Jump to ratings and reviews
Rate this book

Walking After You

Rate this book
Masa lalu akan tetap ada. Kau tidak perlu terlalu lama terjebak di dalamnya.

Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali kepadanya.

An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang tak bisa ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.

Pernahkan kau merasa seperti itu? Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia. Pernahkah kau merasa seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka.

Mungkin, kisah An seperti kisahmu.
Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.

328 pages, Paperback

First published January 1, 2014

37 people are currently reading
860 people want to read

About the author

Windry Ramadhina

12 books824 followers
young woman with lots of interests, ambitions and dreams, which shattered into pieces, each surfaced as different face and waiting for itself to become whole once more time. her world came to architecture, illustration, photography, literature, business, and japan. used to known as miss worm in cyber world. shattering her pieces at kemudian.com and deviantart.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
277 (29%)
4 stars
428 (44%)
3 stars
214 (22%)
2 stars
18 (1%)
1 star
15 (1%)
Displaying 1 - 30 of 215 reviews
Profile Image for Nilam Suri.
Author 2 books141 followers
February 6, 2015
Sebenarnya aku segan memberi 4 bintang untuk buku ini. Sungguh, kalau bisa rasanya hanya ingin memberi 1 bintang. Bukan apa-apa, aku cuma kesal. Kisah dalam buku ini sukses membuatku mataku basah, dan aku harus mendongak berkali-kali agar air mataku tidak tumpah. Seperti orang sakit leher saja. Dan, aku benci menangis.

Oh, selain itu, ada kalanya aku kesal setengah mati pada Julian. Hufft. Ada apa sih dengan laki-laki itu, memangnya dia tidak bisa sedikit lebih manis, ya?

Tapi, buku ini membuatku terberengut dari dunia nyata selama beberapa jam, aku bahkan sampai mencuri-curi waktu membacanya di meja kerja. Dan buku ini berhasil membuatku jatuh cinta pada dunia kulinari. Tidak, aku tidak lantas bercita-cita jadi koki, aku hanya ingin mencari buku, menonton acaranya, dan hal-hal seperti itu saja. Tapi buku ini seolah memberi sedikit kilasan tentang betapa menakjubkannya dunia itu.

Oke, sejujurnya, buku ini luar biasa. Ceritanya akan memerangkapmu dan tidak akan melepaskanmu sampai ketika akhirnya kau membalik halaman terakhir. Aku bahagia membacanya. Menutup buku ini dengan desah napas lega sambil membayangkan langit dan air laut Italia yang biru.

Windry, bukumu ini bagus sekali.
Profile Image for Caca Venthine.
372 reviews10 followers
December 28, 2014
Manis. Semua yang ada di dalam ini manis. Ya ampuunnnn bisa dibilang cerita ini paling favorite di antara novel mak Windry yang udah gue baca.

Walau memang, konfliknya disini agak klise. Tapi tetep aja gk bisa bohong kalau cerita ini bagus banget. Baca ditemenin sama hujan, jadi berasa kya si Ayu ya. Inget Ayu? Si Goldilocks di novel London nya kak Windry. Wanita misterius penggila warna merah, dan selalu muncul di saat hujan. Iya, dia ada dalam cerita ini. Dan jadi gk sabar untuk baca kisah selanjutnya tentang si Goldilocks ini.

Bagaimana dengan ini cerita ini? An dan Arlet adalah kembar. Dari kecil, mereka sudah mempunyai passion masing2, dalam artian, An menyukai dan pintar memasak makanan Itali, dan Arlet penyuka kue. Hingga kejadian na'as itu terjadi. An dan Arlet menyukai lelaki yang sama, awalnya Arlet yang menyukai lelaki itu, Jinendra, hanya saja ternyata Jinendra lebih menyukai An. Sampai Arlet memergoki mereka berciuman. Akhirnya mereka berdua bertengkar dan menyebabkan Arlet meninggal karena kecelakaan.

An yang merasa bersalah ini akhirnya memutuskan untuk bekerja di toko kue sepupunya hanya demi menggantikan mimpi Arlet. Semua dilakukan An hanya demi mengenang rasa bersalah itu, walau dia sendiri pun harus memendam mimpinya sendiri.

Nahh ini nihh disini nihh yang bikin romantis. Koki di Afternoon Tea (toko kue sepupu An) awalnya gk suka sama An, karena An emang gk becus kerja, cuma bikin onar aja.. Intinya judes lah sama An. Hingga akhirnya mereka pun jatuh cinta. Oke silakan baca kisah selengkapnya ya.

Well, suka sama semua yang ada disini. Suka sama Julian yang pinter bikin kue, yang pemalu tapi galak sama asisten2 nya kalau mereka bikin kesalahan. Oh iya, entah kenapa prolog disini mengingatkan gue akan cerita2 dongeng. Manis, sedih, lucu, semua ada disini. Indah tulisan kak Windry yang 1 ini. Kadang di bikin ketawa, senyum, sampe nangis juga ada. Dan gk bisa berhenti senyum walau sudah di halaman terakhir. Entah kenapa gk mau kisah An dan Julian ini habis begitu aja. I want moreee and moreeeeeee...
Profile Image for Rendi Febrian.
Author 5 books82 followers
December 24, 2014
WARNING!!! INI MUNGKIN ADALAH CURHATAN, BUKAN REVIEW!!! JANGAN DIBACA DARIPADA NYESAL KARENA BUANG-BUANG WAKTU. SEKALI LAGI, INI CURHATAN BUKAN REVIEW



This book make my heart melt and warm like a candle--alay!

But, that's true. Heartwarrming, loveable, and memorable too. Gue suka banget sama karakter Arlet. Nggak tau kenapa. Mungkin, sedikit banyak ngingetin gue sama diri gue sendiri.

Cerita ini pun mengingatkan ikatan gue sama kembaran gue--Renni. Yes, An itu mirip Renni dan gue ngerasa gue mirip Arlet.

An egois, Renni begitu.
Arlet pemalu, gue pun begitu.

Punya kembaran memang lebih kuat ikatannya dibanding hanya sebatas saudara kandung. Kadang, ketika Renni patah hati, gue pun ngerasa perih. Atau ketika gue down pas tau kalau diri gue ini berbeda, Renni lah yang selalu bilang: "You still my lil brother. You are my twin. Kita berbagi tempat di dalam kandungan Mama. Kita berpegangan tangan di sana. Ari-ari kita bersatu. Apapun kamu, Ren, kamu tetep kembaranku dan aku cinta sama kamu apa adanya."

So, yeah! I love her so much too. Meski kadang kami cek-cok soal privasi. Iya, hal konyol kayak gitu. Kayak Renni yang suka makek laptop gue sembarangan, padahal video if you know what i pervert mean yang ada di folder download belum gue pindahin. Atau gue yang pakek kamar mandi di kamarnya karena kamar mandi gue ada tokek--gue selalu benci dan takut tokek! Semua hal-hal konyol itu. Semua hal-hal bodoh yang sering kami ributin.

Kesamaan gue sama Renni nggak begitu banyak. Muka kami pun beda jauh. Tentu, kami kembar cewek-cowok. Dia sebagai kakak, dan gue sebagai adik. Yang lahir duluan itu kakak, kata Mama. Karena Renni yang duluan, jadi Renni yang kakak. Meski pas kelas 1 SMP gue maksa gue yang mau jadi kakak karena gue cowok dan dia cewek. Gue harus melindungi dia, karena gue lah yang kuat di antara kami berdua.

Tapi itu salah!

