Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kamisan: Orang Silih Berganti Aksi Ini Tetap Berdiri

Rate this book
Sebagai gerakan kolektif korban pelanggaran HAM dan masyarakat sipil yang dilandasi oleh keteguhan, solidaritas, dan kerelawanan, melalui buku ini Aksi Kamisan mencoba merefleksikan makna kelahiran dan perjalanannya selama 18 tahun.

Dalam tulisan-tulisan mereka, para keluarga korban dan penyintas menunjukkan kegigihannya dalam menuntut agar para pelaku pelanggaran HAM yang hari ini bercokol di pusaran kekuasaan diadili. Sementara anak-anak muda dengan lugas menceritakan pengalaman dan pelajaran yang mereka ambil dari Aksi Kamisan. Hasilnya pun suatu pemaknaan yang personal sekaligus beragam terhadap Aksi Kamisan—sebagai refleksi spiritual dan teologis ikhtiar melawan ketidakadilan, sebagai usaha menumbuhkan kesadaran kritis, sebagai wahana untuk mengangkat isu-isu lokal, sebagai refleksi kerentanan sekaligus perlawanan perempuan, serta sebagai upaya merawat memori kolektif dan solidaritas antargenerasi.

Di tengah impunitas yang semakin dinormalisasi, Aksi Kamisan akan terus hadir untuk melawan arus pewajaran bahkan pembenaran atas kejahatan-kejahatan HAM yang diperbuat oleh negara tersebut.

176 pages, Paperback

Published May 27, 2025

Loading...
Loading...

About the author

Dian Purnomo

11 books181 followers
Dian Purnomo lahir di Salatiga tanggal 19 Juli 1976. Dia menyukai membaca dan menulis sejak bisa membaca, mengasah kemampuan menulis dengan berbalas surat dengan kawan-kawan SD dan SMP-nya.
Mantan pekerja radio yang dibesarkan oleh grup Prambors dan FeMale radio ini, telah menulis 12 novel dan antologi cerita pendek.
Belajar tentang kriminologi khususnya perlindungan anak dan perempuan, juga keadilan lingkungan, membuatnya banyak merenung kembali tentang karya.

Kerja-kerja penelitian di isu-isu sosial, dari mulai perempuan dan anak yang dipenjarakan di Puska PA dan Kriminologi UI, kekerasan berbasis gender di Yayasan Gemilang Sehat Indonesia, perlindungan anak dan krisis iklim di Save the Children, migrasi aman, kesehatan seksual reproduksi di OnTrack Media Indonesia membuatnya banyak belajar dan mengubah tema-tema karyanya.

Setelah vakum menulis selama enam tahun, dia akhirnya menemukan warna baru tema-tema karyanya. Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam menandai metamorfosanya. Novel yang ditulis setelah mendapatkan grant Residensi Penulis Indonesia 2019 selama enam minggu tinggal di Sumba tentang kawin tangkap ini, menandai perjuangannya dalam bentuk novel.

Novel ini akan diterbitkan dalam bahasa Polandia pada musim gugur 2025.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
22 (66%)
4 stars
10 (30%)
3 stars
1 (3%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Ms.TDA.
304 reviews8 followers
June 25, 2025
Penyajian 17 tulisan ini mendatangkan banyak memori peristiwa serta pelanggaran2 HAM yang dilakukan oleh negara ke masyarakat nya sendiri. Kenyataan bahwa kita mengingat suatu peristiwa bukanlah karena peristiwa itu penting bagi kita, peristiwa itu menjadi penting karena kita mengingatnya. 😞

Kelam? SANGAT!! Tapi kalau tidak vokal, ya sejarah semua itu akan dilupakan dan dipelintir oleh mereka2 yg berkuasa!! Sekecil apapun suara kita, tetap lah bersuara di lingkungan sekitar sebagai upaya yg lambat laun akan membukit.

Buku ini BAGUS!! Semua org HARUS BACA!! agar tidak dibutakan oleh sistem negara yang semakin hari semakin tak menentu mau dibawa kemana!🫵🏻

Hidup korban! Jangan diam! Lawan!
Profile Image for Juinita Senduk.
124 reviews3 followers
June 24, 2025
Diawali dari tantangan yang dilontarkan Dian Purnomo, seorang penulis yang pada Aksi Kamisan ke-822 memberikan kuliah jalanan, "Siapa yang mau menulis buku tentang Aksi Kamisan bersama saya?" pada peserta aksi yang sebagian besar lahir setelah tahun 1998.

