banyak kamu tau apa yang Luh lakukan tuh jadi seperti, "oh pantes" moment. Buku ini mempertanyakan dan menjelaskan hasil keputusan keputusan kecil dan besar yang dilakukan manusia sebelum menjadi orang tua, atau yah melakukan persetubuhan. Tapi sungguh aku jatuh cinta sama bahasa penulisan Kak Sasti yang indah.
WAJIB BACA!
Buku pertama di 2026 yang SANGAT THOUGHT PROVOKING.
Sesungguhnya aku gatau harus riviu seperti apa, karena saking banyaknya hal-hal kritis dan mengundang diskusi dalam buku ini, tentang perempuan, makna rahim, legalisasi atau tidak aborsi, guna parenting yang benar dan masih banyak lainnya.
Menceritakan sudut pandang Luh, si anak hasil dari kehamilan yang tidak diinginkan dan tumbuh diabaikan oleh Ibunya sendiri, Luh mulai mempertanyakan banyak hal dari pertemuan pertemuannya dengan perempuan perempuan yang mewarnai kisah ini dari yang baik seperti Nur, Siti, Farida dan Yati, hingga yang turut mempertanyakan logika dan perasaan Luh seperti dr Markus. Dari perjalanan dan pertanyaan pertanyaan itu Luh tumbuh dan memaknai Ibu dan rahim dengan pandagannya sendiri.
Gila sih menurutku buku ini, sangat lugas, kritis tapi juga disusun dengan bahasa yang sangat indah, banyak term term kedokteran yang aku baru tau (ternyata kak Sasti emang dokter ya!) yang karenanya, hal yang dibahas di buku ini menjadi sangat logis tapi juga penuh perasaan. Kayak pribadi T dan F kamu diuji ketika baca Korpus Uterus.
Kamu tau yang dilakukan Luh itu salah, tapi apa yang dilakukannya itu didasarkan dari apa yang dia lewati dan minimnya parenting dan kasih sayang, jadi sedikit banyak kamu tau apa yang Luh lakukan tuh jadi seperti, "oh pantes" moment. Buku ini mempertanyakan dan menjelaskan hasil keputusan keputusan kecil dan besar yang dilakukan manusia sebelum menjadi orang tua, atau yah melakukan persetubuhan. Tapi sungguh aku jatuh cinta sama bahasa penulisan Kak Sasti yang indah.
WAJIB BACA!
February 9, 2026
gila. Buku GILA. badanku selalu merinding tiap baca ini. nyeri, sesak nafas. ntah. bajingan sekali lelaki dan negara ini terhadap perempuan. aku juga harus amaze betapa detailnya penjelasan medis mengenai rahim dan proses kuratase ini. buku ini real a slap in the face for anyone who chose pro-life action. good, very good.
September 1, 2025
Korpus Uterus karya Sasti Gotama merupakan novel yang menjadi salah satu naskah menarik perhatian juri di ajang Sayembara Novel DKJ tahun 2023. Bercerita tentang Panuluh, seorang anak yang lahir tanpa diinginkan ibunya, Kalimah. Berkali-kali dilakukan percobaan aborsi namun Luh memilih untuk lahir kedunia, meskipun kehadirannya tidak diinginkan oleh ibunya. Hal itu dikarenakan, Luh merupakan buah dari seorang bajingan yang memerkosa Kalimah saat ia dituduh menjadi salah satu anggota PKI sesaat setelah suaminya Hafidin yang lebih dulu telah ditangkap seusai berhubungan intim dengan selingkuhannya. Cerita dalam novel ini sebagian besar berlatar di Surabaya tahun 1965, 1971,1998 dan 2009.
Hidup Luh yang sedari mula tidak pernah dianggap ibunya,membuat dirinya diperlakukan seperti hewan ternak. Ia tumbuh dalam ombang-ambing ketidakpastian hingga ia bertemu dengan Nur, Yati, Siti dan Farida yang berprofesi sebagai PSK serta bertemu dengan dr. Marcia seorang ginekolog terkenal di Surabaya. Dari orang-orang tersebutlah Luh tumbuh menjadi seorang yang peka terhadap isu perempuan terutama tentang aborsi. Luh memiliki kemampuan pendengaran diatas rata-rata manusia umumnya, telinganya yang berbentuk seperti bunga kol mampu mendengar hingga detak jantung sekalipun. Hal itu turut memuluskan cita-cita Luh menjadi seorang ahli aborsi ilegal, yang dikemudian hari menjadikan ia buronan.
Novel ini bukannya tidak bagus, namun buat sy pribadi sebagai pembaca awam merasa ada beberapa hal yang dirasa perlu digaris bawahi:
1. Pemilihan latar di tahun 1965 sy rasa tidak begitu saja dipilih tanpa alasan oleh penulis, namun sy menyayangkan dampak dari kejadian 1965 hanya dibahas diawal saja dan jika ada efek jangka panjangnya hanya berwujud titik balik untuk hal-hal yang baik. Menurut saya, akan menjadi lebih menarik ketika bayang-bayang 1965 tetap melekat pada karakter Luh atau Kalimah. Karena buat saya, mengolah luka batin dan menjadikan titik balik ke hal yang positif itu tidaklah mudah.
2. Kemampuan mendengar Luh yang tidak biasa, alih-alih menjadi keunggulan Luh namun buat saya terlihat terlalu berlebihan. Setiap masalah yang dihadapi oleh Luh seolah bisa diselesaikan karena ia mempunyai kemampuan itu. Satu sisi merupakan hal baik, namun menjadi terlihat terlalu mudah dan beberapa kali justru menjadi shortcut jalan hidupnya berubah ke arah yang lebih baik.
Terlepas dari hal tersebut diatas, sy pun mengagumi bagaimana penulis yang juga seorang dokter banyak sekali menggunakan istilah medis dan sangat berkaitan dengan alur cerita. Hal lain adalah bagaimana tema tentang rahim yang dipilih penulis, sebab hal tersebut merupakan hal yang penting.
Hidup Luh yang sedari mula tidak pernah dianggap ibunya,membuat dirinya diperlakukan seperti hewan ternak. Ia tumbuh dalam ombang-ambing ketidakpastian hingga ia bertemu dengan Nur, Yati, Siti dan Farida yang berprofesi sebagai PSK serta bertemu dengan dr. Marcia seorang ginekolog terkenal di Surabaya. Dari orang-orang tersebutlah Luh tumbuh menjadi seorang yang peka terhadap isu perempuan terutama tentang aborsi. Luh memiliki kemampuan pendengaran diatas rata-rata manusia umumnya, telinganya yang berbentuk seperti bunga kol mampu mendengar hingga detak jantung sekalipun. Hal itu turut memuluskan cita-cita Luh menjadi seorang ahli aborsi ilegal, yang dikemudian hari menjadikan ia buronan.
Novel ini bukannya tidak bagus, namun buat sy pribadi sebagai pembaca awam merasa ada beberapa hal yang dirasa perlu digaris bawahi:
1. Pemilihan latar di tahun 1965 sy rasa tidak begitu saja dipilih tanpa alasan oleh penulis, namun sy menyayangkan dampak dari kejadian 1965 hanya dibahas diawal saja dan jika ada efek jangka panjangnya hanya berwujud titik balik untuk hal-hal yang baik. Menurut saya, akan menjadi lebih menarik ketika bayang-bayang 1965 tetap melekat pada karakter Luh atau Kalimah. Karena buat saya, mengolah luka batin dan menjadikan titik balik ke hal yang positif itu tidaklah mudah.
2. Kemampuan mendengar Luh yang tidak biasa, alih-alih menjadi keunggulan Luh namun buat saya terlihat terlalu berlebihan. Setiap masalah yang dihadapi oleh Luh seolah bisa diselesaikan karena ia mempunyai kemampuan itu. Satu sisi merupakan hal baik, namun menjadi terlihat terlalu mudah dan beberapa kali justru menjadi shortcut jalan hidupnya berubah ke arah yang lebih baik.
Terlepas dari hal tersebut diatas, sy pun mengagumi bagaimana penulis yang juga seorang dokter banyak sekali menggunakan istilah medis dan sangat berkaitan dengan alur cerita. Hal lain adalah bagaimana tema tentang rahim yang dipilih penulis, sebab hal tersebut merupakan hal yang penting.
October 3, 2025
Ini adalah definisi buku yang bagus banget. Bagus secara harfiah, dan bagus bangeeet secara selera personal. Selain analogi dan prosa yang indah banget dibaca, juga sangat bermakna dari segi konten cerita.
Ini sesuatu yang baru dan segar. Membahas proses aborsi dengan detail melalui analogi suara. Buku yang selama ini aku cari-cari karena memuat isu perempuan yang masih dianggap tabu. Penyajian dialog antar tokoh membuat aku semakin sadar akan stereotipe perempuan.
Dikemas dengan bahasa medis yang keren abis. Bagian yang paling aku suka yaitu bagaimana penulis menyajikan konten medis dengan analogi aroma. Bahwa aroma vagina yang sehat itu seperti aroma keju basi, bukan bau ikan asin 😭 bagaimana penggambaran kondisi rahim terkena iritasi akibat kuretase yang tercium seperti bau anyir bercampur besi logam. Semua analogi itu tergambar nyata 😭 penggunaan kalimat sulur kacang panjang juga merupakan analogi yang indah banget menurutku.
Lalu aku suka banget bagaimana cerita ini tidak berpusat pada Luh dan ibunya saja. Tapi makna cerita ini juga datang dari pasien-pasien Luh yang muncul karena korban pelecehan, KDRT, ekonomi, bahkan kenakalan remaja. Cerita ini juga menyinggung perihal hukum Indonesia yang alot banget menangani setiap kasus perizinan aborsi.
FIKS INI KEREN BANGET 😭 dialog tiap tokohnya membuat aku ga berhenti untuk berdecak kagum 🥲🔥 sangaaaat worth it untuk dibacaa.
Mungkin endingnya aja yang menurutku kurang memuaskan. Seolah-olah memang sengaja digantung agar pembaca yang harus menafsirkan sendiri keputusan Luh kedepannya.
Ini sesuatu yang baru dan segar. Membahas proses aborsi dengan detail melalui analogi suara. Buku yang selama ini aku cari-cari karena memuat isu perempuan yang masih dianggap tabu. Penyajian dialog antar tokoh membuat aku semakin sadar akan stereotipe perempuan.
