Seseorang dengan baju serbahitam tiba-tiba melemparkan kotak hitam kecil ke teras rumah Ben saat dia sedang bersiap berangkat sekolah. Ben penasaran. Ternyata paket-paket serupa bukan baru kali ini saja dilemparkan.
Kedatangan paket lain berisi flash drive dengan potongan video pembunuhan membuatnya mengalami rentetan kejadian mengerikan. Ben ketakutan. Dia hanya ingin kehidupan remaja biasanya kembali.
Dengan bantuan dua sahabatnya, Arya dan Vero, Ben berlari dan bersembunyi. Pertemuannya dengan Jo, polisi yang juga berusaha menyelidiki sebuah kasus tak terpecahkan, membuatnya melihat benang merah dari semua kejadian yang dialaminya. Dia hanya berharap, benang merah itu tidak akan membuatnya kehilangan nyawa
Melalui karakter-karakter di novelnya, DENKUS mencoba memberi semangat kepada siapa pun yang merasa kesepian. "Kita boleh lelah, tapi tidak boleh menyerah!" Sapa dia di Instagram: @itsdenkus.
Jika kamu membaca blurp-nya lalu berharap ada adegan anak SMA yang menjadi detective in disguise dan one to one berhadapan dengan sang villain demi menegakkan keadilan, maka lebih baik ekspetasi itu disimpan saja. Karena adegan heroik sang protagonis itu dibayangi oleh "kejamnya" sang antagonis, yaitu penulisnya sendiri.
Ya, penulisnya adalah antagonis di buku ini. Tanpa jeda—apalagi di 40% menuju ending—akan dihadapkan dengan adegan-adegan yang "menyiksa" protagonisnya hingga [...].
Baik, ada satu hal yang aku ingin apresiasi di buku ini adalah konsistensi "kepala" dalam bercerita. Tidak ada loncat pov yang biasanya kadang terjadi. Dari awal kalau bab itu dari sudut pandang A, maka akan A sampai akhir bab atau jeda antar bab. Bagus, jadi ku sebagai pembaca nggak merasa lompat-lompat dalam membacanya.
Untuk yang lainnya, hm ... sebagai novel thriller-mystery, nggak ada efek kejut atau kagetnya [kalau nyesek, ada banget]. Karena semuanya dipaparkan terbuka begitu saja. Biasanya kan kalau novel thriller, kita akan dibawa bercerita oleh sang protagonis. Menelusuri jejaknya dalam menghadapi berbagai rintangan. Tapi, di buku ini, "penjahat"-nya juga ada sudut pandangnya. Jadi, ya udah ketahuan siapa dalangnya, motifnya, dan caranya. Paling yang bikin kaget, eh nyesek ya, efek kejut di kalimat terakhir bab 33. Mungkin itu kali hooked yang disimpan di buku ini.
❝Manusia seharusnya tidak boleh terlalu berharap manusia lain. Karena pengkhianatan tidak hanya berasal dari musuh, tapi juga teman dan keluarga sendiri.❞ - p. 220
Benar, tidak boleh berharap pada manusia lain, apalagi sama penulisnya, haha. Di akhir buku ini, aku malah jadi berandai-andai kalau Ben, Vero, dan Arya bertemu tidak di genre seperti ini, tetapi bertemu di trope young adult‐friends to lovers-triangle trope-happy-happy masa remaja SMA, mungkin mereka akan hidup bahagia selamanya [eh, belum tentu juga sih, bisa aja penulisnya bermanuver dan membuat menjadi angst, haha].
Ini buku pertama penulis yang ku baca dan langsung berbekas kepadaku. Duh, Bang, anak sekecil itu "berkelahi" dengan waktu.
Well, bukunya masih bisa diikuti dan dinikmati, tapi "agak" nyesek aja. So, prepare yourself :""
Kisah Ben dalam #FlashDrive besutan @itsdenkus bersama @fiksigpu @bukugpu. Buku misteri thriller keren tanpa detektif. Yups, Ben si tokoh utama bergerak sendiri tanpa takut. Tapi setelah dihadapkan pada kasus yang makin pelik? Apakah keberanian dan sok ingin tahunya Ben akan memecahkan masalah?
Aku suka dengan penciptaan misteri yang dari awal sampai akhir tetap disajikan teka-teki. Penulis membuat gelombang pertanyaan sampai akhir. Meskipun karakter antagonisnya sudah dimunculkan dan jelas tak banyak dibuat alibi. Serunya, buku ini tak berbelit dalam mengungkap misteri tersebut. Atau membuat pembaca mengumpulkan bukti-² dan menyelidik misteri dan akhirnya dikemukakan semua kejahatan. Tapi, pembaca akan diajak untuk menari-nari dengan kepala membuncah pertanyaan. Sebenarnya apa yang terjadi?
Mengapa, terjadi kasus pembunuhan, apa hubungan semua ini dengan Ben, yang hanya seorang pelajar.
Walau tanpa adanya detektif, buku ini berhasil diselesaikan dengan baik. Bahkan, dengan cara yang umum. Dengan viralnya kasus, maka akan cepat selesai.
Tak hanya menghadirkan misteri, tentu saja ada pesan yang ingin disampaikan. Bahwa, rasa ingin tahu yang berlebihan dan mencampuri urusan orang lain itu tak selamanya baik.
Hidup lurus dan penuh kejujuran itu lah, yang akan membawa keselamatan. Karena sedikit saja, kesalahan efeknya akan besar tanpa pernah disadari.
Namun, ada beberapa hal yang aku pikir masih butuh penjelasan lebih detail. Seperti alur penyebaran file video pembunuhan. Kenapa ben hanya punya potongannya saja. Dan beberapa misteri lain yang mungkin belum aku temukan jawaban.
kelima kalinya gue baca nopelnya denkus. kurang baek apa coba gue selalu ngikutin nopel lu? wkwkwkw
jujurly, di nopel ini lumayan ada perubahan lebih baik dibanding nopel denkus yang sebelumnya. setidaknya nggak gitu banyak adegan ngelamun, mimpi, bertele2, pengulangan adegan. efek pov 3 kali ya, gue salut denkus tipe mau belajar selalu membenahi nopelnya sesuai saran editor: yandi.
namun, sayangnya di nopel ini karakter tokoh+plot masih lemah, ravuh, vayah. sini gue jelasin satu2.
