Javier Mahel, penulis best seller yang karya-karyanya pernah meraih penghargaan sastra dan diterjemahkan ke beberapa bahasa, mengalami "writer's block" panjang. Javier hanya punya sisa waktu 30 hari untuk menunaikan kewajibannya menyetor naskah kepada penerbit. Atau, tamatlah riwayatnya.
Masalahnya, bagaimana bisa menulis novel roman kalau hidupnya sendiri jauh dari cinta?
Bernadus Tirto, seorang prajurit muda, terantuk pada pilihan mengejar karier yang bisa menyelamatkan dirinya--juga masa depan keluarganya--atau pilihan untuk memperjuangkan kekasihnya yang jelas-jelas berasal dari latar belakang dan status sosial yang berbeda dengannya?
Ada rindu yang tak sanggup terucapkan, ada jalan-jalan panjang berliku yang harus ditempuh dan keputusan-keputusan berbuah sesal dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak kunjung usai. Benarkah bahwa sesungguhnya, cinta, tak pernah sesederhana kelihatannya?
"Kalimat favorit saya dalam novel ini berbunyi ‘Karena hidup idealis adalah hidup yang sunyi dan sepi’. Saya rasa kalimat ini punya suara yang begitu lantang di tengah maraknya pergolakan pasar, meningkatnya konsumerisme dan kadar idealisme yang mulai dipertanyakan." (Maggie Tiojakin, penulis & pendiri Fiksi Lotus)
"Siapapun yang pernah, atau sedang, menjalani pilihan hidup sebagai pengarang, akan merasakan dirinya terwakili. Kita dibuat tersenyum oleh narasi yang dengan tepat menggambarkan "romantika berkesenian", seperti ide yang macet, ritual menulis yang ribet (tapi tak selalu berhasil), ketakutan menghadapi kritik dan pasar, juga hantu bernama deadline. Teknik narasi berlapis sendiri sebenarnya bukan hal yang baru dalam dunia fiksi, tapi Javier berhasil mengeksekusinya dengan pas." (Andina Dwifatma, pengarang novel "Semusim, dan Semusim Lagi")
"Menikmati aliran kisah Javier ini seperti melihat kepingan puzzle yang ditata pelan dan teliti, tanpa gambar panduan. Lalu, blam! Tampilan akhirnya bikin terkenang-kenang." (Sica Harum, book enthusiast, co-founder NyonyaBuku)
Jessica Huwae was born in Jakarta. After graduating from the Faculty of Cultural Studies in University of Indonesia, Jessica had a long career as journalist in media companies such as Femina Group, MRA Printed Media and Media Indonesia.
She is also the founder of Dailysylvia.com, a website dedicated to Indonesian career women, and a co-founder of custom publishing company, Kanakata Publishing Services.
Some of her published books are Soulmate.Com (2004), Skenario Remang-Remang (2013), Galila (2014), Javier (2014) and a collaborative book project, Work It, Girl! (2015).
(Review ini sebagaimana surat pribadi yang saya kirim kepada penulisnya, Mbak Jes)
Dear Mbak Jes,
Kuawali dengan ucapan selamat untuk Javier. Aku mengapresiasi kesabaran menuliskannya, sehingga karya ini tidak terasa sebagai karya “buru-buru”, apalagi ini sebagai karya pembuktianmu bahwa Jessica Huwae belum “selesai”, layaknya karier menulis Javier.
Aku langsung saja memberikan penilaian untuk bukumu ini. Yang baik-baiknya mungkin tidak lebih dibutuhkan ketimbang komentar dan unek-unek. Baiklah, kumulai saja:
Unsur kebetulan telah dimulai sejak Javier mendapatkan vila yang ada koleksi buku sastranya, seolah ini cara aman penulis untuk menghubungkan setting ke konflik. Mungkin masih wajar karena sepanjang cerita, tidak banyak kebetulan yang terjadi. Jadi, kebetulan ini bisa dimaklumi. (Kebetulan yang kumaksud, sebanyak itu villa di Puncak, masak iya langsung nemu villa yang pemiliknya pembaca sastra)
Halaman 17, ulasan Herman di koran yang katanya terpandang ditulis tidak meyakinkan. Herman ini kritikus sastra yang “ditakuti” atau “disegani”, tapi ulasannya di koran terpandang itu (kutebak mungkin KOMPAS atau Koran Tempo) begitu kubaca terasa dangkal sekali teksnya. Teks dalam teksnya terabaikan, khususnya dalam upaya membuat itu meyakinkan. Meski itu teks sisipan, alangkah lebih baik jika kritik sastra Herman juga ditulis sungguh-sungguh, sebaik teks narasi novelnya, mungkin bisa saja merujuk pada teks ulasan Tempo, Jassin atau A Teuw, kalau memang dikatakan Herman ini menulis di media nasional.