Dikemas dengan bahasa medis yang keren abis. Bagian yang paling aku suka yaitu bagaimana penulis menyajikan konten medis dengan analogi aroma. Bahwa aroma vagina yang sehat itu seperti aroma keju basi, bukan bau ikan asin 😭 bagaimana penggambaran kondisi rahim terkena iritasi akibat kuretase yang tercium seperti bau anyir bercampur besi logam. Semua analogi itu tergambar nyata 😭 penggunaan kalimat sulur kacang panjang juga merupakan analogi yang indah banget menurutku.
Lalu aku suka banget bagaimana cerita ini tidak berpusat pada Luh dan ibunya saja. Tapi makna cerita ini juga datang dari pasien-pasien Luh yang muncul karena korban pelecehan, KDRT, ekonomi, bahkan kenakalan remaja. Cerita ini juga menyinggung perihal hukum Indonesia yang alot banget menangani setiap kasus perizinan aborsi.
FIKS INI KEREN BANGET 😭 dialog tiap tokohnya membuat aku ga berhenti untuk berdecak kagum 🥲🔥 sangaaaat worth it untuk dibacaa.
Mungkin endingnya aja yang menurutku kurang memuaskan. Seolah-olah memang sengaja digantung agar pembaca yang harus menafsirkan sendiri keputusan Luh kedepannya.
February 2, 2026
Jadi anak yang lahir dari wanita yang dipaksa hamil itu ternyata sedih banget. Lahir bukan karena harapan dan cinta seperti di Korpus Uterus ini yang mengajak kita memahami perasaan Luh. Sejak dalam kandungan, anak apes ini sudah berulang kali ditolak ibunya. Luh lahir dan tumbuh tanpa kasih sayang ibu. Bagian ini langsung mengobrak abrik hatiku. Anak sekecil itu... 😭
Dalam perjalanan hidupnya, dia bertemu dengan banyak perempuan yang terjebak kehamilan yang tak diinginkan. Hal inilah yang memotivasi Luh untuk menjadi ahli aborsi yang lihai.
Buku ini mengangkat isu yang masih tabu di masyarakat kita yaitu aborsi, hak otonomi perempuan atas tubuhnya sendiri, dan kekerasan seksual. Ditulis dengan latar belakang penulis seorang dokter, buku ini mengorek habis tentang segala hal tentang rahim sebagai simbol perempuan.
Latar ceritanya panjang dari tahun 1965, kerusuhan Mei 1998, sampai awal 2000an . Pesan yang ingin disampaikan jelas kalau kekerasan terhadap perempuan itu peristiwa yang akan terus berulang sepanjang sejarah.
Kita diajak melihat trauma dari kacamata ibu Luh yang diturunkan ke bayinya sendiri. Luh tumbuh dengan luka batin yang dalam. Cara dia menolong perempuan lain juga sebagai bentuk perwujudan dari luka itu.
Dalam cerita ini Luh digambarkan punya pendengaran super. Menurutku ini unsur simbolis saja kalau melalui telinga Luh jeritan para korban wanita yang selama ini diabaikan, bisa didengar. Sayangnya selain ini aku tetep merasa sulit mengenal, memahami kompleksitas, bersimpati dan terhubung dengan karakter Luh. Aku juga tidak mengerti pentingan kemampuan super penciuman dokter kandungan yang menjadi guru Luh.
Gaya bahasanya kontras perpaduan antara diksi yang puitis dengan istilah medis yang melimpah. Tapi sebagai pembaca awam, aku masih bisa mengikuti novel yang penuh pengetahuan ini. Banyak adegan yang mungkin berbahaya untuk pembaca sensitif. Lepas dari semua pesan pahit yang dibagikan di sini, sayang endingnya tidak menawarkan penyelesaian secara tuntas.
Thanks to IST DL
Dalam perjalanan hidupnya, dia bertemu dengan banyak perempuan yang terjebak kehamilan yang tak diinginkan. Hal inilah yang memotivasi Luh untuk menjadi ahli aborsi yang lihai.
Buku ini mengangkat isu yang masih tabu di masyarakat kita yaitu aborsi, hak otonomi perempuan atas tubuhnya sendiri, dan kekerasan seksual. Ditulis dengan latar belakang penulis seorang dokter, buku ini mengorek habis tentang segala hal tentang rahim sebagai simbol perempuan.
Latar ceritanya panjang dari tahun 1965, kerusuhan Mei 1998, sampai awal 2000an . Pesan yang ingin disampaikan jelas kalau kekerasan terhadap perempuan itu peristiwa yang akan terus berulang sepanjang sejarah.
Kita diajak melihat trauma dari kacamata ibu Luh yang diturunkan ke bayinya sendiri. Luh tumbuh dengan luka batin yang dalam. Cara dia menolong perempuan lain juga sebagai bentuk perwujudan dari luka itu.
Dalam cerita ini Luh digambarkan punya pendengaran super. Menurutku ini unsur simbolis saja kalau melalui telinga Luh jeritan para korban wanita yang selama ini diabaikan, bisa didengar. Sayangnya selain ini aku tetep merasa sulit mengenal, memahami kompleksitas, bersimpati dan terhubung dengan karakter Luh. Aku juga tidak mengerti pentingan kemampuan super penciuman dokter kandungan yang menjadi guru Luh.
Gaya bahasanya kontras perpaduan antara diksi yang puitis dengan istilah medis yang melimpah. Tapi sebagai pembaca awam, aku masih bisa mengikuti novel yang penuh pengetahuan ini. Banyak adegan yang mungkin berbahaya untuk pembaca sensitif. Lepas dari semua pesan pahit yang dibagikan di sini, sayang endingnya tidak menawarkan penyelesaian secara tuntas.
Thanks to IST DL
April 22, 2026
"Perempuan punya hak atas tubuh mereka sendiri. Atas rahim mereka sendiri. Anda tak punya hak untuk melarang karena bukan Anda yang menjalani."Ada banyak isu yang dibahas dalam novel ini. Banyaaaak sekali hingga aku bingung harus mulai menulis ulasan dari mana... Yang pasti, isu-isu tersebut sangat dekat dengan kehidupan perempuan sehari-hari, terutama soal hak atas tubuhnya sendiri. Satu hal yang kupahami, buku ini mengajak kita merenungi persoalan apakah tindakan aborsi diperbolehkan? Bahkan jika janin itu sendiri adalah hasil dari perkosaan?
"Bagaimana menurut Ibu tentang hak hidup janin?"
"Hak apa? Hak itu melekat pada manusia yang telah lahir. Ada manusia yang bernapas dan tengah menjalani hidup. Si ibu. Seorang perempuan. Tunaikan hak mereka dulu."
p. 180
Buku ini menggambarkan jawaban tersebut melalui sudut pandang dari tiap-tiap tokoh yang ada. Ada yang menganggap aborsi sebagai tindakan yang tidak berperikemanusiaan, karena berarti mengakhiri hidup calon bayi, dan ada juga yang beranggapan bahwa tindakan tersebut tidak berdosa sama sekali, mengingat tindakan tersebut adalah bentuk dari hak perempuan atas otonomi tubuhnya sendiri. Aku sendiri berpendapat bahwa tidak ada yang salah dengan aborsi. Selagi si empunya rahim sudah menyetujui, lantas apalagi rintangan yang perlu dihadapi? Opini laki-laki? Ah, untuk apa kita peduli? Mereka yang tidak memiliki rahim, tidak sepatutnya banyak menuntut ini dan itu kepada perempuan dan rahimnya.
Usai membaca buku ini, timbul pertanyaan di benakku, "Siapa yang sebenarnya punya kuasa atas rahim perempuan? Apakah masyarakat? Norma? Agama? Atau perempuan itu sendiri?"
Selain soal aborsi, novel ini juga menyinggung isu lain yang nggak kalah berat, yakni kekerasan seksual, stigma sosial, dan tekanan moral yang sering kali justru menghimpit korban kekerasan seksual. Bahkan, buku ini juga menyampaikan betapa pentingnya pendidikan seks sejak dini. Sayangnya, di realitas kita, topik ini masih sering dianggap tabu—terutama oleh orangtua—yang akhirnya membuat anak-anak tumbuh tanpa pemahaman yang cukup untuk melindungi diri. Namun, kondisi ini bukan semata kesalahan orang tua saja, melainkan juga tanggung jawab pelaku yang menciptakan lingkungan tidak aman. Perlu ditegaskan bahwa dalam kasus kekerasan seksual, pihak yang harus disalahkan dan dimintai pertanggungjawaban adalah pelaku, bukan korban.
Dari segi penceritaan, aku suka bagaimana novel ini menggunakan banyak sudut pandang. Emosiku dibuat naik turun selama baca—kadang sedih, pilu, haru, dan marah. Apalagi saat membaca sudut pandang Danang. Jujur, ia adalah karakter yang bikin emosiku terkuras habis. Cara berpikirnya terasa sangat merepresentasikan sosok laki-laki misoginis dan patriarki yang sering kita temui di dunia nyata—yang gemar menuntut perempuan, tapi tidak pernah mau berkaca atau memperbaiki diri. Selama membaca sudut pandangnya, rasanya aku ingin memakinya secara langsung.
Sedangkan scara keseluruhan, aku sangat menyukai isu dan topik yang diangkat dalam novel ini. Bagiku, akhir ceritanya pun terasa cukup memuaskan. Perjalanan hidup Luh—dari masa kanak-kanak, remaja, hingga beranjak dewasa dan akhirnya menjadi seorang ahli aborsi—sangat menarik untuk diikuti. Pergolakan batinnya, saat ia meyakini bahwa profesinya dapat mencegah lahirnya bayi-bayi yang tidak diinginkan—seperti dirinya dulu—perlahan runtuh setelah berbincang dengan Nur. Ia menyadari adanya perasaan hampa yang selama ini menggerogoti dirinya. Sejauh apapun ia melangkah, jauh di lubuk hatinya, ia tetap merindukan kehadiran dan kasih sayang ibunya. Ia ingin kembali ke dalam rahim yang hangat. Ia ingin kembali ke dalam ibu. Ibu yang paling ibu. Menyakitkan rasanya menjadi Luh, pun Kalimah.
Pada akhirnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa akar permasalahan dalam novel ini tidak lepas dari peran pemerintah. Seandainya pemerintah lebih sigap dalam merumuskan undang-undang tentang aborsi, khususnya terkait ketentuan praktik aborsi yang legal, mungkin konflik-konflik yang dialami para perempuan dalam tokoh ini—pun dalam dunia nyata—tidak akan terjadi.
