Jump to ratings and reviews
Rate this book

2029

Rate this book
Andai saja mahakarya George Orwell, 1984, hanyalah distopia masyarakat yang berada di bawah kontrol Big Brother belaka. Empat puluh lima tahun berselang, pada 2029, segala sesuatunya telah berbeda.
Jauh lebih siap.
Jauh lebih sempurna.

AI, kartu vaksin, uang elektronik, identitas digital, hingga kredit sosial.

Apa yang akan kau lakukan jika lima hal yang kau anggap remeh ternyata berbalik mengancammu? Ryu Kwang-ho meramalkan bahwa era modernisasi yang menawarkan kenyamanan dan keamanan malah mengekang eksistensi manusia.

Atas berlakunya pengawasan melalui pemberian kredit sosial, transaksi jual beli lewat uang elektronik, kewajiban vaksin untuk mengakses lebih banyak tempat, hingga robot-robot anjing yang senantiasa memantau gerak-gerik manusia, terjadilah kendali penuh oleh kekuasaan yang lebih sempurna dibandingkan distopia 1984.

Pada 2029.

292 pages, Paperback

Published July 30, 2025

Loading...
Loading...

About the author

류광호

1 book

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (5%)
4 stars
9 (45%)
3 stars
7 (35%)
2 stars
2 (10%)
1 star
1 (5%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Alexandra.
2,312 reviews128 followers
November 25, 2025
"Manusia adalah makhluk yang bisa dijinakan dengan pemberian hadiah dan hukuman."

Membaca distopia Korea berjudul 2029 yang bersetting waktu 13 bulan setelah wabah flu burung ini benar-benar membuatku kagum tapi juga frustasi. Novel ini bukan sekadar fiksi ilmiah tapi bisa jadi gambaran prediksi masa depan yang sangat mungkin terjadi di dunia, bahkan di Indonesia.
Penulis menyajikan sebuah masyarakat di mana hal-hal yang kita anggap biasa digunakan untuk kenyamanan hidup sehari-hari seperti ponsel, uang elektronik, kartu vaksin, Ai, identitas digital bahkan skor kredit bisa berubah menjadi alat kendali yang sempurna dari Pemerintah.

Selain sangat relate, buku ini juga bikin merinding karena aku diingatkan bahwa manusia bisa membangun penjaranya sendiri tanpa disadari. Menyerahkan data dan foto pribadi secara sukarela demi kenyaman sesaat.
Aku sangat menyukai buku ini tapi sayang endingnya yang terbuka tanpa penyelesaian justru bikin aku overthinking dan curiga pada semua hal digital yang jadi ide masif dari Pemerintah akhir-akhir ini haha...

Thanks to PYC DL
37 reviews
August 19, 2025
APA YANG TERJADI DI TAHUN 2029?

Setelah pandemi flu burung, banyak aturan di Korea yang masih berlaku, diantaranya:
Tetap menggunakan masker di luar ruangan. Hal ini masih diawasi oleh robot. Jika melanggar, akan dikenakan sanksi yaitu pengurangan poin.
Pengamanan yang ketat, di mana setiap perumahan masih diawasi oleh drone.
Tidak vaksinasi berarti tidak leluasa beraktivitas di luar rumah dan hanya bisa melakukan transaksi secara tunai.

Karena jengah dengan banyak aturan tersebut, Yoo Hyuk mengunggah keresahannya di kanal Scube miliknya. Ia mengunggah tentang segala konspirasi yang terjadi selama pandemi. Namun, siapa sangka, akun Scube miliknya ditangguhkan selama 90 hari karena dianggap membahas isu sensitif. Yoo Hyuk ga kehabisan akal, ia mengunggah kembali video-videonya di second account Scube miliknya. Bukannya tenang, ia malah semakin ngerasa ‘diawasi’ negara, dan mulai ragu, apakah selama ini pendapatnya tentang pandemi dan negara cuma kekhawatirannya saja atau memang begitu kenyataannya?