dimulai dari karakternya dulu: -ben: ini sok jadi pahlawan banget nyelidiki kasus ortunya malah ribet sendiri jadi tersangka pembunuhan. dia kan anak jaksa ya, ngapain coba malah kabur ke rumah arya dan luntang lantung jadi buronan, kejar2an sama penjahat. bapaknya pasti cari bukti bebasin anaknya. lagian polisi mana berani menjarain anak jaksa? ditangkep pun pasti ditaruh ruangan khusus VIP. lagian ben masih anak di bawah umur, mentok diserahin ke panti kenakalan remaja *apa sih namanya. -arya: bocil sok2an nyuruh ben kabur. mana nih ngasih hp mamaknya pulak. napa nggak kasih hp fia sendiri aja? sayang ya? wkwkwkw -semua polisi ogeb, sibuk nguber2 ben wkwkwkwk padahal bisa loh gunain waktu buat cari bukti lebih dalam. misal ke hotel tkp, interview resepsionis siapa yang mesen kamar? siapa aja tamu di lantai tempat terjadi pembunuhan. dijelasin detall malah lebih seru dibanding ngejar bocil doang 🙂↔️🙂↔️🙂↔️ -monica: dia kan jurnalis ya, waktu telponan sama ben, kok bisa sih dia malah nanyain, "lu ngapain nyari tau kasus itu? buat tugas sekolah?" tugas apaan njir kasus pengadilan wkwkkwkw
lanjut bahas plot. buronnya ben itu bikin boring sumpahhh. manjang2in durasi aja. padahal bisa dengan plot lain. -terungkapnya siapa pembunuh cewek mati di hotel itu gedebag gedebug banget, make telling doang pulak. masa sih editornya nggak kepikiran hal ini? wkwkwkwk
dah lah gitu aja komen gue. capek ngetik. tadinya mau ngasih rating 2 tapi kasian. ya udahlah ya 3. setidaknya masih ada perubahan lebih baik dari nopel sebelumnya kok wkwkwkw
Flash Drive || DENKUS || Penerbit Gramedia Pustaka Utama || 296 Hlm || Cetakan Pertama, Juni 2025
“Terkadang kita lelah dengan masalah yang datang, tapi bukan berarti kita pasrah kemudian menyerah.” - Jonatan.
“Jangan takut untuk membela diri. Kamu berhak atas kebebasanmu. Jangan biarkan orang lain menekanmu atas kesalahan yang tidak kamu perbuat.” - Jonatan.
2 quotes yang kusuka dan rasanya memberikan power lebih untukku tetap semangat menjalani kehidupan.
Siapa saja yang mendapatkan kiriman paket berisi hal-hal mengerikan tentu saja akan bingung, penasaran, takut dan ujung-ujungnya emosi serta capek. Malah bisa berimbas ke hal lain, seperti keutuhan rumah tangga atau keluarga. Itu juga yang dialami oleh Ben, tokoh utama dari novel Kak Denkus yang baru aja terbit.
Flash Drive berkisah tentang Ben yang kedatangan paket berisi flash drive berisi bukti dari kasus pidana. Sejak menerima paket itu hidup Ben berubah, ia terus-menerus mengalami rentetan kejadian mengerikan. Ben ketakutan dan dia hanya ingin kehidupan remaja biasanya kembali.
Dengan bantuan dua sahabatnya, Arya dan Vero, Ben berlari dan bersembunyi. Pertemuannya dengan Jo, polisi yang juga berusaha menyelidiki sebuah kasus tak terpecahkan, membuatnya melihat benang merah dari semua kejadian yang dialaminya. Bagaimana kelanjutan kisah Ben. Apakah akhirnya Ben mendapatkan apa yang dia inginkan? Kalo penasaran bisa langsung baca novelnya!!
Kisah Ben ini awalnya ada di platfrom menulis online milik Gramedia. Aku belum sempat baca versi masih di platform. Awalnya kukira Kak Denkus akan menerbitkan satu karya dari platform tersebut yang sedang kubaca, tapi ternyata tebakanku salah besar. Dan sepertinya aku udah nggak perlu lagi menjelaskan kalo karya-karya Kak Denkus itu selalu bikin aku tertarik, padahal aku termasuk pembaca yang jarang baca novel bergenre thriller. Namun, kalo yang nulis Kak Denkus bisa jadi pengecualian karena aku suka sama cara Kak Denkus bikin kasus dan meramunya menjadi sebuah karya yang selalu berhasil bikin perasaanku campur aduk.
Dari awal baca novel ini, aku langsung diajak untuk nggak duduk tenang dan itu yang membuatku nggak bisa berhenti untuk membalikkan halaman-perhalamannya. Bahkan, sampai nggak berasa udah hampir selesai aja mengikuti kisah Ben saking page turnernya novel ini.
Dikisahkan dari sudut pandang orang ketiga serbatahu bikin aku bisa melihat semua yang terjadi dengan jelas, bisa mengerti apa yang dirasakan serta perspektif para tokohnya. Didukung dengan alur campuran dengan pergantian yang smooth membuat vibes menegangkan terus menguar dari novel ini. Termasuk novel yang fast paced, tapi nggak kudapati plot hole sama sekali.
Aku selalu suka sama cara Kak Denkus mengeksekusi setiap konflik yang ada dalam karyanya karena selalu berhasil bikin aku nggak tega dengan tokoh-tokoh yang Kak Den buat menderita, bikin aku seperti mengalami sendiri apa yang kubaca dan selalu menengangkan. Nggak hanya menegangkan, tapi juga bisa membuatku menangis. Lho, kenapa baca thriller malah nangis? Mungkin saking nggak teganya aku melihat tokoh-tokohnya menderita sampai nggak berasa air mataku menetes begitu saja. Sepertinya ini kali ke-5 ketika baca karya Kak Denkus aku dibikin nangis saat baca salah satu scene. Tentunya nggak ketinggalan selalu bikin aku geregetan dan emosi. Entah itu geregetan sama tokohnya atau sama penulisnya yang kalo nggak bikin tokohnya menderita bisa meriang sepanjang tahun.
Tokoh di novel Flash Drive terbilang sedang buatku dan justru itu terasa pas. Tokoh-tokohnya pun nggak bikin aku lupa meski selesai baca novelnya karena saking kuatnya karakteristik mereka.
Ben. First impresstionku ke dia tuh gedeg banget. Dikhawatirkan sebegitunya malah bersikap sangat menyebalkan. Aku tau sih nggak mudah jadi dia, aku pun mungkin akan melakukan hal yang sama ketika itu terjadi padaku. Cuma entah kenapa kalo lihat dari sudut pandang lain, apa yang dia lakukan sangat-sangat menguras emosi sampai rasanya pengen kuslepet. Aku tau kok dia anak yang baik dan sopan. Meski dia kurang nyaman sama seseorang, tapi dia nggak pernah berkata kasar ke orang tersebut. Ben juga suka menolong temannya, tapi yah ada aja yang kacang lupa kulitnya dan ada yang nggak berkaca dengan dirinya sendiri.
Arya. Sahabat baik Ben. Meski dia terlihat sedikit kocak, tapi asli dia tulus banget sama Ben. Dia juga nggak pernah meragukan Ben, saaat Ben terkena fitnah keji, dia percaya sepenuhnya dengan Ben. Effort Arya ini termasuk luar biasa. Sempat aku kesal dengan keputusan Arya, tapi kalo nggak dengan begitu masalah yang ada nggak akan pernah selesai. Aku suka ketika Arya mengungkapkan isi hatinya ke orang-orang yang membully Ben.