March 31, 2026
Membaca Korpus Uterus adalah sebuah pengalaman yang kontradiktif bagi saya. Di satu sisi, Mba Sasti Gotama menyuguhkan prosa yang indah. Setiap kalimatnya disusun dengan ketelitian seorang pembedah—puitis, khas novel sastra, dan penuh diksi yang memikat.
Namun, keindahan bahasa itu membungkus topik yang mungkin tidak untuk semua orang. Novel ini sangat transparan—bahkan cenderung blak-blakan—dalam membedah anatomi, seksualitas, dan fungsi reproduksi perempuan. Istilah medis dan deskripsi alat kelamin muncul tanpa filter, yang bagi sebagian pembaca (termasuk saya... hehe) mungkin terasa terlalu vulgar atau membuat kurang nyaman.
Bagi tipe pembaca yang menyukai alur cepat dan cerita yang to the point, novel ini mungkin akan butuh waktu lebih lama untuk tamat. Gaya sastranya yang kental membuat kita harus sering menjeda di tiap lembar untuk benar-benar mencerna maknanya.
Dan BOOM!! Bagi saya, momen yang paling memberikan sensasi 'ledakan' dalam novel ini adalah saat Luri mengetahui keberadaan adiknya, Lara. Saya terenyuh, sedih, sekaligus bertanya-tanya "kenapa bisa begitu?".
Saya curiga gambar wanita di cover novel ini adalah Lara.
Amazing sekali kamu, Mba sastigotama
Jujur, saya suka sekali bagaimana para karakternya saling terkait dalam satu benang merah. Bahkan setelah pertanyaan "Apa kabar Ibu?" di bagian akhir, saya masih merasa ingin terus mengikuti apa yang akan terjadi selanjutnya pada sosok Luh.
Namun, keindahan bahasa itu membungkus topik yang mungkin tidak untuk semua orang. Novel ini sangat transparan—bahkan cenderung blak-blakan—dalam membedah anatomi, seksualitas, dan fungsi reproduksi perempuan. Istilah medis dan deskripsi alat kelamin muncul tanpa filter, yang bagi sebagian pembaca (termasuk saya... hehe) mungkin terasa terlalu vulgar atau membuat kurang nyaman.
Bagi tipe pembaca yang menyukai alur cepat dan cerita yang to the point, novel ini mungkin akan butuh waktu lebih lama untuk tamat. Gaya sastranya yang kental membuat kita harus sering menjeda di tiap lembar untuk benar-benar mencerna maknanya.
Dan BOOM!! Bagi saya, momen yang paling memberikan sensasi 'ledakan' dalam novel ini adalah saat Luri mengetahui keberadaan adiknya, Lara. Saya terenyuh, sedih, sekaligus bertanya-tanya "kenapa bisa begitu?".
Saya curiga gambar wanita di cover novel ini adalah Lara.
Amazing sekali kamu, Mba sastigotama
Jujur, saya suka sekali bagaimana para karakternya saling terkait dalam satu benang merah. Bahkan setelah pertanyaan "Apa kabar Ibu?" di bagian akhir, saya masih merasa ingin terus mengikuti apa yang akan terjadi selanjutnya pada sosok Luh.
June 22, 2026
Membaca buku ini mengingatkanku kepada buku "Cantik itu Luka" (menggunakan rangkaian karakter berbeda-beda yang berkesinambungan dalam storytellingnya) dan serial "Breaking Bad" (plot tokoh utamanya yang serupa).
"Dia ingin kembali ke dalam rahim yang hangat. Dia ingin kembali ke dalam ibu. Ibu yang paling ibu." (p. 284)
Mengikuti cerita Luh (Panuluh) sang karakter utama, buku ini membawa kita menyelami kehidupan seorang anak hasil pemerkosaan yang berkali-kali coba digugurkan dan berkali-kali juga mencoba "kembali ke rahim". Perjalanan hidup Luh menuntunnya menjadi seorang "penanggal rahim."
Aborsi, yang kerap dinilai sebagai bahasan tabu, menjadi poin utama dalam cerita. Sasti Gotama, sang penulis, yang merupakan lulusan fakultas kedokteran, dapat menarasikan proses kuretase hingga alat-alatnya dengan sangat terperinci, bahkan bisa terdengar sungguh indah.
Apa yang disajikan dalam buku ini benar-benar membuka pikiran kita mengenai ragam rupa perspektif pada emosi manusia yang sungguh kompleks. Kenyataannya tidak semua hal dapat diukur berdasarkan norma dan stigmanya.
"Berkelana dalam trauma dan melihatnya perlahan berubah menjadi obsesi." Mungkin ini kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan cerita ini.
"Rahim itu tersenyum kepada Luh. Senyumnya merah. Merah darah yang pekat." (p. 213)
LONG LIVE FEMINISM. I HATE PERIOD. I LOVE MATCHA. 6'4 BTW.
"Dia ingin kembali ke dalam rahim yang hangat. Dia ingin kembali ke dalam ibu. Ibu yang paling ibu." (p. 284)
Mengikuti cerita Luh (Panuluh) sang karakter utama, buku ini membawa kita menyelami kehidupan seorang anak hasil pemerkosaan yang berkali-kali coba digugurkan dan berkali-kali juga mencoba "kembali ke rahim". Perjalanan hidup Luh menuntunnya menjadi seorang "penanggal rahim."
Aborsi, yang kerap dinilai sebagai bahasan tabu, menjadi poin utama dalam cerita. Sasti Gotama, sang penulis, yang merupakan lulusan fakultas kedokteran, dapat menarasikan proses kuretase hingga alat-alatnya dengan sangat terperinci, bahkan bisa terdengar sungguh indah.
Apa yang disajikan dalam buku ini benar-benar membuka pikiran kita mengenai ragam rupa perspektif pada emosi manusia yang sungguh kompleks. Kenyataannya tidak semua hal dapat diukur berdasarkan norma dan stigmanya.
"Berkelana dalam trauma dan melihatnya perlahan berubah menjadi obsesi." Mungkin ini kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan cerita ini.
"Rahim itu tersenyum kepada Luh. Senyumnya merah. Merah darah yang pekat." (p. 213)
LONG LIVE FEMINISM. I HATE PERIOD. I LOVE MATCHA. 6'4 BTW.
September 20, 2026
Nggak bisa nyalahin Kalimah. Dia korban pemerkosaan. Dia 100% sadar ga menginginkan janinnya, semakin janinnya dipertahankan, dia semakin menderita. Makanya Kalimah ada usaha buat aborsi. Tapi janinnya kuat banget. Pas bikin perjanjian sama malaikat, janinnya setuju buat lahir ke dunia, sebangsat apa pun hidupnya nanti.
Pas udah lahir, Kalimah semakin ngerasa trauma, terus kebayang wajah pelaku pemerkosaannya. Trauma seumur hidup sama anak itu. Dengan begitu, anak yang nggak tau apa-apa itu ikut menderita. Dia anak yang ga diinginkan.
Yang harus disalahin adalah laki-laki yang nggak bisa nahan kontolnya. Nggak bisa nahan nafsunya padahal katanya makhluk paling berlogika. Dengan bangganya pamer kekuatan kontolnya yang kisut, kecil, buluk itu dengan ngelecehin perempuan.
Lagi-lagi perempuan dan anak-anak yang jadi korban dari kebejatan laki-laki. Makhluk yang paling menggunakan akal dan logikanya.
Pas udah lahir, Kalimah semakin ngerasa trauma, terus kebayang wajah pelaku pemerkosaannya. Trauma seumur hidup sama anak itu. Dengan begitu, anak yang nggak tau apa-apa itu ikut menderita. Dia anak yang ga diinginkan.
Yang harus disalahin adalah laki-laki yang nggak bisa nahan kontolnya. Nggak bisa nahan nafsunya padahal katanya makhluk paling berlogika. Dengan bangganya pamer kekuatan kontolnya yang kisut, kecil, buluk itu dengan ngelecehin perempuan.
Lagi-lagi perempuan dan anak-anak yang jadi korban dari kebejatan laki-laki. Makhluk yang paling menggunakan akal dan logikanya.
November 11, 2025
a MUST read for literally everyone
January 14, 2026
Laki-laki adalah sampah
April 3, 2026
Panuluh, seorang anak yang lahir dari hasil pemerkosaan yang terjadi pada tahun '65. ibunya ditangkap dan diperlakukan tidak pantas atas hal yang tidak dia lakukan.
sempat digugurkan beberapa kali namun luh tetap bertahan dan lahir ke dunia tanpa kasih sayang dari ibunya.
karena hal itulah, luh menjadi "praktik aborsi" supaya tidak ada lagi panuluh lainnya. dan perempuan yang mengakhiri hidupnya karena trauma dan depresi akibat hal hal yang tidak diinginkan itu.
-dalam diri perempuan, ada satu organ yang sangat indah dan istimewa yaitu Rahim yang harus kita jaga dengan baik.
-pentingnya sex edukasi sejak kecil, agar terhindar dari hal hal yang tidak diinginkan
-Pemerkosaan yang terjadi pada tahun '65 dan '98 apakah bentuk terror dan ancaman untuk perempuan?
sempat digugurkan beberapa kali namun luh tetap bertahan dan lahir ke dunia tanpa kasih sayang dari ibunya.
karena hal itulah, luh menjadi "praktik aborsi" supaya tidak ada lagi panuluh lainnya. dan perempuan yang mengakhiri hidupnya karena trauma dan depresi akibat hal hal yang tidak diinginkan itu.
-dalam diri perempuan, ada satu organ yang sangat indah dan istimewa yaitu Rahim yang harus kita jaga dengan baik.
-pentingnya sex edukasi sejak kecil, agar terhindar dari hal hal yang tidak diinginkan
-Pemerkosaan yang terjadi pada tahun '65 dan '98 apakah bentuk terror dan ancaman untuk perempuan?
June 3, 2026
Buku ini akan membawamu masuk dalam isu hak reproduksi perempuan dan juga trauma masa lalu yang melekat sampai dewasa. Kisahnya cukup tragis, mengharukan, menegangkan dan bikin nggak tenang setiap membaca bagian bab bukunya. Bisa dibilang temanya sangat sensitif berkaitan dengan kekerasan seksual (peristiwa 1965), aborsi dan juga anak yang tidak pernah diharapkan dalam rahim seorang perempuan. Buku ini memang berisi kritik sosial yang pelik mengenai tubuh perempuan yang harus menanggung beban moral sendirian atas kejahatan yang menimpanya. Kita akan melihat bagaimana tanggapan mereka tentang aborsi dan penanganan yang seharusnya dari banyak sudut pandang.