KELEBIHAN NOVEL INI:
1. Temanya relevan dengan zaman sekarang. Bahas soal AI, identitas digital, uang elektronik, dan semua transaksi akan nge-link ke identitas. Aku ngerasanya ini semua bukan imajinasi, tapi emang udah mulai muncul ‘bibitnya’.
2. Nuansa distopia yang kuat dengan sentuhan modernisasi. Jadi pengawasan berbasis teknologi dan bikin mikir, apa benar kemajuan akan ngekang kebebasan?
Membangun kesadaran kritis. Setelah baca novel ini jadi mikir, untuk dapat kenyamanan, apa aja yang harus dikorbanin?
3. Narasi lugas. Terjemahannya enak buat dibaca, ga filosofis, jadi mudah dipahami. Cocok buat aku yang newbie baca buku genre distopia.

KEKURANGAN NOVEL INI:
1. Isinya lebih banyak part diskusi Yoo Hyuk dengan teman-teman daringnya, jadi kadang novel ini rasanya lebih kayak esai.
2. Karakteristik yang ga terlalu hidup. Karena lebih banyak bahas tentang kritik sosial, jadi aku sebagai pembaca kurang bisa ngerasain emosi dari Yoo Hyuk.

Baca novel ini ngerasanya beneran de javu, banyak kejadian mirip saat pandemi Covid-19 di Indonesia. Masyarakat terbagi menjadi 2 kubu, yang percaya bahwa pandemi memang beneran ada dan yang percaya bahwa pandemi hanya settingan dari pemerintah yang mengakibatkan konflik horizontal.

Kalian udah baca novel ini?
Kalo udah baca 1984 karya George Orwell pasti suka deh sama 2029.

Dah ah, segitu dulu.
Have a nice day!
Profile Image for Katherine 黄爱芬.
2,499 reviews306 followers
October 15, 2026
Tampaknya aku over expectations gara-gara sinopsisnya agak mengkomparasikan dgn 1984 nya George Orwell. Namun yah gitu deh, aku merasa mediocre aja baca buku ini. Kemungkinan karena kurang tergalinya karakter MC disini yg bernama Seong Yoo Hyuk.

Seong Yoo Hyuk ini agak eksentrik pola pikirnya dan cenderung anti pemerintahan Korea pada tahun 2028 setelah wabah flu burung. Oya Korea yg digambarkan di novel ini adalah negara dystopia yg mengontrol ketat warganya, semuanya terpantau dalam microchip yg ditanam di tubuh warganya, nah disinilah Yoo Hyuk tidak mau dimasukkan benda aneh apapun ke tubuhnya. Masalah sudah dimulai sejak akunnya di Scube sbg konten kreator ditangguhkan. Akhirnya Yoo Hyuk membuat daring online dgn beberapa orang yg subscribe channel nya.

Terus terang walaupun dialog dari daring tersebut yg sebenarnya berisi tema-tema yg menarik seperti ada sejarahnya, filsafat, agama dsb, malah menurutku terlalu "sesak" hingga cuma melompat-lompat dari percakapan membahas satu hal ke hal yg lain, sayangnya pada GAK NYAMBUNG.

Klimaksnya adalah saat Yoo Hyuk akhirnya ditangkap tanpa alasan yg kuat. Disini terkesan negara bertindak seperti negara otoriter masa lampau. Yah pada dasarnya aku kurang demen tipe genre dystopia macam begini. Mungkin karena aku terlalu berharap ada gebrakan dari MC nya di ujung cerita, tapi akhirnya malah disuguhkan sesuatu yg lebih mirip cliffhanger. Yasudahlah, yg penting sudah kelar dibaca.
Profile Image for aynsrtn.
672 reviews28 followers
August 17, 2026
“Kejahatan bisa dilawan, diungkap, dan bahkan terkadang dihentikan dengan kekuatan. Tapi, kebodohan—tidak ada obatnya. Orang bodoh tidak bisa diyakinkan dengan logika. Mereka sepenuhnya puas dengan diri mereka sendiri.”

