Ribuan tahun silam, kekuatan magis batu merah berpendar memberi kemakmuran pada Kerajaan Avaritia. Batu itu lalu dipecah menjadi lima, dan pecahan terbesar diwariskan pada putra bungsu—tanda ia ditakdirkan menjadi penerus raja.
Namun, hasrat yang tersembunyi berujung pada perang saudara—dan pewaris yang sah pun tumbang. Sang Raja, terselubung duka dan amarah, mengusir putra-putranya yang tersisa, lalu menyembunyikan empat pecahan batu pada relik-relik kerajaan, dengan dua di antaranya melekat pada sepasang gelang milik Putra Mahkota. Raja membiarkan pecahan paling besar tersimpan dalam berita burung melintasi mulut ke mulut.
Kelak di suatu malam sunyi, Nala, seorang gadis dari dunia manusia, tersesat di hutan dan menemukan salah satu gelang suci milik Putra Mahkota Orfeas.
Gelang bertatahkan permata merah itu mengikatnya dalam bayang-bayang kutukan yang tak bisa ditolak—Nala kini terpilih sebagai Putri Mahkota Avaritia, sebuah posisi yang tak dapat ia lepaskan. Bahkan, jika ia menginginkannya.
Nala, seorang manusia dari dunia Terralys terjebak dalam hutan. Ia menemukan sebuah gelang milik putra mahkota Ereval dari kerajaan Avaritia bernama Orfeas. Ketika ia mencoba gelang itu, sayangnya gelang itu tak bisa terbuka. Nala pun panik dan akhirnya ia pingsan. Nala ditemukan oleh Ray ketika lelaki itu sedang berjalan di sekitar hutan.
Suatu ketika Nala terbangun dan ia melihat dua pria kekar bersayap. Sudah jelas-jelas dua orang itu bukan manusia karena memiliki sayap. Dua orang itu adalah Ashby, ajudan Orfeas dan di sebelah Ashby berdiri si putra mahkota. Kedatangan mereka tentu karena melihat Nala memakai gelang itu. Tadinya Orfeas berpikir untuk memotong tangan Nala. Dongeng bercerita katanya gelang itu bahaya jika dikenakan sembarang manusia. Gelang itu bisa membakar tangan yang memakainya bahkan bisa membakar tubuh orang itu. Tetapi hal itu tidak terjadi pada Nala. Dongeng itu juga berkata jika gelang itu cocok dipakai oleh seseorang, bisa jadi ia akan menjadi calon kekasih Orfeas alias putri mahkota.
Sejak saat itu, Orfeas selalu mengikuti ke mana Nala pergi. Ia sesekali Orfeas mengubah wujud menjadi manusia dan ia tidak masalah dengan itu. Meski Nala hidup bagai sebatang kara, tidak punya teman karena tiap orang yang dekat dengan Nala pasti akan terbawa sial. Hingga suatu fakta berhasil diketemukan. Hanya Ray satu-satunya yang tidak pernah kena sial dari Nala. Orfeas pikir bahwa ia cemburu pada Ray karena dekat dengan Nala. Namun, ada hal lain yang sangat mengganggu Orfeas tentang itu.
Ini buku kedua dari Pichi Dichi yang kubaca setelah Luciusera dan aku suka banget sama Avaritia! Editingnya lebih smooth, cara berceritanya juga lebih luwes. Apalagi aku suka banget sama Nala dan Orfeas di sini walaupun romancenya slow burn. Fantasynya lebih terasa magicnya. Meski Nala ini dunia manusianya terasa nyata sekali tapi tak membuatku terganggu karena ini cerita fantasy. Age gapnya lumayan jauh karena Nala 18 tahun sementara Orfeas berumur beribu-ribu tahun. Sekali lagi karena ini fantasy dan Orfeas makhluk immortal makanya wajar saja bagiku. Aku pernah juga menemukan yang seperti ini dalam cerita fantasy lain.
Pokoknya sekali baca prolognya pasti akan langsung tersedot sama ceritanya seakan-akan ikut masuk ke dunia Ereval dan Terralys!
fantasy romance yg cocok utk remaja manis, cute, fluffy, tp ada sentuhan fantasinya yg seru utk berimajinasi
Gaya tulisannya enak, narasi dan plotnya rapih❤
Orfeas sama Nala nih lucu gemes gitu
Orfeas kan usianya udh gatau deh, ratusan atau ribuan tahun? Tp dia gayanya bocah bgt 😭 gemes. Tp di waktu2 tertentu dia emang kelihatan udh kemakan waktu sih... maksudnya, kan, umurnya 😃 Orfeas: greenflag, gentle
Klo Nala nih gemesnya karena dia masih polos dan masih muda bgt. Kupikir2 kehidupan Nala juga sedih bgt ya ☹