Semenjak gue pulang ke Indonesia, gue langsung akrab sama Renni. Persamaan-persamaan itulah yang menjadikan kami kayak begitu. Gue dan Renni nggak suka makanan panas, setiap ada makanan panas bakalan kami bawa ke depan kipas angin buat didinginin. Kami harus makan pakek kecap manis. Itu harus! Suka ngemil es krim sebelum tidur daripada minum susu. Suka nonton film horor meski selalu tutup mata kalau setannya mau muncul. Sama-sama suka main PS! Cerewetnya sama. Tidur lebih suka lampu nyala dan ada suara TV yang menemani meski itu buang-buang listrik--maaf PLN! Kalo minum nggak mau pakek gelas, maunya langsung dari tempatnya--ini Mama selalu ngomel kalo ngelihat kami kayak begitu. Nggak suka daun kol. Ayam goreng is our favorite food ever! Yes, EVER!!!

Perbedaan banyak. Dragon Ball adalah kartun favorit Renni. Sedangkan gue Sailor Moon atau Power Puff Girls. Tiap hari minggu kami selalu rebutan remot TV. Masalahnya Dragon Ball disiarin di RCTI sedangkan Sailor Moon di Indosiar. PADA JAM YANG SAMA!!! Inilah yang memicu keributan tiap minggu pagi. Renni bisa main futsal, gue nggak bisa. Gue bisa masak nasi dan bikin sayur sop, Renni masak air aja gagal berkali-kali. Dia judes. Gue judes di dalam hati. Suka mikir, kenapa gue nggak bentak aja ya tadi? Kayak begitulah. Renni kalo pacaran tahan lama, gue tahan sebentar. Renni nggak cepat bosan, gue cepat bosan. Gue insomnia, Renni ketemu bantal langsung molor.

Dan waktu SMP, waktu gue menyatakan untuk melindungi Renni karena gue telah mengklaim kalo gue kakak dan dia adik, gue gagal! Waktu itu ada tawuran. Iya, tawuran! Nggak tawuran yang rame-rame banget. Cuman dua kelas aja, dan beda SMP. Pas tawuran itu, yang mengepalai adalah Renni. Kembaran gue yang bebal itu. Saat tawuran itu berlangsung, Renni nyuruh gue megangin tasnya dia sedangkan dia ngiket dasinya di kepala terus pakek ikat pinggang buat mukulin-mukulin lawannya. Renni nyuruh gue sama cewek-cewek kelas buat nyemangatin mereka. IYA! Gue yang malah nyemangatin dan ngelihat kembaran gue namparin muka-muka cowok SMP sebelah itu pakek ikat pinggang. Tapi tawurannya berhenti pas temen cewek penyemangat gue ada yang pingsan. Karena, dia kelempar sesuatu. Kami kira dia kelempar batu atau apa, eh, ini malah kelempar taik sapi kering. Kami juga diusir sama penduduk sekitar. Gue sama Renni lari nggak jelas buat kabur karena bakal dilapor ke polisi kalo masih ada di tempat tawuran nggak jelas ala anak SMP itu.

Atau yang ini. Pas Papa lagi benerin mobil dan Mama lagi masak di dapur. Papa manggil gue untuk bantuin dia benerin mobil, bantuin dia ngambilin tang dan obeng. Tapi bukan gue yang bantuin, Renni yang mau. Pas Mama nyari Renni untuk bantuin dia motongin bawang dan wortel, gue yang bantuin Mama. Papa di garasi dengan Renni benerin mobil, gue di dapur sama Mama masak makan siang. Kakak gue yang pertama dan kedua hanya bisa geleng-geleng kepala dengan sifat kami yang sangat-sangat tidak wajar!

Tapi, tentu aja semua itu akhirnya berhenti. Sama seperti di buku ini. Kami harus mulai menyesuaikan diri. Harus tau tempat kami di mana dan apa cita-cita yang kami mau. Waktu SMA, kami beda sekolah. Renni dianter pulang cowok waktu itu, mukanya merah, malu-malu. Sikapnya manis, nggak kayak cewek tomboy lagi. Pas dia masuk ke dalam rumah, dia langsung ngasih tau gue kalo dia jatuh cinta. Akhirnya bebek buruk rupa mau jadi angsa. Renni mulai ngerubah sikap dan penampilan. Dia suka pakek rok. Ke sekolah selalu pakek lipgloss dan kaus kaki warna-warni kayak orang gila, meski dia bilang itu lagi ngetrend di kalangan cewek. Meh!

Yah, well, gue pun berubah juga. Nggak mau punya teman akrab cewek semua kayak pas di SMP. Nggak mau takut-takut lagi kalo olahraga. Teman akrab di SMA gue semuanya cowok. Gue ikut klub basket. Dan juga ikutan jatuh cinta dan kena patah hati pertama sama kayak Renni.

Kami berdua nangis di balkon kamar, pelukkan. Janji nggak mau cepet-cepet jatuh cinta lagi. Tapi Renni berkhianat. Dua minggu kemudian dia punya pacar lagi. Gue pun akhirnya memutuskan pengen punya pacar lagi juga.

Dan yang paling nggak enak di antara semua itu, Renni pernah naksir pacar gue dan gue pernah naksir sama pacarnya. Kami bahkan pernah punya ide buat swinger--itu lho tukeran pacaran sampe sebulan atau dua bulan, tapi nggak jadi. Kami akhirnya sadar itu bodoh dan kami takut dikutuk sama Tuhan jadi ceker ayam. Ujung-ujungnya kami malah setuju buat mutusin pacar kami masing-masing biar otak kami kembali waras. Naksir orang terus orang itu naksir kembaran sendiri juga pernah. Gue yang mengalah. Toh, dia straight! LOL.

Baca penyesalan An di buku ini pun terasa pedih di hati gue. Selama gue lagi baca tiap lembar, gue membayangkan, gimana kalo gue buat Renni meninggal? Gue pasti akan sangat merasa bersalah dan nggak akan bisa maafin diri gue sendiri. Gimana kalo gue yang ada di posisi An? Adil nggak untuk Renni dan keluarga gue? Apakah bisa gue tetap hidup sedangkan kembaran yang gue cintai gue lah yang buat dia meninggal?

Tapi akhirnya gue tau dari buku ini. Setiap kejadian yang terjadi selalu ada maksudnya. Kalo gue nggak memaafkan diri gue sendiri, gimana gue bisa berdamai dengan kepergian Renni--ini berasa si Renni udah metong aja. Oke, Renni dan gue nggak akan ke mana-mana. Gue harap, setelah gue dan Renni tua nanti, gue lah yang pertama kali pergi. Biar gue nggak akan nangis dan merasa sakit kalo dia yang meninggal duluan. Tapi itu masih lama toh. Akhirat masih penuh, bumi masih butuh manusia nyeleneh dan alay kayak kami berdua. Jadi, kami akan tetap di dunia ini sampe tua dan ngelihat cucu-cucu kami punya cucu lagi. Preeettt!!!

Oke, itu aja curhatan gue. Maaf kalo ini bukan review. Kan udah gue ingetin di atas. Jangan lupa tekan like dan vote gue di Goodreads Curhaters Award oppp de yir, yeee! Baaayyy!!!


Oh, satu lagi, kesamaan gue sama Renni itu adalah...


sama-sama suka cowok :D

Yeay!!!
Profile Image for Echa.
285 reviews78 followers
January 3, 2015
Sebenarnya buku ini sudah tertumpuk di rak sejak 2014, saya nggak tahu kenapa harus menunggu tahun berganti untuk membacanya. It was a short read. Saya langsung hafal urutan plot dan kejadiannya, yang sebenarnya cuma berputar di sekeliling An flashback dan menyesalkan kepergian Arlet, An dimarahi Julian, An mengobservasi Ayu, An dikejar Jinendra. Repetitif.

