Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seakan Kitorang Setengah Binatang: Rasialisme Indonesia di Tanah Papua

Rate this book
"Filep Karma adalah pemimpin paling berani di Papua Barat. Dia lawan kekerasan dengan taktik non-kekerasan macam Mahatma Gandhi, Martin Luther King dan Nelson Mandela." Eben Kirksey, antropolog, menulis buku “Freedom in Entangled Worlds: West Papua and the Architecture of Global Power”

>> buku dapat dibaca dan diunduh (gratis), klik

•Judul: Seakan Kitorang Setengah Binatang: Rasialisme Indonesia di Tanah Papua •Interviewer: Basilius Triharyanto, Firdaus Mubarik, Ruth Ogetay, & Nona Elisabeth •Editor: Lovina Soenmi •Penerbit: Deiyai, Jayapura •ISBN: 978-602-17071-4-2 •Edisi: Pertama, November 2014 •Tebal: xvi + 137 hlm; 14,5 x 21,5 cm.

137 pages, Paperback

First published November 1, 2014

7 people are currently reading
67 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
28 (49%)
4 stars
18 (31%)
3 stars
8 (14%)
2 stars
3 (5%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for hasna.
16 reviews1 follower
June 9, 2020
in the form of a one-on-one interview, this book is a personal and candid account of filep karma, an imprisoned west papuan freedom fighter. a portrait of a man so adamantly peaceful in his methods even with the unthinkable suffering he and his people experienced (and still experience). at some points it was frustrating for me how forgiving he is, but i guess that's just how a truly kind person operates. i was fascinated by how reflective and forward-thinking he is: pointing out the shortcomings of his own movement and imagining a truly democratic future of an independent west papua that refuses to make the same wrongdoings indonesia did. the last paragraph broke my heart.
Profile Image for Ziyad Bawedan.
25 reviews
June 2, 2020
(READ THIS FIRST) 4.5 dari 5 (at least for me). Buat yg laen, angka ini berlaku teruntuk bagi yg uda jernih pikiran ny ga terkotori oleh nasionalisme buta. Learn from this book would be an important step to fix our nation's fault at the past. Ya, siap2 tekan ego "indonesia tanah airku merdeka2" kalo mau dibaca dan dapet intisari yg hendak disampaikan penulis.

Rate it 4 bcz' isinya overall penting, tapi kalau substansi model kepenulisan sebenernya flat (oiya ini nonfiksi pula, kategori memoir). So, recommended buat yg kepo isu papua, tapi mager ngintip yg berbahasa inggris kaya journal west papuan studies.
Profile Image for Sahnaz.
28 reviews2 followers
February 16, 2020
It consists of a collection of interviews with Filep Karma, and reading this, I felt almost as if I’m talking to Filep Karma himself. I managed to finish this book in three days—it’s 137 pages long, with one chapter dedicated for pictures. ⁣⁣
⁣⁣
Filep Karma is a non-violent activist from Biak. He was involved in a ceremony where the Morningstar Flag was raised in Jayapura in 2004, which landed him in prison for 15 years, charged with treason. In this particular book, he highlights the embedded racism that fuels the violent acts done by the Indonesian authorities toward the Papuans. In general, I can draw four main themes of this book: non-violent activism, human rights violations, lessons learned from Indonesia and other States’ building, as well as aspirations and challenges of the Papuans’ road to independence. ⁣⁣
⁣⁣
Filep realised that to achieve the goals of independence, it isn’t necessary for them to take up arms but should instead opt for a more non-violent measures. He believes that by using non-violent methods, there is no reason for the Indonesian authorities to resort to violence—and if in the end the authorities used violence, they’re not in the wrong. The human rights violations against the Papuans include violating their freedom of association and expression, bad treatment of (political) prisoners, gender based violence, and many others. Along the way, Filep notes the fight for independence and the flaws of other States’ system that he feels the future newly independent Papua needs to adopt and avoid; e.g. post-colonial Indonesia, East Timor, Mexico, etc. He also cited an instance of the African-Americans nonviolent fight for civil rights which he admires. He repeatedly mentioned that Papuans need to embrace pluralism and human rights education since elementary to avoid making the same mistake(s) as Indonesia (prides itself of pluralism image but not really in reality). Filep also looks to the challenges within the Papuan society: how the elites are not ready for independence, how some of the tribes are not yet used to living with each other, etc. ⁣

You can tell from this book that Filep Karma is a strategic thinker. His education and lifelong experience enriched his activism.⁣
Profile Image for Istiqomah Iftha.
20 reviews
August 3, 2021
“Saya bersiap-siap karena akan dilempar ke lantai yang keras.
Tapi, mengapa justru empuk?” kata Filep pada akhir September lalu.
“Ternyata, tubuh saya jatuh di tumpukan manusia.”


setelah baca ini, saya merasa bahwa, papua memang pantas merdeka. kemarin saya baru selesai baca biografi tentang tan malaka. bagi saya, filep karma & tan malaka memiliki satu kesamaan; sama-sama memiliki cita-cita memerdekakan negaranya, dan sama-sama mendapatkan perlakuan tidak adil dari—yang tidak saya duga—negaranya sendiri, Indonesia. saya merasa sedih ketika banyak membaca kejadian-kejadian yang diceritakan ulang oleh filep tentang peristiwa di Biak yang menimpanya. itu terbaca seperti, pemerintah indonesia tidak menganggap orang papua sebagai manusia, & memandang rendah orang-orang papua. mereka tidak dihargai. tidak diizinkan merdeka, namun tidak diperlakukan sebagai warga negara—bahkan manusia, oleh mereka-mereka yang mempunyai kekuasaan, mereka yang menamai diri mereka sebagai 'pemimpin negeri'.

