Dunia Cecilia Rodin jungkir-balik ketika ia mengalami kecelakaan di kota Paris. Selain merenggut sahabatnya, peristiwa itu juga membuat Cecilia kehilangan sebagian memori di otaknya.
Dengan gamang ia mencoba melanjutkan hidup di Marseille, berusaha mengingat kenangan menyakitkan yang muncul satu per satu, termasuk ingatan tentang Ethel Black, sosok yang diingat Cecilia harus ditemuinya di Kilometer Nol, Paris, tepat sebelum kecelakaan itu. Sosok yang diyakininya sebagai cinta pertamanya.
Namun, dr. Fernand-Joseph Carlotti yang teramat setia merawat, mendukung, kemudian mencintainya, membuat Cecilia terombang-ambing. Terlebih saat ia menemukan kotak musik di loteng rumahnya di Bandung yang menyimpan petunjuk dari serangkaian misteri. Dan ketika kotak Pandora menguakkan kebenaran, siapakah yang layak Cecilia cintai?
Menurutku cukup sulit untuk menyelami jalan cerita novel ini, terutama di bagian-bagian awal. Tapi nggak selamanya begitu, kok. Aku mulai bisa mengikuti jalan ceritanya sewaktu Cecilia akhirnya pergi ke Kilometer Nol dan bertemu dengan seorang kakek. Meski begitu, tetap saja novel ini nggak memberikan penutupan yang menjawab semua misteri, terutama mengenai sosok Ethel dan pria pemain biola yang "seolah" pernah menjadi masa lalu Cecilia sebelum dia mengalami kecelakaan. Mungkin juga masalahnya ada di aku yang kurang fokus.
Setting Prancisnya cukup memuaskan namun cenderung terlalu detail buatku. Di bagian awal terlalu banyak adegan makan di restoran jadi sedikit membosankan. Romansa tokoh utamanya cukup menarik, tapi hubungan antar beberapa karakter dan kejadian-kejadian kecilnya terlalu banyak mengandung kebetulan.
Menurutku ada terlalu banyak yang tidak terjawab dari cerita ini, dan terkesan patah setiap perpindahan adegan. Banyak yang aneh. Sejujurnya, keanehan demi keanehan itu cukup untuk membuatku tidak lanjut baca.
Ah, mungkin aku akan kebablasan spoiler, jadi mohon jangan dibaca kalau tidak mau membaca spoiler ya.
Baru membaca beberapa lembar, dan aku hampir tidak bisa lanjut. :)) Baiklah, lupakan soal itu. Tentang Paris, Perancis itu keren loh. Tapi kalau aku tidak membaca mengenai setting lokasi di bagian awal setiap section, dijamin aku tidak akan tahu itu si tokoh utama sedang ada di mana. Astaga, aku bukan seseorang yang pernah berada di Paris, Perancis atau lokasi mana pun yang dibahas di dalam buku ini, dan aku tidak mencari referensi bahkan setelah membaca, jadi bayanganku saat dikisahkan mengenai tempat-tempat indah di dalam buku, yah, aku hanya berimajinasi saja. :)) Ngga mudeng bawaannya. Begitu dikatakan si A ada di tempat B, si C berada di tempat D, aku tidak tahu tempat-tempat itu. Tidak secuil pun. =.= Sepertinya memang harus tahu tempat-tempat itu dulu sebelum bisa mudeng x ya?
Yah, Marseille (lupa ejaannya, tidak membawa bukunya saat ini) tempat lokasi pertama Cecilia dikisahkan berada, awalnya membuatku mereka-reka ada di mana posisinya. Aku tahu itu di Eropa, tetapi apakah di UK atau di Perancis, tidak tahu sama sekali. *tepok jidat* Belum tempat lain yang nama-namanya bikin lidah kepeleset itu, membuatku harus mereka-reka, ini mereka di Perancis atau di mana sebetulnya?
Lalu, Cecilia itu khan hilang ingatan ya, tapi aku sempat berpikir akhirnya ingatannya akan kembali setelah cerita bergulir, paling tidak rahasia-rahasia yang tertutup di balik benaknya itu akan terbuka. Bisa dibilang itulah yang membuatku bertahan membaca sampai akhir. Boro-boro deh. >.< Bahkan saat Cecilia menemukan kotak musik di loteng rumahnya di Bandung saja sudah aneh adegannya. Maksudku, kesannya kaya dipaksa buat cepet-cepet ketemu itu kotak musik. Pulang, alih-alih fokus pada kematian ayahnya atau interaksi dengan keluarganya, Cecilia malah cuma dideskrip pulang untuk menemukan si kotak musik. Astaga, yang meninggal itu ayahmu, sejarang apapun kalian bertemu masa iya tidak ada emosi apapun selain syok saat mendengar kabar meninggalnya?