Saya suka sama kata-katanya sih. Semanis kue-kue yang ada di menu Afternoon Tea. Saya juga dapet feel melankolis setiap ada setting hujan: hujan gerimis, hujan besar, badai. Tapi selain itu... kok datar ya? Saya baru beneran nangis waktu baca menu yang dibuat Arlet, begitu juga flashback yang menyertainya. Saya menyimpulkan tema sister love lebih mendominasi buku ini. Narasi An membawa setting maju-mundur mengingatkan saya akan Melbourne-nya Winna Efendi, yang juga kisah tentang kehilangan dan masa lalu, tapi konteksnya mantan dan nggak ada yang meninggal.

Saya merasa karakter Julian kurang dieksplorasi. Jinendra malah kelihatan dikembangkan dengan lebih baik. Yang saya dapat dari Julian ya itu... dia jutek, pemalu, superjaim, dan tidak ekspresif mengungkapkan perasaan. Saya acungi jempol buat An yang bisa berubah jadi orang yang sama sekali berbeda tiap ada Julian.

Overall, bacaan yang menarik, dan saya suka bagaimana An memecahkan semua konflik dan berdamai dengan masa lalu. Menghidupi mimpi-mimpinya lagi. Bikin saya betah membacanya cuma dalam dua kali duduk.

(Btw, saya baru sadar ini novel pertama Mbak Windry Ramadhina yang judulnya ada tiga kata. Sebelum-sebelum ini satu kata terus.)
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews298 followers
February 26, 2016
Bisa juga dibaca di http://www.kubikelromance.com/2015/02...

Mereka berbagi impian yang sama, ingin membuka sebuah restoran. Mereka juga belajar memasak dan bekerja di dapur yang sama. Arlet menyukai kue Prancis sedangkan Anise atau biasa dipanggil An, jatuh hati pada masakan Italia. Tapi, impian mereka sedikit berubah, An meninggalkan keahliannya, dia lebih memilih dapur yang salah, di mana An selalu membuat kekacauan. An meninggalkan impiannya sendiri menjadi koki masakan Italian dan memilih mewujudkan impian saudara kembarnya, dia pun bekerja di toko kue milik sepupunya, Galuh, menjadi asisten koki, di mana sang koki sendiri tidak pernah menginginkan seorang asisten.

"Tanganku bukan tangan koki kue."
"Itu benar. Tanganmu bukan tangan koki kue. Semua kacau kalau ada kau."

Tidak mudah bekerja di Afternoon Tea, An hanya mengerjakan perkerjaan remeh, sering kena omel, dia dilarang menyentuh bahan atau membuat kue. Julian adalah satu-satunya koki di Afternoon Tea, dia penguasa dapur. Dia sangat perfeksionis, harus sesuai dengan apa yang diinginkan, tidak boleh ada kesalahan sedikit pun, harus sesuai dengan resep yang dia buat sendiri, hanya resep dari Ju. Tidak jarang An diusir dari dapur. Sikap tegasnya di dapur diganjar akan rasa kue-kue yang tak terkira lezatnya, tidak ada yang meragukan keahlian Ju, An menyadari itu.

Dalam satu hari, tidak terhitung berapa kali dia memakiku cuma gara-gara hal sepele semacam ukuran kue yang berbeda lima milimeter, posisi stroberi di puncak tar yang miring sekian derajat, warna selai yang sdikit-hanya-sedikit-lebih pucat daripada biasanya, atau bahkan setitik cokelat leleh di tepi piring.

Hanya satu yang membuat Ju merasa bersedih, ketika salah satu pelanggan bernama Ayu, perempuan pembawa hujan memesan Souffle cokelat, dia selalu memesan menu tersebut dan duduk di tempat yang sama tapi dia sama sekali tidak pernah memakan pesanannya. An penasaran, dialah yang memakan Souffle cokelat Ayu yang tak tersentuh dan merasa kue yang sangat enak tersebut sangat disayangkan kalau dibuang. An pun meyelediki apa yang sebenarnya terjadi dengan Ayu dan mendapati kalau mereka mempunyai kisah yang sama.

Bagi Julian, bagi Arlet pula, kue bukan sekadar kue. Kue adalah keajaiban. Mereka berdua sama-sama percaya bahwa kehadiran satu potong tar yang cantik di atas meja bisa membuat seseorang tersenyum. Satu sendok krim yang benar-benar enak akan menjadikan hari orang itu sempurna. Dan, kalaupun sebelumnya dia mengalami hari yang buruk, maka kue adalah penawar pahit paling pas.

Untuk melepaskan masa lalu, yang harus kulakukan bukan melupakannya, melainkan menerimanya. Dengan menerima, aku punya kesempatan untuk belajar memaafkan diri sendiri. Aku tidak berkata ini mudah. Dan, ini akan butuh waktu. Tetapi, pada saatnya nanti, aku akan terbebas dari semua beban yang menekanku selama ini. Pada saatnya nanti.

Bisa dibilang buku ini adalah favorit dari Windry Ramadhina setelah Memori, saya sangat menyukainya. Masih ingat dengan postingan Buku-Buku Yang Bikin Lapar Akan Cinta dan Makanan? Beberapa tahun yang lalu saya mengumpulkan buku yang bertemakan kisah cinta dan masakan, di buku ini lah saya mendapatkan kepuasan, bisa dibilang terbaik yang sejauh ini saya temukan. Mulai dari konflik dan para karakternya, tidak ada yang mengecewakan.

Porsi kisah cinta dan bagian dapur sendiri sangat pas, saya menyukai segala sesuatu yang dikerjakan Ju, bagaimana dia sangat berkonsentrasi membuat kue sampai mengejar kesempurnaan, dalam bayangan saya dia seperti seorang koki yang memiliki bakat luar biasa tapi memilih bekerja sesuai dengan apa yang membuat dia bahagia, tidak mengejar ketenaran. An menjuluki Ju dengan sebutan Tuan Amat-terlalu-kelewat-serius kalau saya menjulukinya Tuan Amat-kelewat-kece-sekali, hahahaha. Sepertinya mbak Windry masih enggan meninggalkan karakter cowok yang sinis, jenius, kalau biasanya selengekan, si Ju ini lebih melankolis, pemalu, pendiam, dan tetap saja memenangkan hati saya :D

Sedangkan karakter An sendiri lebih ceria, suka sekali menggoda Ju. masa lalu An tidak langsung diceritakan, kadang hanya disisipkan sedikit ketika dia teringat akan sesuatu di masa kini, membuat saya tidak sabar membaca lembar demi lembar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara An dan Arlet, siapa Jinendra? Jujur sih, Jinendra juga menawan, intinya sih cowok yang pinter di dapur itu nikahable, hehehehe. Bahkan karakter pendukungnya pun bisa berpengaruh penting, lewat karakter Ayu saya juga lebih bisa merasakan apa yang dirasakan An, menemukan benang merah akan masa lalu mereka berdua. Berharap semoga London akan ada lanjutannya :p.

Bagian favorit adalah ketika An memaksa Ju mengajarinya membuat kue, juga bagian salah satu trik tentang teknik membuat kue. Inilah yang saya cari-cari dari buku yang bertema masakan, ada informasi seputar dunia dapur yang sekiranya bisa saya praktekkan langsung :D

An dan Arlet bercerita kepada kalian tentang impian, toko kue kecil di suburban, hujan setempat yang sendu, kenangan, dan penyesalan.
Kita semua pernah merasakan itu. Kita semua pernah melakukan kesalahan. Kita semua pernah berharap bisa memutar balik waktu dan mengulangi segalanya dari awal. Barangkali, lewat buku ini, kita-atau paling tidak beberapa di antara kita-mendapatkan cara untuk berdamai dengan masa lalu.

