"Seratus kambing yang dipimpin seekor singa akan jauh lebih berbahaya ketimbang seratus singa yang dipimpin oleh seekor kambing," ungkap diplomat Prancis, Charles Maurice deTalleyrand.
Ungkapan itu menjadi penting di abad ini ketika Indonesia tengah berada pada kawasan perubahan yang disebut sebagai the edge of chaos. Ya, inilah area yang didefinisikan para ahli sebagai kawasan yang terletak antara dua tanah berbatas.
Lalu, apa yang mesti kita lakukan?
Buku ini mengisahkan bagaimana mereka yang pernah berada di ambang kekacauan, dengan gerak sigap menata diri dan organisasinya. Semua berpuncak pada pentingnya kita--baik individu, perusahaan, atau organisasi apa pun--untuk menjadi lebih agile. Lebih lincah, lebih cepat, dan lebih liat dalam merespons setiap perubahan yang terjadi di lingkungan kita.
Mengupas geliat tangkas perusahaan-perusahaan besar khususnya Angkasa Pura II menghadapi tantangan pergerakan dan perubahan dunia yang semakin cepat. It's all about agility.
Konsep Aerotropolis-nya menarik.
"Krisis-krisis dapat membuat kita lumpuh, atau sebaliknya, mendapatkan pengalaman berharga dan membentuk agility."
Buku ini mengupas tuntas analis SWOT AP II (Angkasa Pura II). Banyak tantangan kedepan yang harus dibenahi supaya menjadi World Class Airport namun hal tersebut tak menutup kemungkinan AP II dapat mewujudkannya karena di dalamnya terdapat SDM2 yang agile.
"Seratus kambing yang dipimpin seekor singa akan jauh lebih berbahaya ketimbang seratus singa yang dipimpin oleh seekor kambing"
Begitulah sepenggal kata-kata pada cover belakang buku Agility karya Prof. Rhenald Kasali ini. Dari kata-kata tersebut munculah penafsiran bahwa tema buku ini adalah kepemimpinan. Selayaknya singa, Pak Rhenald sepertinya ingin menonjolkan karakter pemimpin yang memiliki ketangkasan. Bukan pemimpin yang berkarakter seperti kambing.
Jika teman-teman tertarik, saya pun juga sama. Aku selalu tertarik dengan gagasan beliau karena ekonomi, . Guru besar Ekonomi UI ini, menyajikan dinamika ekonomi dan bisnis dengan gagasan yang renyah dan cukup menantang adrenalin. Sebutlah seperti, disruption, myelin, change, self-driving, dan enterpreneurhip development.
So, saya tidak berpikir kedua kalinya untuk tidak membeli buku ini saat membaca sinopsisnya di Gramedia.
Buku ini sangat kurekomendasikan untuk kalian yang ingin mempunyai karakter pemimpin yang responsif akan perubahan.
Buku ini menekankan pentingnya "agility" atau kecepatan dalam merespon perubahan. Bisnis yang lamban akan mati sekalipun bisnis tersebut adalah bisnis besar. Salah satu contohnya adalah Nokia, sebuah perusahaan telepon genggam dengan brand paling terkenal pada masanya. Karena sudah menguasai pasar telepon genggam, Nokia terlena dalam comfort zone dan beranggapan tidak akan ada yang bisa mengalahkan mereka sampai kapanpun. Kini, Nokia bukan siapa-siapa lagi dalam industri telepon genggam karena perusahaan tersebut tidak sigap merespon perubahan pasar.
Bagaimana cara supaya perusahaan mampu meningkatkan agility nya? Hal yang paling pokok untuk meningkatkan agility perusahaan adalah memperbaiki SDM-nya.
Namun, perusahaan dengan SDM-SDM yang berkualitas tinggi tidak otomatis menjadi perusahaan yang hebat. SDM-SDM tersebut memerlukan seorang pemimpin bermental singa untuk menunjukan potensinya.
Apabila pemimpin mereka adalah orang bermental kambing, maka SDM-SDM tersebut akan ikut mengembik sekalipun mereka sebenarnya adalah singa-singa hebat. Sebaliknya, apabila pemimpin mereka adalah seorang bermental singa, SDM-SDM tersebut akan mengaum sekalipun mereka semua diumpamakan sebagai kambing.
Dalam buku ini, Pak Rhenald Kasali secara khusus berkaca dari transformasi yang dilakukan PT Angkasa Pura 2 paska tsunami Aceh pada tahun 2004. Buku ini membahas bagaimana PT Angkasa Pura 2 menangani krisis gempa tsunami Aceh dan usaha-usaha dramatis yang dilakukan untuk menangani krisis tersebut. Setelah itu, dibahas pula seberapa jauh PT Angkasa Pura 2 berhasil mentransformasi bandara-bandara yang dikelolanya yang dulunya kotor, kumuh, dan tidak teratur hingga menjadi (almost) world-class airport. Banyak sekali hal yang dibahas mengenai PT Angkasa Pura 2 mulai dari kepemimpinan, perkembangan dari tahun ke tahun, hingga rencana perusahaan kedepannya. Saking banyaknya, mungkin dapat dikatakan bahwa isi buku ini mencakup 50% tentang agility + leadership dan 50% lainnya membahas PT Angkasa Pura 2 serta lanskap industri kebandarudaraan.
Overall, bahasan buku ini cukup mixmash dan tidak semuanya revelan dengan judul buku. Meski begitu, buku ini sangat insightful dan menarik karena memaparkan landskap ekonomi masa kini dan masa depan terutama yang berkaitan dengan industri kebandarudaraan. Kalau anda adalah praktisi/pemerhati ekonomi, bisnis, atau kebandarudaraan, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk anda baca.
Satu dari bertumpuk-tumpuk buku Prof. Rhenald. cerita tentang dinamika Angkasa Pura, dan perspektif bahwa baik aja gak cukup, baik, cekatan, cermat, dan ligat itu punya nilai yang beda