Tiga tahun lalu, kakaknya ditemukan tewas. Polisi kehabisan petunjuk. Sementara itu, orangtuanya yakin bahwa Laut pelakunya. Sekarang, seorang kandidat Ketua OSIS kesayangan sekolah diserang hingga dilarikan ke IGD. Semua spekulasi, lagi-lagi, mengarah kepada Laut sebagai pelaku.
Seorang biang onar yang mencalonkan diri menjadi ketos jelas-jelas mencurigakan. Meski semua jari menunjuknya, Laut bersikeras mengaku tidak bersalah. Saat mencoba membersihkan namanya, Laut justru menarik benang-benang masa lalu yang belum tuntas. Hingga perlahan, Laut sadar bukan hanya posisinya sebagai kandidat yang terancam melainkan juga hidupnya.
Menyelesaikan buku ini benar-benar mix feeling. Lega, marah, tapi lebih banyak sedih. Buku ini meskipun tema teenlit—young adult, tetapi konflik dan friksinya begitu dalam, padat, dan penuh sekat.
Bercerita tentang Laut—si anak nakal, trouble maker di sekolah—yang tiba-tiba ingin menjadi ketua OSIS (ketos). Secara di atas kertas dan kenyataan di lapangan, dia adalah Kandidat Terlarang. Teror pun terjadi di sekolahnya ketika Rinai, salah satu calon ketos sama seperti Laut, terluka dan koma. Semua mata menunjuk Laut sebagai pelaku. Laut punya segala yang dituduhkan kepadanya: 1) dia punya motif dan akan kehilangan salah satu saingannya, 2) dia sudah memiliki track record buruk di sekolah. Dan di sini Laut membuktikan dirinya tidak bersalah. Namun, malah justru membawanya ke berbagai rahasia gelap yang tak pernah ia duga.
Peringatan pembaca: Perundungan, bunuh diri, perkelahian, dan kematian.
Beberapa point yang aku suka di buku ini, yaitu:
1. Karakter
Laut, Rinai, dan Hujan ini adalah tiga tokoh utama (meskipun lebih banyak porsi Laut) di buku ini. Ketiganya memiliki sifat yang saling bertubrukan satu sama lain. Saling membenci, tetapi di satu waktu bisa saling membantu. Sungguh hubungan yang "aneh" nan unik.
Ketika dunia menunjuk Laut—bahkan ayahnya sendiri pun segitu membencinya—tetapi Laut stands for himself. Dia adalah makna sebenarnya dari, "kalau bukan gue yang menolong dan membela diri gue sendiri, terus siapa lagi?!" This bro gabungan dari fisik dan otak yang pinter. Tapi, villain-nya lebih one step ahead sih (soalnya dibantu sama penulisnya, hihi).
❝Tapi kita nggak bakal pernah bisa diperlakukan adil kalau nggak pernah adil sama diri kita sendiri.❞ -p. 101
Frustasi dan gamangnya Laut ini terasa banget. Jadi, pengen peluk dia. Tetapi, di satu sisi ... duh, bro.
Hujan dan Rinai sebagai adik-kakak yang satu melindungi banget Laut, yang satu transaksional—but their relationship gonna be harder and asdfghjkl kalau ini genre romance, tapi sayangnya bukan [ps. so i keep this delusional, haha].
Ps. Nama-nama tokohnya bagus, suka karena nama mereka sesuai dengan "nasib" mereka :")
2. Penceritaan
Penulisnya pinter banget bikin rollercoaster road. Dibuat kesel dan bete di satu karakter tapi ada alasannya itu karakter begitu. Pokoknya semuanya reasonable. Even the villain—yang sebenarnya adalah korban yang menjadi [...].
Gaya nulisnya pun bukan tipe telling. Jadi, aku sebagai pembaca melihat satu per satu "tanda" yang ditinggalkan penulisnya. Sometimes i get, sometimes i lost, baru tahu pas menuju ending saat semua terkuak.
Bener-bener mix feeling deh.
3. Makna
Protagonis dan antagomis atau villain di sini bisa kebalik tergantung dari perspektif mana melihatnya.
Second chance menurutku adalah makna besar dalam cerita ini. Nggak semua orang bisa dapat second chance, nggak semua orang nerima second chance orang lain, dan nggak semua pantes diberikan second chance.
