Sakura season this year will be the most beautiful. Do you know why? Because probably it’s my last time seeing them…
Nila dan Akane, dua perempuan dari budaya dan bahasa berbeda. Semesta menjadikan mereka sahabat, dan jarak serta status sepertinya malah mendekatkan mereka. Namun sahabat terdekat sekalipun kadang masih menyimpan rahasia...
Ketika Akane divonis mengidap kanker, hidup dua sahabat itu pun berubah. Bagaimanapun, entah Akane akan menjadi seorang penyintas atau kalah dalam pertarungan melawan penyakitnya, mereka berdua bertekad: apa pun tak boleh merusak persahabatan mereka. Tidak juga rahasia.
Namun seperti ungkapan mono no aware, segala sesuatu di dunia ini hanya sementara, Akane dan Nila harus berusaha menggapai bahagia... selagi bisa.
Call her Donna or Angela, she might respond with a smile. This Indonesian writer divides her time juggling to make ends meet, writing, balancing her attention between her partner (Isman H. Suryaman) and children, managing the household, and of course, occasionally sipping earl grey tea to keep her sane. She has written twenty books so far, popular fiction, in Gramedia Pustaka Utama (GPU). Her newest book, Candrasa, is published in August 2017.
Her passion for new experiences propels her to seek new chances to meet more people. Enthused for fresh inspirations, she longs to join multicultural events, collecting data and broadening her horizon.
She claims to be unique, independent and strong. She dreams and imagines a lot. "But what is love, and what is life, if you do not let yourself live?"
You know you've found a true friend when everytime you meet, you can talk effortlessly and smoothly as if your last meeting was just the day before. While in fact, it could be years before you last met her/him.
What a beautiful, touching & inspiring story! I wish I had a friend like Akane. Nila & Akane are best friends that rarely meet, yet they are really close to each other. For friendship doesn't count in miles, it is measured by the heart.
Nila & Akane bersahabat dekat walaupun mereka tinggal di negara yang berbeda. Suatu hari Akane memberitahu Nila bahwa umurnya tak akan panjang lagi karena ia mengidap kanker. Nila yang baru saja memutuskan pertunangannya dengan Daniel karena pengkhianatan sang tunangan akhirnya memilih untuk terbang ke Jepang guna menemani Akane di saat-saat terakhirnya. Di Jepang, Nila berusaha membahagiakan Akane & membantu menjaga Hiro & Ron (suami & anak Akane). Ternyata sepupu Hiro yang bernama Sora sedang menumpang tinggal di rumah Akane. Dari awal Sora sudah menunjukkan aura yang tak bersahabat & penuh dengan kecurigaan pada Nila. Ia menuduh Nila ingin menggantikan posisi Akane sebagai istri Hiro. Keadaan Akane yang semakin memburuk mengharuskannya untuk tinggal di hospice. Nila & Sora bertengkar dalam perjalanan menuju hospice, sampai2 Nila meminta untuk diturunkan di pinggir jalan. Setelah berjalan di bawah terpaan hujan, Nila jatuh sakit & tak disangka Sora malah merawatnya dengan penuh perhatian. Perjalanan Nila & Sora ke Tokyo malah menimbulkan getaran2 aneh di dada Nila. Dengan keadaan yang kacau balau, Daniel malah menyusul Nila ke Jepang. Nila akhirnya malah tambah pusing..