Vero. Dia ini suka banget sama Ben dan selalu berkata kurang menggenakkan ke Arya. Sempet risih sama kelakuan Vero karena jelas banget cegilnya meski begitu dia nggak sampai memaksa Ben untuk menerima perasaan dia. Vero juga sama seperti Arya untuk urusan effort bantu Ben. Tentunya dengan cara Vero sendiri.
Bi Ijah. Beliau ini ART di rumah Ben. Aku tau banget beliau khawatir sama Ben, tapi kadang tindakan gegabahnya beliau saking khawatirnya malah bikin Ben emosi. Sempat kukira beliau ini mata-mata, tapi ternyata beliau setulus itu sama Ben.
Mama Ben. Dari awal aku melihat beliau tuh aku udah setuju sama apa yang beliau ambil karena aku memosisikan diri sebagai seorang istri. Satu yang kusayangkan dari beliau adalah nggak terbuka ke anaknya tentang apa yang mereka alami. Tipe orang tua pada umumnya.
Papa Ben. Beda lagi pandanganku ketika bertemu papanya Ben, entah mungkin feelingku yang bekerja dan semuanya terbukti. Dia papa yang baik, tapi dia berbuat suatu hal yang berakibat sangat fatal. Ingin rasanya kukebiri orang ini.
Jonatan. Tipe polisi yang menyebalkan ketika awal bertemu, tapi apa-apa yang dilakukan Jo untuk menyelesaikan kasus dan untuk Ben tuh bikin aku merubah pandanganku padanya.
Monica. Kalo memosisikan diri sebagai adik, melihat Monica tuh selalu saja menyebalkan. Kek seenaknya banget gitu, apa dia nggak mikir kalo dia juga pasti punya hobi atau hal yang dia suka. Cuma kalo memosisikan diri sebagai pengamat kinerja dia, aku patut acungi jempol karena dedikasinya, meski pasti tau pekerjaannya kerap kali bikin narasi yang kadang menggiring opini kurang mengenakkan.
Brahandi. Wah, ini orang nggak tau diri banget. Kerjaannya bikin emosi jiwa dan dia harus banget masuk ke Nusa Kambangan.
Argan. Saking setia dan mungkin untuk balas budi, dia sampai melakukan hal-hal buruk yang mengarah ke kasus pidana. Dia juga harus banget masuk ke Nusa Kambangan bareng dengan bossnya si Brahandi.
Muklis. Awalnya kukira beliau ini orang yang hanya punya power besar dan kuat, tapi plot twistnya karena kekuasaannya dia melakukan hal yang nggak termaafkan. Aku tau dia melakukan itu untuk anaknya, tapi melindungi apa yang salah itu bukan perkara yang bagus. Syukurlah dia akhirnya sadar.
Setyo Aristyo. Dari awal aja aku udah pengen jahit mulutnya. Sadar banget banyak orang berseragam coklat macam si Setyo ini. Pencopotan dan pemberhentian aja rasanya kurang puas dengan apa yang sudah dia lakukan.
Meski karakteristik tokohnya kuat, tapi semua tokohnya nggak dibuat sempurna. Mereka masih sangat manusiawi karena punya kelebihan dan kekurangan. Porsi kemunculan tiap tokohnya pun terasa pas karena semua tokoh di novel ini punya peran penting dalam membangun cerita dan saling terikat benang merah.
Novel Flash Drive ini menggambarkan sebagaimana orang berprofesi sebagai wartawan, polisi, jaksa dan pebisnis di dunia nyata, menggambarkan efek besar yang menghantui setelah membela seseorang yang salah, menggambarkan bagaimana orang yang status sosialnya tinggi menggunakan kekuasaannya dengan cara yang salah, menggambarkan kepolosan seorang remaja, menggambarkan bagaimana respon netizen Indonesia setiap ada kasus padahal pelakunya belum terbukti bersalah, serta menggambarkan ambisi seseorang untuk mendapatkan keadilan atas kasus keluarganya.
Interaksi-interaksi yang tercipta antar tokohnya pun nggak kalah menyita perhatianku. Interaksi Ben dengan Mamanya yang kebanyakan bikin aku gedeg sama Ben. Interaksi Ben dengan Bi Ijah yang kekhawatirannya ketara dan menimbulkan ketegangan. Interaksi Ben dengan Arya yang terlihat asyik dan tulus. Interaksi Vero dengan Monica yang banyak bikin aku gedeg sama Monica, tapi ya itu interaksi sibling pada umumnya. Interaksi Ben dengan Jo yang layaknya sibling. Interaksi Ben dengan Vero yang kadang bikin aku pengen ambil semprotan ulat untuk kusemprotkan ke Vero.
Dari novel Flash Drive aku belajar banyak hal, seperti : belajar untuk selalu berhati-hati ketika menemukan atau mendapatkan paket misterius, belajar untuk nggak menuruti dan mudah percaya dengan ancaman seseorang, belajar untuk nggak melindungi orang yang salah meski itu anak kita, belajar untuk bertanggung jawab dengan apa yang sudah kita lakukan, belajar untuk nggak menilai seseorang atau mengeluarkan kata-kata jahat hanya karena suatu kasus yang belum terbukti kebenarannya.
Belajar untuk berhati-hati mengambil langkah ketika sedang menyelesaikan misi, belajar untuk nggak mudah percaya dengan orang asing, belajar untuk mulai mendengarkan orang-orang yang khawatir sama kita, belajar untuk nggak lupa dengan kebaikan orang yang udah berjasa sama kita dalam konteks hal yang positif, serta masih banyak lagi moral value lainnya dari novel FD yang bisa kuterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Novel Flash Drive ini sangat layak untuk diadaptasi sebagai film atau drama Korea Selatan. Lho kenapa nggak adaptasi di negeri sendiri? Karena eksekusi adaptasi ke layar lebar atau drakor lebih mantap dan bisa sesuai dengan ekspektasiku dan tentunya nggak bikin karakter sendiri yang melenceng dari novel. Novel Flash Drive ini vibesnya cocok dengan TVN dan Kak Denkus udah layak masuk jejeran penulis naskah TVN.
Aku suka banget sama cover novel Flash Drive karena semua aspeknya menggambarkan isi ceritanya. Nggak ketinggalan bookmarknya juga unik. Layout isi novelnya pun menyita perhatianku karena vibesnya sangat pas dengan isi cerita. Pemilihan font yang matching dan ukurannya yang pas serta nggak bikin mata sakit selama baca.
Selesai baca novel ini aku merasakan perasaan yang campur aduk. Aku lega sekali semua masalah selesai tanpa menimbulkan pertanyaan tambahan, tapi aku dibuat emosi jiwa sama langkah terakhir yang dipilih Kak Denkus. Novel ini definisi dari antagonisnya adalah penulisnya yaitu Kak Denkus. Entah kenapa aku baru sadar saat selesai baca novel ini, kalo sebenarnya novel ini udah ngasih kisi-kisi atau spoiler bagaimana endingnya. Seharusnya aku lebih peka lagi karena sudah dikasih isyarat atau kode, tapi nggak mau mengerti.
