Jump to ratings and reviews
Rate this book

Reuni Berdarah 1995

Rate this book
Di balik keindahan Kota Surakarta yang terkenal akan keramahan penduduknya, tersimpan kisah cinta yang terendam dalam darah dan air mata. Raiden Zidane Adanu kembali setelah menghilang selama setahun tanpa kabar, membawa serta rahasia yang tak mampu ia ungkapkan bahkan pada Aimara Edlyn Safa, kekasih yang setia menunggunya dengan ribuan tanya yang tak terjawab.

Takdir berkata lain ketika keadilan terguncang oleh kepentingan penguasa kampus. Saat suara-suara protes mahasiswa mulai membahana di langit Surakarta, Zidane dan kawan-kawannya terjebak dalam pusaran tragedi berdarah yang merenggut nyawa dan menguji cinta. Karena terkadang, mencintai di tengah kemelut zaman berarti merelakan apa yang tak bisa dimiliki—dan menemukan kebahagiaan dalam perpisahan yang tak terelakkan.

356 pages, Paperback

Published May 1, 2025

20 people want to read

About the author

Yumnaany

1 book

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (16%)
4 stars
1 (16%)
3 stars
2 (33%)
2 stars
2 (33%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
1 review
December 1, 2025
Pertama-tama, mari kita akui: idenya keren di atas kertas. Seorang mahasiswa hukum idealis, punya trauma keluarga, adik perempuannya jadi korban kekerasan seksual, lalu dia berjuang melawan sistem kampus yang busuk. Ada bahan sosial, hukum, gender, politik kampus, bahkan warisan luka keluarga

Dari struktur, penulis sepertinya sangat ingin meniru Laut Bercerita—prolog dengan suara arwah yang mendalam, kilas balik ke masa perjuangan, lalu epilog penuh luka. Tapi plot twist-nya malah jadi Laut Bercinta.
Prolognya udah bikin pembaca siap nangis—sampai akhirnya kita sadar, si tokoh utama nggak mati beneran. Lah, kagetnya tuh bukan sedih, tapi keki. Udah disiapin tisu, malah dikasih plot twist: ternyata ini drama keluarga yang dibumbui sedikit aktivisme biar kelihatan intelektual.

Bab-bab awal cuma berisi nostalgia dan percintaan, bukan persahabatan atau ideologi. Jadi begitu teman-teman Zidane mati, pembaca nggak punya stok emosi buat peduli. Karena ya... siapa mereka? Geng ngopi-nya Zidane? Tukang tepuk tangan di adegan kampus? Semua datar.

Ambil contoh Daru. Dikasih latar masa kecil tragis—dihajar bapaknya, teman sepermainan Zidane sejak SD—tapi baru dipakai lagi buat jadi korban penyiksaan sampai mati. Bahkan ibunya baru muncul pas adegan duka, lengkap dengan air mata template. Ini bukan character depth, ini karakter cameo buat jual kasihan.

Jonas lebih absurd lagi. Anak kedokteran yang sekarat tapi masih bisa berpikir puitis. Lah, Mas, paru-paru udah remuk, tapi masih bisa nyusun sajak tentang keadilan di kepala? Nihilisme versi Shakespeare kali ya. Padahal dia sama sekali nggak pernah menunjukkan minat sastra atau kepekaan sosial sepanjang novel. Karakter seperti Jonas itu kayak diciptakan semata-mata biar ada yang mati heroik, tapi lupa disuntik nyawa dulu sebelum dikorbankan. Dan Pak Jonathan, sang ayah jurnalis—ini manusia atau mesin faksimili? Seluruh perannya cuma jadi saluran berita dan alat distribusi naratif. Anakmu mati, reaksimu? “Aku sudah berfirasat buruk, tapi ini takdir.” Lah, gimana, Pak, ente tuh jurnalis investigasi, bukan dukun pasrah! Bisa-bisanya karakter dengan potensi sebesar itu cuma dijadikan stempel “korban punya ayah berpengaruh.”

Lalu, plot logic-nya… Tuhan, dari mana aku harus mulai?

Jadi gini: Zidane kuliah di Surakarta. Adik tirinya kuliah di Yogyakarta. Pelaku—anak ketua yayasan kampus Surakarta—melakukan kekerasan seksual di kampus Yogyakarta. Zidane kemudian cuti setahun dari kampus Surakarta buat ngurus kasus di kampus Yogyakarta yang bukan wilayahnya, bukan kasusnya langsung, dan bahkan dia bukan mahasiswa hukum di sana. Dan semua ini dilakukan tanpa dia tahu bahwa pelaku itu anak ketua yayasan kampusnya sendiri.