Hubungan persahabatan antara Nila & Akane rasanya sangat erat sekali, seolah2 ada heart-felt connection diantara mereka yang cuma bisa dimengerti oleh sepasang sahabat. Sayangnya kebersamaan mereka hanya sedikit porsinya di cerita ini, mungkin karena dibagi dgn porsi Akane-Hiro & Nila-Sora. Bagian Nila-Akane hanya diceritakan di bagian awal2. Emang sih Nila selalu memikirkan Akane & sebaliknya, tp mereka jarang bgt bareng2, karena Akane selalu tertidur agar bisa menahan sakit. Gw suka banget cara penulis menggambarkan Nila & Sora yang perlahan tapi pasti jatuh cinta dengan satu sama lain. Serasa ada disana buat ngeliat langsung prosesnya & karena ini novel, gw juga bisa ikut ngerasain bibit2 cinta yang tumbuh di hati Nila & Sora. They say falling in love is like getting hit by a bus, so sudden & abrupt you didn't even see it coming. Mungkin ini ungkapan yang pas banget buat describe hubungan Sora & Nila. Rasanya seru ngeliat gimana Sora yang selalu in control akhirnya kebingungan karena Nila ga pernah ada di plan hidupnya. He's overwhelmed with the urge to protect Nila. And when he realized that she's the one for him, he didn't waste any time to make her his. Seperti yang Sora bilang, bersama Nila itu spt mengarungi laut yang berombak, ada saat dimana dia merasa dia bisa jatuh dari kapal, tapi justru disitulah bagian fun dari hidup ini. He needs her to add color to his life, to shake his world to the core. Untuk hubungan Akane-Hiro, jujur gw kurang berasa feelnya, ntah mungkin emg krn gw ga gt pay attention. Tp yah intinya Hiro menyesal ga pernah ada buat Akane waktu Akane lagi sgt membutuhkan support sang suami. Dia mencoba semampunya untuk membahagiakan Akane di hari2 terakhirnya dengan ngelakuin hal2 romantis buat Akane. Semangat hidup Akane & ketabahannya menghadapi kematian patut diacungi jempol.
Gw suka sama ceritanya, rasanya udah lama ga baca cerita seindah ini, yang menyentuh hati & bikin gw ikut ngerasain perasaan tokoh-tokohnya. Coba klo lbh panjang lagi, gw kasi 5* deh heheh #ngarep# Buat Mbak Angela, ditunggu ya karyanya yang cetar2 selanjutnya. 4 beautiful stars from me!
Isinya? Cocok dengan kovernya. Indah tapi jenis yang bikin melankolis. Nuansanya dapet. (Ini malah bahas kovernya wakakaka... Maklum lah ya, karena kover juga memegang pernanan penting dalam menarik minatku terhadap sebuah buku.)
Baca buku ini bikin capek. Bayangin aja kudu nahan air mata supaya gak ngalir dan kalaupun akhirnya ngalir, harus usaha sedemikian mungkin supaya orang laen gak ngeliat kita nangis. Capek, jenderal! Belum lagi pake acara salah kostum (ini sih salah tempat ya, bukan kostum #plaak), bacanya di ruang tunggu Rumah Sakit. Busuk banget! Hahah... Eits, nggak, di Rumah Sakit cuma sempat baca beberapa puluh halaman kok, gak sampe selesai. Sisanya kubaca di rumah, yang tentunya... gak ada privasi juga, secara aku masih tinggal sama orangtua.
Ceritanya? Bagus. Yea, ga usah baca sampe sini juga tau kan, dari bintangnya? *digaplok khalayak* Kalau hanakotoba kemarin (kataku lhooo, kataku) target pembacanya remaja, menurutku yozakura ini target pembacanya Young-Adult ke atas. Layaknya film India, komplit lah, ramuannya, ada bumbu cintanya, sedihnya, dramanya, bahkan action dan nari-narinya (enelan atu ndak boong lho, cuma dikit ciii, tapi atu ndak boong) *digaplok penulis* Tidak semua kisah berakhir bahagia untuk semua yang terlibat di dalamnya, apalagi kalau bukan kisah dongeng. Dan yozakura, fiksi yang dirangkai dari petikan-petikan kisah nyata, juga jadi terasa lebih nyata karena poin itu. Makanya aku suka, karena aku bukan tipe yang lebih suka kisah yang agak realistis (bukan soal genre fantasi atau bukan, tapi ke soal poin yang kusebut tadi... pasti ada kehilangan, ada pencapaian, dst, ibarat perlombaan, gak mungkin juara 1,2,3,harapan 1,2,3 semuanya dipegang sama satu orang yang sama).