Menurutku alurnya mudah dipahami meskipun gaya bahasa yang digunakan memang penuh emosi, sangat jujur, berani dan detail seolah langsung menguarkan kerisauan dari masing-masing perempuan dalam buku ini. Awalnya aku mengira Luh ini perempuan, namun ternyata dia adalah lelaki dari rahim perempuan yang tak menginginkannya. Luh tumbuh di tempat yang tak seharusnya dia tinggal sehingga harus banyak menyerap hal-hal yang mengerikan mulai dari perempuan dalam kawin kontrak sampai sulitnya mendapatkan kelegalan aborsi sehingga banyak perempuan yang mengakhiri hidupnya sendiri. Luh memahami apa yang merisaukan hati para perempuan, tempat yang tak aman dan juga kebebasan yang tidak didapatkan untuk rahim mereka sendiri.
Menurutku apa yang dilakukan Luh sangat beresiko, bagaimanapun juga keingintahuannya melebihi kemauannya untuk belajar lebih jauh. Bukan hanya perihal menyelamatkan perempuan dari ketidakadilan namun juga keselamatan nyawa mereka nantinya. Namun prihatin dalam drinya mendesak logika itu, dia tak mau lebih banyak perempuan menjadi korban lagi. Campur aduk banget rasanya baca ini mengingat Luh sendiri juga punya luka yang seharusnya dirangkul. Jujur bagian endingnya sangat melekat, ada jeda bengong sebentar seperti menyisakan hampa dan dejavu di awal cerita. Buku ini sangat direkomendasikan untukmu yang suka dengan cerita penuh trauma dan isu perempuan dari sudut pandang kepedulian yang dibalut dengan trauma. Lantas siapa yang salah? Apakah Luh salah? Atau justru dokter itu yang salah? Atau semua perempuan salah? Kamu sendiri yang bisa menyimpulkannya.
Tentang Kekerasan Seksual dan Apa yang Direnggut dari Perempuan
Perempuan tak pernah bisa merasa aman bahkan tak memiliki hak untuk melindungi tubuhnya sendiri apalagi di mata para predator bejat yang dikuasai nafsunya sendiri. Insiden kekerasan seksual apapun bentuknya jelas merenggut harga diri, keberanian dan masa depan perempuan. Banyak orang terlalu fokus dengan motif kekerasan yang dilakukan kemudian mengentengkan “Halah, kan yang penting tidak hamil! Halah, kamu sebenarnya menikmati juga kan?? Halah kan nggak masuk jadi nggak masalah! Dan begitu seterusnya.” Padahal apapun motifnya pemaksaan itu akan membekaskan trauma dalam keseharian perempuan. Tak akan pernah ada kenyamanan yang sama setelah kejadian mengerikan itu sehingga banyak perempuan yang kehilangan dirinya sendiri, membenci dirinya yang kotor bahkan menganggap bayi dalam kandungan itu layaknya kotoran. Sebanyak apapun dia mandi dan membersihkan diri rasanya kotoran akan tetap melekat dalam dirinya. Penulis menguarkan ketakukan itu dari suara hati Kalimah yang sudah dilecehkan dan ditelanjangi harga dirinya secara brutal. Bukan hanya hatinya yang luka namun fisik dan rahimnya apalagi ada bayi yang bersemayam di sana. Karimah tak sudi melihat bayinya sendiri bahkan dia berharap kotoran itu mati namun apa daya berbagai upaya tetap membuat Luh kuat sampai lahir ke dunia ini.
Mengapa Orang-Orang Menghakimi Seorang Korban Kekerasan?
Ketika terjadi kekerasan seksual pasti masyarakat akan fokus pada perempuan sebagai korbannya bukan sang predator. Mereka akan melakukan penilaian layaknya juri dengan komentar yang menusuk hati menyalahkan cara berpakain, jenis pakaian, cara bersikap dan juga kebiasan sang korban. Kemudian jika si korban ternyata mengandung anak dari bajingan itu maka mereka akan berbondong-bondong memaksa korban melahirkannya. Bahkan tak jarang juga ada yang memaksa korban menikahi predatornya sendiri SUDAH GILA BAYANGIN SAJA dan ini benar-benar terjadi. Ketika ada yang memilih aborsi orang-orang akan skeptis mengutuk sang ibu dengan berbagai umpatan mulai dari dikata kurang bersyukur karena dapat titipan berkah Tuhan sampai dengan hinaan seorang ibu yang tak bermoral dan pembunuh. Lantas pernahkah mereka memikirkan kehancuran hati sang korban? Harga dirinya sudah direnggut dan mereka masih harus melahirkan dan merawat anak dari bajingan itu? Mengapa sosial rasanya sangat jahat terhadap perempuan? Mengapa mereka tak punya hak terhadap rahim dan tubuhnya sendiri? Mengapa mental yang sudah hancur ini masih harus dihancurkan lagi dengan pandangan masyarakat yang menghakimi layaknya malaikat paling suci ini?
Traumatisme, Pola Asuh dan Lingkungan
Bukan hanya ibunya yang terluka namun anak yang dibesarkan tanpa cinta penuh kebencian pasti mendapatkan dampaknya. Luh lahir dari rahim Kalimah, dia besar tanpa perhatian ada sisi Kalimah yang terluka dan belum bisa menerima kenyataan kalau kini ada bayi di dunianya. Sampai suatu ketika Luh hilang namun Kalimah sama sekali tak mencarinya. Luh ditemukan dan dirawat sekelompok perempuan asing. Luh sangat tahu kalau ibunya tak akan mencari karena Kalimah tak pernah menunjukkan kasih sayang itu. Tumbuhlah Luh dengan para perempuan-perempuan yang keselamatannya terancam itu. Hanya karena lelaki sudah mengucapkan akad pernikahan dan memberikan sejumlah uang mereka seolah memiliki hak sepenuhnya terhadap tubuh perempuan itu. Bahkan saat sang perempuan mengatakan aturan permainan dengan kondom agar tidak hamil, laki-laki itu justru semakin agresif menyiksa dan memperkosa. Luh tumbuh dalam lingkungan yang tidak sehat, banyak tekanan dan traumatis melihat apa saja yang terjadi pada para perempuan itu. Ada banyak perempuan yang hak reproduksinya dicabut paksa mulai dari ibu angkat yang membesarkannya sampai anak kecil yang menjadi korban pemerkosaan. Nyatanya kekuasaan untuk memilih aborsi sangat sulit dilakukan.
Sebeneranya Kebenaran itu Membela Siapa?
Rahim bisa dikatakan sebagai medan kontrol namun sayangnya perempuan tidak mendapatkan hak untuk melindungi dirinya sendiri. Buku ini menguarkan perspektif realistis dan cukup sensitif mengenai anggapan tabu tentang aborsi serta realitas yang sebenarnya terjadi. Bukankah anak-anak dan perempuan itu berhak mendapatkan kembali masa depannya? Dengan hamil tentu saja mereka tidak boleh sekolah dan berakhir membesarkan anak tanpa kesiapan mental, uang maupun kecakapan yang cukup. Korbannya siapa? Jelas tekanan pada sang ibu bisa berimbas pada mentalnya seperti PTSD maupun baby blues. Dampaknya untuk anak? Tentu saja akan mendapatkan kurang kasih sayang, sulit diatur dan mencari kebahagiaan dari orang lain. Ditakutkan rantai kehamilan tidak diinginkan itu akan terus berlanjut tanpa putus. Sebenarnya kebenaran itu membela siapa? Apakah benar-benar berpihak pada korban atau hanya menutupi realita yang terjadi? Banyak anak di bawah umur dan remaja yang menjadi gila bahkan memilih mengakhiri hidupnya karena hamil dari kekerasan seksual itu.
Apa yang Menarik dari Buku Ini?
Aku suka bagaimana penulis menjabarkan dengan gamblang segala bentuk peristiwa yang terjadi termasuk pembentukan karakter Luh yang unik dan pemberani. Berbicara tentang stereotip aborsi dan pihak mana saja yang membutuhkan memang selalu tak menentukan titik ujung karena bersinggungan juga dengan kriminalitas dan juga anggapan aneh dari masyarakat setempat. Inilah yang membuat banyaknya aborsi ilegal prakteknya. Kita bisa melihat bagaimana perempuan melakukan aborsi mandiri, aborsi bersama dukun bayi sampai aborsi dengan bantuan Luh yang bukan dokter atau bidan itu.
Konsep, Penokohan, Alur dan Eksekusi Cerita
Ceritanya linier tetap berkaitan antara satu tokoh dengan tokoh lain pada masing-masing bab. Buku ini lumayan menggunakan banyak tokoh yang mempengaruhi jalan cerita. Eksekusinya menarik konsepnya bukan hanya tempelan melainkan menjadi kunci bahasan dari keseluruhan cerita. Kita akan mengikuti kisah Luh, Kalimah sampai dengan perjalanan Luh mewujudkan keinginannya itu.
Pelajaran dan Pesan yang Diberikan dari Cerita
Dari cerita buku Korpus Uterus sepertinya perlu adanya penekanan pendidikan seks dan perlindungan anak. Edukasinya perlu dimulai dari rumah bahkan sebelum mereka masuk ke sekolah. Predator itu bentuknya bisa siapa saja bukan hanya orang sekitar namun juga pendidik atau siapapun yang bertemu si kecil. Mereka perlu diberikan pemahaman tentang melindungi diri dan memahami area yang tidak boleh disentuh orang lain. Kita perlu memahami mana yang korban dan mana pelaku seharusnya tahu siapa yang harus dihakimi bukan malah menyudutkan. Pahami bahwa kekerasan seksual itu dampaknya jangka panjang bukan hanya perihal trauma yang membekas pada perempuan namun juga berdampak pada masa depan anak hasil pemerkosaan itu. Tak ada hukuman yang pantas untuk pemerkosa bahkan jika ditukar dengan nyawa pelakupun tidak akan bisa mengembalikan harga diri yang sudah direnggut dari perempuan itu.
Buku Ini Cocok untuk Siapa?