Bayangkan absurdnya itu kalau diterjemahkan ke dunia nyata. Seorang mahasiswa hukum di Solo tiba-tiba datang ke kampus Yogyakarta, teriak “saya ingin keadilan!” lalu kampusnya bilang, “oke, kamu boleh cuti setahun.”
Dosen pembimbingnya pasti bengong: “Mas, kamu ini mau sidang atau mau jadi LSM?”

Kalau tujuannya realistis, Zidane bisa aja bolak-balik Yogya–Solo tiap akhir pekan, bantu adik tirinya kumpulkan bukti, atau bahkan konsultasi ke LBH (Lembaga Bantuan Hukum). Itu jauh lebih masuk akal dan tetap bisa kuliah sambil menulis paper hukum yang relevan. Tapi dalam novel ini, cuti setahun itu cuma biar ada momen Aimara menatap jendela, menulis puisi, dan bilang “aku masih menunggu.”

Pram, si pelaku kekerasan seksual sekaligus anak ketua yayasan, adalah parade klise yang disamarkan jadi “luka batin.” Trauma karena ayahnya gonta-ganti wanita katanya jadi alasan dia memperkosa perempuan. Sekali lagi, trauma bukan izin moral, dan novel ini memperlakukannya kayak pembenaran instan. Dan parahnya, si Pram ini enjoy banget jadi nepo baby—main ancam, main relasi, tapi tetep nongkrong di mobil mewah sambil mabok. Lah, katanya trauma, kok betah di privilese? Kalau mau bikin pelaku kompleks, ya kasih lapisan psikologis, bukan cuma “aku begini karena ayahku hypersex.”

Konflik: Zidane diculik bareng tiga temannya. Dua diseret keluar, satu selamat karena... ayahnya tiba-tiba datang nyelamatin. Lah, gimana caranya? Ketua yayasan sendiri yang nyuruh preman, terus ayah Zidane bisa tiba-tiba masuk ke lokasi, negosiasi, dan nyelamatin anaknya tanpa ada saksi lain. Ini bukan film aksi, ini Fast & Furious: Kampus Edition.

Dari sisi Pram, harusnya yang paling ia benci memang Zidane. Zidane yang membuatnya dikeluarkan dari kampus Yogyakarta, Zidane yang menyeretnya kembali ke sorotan publik lewat aksi dan berita, Zidane yang simbol penggagal egonya. Maka kecuali Pram benar-benar kehilangan kendali, ia mestinya akan membunuh Zidane duluan—bukan malah “menyisakan” dia.

Terus Zidane malah pura-pura mati. NURUT aja disuruh ayahnya. Padahal dari awal digambarkan benci sama ayahnya karena selingkuh dan karena nggak berani melawan sistem. Dia memang protes ke ayahnya "kenapa cuma aku yang diselamatkan" tapi dia nggak bicara pasal KUHP atau apa yang menunjukkan dia mahasiswa Hukum. Padahal penculikan dan pembunuhan itu KASUS PIDANA. Atau setidaknya gini deh, kenapa nggak langsung ke kantor polisi begitu lolos? Ajak aparat ke TKP, siapa tahu Daru dan Jonas masih bisa diselamatkan. Kan dia nggak lihat mereka udah mati kayak pembaca. Tapi nggak, dia malah kabur. Dua teman mati, tapi emosi Zidane datar kayak dosen baca daftar presensi. Tidak ada grief, tidak ada survivor’s guilt, malah lebih mementingkan "Tresno, tolong jagain pacar gue."

Dan ngomong-ngomong soal Tresno, dia ini kandidat "teman paling absurd dalam sejarah sastra kampus Indonesia." Disuruh nyampaikan puisi cinta Zidane ke Aimara, ya nurut. Padahal mereka bukan cinta segitiga, nggak ada latar perasaan, nggak ada konflik batin. Dia cuma jadi tukang pos emosi orang lain. Lalu yang ngelanjutin demo siapa? Tresno juga. Lah, jadi siapa yang hero sebenarnya? Zidane yang kabur, atau Tresno yang masih di lapangan?

Lanjut ke Aimara. Cewek ini kasihan banget, nggak dikasih ruang hidup selain jadi objek cinta dan penderitaan. Dari awal sampai akhir, fungsinya cuma dua: nunggu Zidane dan jadi simbol moral di orasi. Dan dia orasi untuk sahabatnya, Drini—korban kekerasan seksual—tapi sampai klimaks pun nggak ada korban lain yang speak-up. Jadi demo besar itu sebenarnya bukan revolusi sosial, tapi pesta solidaritas personal.