Halaman 70, ".... yang membuatmu hampir merasa gila. Hampir agaknya lebih baik digantikan dengan nyaris, sebab nyaris selalu diikuti kata yang bermakna negatif, sementara hampir sebaliknya.
Kesalahan pengguna kata “acuh” digunakan untuk makna yang sebaliknya, “cuek”, padahal acuh adalah peduli, tidak abai. Ini terjadi beberapa kali, seperti di hal 91, dan dibeberapa lainnya yang sudah ditandai dengan melipat halamannya, begitu membaca lagi, hilang tak ditemukan. He he he ...
Terlalu detail menjelaskan soal perempuan, sementara kisah diceritakan dari sudut pandang dan cara pikir laki-laki (Javier). Misalnya di hal 160, tentang penilaian Javier pada kecantikan Saosan. Ini menegaskan bayang-bayang penulis perempuan rupanya masih kuat bermain dalam cerita yang dituturkan tokoh laki-laki.
Halaman 151, terlanjur, seharusnya telanjur
Dan pada bagian narasi berlapis, satu hal yang terasa olehku adalah narasi Javier sama saja “rasanya” dengan narasi Jessica. Saat membaca bagian narasi yang ditulis Javier aku tidak merasa itu cerita yang dituturkan penulis laki-laki, dan oleh penulis lain yang bukan Mbak Jessica Huwae. Tapi meskipun pada pergantian bab ada bagian yang berubah, tetap saja aku merasa membaca cerita yang secara bahasa, taste dan cara pikirnya sama saja dengan napas yang ada dalam novel Javier (narasi asli).
Itu unek-unek yang kucatat sepanjang membaca Javier. Untuk yang baik-baik tidak aku tulis detail, karena hampir semuanya baik. Mulai dari kejutan yang disiapkan, disimpan rapat-rapat lalu dikeluarkan dengan rapi. Penggambaran keadaan penulis dan industri perbukuan, oh, benar kata Mbak Andin, semua penulis sangat terwakili oleh suara Javier. Aku sangat bersimpati pada tokohnya.
Sekali lagi, selamat ya Mbak Jessica. Terima kasih satu kopi cuma-cuma Javier untukku.
Sama sekali tidak menyimpan banyak harapan pada buku ini. Saya membelinya di Bandung, kemudian membawanya ke Jakarta untuk bacaan dalam perjalanan, yang baru dibaca beberapa bulan kemudian. Saya tidak menyangka akan "senikmat" ini membaca karya kesekian Jessica Huwae yang malah jadi karya pertama yang saya baca.
Awalnya memang kita akan merasa digurui oleh celoteh Javier, terlebih saat dalam narasinya dia mengajak (saya menyebutnya menuduh) pembaca dengan sesekali mengalihkan dengan sudut pandang kedua, karena, saya tidak merasa benar-benar seperti itu. Sebagian. Tapi tetap itu tidak benar. Saya lebih suka kalau penulis mengganti beberapa bagian ini dengan "kita" yang tidak terkesan memaksa. Kabar baiknya, penulis menyisipkan banyak quote yang membuat saya melipat banyak halaman. Bagian yang ini, terasa lembut. Tidak ada kesan menggurui, dan bisa jadi ini bagian terbaik dari novel ini.
Untuk narasi dengan menggunakan sudut pandang laki-laki, sementara penulis seorang perempuan, bagi saya tidak ada masalah. Javier sudah cukup maskulin. Tidak ada suara-suara sumbang dalam narasi, juga cara pikirnya. Ini keberhasilan kedua penulis, jadi saya ucapkan selamat meskipun saya tidak suka inkonsistensi pada dialog, kadang "kau", kadang juga "kamu" yang mana tidak sesuai dengan kebutuhan cerita. Karakter-karakter pendukung di sini cukup kuat. Hanya saja, saya tidak suka hubungannya dengan Saosan yang semudah itu. Keduanya memang bersahabat, dan tidak ada hal-hal lain yang merujuk bahwa mereka saling menyukai, sehingga ini membuat cerita jadi terasa mengganjal. Lalu, selipan cerita yang tengah ditulisnya, sebenarnya ini yang juga membuat novel ini menjadi semakin menarik. Bagian ini dibuat seimbang dengan narasi dirinya sendiri. Dan, di mata saya bagian terbaik dari novel ini justru di bagian akhir. Saya tidak akan pernah bosan menyukai akhir cerita dari novel roman yang seperti ini.