Pada tahun 2029, pasca pandemi flu burung, negara menerapkan berbagai aturan yang dianggap pengendalian dari kaum yang memiliki kekuatan kepada rakyatnya. Ada robot drone yang mengawasimu 24 jam. Wajib menggunakan masker dan vaksin, kalau tidak maka kamu tidak bisa masuk ke tempat umum manapun. Ada teknologi chip yang ditanam dalam tangan sehingga memudahkan segala transaksi dan jual beli, tetapi sama saja dengan “menjual” data pribadimu tanpa tahu bahwa semua itu bisa saja memiliki efek samping.

Itulah yang Yoo-hyuk rasakan. Lewat kanal Scube (seperti Youtube), Yoo-hyuk mengeluarkan keresahannya tentang berbagai aturan negara yang mengawasi rakyat. Namun, alih-alih suaranya didengar, kanal Scube Yoo-hyuk malah “dibungkam” karena dianggap menyebarkan teori konspirasi yang tidak mendasar dan terindikasi melawan negara.

Distopia asal Korea Selatan, tapi kok seperti begitu dekat dan nyata di sini, ya? *eh.

Negara “mengawasi” rakyatnya.
Bayangkan deh tiap kamu keluar rumah, ada drone yang berkeliaran di sekitar kamu. Dia akan memotret kamu kalau kamu ke luar nggak pakai masker. Terus poin kamu dikurangi deh. Ya, ada poin. Semakin kamu nurut apa kata negara, poin kamu bertambah. Kamu bisa mendapatkan “hadiah”. Kalau kamu pembangkang, maka poin kamu dikurangi. Akses kamu dibatasi. Dan hal ini dirasakan oleh Yoo-hyuk.

Dia nggak mau divaksin. Dia nggak mau pakai bank digital yang chip-nya ditanam di punggung tangan. Akibatnya, Yoo-hyuk nggak bisa nongki ke cafe atau tempat umum lainnya karena harus sudah divaksin. Mau beli ini itu juga susah karena nggak punya chip untuk pembayaran.

Ketika sang protagonis mempertanyakan keyakinannya.
Yang aku suka dari novel fiksi adalah bukan sekadar konflik yang darderdor, tapi ketika sang pemeran utama mengkaji ulang pilihan, pendapat, dan keputusan hidupnya lewat serangkaian peristiwa. Inilah yang terjadi pada Yoo-hyuk.

Pada dasarnya, dia hanya om-om yang jomblo, seneng bikin konten video konspirasyen. Lalu, hadirlah seorang tetangga perempuan yang “menaklukan” hati Yoo-hyuk. Nggak usah segala di-romance-romance-kan deh, eitssss … tapi ini ada subplot romance lhoooo *bersiaplah.

Yoo-hyuk yang asalnya jombs kudu nge-date, kan? Tapi nggak bisa kemana-mana juga karena belum divaksin. Mau jajanin pacarnya juga susah kan dia nggak mau pake bank digital. Alhasil, pacarnya yang banyak ngalah. Dan yang menariknya adalah pacarnya ini pro aturan negara. Nah lhoooo … apa nggak pergulatan batin nih si Om? Hihi.

Obrolan teori konspirayen.
Saat kanal video Yoo-hyuk di-suspend oleh negara, doi bikin nih semacam teori konspirasyen club bersama para subscribers-nya tapi dalam jangkauan terbatas. Di sini obrolan mereka seru banget. Mulai dari ngomongin konspirasyen amrik, sejarah dunia dan agama, dan banyak lagi. Nambah pengetahuan plus insight juga.

Tapi, ada tapinya nih. Rasanya terlalu “bocor”. Terkesan penulisnya ingin mengeluarkan semua teori yang dia punya sampai numpuk dan malah kayak mirip esai atau fiksi spekulatif mepet non fiksi. Pas awal-awal seru nih kalau club ini kumpul dan sharing, tapi lama-lama kek serius banget, bro, obrolannya. Berasa kayak obrolan tongkrongan sampai pagi, hehe.