sa dukung papua merdeka!
Profile Image for Septyawan Akbar.
111 reviews13 followers
April 8, 2021
Banyak bagian yang hilang, mungkin dikarenakan versi yang saya unduh tidak lengkap, atau karena kualitas buku elektronik yang kurang memadai dikarenakan dibagikan secara sukarela. Sisi positif dari buku ini terletak kepada gambaran akan sosok aktivis Filip Karma; kepribadiannya, dinamika internal dari aktivisme kemerdekaan Papua, dan perlakuan Indonesia terhadap tapol Papua diberikan gambaran yang terang dan independen, melalui wawancara dengan Filep Karma secara langsung. Namun kekurangan yang saya rasakan dari buku ini adalah narasinya yang monoton, dan cenderung membosankan. Membuat saya cukup sulit untuk menyelesaikan buku. yang notabene bisa diselesaikan sekali duduk. Terlepas dari hal itu, gambaran dan suara lain dari gerakan Papua yang jauh lebih empatetik, dan personal. Melepaskan sisi kaku dan kehatian-hatian dari buku LIPI yang saya baca sebelumnya mengenai Papua.
Profile Image for Tuna Gandum.
146 reviews1 follower
September 17, 2024
Tulisan dalam buku ini berisi tanya jawab dengan Felip Karma, seorang aktivis Organisasi Papua Merdeka. Di sini Ia menjabarkaan alasan kenapa ia ingin Papua Merdeka, usaha-usahanya untuk mencapai keinginannya sampai harus menjadi tahanan politik karena dianggap melakukan makar. Saya setuju bahwa pemerintah masih memiliki "hutang" yang banyak kepada Papua dan berharap menemukan pencerahan dan solusi untuk membuat Papua lebih baik. Walaupun mendapat beberapa pencerahan, tetapi rasanya buku ini masih kurang. Masih banyak hal-hal yang belum dijelaskan.
Profile Image for melancholinary.
454 reviews37 followers
November 22, 2018
Glad that this book comes in a form of interview. Filep Karma's ideas and theories surrounded the political situation and humanity in Papua are important to anyone that has zero knowledge on the exploitation and colonialist action perpetrated by Indonesia government. Unfortunately, the elite inside the resistance-faction is, well no surprise, corrupted. Karma argues that this circumstance made the Free Papuan movement futile—the elites need to rethink their position.
Profile Image for Erin Saiof.
15 reviews
September 17, 2019
The heaviest book I read in 2019. It is only 137 pages, but the information given and how emotionally it affects me as a reader are things that make me want to read it slowly, to understand every word in every page.
There should be more books that tells the story based on Papuan point of view instead of Indonesian govt point of view. Because people need balance and they need to develop their critical thinking
13 reviews1 follower
May 21, 2019
This book contains lots of facts as it written based on the interview with Filep Karma himself. I rated it 2 stars merely because this is not the type of book I usually read, and I find it hard to finish one.
Profile Image for Clara Gowtama.
7 reviews
August 26, 2020
Dari dulu kita selalu diceritakan tentang pemberontakan papua merdeka, tanpa tahu kisah dibalik perjuangan mereka. Buku ini menceritakan kisah dari perspektif mereka, yang ditutupi dari khalayak ramai. eye-opening.
Profile Image for bojfischer.
97 reviews5 followers
January 24, 2018
Sejatinya keadilan sosial itulah yang harus diwujudkan terlebih dahulu, lantas kemanusiaan kemudian. Tanpa adanya kedua hal itu, musykil mewujudkan persatuan.
Profile Image for Bastian Hidayat.
83 reviews
January 29, 2017
Rasanya selalu saja ada hal-hal pahit yang mau tidak mau harus kita akui dalam hidup ini - utamanya agar kita bisa segera melanjutkan perjalanan, bukan malah berlama-lama mengelakkan kepahitan yang menghadang.

Fakta bahwa kekerasan dilakukan oleh aparat kepada orang-orang di Papua misalnya, adalah hal yang pahit juga. Lha masa negara kita nggepuki warganya? Pahit kan itu? Tapi, kita harus mau akui fakta ini. Fakta bahwa baru segini level negara kita dalam menghadapi perbedaan pendapat. Baru segini level negara kita ketika berhadapan dengan isu-isu 'makar'.
Profile Image for Puri Kencana Putri.
351 reviews43 followers
December 25, 2014
Tidak banyak dalam sejarah Indonesia modern, seorang tahanan politik yang tidak pernah diakui statusnya oleh negara menuliskan gagasan politiknya. Adalah Filep Karma yang menulis catatan perjalanan advokasi perjuangan untuk menegakkan the right to self-determination di tanah Papua dalam buku yang layak dibaca untuk kita semua. Karena Papua itu kita, dan keadilan di Papua akan menjadi keadilan untuk kita semua.
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.