Novel ini bisa dibaca mulai usia 15 tahun ke atas. Aku rekomendasikan novel ini buat yang suka baca genre thriller, buat yang suka baca genre misteri, serta buat para alumni setia film atau drakor produksi TVN.
Akhirnya selesai juga! Sempat ketunda bacanya di bulan Juli karena aktifitas padat, tanggal 3 Agustus kemarin aku bisa menutup kasus Ben dengan Pakpol Jo dengan napas lega.
Sebelumnya, aku mau mengucapkan terima kasih banyak kepada kak Denkus telah memberikan aku kesempatan membaca karya terbarunya. Buku ini datang menyapaku dari Giveaway bulan Juli yang diadakan Kak Denkus.
Oke kita mulai saja reviewnya!
Berkisah tentang Ben, anak SMA dari keluarga jaksa yang sejak awal buku ini ditunjukkan masalah keluarga tentang ortunya ingin bercerai. Ben yang sudah pusing dengan perdebatan orang tuanya, mendapati dirinya berada dalam bahaya akibat kiriman flash drive misterius.
Dari segi visual novel, desain sampulnya yang menarik di mata sudah sesuai dengan genre Flash Drive. Waktu membuka novel ini untuk pertama kalinya, kita juga bakal disapa dengan layout yang apik sampai di halaman terakhir kit menemani pelarian Ben sampai akhir. Pembaca juga akan disuguhi berbagai elemen pendukung cerita, seperti bubble chat atau judul. Gak bikin bosen dan lebih mudah membayangkan.
Narasi yang dibawakan cukup lugas, mudah dicerna, gak bertele-tele, dan gak terlalu banyak kiasan karena plot ceritanya yang berpacu dalam waktu, yaitu pelarian Ben.
Mengikuti pelarian Ben hampir membuatku ‘tidak bisa bernapas’ karena dihadapi adegan-adegan menegangkan setiap membalik halaman. Bayangin aja, anak remaja yang baru menghadapi masalah ortu bercerai tiba-tiba diteror hanya karena menyimpan flash drive, diculik, lalu jadi tersangka 💀
Oh ya, tentu saja karena isi flash drive tsb adalah potongan video bukti pembunuhan adik Anggoro 👀
Sejak awal bab, kita juga diperkenalkan banyak tokoh termasuk villain, Brahandi, sebagai dalang yang meneror Ben melalui tangan kanannya. Sepertinya, memang sengaja tidak disembunyikan dahulu kayak kasus cerita di luar sana karena kehadirannya cukup vital.
Nama-nama tokoh di cerita ini cukup mudah diingat karena singkat dan padat. Para figuran yang muncul sekali dua kali juga gak terlalu sulit diingat walau kehadiran mereka memang cuman pemanis/tumbal *poor Anggoro.
Sempat berekspektasi Pakpol Jo akan langsung muncul di awal bab, tetapi kronologi Ben memang harus ditampilkan karena alur ini lebih dominan maju daripada mundur. Kehadirannya cukup membantu peran Ben untuk menyelesaikan kasus ini.
Namun, aku pribadi merasa peran 2 teman Ben, Arya dan Veronica, kurang berpartisipasi aktif sebagai pendukung/pelindung Ben. Di sini, aku hanya melihat Arya yang selalu sigap menolong dibanding Veronica.
Kerjasama Pakpol Jo dan Ben porsinya pas. Selayaknya pakpol yang mencoba menegakkan keadilan semampunya. Sementara hubungan Pakpol Jo dan Monica (kakak Veronica), menurutku chemistry mereka bisa di dikembangkan sebab dua kombinasi ini bakal lebih top membantu Ben untuk lepas dari masalahnya.
Beralih ke karakter villain dan kaki tangannya. Aku mengapresiasi kehadiran Brahandi yang narsis, gak ada hati, berhasil tampil dengan baik bersama kaki tangannya.
[Waktu baca prolog, aku sudah duga gak mungkin orang yang kasih tumpangan Ben pulang itu org asing. Pasti mencurigakan. Bener aja, ternyata emang mencurigakan itu karena Brahandi 🤣]
Bagaimana 'uang' dan 'ancaman' bekerja antara antara dia, ayahnya, bapaknya Ben (Jerimi) yang Jaksa) menurutku pribadi bisa ditambah porsinya. Brahandi kurang memasak isu/menjegal lawannya dengan cara licik. Walau demikian, ‘alasan’ mengapa dia bisa lolos dari hukum juga sudah cukup baik ditampilkan.
Serta cerita ini diakhiri dengan hal scene tidak terduga, ya, sobat. Intinya, Ben deserve better! 😩
Sebelum aku menutup ulasan, aku mau apresiasi untuk penulis telah mengeksekusi plot thriller yang dipimpin tokoh utama remaja dengan bumbu adrenalin di setiap adegan. Rasa penasaran berhasil membuatku membalik halaman, sehingga menurutku novel ini cukup page turner.
Untungnya, selama membaca masih ada ruang bernapas diantara adegan-adegan Ben bertemu pakpol Jo, teleponan dgn Arya, dan bersinggah di tempat ibadah dan rumah seseorang.
Dari pandangan pribadiku, karya ini termasuk novel thriller yang masih ringan, mudah dicerna, dan cocok untuk teman-teman yang ingin mencoba eksplorasi bacaan baru. Tenang saja, gak ada adegan gore/berdarah-darah selain kasus pembunuhan atau luka-luka.
📦Gimana kalau kedatangan sebuah "paket" malah membuat kehidupan kamu jungkir balik dan nyawamu yang jadi taruhannya? Serem banget ya, kira-kira apa isi paket itu?
📦Dari cover bukunya aja udah keliatan ya kesan misteriusnya. Anyway, ini kali pertama aku baca buku Kak Denkus dan so far aku nyaman banget dengan style nulis Kak Denkus. Baca buku misteri kayak gini pasti banyak bikin tegangnya, tiap adegan villainya muncul pasti auto deg-deg'an sama nasib protagonisnya. Kejutannya yang aku gak nyangka ternyata di beberapa part buku ini sukses bikin aku mewek (mungkin karena tokoh utamanya masih remaja. Rasanya pengen bilang ke villainnya "Kok tega banget sih ngelakuin itu ke anak remaja")
📦Menceritakan Ben Arsenio, atau akrab dipanggil Ben, seorang remaja SMA biasa yang lagi struggle sama keluarganya yang broken. Awalnya keluarganya baik-baik aja, tapi sejak teror paket misterius yang diterima orangtuanya (yang Ben gak tahu), Papa dan Mama Ben sering berantem.