Rekomendasi.
Akhir kata, 2029 menyajikan distopia yang justru menjadi sangat dekat dan nyata. Ketika negara mengawasi gerak-gerik rakyatnya. Ketika kamu mau bersuara, malah dibungkam. Dan mau tak mau memaksa kamu untuk nyaman dengan segala aturan tersebut.

Buku yang thought-provoking dan membuatku berkontemplasi tentang masa depan yang semakin futuristik, namun juga terasa semakin mengusik. Kalau suka 1984 karya George Orwell atau genre distopia dengan subplot romance, bisa banget baca buku ini. Jangan lupa bersiaplah.

🌹 4 bintang untuk kebohongan adalah kebenaran.
Profile Image for Day Nella.
336 reviews6 followers
February 12, 2026
"𝙼𝚊𝚗𝚞𝚜𝚒𝚊 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚋𝚎𝚛𝚕𝚞𝚝𝚞𝚝 𝚍𝚒 𝚑𝚊𝚍𝚊𝚙𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚖𝚒. 𝙱𝚊𝚑𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚍𝚞𝚕𝚞 𝚕𝚊𝚗𝚝𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚎𝚛𝚋𝚒𝚌𝚊𝚛𝚊 𝚝𝚎𝚗𝚝𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚎𝚋𝚎𝚋𝚊𝚜𝚊𝚗, 𝚖𝚊𝚛𝚝𝚊𝚋𝚊𝚝, 𝚒𝚗𝚍𝚒𝚟𝚒𝚍𝚞, 𝚔𝚎𝚙𝚎𝚖𝚒𝚕𝚒𝚔𝚊𝚗, 𝚍𝚊𝚗 𝚙𝚛𝚘𝚙𝚎𝚛𝚝𝚒 𝚙𝚛𝚒𝚋𝚊𝚍𝚒 𝚙𝚞𝚗 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛𝚗𝚢𝚊 𝚋𝚞𝚗𝚐𝚔𝚊𝚖 𝚔𝚎𝚝𝚒𝚔𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚑𝚊𝚍𝚊𝚙𝚊𝚗 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚔𝚛𝚒𝚜𝚒𝚜 𝚎𝚔𝚘𝚗𝚘𝚖𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚖𝚒 𝚌𝚒𝚙𝚝𝚊𝚔𝚊𝚗." 𝙷𝚊𝚕 252
-
2029 / Ryu Gwang-Ho
Gramedia 2025 / 292 Halaman
Baca di Pyc Library
-
Bagaimana jika penggunaan dompet identitas digital diberlakukan oleh pemerintah hingga dapat mengakses semua akun tiap individu dan memantau dana masuk dan keluar? Apakah semua demi kebaikan masyarakat atau sebuah keterbatasan akan hak-hak manusia?
-
Seperti yang terjadi pada Seong Yoo-Hyuk yang memiliki kanal Scube tentang konten kebenaran dan kebohongan yang terjadi pada negerinya. Dan dia tidak mengikuti aturan yang ditetapkan baik vaksinasi maupun mengurangi konten yang kerap menyinggung hal sensitif dan tidak sesuai pedoman dari Scube akan konten yang ditayangkan. Bagi Yoo-Hyuk, banyak hal yang dilakukan pemerintah yang berdampak tidak baik bagi publik. Namun, tidak banyak yang bisa bersuara atau melakukan protes yang akan mengakibatkan pengurangan poin per individu serta mengurangi kebebasan beraktivitas di luar rumah.
-
Di lain sisi, Yoo-Hyuk membuat pertemuan dengan para subscriber via online yang dibatasi hanya beberapa orang dan membicarakan banyak hal terkait sistem pemerintahaan hingga teori konspirasi yang memiliki hubungan dengan aturan saat ini.