Korpus Uterus direkomendasikan untuk pembaca dewasa yang suka dengan isu hak-hak perempuan meliputi rahim dan keseluruhan tubuhnya. Ada sentuhan trauma masa lalu, pola asuh, lingkungan dan juga perjuangan yang menarik di dalamnya.
Menurutku alurnya mudah dipahami meskipun gaya bahasa yang digunakan memang penuh emosi, sangat jujur, berani dan detail seolah langsung menguarkan kerisauan dari masing-masing perempuan dalam buku ini. Awalnya aku mengira Luh ini perempuan, namun ternyata dia adalah lelaki dari rahim perempuan yang tak menginginkannya. Luh tumbuh di tempat yang tak seharusnya dia tinggal sehingga harus banyak menyerap hal-hal yang mengerikan mulai dari perempuan dalam kawin kontrak sampai sulitnya mendapatkan kelegalan aborsi sehingga banyak perempuan yang mengakhiri hidupnya sendiri. Luh memahami apa yang merisaukan hati para perempuan, tempat yang tak aman dan juga kebebasan yang tidak didapatkan untuk rahim mereka sendiri.
Menurutku apa yang dilakukan Luh sangat beresiko, bagaimanapun juga keingintahuannya melebihi kemauannya untuk belajar lebih jauh. Bukan hanya perihal menyelamatkan perempuan dari ketidakadilan namun juga keselamatan nyawa mereka nantinya. Namun prihatin dalam drinya mendesak logika itu, dia tak mau lebih banyak perempuan menjadi korban lagi. Campur aduk banget rasanya baca ini mengingat Luh sendiri juga punya luka yang seharusnya dirangkul. Jujur bagian endingnya sangat melekat, ada jeda bengong sebentar seperti menyisakan hampa dan dejavu di awal cerita. Buku ini sangat direkomendasikan untukmu yang suka dengan cerita penuh trauma dan isu perempuan dari sudut pandang kepedulian yang dibalut dengan trauma. Lantas siapa yang salah? Apakah Luh salah? Atau justru dokter itu yang salah? Atau semua perempuan salah? Kamu sendiri yang bisa menyimpulkannya.
Tentang Kekerasan Seksual dan Apa yang Direnggut dari Perempuan
Perempuan tak pernah bisa merasa aman bahkan tak memiliki hak untuk melindungi tubuhnya sendiri apalagi di mata para predator bejat yang dikuasai nafsunya sendiri. Insiden kekerasan seksual apapun bentuknya jelas merenggut harga diri, keberanian dan masa depan perempuan. Banyak orang terlalu fokus dengan motif kekerasan yang dilakukan kemudian mengentengkan “Halah, kan yang penting tidak hamil! Halah, kamu sebenarnya menikmati juga kan?? Halah kan nggak masuk jadi nggak masalah! Dan begitu seterusnya.” Padahal apapun motifnya pemaksaan itu akan membekaskan trauma dalam keseharian perempuan. Tak akan pernah ada kenyamanan yang sama setelah kejadian mengerikan itu sehingga banyak perempuan yang kehilangan dirinya sendiri, membenci dirinya yang kotor bahkan menganggap bayi dalam kandungan itu layaknya kotoran. Sebanyak apapun dia mandi dan membersihkan diri rasanya kotoran akan tetap melekat dalam dirinya. Penulis menguarkan ketakukan itu dari suara hati Kalimah yang sudah dilecehkan dan ditelanjangi harga dirinya secara brutal. Bukan hanya hatinya yang luka namun fisik dan rahimnya apalagi ada bayi yang bersemayam di sana. Karimah tak sudi melihat bayinya sendiri bahkan dia berharap kotoran itu mati namun apa daya berbagai upaya tetap membuat Luh kuat sampai lahir ke dunia ini.
Mengapa Orang-Orang Menghakimi Seorang Korban Kekerasan?
Ketika terjadi kekerasan seksual pasti masyarakat akan fokus pada perempuan sebagai korbannya bukan sang predator. Mereka akan melakukan penilaian layaknya juri dengan komentar yang menusuk hati menyalahkan cara berpakain, jenis pakaian, cara bersikap dan juga kebiasan sang korban. Kemudian jika si korban ternyata mengandung anak dari bajingan itu maka mereka akan berbondong-bondong memaksa korban melahirkannya. Bahkan tak jarang juga ada yang memaksa korban menikahi predatornya sendiri SUDAH GILA BAYANGIN SAJA dan ini benar-benar terjadi. Ketika ada yang memilih aborsi orang-orang akan skeptis mengutuk sang ibu dengan berbagai umpatan mulai dari dikata kurang bersyukur karena dapat titipan berkah Tuhan sampai dengan hinaan seorang ibu yang tak bermoral dan pembunuh. Lantas pernahkah mereka memikirkan kehancuran hati sang korban? Harga dirinya sudah direnggut dan mereka masih harus melahirkan dan merawat anak dari bajingan itu? Mengapa sosial rasanya sangat jahat terhadap perempuan? Mengapa mereka tak punya hak terhadap rahim dan tubuhnya sendiri? Mengapa mental yang sudah hancur ini masih harus dihancurkan lagi dengan pandangan masyarakat yang menghakimi layaknya malaikat paling suci ini?
Traumatisme, Pola Asuh dan Lingkungan
Bukan hanya ibunya yang terluka namun anak yang dibesarkan tanpa cinta penuh kebencian pasti mendapatkan dampaknya. Luh lahir dari rahim Kalimah, dia besar tanpa perhatian ada sisi Kalimah yang terluka dan belum bisa menerima kenyataan kalau kini ada bayi di dunianya. Sampai suatu ketika Luh hilang namun Kalimah sama sekali tak mencarinya. Luh ditemukan dan dirawat sekelompok perempuan asing. Luh sangat tahu kalau ibunya tak akan mencari karena Kalimah tak pernah menunjukkan kasih sayang itu. Tumbuhlah Luh dengan para perempuan-perempuan yang keselamatannya terancam itu. Hanya karena lelaki sudah mengucapkan akad pernikahan dan memberikan sejumlah uang mereka seolah memiliki hak sepenuhnya terhadap tubuh perempuan itu. Bahkan saat sang perempuan mengatakan aturan permainan dengan kondom agar tidak hamil, laki-laki itu justru semakin agresif menyiksa dan memperkosa. Luh tumbuh dalam lingkungan yang tidak sehat, banyak tekanan dan traumatis melihat apa saja yang terjadi pada para perempuan itu. Ada banyak perempuan yang hak reproduksinya dicabut paksa mulai dari ibu angkat yang membesarkannya sampai anak kecil yang menjadi korban pemerkosaan. Nyatanya kekuasaan untuk memilih aborsi sangat sulit dilakukan.
Sebeneranya Kebenaran itu Membela Siapa?
Rahim bisa dikatakan sebagai medan kontrol namun sayangnya perempuan tidak mendapatkan hak untuk melindungi dirinya sendiri. Buku ini menguarkan perspektif realistis dan cukup sensitif mengenai anggapan tabu tentang aborsi serta realitas yang sebenarnya terjadi. Bukankah anak-anak dan perempuan itu berhak mendapatkan kembali masa depannya? Dengan hamil tentu saja mereka tidak boleh sekolah dan berakhir membesarkan anak tanpa kesiapan mental, uang maupun kecakapan yang cukup. Korbannya siapa? Jelas tekanan pada sang ibu bisa berimbas pada mentalnya seperti PTSD maupun baby blues. Dampaknya untuk anak? Tentu saja akan mendapatkan kurang kasih sayang, sulit diatur dan mencari kebahagiaan dari orang lain. Ditakutkan rantai kehamilan tidak diinginkan itu akan terus berlanjut tanpa putus. Sebenarnya kebenaran itu membela siapa? Apakah benar-benar berpihak pada korban atau hanya menutupi realita yang terjadi? Banyak anak di bawah umur dan remaja yang menjadi gila bahkan memilih mengakhiri hidupnya karena hamil dari kekerasan seksual itu.
Apa yang Menarik dari Buku Ini?
Aku suka bagaimana penulis menjabarkan dengan gamblang segala bentuk peristiwa yang terjadi termasuk pembentukan karakter Luh yang unik dan pemberani. Berbicara tentang stereotip aborsi dan pihak mana saja yang membutuhkan memang selalu tak menentukan titik ujung karena bersinggungan juga dengan kriminalitas dan juga anggapan aneh dari masyarakat setempat. Inilah yang membuat banyaknya aborsi ilegal prakteknya. Kita bisa melihat bagaimana perempuan melakukan aborsi mandiri, aborsi bersama dukun bayi sampai aborsi dengan bantuan Luh yang bukan dokter atau bidan itu.
Konsep, Penokohan, Alur dan Eksekusi Cerita
Ceritanya linier tetap berkaitan antara satu tokoh dengan tokoh lain pada masing-masing bab. Buku ini lumayan menggunakan banyak tokoh yang mempengaruhi jalan cerita. Eksekusinya menarik konsepnya bukan hanya tempelan melainkan menjadi kunci bahasan dari keseluruhan cerita. Kita akan mengikuti kisah Luh, Kalimah sampai dengan perjalanan Luh mewujudkan keinginannya itu.
Pelajaran dan Pesan yang Diberikan dari Cerita
Dari cerita buku Korpus Uterus sepertinya perlu adanya penekanan pendidikan seks dan perlindungan anak. Edukasinya perlu dimulai dari rumah bahkan sebelum mereka masuk ke sekolah. Predator itu bentuknya bisa siapa saja bukan hanya orang sekitar namun juga pendidik atau siapapun yang bertemu si kecil. Mereka perlu diberikan pemahaman tentang melindungi diri dan memahami area yang tidak boleh disentuh orang lain. Kita perlu memahami mana yang korban dan mana pelaku seharusnya tahu siapa yang harus dihakimi bukan malah menyudutkan. Pahami bahwa kekerasan seksual itu dampaknya jangka panjang bukan hanya perihal trauma yang membekas pada perempuan namun juga berdampak pada masa depan anak hasil pemerkosaan itu. Tak ada hukuman yang pantas untuk pemerkosa bahkan jika ditukar dengan nyawa pelakupun tidak akan bisa mengembalikan harga diri yang sudah direnggut dari perempuan itu.
Buku Ini Cocok untuk Siapa?
Korpus Uterus direkomendasikan untuk pembaca dewasa yang suka dengan isu hak-hak perempuan meliputi rahim dan keseluruhan tubuhnya. Ada sentuhan trauma masa lalu, pola asuh, lingkungan dan juga perjuangan yang menarik di dalamnya.