Cerita yang menarik. Meski di awal-awal terasa begitu membosankan. Apalagi tokoh "aku" yang digambarkan sebagai cowok kurang begitu terasa lewat gerak-gerik dan dialognya. Aku selalu merasa dia cewek. Tapi pelan-pelan mulai merasakan sisi cowoknya semenjak "aku" bertemu Ganes.
Baca buku ini, aku merasa seperti baca curhatan penulisnya sendiri. Pasti sedikit banyak ada tertuang pemikiran penulis di sini, terutama dalam kehidupannya sebagai seorang penulis. Asyik juga bisa tahu rasa minder, rasa tertekan, kegalauan, dan tentunya kebahagian tersendiri menjadi seorang penulis. Ada dikit juga tentang editor, penerbit dan kritikus. Dan yang nggak kalah menarik, tentunya cara berpikir seorang penulis. Dari mana aja dia dapat inspirasi dan bagaimana ia mengolah fakta yang ada menjadi sebuah cerita fiksi.
Tapi terus terang, dibanding kisah Javier sendiri, aku lebih jatuh cinta sama kisah Padma dan Bernadus. Karena Javier itu agak "lemah" di mataku. Memang sih dia lagi dalam masa-masa terpuruk dalam hidupnya. Tapi anehnya kok cewek-cewek pada suka ya? Seniman memang beruntung. Oh, Saosan dan Duma tampak begitu mirip, baik itu dari dialog dan penggambaran fisiknya. Coba mereka bisa lebih berbeda. Biar lebih seru.
Javier adalah seorang penulis Indonesia dengan reputasi internasional. Sayangnya sudah lama dia vakum tidak mengeluarkan karya lagi. Sampai akhirnya, editornya yang bernama Rosi turun tangan. Dia memberikan batas waktu 30 hari untuk menyelesaikan naskah yang dijanjikannya, atau Javier harus mengembalikan uang muka yang sudah lama diterimanya.
Javier segera bertindak. Dia kemudian meninggalkan rumah sewa-nya di Jakarta dan menyewa villa di Puncak. Javier butuh suasana baru untuk memancing muse-nya keluar. Villa yang dia sewa adalah milik seorang tentara, yang sekarang sering disewakan kepada orang lain. Javier beruntung karena keputusannya untuk menginap di villa itu berhasil membuatnya menyusun naskah novel yang baru.
Novel ini mengangkat kegelisahan yang dialami oleh seorang penulis karena sudah lama tidak menghasilkan karya. Javier bukannya tidak punya karya sama sekali, dia bebeberapa kali menerbitkan artikel atau menerjemahkan karya. Tapi sebagai seorang penulis, tentunya dia diharapkan kembali menelurkan novel terbaru. Seperti Saosan, rekan seprofesi Javier yang terus-menerus menghasilkan novel best seller. Kebuntuan yang dialami Javier salah satunya karena kehidupan pribadinya yang berantakan. Dia ditinggal pergi oleh istrinya, Duma yang sedang mengejar passion-nya sebagai seorang fotografer.
Keunikan novel ini adalah kita disuguhi cuplikan novel yang sedang ditulis oleh Javier, yang bercerita tentang kisah cinta antara Padma dan Bernadus Tirto. Ada novel di dalam novel. Kalau saya boleh membandingkan antara kisah Javier dan isi novel yang ditulisnya, kisah Padma dan Bernadus lebih menarik daripada hidup Javier yang monoton.
Meski demikian, Jessica Huwae sendiri menegaskan bahwa kisah Javier ini adalah jawaban bagi siapa saja yang sering menanyakan, mengapa (kadang) buat seseorang dibutuhkan waktu begitu lama untuk menghasilkan karya, sedangkan artisan lainnya memiliki produktivitas yang bisa dibilang mencengangkan. Javier berbagi penjelasan, pencerahan dan kegundahannya menjalani profesi sebagai penulis. Untuk kamu yang ingin meniru jejak Javier, buku ini bisa menjadi salah satu bacaan yang bermanfaat.
Menulis bukan perkara gampang. Proses menulis itu diperlihatkan oleh Jessica Huwae dalam novel Javier ini. Mulai dari mencari ide yang bagus dan mewakili keinginan publik sampai pada seberapa cepat tulisan harus segera sampai di meja editor. Menulis berarti memperlihatkan seberapa mampu seorang penulis mengemas sebuah ide yang segar dan menarik perhatian publik--dalam arti kata, bisa jadi idenya biasa, tetapi estetikanya sangat baik--serta kepekaan penulis terhadap realitas sebuah industri.
