2,5 sih...
Sebenarnya yang menarik perhatianku ketika memutuskan untuk baca adalah kover bukunya yang bagus dan latar tempatnya yang di Borneo. Senang sekali diajak mengenal sisi lain dari pedalaman Kalimantan yang jarang terekspos dan mungkin takkan pernah bisa kuinjak tanahnya sampai kapanpun itu.
Aku punya beberapa keluhan ketika membaca, tapi sebelum kujabarkan kekurangan dari novel ini, mungkin baiknya kuberi beberapa point dulu mengenai apa saja yang aku sukai dari Halimun...
Kak Rina mendeskripsikan berbagai lokasi yang menjadi setting utama dinovel ini dengan sangat baik dan detail, membuatku dapat gambaran rinci mengenai bumi khatulistiwa yang eksotis dan penuh magis itu melalui kaca matanya. Dari sini aku jadi dapat banyak pengetahuan, mengenai suku Dayak dengan hukum adatnya yang masih berlaku dan disegani, tingkah polah masyarakatnya yang sangat terbuka kepada 'tamu' meskipun berbeda etnis, bahasa dan keyakinan, dan tentang kepercayaan mereka akan ritual/upacara dan hal-hal mistis lainnya yang membuatku meremang, semuanya diulas dibuku ini dengan begitu baik. Belum lagi pengalaman Aya sebagai kaum minoritas di tanah Dayak itu memberikanku banyak pelajaran tentang indahnya bersatu dalam perbedaan. Novel ini juga turut menyentil, mengenai ketimpangan pembangunan antara pulau Jawa dan Kalimantan yang semakin jelas, dengan sumberdaya serta kekayaan alamnya yang terus dikeruk serta dikuasai oleh tangan-tangan haus kekayaan. Kak Rina sangat lihai dalam menyelipkan berbagai pesan moral yang ingin disampaikannya.
Penggunaan diksinya juga sangat unik. Di hlm. 118 contohnya ada kata 'saput bedak' yang rasanya asing sekali ditelingaku. Ketika aku cek di KBBI ternyata artinya adalah lapisan atau pembalut tipis, sontak membuatku jadi ber-Oooooh panjang. Hahaha. Kayaknya aku harus mulai temenan sama kamus lagi nih untuk memperluas perbendaharaan kata Bahasa Indonesia-ku yang receh banget itu.
Terlepas dari hal-hal yang kusukai diatas, ternyata dibutuhkan perjuangan amat keras untuk aku akhirnya berhasil menamatkan novel setebal 212 halaman ini. Entah apa yang kurang dari gaya bercerita kak Rina TH. Selama proses membaca, aku dibuat susah sekali untuk tetap fokus pada alur ceritanya. Novel ini seperti tak punya ruh yang mampu mengikat pembacanya untuk tahan berlama-lama membaca tanpa harus dilanda bosan setiap 5 menit sekali. Serius.. banyak banget narasi dan dialog yang aku skip saking bosannya. Baca lima menit, break lima jam, sumpah... Kenapa sih aku?
Atau, kenapa sih Halimun ini? Dari segi cerita sendiri novel ini nyaris terasa datar. Tak ada konflik yang cukup berarti. Sebenarnya ada sih beberapa yang potensial mengangkat plotnya, seperti saat Aya berkali-kali dimutasi ke berbagai daerah, persaingan kerja yang akhirnya membuka kepribadian Udin yang suka menjilat, atau kisah asmara segitiga antara Puthy-Erick-Aya, itu semua kan konflik yang bisa dimaksimalkan. Sayang sekali penulis tak menaruh effort lebih dalam mendramatisirnya, semuanya hanya lewat begitu saja, kisah ini jadi tak mencapai titik puncaknya. Yup, novel ini gak ada klimaksnya sama sekali! Pun dari segi romens, konfliknya terasa kurang greget dan agak-agak nanggung. Malah terasa seperti tempelan belaka. Huf...
Dari segi karakterisasi cuma Aya yang oke, karakter lain tidak terlalu menonjol. Dan kalau boleh jujur, sampai sekarang aja aku masih bingung kalau disuruh membedakan antara karakter satu dengan lainnya. Mungkin karena deskripsi yang lemah membuat tokoh-tokohnya jadi tidak menarik dan gampang dilupakan.
Yah, overall aku memang kurang bisa menikmati jalan ceritanya tapi deskripsi mengenai Borneonya itu juaraaa!
Selamat membaca bagi kamu yang belum. Dan buat kak Rina TH, jangan berhenti berkarya!