Ditulis pada 1926, Aksi Massa menjelaskan seperti apa rencana revolusi yang diinginkan Tan Malaka. Meninjau kondisi Indonesia di masa penjajahan serta belajar dari perjuangan negara-negara terjajah lainnya, Tan Malaka menyampaikan bahwa aksi massa yang rapi dan terencana adalah solusi yang tepat untuk memperoleh kemerdekaan, bukannya perebutan kekuasaan secara radikal.
Tan Malaka (1894 - February 21, 1949) was an Indonesian nationalist activist and communist leader. A staunch critic of both the colonial Dutch East Indies government and the republican Sukarno administration that governed the country after the Indonesian National Revolution, he was also frequently in conflict with the leadership of the Communist Party of Indonesia (PKI), Indonesia's primary radical political party in the 1920s and again in the 1940s.
A political outsider for most of his life, Tan Malaka spent a large part of his life in exile from Indonesia, and was constantly threatened with arrest by the Dutch authorities and their allies. Despite this apparent marginalization, however, he played a key intellectual role in linking the international communist movement to Southeast Asia's anti-colonial movements. He was declared a "hero of the national revolution" by act of Indonesia's parliament in 1963.
mengutip dari bagian akhir buku ini "Lindungi benderamu itu dengan bangkaimu, nyawamu dan tulangmu. itulah tempat yang selayak bagimu, seorang putra tanah Indonesia tempat darahmu tertumpah" dibuku ini Tan memperkenalkan kpd sesama rakyat di negeri terjajah akan pentingnya persatuan dibawah bendera Federasi RI.
Aksi Massa adalah buah hasil pemikiran Tan Malaka pada saat pengasingan di tahun 1926. Buku yang terdiri dari 12 bab ini menjabarkan kondisi Indonesia di masa itu hingga penjabaran pemikiran Tan tentang pergerakan massa untuk menuju revolusi yang sebenarnya.
Tan mengkritik pergerakan kaum kiri yang tampak tidak menghasilkan apa pun dan sangat borjuis. Belum lagi pola pikir yang masih percaya pada takhayul, dan hal gaib lainnya yang dikatakan Tan seperti fantasi anak kecil.
Selain itu Tan mengkritik tajam praktik kolonialisme Belanda dan kapitalisme. Tan menganggap kapitalisme di Indonesia masih muda dan tumbuh dengan tidak semestinya. Produk industri yang dihasilkan dari tanah Indonesia hanya mengantarkan keuntungan ke perut para penjajah, sedangkan Bumiputera hanya menjadi objek eksploitasi dengan upah yang jauh dari manusiawi.
Lalu terdapat poin lain dari buku ini yang menarik bagi saya. Tentang pemerintah yang sangat anti intelektual dan tidak ingin bumiputera menjadi pintar dan terpelajar. Tampaknya Belanda bercermin dari lahirnya para pergerak kemerdekaan oleh 'ekstrimis' di negara jajahan Inggris sehingga tidak mau memberikan akses pendidikan tinggi. Menurut Tan, Inggris seperti melahirkan musuhnya serta menggali kuburnya sendiri.
Belanda takut pada universitas dan sekolah tinggi seperti kepada hantu. Terlalu mudah menyimpulkan apa yang terjadi tanpa memikirkan dampak positif yang bisa didapatkannya melalui kerja sama antara borjuasi bumiputera dan pemerintahan Belanda. Akhirnya, 300 tahun pun menjajah, Belanda tidak meninggalkan apapun di negara jajahannya kecuali kemelaratan.
"Aksi Massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka"
Tan menggambarkan sebuah gerakan perlawanan yang diprakarsai oleh seorang pemimpin dari kalangan buruh dan buruh terpelajar, namun bukan kaum borjuasi yang sarat akan kepentingan pribadi untuk mendapatkan kekuasaan. Tan memiliki harapan besar untuk tergeraknya sebuah gerakan revolusi.
