Buku Kronik Otoritarianisme Indonesia: Dinamika 80 Tahun Ketatanegaraan Indonesia mengungkap rupa otoritarianisme yang membayangi Indonesia selama delapan dekade. Zainal Arifin Mochtar menulis analisis dari sudut ketatanegaraan, sementara Muhidin M. Dahlan memperkuat narasi ini dengan mengkurasi kliping-kliping bersejarah yang menjadi penanda patahan penting dalam sejarah bangsa.
Sebagian besar negara di dunia memang telah menyingkirkan bentuk kediktatoran mencolok seperti fasisme, komunisme, dan kekuasaan militer. Kudeta militer serta perebutan kekuasaan dengan kekerasan pun kini semakin jarang terjadi. Negara-negara juga secara rutin menyelenggarakan pemilu.
Meski begitu, demokrasi tetap tumbang melalui berbagai cara yang lebih halus. Kemunduran demokrasi menuju otoritarianisme menjadi ancaman nyata. Otoritarianisme tampaknya tak pernah benar-benar hilang; ia justru bertahan dan beradaptasi dalam demokrasi dengan meniru praktik-praktik demokratis.
sebagai pengumpul kliping, mas muhidin tersohor dengan buku-buku kroniknya. kronik sebagai paparan kisah yang mengurutkan sesuai urutan waktu adalah alat yang kuat dalam membangun kredibilitas bukti-bukti historis. terlebih bila peristiwa-peristiwa itu telah dipublikasikan oleh media massa. artinya, adanya peristiwa itu telah diketahui publik. buku ini memperlihatkan bahwa ide atau wacana tentang apa yang disebut sebagai otoritarianisme itu sudah berlangsung lebih dini dari pada yg selama ini diduga umum (yakni masa orde militer 1965). sebelum 1965 otoritarianisme itu sudah dipraktikkan. apakah dengan begitu isme itu tadi bisa dianggap sebagai watak bangsa? tidak. kajian historis lewat kronik justru menyadarkan secara faktual bahwa isme yg harus diwaspadai ini mudah berbiak kembali.