Saya sendiri sangat memperhatikan kekhasan bercerita dan cara seorang penulis mengulas pemikirannya. Novel Javier, mungkin idenya sederhana yaitu tentang kegalauan seorang penulis yang belum kunjung menelurkan hasil karyanya, sedangkan editornya sudah memberi tenggat waktu. Penulis yang bernama Javier Mahel dalam novel ini wajar mengalami kegalauan karena seharusnya menulis karya bukanlah sesuatu yang dihasilkan oleh tenggat waktu. Menulis karya estetik membutuhkan waktu dan proses kontemplasi yang tidak bisa diukur oleh cepat atau lambat karya itu lahir. Akan tetapi, di zaman sekarang ini, semua diukur oleh tenggat waktu, jika tidak maka Anda tidak eksis, karena semua adalah perkara persaingan dan tuntutan industri. Bagaimana sebuah karya menjadi industri untuk menjalankan roda ekonomi.
Javier, yang mengalami dilema di atas, harus menyepi ke sebuah vila menguras pemikirannya untuk menghasilan sebuah karya fiksi. Secara tidak sengaja, sebuah kisah yang terpendam sekian lama terkuak di vila yang disewanya. Kisah rahasia keluarga pemilik vila menjadi inspirasi. Dengan kelihaiannya merangkai kata dan membuat alur, maka dimunculkan kembali kisah tersebut.
Dalam proses menulis, khususnya fiksi, seseorang dapat mengambil inspirasi dari pengalamannya, hasil observasi, maupun pengalaman orang lain. Apakah ini sebuah pencurian ide? Atau bisa dikatakan sebuah ide yang tidak original? Dalam novel ini, isu ini sedikit diangkat menjadi kontroversi, namun berakhir pada kesimpulan bahwa itu adalah perkara lazim asalkan si pemilik kisah memberikan izin, karena pada akhirnya memang karya fiksi adalah sebuah refleksi kehidupan yang dipoles menjadi lebih artistik.
Model penulisan novel ini adalah cerita di dalam cerita atau metafiksi. Kisah Javier Maher sebagai seorang penulis disandingkan dengan cerita yang ditulisnya. Dua dimensi cerita ini pada akhirnya menyatu menjadi satu alur realitas cerita. Menurut saya, Jessica seorang penulis yang analitik dan empatik. Kisahnya tidak muluk-muluk, apa adanya, dan mungkin cara dia berkontemplasi dalam menyampaikan idenya membuat novel ini terkesan filosofis. Walaupun ada bagian yang agak dramatik namun masih bisa ditoleransi.
Saya menyukai gaya penulisan novel realis seperti ini, tidak banyak konflik bombastis, tapi penekanan pada keriuhan persepsi naratornya, ini membuat pembaca jadi ikut berpikir dan membangun persepsi sendiri. Menurut saya, konflik dan resolusinya standar. Mengikuti bagaimana Jessica membangun persepsinya, ini yang lebih menarik. After all, novel ini bagus dan menarik untuk dibaca. :)
Sebenarnya, sebelum membaca Javier, saya membaca bukunya Winna Efendi yang Draf 1 itu, atas nama pencerahan dan motivasi untuk menyelesaikan suatu cerita. Sayangnya, saya bahkan tidak dapat menyelesaikan buku itu dan berpindah ke Javier.
Kisah Javier ini bisa ditemukan di kehidupan penulis: dunia yang sepi dengan pikiran riuh oleh suara-suara karakter yang nyata--bagi penulis. Tugas penulis adalah untuk menghidupkan karakter-karakter tersebut untuk pembaca. Dan itu bukanlah tugas yang gampang.
Dengan kesunyian itu, tidak jarang ada suara lain, suara yang mengatakan, "Karyamu buruk."
Atau, "Tidak akan ada yang mau membaca tulisanmu itu."
"Sebaiknya berhenti sajalah. Kau tidak bisa menulis."
Jadi, 4 bintang untuk Javier yang berhasil menghalau suara-suara itu.
Bagus. Bukunya cukup menyenangkan untuk diarungi, awalnya aku berpikir bahwa ceritanya terbagi dua, namun twist nya baru terjadi menjelang akhir buku. Terdapat beberapa lompatan plot yang memang tidak terlalu mengganggu seakan ceritanya lumayan diburu alurnya. Ah endingnya, aku kurang suka endingnya. Terlalu menyimpan banyak pertanyaan dan cukup membuatku kurang suka dengan karakter utamanya.Seoalah olah dia tipe orang yang tidak tetap pendiriannya. Buku ini membuatku penasaran untuk membaca karya lain dari penulis ini.
