Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pendekar Pemanah Rajawali, Jilid 1

Rate this book
“Jika aku mengenakan pakaian ini,” kata Huang Rong, “siapa pun akan memperlakukanku dengan baik, itu tidak aneh. Tapi, waktu aku menjadi pengemis, kau baik padaku, hal itu baru benar-benar baik.”

----

Guo Jing yang lugu tumbuh di Mongolia dan belajar ilmu silat dari Tujuh Orang Aneh Jiangnan. Setelah berumur delapan belas tahun, ia pergi ke selatan untuk menghadiri perjanjian pertarungan di Loteng Dewa Mabuk. Dalam perjalanan ia bertemu Huang Rong, gadis cerdik yang menyamar sebagai pengemis, dan keduanya bertualang bersama.

416 pages, Paperback

First published August 18, 2014

10 people are currently reading
53 people want to read

About the author

Jin Yong

851 books773 followers
Louis Cha, GBM, OBE (born 6 February 1924), better known by his pen name Jin Yong (金庸, sometimes read and/or written as "Chin Yung"), is a modern Chinese-language novelist. Having co-founded the Hong Kong daily Ming Pao in 1959, he was the paper's first editor-in-chief.

Cha's fiction, which is of the wuxia ("martial arts and chivalry") genre, has a widespread following in Chinese-speaking areas, including mainland China, Hong Kong, Taiwan, Southeast Asia, and the United States. His 15 works written between 1955 and 1972 earned him a reputation as one of the finest wuxia writers ever. He is currently the best-selling Chinese author alive; over 100 million copies of his works have been sold worldwide (not including unknown number of bootleg copies).

Cha's works have been translated into English, French, Korean, Japanese, Vietnamese, Thai, Burmese, Malay and Indonesian. He has many fans abroad as well, owing to the numerous adaptations of his works into films, television series, comics and video games.


金庸,大紫荊勳賢,OBE(英語:Louis Cha Leung-yung,1924年3月10日-2018年10月30日),本名查良鏞,浙江海寧人,祖籍江西婺源,1948年移居香港。自1950年代起,以筆名「金庸」創作多部膾炙人口的武俠小說,包括《射鵰英雄傳》、《神鵰俠侶》、《鹿鼎記》等,歷年來金庸筆下的著作屢次改編為電視劇、電影等,對華人影視文化可謂貢獻重大,亦奠定其成為華人知名作家的基礎。金庸早年於香港創辦《明報》系列報刊,他亦被稱為「香港四大才子」之一。


Source: https://zh.wikipedia.org/zh-tw/%E9%87...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
18 (51%)
4 stars
12 (34%)
3 stars
4 (11%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Indah Threez Lestari.
13.5k reviews270 followers
December 14, 2014
1085 - 2014

Ini baca ulang entah yang kesekian puluh kalinya, barangkali.

Tapi ini pertama kali aku membaca Sia Tiauw Eng Hiong dengan ejaan Mandarin, yang terus terang saja, tidak familiar di mata dan tidak sinkron di otak.
Mau bagaimana lagi, seumur-umur tahunya STEH versi ejaan Hokkian, di teks serial TVB sekalipun, meskipun pengucapan para aktor dan aktrisnya memang beda :)

Bukan itu saja, asli semua nama julukan dan jurus yang untuk cersil biasanya dipertahankan pakai bahasa asli (ejaan Hokkian, tentunya) juga diterjemahkan jadi bahasa Indonesia. Mengurangi ketidaksinkronan? Mungkin saja. Tapi bila biasa dengan istilah Kiu-im Cin-keng atau Hang-liong Sip-pat-ciang, sudahlah, jangan berharap menemukannya dalam bentuk teks.

Terlepas dari ejaannya (risiko yang kusadari benar saat membeli edisi ini), rupa-rupanya buku ini adalah terjemahan ini dari Edisi Revisi Baru (kalau menurut halaman pendahuluan dari Jin Yong, ini revisi ketiga). Jadi, jelas, ada beberapa perbaikan dari sang master untuk cerita yang mungkin dianggap kurang pas atau kurang nyambung.

Di awal cerita, yang biasanya dimulai dengan pertemuan Kwee Siauw Thian (Guo Xiaotian) dan Yo Tiat Sim (Yang Tiexin) dengan imam Coan-cin-kauw (aliran Quanzhen) Khu Ci Kee (Qiu Chuji), direvisi dengan menampilkan tetangga mereka yang rajin mencuri harta dan benda berharga lainnya dari istana. Tentunya revisi ini, meskipun hanya terasa bagai tempelan, bertujuan untuk memberikan koneksi dengan jalan cerita di masa yang akan datang, yang mengungkapkan bahwa tetangga mereka itu ternyata mantan murid Oey Yok Su (Huang Yaoshi) yang mencuri harta karun demi merebut kembali hati sang guru.