Menurut saya sebenarnya buku ini masih tetap relevan di masa sekarang. Setidaknya bisa menjadi acuan kenapa aksi massa tetap dibutuhkan dan menjadi gambaran tentang kondisi yang terjadi di akar rumput. Karena kondisi yang dijelaskan Tan di buku ini masih tetap relevan hingga sekarang, terutama dalam hal perekonomian. Merdeka dari kolonial Belanda, tapi masih tetap dijajah oleh bangsa sendiri.
Satu lagi kutipan dari bab terakhir buku ini yang berhasil membuat mata saya yang sudah mengantuk kembali segar karena kalimatnya yang sangat powerful.
"Janganlah kamu biarkan bendera itu diturunkan atau ditukar oleh siapapun. Lindungi bendera itu dengan bangkaimu, nyawamu, dan tulangmu. Itulah tempat yang selayaknya bagimu, seorang putra Tanah Indonesia tempat darahmu tertumpah." Kalimat penutup ini menjadi refleksi bahwa aksi massa dibutuhkan untuk menjaga kedaulatan dan harga diri bangsa, bukan untuk kepentingan pribadi tetapi untuk kepentingan bersama.
Semoga aksi massa tidak lagi dipandang sebelah mata.
[Sebenarnya banyak yang bisa dibahas dari buku yang tidak sampai 150 halaman ini, tapi mungkin di lain waktu dan di lain platform..]
Buku Tan Malaka pertama yang saya baca. Bagus, jadi ngerti mengapa dia begitu dihormati (dan ditakuti). Sayangnya versi yang saya beli buruk editingnya.
Saat duduk di bangku sekolah dulu, kita pasti pernah belajar mengenai masa perjuangan non-kooperasi di Indonesia terjadi pada tahun 1920–1930. Tan Malaka merupakan salah satu tokoh non-kooperasi yang menentang keras bentuk-bentuk perjuangan kooperasi dengan penjajah, sehingga pada tahun 1926 beliau menulis buku yang berjudul “Aksi Massa” yang terdiri dari 12 BAB saat beliau melarikan diri dari Indonesia ke Singapura dengan nama Hasan Gozali.
Ketika saya membaca buku ini, otak saya kembali menggali memori-memori lama saya saat mempelajari ideologi marxisme, dan ketika membaca paragraf-paragraf pemikiran Bapak Republik Indonesia ini, pikiran saya langsung otomatis membandingkannya dengan pemikiran Bung Karno, salah satu Founding Father kita yang juga mengambil sikap non-kooperasi. Maka dari itu, uraian saya kali ini akan lebih condong ke pembedahan substansi buku Aksi Massa, beserta perbandingan pemikiran Tan Malaka dengan Karl Marx, Lenin, dan soekarno.
BAB 3 Beberapa Macam Imperialisme
Tan Malaka membuka bagian ini dengan menjelaskan mengenai macam-macam pemerasan dan penindasan, beliau berargumen hal yang mendasari timbulnya berbagai macam mekanisme pemerasan dan penindasan tersebut diakibatkan oleh faktor produksi negara penjajah. Spanyol dan Portugis ketika menjajah Filipina masih bergantung kepada faktor pertanian, sehingga mereka yang belum memiliki barang industri menjajah filipina untuk menjual hasil jarahannya di pasar eropa dengan harga tinggi. Hal yang berbeda terjadi dengan Amerika dan Inggris yang sudah mengalami revolusi Industri terlebih dahulu, begitu juga dengan Belanda. Belanda sedang mengalami masa transisi dari zaman feodalisme ke zaman kapitalisme, sehingga Tan Malaka menyebut belanda berada di zaman “kapitalisme muda”. Dalam ajaran marxisme dinamika ini termaktub dalam salah satu hukum dialektika marxis, yaitu “hukum negasi terhadap negasi.” Ringkasnya, suatu sistem yang lama akan digantikan oleh suatu sistem baru yang lebih baik, tetapi tetap mempertahankan hal-hal positif dari sistem lama yang digantikan tersebut.