"pada dasarnya memilih hidup di dunia seni berarti kita telah sepakat untuk hidup di jalan yang sunyi, kadang mencipta dalam senyap, karena berkarya lagi-lagi sebenarnya bukan perkara laku atau tidak laku—digemari oleh pasar atau tidak—melainkan perkara mengendapkan dan menuangkan rasa."
*jlebjlebjleb*
jadi inget kenapa dulu gagal jadi pemusik hahaha.
walau cover-nya agak gitu deh (khas penerbit bentang kali yeee, surem), isinya itu lohhhhh. *habis dalam 4 jam plus full distabiloin*
Ini bukan sekadar kisah seorang penulis fiksi yang terjebak dalam writer's block. Tapi buku ini menekankan cerita yang dibuat oleh Javier-refleksi diri.dari Jessica dalam dunia kepenulisan dan masalah sosial.
Over all ide cerita sangat menarik dan pantas mendapat 5 bintang. Tapi untuk gaya bercerita dan penuturan narasi cukuplah mendapat 2 bintang.
Pembaca akan.memukan kisah sebenarnya dari buku ini tepat menjelang ending. Sangat tidak terduga.
A love story with a twist. Suka dengan gaya penceritaan yang lugas, informatif dan dari sisi pria. Banyak quotes bagus dan nampar bingits. Sayangnya backcover-nya cupu-cupu gimana gitu, mungkin kerjaan penerbit kali ya? Padahal isinya OK.
Seperti biasa, Jessica Huawe selalu berhasil bikin plot cerita yang maju-mundur, sulit ditebak dan bikin penasaran. Perbendaharaan bahasanya yang simpel tapi dalem bgt, selalu kena di "gw"....
Novel ini berkisah tentang seorang penulis dan proses pembuatan novelnya yang dikejar deadline. Dibumbui kisah cinta klasik yang cukup miris. Penuh kejutan dan menarik.
Ini adalah kali pertama saya 'mencicipi' tulisan Jessica Huwae, and I must say that I really like the taste. Hal pertama yang saya sadari dari novel "Javier" adalah banyaknya kalimat yang sarat akan pesan dan layak kutip - setidaknya untuk saya yang memang penggemar quotes :D.
Ada beberapa penulis favorit yang membuat saya terkagum2 dengan cara mereka bercerita, mengeksplorasi karakter, dan pesan di akhir cerita, tapi novel Javier adalah novel pertama yang saya benar-benar suka karena caranya berkata2 dan maknanya. Ceritanya terasa begitu dekat dan sangat relatable (mungkin karena saya sendiri suka menulis). Novel ini seakan tahu 'tombol' mana saja yang dibutuhkan untuk membuat saya jatuh cinta, dan tidak ragu untuk menggunakan kesempatannya.
Endingnya mungkin akan membuat sebagian pembaca mengerang sebal, tapi bagi saya sangat pas dengan karakter Javier sebagai seorang novelis - dilengkapi twist dan kedalaman yang cukup :D.
Pesan yang saya tangkap dari ending "Javier" adalah bahwa tidak seperti novel, kehidupan nyata seringkali tak dilengkapi akhir yang memuaskan. Tidak ada editor yang merevisi, tidak ada first reader yang memberikan testimoni dan saran2 demi mendadani kisahmu lebih indah, tidak ada kritikus yang mengeluh karena pesan moralnya tidak bisa ditemukan. Kehidupan nyata berjalan menuruti aliran takdir, tak dimaksudkan untuk mengimpresi siapa2.
Dan begitulah Jessica Huwae mengakhiri kisah Javier di dalam novelnya. Seperti takdir yang penuh rahasia, seperti masa depan yang dicuri-dengar dari langit dan dibisikkan oleh jin-jin pada ahli nujum : tak ada yang pasti, tak ada yang benar2 tahu. Tapi memang tak untuk diketahui, ada untuk dijalani dan terus menstimulasi semangat bagi esok hari ;)
Kalaupun ada kekurangannya, lebih ke teknis sih. Ada beberapa kata salah ketik tapi tidak signifikan, paragraf terlalu panjang dan kurang enak dilihat, lalu beberapa kalimat bersambung terlalu panjang dan menimbulkan ambigu - sehingga saya harus membacanya dua-tiga kali.
Sebagai penutup review, saya mau merekomendasikan novel ini untuk para aspiring novelist atau yang sudah berprofesi menjadi novelis. ;) I hope you love it as much as I did.
