Menyelesaikan buku ini benar-benar mix feeling. Lega, marah, tapi lebih banyak sedih. Buku ini meskipun tema teenlit—young adult, tetapi konflik dan friksinya begitu dalam, padat, dan penuh sekat.
Bercerita tentang Laut—si anak nakal, trouble maker di sekolah—yang tiba-tiba ingin menjadi ketua OSIS (ketos). Secara di atas kertas dan kenyataan di lapangan, dia adalah Kandidat Terlarang. Teror pun terjadi di sekolahnya ketika Rinai, salah satu calon ketos sama seperti Laut, terluka dan koma. Semua mata menunjuk Laut sebagai pelaku. Laut punya segala yang dituduhkan kepadanya: 1) dia punya motif dan akan kehilangan salah satu saingannya, 2) dia sudah memiliki track record buruk di sekolah. Dan di sini Laut membuktikan dirinya tidak bersalah. Namun, malah justru membawanya ke berbagai rahasia gelap yang tak pernah ia duga.
Peringatan pembaca:
Perundungan, bunuh diri, perkelahian, dan kematian.
Beberapa point yang aku suka di buku ini, yaitu:
1. Karakter
Laut, Rinai, dan Hujan ini adalah tiga tokoh utama (meskipun lebih banyak porsi Laut) di buku ini. Ketiganya memiliki sifat yang saling bertubrukan satu sama lain. Saling membenci, tetapi di satu waktu bisa saling membantu. Sungguh hubungan yang "aneh" nan unik.
Ketika dunia menunjuk Laut—bahkan ayahnya sendiri pun segitu membencinya—tetapi Laut stands for himself. Dia adalah makna sebenarnya dari, "kalau bukan gue yang menolong dan membela diri gue sendiri, terus siapa lagi?!" This bro gabungan dari fisik dan otak yang pinter. Tapi, villain-nya lebih one step ahead sih (soalnya dibantu sama penulisnya, hihi).
❝Tapi kita nggak bakal pernah bisa diperlakukan adil kalau nggak pernah adil sama diri kita sendiri.❞ -p. 101
Frustasi dan gamangnya Laut ini terasa banget. Jadi, pengen peluk dia. Tetapi, di satu sisi ... duh, bro.
Hujan dan Rinai sebagai adik-kakak yang satu melindungi banget Laut, yang satu transaksional—but their relationship gonna be harder and asdfghjkl kalau ini genre romance, tapi sayangnya bukan [ps. so i keep this delusional, haha].
Ps. Nama-nama tokohnya bagus, suka karena nama mereka sesuai dengan "nasib" mereka :")
2. Penceritaan
Penulisnya pinter banget bikin rollercoaster road. Dibuat kesel dan bete di satu karakter tapi ada alasannya itu karakter begitu. Pokoknya semuanya reasonable. Even the villain—yang sebenarnya adalah korban yang menjadi [...].
Gaya nulisnya pun bukan tipe telling. Jadi, aku sebagai pembaca melihat satu per satu "tanda" yang ditinggalkan penulisnya. Sometimes i get, sometimes i lost, baru tahu pas menuju ending saat semua terkuak.
Bener-bener mix feeling deh.
3. Makna
Protagonis dan antagomis atau villain di sini bisa kebalik tergantung dari perspektif mana melihatnya.
Second chance menurutku adalah makna besar dalam cerita ini. Nggak semua orang bisa dapat second chance, nggak semua orang nerima second chance orang lain, dan nggak semua pantes diberikan second chance.
❝Tapi kenapa label buruk itu selalu menempel selamanya? Sama kayak apa pun yang gue lakuin selalu dinilai buruk, bahkan saat gue mencoba jadi baik. Orang-orang itu tidak peduli. Karena mereka menutup sampah itu diri gue, bukan tindakan gue. Jadi menurut mereka, gue si nakal ini berbuat baik sama kayak anomali sampah yang bisa wangi.❞ -p. 101
Laut 🥺🫂
Well, kalau suka cerita anak sekolah yang memecahkan misteri dan agak-agak thriller dengan twist mix feeling, bisa baca buku ini.