Dalam BAB 4 Kapitalisme Indonesia
Tan Malaka berargumen bahwa sistem Kapitalisme di Indonesia tidak tumbuh sebagaimana mestinya. Dalam ajaran marxisme, faktor-faktor produksi seperti mesin dibawa oleh pemilik modal itu sendiri, kemudian dipakai untuk memeras buruh untuk memperkaya diri sendiri. Dalam konteks Indonesia pada saat itu, sistem kapitalisme yang muncul berwujud imperialisme atau penjajahan. Mesin-mesin pertanian diimpor dari luar negeri oleh penjajah untuk mengelola hasil bumi. Akan tetapi yang diuntungkan di sini adalah si penjajah, bukan kapitalis bumiputera atau pemilik modal orang Indonesia, dan lebih memilukannya lagi merugikan kaum buruh. Hal inilah yang membuat beliau berargumen bahwa kapitalisme di Indonesia tidak tumbuh seperti seharusnya.
BAB 7 Keadaan Politik
Tan Malaka dalam BAB ini menjelaskan argumennya mengenai sistem lembaga perwakilan dari bentuk pemerintahan demokrasi. Beliau berargumen bahwa Revolusi Prancis tahun 1789 yang merupakan tonggak awal demokrasi sejatinya belum merupakan wujud kedaulatan rakyat yang sesungguhnya. Beliau berargumentasi, bahwa ketika revolusi pecah, dan kaum feodal berhadapan dengan kaum borjuasi (pemilik modal), mereka memerlukan kaum buruh untuk membantu perjuangan mereka. Akan tetapi, ketika kekuasaan sudah berhasil direbut, kaum buruh ini tidak diperbolehkan memegang kekuasaan, singkatnya mereka hanya diperalat. Beliau membandingkannya dengan Sovietisme, yaitu bentuk pemerintahan yang dianut oleh Uni Soviet yang terdiri dari 15 republik. Dalam Sovietisme, buruhlah yang berkuasa karena ia menguasai semua bentuk alat produksi dan distribusi.
Beliau pada akhirnya berargumen, bahwa Indonesia tidak akan mencapai fase demokrasi yang dicita-citakan, karena kapitalis bumiputera nya sangatlah lemah, berbanding terbalik dengan di Perancis dimana perlawanan terhadap raja dipimpin oleh kaum borjuis. Beliau juga mengkritik dewan rakyat yang dibentuk oleh Belanda, karena wakil-wakil Indonesia yang ditempatkan di situ tidak melalui pemilihan umum, tetapi diangkat langsung oleh Belanda dan sebagian hasil dari menjilat penguasa. Tan Malaka menyatakan, apabila wakil-wakil Indonesia dipilih langsung oleh Rakyat Indonesia, maka pertentangan kelas akan terjadi.
Argumentasi Tan Malaka tentang demokrasi tidak jauh berbeda dengan argumentasi Soekarno. Dalam surat kabar Fikiran Ra'jat, Soekarno pernah mengajukan tesis yang sama. Beliau berargumen bahwa Revolusi Perancis melahirkan demokrasi yang belum sempurna, atau yang biasa disebut demokrasi borjuis. Demokrasi borjuis hanya mengakomodasi kepentingan para kaum pemilik modal, sehingga kepentingan buruh disisihkan. Maka atas dasar ini, beliau menyatakan jika Indonesia sudah merdeka, perjuangan mewujudkan demokrasi belumlah usai, karena demokrasi yang dicita-citakan haruslah mengakomodasi seluruh kepentingan lapisan masyarakat, termasuk buruh. Demokrasi Indonesia tersebut bernama sosio demokrasi atau demokrasi yang berlandaskan keadilan sosial.