Di akhir cerita, revisi yang mencolok adalah asal usul Yo Ko (Yang Guo). Di versi awal, Yo Ko adalah anak dari gadis pencari ular yang diperkosa oleh Yo Kang (Yang Kang). Berbeda dengan versi sinetron, eh, video silat, di mana Yo Ko adalah anak Bok Liam Cu (Mu Nianci). Mungkin demi kemaslahatan umat perlu dilakukan sinkronisasi antara kedua versi yang berbeda, atau mungkin juga untuk mengurangi kadar kebejatan Yo Kang, yang kalau di versi lama mengaku cinta pada Bok Liam Cu tapi tetap tega memperkosa gadis lain yang diculik dan dipersembahkan oleh Tiat-ciang-pang. Ini murni opini nuduh dariku sih :)

Pada penutup kisah pertama dari Trilogi Rajawali Jin Yong ini, timbul pemikiran filosofis tentang eksistensialisme, yang dirasakan oleh dua orang yang masing-masing telah mencapai puncak kejayaan yang berbeda: Auwyang Hong (Ouyang Feng) yang menjadi nomor satu di dunia persilatan, dan Jenghis Khan yang menjadi penguasa nomor satu di kolong langit.

Sebenarnya siapa aku?
Dalam hidup ini siapa aku?
Sesudah meninggal bagaimana?
Siapa yang berhasil, siapa yang gagal, akhirnya apa bedanya?
Profile Image for Editanainggolan.
436 reviews12 followers
April 26, 2020
Aku punya cerita,

Tahun 2019.

Wah... Ada bookset murce.
Eh, itu buku yang dulu di filmkan itu bukan? Yoko, Bibi Lung, Bocah Tua Nakal, Gerombolan Pengemis, Tongkat Pemukul Anjing, Tio Bukki, 🎤Siapa yang.. Merubah hatiku... Siapa yang... Membuat kita satu...-nya Yuni Shara, film seri yang kutunggu-tunggu setiap jam 16.00 sore kayaknya, di tipi apa aku dah lupa, ituuu???
😱

Ah, Beli.. Beli... 3 set, masing-masing 4 buku.
Belinya cabutan, dari jastip A dapat 2, dari jastip B dapat 1, dari jastip E dapat 3, sampai akhirnya lengkap!!! Yeayyy!!

Trus...

🙋 Yok kita babat tahun depan yok, sebulan 1 buku.
💁 Yok.. Yok... Kita bikin hastag #AYearWithJinYong
#currentlyreading Book 1

Tahun 2020.

Januari :

💁 Aku dah baca...
🙋 Aku juga...
🙆 Aku juga ikuuutt...

Februari

Maret

April

#wfh implement
🙋 💁 #BookCampaigne #dirumahaja, babat TBR!!
💁 Baca apa ya..? --Book 1 kejepit bantal di tempat tidur-- eh, buku ini... *reading

April 10th, Book 1 Done
Wah, selesai... Aku butuh Book 2
And I found my self curious about this whole series! 😆

Book 1 ini adalah Jilid 1 Pendekar Pemanah Rajawali, tidak terlalu tebal, hanya 414 halaman. Memang buku ukuran besar. Tapi.. Font dan spasinya padat bener. Belum lagi ceritanya, belum lagi nama tokoh-tokohnya yang sulit dibaca : Han Xioying, Qiu Chuji, Qian Qingjian dan banyak lagi yang bikin lidah kepleset-pleset 😅

Tapi aku menyiasatinya.
Dengan membaca pelan-pelan.
Hanya 1 bab sehari.
Paling banyak 1 bab, 1 hari.
Rata-rata 1 bab 20-an lembar. 1 hari.

Dan voila... Selesai.

Nah, buat teman-teman yang punya buku ini, boleh di coba ya... Yok kita babat seri ini, setahun atau 2 tahun selesai gak papa. Keep reading ya..
Terutama kalian berdua 🙋🙆
You know who you are guys!! 😂

Buku tentang apa?
Yang jelas tentang Si Pendekar Pemanah Rajawali. Aku blom bisa cerita banyak, karena dibuku 1 ini masih dini banget. Dia bahkan belom menyandang gelar itu, tapi dia udah punya Rajawali putihnya. Tapi aksi kungfunya seru. Plot twist apalagi. Kayaknya pendekar kungfu ga suka duduk tenang dan bicara baik-baik. Adanya lomba minum arak trus adu kungfu yang jadinya malah salah paham.

