Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sani is Like the Sun

Rate this book
Sofia Keeneth menghabiskan masa liburannya di sebuah dusun terpencil di pulau Kalimantan, untuk sekaligus mengunjungi kedua orangtuanya yang sedang bertugas sebagai dokter untuk daerah pedalaman. Di dusun itu, ia bertemu dengan dua sahabat baru; Jayadi yang suka bertualang, dan Sani yang sering berperilaku aneh.

Pertemuannya dengan Jayadi dan Sani, menjadi titik awal semua pengalaman seru dan menegangkan yang dialami Sofia selama di dusun tersebut. Terutama ketika bersama dengan Sani, yang mengaku dirinya matahari….

Editor’s Note
Kisah remaja yang unik dan penuh petualangan, dengan kandungan nilai moral yang luar biasa!

216 pages, Paperback

First published December 10, 2014

4 people are currently reading
24 people want to read

About the author

Ullan Pralihanta

10 books7 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (36%)
4 stars
15 (45%)
3 stars
4 (12%)
2 stars
0 (0%)
1 star
2 (6%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for R.A.Y.
292 reviews47 followers
August 27, 2019
NOVEL INI MENGHADIRKAN PENGALAMAN MEMBACA FIKSI REMAJA YANG SANGAT BERBEDA .......... CORET KISAH-KISAH TENTANG CINTA PERTAMA DAN MERAIH MIMPI ........... ITU GAADA DI SINI. DI SINI ADANYA HUTAN DAN TAHAYUL.

please!!! judul, cover, sampai blurb novel ini didn't do this book justice!!! menipu sekali!!! saya mengharapkan kisah petualangan ala-ala remaja travelling bareng atau ala-ala petualangan Sherina yang lucu dan generic gitu, tapi yang saya dapat adalah gadis misterius yang munculnya membawa hawa dingin!!! remaja perempuan yang dipasung, diperkosa, dan dibunuh!!! tersesat sendirian di hutan belantara yang gelap gulita!!! muntah cacing, belatung, dan darah!!! badan yang dicabik-cabik macan sampai ngga bisa dikenali lagi!!! APA-APAAN INI?????

harusnya novel ini dikasih cover yang warna hitam atau apa pun yang gelap!!! ini tuh ceritanya creepy, lho!!! apa-apaan ilustrasi lucu dan warna kuning-oranye ceria ini?????

sangat, sangat, saaaangatttt tidak menyesal menemukan dan membawa pulang buku ini dari sale yang diadakan di Mocosik Festival 2019. saya kira dengan harga 10k (dari harga asli 25k, cmiiw) saya akan mendapatkan cerita fiksi remaja yang biasa-biasa saja. yah, beda dikitlah karena latarnya dusun terpencil di Kalimantan. TAPI TERNYATA ENGGA WOY ....... INI MANANYA YANG BIASA-BIASA AJA ........ sejak awal saya udah terpukau sama gaya penulisan penulis yang amat sangat rapi, piawai, dan estetis. jenis tulisan yang biasa kamu temukan di novel-novel "sastra", bukan fiksi remaja. itu aja udah istimewa, lho, karena jarang banget saya baca fiksi remaja ditulis dengan gaya seperti ini. terus ternyata cerita dalam novel ini juga istimewa ......... ada banyak sekali paparan tentang kehidupan di dusun pelosok Kalimantan yang warganya (suku Dayak) masih menjunjung tinggi mitos dan tahayul. jadi tempatnya tuh bukan cuma jadi latar tempat aja buat travelling yeyeye lalala ala-ala remaja-remaja kekinian, tapi menjadi paru-paru dalam cerita ini. melalui novel ini mbak Ullan menyampaikan pesan untuk menjaga dan menghargai hutan bukan dengan cara seorang environmentalist, tetapi dengan cara mengangkat kepercayaan dan tradisi kuno warga desa yang biasanya dipandang sebelah mata oleh kaum modern. kayak, ketika semua orang mengajak kita untuk berpikir rasional dan ilmiah untuk melindungi hutan, mbak Ullan menyodorkan mitos dan tahayul dan membuktikan bahwa dengan menghargai kepercayaan dan tradisi kuno pun kita juga bisa melindungi hutan. i was, well, mindblown.

wow.

saya butuh lebih banyak bacaan fiksi remaja yang unik seperti ini di Indonesia. atau apakah Elex memang suka menipu dengan cover-cover yang kelihatannya lucu dan generic? saya jadi pengin ngepoin lebih banyak novel Elex. biasanya saya cuek karena ya itu tadi, cover-nya terlalu generic. mungkin saya harus mulai lebih berani bereksplorasi. demi menemukan lebih banyak bacaan fiksi remaja yang seru dan berbeda kayak novel ini!!!

udah, ah. bagus banget pokoknya. menegangkan, page turning, creepy, bikin kesel di beberapa bagian, setelah baca ending-nya jadi ngerasa lega.