📦Beruntung Ben punya Arya, sohibnya dan Vero, cewek yang bucin sama Ben dan juga suka debat sama Arya yang sering gregetan liat tingkah laku Vero ke Ben. Ya walaupun keliatan centil, Vero tuh sebenarnya baik anaknya. Aku dibuat terhibur dengan percakapan Arya dan Vero.
📦Tapi ternyata bagian humornya ini bentaran doang guys, karena setelah itu ceritanya sukses bikin deg-deg'an karena pengen tahu nasib Ben gimana.
📦Semua dimulai saat suatu pagi Ben mendapat kiriman kotak hitam yang dilempar oleh orang misterius. Ben memilih membuka isi kotak itu dan nyembunyiin soal paket itu dari orangtuanya, Ben yakin paket itu ada hubungan dengan retaknya hubungan orangtuanya. Ben nekad mau ketemu dengan pengirim paket itu. Mungkin dia bisa tahu apa yang menyebabkan orangtuanya sampe memilih bercerai. Namun Ben justru malah menyaksikan pengirim paket itu dibunuh di depan matanya oleh pria berbaju serba hitam. Gimana Ben gak syok coba.
📦Keesokan harinya Ben malah menerima paket lain, yang isinya sebuah flash drive atau kita kenal dengan flashdisk, yang berisi klip pembunuhan. Ben bingung siapa orang yang ada di video itu. Dan apa hubungan flashdrive dengan hubungan orangtuanya.
📦Setelah menerima paket flashdrive itu, kehidupan Ben gak lagi sama, ia mulai diteror. Sampai akhirnya Ben dijebak sebagai pelaku pembunuhan dan resmi jadi buronan. Gak hanya itu Ben juga diculik dan penculiknya yang adalah si Pria Hitam, berulang kali memintanya menyerahkan sebuah barang. Ben gak menyadari "benda" apa yang dimaksud. Ben berhasil kabur, namun teror gak berhenti sampai disitu. Dengan bantuan Arya, Vero, dan seorang polisi bernama Jonathan. Ben berusaha bertahan dan melarikan diri dari orang-orang yang mengincarnya.
📦Tapi saat Arya dan Vero yang jadi sasaran penculiknya Ben gak bisa diam dan menunggu di tempat yang diusulkan Jo, apalagi ia akhirnya mengetahui benang merah atas smua kejadian ini. Ia bertanggung jawab atas keselamatan kedua temannya itu.
📦Kalian yang udah biasa baca buku misteri, pasti langsung ngeh deh dengan pelakunya siapa. Karena cukup jelas ditunjukkan. Untuk kasusnya nggak rumit banget kok. Ketika udah tau pelakunya siapa, aku juga bisa nebak alasan pelaku melakukan itu dan apa kaitannya dengan Ben.
📦Tapi aku berhasil dibuat deg-deg'an waktu Ben mau melarikan diri dari penculiknya. Apalagi adegan penculikan yang melibatkan Arya dan Vero. Ya ampun tegang banget dan aku salut banget sama Ben karena dia loyal banget sama temennya.
📦Aku juga prihatin banget sama Ben, dari keluarga yang broken, pengkhianatan yang dilakukan papanya, dikirimin paket misterius, dituduh sebagai pembunuh, jadi buronan, sampe diculik dan dianiaya. Ben hanya remaja biasa, ada suatu momen dia putus asa dan pengen kehidupannya balik lagi kayak dulu.
📦Aku suka dengan cara penulis menyelipkan unsur rohani di buku ini, ketika Ben yang lelah dengan semuanya gak sengaja nemuin gereja dan berdoa disana. Apa yang Ben rasakan di momen itu, rasanya sampe di aku sebagai pembaca.
📦Sama kayak Arya, aku juga kesal ketika temen-temen Ben nuduh dia sebagai pembunuh. Padahal mereka harusnya yang paling tahu, gimana Ben selama ini. Apalagi diantara mereka ada yang pernah ditolong Ben. Aku suka dengan pernyataan Arya waktu itu (ada di slide ke 4). Ngomongin Arya, aku suka sama karakter dia di buku ini, dia percaya bahwa Ben gak salah, melindungi Ben dan terus komunikasi sama Ben. Dia gak takut bakalan dituduh sebagai komplotan Ben, karna dia percaya Ben nggak mungkin ngelakuin hal itu.
📦Buku ini membawa isu yang sering kita dengar dan baca yaitu tentang uang yang bisa mengontrol berjalannya hukum di negeri ini. Asalkan ada uang, hukum bisa menyesuaikan. Bukti bisa dihilangkan dan orang yang bersalah akan bebas, sehingga membuat keluarga korban geram dan akhirnya menjadi pelaku kejahatan juga, untuk mencari keadilan. Miris banget ya, hukum yang seharusnya bikin jera penjahat, malah memunculkan penjahat baru dan melindungi penjahat sebenarnya.
📦Parahnya, aparat penegak hukum yang diharapkan objektif dan nggak memihak, malah justru memihak tersangka dengan berbagai alasan, ada yang disuap oleh uang (lagi) dan ada yang berdalih demi alasan melindungi keluarga, tapi justru tindakan itu di masa depan menghancurkan keluarga sendiri. Semoga di dunia nyata makin banyak aparat penegak hukum kayak Jonatahan. Amin.
📦Buku ini juga menyinggung soal disabilitas. Seseorang yang punya disabilitas malah dikontrol oleh orang yang punya kuasa, agar mereka gak perlu repot mengotori tangan sendiri dengan dalih telah berbaik hati menyelamatkan mereka dari dunia yang kejam.
📦Ya, meskipun aku gak nyangka ending buku ini,.........🥲 Ada rasa gak rela sih, tapi setidaknya perjuangan Ben untuk mencari tahu kebenaran akhirnya membawa keadilan bagi keluarga korban.
📦Kesimpulannya, buku ini seru banget untuk dibaca, apalagi buat kalian yang baru mau nyoba baca buku genre misteri. Kalian bisa mulai dengan baca buku ini. Bukunya page turner dan gak terlalu tebal. Tanpa kita sadar, kita udah sampe di halaman terakhir aja.
This entire review has been hidden because of spoilers.
... Apakah ini hukuman karena mengkhianati...? Apakah ini karma karena membela orang yang salah?" . Bermula dari teror paket misterius yg dikirimkan di kediamannya, menciptakan masalah yang beruntun hingga sebuah paket berisi flash Drive dengan isi yang kemudian mengawali rentetan kejadian menegangkan dan mengancam nyawa.. Rrahasia apa yang tersimpan dalam flash Drive itu?
🗃️ Satu lagi fiksi karya penulis Indonesia yg menyajikan ketegangan lewat motif dari perbuatan para tokoh dan dinamika tokoh utama yg notabene masih remaja. Serunya dapat, cukup buat degdegan juga, dan yg tidak saya perkirakan sebelumnya akan dibuat sedih juga, padahal ini novel thriller-mystery.
