Ini novel ke sekian yang membuat saya meneteskan air mata waktu membacanya.
Hidup bahagia selamanya, adakah itu?
Winna Efendi memang pintar mengolah kata - kata sampai membuat kita terbawa suasana saat membaca.
Ceritanya, tentang seorang anak SMA,
Lucia Surya, tipe cewek nerd, korban bully, sudah dikhianati sahabatnya Karin Utomo yang sekarang ikut membully dia, yang juga perebut pacar Lucia, Ezra.
Awalnya ia menganggap semua itu baik - baik saja, sampai ketika ayahnya jatuh sakit pada hari ulang tahunnya. Walau berusaha kuat, tapi hei dia masih SMA, masih labil, dan itu sangat wajar kalau ia kesal, marah, kecewa, sedih, dan yang lainnya. Dan ia bertemu Elliot Gustira.
Eli, panggillan Elliot, pun memiliki nasib yang kurang beruntung, seorang calon atlet renang, divonis kanker otak hanya beberapa minggu sebelum pengumuman atlet yang ditunjuk mewakili olimpiade, ditinggal oleh kekasihnya, dan harus menjalani siklus kemoterapi dan radiasi berulang di rumah sakit yang sama dengan tempat ayah Lucia terapi.
Bertemu dengan Eli membuat hari - hari Lucia menjadi lebih berwarna, selain ia menjalani sekolah membosankan, dan mengantar ayahnya melakukan terapi. Eli mengajak Lucia bertemu Mia, adiknya yang tergila - gila dengan The Beatles, bertemu Hanny ibunya, dan mengajak Lucia nostalgia masa sekolahnya di SMA Pelita.
Klimaks dari novel ini adalah waktu berita tentang ayah Lucia tersebar di sekolah, ia bertengkar dengan Karin sampai harus di skors, kemudian ayahnya meninggal setelah berjuang melawan kanker hati stadium akhir, dan Lucia memutuskan tidak bertemu dengan Eli lagi. Karena apa? Ia takut akan kehilangan lagi kesekian kalinya.
Tapi, ending cerita ini bagus. Eli berhasil sembuh dengan operasinya di Singapura, dan Lucia menyusulnya.
Lucia menyesal mengapa ia meninggalkan Eli, di saat Eli butuh dukungan dan kehadirannya (once again, please..dia masih SMA, menurutku wajar kalau dia labil). Dan Eli memaafkan gadis yang sudah mencuri hatinya itu.
Di novel ini, pesan yang tersampaikan adalah menghargai waktu dengan orang tua, kita nggak tau kapan mereka akan pergi, jadi gunakan waktu yang ada sebaik mungkin.
Part yang membuat saya agak gemes adalah Karin dan Ezra, seriously, alasan mereka ke Lucia nggak jelas, dan... buat saya itu cuma alasan yang dibuat2, intinya "Aku tertarik ke temenmu, dia lebih cantik, dan nggak nerd kayak kamu", pun waktu Karin bilang sejak Lucia dan Ezra jadian, Lucia jadi berubah. Jadi, Karin merebut Ezra karena dia sebal dengan Lucia, or what?
Satu kutipan yang saya suka dari novel ini, "It's amazing when strangers become friends, but it's sad when friends become strangers" - Jeff Ervin Ramon, yang menggambarkan keadaan Lucia dan Karin.