Buku ini recommended banget bagi yang mencari kisah cinta di dapur dan cowok melankolis :D

4 sayap untuk Angel in The Rain.
Profile Image for Abdul Azis.
127 reviews13 followers
December 21, 2014
Setaunya mba windry ngeluarin novel lagi gue gak sabar buat baca, dan pengharapan gue gak sia-sia. gue gak nangis cuman terhipnotis seharian baca novel ini aja ngasih gue kehangatan dan kesepian bersamaan. kehangatan dari cara sosok An mendeskripsikan Arlet dan kedekatannya tapi disisi lain dia menggambarkan gimana perasaannya terhadap kehilangan. ditengah halaman gue semakin suka campur kaget sama novel ini terlebih ada sosok - sosok lain yang sebelumnya ada di novel mba windry which is London. ok biasanya gue nulis review gak seformal ini cuman gue beneran suka, setingkatlah sama London. walau ada beberapa pertanyaan seperti pendeskripsian tempat yang kurang jelas, rumah nyokap bokapnya itu dibelahan Jakarta mana, tujuan An dan Arlet tinggal berpisah dari orangtuanya, nama keduanya yang katanya kembar identik tapi beda, dan terakhir kenapa harus dua cowok disini berawalan J? ngingetin gue sama novel J-series kak ChrisMo yang gak pernah selesai gue baca. yang sedikit menonjol dari novel ini alur dan seperti biasa mba windry punya cara penulisan yang rapih, lembut, dan ngalir. kalo boleh diurutin dari novel mba Windry yang pernah gue baca dari yang gue suka, novel ini bisa dijajaran ketiga setelah London dan tentunya yang pertama masih Montase. keep writing mba kalo bisa 'sampai tua, menebarkan cerita'. *semoga dibaca sama mba Windry* amin.
Profile Image for Ramadhania.
22 reviews1 follower
December 21, 2014
Senang banget saat bisa merasakan hangat lagi: perasaan yang muncul tiap selesai membaca karya Kak Windry.

Hujan, kue-kue, masa lalu. Tanpa mengetahui unsur-unsur itu pun, sebelum membaca saya sudah menyiapkan diri untuk kembali jatuh cinta pada tulisan Kak Windry. Dan begitu dibawa tenggelam oleh hal-hal tersebut, persiapan saya tidak sia-sia. Malah, saya jatuh teramat dalam dibuatnya.

Ada Ayu dan Gilang di sini. Yang sudah baca London: Angel, pasti mengenal mereka. *ada sedikit spoiler setelah ini, tidak bisa disembunyikan karena saya menulis ulasan ini via ponsel*

Sedikit sedih karena kisah mereka harus berakhir seperti itu. Entahlah, memang jalan seperti itu yang dipilih penulis untuk mereka, atau sengaja dibuat seperti itu supaya relate dengan penyelesaian masalah tokoh utama dalam novel ini. Yang jelas saya sebagai pembaca, akan senang sekali jika ada buku sendiri untuk mereka, mungkin, dengan akhir yang manis. *ngarep* :D

Saya suka sekali dengan Julian. X) Manis dan pemalu, cocok sekali untuk lelaki yang berprofesi sebagai koki kue.

Juga bagaimana dengan hubungan An dan Arlet. Lalu bagaimana cara An menerima masa lalunya.

Satu kata untuk novel ini adalah: manis. Oh, dua deng. Yang satu laginya adalah: heartwarming. :))
Profile Image for Yonea Bakla.
322 reviews36 followers
May 14, 2019
Lagi-lagi Mbak Windry menghadirkan kisah trauma masa lalu dan persahabatan. Tentang An dan Arlet. Antara Julian dan Jinendra. Kue Prancis dan Masakan Italia. Aku suka cerita dengan setting tempat serupa Cafe, dan novel ini membuatku merasa berada di dalamnya dan melihat konflik antar karakter.

Ada tokoh Ayu. Yang sudah baca London; Angel, pasti tau! Aku berharap Gilang muncul di akhir cerita. Haha. Ngaco. Ini kan bukan sekuelnya.

Sudut pandang orang pertama membuatku bisa mengikuti alur maju-mundur novel ini. Recomended buat yang sedang santai.
Profile Image for Nora Apriyani.
151 reviews
April 9, 2017
Berkisah tentang An, seorang gadis yang pandai memasak pasta, memiliki impian membangun sebuah Trattoria bersama saudara kembarnya - bernama Arlet - yang jago membuat aneka dessert.

Namun impian itu harus kandas ketika sebuah kecelakaan merenggut nyawa Arlet. Kecelakaan yang menurut An merupakan kesalahannya, hingga ia merasa harus menebus rasa bersalahnya itu dengan melupakan impiannya dan menggantinya dengan mewujudkan impian Arlet.

Salah satu caranya adalah dengan berhenti bekerja di La Spazia dan mulai bekerja di toko kue bernama Afternoon Tea - milik sepupunya bernama Galuh - sebagai asisten dari koki tampan namun amat-terlalu-kelewat serius bernama Julian. Seiring waktu muncul benih-benih cinta antara An dan Julian. Di saat yang sama muncul Jinendra, laki-laki yang sempat dicintai An tapi selalu dihindari An semenjak kematian Arlet.

Banyak hal yang di dapat An selama bekerja di Afternoon Tea, salah satunya adalah pertemuannya dengan sosok misterius - gadis pembawa hujan - bernama Ayu. An merasa memiliki kesamaan dengan Ayu, yaitu kesamaan pada terjebaknya mereka pada kejadian masa lalu.

*** *** ***

Setelah baca London : Angel, rasanya memang tepat sekali memutuskan untuk membaca buku Walking After You (WAY) ini. Tokoh Ayu yang sempat muncul di buku London, kali ini muncul di buku WAY ini dengan porsi yang lebih banyak. Namun jujur, menurut saya kehadiran Ayu di buku ini ga terlalu penting, seperti agak dipaksakan kemunculannya, sebagai 'persiapan' untuk buku lanjutannya yang berjudul Angel in The Rain (bagi saya Angel in The Rain itu seperti buku lanjutan London dan WAY ini).

Kembali pada buku WAY ini, saya suka plotnya yang rapi. Cara bercerita mba Windry pun memang keren, ga heran banyak yang muji tulisan beliau.

Baca buku ini, selain dapat kisah romansanya, juga dapat 'lapernya'. Laper dalam artian sebenarnya, karena di buku ini perut saya berhasil dibuat keroncongan ketika membayangkan kelezatan aneka masakan pasta dan berbagai dessert yang menggugah selera. Huhuhu..

Dan saya paling suka interaksi antara An dan Julian. Bikin senyum-senyum sendiri dan bikin gemeessss. Bisa dibilang, saya jatuh cinta pada tokoh Julian.

4 / 5 bintang untuk buku ini.

Saatnya lanjut ke buku Angel in The Rain.
Profile Image for Hani Mahdiyanti.
217 reviews37 followers
December 11, 2016
Ini memang bukan tipe novel yang sering Hani baca. Tapi Hani sedang ingin menjelajahi macam-macam genre, jadi Hani ingin mencobanya. Sebetulnya novel ini langsung selesai dibaca dalam sehari, tapi baru kali ini Hani sempat me-review.