🗃️ Membaca beberapa halaman awal sudah bisa membuat saya merasakan ketegangan yg mungkin juga dirasakan oleh tokoh Ben, tokoh utama di novel ini. Menurut saya, menjadikan remaja sebagai tokoh utama di situasi menegangkan nan penuh ancaman seperti di novel Flash Drive ini, rasanya juga mengaduk emosi krn tingkah, cara pandang serta bagaimana harus berjuang tuk menemukan penyelesaian diantara ketegangan yg dialami. Seru!
🗃️ Sebuah Flash Drive yg kemudian membuka tiap lapisan masalah yg secara tak langsung melibatkan para tokoh, pada satu sisi terasa cukup memantik rasa ingin tahu, tetapi pada sisi yg lain, menurut pribadi justru rasa ingin tahu akan 'rahasia' dalam flash drive cenderung teralih pada rasa ingin tahu terhadap cara seorang Ben mengelola diri, menghadapi situasi, dan penyelesaian tuk tiap lapisan masalah.
🗃️ Tokoh yg perannya saya nantikan sejak beberapa bab awal kemudian menjelma jadi Pak Jo. Tokoh heroik yg rupanya bersingungan secara langsung dgn para tokoh yg motifnya memberi pengaruh pada jalan cerita. Meski demikian, saya berharap, pada kesempatan lain, tokoh Pak Jo ini bisa menjadi tokoh utama dalam sebuah cerita dan berkolaborasi lebih banyak dengan sosok wartawan di novel ini hihi
🗃️ POV yg konsisten, alur maju, celetukan khas remaja, formulasi misteri yg diramu kak Denkus dgn cara yg membuat kisah ini mudah dinikmati oleh pembaca serta tokoh utamany yg seorang remaja, menjadi nilai tambah tuk novel ini. Demikian, pada sisi yg lain saya merasa ketegangan cukup berkurang krn setiap 'pelaku' terungkap dlm waktu yg cukup cepat. Untuk akhir, setiap masalah terselesaikan dgn baik walaupun mungkin beberapa pembaca merasa tokoh utama-Ben- bisa mendapatkan akhir yg berbeda. Bagi saya, secara keseluruhan, akhir novel ini memuaskan dan sepertinya memang sudah sesuai, mengingat 'pertarungan' Ben di novel ini terbilang sulit. Demikian, namun, motivasi para tokoh terasa lebih menggerakkan cerita dibandingkan misteri dari flash drive maupun kasus yang ada di novel ini. Dan saya setuju dengan salah satu review di platform ini, bahwa cukup sulit apabila pembaca memiliki ekspektasi bahwa novel ini akan menyajikan kisah remaja yang berperan selaiknya detektif yang mengungkap misteri dengan trik tertentu maupun eksekusi a la detektif.
🗃️ Kerumitan manusia, dinamika remaja, motivasi yg kadang menjerumuskan hingga gambaran bagaimana pentingnya hukum yg tegas di suatu sistem menjadi pelajaran yg saya dapatkan sepanjang mengikuti kisah di novel Flash Drive ini. Kerja bagus, kak Denkus! Tidak mudah meramu kisah misteri triller, dan kakak berhasil melakukannya dengan tokoh remaja.
Sepertinya buku ini jadi novel mystery thriller pembunuhan kedua yang kubaca dari penulis lokal. And surprisingly, sangat seru bacanya! Tapi entah kenapa selama membacanya aku membayangkan suasana drama Korea dibanding Indonesia, yaa mungkin karena kebanyakan nonton drakor yang isinya kepolisian-kepolisian gitu sih.
Bercerita tentang Ben, yang tiba-tiba diteror oleh seseorang misterius. Awalnya, teror tersebut ditujukan pada orang tua Ben, tetapi karena suatu hal, teror tersebut jadi tertuju pada Ben. Siapa sangka dengan rasa penasarannya tentang orang tuanya yang selalu bertengkar itu dia jadi terseret ke kasus yang besar. Akankah Ben bisa mengungkap semuanya?
Aku suka sekali alur ceritanya. Dibangun pelan-pelan dengan konflik rumah tangga yang mempengaruhi seorang anak. Lalu, menyebar setelah sang anak tersebut ikut turut terjerumus dalam permainan orang besar. Tidak menyangka kalau kasusnya akan sebesar ini, dan turut sedih Ben jadi terseret jauh sekali karena kelalaian orang tuanya sendiri. Aduh, jadi teringat ending kan.. hiks..
Gaya bahasa yang digunakan baik sekali. Sangat bisa dipahami karena cara berceritanya juga mengalir, jadi tidak bosan saat membacanya. Bahkan bisa dibaca dalam sekali duduk. Tokoh yang aku suka adalah Ben, walau aku agak jengkel karena dia suka bergerak sendiri, tetapi dia punya tujuan yang baik. Mungkin keputusan-keputusan dangkal Ben mencerminkan dia yang hanyalah seorang anak SMA. Jadi, kudos buat penulis karena bisa memunculkan tokoh seperti Ben ini. Tokoh yang aku tidak suka tuh Jerimi, papanya Ben. Mungkin aku bisa pilih tokoh antagonis seperti Brahandi atau Argan. Tapi menurutku Jerimi ini aduh... the worst.
Hal yang aku dapat setelah baca buku ini adalah sebagai manusia kita harus selalu berbuat baik dan berdiri di pihak yang baik. Apalagi ketika berurusan dengan hukum, baiknya kita mengingat tempat kita hidup ini cuma hukum dunia. Mungkin akan ada balasan yang dahsyat ketika kita bermain-main dengan hukum dunia. Entah itu akan terbalas secara langsung atau tidak. Dan juga tentang parenting, aduh, sumpek banget ya kayaknya jadi Ben kalau hidup di keluarga yang ribut terus. Sebagai anak tunggal pastinya dia jadi kesepian ketika hubungan Mama dan Papanya retak. Aku jadi belajar kalau semisal orangtua ada masalah, sebaiknya dibicarakan baik-baik dan jangan sampai ketahuan sang anak, karena semua itu akan mempengaruhi mental anak.
Sangat kurekomendasikan buat yang suka novel mystery dan thriller. Konfliknya yang dibangun pelan, ditumpuk tipis-tipis, hingga melebar dan ternyata ada kasus yang kacau sekali sangat mengenyangkan diriku yang suka novel seperti ini. Apalagi lihat ending, aduh, kudu banget deh baca sampe ending haha. Personal rate dariku 4☆.