Baca lebih lengkap review novel ini di blog Putri Review
Bercerita tentang Javier, penulis yang sedang buntu dan berusaha menyelesaikan naskahnya di tengah patah hati yang ia rasakan setelah ditinggal pergi mantan istrinya, Duma. Demi menyelesaikan naskahnya, ia pun mengasingkan diri di sebuah vila di kawasan Puncak, Bogor. Selain menemukan ide untuk melanjutkan ceritanya, banyak hal lain yang ditemukan Javier. Salah satunya, Tanaya, gadis muda khas anak perkotaan yang memiliki ceritanya sendiri.
Jujur saja, saya tertarik membaca buku ini karena bercerita tentang kehidupan penulis. Gaya bercerita Jessica Huwae sebenarnya enak dibaca. Tetapi, entah kenapa, di buku ini rasanya penulis menumpahkan seluruh unek-unek dan pemikirannya. Mulai dari sindiran halus tentang kehidupan penulis, perubahan kawasan Puncak, dan entah apa lagi (saya lupa) yang sebenarnya tidak terlalu berhubungan dengan cerita.
Kalau tentang kehidupan penulis, okelah, karena ini kan bercerita tentang kehidupan penulis, ya. tapi, pokoknya selama membaca buku ini, saya menangkap banyak sekali opini dari penulis, yang sebenernya nggak salah, kok. sah-sah aja penulis menuangkan berbagai pemikirannya, lah, emang itu tujuan menulis, kan. hanya saja, di buku ini rasanya meluber banget. bener-bener banyak dan beberapa sebenarnya nggak nyambung.
Saya malah berharap penulis lebih banyak bercerita tentang kehidupan Javier dan Duma sebelum berpisah, dan detik-detik menjelang perpisahan itu. memang sih, bagian itu diceritakan di akhir, tapi singkat banget. Saya merasa porsi Duma dan Javier kurang banget, mengingat di cerita ini, Javier digambarkan patah hati banget, sampai susah untuk menulis lagi.
Selebihnya, saya suka dengan kisah Bernadus Tirto dan Padma dan bagaimana kisah mereka ternyata berhubungan dengan Tanaya.
Di akhir kisah, kok saya sebel dengan sikap Javier, ya?
Aku hanya punya waktu tiga puluh hari untuk menyelesaikan cerita ini --atau tamatlah riwayatku. Ya, T-A-M-A-T.
Berawal dari dua kalimat pembuka itu, aku langsung tergelincir jatuh dan hanyut ke dalam kisah Javier yang ditulis oleh Jessica Huawe ini. Narasi dan dialog-dialog ringan kontemplatifnya membuatku berdebar-debar seperti jatuh cinta. Ya, jatuh cinta pada buku ini.
Tepat seperti endorse yang ditulis Maggie Tiojakin dan Andina Dwifatma, Javier benar-benar mewakili pergolakan jalan sunyi yang dialami orang-orang dengan profesi penulis. Narasi-narasinya menyuarakan jeritan hati dan penderitaan para penulis yang tengah sempoyongan dihantam writer's block.
Sosok seniman adalah pahlawan kehidupan yang sesungguhnya. Tanpa kiprah mereka, kita akan mengorbankan semua imajinasi kita pada altar realitas dan akhirnya tidak punya iman atau pengharapan terhadap segala sesuatu.
(Yann Martel, penulis Life of Pi yang dikutip oleh Javier)
***
Ceritanya sebenarnya ringan saja. Seorang penulis novel terkenal yang sudah mencapai penghargaan sastra nasional dan bahkan internasional, Javier, tiba-tiba harus dihadapkan pada kenyataan akan risiko pencabutan kontrak dari penerbit yang sudah membayar uang muka untuk novel terbarunya. Novel yang hingga kini belum ditulisi sebiji aksara pun. Tak hanya itu, ia juga terancam harus mengembalikan uang muka dari penerbitnya jika novel itu tak juga selesai dalam jangka waktu sebulan.
Tapi Javier benar-benar dilanda writer's block parah terutama setelah pernikahannya dengan Duma hancur. Akhirnya Javier pun menyelamatkan diri ke sebuah vila di Puncak yang kebetulan penuh dengan buku-buku sastra klasik. Di sanalah ia akhirnya menemukan inspirasi tak terduga bagi novel barunya. Di hari keduanya, cucu pemilik vila datang mengunjungi karena kabur dari kakek-neneknya yang terlalu penuntut. Gadis itu bernama Tanaya. Sikap spontan dan diskusi-diskusi semi serius bercampur selengekan bersama Tanaya pun mewarnai hari-hari Javier di vila.
***
Ada juga Saosan (nama apa ini???), sahabat Javier yang penulis produktif seolah tak pernah kehabisan ide. Saosan tetap mendukung Javier yang mulai kehilangan masa kegemilangannya dalam dunia sastra.