June 1, 2026
Catatan pembacaan ulang Korpus Uterus dalam rangka penulisan esei entah-kapan-jadi untuk memetakan eksplorasi narasi yang ditawarkan mengenai hak perempuan atas tubuh mereka dan secara khusus aborsi.
1.
Premis novel berpusat pada perjalanan hidup Panuluh atau yang biasa dipanggil Luh. Luh adalah anak laki-laki yang lahir dari istri seniman Lekra yang turut menjadi korban kekerasan budaya pada masa Orde Baru. Ibunya diperkosa oleh aparat pada tahun 1965, dan dari tindak pemerkosaan tersebut lahirlah Luh. Pada saat ia besar, ia memutuskan untuk menjadi ahli aborsi. Sepanjang perjalanan hidupnya, ia bertemu dengan aneka pengalaman perempuan dari berbagai latar belakang, mulai dari lokalisasi pelacuran, dokter kandungan, perempuan-perempuan yang datang ke dirinya ketika dewasa sebagai ahli aborsi untuk mencari akses aborsi, hingga sosok perempuan belia yang tak memiliki edukasi seksual memadai.
Kata kuncinya di sini adalah pengalaman—tulisan ini memang memanfaatkan teknik multi-tutur/polifonik sehingga kita bisa mengetahui perspektif perempuan mengenai pengalaman mereka, akan tetapi pada akhirnya perspektif dan pengalaman mereka umumnya tidak hadir untuk diri mereka sendiri. Perspektif dan pengalaman mereka hadir untuk mendorong perjalanan hidup Panuluh, sebagai "materi" pengalaman yang menjadi bahan pembelajaran sang tokoh utama. Perkembangan perjalanan Panuluh sendiri menunjukkan pergeseran kerangka perspektif yang cukup krusial: proses perkembangan/pendewasaan Luh ditandai dengan bagaimana ia menguasai pengetahuan medis terkait hak seksual tubuh perempuan, yakni aborsi. Ia bekerja di luar sistem medis yang digambarkan dalam tulisan sebagai ambivalen jika tidak mau dibilang opresif, akan tetapi posisinya sebagai sosok yang punya "kapasitas" memberikan akses layanan kesehatan aborsi untuk perempuan masih berbasis medis. Bias medis ini merupakan bias yang cukup mencolok sepanjang novel. More on this on point 3.
2.
Korpus Uterus menghadirkan beragam tokoh perempuan dari berbagai latar. Masing-masing karakter perempuan yang muncul menghadapi tantangannya tersendiri dalam masyarakat patriarkis yang membentuk sikap mereka. Mengingat tulisan ini mencoba untuk mengangkat percakapan mengenai tubuh perempuan dan aborsi, isu-isu kekerasan gender seperti pemerkosaan, pelecehan seksual, objektifikasi perempuan, dan beragam penghakiman misoginis adalah sesuatu yang tidak bisa dielakkan. Akan tetapi, yang mengganggu saya sepanjang membaca—terutama pada pembacaan kedua, di mana saya telah mengetahui garis besar perjalanan cerita—adalah bagaimana eksplorasi lebih ditekankan pada ekstremnya kekerasan yang dialami oleh perempuan daripada kedalaman respons dan emosi perempuan yang merasakan pengalaman tersebut.
Masalah ini berhubungan erat dengan poin pertama, akan tetapi yang patut diperhatikan juga adalah bagaimana penderitaan perempuan, yang umumnya korban pemerkosaan, dihubungkan dalam konteks aborsi: aborsi di sini seakan-akan dijustifikasi atas basis penderitaan yang mereka alami. Setidaknya, secara naratif, aborsi yang berbasis penderitaanlah yang pantas untuk menerima perhatian cerita (yang sebenarnya tidak akan sebegitu bermasalahnya, apabila cerita ini tidak punya ambisi untuk menampilkan berbagai sisi mengenai aborsi). Alasan-alasan yang bersifat "kenyamanan pribadi" (istilah yang berangkat dari stigma anti-aborsi) seperti masalah ekonomi atau rencana masa depan tidak mendapatkan perhatian cerita yang mendalam pada novel ini; pengalamannya mungkin tidak lantas diinvalidasi, tapi ceritanya hanya ditempel sebagai basa-basi belaka. Sementara itu, penderitaan perempuan korban kekerasan seksual yang membutuhkan akses aborsi umumnya dideskripsikan secara eksplisit, untuk menekankan kekerasan yang menjustifikasi kebutuhan mereka atas aborsi.
Tindak aborsi pertama yang dilakukan oleh Luh kepada manusia ditujukan untuk korban pemerkosaan yang ia temukan menggelandang. Teks novel menggambarkan kondisi korban secara detail dan mengenaskan: tidak hanya kondisi fisiknya mengenaskan, kondisi mentalnya tampak terganggu sehingga tidak bisa berkomunikasi dengan lancar. Tindakan aborsi dilakukan Luh tanpa adanya izin/consent dari korban, seakan-akan semata-mata penderitaan yang dialami oleh sang korban menjadi landasan yang dapat diterima untuk melakukan aborsi. Pemilihan cerita yang menekankan pada penderitaan seperti ini terasa sangat mengganggu tatkala saya melihat apa sesungguhnya alur logika yang mendorong narasi ini, walau saya secara personal bisa memahami dari mana datangnya keputusan Luh. Kasus aborsi lain yang mendapatkan sorotan dramatis dalam novel terjadi pada sepertiga terakhir cerita: siswi SD bernama Maryam yang mengalami pemerkosaan oleh gurunya. Maryam digambarkan tidak hanya terpuruk secara psikologis, tapi secara kondisi medis pun, kondisi rahimnya dideskripsikan "mulut rahimnya erosi .... ada carian kental [bernanah yang] bisa jadi itu infeksi gonore."
Sekali lagi, yang saya permasalahkan bukanlah hadirnya kekerasan seksual dalam novel, atau bahkan deskripsi yang eksplisit. Akan tetapi deskripsi-deskripsi kekerasan seksual yang dialami digambarkan sedramatis mungkin tanpa adanya eksplorasi mendalam atas perasaan tokoh untuk sekadar menekankan penderitaan/kekerasan secara lumayan sensasional, dan penderitaan inilah yang menjadi basis justifikasi aborsi secara logika cerita. Untuk menutup poin ini, saya akan mengutip esei This Is What an Abortion Looks Like oleh Merritt Tierce:
Do we approve of what she wanted? Did she suffer enough? These questions are not ours to ask. We have to stop categorizing abortions as justified or unjustified.
Saya rasa, tidak seharusnya narasi mana pun mengeksploitasi penderitaan perempuan untuk menjustifikasi atau membatasi akses aborsi. Aborsi merupakan layanan kesehatan reproduksi dan seksual berbasis keadilan bagi seluruh jenis tubuh, dan kekerasan gender sudah seharusnya disikapi dengan sensitivitas dan penghargaan atas otonomi tubuh perempuan dan gender minoritas.
3.
Korpus Uterus mengedepankan perspektif medis/ilmiah sebagai perskeptif utama dalam mengeksplorasi tubuh perempuan. Perspektif ini merupakan poin yang menjadi karakteristik yang menarik sekaligus blindspot cerita dalam memetakan ragam perspektif mengenai tubuh perempuan dan aborsi. Hal ini tercermin dari pemilihan judulnya: istilah "korpus" bisa dimaknai secara ilmiah sebagai dataset analisis atau bagian utama organ dalam medis, sementara uterus merupakan istilah medis dari rahim. FYI, naskah ini awalnya dikirim untuk Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2023 dengan judul "Rahim"—dan perubahan judul asal menjadi judul saat ini merupakan hal yang patut untuk dicatat dan diperhatikan.
Sebagai perspektif utama, perspektif medis dieksplorasi secara mendalam. Deskripsi-deskripsi mengenai prosedur medis sendiri digambarkan dengan mendetail, dan hal ini menjadi salah satu sorotan utama dari berbagai review. Proses medis digambarkan secara menggugah mulai dari pengalaman sensorik Luh yang punya pendengaran luar biasa dan juga Dokter Markus yang punya penciuman luar biasa, hingga prosedur kuretase aborsi yang menjadi topik penting novel ini. Kita juga diajak untuk memahami ambiguitas peran medis dalam kesehatan tubuh perempuan: kita melihat misogini medis yang masih kental sekaligus bagaimana edukasi seksual bisa membantu perempuan mendapatkan layanan perawatan yang mereka butuhkan dan inginkan.
Yang disayangkan, tulisan ini tidak mampu mengeksplorasi penyedia layanan kesehatan di luar medis dengan kompleksitas dan kedalaman yang sama, dan (nyaris) absennya perspektif ini cukup terasa menganga mengingat buku ini disusun dengan menghadirkan beragam perspektif dan suara. Peran dukun beranak dalam proses layanan kesehatan seksual perempuan - aborsi dan melahirkan - tidak sepenuhnya absen, mengingat sebagian karakter dalam cerita tidak mampu mengakses layanan medis. Akan tetapi, dukun beranak semata-mata dipandang inferior karena menyediakan jasa yang tidak efektif/tidak aman. Perspektif mereka pun hanya muncul sekilas dalam dua titik waktu: pada saat kelahiran Luh dan pada saat Luh mencari pasien untuk jasa aborsinya. Tidak ada hubungan mendalam antara Luh dan dukun beranak yang bisa memberi ruang bagi perkembangan karakter Luh, dan eksplorasi pengalaman/perspektif mereka terasa dangkal. Padahal, perbedaan perspektif antara medis dan dukun beranak akan menjadi hal yang cukup menarik untuk memperkaya teks. Mengingat tulisan ini mencoba mengeksplorasi pengalaman perempuan dari berbagai latar, termasuk mereka yang tak mampu mengakses layanan medis, peran dukun beranak punya potensi untuk mendapatkan tempat lebih besar dalam cerita.
Absennya perspektif dukun beranak yang substansial semakin terasa janggal ketika penulis mendatangkan perspektif polisi yang misoginis pada bagian terakhir. Si polisi memang digambarkan tidak ada bagus-bagusnya - sudah misoginis, malas-malasan, culas pula - akan tetapi, penulis memberi ruang yang lebih besar bagi pembaca untuk mendalami perspektif sang polisi, serta memberi peran signifikan bagi si tokoh polisi untuk terlibat dalam alur cerita. Kenapa?