“Apakah sebuah keadilan bisa dibeli? Bagaimana sebuah kebohongan bisa menjerumuskan?” Butuh waktu untuk mencerna kejadian di dalam buku ini karena semuanya serba DAR DER DOR bikin deg-degan seperti aku sendiri yang dikejar-kejar. Dikejar apa? Kebenaran yang mencolok atau justru bayang-bayang kesalahan di masa lalu? Kisah tentang sesuatu yang disembunyikan untuk menyelamatkan sesuatu lain yang sudah di ujung tombak keberadaannya. Hidup keluarga Ben menjadi tidak tenang, penuh pertengkaran dan diujung perceraian orang tua, namun kedua orang tuanya tak pernah memberitahu alasannya apa. Sampai suatu ketika Ben mendapatkan paket kotak hitam misterius di depan rumahnya. Dari situlah petualangan Ben mengungkap keingintahuannya selama ini dimulai, tentang apa yang membuat kekacauan keluarganya. Anak remaja itu harus berkelana menemui petunjuk yang didapatkannya. Tanpa sadar Ben masuk dalam perangkap belenggu yang akan mempersulit kehidupannya. Sebuah praktik licik, manipulatif dan sudah direncanakan membuat anak remaja itu harus lari tanpa arah sampai dia bertemu dengan Jo atas bantuan Arya, sahabatnya. Plot twish yang ringan menunjukkan apa yang dilakukan seseorang di masa lampu mampu menuai karma di masa sekarang. Nyawa dibayar dengan nyawa, ketidakadilan juga dibalas dengan ketidakadilan. Kehilangan orang yang disayang memang sesuatu yang berat dan meninggalkan luka, mungkin itulah hukuman paling setimpal untuk orang-orang yang mengutamakan kepentingan sendiri dengan menutup keadilan orang lain. Apakah ini cerita fiksi atau justru melekat di sekitar kita? Jangan-jangan diri kitalah pelakunya? Gaya bahasa ringan ala anak remaja dan perpindahan konflik yang smooth membuat bukunya sangat menarik dibaca sampai tuntas. Dari buku ini kita belajar bahwa sesuatu yang sudah rusak haruslah diperbaiki bukan ditutupi. Sesuatu yang salah harus dipertanggungjawabkan bukannya lari dan menyembunyikannya. Bagaimanapun juga atas keberanian Ben ketidakadilan itu sudah terputus, namun apakah semua ini adil untuknya? Pertanyaan ini mungkin akan menghantuimu setelah menyelesaikan bukunya.
"Manusia seharusnya tidak boleh terlalu berharap pada manusia lain. Karena pengkhianatan tidak hanya berasal dari musuh, tapi juga dari teman dan keluarga sendiri." Hal 220 - Flash Drive Denkus Penerbit Gramedia, 2025 📑 296 Halaman - Woah, setelah menyelesaikan Flash Drive, aku dibuat speechless. Nggak sangka kalau semua memiliki benang merah. Apalagi kalau kurangnya bukti dan hanya mengandalkan cctv semata. Seperti yang dialami Ben Arsenio. Berawal dari konflik orang tua Ben. Hingga menemukan kotak hitam yang memegang kunci rahasia sebuah misteri pembunuhan yang kasusnya ternyata sengaja ditutup. Potongan-potongan misteri itu secara perlahan-lahan terbuka. Sayangnya, Ben juga mendapatkan ancaman yang memutarbalikkan keadaan dirinya menjadi tersangka pembunuhan dan buron. Dibantu kedua sahabatnya, Ben berusaha memecahkan misteri dan menemukan pelaku asli. Fast paced, page turner dan konfliknya berlapis. seperti makan kue yang tiap layer-nya beda rasa. Pergantian sudut pandang orang ketiganya juga smooth banget. Tiap pikiran para tokoh pun terbuka dengan jelas, termasuk pikiran sang dalang dari semua rentetan misteri yang akhirnya terungkap. - Karena beberapa karakter adalah remaja, jadi semua kepanikan, rasa penasaran, dan gegabah dalam mengambil keputusan tuh emang sifat-sifat remaja pada umumnya, jarang yang bisa berpikiran panjang dalam mengambil keputusan. Gaya bercerita penulis yang on point, tiap beberapa bab ada cliffhanger yang membuat pembaca penasaran untuk terus membuka halaman, salah satunya aku. Pesan cerita dari penulis amat sangat tersampaikan dengan baik. Selama ada uang, semua hal yang tidak mungkin, bisa menjadi mungkin. The power of money. Lalu untuk konflik orang tua yang melibatkan anak. Ada baiknya jujur dan terbuka, menekan ego masing-masing demi masa depan anak. Plot twistnya cakep, dan salah satu penulis yang tega sama tokohnya sendiri dan bikin hate potek-potek, daebak, aku suka.
Buat yang suka thriller misteri penuh teka teki, recommended banget novel ini ada di rak buku kalian.
Flash Drive berkisah tentang Ben yang melihat hubungan kedua orang tuanya retak tanpa dilibatkan kenapa. Dia lalu justru menemukan paket flash drive misterius yg berisi cuplikan video di rooftop. Apa hubungannya video itu dengan orang tuanya?
Meski karakter utama buku ini adalah Ben, penulis menyajikan cerita dari POV karakter lain juga, seperti sahabat Ben, polisi yg menelusuri kasus, hingga sang pembunuh. Yup, bisa dibilang Flash Drive ini whydunit. Pembaca diajak meyelami kasus yg telah lalu, keterkaitan kasus dengan Ben, serta motif di balik semua hal terjadi.
Bukunya sendiri dibuka dengan adegan Ben kabur dari penculik, jadi cukup dar-der-dor. Meski aku pikir pas baca blurb Flash Drive ini bakal lebih kayak novel misteri ala detektif amatir dengan Ben sebagai detektifnya. Tapi ternyata nggak. Flash Drive justru lebih berat ke aksi thriller misteri dan banyak adegan kejar-kejaran menegangkannya. Cocok buatmu yang suka tipe novel misteri gini.
Meski motif pelaku dan keterkaitan antar kasus udah cukup tertebak, penulis masih bisa ngasih kejutan di akhir cerita. Jujur gak nyangka akhirnya... speechless banget sama konklusi penutup buku ini. Tapi.... bukannya hidup tuh emang nggak tertebak dan nggak adil ya? 🥲
Minusnya menurutku interaksi antarkarakter ada yg terasa dipaksakan. Jo sebagai polisi yg berusaha meyakinkan Ben dan Arya kayak gak punya bukti lebih kuat buat meyakinkan mereka selain omongan (inget ACAB 👀). Sama reveal di akhir tentang satu karakter juga kayak berusaha menambal plot aja dan udah gitu doang. Terus karakter Arya dan Vero yg ditulis dalam blurb sebagai pendukung Ben kurang terasa.
Selain itu, buku ini ditulis dengan baik. Gaya bahasanya lugas dan plotnya rapi. Aku suka gimana penulis menjadikan hubungan orang tua-anak sebagai plot penting di buku. Bukan cuma buat karakter Ben, tapi juga karakter lain. Orang dewasa kerap menganggap lebih baik anak kecil tidak tahu, padahal ketidaktahuan justru bisa memperburuk segalanya.