Namun, perhatian dua wanita itu tetap tak bisa membebaskan Javier dari bayang-bayang Duma. Di sela-sela deadline yang semakin mendekat, Javier terus dihantui kenangannya saat bersama sang mantan istri.
Ada dua resep untuk jadi penulis hebat: miliki masa kecil yang tidak bahagia atau kisah cinta yang menyedihkan (Javier, hal 28). Dengan getir Javier menertawakan dirinya yang seharusnya sudah menjadi penulis hebat karena memiliki dua hal itu. Ouch!
***
Cerita ini tak melulu hanya bicara soal Javier. Ada kisah berbingkai di dalamnya, tentang Bernadus Tirto, seorang prajurit berpangkat rendah yang dibuang untuk ikut operasi militer di Aceh gara-gara menghamili putri atasannya. Dan inilah cerita yang sedang ditulis Javier di vila.
Sayangnya, dominasi kisah Bernadus Tirto dan Padma, putri sang jenderal, di novel ini akhirnya malah terasa menjemukan. Jelas saja. Kisah cinta seberat itu dikompres dan difast forward, harus berbagi ruang dengan kisah Javier sendiri. Akibatnya, narasi Javier lambat laun kehilangan gaya berkisahnya yang membangun narasi secara perlahan-perlahan begitu buku ini sudah mencapai lebih dari separuh kisah.
***
ARGH! Aku nggak rela debaran hatiku dihambarkan begitu saja huhu. Bahkan akhirnya ketika cerita kembali ke kisah Javier, narasi, adegan, dan dialognya jadi ikutan datar. Seolah novel ini ingin cepat-cepat ditamatkan saja. Apalagi tindakan Tanaya yang tiba-tiba melanggar batas personal space dengan cara kolokan dan membuat kualitas adegan novel ini terjun bebas jadi seperti novel-novel menye yang dibenci Tanaya. Ironis.
Padahal, Tanaya dengan sikap dan isi pemikirannya yang terkesan spontan dan sembarangan sempat mengingatkanku pada ketengilan tokoh Midori dari Norwegian Woods-nya Haruki Murakami. Pesonanya langsung sirna begitu sikap kolokannya keluar begitu saja.
***
Namun, ternyata penulis menyimpan satu kejutan akhir tentang rahasia sumber inspirasi Javier Itu sempat membuatku kembali bergairah dan berharap-harap bisa menuntaskan novel ini dengan rasa puas.
Akan tetapi lagi-lagi harapanku dikhianati oleh ending yang... yang... ARGH!!!
Why oh why! Ya ampuuun, padahal kukira novel ini bisa dipoles dengan lebih memikat lagi. Kalau halamannya ditambah, terus narasi kisah Bernadus dan Padma dimasak lagi, pasti jadinya ciamik. Begitu juga dengan hubungan antara Javier, Saosan, dan Tanaya. Seharusnya ada lebih banyak adegan untuk membuat ikatan ketiganya jadi terasa lebih istimewa. Sayang sekali. Huhuhuhu.
Eman, Ya Allaaaaaaaaaaaah!
***
Meskipun begitu, Jessica Huawe dan Javier mengajariku bahwa menulis butuh kedisiplinan tinggi. Dan jika writer's block mengadang, mungkin ada baiknya kita mencoba keluar sejenak dari lingkungan sehari-hari kita, dan mencoba menulis di tempat baru, cara yang dipakai oleh Ernest Hemingway.
Juga bahwa mempertahankan stamina menulis agar jalinan narasi dari halaman pertama hingga akhir kualitasnya bisa terjaga dengan stabil, itu butuh perjuangan keras.
***
Kalau secara moral cerita, buku ini juga memiliki pesan menarik soal tanda-tanda hubungan abusif:
Aku rasa cinta memang mampu membuatmu bertoleransi, atau setidaknya menahan dirimu untuk memberi komentar yang tidak perlu dan kadang menyakitkan.
(Javier, by Jessica Huawe, hal 78-79)
Dalam naskah yang ditulis Javier, ayah Padma terlalu silau dengan status keluarga Robi, lelaki yang dimintanya mengawini Padma agar keluarganya terhindar dari aib. Padahal, ternyata kemudian Robi justru menyiksa Padma secara fisik.
Sedangkan kegagalan pernikahan Duma dan Javier juga memberi pesan bahwa cinta tak melulu hanya diisi dengan hal-hal manis ketika harapan kita dipenuhi oleh pasangan yang kita anggap ideal. Cinta justru diuji kekuatannya ketika salah satu pasangan jatuh ke dalam keterpurukan. Dan setiap kisah cinta yang diuji seperti ini tentu tidak mudah. Apalagi jika hanya ego dan emosi yang dikedepankan.