❝Tapi kenapa label buruk itu selalu menempel selamanya? Sama kayak apa pun yang gue lakuin selalu dinilai buruk, bahkan saat gue mencoba jadi baik. Orang-orang itu tidak peduli. Karena mereka menutup sampah itu diri gue, bukan tindakan gue. Jadi menurut mereka, gue si nakal ini berbuat baik sama kayak anomali sampah yang bisa wangi.❞ -p. 101
Laut 🥺🫂
Well, kalau suka cerita anak sekolah yang memecahkan misteri dan agak-agak thriller dengan twist mix feeling, bisa baca buku ini.
Misterinya dibangun dengan baik. Polanya mirip Siniar Semut Kecil: seorang berandalan yang ingin berubah, tetapi justru dihadapkan pada dosa besar di masa lalunya.
Hanya saja, endingnya yang terbuka malah bikin nggak puas. Ada apa sebenarnya?
buku ini bikin orang mikir jadi pas selesai baca rasanya lega,tapi juga agak nggak tenang karena ending nya ngegantung. buku ini awalnya kukira buku yang ringan mungkin mikir sedikit tapi bagiku ternyata cerita buku ini termasuk berat, perkembangan karakter dalam buku ini rasanya lambat tapi pasti. buku ini nyeritain Laut anak Troublemaker yang selalu jadi biang onar disekolah tapi,ia tiba tiba mau jadi ketua osis? memang aneh. karena status nya ini banyak orang yang pasti menganggap dia adalah kandidat terlarang. ia juga memiliki latar belakang yang mencurigakan, tiga tahun lalu kakaknya meninggal, ayahnya juga menyalahkan Laut atas kematian kakaknya. belum lagi ada kejadian yang semakin membuat Laut terlihat lebih mencurigakan. Rinai, orang yang menyalonkan diri menjadi ketua osis tiba tiba terluka semua orang yakin bahwa Laut pelakunya ceritanya beneran bikin perasaan orang mix feeling,buku ini bisa buat aku ngerasain gimana rasanya jadi orang yang paling salah, jadi kambing hitam dunia, gimana rasanya kalau kita bahkan tidak diakui ayah kita sendiri meskipun sudah melewati banyak hal hanya untuk perhatiannya.Laut dari pandanganku adalah orang yang tersesat ,orang yang tidak menjadi pelaku ataupun korban. ia memang telah melakukan kesalahan di masa lalu tapi tidak berarti ia harus menanggung semua penyesalannya sendirian. bagiku orang seperti Laut adalah orang yang layak mendapat kesempatan kedua.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ketika biang onar maju ke pemilihan ketua OSIS baru, banyak pihak yang menyangsikan apakah Laut mampu memimpin organisasi siswa terbesar di sekolah itu. Belum lagi serentetan teror mendatanginya setelah Rinai, mentor sekaligus pesaingnya, ditemukan terluka parah di sekolah. Semua tuduhan mengarah ke Laut karena bagi sebagian besar orang yang skeptis lebih memilih percaya apabila Laut menjadi tersangkanya.
Pencarian Laut mencari jalan keluar dari masalahnya bisa dibilang rumit. Sebagai berandal tobat, nggak jarang jadi sasaran kesalahan nyasar. Tapi, sayangnya emosi Laut seakan melompat-lompat.
Sejak baca Siniar Semut Kecil, agak mixed feelings dengan gaya tulisan penulis. Sampai reviu ini ditulis, masih nggak bisa menemukan apa yang bikin emosi karakter, maupun karakterisasi sulit terbentuk gambarnya di kepala. Sosok Laut, Rinai, dan Hujan seolah mengambang di imajinasiku. Susah disuruh menunjukkan "warna"-nya.
Premis buku ini bagus, hanya saja ada yang kurang ditambahkan jadi nggak bisa maksimal "meledak"-nya. Beberapa fakta yang di-spill di belakang (atau momen of truth) nggak lantas menurunkan rasa nggak puasku. Barangkali memang bukan mangkukku saja tulisannya.
Buku ini direkomendasikan bagi yang ingin mencari Teenlit dengan sentuhan genre misteri dan sedikit pertentangan batin para remaja yang resah karena kurangnya pengertian orang dewasa.