Lagipula ya, itu Cecilia hilang ingatan karena kecelakaan, tetapi dari awal sudah dikisahkan dia hanya tinggal sendiri, keluarganya di Indonesia semua. Menyedihkan sekali. Bahkan Mina, yang katanya temannya dan meninggal di kejadian yang sama dengan kecelakaan yang menyebabkan hilang ingatan Cecilia pun tak berkesan sama sekali. Kalaupun hubungan Cecilia dan Mina itu begitu akrab, masa iya tidak ada kesan sama sekali? Mina itu yang membuat Cecilia memikirkan ulang hubungannya dengan Fernand loh.
Yah, rahasia yang disimpan oleh Fernand memang membuatku sempat penasaran, tetapi bisa diduga bahkan dari saat sudah di-hint oleh penulis. Jadi ketika terbongkar, tidak ada kejutan yang bikin greget. Aku jauh lebih penasaran dengan Ethan Black. Maksudku, Ethan/Edgar, bahkan sampai terakhir tidak jelas keberadaan mereka apa, hingga mereka berjanji untuk bertemu di Kilometer Nol setiap tanggal 8. Kalau memang hubungan mereka begitu akrab, pastinya ada sesuatu, dan aku ingin tahu itu. :| Bagaimana mereka bertemu, mengapa mereka berjanji bertemu di Kilometer Nol. Kutangkap mereka adalah teman masa kecil, tapi itu pun hanya terkaanku saja. Even ketika mereka bertemu pun, terasa mengambang. Cecilia mendadak mau ke Kilometer Nol dan kebetulan sekali dia ingat itu tanggal 8, padahal dia sedang bersama dengan Fernand. Aneh sekali. =.=a
Pun ketika Cecilia dan si 'teman' itu berpelukan, setiap mereka sudah memakai cincin tunangan. Itu bukannya sedang musim dingin, musim dingin biasa pakai sarung tangan kan? Kalau begitu darimana mereka bisa melihat cincin tunangan satu sama lain? Masa pakai sarung tangan dulu baru pakai cincin tunangannya? Bingung. CMIIW =.=
Dan setiap kali diceritakan masalah-masalah kecil yang muncul dari anak-anak murid Cecilia, tapi tidak pernah sempat membesar, hanya sebuah tambahan saja. Daripada memperpanjang kisah dari sisi itu, lebih suka kalau ada flashback deh. =.=a
Buku ini udah ku baca tahun 2020 kemarin. Ini kisah cinta antara Cecilia Rodin, Edgar Rèault (Ethel Black), dan Fernand-Joseph Carlotti.
Aku suka sm gaya penulisannya. Suka sm gaya bahasanya. Penulis jg mention nama² tempat di Prancis dan London dg detil, seolah penulis memang asli penduduk sana. Ya walaupun tentu aja aku agak kesulitan membaca nama² tersebut.
Tapi oh tapii yg nggak aku suka adalah ending-nyaaa yg nggak sesuai dg yg ku harapkan 😭. Happy end memang, tp ya gitu.... Kenapa endingnya harus sm "itu" bukan yg "itu" 😂 Tp buat yg suka genre romance, ini recommended.
Sejak kecelakaan yang dialami di Paris yang menyebabkan kematian Mina, sahabatnya, hidup Cecilia Rodin terasa janggal. Ada ingatannya yang hilang yang membuatnya resah. Apalagi seorang anak lelaki bernama Ethel Black terus menghantuinya. Anak itu muncul secara tiba-tiba, mendesaknya agar pergi ke Paris dan kemudian menghilang. Tak ada seorang pun yang melihatnya, kecuali Cecilia. Hingga sekolah tempat Cecilia mengajar di Marseille menugaskan Cecilia untuk mengajar di sebuah sekolah di Paris. Kota yang namanya saja membuat Cecilia ketakutan. Untungnya dr. Fernand yang menjadi dokternya selama perawatan selalu setia mendampinginya. Bahkan pria itu berani melamarnya. Namun sejak menemukan kotak musik di loteng rumahnya di Bandung, Cecilia bertekad mencari tahu masa lalunya yang hilang. Tentang siapa Ethel Black yang sepertinya memiliki ikatan dengannya dan pelangi. Apakah pria musisi yang memainkan biolanya dengan indah yang sering tanpa sengaja ditemui Cecilia adalah Ethel? Siapkah Cecilia menemukan kebenaran?