Dua bulan kemudian, dari126 tulisan terpilihlah 17 tulisan yang mewakili kondisi penegakan HAM di Indonesia dan Aksi Kamisan di berbagai kota.

Saya mengetahui Aksi Kamisan sejak aksi ini pertamakali dilakukan dan hanya berada di Jakarta. Ternyata Aksi Kamisan pun berlangsung di Makasar, Padang, Bengkulu, Kalimantan Timur, Bandung, Salatiga, Yogyakarta, Purwokerto.

Saat saya membaca tulisan pertama yang diawali oleh Ibu Maria Katarina Sumarsih, Ibunda dari Wawan, berjudul "Aksi Kamisan: Ruang Perjuangan dan Estafet Harapan", .. Korban/keluarga korban sudah banyak yang meninggal dunia, tetapi semakin banyak anak muda yang datang ke Aksi Kamisan. Kehadiran anak-anak muda ini meberi harapan terwujudnya negara demokrasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, sebagaimana yang diperjuangkan gerakan mahasiswa tahun 1998."

Saya memiliki pertanyaan yang sama seperti Nicolas Duarte dalam tulisannya yang berjudul "Menanti Kamisan Terakhir", ... sampai kapan Kamisan akan berlangsung?.

Membaca 17 tulisan yang sebagin besar ditulis oleh mereka yang lahir setelah reformasi membuat saya bahagia, ternyata Aksi Kamisan yang tidak saja berfokus pada peristiwa 98, namun berbagai peristiwa yang melanggar Hak Asasi Manusia, mampu menebarkan semangat bagi generasi muda untuk terus berjuang dan melawan, menyuarakan kebenaran.

Sampai kapan? Jawaban jujur yang saya temukan lewat tulisan Fr. Feliks Erasmus Arga, SJ, "Apakah ingatan ini akan tetap terjaga dengan baik? Hanya kami - generasi muda - yang dapat menjawabnya. Semoga kami memilih untuk menjaga ingatan tersebut. Semoga kami memilih untuk memperjuangkan keadilan di mana pun kami berada."

Dan harapan saya pun saya seperti yang dituliskan Nicolas Duarte, "Saya berharap suatu hari nanti benar-benar akan ada Kamisan terakhir. Hari ketika keadilan akhirnya ditegakkan, kasus-kasus pelanggaran HAM diselesaikan, dan para penjahat kemanusiaan mendapatkan hukuman yang setimpal."

Sebagai seorang yang lahir di zaman Orba, mengalami peristiwa 98, ternyata ada banyak pelanggaran HAM yang tidak saya ketahui secara utuh atau terlupakan. Dan dari buku inilah saya belajar kembali dan merawat ingatan saya.

Jangan Diam!. Lawan!
Profile Image for Doni.
12 reviews
August 4, 2025
Aksi Kamisan adalah aksi untuk mengingat kembali bahwa kekerasan pada Hak Asasi Manusia itu masih ada dari dulu sampai sekarang tanpa ada penyelesaiannya.
30 reviews
August 6, 2025
Buku ini memuat kumpulan cerita orang-orang terkait kesan, keterlibatan, dan keterikatan mereka terhadap Aksi Kamisan. Kata Pengantar dari Yati Andriyani (KontraS) dan Usman Hamid (Amnesty International Indonesia) cukup memberikan informasi dasar mengenai apa itu Aksi Kamisan dan bagaimana dia bisa berlangsung di Indonesia. Sedangkan, tulisan Ibu Maria Sumarsih, Ibu Suciwati, dan Pak Bedjo Untung sebagai korban secara langsung, memberikan gambaran emosi yang dirasakan oleh pihak korban. Tulisan mereka memberikan pengingat tentang pengalaman pahit yang benar-benar terjadi mengenai pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh negara. Dari pengalaman tertulis itu lah, kita sebagai pembaca bisa memahami urgensi Aksi Kamisan dilaksanakan.

Lalu, cerita-cerita lainnya yang memuat pengalaman orang-orang sebagai pihak tidak langsung—entah sebagai partisipan Aksi Kamisan atau yang membantu para korban—memberikan refleksi tentang bagaimana masing-masing dari mereka memiliki kesan tersendiri terhadap Aksi Kamisan, juga cara yang berbeda-beda dalam memaknai aksi kolektif tersebut. Aku pribadi relate dengan tulisan Jané Arenga yang mulai mengetahui Aksi Kamisan dari hobi membaca. Penulis hinggap dari satu buku ke buku lain untuk memahami tragedi kelam Indonesia di masa lalu, menarik benang merah dari tragedi-tragedi tersebut, kemudian turut beraksi melalui Kamisan. Itulah cara paling praktis, mudah, semacam "How to Act 101". Sebagai seseorang yang masih jauh dari aktivisme non-digital, saya merasa dari membaca lah kita memperkaya pengetahuan kita, juga memompa keberanian kita untuk pada akhirnya berani mengambil sikap, seperti halnya yang dilakukan oleh Jané.