Aku sendiri memang ga pernah punya sahabat semacam Nina-Tenshi, tapi aku punya satu sosok yang tak tergantikan. Dan kalau rasanya lagi jauh sama sosok itu (bukan ngomong soal jarak ya, ini) kayanya tuh musnah dalam ketiadaan lebih bagus daripada hidup sendirian (idiiih, mulai lebay ni) Mungkin... itu kali ya, kehilangan yang dirasakan akibat kepergian sahabat? (bah, mulai mengira-ngira pula ini anak). Sudah lah, semoga semua yang terlibat di sini diberi kekuatan untuk bahagia dan melanjutkan hidup dengan penuh keikhlasan. ^_____^
PS: lupa mau nulis bagian yang ini: Sebetulnya setelah beli, bukan aku yang memerawani buku ini, tapi mama. Entah kenapa, mama yang biasanya bukan penyuka bacaan (atau aku aja yang ga pernah liat mama baca, selain alkitab dan resep?), tiba-tiba nanya, aku punya buku bagus apa. Maaf Ma! Ampun! Iya, iya, kadang-kadang mama baca kok, buku yang mama anggap menarik, kayak buku yang kira-kira judulnya "Kamu monyet atau babi" itu kan? XD Yang mama cari buku bahasa Indonesia tentunya, karena mama tak paham bahasa Inggris. Kebetulan belum lama, buku yozakura sama hanakotoba ini datang. Berhubung hanakotoba sedang kubaca, kukasih lah si yozakura ke mama. Memang sih mama gak sampe mewek (gak kaya anaknya yang cengeng ini), karena ada satu keyakinan mama yang membuat dia jadi wanita yang jarang meneteskan air mata :D Tapi keliatan kok, kalo sebenernya uda pingin nangis juga itu pasti bahahaha *ditendang mama* Saking menikmati novel ini, mama sampai lupa tidur, demi baca lebih banyak, dan protes di halaman akhir, karena kisahnya gak dilanjutkan, karena begini dan begitu XD *peluk2 mama tapi terus digebah, lalu pundung di pojokan* Udah ah, mo nambahin itu doang :P
"Ada kalanya kita meminjamkan kekuatan untuk orang lain, tapi yang kadang kita tak sadari, kita juga perlu membiarkannya mencari kekuatan dalam diri." (Halaman 65)
Nila sangat mencinta budaya Jepang. Sedangkan sahabatnya, Akane, sebaliknya sangat mencintai budaya Indonesia. Persahabat lintas negara dan budaya itu berlanjut sampai sekarang.
Akane dan Nila, dua perempuan berbeda budaya, negara, agama, bahkan kebiasaan dipersatukan dalam jalinan persahabatan. Hubungan mereka diuji ketika dokter memvonis Akane menderita kanker payudara stadium 3. Nila jelas bersedih. Ia bahkan merelakan waktu prewedding-nya dengan Daniel diundur demi bertemu dengan Akane di Bali. Mereka akan liburan berdua. Tanpa Hiro dan Ron, suami dan anak Akane. Juga tanpa Daniel, tunangan Nila.
"Second chance in life. We all have second chances as long as we are still breathing."
Novel ini ditulis Mbak Donna sebagai tribut untuk almarhum sahabatnya yang telah meninggal. Yozakura terbit sekitar tahun 2014 dan merupaka novel ke-24 Mbak Donna. Kisah dua negara dan dua budaya. Meski saya merasa lebih banyak mengeksplor Jepang, tetapi novel ini tidak kehilangan rasa Indonesia-nya.
Meski endingnya sedikit mudah ditebak, tapi tetap saja ada kejutan dalam alurnya. Mbak Donna lihai merangkai kejutan-kejutan tersebut. Meski, lagi-lagi, ada beberapa bolong dalam hal cerita yang menurut saya tidak selesai. Emosi tokoh-tokohnya 'dapat banget'. Tokoh favorit saya adalah Sora. Awalnya saya pikir Sora itu perempuan. hahaha.
Novelnya sedih, apalagi saat membaca latar belakang Mbak Donna menulis Yozakura. Saya suka sekali detil suasana yang digambarkan, apalagi soal Sakura. Sayangnya karakter-karakter dalam buku ini kurang kuat dan kurang tereksplor. Bayangan saya tentang parah tokoh masih agak kabur, tidak melekat kuat dalam kepala saya sebagai pembaca.