(tentunya ada ya beberapa kekurangan. ada typo, salah sebut nama Sani jadi Longa, di beberapa bagian penulis kayak kewalahan menceritakan ketegangan jadi narasinya terkesan repetitif dan jadi agak berantakan, dsb. tapi seperti biasa, kalau udah dikasih bintang 5 kekurangan-kekurangan itu bisa ditoleransi)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,445 reviews73 followers
February 25, 2020
Twistnya udah ketebak sejak pertengahan cerita, sih. So obvious gitu. Tapi gilaaaa. Kukira ini bakal cerita petualangan. Ternyata horor supernatural. Lumayan bikin merinding, sih. Eksotisme nuansa pedalaman hutan Kalimantan dan mitos suku Dayaknya beneran terasa kental. Ini yang bikin cerita ini jadi terasa istimewa.

Sayang soal Jayadi enggak terlalu diceritakan, terutama soal kemampuan tersembunyinya dan makna tiga titik di dahinya. Itu apa? Mata ketiga?

Dan ada typo nama yang fatal di sini. Karena typonya itu malah jadi spoiler xD Haiiih.
Profile Image for riizukiii.
120 reviews19 followers
February 15, 2020
Ceritanya bagus. Gak nyangka dengan premisnya. Isu yg diangkat juga sangat related dengan real life.
Profile Image for ruan.
46 reviews1 follower
March 21, 2022
(Sebenernya ini selesai semalaa, tapi tadi malam belum sempat nge-review, so here we go)

Buku ini sebenarnya menumpuk di rak reading list (ipusnas) entah urutan ke berapa, hingga suatu saat aku kehabisan bahan bacaan dan secara acak memilih buku ini.

Dari sampulnya (sorry but I'm that type of 'judge a book by its cover') sederhana saja dan ngga terlalu menarik pandanganku, biasa-biasa saja. But the whole story inside is worth to read!

Diawali dengan adegan penduduk di salah satu dusun di Kalimantan (kalau tidak salah, Long Jamba namanya) yang terluka akibat gigitan ular. Beruntungnya warga-warga lain membawanya ke klinik dr. Gerald sehingga masalah teratasi dan pasien sempat diselamatkan. Buku ini mengisahkan tentang Sofia, warga kota yang berlibur ke tempat dinas ayahnya, dr. Gerald, di pedalaman Kalimantan, tepatnya di dusun Long Jamba. Di sana ia bertemu kawan-kawan baru. Marel Jayadi, pemuda pemilik titik tiga di dahi, seseorang yang tak sengaja ia temui dalam perjalanan menuju tempat liburnya, yang rupanya ia adalah putra teman ayah Sofia, dr. Ghandi. Keduanya menjadi cukup akrab dan menjadi teman setelahnya. Pertemuan Sofia dengan kawannya yang satu lagi cukup mistis. Sofia, gadis kota yang tidak mempercayai kepercayaan-kepercayaan di dusun setempat, tidak sengaja melanggar mitos 'jangan duduk di depan pintu'—bakalan mengundang arwah, kata mereka. Datanglah seorang gadis seumurannya melangkahinya ketika ia sedang berbuat hal di atas. Ia gadis rimba yang cukup aneh menurut Sofia. Gadis itu berpakaian merah muda, pakaian yang sama setiap hari gadis itu bertemu Sofia nanti. Gadis itu bernama Sani (Sani Longa). Gadis itu suka bercerita banyak hal sampai Sofia lupa waktu. Tentang langit hijau di ujung utara sana atau tentang gadis bernama Longa yang bernasib buruk.

Ceritanya cukup menarik buatku. Banyak pesan moral yang dapat diambil, terutama supaya kita, manusia, tetap melestarikan dan menjaga hutan. Bukannya sebaliknya. Aku mendapat pengetahuan baru setelah membaca ini. Mengetahui sisi lain di Indonesia, tentang Kalimantan, tentang suku Dayak dan beberapa kepercayaannya.

