Dia adalah puisi yang tertulis oleh darah dan amarah Bimo. Sang dendam yang berlutut, menunggu penyelesaian pada malam yang tergelincir. Bimo telah siap menuntaskan dendamnya. Namun satu hal yang takkan disadarinya. Sebagai remaja, Bimo layaknya bintang yang mulai memancar. Terangnya telah menelisik, membuka satu misteri tentang apa dan siapa yang dikejar Bimo.
Baca ini habis ditawarin temen. Bilang ini komik lokal yang ceritanya suram, gelap gimana dengan plot rumit yang 'berbeda' dari biasanya cerita fuwa fuwa ringan ala romance teenagers atau komik ala semi-fantasy petualangan khas manga shounen lain, dst.
Walaupun yang saya pikir pertama kali malah judulnya... 17+? why not 18+ sekalian?#dilempar
Uhh... kesampingkan masalah teknis gambar dan pengkomikan(bahasa apa ini?)... semisal, saya hampir nggak bisa bedain tokoh-tokohnya, scene yang lompat-lompat sakarepe dewe bikin pusing(mau mimpi, delusi, flashback, ganti scene.. gak ada aba-aba, langsung tabrak aja. Ditambah ma gambar panelnya yang juga mostly sama, gimana gw bisa bedainnya?), balon dialog yang ga konsisten (I mean, kalau bacanya dari kiri-kanan ya balon dialognya juga kiri-kanan atas-bawah dong, jangan ada yang dari tengah ke kiri baru ke kanan! Mentang-mentang cuma dialog figuran >_<), dll.
Iya. Biarpun saya bilang kesampingkan saya tetep mau ngeluhin sekilas info lah.#digampar
Selain itu, ceritanya sendiri bukan jenis cerita yang bakalan langsung saya sembah-sembah sambil bilang, "Uwogh! So dark! So reaal! Kereen!" tapi tipe cerita yang kesan pertamanya bakalan jadi... "err... seriously? Real?"
Apalagi halaman awal jilid kedua ini sungguh sangat tidak memikat. Maksud saya... err.. ini pengarangnya mau pamer apa gimana? kosakata "tinggi" ditulis semua di dua halaman bagian monolog dengan entah apa maksudnya. Kayak orang baru buka KBBI, dan ngerasa cool sendiri sama susunan kalimatnya. Atau macam mahasiswa lagi praktek kerja di desa-desa, trus pas diminta jelasin maksud sesuatu sama warga sekitar malah jawab pake definisi di buku lengkap dengan kata-kata ilmiahnya.#flipthetable
Dan setelah bersungut-sungut sama monolog gajes itu, saya lanjut baca dengan susah payah dan selesai dalam waktu tiga puluh menit. Yay. Hasilnya, saya sama sekali nggak ngerti ceritanya apa. Karena... satu, saya nggak baca jilid pertamanya#salahsendiri. Dua, eksekusi ceritanya... ini bukan masalah komik atau apa, kalau novel eksekusinya gini juga bakalan bikin saya lempar buku. Plot berat dan rumit itu kan nggak sama dengan penyampaian seenaknya sendiri. Timelinenya mau gimana sih. Perpindahan adegannya juga suka ujug-ujug bikin saya ngerasa perlu ngangkat alis, "he? udah ganti scene toh ini?" trus.. "ini alurnya kapan? perasaan tadi dia baru blablabla deh."
Lalu ditambah dengan keklise-an plot balas dendam demi keadilandan cinta plus karakter seigi no mikata idealis yang sok ngerti justice tapi nggak kenal mercy ngambil bad role dengan alasan the ends justify the means. Meh. Siapa loe sok jadi hakim. Yah... karakter gini sebenernya nggak jelek kalau aja dia keliatan bertindak dengan otak dan bukan emosi... for example, Light Yagami, dkk. Tapi Bimo kalau yang saya liat ya cuma macam anak emo, antihero-wannabe. Saskay, everyone? Cuma Sasuke masih jauh lebih bisa dimaklumi IMHO karena authornya nggak bikin dia jadi fake ally of justice.
Sementara tokoh utama satunya lagi... ditampilin sebagai anak "biasa" dengan kemampuan otak lumayan (sayang tampangnya keliatan bego#dilempar) yang saya juga nggak ngerti personalitynya gimana. Mau sifat buruknya, sifat baiknya.. sama sekali nggak keliatan. Coba misal saya bandingin sama Mikado-nya Drrr yang juga anak "biasa"... dia ada personalitynya biarpun "biasa". Pembaca bisa tahu gimana pandangan dia, dan apa yang dia pikirin soal kejadian di sekitarnya. Yudi? Cuma kayak tokoh yang dijadiin alat sama authornya buat nyampein cerita dari pandangan orang biasa.
Dan tokoh ceweknya... saya nyerah deh. Beneran saya nggak bisa bedain, nggak inget nama, dan nggak tahu siapa-siapa aja, plus apa masalah mereka bertindak begitu.*shrugs*
Overall sih... gambarnya bagus. Iya, kalau diliat cuma dari segi penggambaran, gambarnya bagus. Cuma kurang keunikan buat tiap tokohnya... atau mungkin dia gambar figurannya kebagusan jadi gak ada beda antara MC dan NPC(yay berima). Tapi ceritanya really not my taste. Ini hampir ngingetin saya sama teenlit sok dark yang dulu saya beli dan nggak berhasil saya selesain. Teenlit yang bikin saya kapok beli novel tanpa informasi yang jelas.
Komentar terakhir: "Dark? Real? Ke laut aja... realita gw mah ala genre SoL sih."
Pesan terakhir: "Semangat kakak bikin komiknya!" *cheers* #kabur
sebuah kelanjutan serial drama epik dari mas Jati.
pertama membuka chapter 2 kita akan langsung dikejar pace cerita yang cukup cepat dan mungkin akan sedikit tertatih tatih mencoba mereka reka alur yang sedang terjadi. Tpai disini menariknya, bagaimana mas Jati di chapter ke 2 ini membuat segalanya menjadi lebih kompleks (mengingat buku ini lebih tebal dari chapter 1) dengan timeline waktu di universe komik ini yang benar benar random, buku ini tetap berhasil menarik minat penyuka cerita cerita dengan plot plot yang deep dan rumit. Hingga akhir buku membuat kita akan tetap dibuat penasaran bagaimana Mas Jati akan mengakhiri trilogi cerita ini.
Saya suka gambarnya. Sayangnya sepertinya sang komikus tidak berhasil atau tidak berusaha membedakan tampilan tokoh komik yang satu dengan yang lainnya. Saya bisa membedakan Tika dari yang lainnya karena dia berkacamata. lalu ini Nina atau Dewi sih? Oh Dewi agak tirus mukanya. Begitu saya menyangka gadis ini Dewi, ternyata dia dipanggil sebagai "Dil", oh ternyata dia Fadila. Mannnn..... Bahkan saya pun agak sulit membedakan Yudi dengan Bimo, kecuali bahwa Bimo lebih cool.
Saya kasih bintang 3 aja, karena kebingungan visual itu. Lagipula ceritanya menurut saya seperti agak dipanjang-panjangkan. Atau mungkin ini hanya perasaan saya saja ya? :-)