Di luar dari kekurangan yang ada, buku ini cukup jadi rekomendasi buat kalian yang suka membaca buku dengan latar Jepang. Sekali lagi, Mbak Donna membuktikan kepiawaiannya dalam meramu ide yang ada di sekitar kita menjadi cerita yang menarik.
Kehilangan kata-kata,itu kesan pertama. Buku ini penuh dengan emosional. Saya sangat suka persahabatan mereka, Nila dan Akane, meskipun berbeda bangsa, budaya, dan jarak, tapi saya menyakini satu hal, mereka saling menyayangi. Astaga, persahabatan mereka begitu kuat, sungguh layaknya keluarga dalam kisah ini.
Saya suka kalimat-kalimat bijak di setiap awal bab, hangat. Walaupun di beberapa bab saya menemukan typo dan sedikit menganggu, sebab saya harus membalik halaman sebelumnya untuk memastikan kalimatnya. Tapi, tidak masalah dengan hal itu.
Saya suka dengan Sora, sangat. Lelaki yang bermain dengan instingnya dalam mengambil tindakan, sangat perhitungan dan persiapan akan setiap hal.
Karakter tokoh di sini sangat hidup. Satu hal yang saya garis bawahi, bahwa "menulis dapat menyembuhkan luka"
Yozakura sekarang saya tahu artinya, sakura di malam hari, karena di siang hari dinamakan hanami ^^
Saya mengenal Primadonna Angela dari teenlit-teenlitnya yang sempat nge-boom. Dan jujur, ini metropop pertama dari penulis yang saya baca.
I was expecting floods of emotions when I read this, but unfortunately I didn't feel anything. Untuk saya, alurnya terlalu cepat dengan chemistry para karakternya yang sedikit ngambang. Saya sendiri belum bisa merasakan kuatnya persahabatan Nila-Akane. Begitupun dengan Nila-Sora.
Cerita ini sedih sekali 😭😭 Mengisahkan jalinan persahabatan yg tak 'kan bisa diputus meski maut memisahkan. Ga nyangka klo inti cerita ini berasal dari true story-nya penulis. Turut berduka atas kepergian sahabat Mbak Angela.
Selain bercerita akan rasa kehilangan, penulis juga menjadikan kisah asmara dan patah hati yg terjalin di antara para tokoh (Akane-Nila-Hiro-Sora-Daniel) sebagai bagian tak terpisahkan dari struktur cerita. Dua wanita dengan tiga pria di dalamnya. Apa pun bisa terjadi, 'kan?
Ini buku ke-4 Mbak Angela yg saya baca setelah Jeanny dan Kotak Mimpi. Bagi saya, Yozakura ini lebih baik. Karena saya suka semua hal teknis yg berkenaan dgn cerita ini. Ya alur, ya bahasa, ya konflik, semuanya. Kecuali typo pada penyebutan beberapa nama. Mestinya Akane menyebut Hiro tapi ditulis Ron. Pun begitu dengan Nila. Seharusnya menyebut nama Daniel tapi yg ditulis Sora. Klo ending-nya? Sedikit membuat penasaran. Soale ga dijelaskan lebih lanjut perihal surat2 yg ditulis Akane untuk Hiro, Sora, dan Nila. 'Kan jadi kepo bacanya, hehe.
Untuk perubahan karakter di setiap tokoh juga bagus. Gimana Hiro yg kerap mengutamakan pekerjaan daripada Akane tetiba berubah drastis pasca diberitahu Nila akan keinginan2 sederhana yg ingin didapatkan Akane dari Hiro. Atau karakter Sora yg over-protectif pada Hiro-Akane dengan menampilkan ketidaksukaannya akan kehadiran Nila di sekeliling Hiro juga perlahan2 berubah setelah menyaksikan langsung sikap Nila terhadap Hiro. Dan masih banyak lagi permainan karakter para tokoh di cerita ini yg memang terkesan sesuailah bila dibawa ke kondisi sebenarnya. Daaan satu lagi, cerita ini sarat pembelajaran akan cinta dan kehilangan.
ada hal - hal yang memang membuat hati bisa menghangat ketika membaca buku dan saya menemukan kehangatan itu pada saaat membaca novel kak Primadonna ini, sangat menyentuh dan menghangatkan hati pembaca.
kisah nila dan akane yang sejak awal sudah membuat pembaca merasa terharu dan mellow justru menemukan kisah perjalanan yang tak kalah menarik. perjalanan tokoh tokoh yang sangat realistis dan ending yang sangat indah. kagum sih sama novel ini, indah sekali. bangga sekali dari masa dulu sudah baca karya karya kak Primadonna seperti belanglicious dll.
lagi - lagi pertanyaanku, emang boleh ya novel sebagus ini?