===
Shediao Yingxiong Zhuan /The Eagle-Shooting Heroes /Pendekar Pemanah Rajawali : Jilid 1 - Jin Yong (2003)
Terjemahan @bukugpu (2014), 415 hal
Genre : Sastra Tingkok
Rate dariku : 4.3⭐
Profile Image for Mazdan Assyayuti .
58 reviews3 followers
December 22, 2021
(#BukuUntuk2021)
Selesai baca buku ke-9

Para penggemar drama Wuxia, sudah tidak asing lagi dengan JYU (Jin Yong Universe). Karya besar ini sudah berulang kali mengisi layar kaca dengan berbagai versinya sejak dahulu kala. Serial drama kolosal yang berlatar dataran atas angin ini selalu menemukan penggemarnya yang menanti, terutama karya Jin Yong. Sempat dulu pernah menghiasi layar televisi swasta Indonesia, sekarang sudah tidak lagi.

Menurutku, Jin Yong selalu membuat cerita yang merupakan efek domino dari sebuah pilihan. Inilah hal yang fundamental aku temukan membaca karya pertama dari Trilogi Pendekar Rajawali. Jadi ingat perkenalan dengan novel Golok Naga dan Pedang Langit. Ciri khasnya sama.

Pada karya pertama ini, setidaknya berakar dari dua peristiwa yaitu: (1) sumpah persaudaraan; dan (2) menyelamatkan musuh (Negara Jin). Pada jilid pertama ini, mengkisahkan akar-akar masalah ini. Peristiwa pertama memiliki keterkaitan dengan Pendeta Qiu Chuji. Sedang peristiwa kedua merupakan bibit kelahiran Yang Kang, yaitu Bao Xiruo yang menolong seseorang yang terluka.

Jelas sekali, pada jilid pertama ini menceritakan Suhu Guo yang terlahir di Mongolia. Akibatnya, cerita di jilid pertama ini setengahnya berlatar daerah Mongolia. Guo Jing bertemu guru-gurunya dikisahkan dalam jilid ini. Lalu, pertemuan dengan Huang Rong juga berada di jilid ini. Pada bagian akhir-akhir, mulai memunculkan rentetan konflik yang aku sebut sebagai efek domino tadi. Hal ini terutama pasca “Pertandingan Silat Mencari Jodoh”.

Ada beberapa hal yang menarik perhatianku. Pertama, tentang sejarah kasim. Aku menemukannya pertama kali dalam kisah Game of Thrones, kemudian disambung pada novel tebal jilid ketiga dari Nagabumi. Di sini, Jin Yong menceritakan dalam pengantarnya tentang kisah kaisar dan pembantu kasimnya (halaman…). Pada masa lalu, ternyata kasim memiliki kedudukan yang terpandang dalam pemerintahan terutama soal kepenurutannya (meski kesetiaannya masih diragukan). Seperti Game of Thrones dan Nagabumi justru para kasim memanfaatkan sikapnya yang penurut itu untuk kepentingan pribadi/kelompoknya sendiri. Sebetulnya menarik untuk diriset, apakah di Indonesia juga demikian pada masa lampau, Mataram, Kediri, Singasari, Majapahit dan lain sebagainya.

Kedua adalah tradisi potong telinga kepada utusan diplomasi. Hal ini menarik karena di Nusantara juga terdapat cerita yang sama ketika masa Singhasari akhir. Uniknya ini dilakukan oleh orang Mongolia, yang juga mengirim utusannya ke Singhasari. Setidaknya aku punya prasangka baik terhadap peradaban Nusantara yang sangat luas, buktinya sekelas Singhasari saja tahu budaya perang yang di Mongolia dengan merendahkan diplomat menggunakan potong telinga. Selebihnya kepada para ahli sejarah bisa menganalisis.

Buku ini cukup menjadikanku untuk kembali berfantasi di China setelah menamatkan novel yang masya-Allah tebalnya karya Seno Gumira Ajidarma. Sayang, tidak ada Pendekar Tanpa Nama dan Chang’an di sini. Tapi jadi bernostalgia beberapa tahun lampau menamatkan keempat buku ketiga (piye le njelaske? haha) dari Trilogi Pendekar Rajawali.
Profile Image for Gita  Marino.
1 review
September 17, 2020
Wah udah berapa lama ya sejak baca Sia Tiauw Eng Hiong ini. Nostalgia cerita silat legendaris dari Jin Yong (Chin Yung).

Tapi, di sini terjemahannya Mandarin instead of Hokkian, harus dibiasakan ya.
Displaying 1 - 4 of 4 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.