Awal membacanya Hani sudah menganggap novel ini menarik. Bahasanya baku, tapi kalimat-kalimat dan pilihan katanya bagus dan deskripsinya jelas, jadi enak dibaca. Tapi ketika tiba pada deskripsi Julian, Hani jadi ragu. Cowok cantik pemarah dan perfeksionis? Ih, mendingan kabur jauh-jauh. Tapi An, si tokoh utama yang juga jadi narator sudut pandang pertamanya, tidak menyerah begitu saja. Dia harus berhasil di toko kue Afternoon Tea demi misinya.

Cerita kemudian bergulir seperti kisah sehari-hari sampai lelaki masa lalu An muncul. Cerita jadi runyam. Pace-nya meningkat menuju konflik. Ketika konflik menghangat, Hani baper maksimal. Bukan hanya karena peristiwanya, tapi juga karena kalimat-kalimat yang diucapkan tokoh. Penulis pandai membuat kalimat indah yang quotable. Selain kalimat indah, resep-resep makanan enak di dalamnya membuat perut lapar. Souffle, macaroon, parfait, hmm.. siapa yang nggak kepingin coba? Tapi kue-kue semacam itu mahal sih, jadi Hani cuma bisa membayangkannya saja.

Kalau tentang karakter, Hani nggak terlalu suka dengan karakter An yang kekanak-kanakan dan galau. Julian juga agak kekanakan, tapi perfeksionisme-nya lumayan. Arlet terlalu sempurna seperti malaikat yang membuat Hani sangsi dan curiga kalau ada orang semacam itu. Karakter yang menurut Hani normal adalah Galuh, dewasa dan bertanggung jawab, tapi bisa bercanda juga.

Sesekali baca cerita baper boleh juga, nih. Apalagi kalau ada cemilan manisnya. Duh, lapar...

Hani membaca cerita ini setelah membaca cerita yang menegangkan. Lumayan bisa membuat ketegangan mencair dengan manisnya isi cerita...
Profile Image for Alexia Chen.
23 reviews7 followers
August 12, 2017
Hanya satu kata yang mampu mewakili buku ini. Indah. Buku ini sangat indah. Tulisan dan kisah di dalamnya begitu indah. Aku suka semuanya, terutama bagian 'pelangi di dalam botol kaca', aku sangat menyukainya. Membaca buku ini membuat perasaan menjadi hangat. Beruntung sekali aku masih bisa menemukan buku ini :)
Profile Image for Ernoz Seyipz.
101 reviews6 followers
May 5, 2017
Julian nggemesin tapi Anise saya engga suka sifatnya😀. Review paling absurd😂
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
January 7, 2015
"Barangkali, kenyataan tersebut—bahwa aku belajar membuat masakan Italia sejak kecil, tetapi kini justru menjadi asisten koki kue—terdengar tidak masuk akal bagi Om Gondo dan Julian. Namun, aku punya alasan untuk bekerja di Afternoon Tea. Ada yang harus kuwujudkan. Sesuatu yang sangat penting.
Sesuatu yang... menghantuiku selama dua tahun."

Sewaktu menyelesaikan buku ini, aku bingung antara memberikan rating 4.5 atau 5 untuk buku ini; tetapi pada akhirnya buku yang manis ini berhasil memperoleh nilai 5/5 dariku. Tahun lalu, buku Windry Ramadhina yang berjudul Interlude berhasil menjadi salah satu buku favoritku, dan kali ini ia pun tidak mengecewakanku. Cerita yang sendu ini mengusung tema kehilangan dan penyesalan; dan dituliskan dengan sangat manis seperti kue-kue yang terlibat di dalam kisahnya. Padahal baru beberapa hari aku menjalani tahun yang baru, tetapi lagi-lagi aku menemukan buku yang berhasil melibatkan emosiku sewaktu membacanya (yah, atau mungkin juga perpindahan tahun ini membuatku jadi lebih melankolis dan sentimental).

Walking After You diceritakan dari sudut pandang Anise, yang memulai semuanya dengan memperkenalkan pembaca pada dirinya dan kembarannya, Arlet. Sejak kecil keduanya tertarik pada hal yang berbeda, Arlet selalu mencintai kue-kue Prancis, sedangkan An lebih berminat pada masakan Italia. Dan kemudian kisah berpindah ke beberapa tahun kemudian, saat An akan memulai masa kerjanya di Afternoon Tea, sebuah toko kue yang dimiliki oleh sepupunya, Galuh. Dan seiring berjalannya cerita, perlahan-lahan An mengungkap masa lalunya bersama Arlet lewat sejumlah kilas balik; hingga alasan yang mendorongnya untuk bekerja di Afternoon Tea, meskipun ia tidak tahu apapun tentang membuat kue. Separuh awal buku ini berhasil membuatku penasaran tentang keberadaan Arlet dan apa yang terjadi antara saudara kembar ini. Dan yang terjadi berikutnya adalah sederet kejadian yang membawa An berdamai dengan masa lalunya. Bagian favoritku dari buku ini adalah momen-momen manis antara An dengan Julian. Aku juga dibuat cukup penasaran dengan peran Ayu, si gadis pembawa hujan, dalam kisah ini—dan tentu saja aku tidak akan memberikan spoiler bagi kalian yang belum membaca :)) (Dan aku baru sadar bahwa karakter Ayu ini pernah muncul dalam buku Windry Ramadhina yang berjudul London: Angel . Apakah Ayu akan mendapat porsi ceritanya sendiri di buku yang lain?) Ending-nya cukup memuaskan untukku, meskipun memang bukan penyelesaian yang dapat membuat semua orang bahagia. Dan aku juga tahu bahwa berusaha menerima atau bahkan melupakan sebuah penyesalan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sehingga aku merasa buku ini diakhiri dengan cara yang paling realistis :) Buku ini juga berkali-kali membuatku lapar sambil membayangkan semua kue-kue yang disantap oleh An. Tidak lupa juga karakter Julian yang masih berhasil membuatku mesem-mesem sendiri bahkan hingga akhir ceritanya :)))
"Kalau saja bisa, aku ingin masuk ke foto dan kembali ke masa itu. Aku ingin mengubah apa yang terjadi berikutnya seperti yang diperbuat oleh Ashton Kutcher dalam The Butterfly Effect, karena di titik itulah aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku."
...

Baca review selengkapnya di:
http://www.thebookielooker.com/2015/0...
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,044 reviews1,965 followers
January 12, 2015
Korban buaian permainan diksi Windry yang asik dan akhirnya membaca sebuah karya terbarunya. Selain karena resensi mengatakan bahwa buku ini juga tidak kalah bagusnya dengan judul sebelumnya.

Gaya Bahasa dan Kosa Kata
Siapapun yang sudah pernah membaca karyanya Windry Ramadhina pasti paham betul bagaimana cara dia meramu kata-kata sehingga menjadi nyaman untuk dibaca. Ringan. Namun tentu saja, ukan Windry namanya kalau tidak bermain dengan istilah baru dalam bukunya. Kali ini dengan tema mengenai dunia kuliner khususnya kue, pembaca diajak mengetahui lebih banyak istilah dalam dunia tersebut. Tenang saja, meskipun di dalamnya ada perpaduan bahasa Italia maupun Perancis, tetapi kali ini pembaca dibantu dengan catatan kaki. Syukurlah, pemberian penjelasan tersebut (bagiku) sudah menuruti aturan sebagaimana mestinya.

Plot
Kembali lagi aku beri tahu, pola dan gaya penceritaan Windry bagiku dapat mudah dikenali, dan untuk pembaca setianya aku rasa sudah kenal dengan bagaiamana plot ini berjalan. Maju dan mundur. Mundur untuk menjelaskan latar belakang tokoh sekaligus yang memberikan pencerahan pembaca terhadap sebab si tokoh berada pada posisi tersebut. Meskipun, untukku ceritanya lumayan mudah tertebak (hint: auranya hampir sama dengan Looking for Alaska-nya John Green).