Goodybook menjual novel preloved dan novel baru. Aku mendapatkan dua novel prelovednya (termasuk Javier) dengan kualitas sangat bagus (kondisi tersampul rapi) dan harga yang sangat terjangkau. Bonus lagi, kertas buku-buku prelovednya punya wangi manis yang khas karena kayaknya Mbak Eka menyimpan buku-bukunya bersama pengharum ruangan tertentu.
I love the idea of the story how Javier, the author having writer's block and prefer quiet place to finished his deadline and ended with unpredictable ending, actually I wish Javier and Saosan are together. Favorite quote : . Manusia meromantisasi keberadaannya di dunia ini dengan menciptakan ikon superior bernama Tuhan. Manusia bermanja-manja dengan teori 'semua sudah ada yang menentukan'.. . Karena hidup idealis adalah hidup yang sunyi dan sepi.. . Menjadi orangtua bukan lagi perkara teknis biologis, tidak ada starter pack yang diberikan bersama sertifikat kelahiranmu. Saat menjadi orangtua, kau berpikir bahwa kau mendidik dan mengajar anakmu, padahal sesungguhnya kaulah yang terus menerus belajar dan diajar..
Ini karya pertama Jessica Huwae yang saya baca. Impresif sekali tulisannya. Mengalir deras membuat keburu ingin sampai halaman terakhir. Cerita tentang seorang penulis seolah menjadi refleksi mengenai proses kreatif dan keberadaannya yang timbul tenggelam.
Penulis mungkin pekerjaan riuh namun juga sekaligus sangat sepi
Pertama kalinya membaca tulisan Jessica Huwae. Judulnya ngasih kesan loveydovey ala chicklit banget. Tutur ceritanya tertata baik sehingga bab demi bab nyaman dibaca. Walaupun gak sulit menebak ke mana arah ceritanya, open ending-nya bikin bahagia.
Actually, 3.5 bintang. Setelah berkenalan dengan Galila, kali ini pembaca dikenalkan dengan laki-laki tampan yang baru patah hati bernama Javier. Plusnya lagi, Javier ini penulis lho.
gatau kenapa, kalo udah ngbahas dunia militer, aku semakin penasaran apakah rasanya menjadi seorang prajurit, juga pandangan anak kolong akan segala karangan dan pikirannya tentang dunia militer sama seperti yang ada di cerita.
waktu Papa Bernadus udah bisa ketemu Mama Padma lagi setelah beberapa bulan dipisah oleh Abah Usman, aku yakin, pasti cerita akhirnya Papa menculik Mama kemudian mereka akan melanjutkan kehidupan keluarga kecil mereka, mengurusi kebun kopi, dan segala macam urusan rumah tangga yang manis. tapi, imajinasiku salah besar waktu Abah menyembunyikan keberadaan Mama sampe sampe Papa aja gatau keadaan anaknya.
aku apresiasi kak Jess, bisaan ih bikin sudut pandang cerita dari kehidupan penulis, kayak lagi nontonin orang lagi nonton tivi. great job kak Jess, semangaaatt untuk karya karya kakak selanjutnya. terima kasih sudah menyebut kota Cimahi juga.
Javier, penulis yang kena writer block dengan ultimatum dari editor memutuskan untuk menyepi ke puncak. Pembaca diajak mengintip dunia penulisan yang dekat dengan kerja senyap.
Menurut aku novel Javier ini seruu, unsur romancenya , gambaran kehidupan penulis mulai dari writer's block, deadline dll semuanya bener - bener dapet banget.
Jadi, ceritanya bermula ketika Javier yang merupakan seorang penulis sedang mengalami Writer's block padahal dia harus menyelesaikan novel barunya dalam waktu 30 hari. Dia memutuskan untuk menepi ke puncak untuk mencari inspirasi sekaligus menulis novel barunya sebelum masa deadline. Disana, penulisannya dimulai dan dia bertemu dengan Tanaya.
Karakter favorit aku Saosan sih, dia udah baik, lucu, selalu ada dan pengertian banget ama si Javier.
Kendala yang aku dapet adalah aku awalnya Javier ini cewek, setelah karakternya dipanggil "Mister" aku baru ngeh kalau karakternya ini cowok hehe. Maklum, ga baca sinopsis dan kurang familiar juga dengan namanya.
Overall, ini seru dan worth it untuk dibaca. Buat kalian yang ragu mau baca apa ga, kata aku sih baca dulu ajaa, kali aja ini bakal jadi novel favoritmu, ga ada yang tau kan?