Saya memiliki ikatan persahaban yang sama dengan pemeran utama, tapi dengan plot yang berbeda tentunya. gaya bahasa khas buku keluaran 2000 an, sudah cukup membuat saya nostalgia dengan novel-novel yang aku baca saat SD, saya rasa ini merupakan cerita ringan yang bisa membantu mengisi akhir pekan.
Buku ini sudah aku impi-impikan sejak penamapakan cover-nya. Ilustrasinya ( huruf Jepang dan bunga sakura ) serasa pas saja dengan warna sampulnya itu. Ya. Aku memang sejak dulu sudah suka juga sih dengan yang berbau-bau negara satu itu. Dan Primadonna Angela, jelas aku sudah menyukainya sejak Belanglicious.
Buku ini bercerita tentang persahabatan beda negara, sebuah persahabatan yang tak lekang oleh waktu antara Nila dan Akane, yang tetap berkesan meski salah satu diantaranya telah tiada. Buku ini tentu saja mengharukan mengingat siapa yang tidak akan benar2 bersedih jika kau mungkin akan kehilangan sahabat terbaikmu selamanya? Siapa yang tidak akan susah hati mengingat kau masih ingin terus dapat berbicara dengannya meski lewat telepon, sesekali menghabiskan waktu bersamanya, mendengar kabar dan cerita2nya, namun dia mungkin sudah tak dapat kau temukan lagi di ujung dunia manapun. Tetapi tenang, buku ini tidak hanya berisi dengan kesedihan2 saja. Ada juga kisah seru antara Nila dan Sora, bagian yang mungkin malah kusukai. Tentang perasaan yang muncul tanpa pernah diprediksikan oleh Nila sebelumnya ketika ia berkunjung menemui Akane ke Jepang. Kau pasti tidak ingin melewatkan kisah cinta seperti itu, bukan? Seru, seru, seru.
Dan seperti biasanya, aku suka dengan gaya bahasa Mbak Donna, mudah dipahami dan asik. Untuk keseluruhan cerita, buku ini tidak mengecewakan. Aku suka sekali dengan quotes2 yang terdapat di setiap pergantian bab. Suka dengan unsur2 Jepangnya yang dimasukkan spt kosakata, nama makanan. Yang menurutku kurang hanyalah, uumm, aku menginginkan ada kisah yang lebih banyak lagi antara Nila dan Akane selama di Jepang. Mungkin kebersamaan mereka berdua sebelum Akane sakit yang berarti Nila pernah ke sana sebelumnya atau bagaimana. Masa-masa gembira mereka untuk mengimbangi keseruan mereka berdua selama di Bali yang ditulis secara flashback atau bagaimana. Atau, kebersamaan Nila dan Akane selama Akane berada di rumah sakit.
Btw, seperti kubilang tadi, buku ini layak untuk dijadikan koleksi dan disukai. Daannn, terima kasih Mbak Donna, sudah menulis kisah yang terinspirasi oleh persahabatanmu dengan sahabat terbaikmu, Nina Higa. Semoga persahabatan kalian kekal abadi. Terima kasih juga karena telah membawakanku buku ini pada Maret yang lalu. Aku senang sekali menganggapnya bagian dari hadiah terbaik di bulan favoritku. ^^
ps: terima kasih juga untuk Shandy Tan. Saksi mengejutkan di hari yang mengejutkan. xoxo
Aah, sudah lama nggak baca karyanya Primadonna Angela! Sejak dulu dia adalah salah satu penulis yang saya kagumi. Cara membawakan cerita selalu segar dan lucu, dibumbui kalimat-kalimat cerdas yang menohok. Daaan kali ini novelnya tentang Jepang (lagi). Mana bisa saya menahan hasrat untuk langsung membelinya?