Selain itu, tulisan Miftahul Hidayat tentang memori kolektif, serta tulisan Abdul Munif Ashri mengenai politik memori, menjadi bekal penting untuk mengetahui ruh dari Aksi Kamisan sendiri, yakni ingatan. Miftahul dan Abdul menjelaskan memori sebagai pengetahuan yang kemudian dapat mengkerangkai pemahaman kita mengenai Aksi Kamisan itu sendiri. Dua tulisan tersebut menggambarkan bagaimana merawat memori atau ingatan atas suatu hal buruk yang terjadi di masa lalu, yang dilakukan oleh institusi besar semacam negara, adalah kepentingan bersama. Aksi Kamisan bergerak dengan mekanisme tersebut.

Secara keseluruhan, saya merasa buku ini bisa menjadi Pengantar singkat mengenai apa itu Aksi Kamisan. Meskipun, saya pribadi merasa akan lebih baik jika para pembaca bisa memiliki pengetahuan terlebih dahulu mengenai aksi tersebut sebelum membaca buku ini. Karena, buku ini tidak benar-benar memberikan Aksi Kamisan 101, dimulai dari apa, siapa, bagaimana, dan mengapa secara gamblang. Namun, pembaca harus jeli menangkap pesan tersembunyi dari masing-masing tulisan mengenai apa, siapa, bagaimana, dan mengapa-nya Aksi Kamisan ini. Barangkali ada pembaca yang berharap mendapatkan Aksi Kamisan 101 secara praktis, buku ini bukan untuk Anda. Namun, buku ini penting untuk memperdalam pengetahuan serta keterikatan emosi Anda mengenai Aksi Kamisan. Oleh karena itu, bukan berarti buku ini tidak layak dibaca untuk seseorang yang belum mengetahui Aksi Kamisan, namun saya menyarankan supaya sebelum membaca buku ini, Anda perlu mencari tahu dulu mengenai Aksi Kamisan secara praktis.
Profile Image for hardlyinventive.
3 reviews1 follower
June 25, 2025
It is always a perfect time to “preserve” (merawat) the messages of Aksi Kamisan, a pillar of human rights symbol in Indonesia. A book that will stay with you for a long time.
Profile Image for Miu Rara.
28 reviews
January 21, 2026
Buku ini memberikan informasi mengenai Aksi Kamisan dan apa saja sebenarnya kasus yang terjadi mengenai pelanggaran HAM di Indonesia.
Mengira bahwa kamisan ini hanya menceritakan mengenai kejadian 1998 saja namun, setelah mengenali 17 cerita yang menyampaikan awal mula Aksi Kamisan mengubah hidup mereka, menjadi wawasan baru bagi saya (gen z) kaum yang terbutakan oleh sejarah Indonesia yang tidak sesuai dengan keaslian nya. Bahwa buku ini mengajak anak muda yang lain untuk mengenal lebih dalam tentang sejarah kelam Indonesia, yang banyak memakan korban pelanggaran HAM. Sangat di sayangkan dengan berlangsung nya Aksi Kamisan ini pemerintah tidak merespon dengan baik, sampai detik ini pelaku belum di adili. Sudah mati demokrasi di Indonesia, maka dari itu

Jangan diam, lawan!
Profile Image for Karang.
6 reviews
April 12, 2026
Buku yang bakal bikin pembacanya merinding dengan segala peristiwa yang terjadi di sekitar tahun 1998. Isu yang cukup serius tapi dibalut dengan gaya bahasa yang ringan membuat buku ini sangat mudah dipahami. Buku ini juga mengingatkan kita untuk selalu merawat ingatan akan peristiwa pelanggaran HAM berat yang terjadi pada negara beberapa tahun silam yang hingga kini masih belum kunjung mendapatkan keadilan. Akan ada banyak detail dari buku ini yang menyadarkan kita untuk selalu memaknai peristiwa pelanggaran HAM berat sebagai suatu peristiwa yang menodai harkat kemanusiaan. Selain mudah dipahami, jumlah halaman dari buku ini yang cukup tipis membuat buku ini dapat diselesaikan dengan waktu yang singkat.

Anyway, hidup korban! Jangan diam, lawan.
Displaying 1 - 8 of 8 reviews