Kenapa banget???
4.
Spoiler alert, membahas mengenai cara penulis membingkai klimaks cerita.
5.
Last but not the least, bagaimana penulis membingkai fetus. Diskusi mengenai fetus merupakan hal yang tidak terelakkan tatkala kita membahas mengenai isu aborsi. Fetus merupakan komponen utama dari retorika anti-aborsi, dan bagaimana cara penulis membingkai fetus menunjukkan bias mereka atas isu aborsi. Diskusi mengenai bagaimana cara penulis membingkai fetus berhubungan erat dengan kesimpulan novel ini. Spoiler alert.
.
Untuk menutup pembacaan ini, saya ingin mengutip epigraf alias kutipan pembuka novel Korpus Uterus, yang merefleksikan fokus dan bias yang menyusun bangun cerita novel ini.
Ibu, di keheningan rahimmu,
aku pulang sebagai hewan jantan yang terluka
— Royyan Julian, dalam puisinya, Oedipus Complex
-
Tulisan ini diunggah ulang di Medium pribadi dengan penyesuaian di sana sini.
1.
Premis novel berpusat pada perjalanan hidup Panuluh atau yang biasa dipanggil Luh. Luh adalah anak laki-laki yang lahir dari istri seniman Lekra yang turut menjadi korban kekerasan budaya pada masa Orde Baru. Ibunya diperkosa oleh aparat pada tahun 1965, dan dari tindak pemerkosaan tersebut lahirlah Luh. Pada saat ia besar, ia memutuskan untuk menjadi ahli aborsi. Sepanjang perjalanan hidupnya, ia bertemu dengan aneka pengalaman perempuan dari berbagai latar belakang, mulai dari lokalisasi pelacuran, dokter kandungan, perempuan-perempuan yang datang ke dirinya ketika dewasa sebagai ahli aborsi untuk mencari akses aborsi, hingga sosok perempuan belia yang tak memiliki edukasi seksual memadai.
Kata kuncinya di sini adalah pengalaman—tulisan ini memang memanfaatkan teknik multi-tutur/polifonik sehingga kita bisa mengetahui perspektif perempuan mengenai pengalaman mereka, akan tetapi pada akhirnya perspektif dan pengalaman mereka umumnya tidak hadir untuk diri mereka sendiri. Perspektif dan pengalaman mereka hadir untuk mendorong perjalanan hidup Panuluh, sebagai "materi" pengalaman yang menjadi bahan pembelajaran sang tokoh utama. Perkembangan perjalanan Panuluh sendiri menunjukkan pergeseran kerangka perspektif yang cukup krusial: proses perkembangan/pendewasaan Luh ditandai dengan bagaimana ia menguasai pengetahuan medis terkait hak seksual tubuh perempuan, yakni aborsi. Ia bekerja di luar sistem medis yang digambarkan dalam tulisan sebagai ambivalen jika tidak mau dibilang opresif, akan tetapi posisinya sebagai sosok yang punya "kapasitas" memberikan akses layanan kesehatan aborsi untuk perempuan masih berbasis medis. Bias medis ini merupakan bias yang cukup mencolok sepanjang novel. More on this on point 3.
2.
Korpus Uterus menghadirkan beragam tokoh perempuan dari berbagai latar. Masing-masing karakter perempuan yang muncul menghadapi tantangannya tersendiri dalam masyarakat patriarkis yang membentuk sikap mereka. Mengingat tulisan ini mencoba untuk mengangkat percakapan mengenai tubuh perempuan dan aborsi, isu-isu kekerasan gender seperti pemerkosaan, pelecehan seksual, objektifikasi perempuan, dan beragam penghakiman misoginis adalah sesuatu yang tidak bisa dielakkan. Akan tetapi, yang mengganggu saya sepanjang membaca—terutama pada pembacaan kedua, di mana saya telah mengetahui garis besar perjalanan cerita—adalah bagaimana eksplorasi lebih ditekankan pada ekstremnya kekerasan yang dialami oleh perempuan daripada kedalaman respons dan emosi perempuan yang merasakan pengalaman tersebut.
Masalah ini berhubungan erat dengan poin pertama, akan tetapi yang patut diperhatikan juga adalah bagaimana penderitaan perempuan, yang umumnya korban pemerkosaan, dihubungkan dalam konteks aborsi: aborsi di sini seakan-akan dijustifikasi atas basis penderitaan yang mereka alami. Setidaknya, secara naratif, aborsi yang berbasis penderitaanlah yang pantas untuk menerima perhatian cerita (yang sebenarnya tidak akan sebegitu bermasalahnya, apabila cerita ini tidak punya ambisi untuk menampilkan berbagai sisi mengenai aborsi). Alasan-alasan yang bersifat "kenyamanan pribadi" (istilah yang berangkat dari stigma anti-aborsi) seperti masalah ekonomi atau rencana masa depan tidak mendapatkan perhatian cerita yang mendalam pada novel ini; pengalamannya mungkin tidak lantas diinvalidasi, tapi ceritanya hanya ditempel sebagai basa-basi belaka. Sementara itu, penderitaan perempuan korban kekerasan seksual yang membutuhkan akses aborsi umumnya dideskripsikan secara eksplisit, untuk menekankan kekerasan yang menjustifikasi kebutuhan mereka atas aborsi.
Tindak aborsi pertama yang dilakukan oleh Luh kepada manusia ditujukan untuk korban pemerkosaan yang ia temukan menggelandang. Teks novel menggambarkan kondisi korban secara detail dan mengenaskan: tidak hanya kondisi fisiknya mengenaskan, kondisi mentalnya tampak terganggu sehingga tidak bisa berkomunikasi dengan lancar. Tindakan aborsi dilakukan Luh tanpa adanya izin/consent dari korban, seakan-akan semata-mata penderitaan yang dialami oleh sang korban menjadi landasan yang dapat diterima untuk melakukan aborsi. Pemilihan cerita yang menekankan pada penderitaan seperti ini terasa sangat mengganggu tatkala saya melihat apa sesungguhnya alur logika yang mendorong narasi ini, walau saya secara personal bisa memahami dari mana datangnya keputusan Luh. Kasus aborsi lain yang mendapatkan sorotan dramatis dalam novel terjadi pada sepertiga terakhir cerita: siswi SD bernama Maryam yang mengalami pemerkosaan oleh gurunya. Maryam digambarkan tidak hanya terpuruk secara psikologis, tapi secara kondisi medis pun, kondisi rahimnya dideskripsikan "mulut rahimnya erosi .... ada carian kental [bernanah yang] bisa jadi itu infeksi gonore."
Sekali lagi, yang saya permasalahkan bukanlah hadirnya kekerasan seksual dalam novel, atau bahkan deskripsi yang eksplisit. Akan tetapi deskripsi-deskripsi kekerasan seksual yang dialami digambarkan sedramatis mungkin tanpa adanya eksplorasi mendalam atas perasaan tokoh untuk sekadar menekankan penderitaan/kekerasan secara lumayan sensasional, dan penderitaan inilah yang menjadi basis justifikasi aborsi secara logika cerita. Untuk menutup poin ini, saya akan mengutip esei This Is What an Abortion Looks Like oleh Merritt Tierce:
Do we approve of what she wanted? Did she suffer enough? These questions are not ours to ask. We have to stop categorizing abortions as justified or unjustified.
Saya rasa, tidak seharusnya narasi mana pun mengeksploitasi penderitaan perempuan untuk menjustifikasi atau membatasi akses aborsi. Aborsi merupakan layanan kesehatan reproduksi dan seksual berbasis keadilan bagi seluruh jenis tubuh, dan kekerasan gender sudah seharusnya disikapi dengan sensitivitas dan penghargaan atas otonomi tubuh perempuan dan gender minoritas.
3.
Korpus Uterus mengedepankan perspektif medis/ilmiah sebagai perskeptif utama dalam mengeksplorasi tubuh perempuan. Perspektif ini merupakan poin yang menjadi karakteristik yang menarik sekaligus blindspot cerita dalam memetakan ragam perspektif mengenai tubuh perempuan dan aborsi. Hal ini tercermin dari pemilihan judulnya: istilah "korpus" bisa dimaknai secara ilmiah sebagai dataset analisis atau bagian utama organ dalam medis, sementara uterus merupakan istilah medis dari rahim. FYI, naskah ini awalnya dikirim untuk Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2023 dengan judul "Rahim"—dan perubahan judul asal menjadi judul saat ini merupakan hal yang patut untuk dicatat dan diperhatikan.
Sebagai perspektif utama, perspektif medis dieksplorasi secara mendalam. Deskripsi-deskripsi mengenai prosedur medis sendiri digambarkan dengan mendetail, dan hal ini menjadi salah satu sorotan utama dari berbagai review. Proses medis digambarkan secara menggugah mulai dari pengalaman sensorik Luh yang punya pendengaran luar biasa dan juga Dokter Markus yang punya penciuman luar biasa, hingga prosedur kuretase aborsi yang menjadi topik penting novel ini. Kita juga diajak untuk memahami ambiguitas peran medis dalam kesehatan tubuh perempuan: kita melihat misogini medis yang masih kental sekaligus bagaimana edukasi seksual bisa membantu perempuan mendapatkan layanan perawatan yang mereka butuhkan dan inginkan.
Yang disayangkan, tulisan ini tidak mampu mengeksplorasi penyedia layanan kesehatan di luar medis dengan kompleksitas dan kedalaman yang sama, dan (nyaris) absennya perspektif ini cukup terasa menganga mengingat buku ini disusun dengan menghadirkan beragam perspektif dan suara. Peran dukun beranak dalam proses layanan kesehatan seksual perempuan - aborsi dan melahirkan - tidak sepenuhnya absen, mengingat sebagian karakter dalam cerita tidak mampu mengakses layanan medis. Akan tetapi, dukun beranak semata-mata dipandang inferior karena menyediakan jasa yang tidak efektif/tidak aman. Perspektif mereka pun hanya muncul sekilas dalam dua titik waktu: pada saat kelahiran Luh dan pada saat Luh mencari pasien untuk jasa aborsinya. Tidak ada hubungan mendalam antara Luh dan dukun beranak yang bisa memberi ruang bagi perkembangan karakter Luh, dan eksplorasi pengalaman/perspektif mereka terasa dangkal. Padahal, perbedaan perspektif antara medis dan dukun beranak akan menjadi hal yang cukup menarik untuk memperkaya teks. Mengingat tulisan ini mencoba mengeksplorasi pengalaman perempuan dari berbagai latar, termasuk mereka yang tak mampu mengakses layanan medis, peran dukun beranak punya potensi untuk mendapatkan tempat lebih besar dalam cerita.