Dari tema besar, ini mau bicara kekerasan seksual di kampus—isu yang seharusnya berat dan butuh ketelitian riset. Tapi di sini, dua korban sepanjang novel. Dua! Adik tiri Zidane dan sahabat pacar Zidane, kasusnya berhenti di lingkaran personal sempit. Tidak ada korban lain yang speak-up, tidak ada sistem yang ditelanjangi. Semua berhenti di “karena dia anak ketua yayasan,” seolah itu kartu UNO +4 yang mengalahkan semua logika hukum. Padahal di dunia nyata, kalau mau bikin satir tentang kampus bobrok, ada banyak dinamika: tekanan publik, media, mahasiswa pro-reaksi, birokrat kampus panik citra. Tapi di sini, semua datar.

Semua karakter di novel ini berfungsi kayak figuran dalam film utama Zidane Cinematic Universe.

Dan ya Tuhan, ayah Zidane, Hadiyatma Andanu, yang tahun 1974 menamai anaknya Raiden Zidane Andanu.
Nggak tahu apakah ini hasil pengaruh mimpi, penggemar anime masa depan, atau dia punya mesin waktu dari Jepang. Dua anak cewek dinamain Anjani dan Wina, tapi anak cowoknya dikasih nama kayak karakter Final Fantasy IX dan pesepak bola Prancis. Keren sih, tapi absurd buat nama bayi Indonesia generasi X.

Terakhir, mari kita bahas emosi dan penutupan.
Epilog tahun 2015 itu cuma pemanis pahit. Zidane ketemu Aimara lagi, dari jauh, dengan gaya sinetron “aku sudah bahagia meski tanpamu.” Lah, padahal dia udah nikah dan punya anak, Aimara juga udah punya anak—dan dia ngeliatin aja kayak stalker nostalgia.

Jadi kesimpulannya: Reuni Berdarah 1995 punya ambisi jadi novel perlawanan politik dan trauma sosial, tapi jatuh jadi fanfiction aktivis dengan subplot cinta yang salah ruang dan salah naskah.
Semua potensinya dikubur di bawah tumpukan plot absurd, karakter yang cuma tempelan, dan logika yang nggak ikut demo waktu naskah disusun. Prolog bilang: “Ini kisah seorang martir.” Tapi epilog bilang: “Nggak ding, bercanda. Dia hidup bahagia dengan identitas baru, cuma agak mellow aja kalo liat mantan.”

Nilai akhir: 1,8/5.
Tambahan 0,3 poin karena berani ngomong soal isu kekerasan seksual di usia segitu (meski pelaksanaannya salah kaprah). Sisanya… takdir, katanya.

Kalau disusun ulang dengan fondasi karakter dan logika yang lebih kuat, ini bisa jadi novel yang tajam dan emosional—mungkin bahkan relevan di tengah wacana PPKS dan politik kampus modern.

Dan hei, untuk penulis muda yang baru mulai? Sudah bagus berani menulis isu seperti ini. Setiap novel pertama memang harus “salah dulu” agar bisa belajar menulis dengan darah yang lebih jujur. Novel ini jauh dari sempurna, tapi semangatnya sudah di jalur yang benar.
Profile Image for Zidan Sabri.
5 reviews1 follower
July 10, 2025
bagus bangett sihh dan banyak plot twist yang tak terduga 😭😭, "awal nya agak kecewa karna isi nya romance semua politik nya sedikit", itu pikiran ku saat ak baru baca setelah dari buku nya, dan setelah ak baca semua nya baru ak sadar kalau buku ini bukan hanya tentang kisah cinta belaka, dan banyak part yg bikin mewek 😭😭
Profile Image for Bela Pitria Hakim Nugraha.
263 reviews
August 4, 2025
Aku baca buku ini dengan metode fast reading, dan setelah selesai… rasanya campur aduk. Jujur, ceritanya masih bisa dikembangkan, baik dari sisi ketegangan, kedalaman karakter, maupun pembangunan konfliknya.

Aku yakin penulis sudah mencurahkan banyak tenaga dan waktu dalam menyusun cerita ini.

Plot-nya punya potensi, terutama dengan latar tahun 1995 dan unsur reuni berdarah yang bisa jadi sangat mencekam.

Buku ini masih sangat baru dan belum banyak yang memberi ulasan, jadi aku ingin tetap memberi ruang agar pembaca lain bisa ikut menilai.

Secara keseluruhan, itu menurutku, tapi mungkin bisa lebih menarik buat kamu yang suka cerita misteri dengan setting nostalgia. Dan hey, siapa tahu kamu menangkap sesuatu yang aku lewatkan.
Displaying 1 - 4 of 4 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.