Kritik sosial akan sistem pemerintahan yang diunggahnya beberapa waktu lalu bertentangan dengan pedoman Scube, hingga kanalnya kembali ditangguhkan, pendapatan yang masuk pun berkurang. Maka semakin yakin bila ada yang berniat menekan serta mengancamnya yang membuat dirinya tidak lagi bersuara di media sosial. Sosok-sosok yang memiliki kuasa penuh dalam mengendalikan negeri hingga membuat publik terpaksa ikut aturan meskipun merugikan.
-
Topik yang diangkat buku ini salah dua telah banyak digunakan, vaksinasi dan dompet digital sebagai akses pembayaran yang memudahkan. Tapi, di sisi lain pun cukup merugikan karena tidak semua kalangan masyarakat dapat menggunakan ponsel pintar dan masih menggunakan uang fisik.

Terjemahannya nyaman dan ringan. Menurutku ide ceritanya sendiri cukup berat, tapi relevan dengan kondisi yang mungkin akan mendekati sama. Yoo-Hyuk seperti mengajak kita berdialog dan berpikir benar atau tidaknya yang terjadi saat ini. Kalau pun benar adanya. Selama tidak memiliki kuasa apa pun, rasanya sulit untuk melakukan protes yang ujungnya aturan tetap diciptakan.

Buatmu yang suka dengan nuansa distopia dan diskusi hal berat, mungkin cocok, tapi yang sedang dalam situasi pelik dan butuh bacaan yang ringan, ini bukan buku yang tepat.


This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nesa.
212 reviews2 followers
December 5, 2025
I have not read 1984 by George Orwell, but this book is inspired by it, and indeed it reflects many elements of Orwell’s narrative. The story centres on a man living in South Korea, where technology and the government work “together” to tighten control over the lives of citizens. The main character also worked as a content creator who produces videos expressing his resistance to the regime and its oppressive system. The book describes how people are compelled to participate in a technological framework in which they are constantly monitored by the authorities and the government.

I would say that this book offers a rather ironic and (sadly) accurate illustration of modern life, in which we too are, to some extent, “watched” by the government through the technology we use. The books also introduces the idea of a “discipline point” system, where individuals are categorised according to the points they accumulate. The more one resists the government, the lower one’s score becomes, and this directly affects one’s daily life. Those with low scores may be barred from entering supermarkets or cafés, and face a high risk of arrest and imprisonment.

There are two aspects of the book that I did not particularly enjoy. Firstly, there was one character (not the main character) who explained everything through the lens of the Bible, and drawing the detailed comparisons between biblical teachings and the apartheid society that the characters lived in. I was rather taken aback by this, as I am neither Christian nor Catholic, and I found the extensive religious analysis somewhat uncomfortable. I do not think the author fully considered the diverse religious backgrounds of readers. Secondly, the ending is uncompelling. I found it unsatisfying and uninteresting, when I finished the book, my reaction was simply, “It ends just like that?” It is not exactly an open ending, but rather a bland one.

If you enjoy Orwell's 1984 or the dystopian genre in general, I believe you will appreciate this work. Overall, I would give this book 3.9 out of 5.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,678 reviews78 followers
June 3, 2026
Buku ini bikin aku jadi penasaran dengan sejarah perbankan dunia, Federal Reserve yang punya hak mencetak uang di AS sampai pemerintah AS aja berhutang banyak padanya dan membayarkan sebagian besar pajaknya untuk membayar bunga, dan kaitannya dengan keluarga Rothschild.

Aku juga jadi penasaran dengan bagaimana Rockefeller mengubah kurikulum pendidikan kedokteran dengan menetapkan pengobatan tradisional dengan bahan alami itu ilegal. Ini semua karena cara pengobatan itu tidak menghasilkan paten yang mendatangkan uang. Akibatnya obat kimia sintetis yang berefek samping mendominasi dan dokter hanya diajarkan untuk meresepkan obat, bukan mengarahkan pasien untuk memperbaiki gaya hidupnya.

Nanti coba cari soal ini semua lebih lanjut.
2 reviews
July 25, 2026
This book is an eye opening for me for what is possible in the near future. Personally, i bought this book just because i really love 1984 settings. I would say its not disappointing nor fulfilling as you got the suspense, worries of the characters, environmental thrill. Overall its a yes.
Displaying 1 - 8 of 8 reviews