Penokohan
Unik! Diceritakan menggunakan sudut pandang orang pertama yang ternyata memiliki saudara kembar. Jangan bingung dulu! Sudutnya tidak berubah, tetap tokoh An lah naratornya. Keberadaan Arlet, kembaran An, juga kuat (wajar sih, namanya juga kembar pasti saling menguatkan). Sedangkan tokoh seperti Julian juga tidak dapat diabaikan begitu saja. Namun bagiku, meski Jinendra dihadirkan sebagai tokoh utama juga (ya nggak sih?) sosoknya kurang mendominasi. Kisahnya kurang banyak disinggung. Tetapi, memunculkan dua tokoh laki-laki dan dua tokoh perempuan sepertinya bisa dianggap sebagai ide yang bagus kan?

Yang Menarik
Tanpa aku sadari, salah satu ciri khas Windry adalah dia selalu memberi informasi kepada pembacanya perihal arti di balik nama tokoh-tokoh utamanya. Dan percayalah, pasti berhubungan dengan ide utama cerita.

Ohya, ini juga hal yang kusuka. Windry seakan (eh tapi memang sih) menyisipkan kisah tokoh dari bukunya yang lain. Kalau pembaca sudah pernah membaca buku-buku sebelum karya terbarunya ini, pasti akan cepat mengerti di bagian manakah kisah itu ;) Semacam trivia tapi aku suka (dan tentu menarik)!

Windry tidak hanya menulis untuk menghibur pembacanya, namun juga mengedukasi. Apalagi kalau tidak dengan menebarkan banyak informasi baik itu hanya sebatas istilah maupun tata cara akan suatu hal. Tampaknya ia memang sosok yang suka berbaggi ya. Aku tidak membayangkan seperti apa riset yang dilakukannya sebelum menulis cerita ini (dan aku yakin, dia akan butuh seorang pustakawan, percayalah!).

---

Iya ini bias, tapi aku jatuh cinta dengan Windry Ramadhina (ditambah ia menyebutkan nama Ken Hirai dalam cerita!! Oh, jangan lupakan ia suka dengan Laruku <3). Kalau kamu mau mencicipi rasa asam manis suatu cerita, aku rasa buku ini tidak rugi untuk kamu baca.
Profile Image for Anisa.
84 reviews7 followers
February 27, 2015
Manis, hangat, sedih, dan ada kesan jenaka juga mewarnai buku ini. Baru pertama kali baca buku karya mbak Windry, sebenarnya udah cukup lama sih tahu sama penulis yang satu ini tapi baru berniat baca karyanya sekarang, dan alhasil aku sangat menyukai Walking After You Ini :)

Menurutku ceritanya sederhana dan tidak asing. Cerita tentang dua gadis kembar yang memiliki impian yang berbeda, yang begitu dekat sehingga tidak bisa terpisahkan, dan kisah keduanya yang mencintai laki - laki yang sama, sudah cukup sering kita jumpai.

Kehilangan, penyesalan, rasa bersalah, kenangan pahit adalah hal - hal yang sering mewarnai kisah - kisah romantis. Tapi buku ini mampu menghangatkan hatiku sekaligus membuat aku pilu, dan disaat yang bersamaan juga mampu mengundang gelak tawa. Tookoh Julian di buku ini benar - benar konyol.

Aku menyukai cara mbak Windry bercerita, serius dan terselip humor di saat yang bersamaan. Banyak mengandung kata - kata bijak. Aku sangat setuju bahwa masa lalu tidak perlu kita lupakan, kita hanya harus menerimanya. Buku ini membuat aku sadar akan hal ini.

Mbak Windry sangat tahu tentang masakan italia dan kue - kue manis beserta tempat - tempat dan koki - koki terkenal. Sudah pasti ia menyukai kedua jenis makanan tersebut. Sehingga membuat novel ini menjadi lebih hidup. Mbak Windry menggunakan sudut pandang orang pertama, yang jelas menurutku akan lebih sulit digunakan dibanding sudut pandang orang ketiga. Ketika menggunakan sudut pandang orang pertama, penulis harus benar - benar menjadi tokoh 'aku' agar karakter yang diciptakan tidak hanya ada dalam buku, dan ia mampu melakukannya.

Terus terang, saat membaca buku ini aku benar - benar masuk ke dalam kehidupan di buku, pada kehidupan An dan Arlet, ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Dan, bagiku inilah yang dinamakan dengan kesuksesan seorang penulis, mampu membawa pembaca ke dalam dunia ceritanya.

Tapi yang kurang dari buku ini menurutku adalah kurangnya interaksi di dalam keluarga An. Ya, setidaknya kan inti konflik di buku ini terletak pada Arlet, adik kembar An. Setidaknya peran orang tua lebih banyak diselipkan. Selain itu, alurnya terlalu lambat membuat aku terkadang merasa bosan dengan jalan cerita yang itu - itu saja.

Baru pertama kali baca karyanya, aku jadi penasaran sama London dan Montase yang katanya sangat bagus :)

Profile Image for Inazhni Risti.
Author 1 book1 follower
January 2, 2015
Satu hari menjelang pergantian tahun, saya terdampar di toko buku dengan satu daftar yang teronggok di note ponsel; isinya judul-judul buku rekomendasi dari teman-teman yang saya tanyakan satu malam sebelumnya. Apesnya, buku-buku rekomen mereka nggak satu pun nongol di komputer pencarian saat saya ketikkan. Tapi saya ogah pulang dengan tangan hampa, saya tetap harus beli buku.

Buku apa? Nggak tahu.

Kaki saya berkeliling dan terdampar di rak buku yang penuh sama buku terbitan Gagas Media. Lalu saya melihat buku ini. Covernya menurut saya biasa aja, blurbnya juga, tapi nama penulisnyalah yang pada akhirnya membuat saya menyambar buku ini dan membawanya ke kasir. Windry Ramadhina, ya. Saya baru satu kali membaca karya Kak Windry, yaitu Montase--dan meskipun alur ceritanya cukup biasa, saya suka banget sama novel satu itu. Saya ngefans banget sama cara penulisnya berkisah; indah dan sangat heartwarming. Muncul sebuah ekspektasi bahwa novel yang ini juga tidak akan mengecewakan saya.

Dan ekspektasi saya terjawab.

Menurut saya, ceritanya sederhana dan simpel, plotnya juga cukup biasa. Tema seseorang yang terjebak di masa lalu tentunya sudah banyak kita jumpai di novel-novel yang beredar di pasaran. Tapi seperti di Montase, penulisnya bener-bener jago berkisah. Kak Windry berhasil menyulap ide/plot yang "klise" ini jadi bener-bener indah. Anget. Heartwarming. Saya hanyut dalam alur, dalam konflik, dalam percabangan yang muncul. Beberapa kali saya sempat dibuat berkaca-kaca, beberapa kali dibuat senyum-senyum, beberapa kali saya laper :| Soalnya setting novelnya sebagian besar di toko kue, dapur, dan restoran; dengan tokoh-tokoh pecinta dunia kuliner pula =)) Kenyanglah saya dengan segala deskripsi dan istilah-istilah di dunia kuliner. Endingnya cukup bisa ditebak, namun berakhir dengan pas. Manis :')

Dan saya suka banget sama Julian. Cowok manis yang tsundere total, galak tapi sebenernya sayang. Kelemahan saya bangetlah pokoknya cowok-cowok macem begini orz;;

Saya hampir nggak menemukan kelemahan, baik itu dari segi cerita maupun typo. Intinya, novel ini jadi buku pertama yang saya tamatkan di tahun 2015--dan sebagai pembuka, Walking After You berhasil jadi pembuka tahun yang manis. Suka! <3
Profile Image for Yuli Pritania.
Author 24 books286 followers
May 1, 2015
Buku pertama yang saya baca tahun ini. Sengaja, tempat istimewa ini memang harus diberikan pada karya Mbak Windry, penulis Indonesia yang paling saya favoritkan.