Sayangnya, aku melihat ada beberapa kesalahan penulisan kata, tapi tidak sampai bikin kacau kalimat. Lalu, aku sedikit terganggu sama latar belakang bergambar akar-akar kayu di halaman-halaman buku, tapi masih nyaman dibaca.

Overall, ceritanya bagus sekali. Page turner, worth to read. Sama sekali ngga nyesel udah pick buku ini buat jadi next readku.

✨4,9/5
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for qila.
56 reviews
March 28, 2022
Fiksi pertama yang berhasil kutamatkan di tahun 2022 ini, dan tanpa penyesalan. Alur yang ringan namun sarat akan pesan bahwasanya kita sebagai manusia harus menjaga dan melindungi hutan dengan baik, kita tidak boleh tamak, dan dimanapun kita berada, wajib untuk selalu menghormati adat dan kebudayaan yang sudah ada sejak lama. Perangai Jayadi yang paling aku suka. Ia sungguh pemberani dan lemah lembut, wah, setiap kelakuannya terhadap Sofia membuat aku senyum senang dan salut. Walau Sani juga terkadang menyebalkan karena suka asal 'menyelonong' dan terkadang terlalu menghasut Sofia, tapi aku mengerti bahwa ia punya maksud dan tujuan. Puas dengan akhir cerita Sani is Like The Sun, kisah ini kutamatkan hanya dalam waktu tiga hari. Good job, ka Ullan!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Alya.
9 reviews
Read
December 21, 2021
Demi apapun ini menjadi salah satu 'ketidaksengajaan terbaik' yang terjadi tahun ini. Awalnya baca ini iseng aja karena nemu di ipusnas, eh ternyata malah jadi salah satu novel terbaik yang kubaca tahun ini.

Demi apapun cover, blurb, judul sama sekali nggak mencerminkan isinya. Sebelum baca, kupikir ceritanya akan menjadi petualangan remaja yang 'cerah' seperti covernya. Ternyata ... sangat jauh sekali dari hal itu. But still, I love this book so muchhh 💕💕 Kalau ada kesempatan, pingin bangett punya buku fisiknya dan baca ulang tahun depan.
Profile Image for Tamira Bella.
178 reviews
September 14, 2023
Waktu saya remaja saya tertarik dengan buku ini se-simple karena covernya yang bewarna kuning, saya mengira buku ini heartwarming khas teeenagers sekali, ternyata isinya tidak secerah covernya. Namun disinilah letak yang saya suka.

Didalamnya memuat informasi tentang tradisi, kepercayaan, serta budaya masyarakat adat di pedalaman Kalimantan. Ceritanya sangat bermakna, banyak yang bisa dipelajari terutama tentang penjagaan hutan dan pelestarian alam.

Mysteri dan horornya cukup terasa, rekomendasi sekali untuk dibaca terutama oleh anak-anak dan remaja muda.
Profile Image for Achame.
178 reviews1 follower
June 15, 2022
I need more teenlit novel like this!
Profile Image for TENSH1K0.
54 reviews
March 23, 2025
Waah, one of the most underrated books!

Okay, so, I found this book when I'm at elementary school (I'm going to college this year 🫣). Elementary school! Can you imagine a 12 year old kid got fooled by this book? Even my mom got fooled!

Of course I picked it up because of the bright colorful cover. That book was supervised by my Mom before she bought it for me. She expect it to be an adventure type of story and me too! Oh how I was wrong...

The story was really great! Introduces young me to Kalimantan's beauty, tradition, and believes.

SPOILER!

It was an adventure and I was fooled. I was so into the story. Though to the middle of the story... Why it's getting that creepy vibe? I was not being skeptical though, what can I say? I was twelve!

When they started saying that Sani was dead I was like, what. The. Fuck?#!#!#? I didn't even understand when Sofia was puking worms and blood. But when I found out that Sani is a ghost, I was TRAUMATIZED.

People might say it's predictable, and I could say the same if I would read this book in my age now. But I was an elementary school kid. though it was traumatizing, I had fun, and it was memorable up until now!

P.S : Let's ignore the fact that I wrote the review after almost 6 years. I still have the book, though it's pretty much covered in dust and the pages turning yellow.
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.