BAB 8 Revolusi di Indonesia
Dalam BAB ini Tan Malaka menyatakan bahwa revolusi di Indonesia, yaitu perjuangan terhadap imperialisme haruslah dipimpin oleh kaum buruh. Kaum borjuasi bumiputera dapat ikut membantu, walaupun beliau beranggapan mereka tidak akan “ikhlas” dalam berjuang. Di sini kita bisa melihat pemikiran Tan Malak yang masih berorientasi kental terhadap ajaran marxisme ortodoks, yaitu ketika revolusi pecah, garda terdepan yang harus memimpin revolusi itu adalah kaum buruh sendiri melawan kapitalisme.
Akan tetapi, terdapat perbedaan yang mencolok. Dalam ajaran Karl Marx, ketika kaum buruh melawan kaum kapitalis, maka dapat dipastikan bahwa sistem yang berlaku di masyarakat adalah sistem kapitalisme murni, bukan kapitalisme yang diwujudkan dalam bentuk imperialisme, hal ini juga didorong dengan kondisi borjuasi bumiputera yang tidak kuat, sehingga musuh utama dari kaum buruh adalah kaum penjajah.
Pemikiran Tan Malaka di sini juga dapat dibandingkan dengan Soekarno. Tan Malaka sebagai seorang marxis sangat dipengaruhi oleh ajaran Marx yang menekankan kepada perjuangan kelas, yang dalam hal ini buruh melawan penjajah. Soekarno, sebagai seorang nasionalis lebih condong terhadap perjuangan bangsa kepada kaum penjajah, singkatnya pertentangan kelas antara kaum buruh dan kapitalis bumiputera harus dipinggirkan dulu, supaya seluruh lapisan masyarakat dapat bersatu melawan penjajah. Ketika kemerdekaan sudah dicapai, barulah perjuangan kelas tersebut dapat terlaksana, walaupun dalam pemikirannya, Soekarno lebih condong terhadap pertumbuhan nasionalisme yang sehat.
BAB 9 Perkakas Revolusi Kita
Tan Malaka sejatinya juga sangat terpengaruh oleh ajaran leninis yang dikemukakan Lenin. Dalam BAB ini Tan Malaka menekankan sebuah “partai revolusioner” untuk menghimpun kaum buruh melakukan aksi massa. Dalam marxisme ortodoks, Marx sendiri tidak pernah mengemukakan perlunya suatu partai revolusioner sebagai wadah buruh untuk berkumpul dan menjadi alat revolusi, Marx percaya bahwa kaum buruh dapat melakukannya sendiri. Akan tetapi, ketika lenin mengambil alih marxisme, beliau berargumentasi tentang betapa pentingnya suatu partai revolusioner ketika kaum buruh melakukan revolusi. Pemikiran lenin sangat dipengaruhi Louis Auguste Blanqui, seorang sosialis asal Prancis. Beliau berargumen bahwa kaum buruh haruslah dipersenjatai ketika ingin melakukan revolusi, dan dihimpun ke dalam organisasi revolusioner.
BAB 12 Khayalan Seorang Revolusioner
Dari sekian banyak buku yang ditulis dan membahas tentang Bapak Republik Indonesia ini, mungkin bukunya yang paling terkenal adalah MADILOG (Materialisme, Dialektika, dan Logika). Buku itu membahas cita-cita Tan Malaka terhadap Bangsa Indonesia melalui filsafat, dan ternyata pemikiran yang dituangkan dalam MADILOG beliau sudah muncul dalam BAB 12 buku ini.
Beliau dalam BAB ini mendorong pemuda-pemudi Indonesia untuk belajar dari bangsa barat yang sudah lebih maju, sehingga diharapkan mereka dapat menggunakan akal sehat mereka, dan bisa lepas dari segala mitos dan takhayul (logika mistika) yang tumbuh subur di Indonesia. Beliau berharap dengan menguasai berbagai ilmu pengetahuan dari dunia barat, bangsa Indonesia dapat membangun bangsanya sendiri, terkhusus dalam sumber daya alam. Kutipan beliau yang berbunyi, “Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas” masih sangat relevan sampai sekarang, karena kebanyakan dari masyarakat kita sekarang sangat mengidolakan dunia barat, sampai-sampai semua hal yang dari barat ditiru tanpa melihat sisi positif dan negatifnya.