-------------
Salah banget ya saya baca novel ini setelah New York After The Rain, ekspektasi saya jadi berlebihan. Well, sebenarnya saya suka deh premisnya.. jenis yang pasti akan saya baca. Sayang jalan ceritanya jadi terlalu berputar-putar dan eksekusinya kurang jleb.
Saya merasa ada terlalu banyak tokoh dalam novel ini. Memang maksudnya mungkin untuk memberi clue satu persatu pada Cecilia, tapi jadi too much dan jadi berputar-putar. Dan ada lagi adegan ala-ala sinetron: di momen yang pas, ketemu, ngobrol, tinggal dikiiiiit lagi... satu langkah aja agar semua terungkap, eeeh... nggak jadi. Bukan cuma sekali pula, tapi berulang-ulang kali. Bahaha... duh gemeeees kan ya jadinya. Suara dan cara bicara tiap tokohnya masih mirip-mirip. Saya mendapati beberapa tokoh yang suka banget menggunakan kata "entahlah" untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Seandainya nggak ada keterangan siapa yang sedang bicara mungkin saya bisa tertukar tokoh. Padahal gestur dan pembawaan tokohnya sudah lumayan berciri khas. Sementara diksi serta cara penuturannya pun luwes dan menarik diikuti.
Sayangnya justru pertanyaan terbesar tentang masa lalu antara Cecilia dan Ethel nggak juga terjawab. Masih ada banyaaak pertanyaan tentang apa, bagaimana, mengapa, kapan dan seperti apa mengenai hubungan mereka. Rasa penasaran saya nggak terpuaskan. Hiks...
Well... meski sedikit kecewa karena eksekusi yang kurang maksimal tapi saya suka ide-ide cerita dari Vira Safitri yang menurut saya memang cocok untuk lini Amore. Apalagi kekuatan settingnya yang sudah dibuktikan di tiga karyanya yang telah saya baca. Hmm... saya sih masih setia menunggu novel Vira Safitri yang berikutnya. Kira-kira kota apa dan negara mana ya yang akan melatari novelnya nanti? Semoga dua kota favorit saya; New Orleans dan St. Petersburg bakal dilirik oleh penulis kece ini :)))
"Terkadang orang yang mendampingi kita melihat pelangi tidak selalu sama dengan sosok yang menemani kita saat hujan dan petir." – halaman 295
Cecillia Rodin mengalami kecelakaan di Paris. Kecelakaan itu menghilangkan sebagian ingatannya dan merenggut nyawa teman baiknya, Mina. Setahun setelah kecelakaan tersebut, Cecillia bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Sekolah Dasar Saint Lazare, Marseille, Prancis. Tapi dia belum bisa mengingat apa yang hilang itu. Mimpi-mimpinya kerap membawanya ke Paris dan bertemu dengan seorang anak laki-laki bernama Ethel Black. Hal di sekelilingnya pun selalu berkaitan dengan Paris sampai kepala sekolah, Madame Morgenthaler memintanya menjadi guru pengganti di Paris. Cecillia akhirnya meneguhkan diri untuk pergi ke kota itu.
Kepindahan Cecillia ke Paris disambut hangat oleh Fernand-Joseph Carlotti, dokter yang merawatnya setelah kecelakaan. Setelah perawatan selesai, mereka jadi akrab. Fernand bahkan menyatakan perasaannya dan serius melamarnya. Cecillia benar-benar terbantu dengan kehadiran Fernand, tapi dia masih terbayangi oleh misteri ingatannya. Dia menemukan kotak musik yang menceritakan tentang Ethel, mengunjungi Kilometer Nol dan bertemu dengan orang-orang yang punya hubungan dengan Edgar Réault.