Gilssssss! Seru banget novel thriller satu ini 😭🤙 Page turner banget, aku baca ini cuma dua jam-an doang loh!
Aku nggak kebayang kalo ada di posisi Ben bakal gimana. Bakal gilaa deh keknya. Mental yupi begini paling nyerah duluan deh 😭
Bayangin aja yaa, Ben ini cuma pengen hidup biasa aja, layaknya remaja pada umumnya. Eh, tiba-tiba hidupnya porak-poranda. Mulai dari keluarganya yang terancam pecah, dan tiap hari dia nerima teror. Ada aja yang ngirim paket atau kotak hitam ke rumahnya, isinya macem-macem. Sampai akhirnya, datanglah kiriman flash drive itu.
Perkara flash drive itu doang bikin hidup Ben jadi berubah 360°. Mulai dari menyaksikan adegan pembunuhan di depan mata, dituduh jadi pembunuh, jadi buronan, terus diculik, disiksa. Kebayang nggak?😭 Dia ini masih 17 tahun lohh. Ini semua gara-gara flash drive sialan itu! Dipikir-pikir makin bikin kesel etdahh 😭🤌
𝐏𝐚𝐜𝐞-nya pas. Nggak buru-buru tapi juga nggak lambat. Aku ngerasa setiap adegan dibangun dengan baik. Apalagi adegan Ben yang berusaha survive dari orang-orang yang ngejar dia. Kerasa banget sih perjuangan Ben gimana. Pokoknya aku misuh-misuh liat perjuangan dia😭
Tapi endingnya kenapa begitu, wahai penulis? 😭 Nggak terima banget Ben diginiin! Aku udah misuh-misuh liat perjuangan dia, eh endingnya malah bikin melongo 😩🤌 Meskipun begitu, penyelesaian konfliknya bagus banget. Tuntas, nggak ada yang menggantung. Semuanya terselesaikan dengan rapi.
Buat kalian yang suka thriller dengan alur cepat, penuh teka-teki, dan bikin jantung deg-degan setiap babnya, aku rekomendasikan novel ini! 🖤 Cocok juga buat yang suka karakter remaja yang harus berjuang sendirian menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya. Totally worth a read ✨
Ditulis dengan alur maju dan sudut pandang orang ketiga, novel ini bercerita tentang kehidupan anak SMA bernama Ben yang dipenuhi teror sejak menerima paket berisikan sebuah flash drive. Awalnya Ben tidak mengerti apa maksud dari video yang tersimpan di flash drive itu. Tapi yang pasti, Ben tidak lagi bisa menikmati kehidupan masa SMA yang sama dengan teman sebayanya lagi. Ia harus kehilangan rasa aman, menghadapi teror demi teror, hingga menjadi buronan atas kasus yang tak pernah ia lakukan.
Melalui novel ini, pembaca tidak hanya akan diajak untuk menikmati cerita pengungkapan kasus pembunuhan semata, tapi juga tentang hilangnya kehangatan keluarga, eratnya persahabatan masa SMA, hingga keberanian yang ditunjukkan oleh para anak muda.
Apa serunya baca novel misteri thriller kalau pelakunya cepet banget ketebak? Iya, ini isi pikiranku waktu baru baca novel ini di bab-bab awal. Skeptis sekaligus dibuat penasaran. Masa iya sih gak ada plot twistnya? Dan setelah dibaca terus, aku baru tahu serunya di mana. Dari novel ini aku jadi ngerti kalau pengungkapan si pelaku kejahatan bukan satu-satunya elemen seru yang bisa ‘dijual’ di sebuah novel misteri: mungkin ada alasan yang belum terungkap, komplotan yang tak terduga atau ending yang bikin ‘HAH?’. Nah, di novel ini? Semuanya ada!
Sebuah novel remaja dengan tema misteri-thriller yang cukup page-turner, membacanya berasa ikut ngos-ngosan karena lebih dari separuh isi cerita fokusnya ke teror dan kejar-kejaran para tokoh yang ada di sini. Penokohannya kuat karena karakter dari tiap tokoh yang ada dibuat menonjol dan latar tempat serta suasananya benar-benar dibangun untuk mendukung atmosfer yang menegangkan serta menumbuhkan rasa penasaran terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya.
❝Tapi, coba lihat akhirnya. Apa kamu benar-benar menyelamatkan keluarga kita?❞ —p. 11
Flash Drive - Denkus ★★★★☆
Habis dibikin tegang, akhirnya dibuat bengong alias yang bener aja banh 😭😭
Flash Drive ini misterinya bukan yang rumit njelimet sampai bikin muter otak, cocok untuk segmen young adult sebagaimana target pasarnya. Tapi, plot dan kasusnya juga bukan yang kaleng-kaleng. Villain-nya? Jahat abis #RIPkemanusiaan. Pokoknya jangan tertipu sebaik apa pun pencitraannya.
Ibarat fenomena puncak gunung es, flash drive berisi video pembunuhan yang didapat Ben mungkin cuma seujung kukunya. Ada hal yang lebih besar dan menggegerkan di baliknya, berusaha diungkap dan dikubur secara bersamaan oleh pihak yang berseberangan. Penuh aksi, fast paced, short-chaptered. Perfect!
❝Gue bingung. Tapi, gue juga takut pulang.❞
Penggambaran tokoh Ben di sini menjadi favoritku. Di tengah carut-marut perpecahan keluarga dan kasus pembunuhan yang menerornya, mau seberani apa pun dia bertindak, dia tetaplah remaja usia sekolah: labil dan rapuh. Ada beberapa momen dalam ketegangan dia dalam hati merasa takut, rindu orangtua, dan teringin pulang ke rumah seperti sediakala.
Secara penulisan, gaya penyampaian yang dipakai ringkas dan menggunakan bahasa sehari-hari: mudah dicerna. Bakalan cocok nih untuk pembaca yang ingin memulai genre mystery thriller atau kalangan remaja–dewasa muda yang suka teka-teki dan tertarik dengan genre ini.
Ending-nya broooo bikin sakit hati. Pas membalik halaman terakhir, sampai perlu waktu buat bengong karena ya ampun gak nyangka bakalan setragis ini. Juga menurutku agak menggantung. Sepertinya sengaja sebagai set up untuk sekuel yang akan datang? Menceritakan tokoh baru di universe yang sama? 🙀
Waktu baca Rosmalia di kumcer IDP, tertarik banget untuk baca karya-karya mas Denkus yang lainnya, dan pilihan jatuh ke Flash Drive.
Ternyata ga salah pilih dongg. suka bagaimana penulis bisa menggambarkan kekalutan Ben dengan baik di tengah kondisinya yang tidak berpihak kepadanya sampai berakhir dengan ending yang... 🥲
Karakter utamanya masih SMA, jadi kadang gegabah dan bikin gregetan, meski begitu dia juga pemberani. Sebenarnya misteri ceritanya tidak terlalu kompleks. Tapi endingnya, yaah sayang sekali ya