First of all, buku ini tidak istimewa, tapi tidak bisa dibilang mengecewakan juga. Apa ya, terasa sekali kalau buku ini adalah curahan hati seorang Primadonna Angela. Apalagi di bagian awal, ketika Nila dan Akane berlibur di Bali. Semua yang tertulis di situ terasa terburu-buru, bukan seperti novel tapi seperti buku harian. Jurnal. Tidak ada aliran yang menghanyutkan tapi hanya menceritakan kejadian. Sayang sekali. (yah memang sih yang bagian itu adalah adaptasi dari kisah nyata mbak Angela sendiri, seperti tertera di afterwordsnya)
Selain itu, plotnya juga tidak istimewa. Well, what can I expect from a non-fantasy book eheheh. Sebetulnya dilihat tema utamanya saja, buku ini sudah cukup berbeda karena mengusung tema persahabatan beda negara. Tentang romansa, teteup. Malah bisa dibilang berwarna, karena buku ini mengisahkan dua pasangan yang karakternya benar-benar berbeda. Yang satu melankolis, yang satu energetic. Dua-duanya tetep bikin 'awwww' sih. Mereka unyu sekali
Di sisi lain, buku ini penuh perasaan. Untaian kata-kata indah di tiap pergantian bab menambah feeling dari kisahnya. Dari tengah ke belakang, mbak Angela kembali menemukan ritmenya. Masih ada rasa terburu-buru untuk ukuran beliau tapi toh saya bisa bilang begini karena kenal gaya menulis beliau yang dulu. (Saya kangen gaya menulisnya yang hobi ngomong ngalor-ngidul di narasi!)
Yang pasti, novel ini terasa manusiawi sekali. Di mana kita berusaha kuat untuk orang lain. Di mana kita berusaha menjalani hidup sebaik-baiknya di depan kematian. Saya suka dengan tokoh-tokoh utama di dalam novel ini (namely Nila, Akane, Hiro and Sora. Kinda caught how Angela made the girls' names as colors...) karena mereka... well, mereka manusiawi. Mereka kuat, tapi manusiawi.
So all in all, 3 stars.
Baidewei, I was hoping for cutesy anime-like illustration so I was kinda disappointed hehe /gakpenting
Nila mendapat email dari sahabatnya yang tinggal di Jepang, Akane. Dalam email-nya tersebut, Akane mengabarkan kalau dirinya terkena kanker payudara dan harus menjalani kemoterapi. Akane berharap bisa menjalani liburan bersama Nila sebelum kemoterapinya dimulai.
Di tengah persiapan pernikahannya, Nila pun berangkat ke Bali untuk memenuhi permintaan Akane. Di Pulau Dewata tersebut dua sahabat ini menghabiskan waktu mereka bersama-sama. Bahkan saking akrabnya, beberapa orang beranggapan salah akan persahabatan mereka.
Sekembali ke negeri Sakura, Akane langsung memulai pengobatannya. Beberapa bulan menjalani kemoterapi, Akane dinyatakan sembuh. Di saat yang sama, Nila harus menghadapi kenyataan kalau pernikahannya dengan Daniel harus dibatalkan karena kelakuan tunangannya tersebut.
Tak lama kemudian, Nila mendapat kabar kalau kondisi Akane memburuk karena kankernya muncul lagi. Dengan uang tabungannya, Nila segera berangkat ke Jepang untuk menemani Akane. Siapa sangka, selain bertemu dengan Akane dan suaminya, Hiro, Nila juga bertemu dengan Sora, sepupu Hiro yang tinggal di kediaman Hiro selama beberapa waktu.
Sejak kali pertama pertemuan mereka, Sora sudah menunjukkan ketidaksukaannya pada Nila. Ia menuduh Nila menyukai Hiro dan sengaja datang ke Jepang untuk mengambil hati Hiro sesudah Akane meninggal. Untuk mencegah dugaan buruknya tersebut terjadi, Sora pun menjalankan sebuah rencana. Ia akan membuat Nila jatuh cinta padanya.