---
Somewhere In Paris ini sangat mengecewakan. Ceritanya datar, alurnya lambat, konfliknya kurang gereget, pergantian POV yang membuat pusing, deskripsi kota-kota Prancisnya sangat miskin dan ending yang tidak berhasil menjawab semua misteri tentang ingatan Cecillia. Di bab-bab pertama, aku masih bisa menikmatinya. Aku dengan serius menyerap semua informasi tentang para tokoh dan setting. Menginjak halaman 60an, aku mulai lelah dan hampir mau berhenti meneruskannya. Tapi aku nggak tega dan masih optimis. Menginjak halaman 100, aku sadar ceritanya hanya berputar-putar pada Cecillia dan kebingungannya dengan Paris. Saat Cecillia akhirnya sampai di Paris, ceritanya semakin tidak menarik. Cecillia lebih banyak mengurusi murid-muridnya dan bertemu banyak orang baru dari berbagai latar belakang dan profesi, yang anehnya begitu cepat dekat dan akrab dengannya. Lalu aku membaca sisa halaman secara scanning, sesuatu yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Aku tidak peduli lagi dengan setting-nya, karena tidak ada deskripsi yang bisa mendekatkan dan membuatku merasa di tempat tersebut atau nama-nama tokoh pembantu, yang sulit diingat dan dilafalkan. Beberapa saat kemudian, aku sampai ke halaman terakhir dan semakin kecewa saja dengan ending-nya.
Saya .... emosi jiwa baca buku ini saking gak sabarnya. Salut sama Natha yang bisa ngelarin buku ini sampai tuntas. Dari halaman 30an aja saya udah pengen berhenti baca buku ini. Saya sabar-sabarin karena pengen sekali-kali bikin resensi buku yang proper untuk penulis Indonesia (non-sastrawan kondang yang bukunya bikin saya terhenyak meleleh-leleh). Apalagi dengan genre amore yang not my cup of tea banget. Di halaman 70 saya menyerah, sel-sel otak saya rasanya mati, dan perlembarnya saya merasa geram, semacem PMS gak jelas tapi ini disebabin sama buku.
Saya gak bakalan merekomendasikan buku ini ke teman-teman saya. Jujur agak kecewa sama Gramedia kenapa naskahnya lolos, semacam Gramedia sebagai penerbit kehilangan selera, jadi tumpul.
Kalau saya megang buku fisiknya pasti bakalan saya komentari "buang-buang kertas buat hal-hal gak berguna". Dan saya bakalan marah.
Saya tahun lalu sempet baca buku yang seringan ini, salah satu buku yang dikasih Orin, tapi ceritanya gak separah ini. Bahkan saya apresiasi karena bagus kok beneran. Yang ini .... speechless saking banyaknya yang pengen saya komentari.
Maksudnya saya ini jarang kesel sama buku dan selalu kasih rating tinggi bahkan buat yang pacenya lambat dan ngebosenin kayak buku ketiganya Stieg Larsson. Tahun ini udah 2 kali saya gak nuntasin buku. Yang pertama Cleopatra karyanya Bernard Shaw, yang apa banget sih buku itu. Sama-sama baca di I-jak juga. Padahal saya yakin saya suka Cleopatra, tapi si Bernard ini mengecewakan banget cara gambarinnya.
Kalau bisa kasih rating minus saya pasti kasih rating minus ke buku ini.
Saya gak ngerti "kenapa pembaca layak baca buku kayak gini" Cecilia sampai halaman 70an itu beneran karakter yang gak berkarakter, boring banget, padahal ada yang bilang kalau Bela Swan itu pertama kalinya karakter yang gak berkarakter, tapi siapa bilang... (?) kalau baca buku ini pasti bilang "Bela Swan better".
Buku ini sama sekali gak ada emosinya, terlalu plain, gak ada rasanya sama sekali, dan adegan-adegannya kelewat klasik.
Saya itu bukan pembaca romance tapi saya bakalan mengapresiasi romance yang bagus kayak Rainbows Ends nya Cecilia Ahern. Kemarin aja saya guling-guling baper bacanya. Karena emang manis yang beneran manis. Bahkan saya yakin ada scene yang bikin saya nangis.
Saya harap saya bisa ngelarin buku ini sampai akhir dan kasih review yang sebagus-bagusnya meskipun buku ini jauh dari kata yang saya harapkan. Saya ngerasa buang-buang waktu baca buku ini. Melewatkan kesempatan lain.
Well, mungkin saya harus baca karya lain penulis. Apakah sama kualitas bukunya?
Sejak kecelakaan yang dialami di Paris yang menyebabkan kematian Mina, sahabatnya, hidup Cecilia Rodin terasa janggal. Ada ingatannya yang hilang yang membuatnya resah. Apalagi seorang anak lelaki bernama Ethel Black terus menghantuinya. Anak itu muncul secara tiba-tiba, mendesaknya agar pergi ke Paris dan kemudian menghilang. Tak ada seorang pun yang melihatnya, kecuali Cecilia.