Tidak ada satu pun karya Penulis yang mengecewakan bagi saya. Kenapa begitu? Karena saya paling mencintai para penulis yang berhasil menuliskan novel sesuai dengan cara bercerita yang saya inginkan. Seperti impian, "Ah, kalau saya nulis, saya ingin gaya berceritanya begini. Setelah konflik ini akan seperti ini." Saya menemukannya pada karya-karya Mbak Windry, juga pada karya Winna Efendi yang Unforgettable. Baru dua penulis ini yang 'mewujudkan impian-impian' saya itu.

Membaca ini membuat saya banyak bertanya-tanya ada apa antara Ayu dan Gilang? Kenapa mereka nggak bisa bersama? Masalah kepercayaan apa?
Dan selama membaca, saya udah gemes sama An dan Ju yang sudah saling 'mendekat', tapi selalu gagal. Saya menantikan ciuman mereka, manis saja kesannya. Terutama saya pengin tahu reaksi Ju dan mukanya yang memerah. Tapi nggak ada *protes*

Saya suka nuansa pada WAY. Sendu. Juga hujan yang selalu saya favoritkan. Dan konfliknya yang tidak berlebihan. Serta kue-kue, dapur, dan Italia, yang sering saya selipkan pada tulisan-tulisan saya, sebentuk doa bahwa suatu saat saya juga ingin pergi ke sana. Hahaha...

Seperti Mbak Windry, saya paling suka menulis dengan kata ganti 'kau', bukan 'kamu'. Selain membuat tulisan jadi lebih enak dibaca dan ditulis, bagi saya itu juga untuk menyamaratakan panggilan pada semua orang. Bisa digunakan untuk percakapan antar lelaki, karena pakai 'kamu' bakal jadi aneh dan bikin geli, sedangkan saya nggak suka kalau pakai gue-elo. Tapi entah kenapa, di novel WAY ini, ada beberapa dialog yang membuat saya berpikir bahwa akan lebih nyaman jika menggunakan 'kamu'. Juga nuansa. Saya memang suka, tapi nuansa novel ini lebih terasa Eropa, dibanding Indonesia. Kalau setting-nya tidak disebutkan di mana, saya pasti berpikir ini bertempat di Italia atau negara Eropa lainnya.
Tapi bagaimanapun, saya suka setiap bagiannya. Ya, kapan sih Mbak Windry gagal bikin saya jatuh cinta dengan karya-karyanya? *ngegombal*
Profile Image for Dhyn Hanarun .
329 reviews203 followers
February 25, 2015
"Kalau dipikir-pikir, ini ironis. Setiap kali suasana hatiku berubah buruk karena Julian, aku memakan kue buatan lelaki itu untuk menghibur diri." – halaman 28

Anise, yang biasa dipanggil An, mulai bekerja di Afternoon Tea, toko kue milik sepupunya, Galuh. Dia mendapat posisi sebagai asisten koki untuk membantu Julian, koki utama dan Gen, penghias kue. Berbeda dengan Gen, Julian tidak menunjukan sikap ramah sama sekali. Dia berkali-kali memarahi An karena sering mengacaukan dapur dan kue-kuenya. An menanggapi semua itu dengan ringan dan tetap teguh. Dia mengakui dia memang tidak pandai memanggang kue, dia sebenarnya lebih pandai memasak pasta dan menu Italia lainnya. Bekerja di toko kue adalah impian saudari kembarnya, Arlet.

Salah satu pelanggan setia Afternoon Tea, Ayu, sedikit banyak mengingatkan An kepada dirinya sendiri. Perempuan yang selalu membawa hujan dan memesan Soufflé cokelat tanpa memakannya sama sekali, hampir mirip dengan perjuangan An untuk meneruskan impian Arlet. An jadi penasaran dengan Ayu dan memperhatikan segala detail tentang perempuan itu. Selain itu, saat Julian mulai menerimanya di dapur, An bertemu kembali dengan Jinendra, bosnya saat masih bekerja di restoran La Spezia. Jinendra berharap An kembali ke restorannya dan menerima cintanya lagi.

---

Cerita Walking After You ini sangat manis sekaligus sedikit sendu dan seperti yang kuduga aku ‘tenggelam’ di dalamnya. Seperti novel-novel sebelumnya, ceritanya punya topik(, tema atau aku tidak tahu tepatnya) yang terhubung langsung dengan profesi dan kehidupan para tokohnya. Kali ini tentang makanan, khususnya kue dan menu Italia. Karena tidak terlalu suka makanan manis, apalagi kue dengan banyak krim, aku kesulitan menikmati bab-bab yang membahas kue. Giung. Namun aku benar-benar ‘tergugah’ dengan deskripsi menu Italia-nya. Aku malah berniat mencari tahu lebih banyak, mungkin mulai membeli buku resep dan coba memasaknya :9

Baca review selengkapnya di sini -- http://dhynhanarun.blogspot.com/2015/...
Profile Image for Deta NF.
234 reviews6 followers
April 27, 2015
I don't give the review for this book yet, forget. Hihi. The fourth novel of Windry I've read after Memori, London and Montase. Frankly, as far as I read her books, Montase still become my most favorite and this is the second one. Hihi.

Tentang An dan Arlet, perempuan kembar yang memiliki impian masing-masing. Arlet dengan kue-kue Prancisnya dan An dengan masakan Italinya. Namun mereka memiliki tujuan yang sama yakni mendirikan trattoria. Arlet mencintai Jinendra, laki-laki penyuka saus salsa verde dan mahir memasak masakan Italia. Begitu pun dengan An, hal yang membuatnya menyesal seumur hidup dan harus bergumul dengan masa lalu kelam di setiap harinya. Adalah Julian, koki kue di Afternoon Tea yang membuat hari-hari An terasa tidak terlalu kelam dan Ayu, pengunjung Afternoon Tea yang juga memiliki peran penting bagi An untuk lepas dari penyesalannya.

Kelam, sendu namun di waktu yang bersamaan mampu memberi kenikmatan karena deskripsi makanan yang tertuang. Saya semakin menyukai style menulis Windry yang kaya akan diksi elegan yang terangkai membentuk kalimat-kalimat indah. Windry selalu pandai membuat karakter yang memorable. Hanya saja, terkadang, saya tak menyukai An atas sikap plinplannya terhadap Julian dan Jinendra. Juga perilaku dia yang tak bisa menolak ciuman Jinendra bahkan ketika pikirannya tengah terpaut pada Julian. Saya sempat tertipu tentang Arlet. Ternyata dia..... ah sudahlah. Menjelang ending, kisah An dan laki-laki yang ia pilih sangat manis. Saya senyum-senyum sendiri ketika membacanya. Ah ya, novel ini happy ending *spoiler*
Profile Image for Pattrycia.
351 reviews
February 9, 2015
Novel ini berkisah ttg sepasang anak kembar dengan mimpi yang berbeda. Sedari kecil An dan Arlet sudah jatuh cinta pada dunia kuliner. An dengan pasta2 Italianya dan Arlet dengan kue2 Prancisnya. Mereka selalu bersama2 dari kecil hingga beranjak dewasa. Arlet bahkan ikut sekolah masak di Australia bersama An, padahal lebih baik jika ia belajar ttg kue2 di Prancis. Kehidupan mereka bisa dibilang blissful, sampai suatu hari mereka jatuh cinta pada seorang koki terkenal bernama Jinendra. Pada malam maut tsb mereka bertengkar hingga menyebabkan kematian Arlet. Sejak itu pula An selalu dihantui rasa bersalah. Ia berniat untuk meneruskan mimpi Arlet yang gemar membuat kue Prancis & mengabaikan passion nya terhadap pasta2 Italia. An pun diajak sepupunya Galuh untuk bekerja di toko kue miliknya. Di sana ia bertemu dengan pastry chef berbakat bernama Julian. Julian yang dingin & kaku sangat tidak suka dengan An yang dianggapnya pengacau. An memang ceroboh & suka melakukan banyak kesalahan. Puncaknya ketika ia merusak nama baik toko kue Galuh yang berakhir pada pemecatannya. Akankah An berhasil untuk mewujudkan impiannya & Arlet?