Absennya perspektif dukun beranak yang substansial semakin terasa janggal ketika penulis mendatangkan perspektif polisi yang misoginis pada bagian terakhir. Si polisi memang digambarkan tidak ada bagus-bagusnya - sudah misoginis, malas-malasan, culas pula - akan tetapi, penulis memberi ruang yang lebih besar bagi pembaca untuk mendalami perspektif sang polisi, serta memberi peran signifikan bagi si tokoh polisi untuk terlibat dalam alur cerita. Kenapa?
Kenapa banget???
4.
Spoiler alert, membahas mengenai cara penulis membingkai klimaks cerita.
5.
Last but not the least, bagaimana penulis membingkai fetus. Diskusi mengenai fetus merupakan hal yang tidak terelakkan tatkala kita membahas mengenai isu aborsi. Fetus merupakan komponen utama dari retorika anti-aborsi, dan bagaimana cara penulis membingkai fetus menunjukkan bias mereka atas isu aborsi. Diskusi mengenai bagaimana cara penulis membingkai fetus berhubungan erat dengan kesimpulan novel ini. Spoiler alert.
.
Untuk menutup pembacaan ini, saya ingin mengutip epigraf alias kutipan pembuka novel Korpus Uterus, yang merefleksikan fokus dan bias yang menyusun bangun cerita novel ini.
Ibu, di keheningan rahimmu,
aku pulang sebagai hewan jantan yang terluka
— Royyan Julian, dalam puisinya, Oedipus Complex
-
Tulisan ini diunggah ulang di Medium pribadi dengan penyesuaian di sana sini.
March 24, 2026
Aku beneran gak nyangka bisa selesai baca buku ini dalam setengah hari… mungkin karena lagi pulkam dan ga ada bacaan seru lalu keinget bawa buku ini dan wow… benar-benar di luar imajinasiku.
Sudah banyak teman yang merekomendasikan buku ini, tapi aku beneran gak ekspek bakal sebagus ini. Meskipun ending-nya agak-agak dan kureng, tapi aku merasa sangat beruntung bisa baca buku dari Sasti Gotama ini.
Dari buku ini, aku belajar banyak tentang reproduksi perempuan. Rasanya, hal-hal seperti ini engga banyak dibahas di luar sana, dengan ilmu kedokteran yang dimiliki Mbak Sasti, aku yakin pembaca lebih mengerti bagaimana indahnya rahim dan perempuan itu sendiri. Semoga kedepannya, membicarakan perempuan dan kebutuhannya bukanlah sebuah ketabuan bagi kita semua.
Sudah banyak teman yang merekomendasikan buku ini, tapi aku beneran gak ekspek bakal sebagus ini. Meskipun ending-nya agak-agak dan kureng, tapi aku merasa sangat beruntung bisa baca buku dari Sasti Gotama ini.
Dari buku ini, aku belajar banyak tentang reproduksi perempuan. Rasanya, hal-hal seperti ini engga banyak dibahas di luar sana, dengan ilmu kedokteran yang dimiliki Mbak Sasti, aku yakin pembaca lebih mengerti bagaimana indahnya rahim dan perempuan itu sendiri. Semoga kedepannya, membicarakan perempuan dan kebutuhannya bukanlah sebuah ketabuan bagi kita semua.
July 26, 2025
stunning! ended & outsold Tersesat yang sesat, lol. should’ve won the first prize instead. sasti wrote it so well, but personally i thought that if the main character were a girl/woman it would’ve been better but i do understand why she chose luh tho. kudos sasti!
September 8, 2026
Selesai baca Korpus Uterus, dan perasaan saya kurang lebih tetap sama sejak sepertiga awal buku: saya kagum pada banyak hal di dalamnya, tapi juga merasa novel ini terlalu sering ingin memastikan bahwa pembaca terus memperhatikannya.
Hal yang paling langsung menarik perhatian saya adalah pilihan katanya. Vulgar, banal, lantang, bodily, kadang kasar, kadang sengaja bikin tidak nyaman. Sasti jelas punya keberanian dalam memilih bahasa dan tidak takut membawa tubuh perempuan, seks, darah, rahim, kekerasan, dan hal-hal yang biasanya dibicarakan setengah berbisik ke depan layar.
Tapi setelah cukup lama membaca, justru itu mulai menjadi salah satu masalah saya. Bahasa yang vulgar dan lantang itu kadang terasa terlalu sering dipakai untuk mempertahankan daya tarik teks. Seolah novel ini belum sepenuhnya percaya bahwa cerita dan karakter-karakternya sudah cukup kuat tanpa harus terus membuat sesuatu terdengar provokatif, keras, atau mengejutkan.
Masalah yang sama saya rasakan pada isinya.
Gerwani, PKI, aborsi, feminisme, bodily autonomy, pemerkosaan 1998, bom Marriott, lumpur Lapindo—semuanya masuk. Banyak sekali. Cerita demi cerita dijejalkan seperti sarden dalam kaleng, sampai beberapa tragedi besar Indonesia lama-lama terasa seperti news vomit: peristiwa sejarah dan isu nasional dimuntahkan satu demi satu ke dalam novel yang sebenarnya sudah sangat padat.
Bukan berarti peristiwa-peristiwa itu tidak boleh dipakai. Tapi semuanya sudah datang dengan bobot emosional dan historis sendiri. Gerwani, PKI, 1998, terorisme, Lapindo—materi seperti ini punya semacam built-in gravity. Pembaca sudah membawa ingatan, trauma, kontroversi, dan emosi bahkan sebelum cerita mulai bekerja.
Saya pribadi selalu lebih kagum pada cerita yang mengambil sesuatu yang sangat biasa lalu membuatnya menjadi luar biasa menyakitkan. Orang biasa, masalah biasa, ruangan biasa—lalu entah bagaimana kita dibuat peduli setengah mati. Karena emotional weight-nya harus dibangun dari dalam cerita itu sendiri.
Dan ironisnya, cerita Danang justru menjadi cerita favorit saya di seluruh buku ini.
Danang dan Yati terasa paling manusia, paling nyata, paling tidak dibuat-buat. Tidak membutuhkan tragedi nasional besar, tidak butuh simbolisme yang berisik, dan tidak membutuhkan karakter yang berdiri sebagai corong gagasan. Yati menyentuh karena ia spesifik dan relatable. Di bagian itu saya justru merasa novel ini paling percaya diri. Ceritanya dibiarkan bernapas, dan emosi datang sendiri.
Itulah yang membuat saya semakin mempertanyakan kenapa bagian-bagian lain terasa perlu membawa begitu banyak muatan sekaligus.
Masalah berikutnya adalah setting 60-an yang lama-lama terasa seperti tempelan.
Bukan karena isu aborsi, tubuh perempuan, kebebasan seksual, atau feminisme tidak mungkin ada di masa itu. Tentu saja ada. Yang terasa janggal buat saya adalah cara beberapa karakter memahami dan mengartikulasikan isu tersebut. Ada ide-ide yang terasa terlalu maju, atau setidaknya terlalu siap dan terlalu rapi diformulasikan, untuk consciousness tokoh dan lingkungan zamannya.
Kadang rasanya seperti orang zaman sekarang dipakaikan kebaya dan jarik lalu diletakkan di depan backdrop Gerwani/PKI.
Bahkan detail kecil seperti referensi sourdough sempat membuat saya berhenti. Bukan karena roti fermentasi semacam itu belum ada—jelas sudah ada jauh sebelum 1960-an—tetapi karena istilah dan cara referensinya muncul terasa sangat contemporary. Detail seperti ini kecil, tapi justru ikut menambah kesan bahwa dunia lama tersebut kadang dilihat melalui kacamata masa kini.
Historical fiction, buat saya, bukan hanya soal dekorasi zaman. Masa lalu harus ikut membentuk cara karakter berpikir: bagaimana mereka memahami dosa, perkawinan, tubuh, agama, kebebasan, kehamilan, rasa malu. Seorang perempuan tahun 60-an boleh sangat radikal, bahkan boleh memiliki pemikiran yang terasa luar biasa progresif. Tapi saya ingin melihat bagaimana ia sampai ke sana dari dunia yang ia tinggali, bukan merasa bahwa kesimpulan hari ini ditempatkan begitu saja ke dalam kepalanya.
Saya juga paham bahwa ada bagian-bagian yang mungkin memang diniatkan surreal atau absurd. Tapi buat saya, hasil akhirnya sering terasa lebih theatrical daripada surreal.
Terlalu sering saya bisa melihat panggungnya. Bisa melihat posisi karakter, simbol, pesan politik, dan tangan penulis sedang mengatur semuanya. Akhirnya saya tidak merasa realitas sedang bergeser secara aneh; saya malah merasa sedang menonton sebuah pementasan yang sangat sadar bahwa ia ingin mengatakan sesuatu yang penting.
Saya bukan sedang mengatakan Sasti Gotama penulis yang buruk. Justru sebaliknya, saya rasa ia penulis yang bagus. Ada keberanian, energi, imajinasi, dan kontrol bahasa yang jelas terlihat sepanjang buku.
Tapi mungkin justru karena itu saya berharap Korpus Uterus lebih percaya pada kemampuan tersebut. Tidak semua bagian perlu dibuat lebih keras. Tidak semua cerita perlu ditempeli sejarah besar. Tidak semua ide perlu dibuat terdengar sepenuhnya modern. Dan tidak semua kontradiksi perlu diberi jawaban.
Kadang yang dibutuhkan sebuah cerita justru lebih sedikit.
Sedikit lebih tenang. Sedikit lebih banyak ruang. Sedikit lebih percaya pada karakter—dan jauh lebih percaya pada pembacanya.
Karena buat saya, karya paling kuat bukan yang terus berkata, “lihat betapa pentingnya semua ini.”
Tapi yang membuat sesuatu menjadi penting tanpa perlu menunjuk-nunjuknya.
March 19, 2026
bahkan memiliki rahim pun bisa menjadi anugerah sekaligus nestapa
Displaying 1 - 30 of 183 reviews