Suatu hari sekolah tempat Cecilia mengajar di Marseille menugaskan Cecilia untuk mengajar di sebuah sekolah di Paris. Kota yang namanya saja membuat Cecilia ketakutan. Untungnya dr. Fernand yang menjadi dokternya selama perawatan selalu setia mendampinginya. Bahkan pria itu sampai berani untuk melamarnya.
Namun sejak menemukan kotak musik di loteng rumahnya di Bandung, Cecilia bertekad mencari tahu masa lalunya yang hilang. Tentang siapa Ethel Black yang sepertinya memiliki ikatan dengannya dan pelangi. Apakah pria musisi yang memainkan biolanya dengan indah yang sering tanpa sengaja ditemui Cecilia adalah Ethel? Siapkah Cecilia menemukan kebenaran?
Akhirnya sanggup juga ya menyelesaikan buku ini setelah hampir 3 minggu berkutat dengan cerita ini. Gak bisa dibilang menarik cerita ini, cenderung membosankan dan agak aneh. Banyak kejadian yang ngegantung ceritanya, tanpa penjelasannya. Dan sampe sekarang masih gk ngerti kenapa ceritanya harus dibikin seperti itu.
Cecilia yang kehilangan temannya bernama Mina karena kecelakaan, lalu dia hilang ingatan. Tapi ada Dr. Fernand yang selalu dampingin dia, dan akhirnya mereka pacaran. Dan ternyata dibalik kecelakaan yang merenggut Mina itu adalah Dr. Fernand. Yaa begitulah.. Dan gue masih bingung dengan adanya misteri jepitan dan kotak musik, dan terlebih dengan sosok Ethel. Intinya sama sekali gk jelas ceritanya.
Mungkin otak gue aja kali yang gk mudeng sama cerita ini. Tapi entahlahh, gue bacanya pun seperti yang mau-mau gk-gk.
Ga ngerti sama jalan ceritanya.. Kenapa harus dibuat seperti ini? Banyak kejadian yg malah membuat saya bertanya-tanya dan banyak part yg menggantung.
Cecilia kehilangan sebagian ingatan karena kecelakaan yang juga mengakibatkan sahabatnya, Mina meninggal. Kemudian ada dokter Fernand yang selalu berada di samping Cecilia. Tapi Cecilia selalu bermimpi akan seorang yang bernama Ethel Black dan juga kenangan masa lalunya.
Sosok Ethel Black ini tidak dijelaskan lebih lanjut, yang membuat saya bertanya-tanya, apa maksud penulis ini. Bisa dipastikan hampir tiap part ada nama Ethel Black disebut tapi hingga ending tidak dijelaskan siapa dia sebenarnya..
Sedikit sekali yang bisa saya pahami dari buku ini. Pergantian setting-nya kasar, latarnya lompat-lompat nggak jelas, plotnya aneh, dan saya sama sekali nggak dapet chemistry antara Cecilia dan Fernand. Ada terlalu banyak cowok dan saya nggak ngerti gunanya mereka dalam cerita itu apa.
Cerita di awal lumayan menarik, tetapi semakin kebelakang semakin aneh, malah semakin banyak misteri yang timbul dibanding masalah yang diselesaikan. Terlalu banyaknya orang yang hanya ditemui sekali atau dua kali oleh Cecilia yang ternyata selalu berkaitan dengan Edgar juga membuat orang susah mengingatnya. Ethel Black yang sepertinya karakter vital di awal tetapi menghilang di akhir, dan penjelasannya sama sekali tidak membuatku puas. Pria-pria yang ada dikehidupan Cecilia juga tidak dijelaskan secara terperinci, tidak bisa membuatku menyukai bahkan satupun diantara mereka. Jujur aku menyukai Edgar, tetapi karakternya disini lebih banyak diketahui dari cerita orang-orang yang ada disekitarnya, seperti aktris yang bekernya untuk music videonya, sang adik tiri, bahkan sang tunangan, aku sangat ingin mendengar penuturan dai sisi Edgar, apalagi cerita ini benar-benar akan terpecahkan bila Edgar juga turut aktif. Dan sekali lagi aku harus jujur aku sama sekali tidak menyukai endingnya. Entah mengapa karakter Fernand sama sekali tidak menarik perhatianku. Interaksi Fernand dengan Cecilia juga tidak terasa cocok sebagi pasangan kekasih. Dan sekali lagi, aku benar-benar tidak merasa menyelesaikan sebuah cerita setelah membaca novel ini, karena semuanya terasa masih mengambang.