What a beautiful friendship, and inspiring story. Belum apa2 udah dibuat nangis karena baca kata pengantar dan about Nina Higa nya. Betapa cerita ini mengajarkan kita untuk mau berteman dengan seseorang yang berbeda negara dan segalanya. Bahwa tidak menjadi hambatan untuk berteman walau berbeda bahasa, suku, budaya.
Saya suka dengan persahabatan antara Akane dan Nila. Hanya saja persahabatan itu menjadi berbeda karena Akane menderita kanker payudara.
Akane mempunyai suami dan anak, sementara Nila sudah mempunyai tunangan. Hanya saja ternyata tunangan Nila selingkuh hingga memyebabkan perkawinan mereka batal. Akhirnya Nila ke jepang untuk menjenguk Akane. Disana dia berkenalan dengan Sora yang adalah sepupu dari suami Akane. Awalnya pertemuan mereka bisa dibilang gk lancar, Sora selalu menuduh Nila ingin merebut Hiro, suami Akane.
Dari awal mereka berantem trus antara Sora dan Nila. Yaahh benci dan cinta beda tipis, ujung2 nya mah mau nikah juga mereka. Di samping itu keadaan Akane semakin parah. Hingga akhirnya dia meninggal.
Sedih. Sedih banget bangeett.. Persahabatan yang indah dan agak miris memang. Berharap cerita ini dijadikan film layar lebar. Karena saya suka dengan Akane, walau mempunyai penyakit parah dia masih memikirkan orang2 disekitarnya.
Ini kisah tentang persahabatan dan cinta yang menyentuh. Sampai sekitar halaman 50an, plotnya masih datar-datar saja. Belum ada konflik yang berarti. Tapi kisahnya mulai menjadi seru ketika terkuak bahwa Nila jatuh cinta pada suami sahabat sendiri. Kemudian menjadi semakin seru dan dibuat penasaran ketika muncul tokoh baru bernama Sora, sosok misterius yang berkaitan dengan masa lalu Akane dan kini berkonflik dengan Nila.
Sayangnya, niat sejak awal penulis untuk membuatkan twist langsung meruntuhkan ekspektasi saya, bahwa ternyata masa lalu Akane dan Sora tidak gimana-gimana juga. Hanya satu kejadian tidak disengaja. Lalu yang membuat bingung, Akane yang awalnya shock berat begitu tahu Nila dekat dengan Sora membuat saya mengira bahwa Sora itu sejenis cowok jahat, tapi di akhir Akane malah merestui mereka. Saya merasa ada hal yang tidak sinkron di sini.
Namun secara keseluruhan, novel ini ditulis dengan rangkaian kata yang indah dan dipenuhi dengan berbagai quotes yang mengena. Saya cukup menyukai tulisan ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Why i give this book only 2 star? Diluar ekspetasi dari tulisan2 Primadona Angela. Mungkin karena ini terinspirasi pengalaman pribadi ya. Alur diakhir terlalu dipaksain (cepat banget dan ujug2 aja gitu), lalu setiap karakternya kurang kuat. Dan hubungan "friendship" yang coba dibangun, terasa hambar dan kurang mengena gitu loh.. Waktu baca buku ini, gada keinginan sama sekali untuk cepet2 selesein baca..
Aku tidak bersemangat setelah membaca separuh dari novel ini. Entahlah, rasanya tokoh2 utama di novel ini sedang kalut dengan pikirannya sendiri. Too much telling. Dan kemudian muncul sosok Sora, yang membuatku bersemangat untuk melanjutkan kisah Nila. Sora sosok lelaki yang tau maunya apa dan berjuang untuk ngedapetinnya. Aku suka penggambaran sosok Sora di novel ini, lebih banyak bertindak :). Tiga bintang untuk kisah di novel ini :).
Dan salut untuk persahabatan antara Nila dan Akane :)
Seperti biasa, buku yang ditulis oleh Teh Don ini 'quote-able'. Selalu ada kutipan2 menarik yang bisa dijadikan sebagai pengingat di situasi yang tepat. :)