Ceritanya tipikal cerita Mba Windry, tokoh2 dengan segudang emotional baggage & masalah dari masa lalu yang belum dituntaskan, dibumbui dengan porsi romance yang pas sehingga menjadi satu cerita yang tidak terlalu bitter, juga tidak terlalu sweet. Tapi endingnya itu berasa nanggung bgt, krn cm happy for now. Saya suka cara berceritanya Mba Windry. 3*** buat kisah An & Arlet!
Profile Image for Novia  Fajrina.
2 reviews2 followers
February 17, 2015
Pertama, buku ini membuatku ingin memakan semua lembarnya. Aku serius dibagian itu!

hahaaa.... skip kalimat itu.

Kembali kepada kisah AnJu ...
Mereka membuat saya menyadari kalau kisah mereka nyata dan saya salah satu penderitanya.
Masa lalu selalu menjeratku ketika aku ingin bangkit. Aku terus saja takut dan berlari. Tapi An dan Ju mengajarkanku untuk tidak melarikan diri. Dan aku sangat berterima kasih untuk itu.
#WalkingAfterYou memiliki banyak kutipan yang sangat membekas.

Salah satunya pada hal. 256 "...Pelangi yang muncul setelah hujan adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja."

Aku suka setiap omong kosong yang dikatakan Arlet. Ahh.. Arlet bisakah kita berteman. Aku membutuhkan hal-hal manis yang selalu kau ciptakan.

Sekali lagi, kisah yang disuguhkan Mba Windry tak mengecewakan. No typo. No boring. No regret.

Tak rugi kok 5 bintang kutekan. hehehee ^^
Profile Image for Amanda Bahraini.
70 reviews11 followers
December 13, 2014
Novel karangan Windry Ramadhina favorit saya #2 setelah Memori :) Sekali mulai baca gak bisa berhenti sebelum tamat. Itupun baca endingnya pake berkaca-kaca, mungkin karena bisa relate dengan apa yang diceritakan di dalamnya *padahal emang cengeng*.

Untuk yang suka dengan novel2 kuliner, terutama yang berhubungan dengan pasta Italia dan pastry Perancis, novel ini recommended banget :)

Terus untuk bahasanya, seperti yang selalu saya bilang, Windry Ramadhina adalah satu2nya penulis yang saya tahu menulis dengan sangat rapih, tapi sama sekali tidak terasa kaku (IMO). Terpukau banget deh sama bahasanya.

Sekedar tips, sebelum baca novel yang satu ini, akan lebih klop kalau baca novel Windry yang berjudul "London : Angel", tapi kalaupun tidak, novelnya masih bisa dinikmati dengan sangat sangat sangat maksimal. Penulisnya sejago itu :P hahhahaha.

Selamat membaca!
Profile Image for Oktabri.
147 reviews4 followers
June 12, 2015
keseluruhan cerita tergambar dari covernya, kurang lebih. latar permukaan kayu usang, menggambarkan nuansa shabby chic yang kental di sepanjang cerita, macaron yang manis seperti arlet, ju, dan hubungan an dengan keduanya, serta secangkir kopi (espresso, barangkali) yang mewakili pekatnya an dan jinendra, dan hubungan keduanya dengan arlet yang berada di antara mereka. paket lengkap yang... hem, diracik dengan sangat matang. dua tahun masa penulisan, meski diselingi dengan kesibukan penulis yang luar biasa (termasuk menuntaskan karya-karya lain), membuat buku ini seolah mengembang sempurna bak souffle mahakarya ju yang menggugah selera.

dua kali baca, dua kali merasa sendu yang sama :')
Profile Image for Gistii Adistie.
19 reviews2 followers
March 10, 2015
Walking After You.

Pertama yang membuat saya tertarik pada buku ini adalah covernya, baru saya ingin membaca sinopsisnya. Tanpa pikir panjang saya langsung menggenggam buku ini dan membawanya ke kasir. Begitu saya membaca prolog dan kalimat pembukanya, membuat saya tidak bisa berhenti membaca.

Dalam buku ini saya menyukai sosok An. Meskipun An dan Arlet adalah anak kembar. Alur ceritanya klise sebenarnya, tapi cukup menarik. Dan aku suka penggambaran tentang "Afternoon Tea", 'cause I love cupcakes so much. Jadi bisa membayangkan semanis apa toko kue itu. Well, saya lebih suka buku yang ini daripada "montase".

I recommend this book!

Profile Image for Tias.
130 reviews
May 2, 2015
Awalnya bingung, kenapa sosok Arlet terkesan disamarkan. Setelah mencapai halaman ke sekian, sudah mulai ada gambaran konfliknya gimana.

Di Walking After You ini, lebih menekankan tentang bagaimana kita menghadapi masa lalu, entah itu mengelak atau menerimanya. An harus memilih di antara keduanya. Baik masalah Arlet-kembarannya, ataupun Julian.

Lucu rasanya membayangkan ekspresi Julian saat digoda An. Pada akhirnya an tetap harus memilih. #review-macam-apa-ini? review-paling-berantakan #yang-penting-hepi
Profile Image for sifa fauziah.
52 reviews
June 10, 2016
Aku suka sosok Ayu di sini, aku suka caranya menatap hujan, menikmatinya, juga melebur bersamanya. Aku suka dengan gerak-gerik tingkahnya yang misterius namun terselip suatu alasan yang kuat. Aku suka cara Ayu mencintai Gilang, lebih tepatnya mengenang Gilang. Meskipin ini hanya cerita, aku berharap Ayu memiliki akhir yang bahagia.

"Sudah saatnya kau melepaskan masa lalu. Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Hujan pasti berhenti. Setelahnya, kau akan melihat pelangi.
Pelangi yang muncul setelah hujan adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja."
Profile Image for Lady Dey.
81 reviews6 followers
May 17, 2015
alurnya menarik. ya, lagi2 atau mungkin selalu saya jatuh dan terpana pada karya2 mbak windry. makasi, mbak windry telah menambah kotak2 inspirasi menulis saya.
komentar sedikit mengenai goldilocks, si ayu. baik di london maupun di walking after you, kemunculannya yang sempet saya anggap antara ada dan tiada ternyata dengan caranya sendiri ia berpengaruh pada jalannya cerita dan ending. selalu membuat penasaran pada bukan tokoh utama.
Profile Image for Siti Robiah A'dawiyah.
174 reviews23 followers
December 27, 2014
"kata Arlet, pelangi adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja". Kekhasan penulis yang menuturkan kisah dengan detail dan manis. Heartwarming ^^ Review in Blog
Displaying 1 - 30 of 215 reviews

Join the discussion

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.