Bagi saya sendiri, buku ini sejujurnya di bawah ekspektasi saya, terkhusus mungkin karena saya sudah membaca MADILOG terlebih dahulu. Buku ini akan lebih dinikmati bagi orang-orang yang pernah, sudah, atau memahami ajaran-ajaran marxisme dan marhaenisme Soekarno, sehingga mungkin mereka akan lebih “hooked” ketika membaca buku ini.
⭐️4.5/5 Tulisan yang sangat menggetarkan hati dan menggerakkan semangat.
Ditulis tahun 1926, sudah hampir 100 tahun lamanya, isinya masih sangat relevan. Buah pikiran Tan Malaka rasa-rasanya sangat berharga untuk mempertahankan prinsip bangsa dalam menolak ketidakadilan dan terus melaju dalam visi kesejahteraan.
Bukan hanya sekadar membahas aksi massa secara sempit, tapi lebih dari itu, Tan Malaka berhasil mengupas penyebab kemelaratan Bangsa Indonesia yang adalah disebabkan oleh imperialisme Belanda pada masa penjajahan. Tan Malaka membahas bagaimana perbedaan imperialisme yang terjadi di Indonesia, bagaimana perbedaannya dengan yang terjadi pada bangsa lain, dan bagaimana perbedaan itu membuat kemelaratan bangsa kita lebih mengakar dan lebih mengekang.
Utamanya, Tan Malaka berargumen (berdasarkan paham marxisme dan leninisme) bahwa kondisi ketidakadilan, kemelaratan, dan ketidakmerdekaan bangsa ini hanya bisa dilawan dengan jalan revolusioner melalui aksi massa. Lebih jauh, Tan Malaka mengupas bagaimana aksi massa yang efektif seharusnya dijalankan, termasuk sifat, bentuk, dan tujuannya, serta bagaimana pemimpin gerakan seharusnya bersikap.
Tan Malaka juga menyoroti dan mengkritik dengan sangat keras organisasi borjuasi Indonesia pada masa itu, dan mengapa organisasi tersebut gagal dalam membangun aksi massa untuk menyuarakan semangat revolusi.
Terakhir, Tan Malaka mengajak pembaca untuk terus semangat mencapai kemerdekaan, baik kemerdakaan diri dan bangsa.
“Manusia mesti mematahkan semua yang merintangi kemerdekaannya. Ia harus merdeka! … Jika tidak, ia tak layak menjadi seorang manusia atau bangsa dan pada hakikatnya tak berbeda sedikit jua dengan seekor binatang.” hlm. 125
“Lindungi bendera itu dengan bangkaimu, nyawamu, dan tulangmu. Itulah tempat yang selayaknya bagimu, seorang putra Tanah Indonesia tempat darahnu tertumpah…Bersama massa, kita berderap menuntut hak dan kemerdekaan.” hlm. 129
Tan Malaka juga melampirkan rancangan program proletar di Indonesia, mencakup segi Politik, Ekonomi, Sosial, Pengajaran, Militer, Polisi dan Justisi, serta Program Aksi
“Lindungi bendera itu dengan bangkaimu, nyawamu, dan tulangmu. Itulah tempat yang selayaknya bagimu, seorang putra Tanah Indonesia tempat darahmu tertumpah.”
Siapa sangka, selarik kalimat penutup dalam buku AKSI MASSA inilah yang menginspirasi Wage Rudolf Supratman saat menulis lirik lagu Indonesia Raya yang kelak kita kumandangkan hampir setiap Senin pagi dan pada acara-upacara sakral. Indonesia tanah airku... tanah tumpah darahku....
Meski ironis, beberapa dekade lalu kita bahkan tak pernah mendengar nama penulisnya—juga buku-buku yang ia tulis—karena nama itu tak pernah disebut dalam materi pelajaran apa pun di bangku sekolah. Tak hanya dibunuh oleh bangsanya sendiri, namanya pun “dibunuh” dari buku-buku pendidikan sejarah di Indonesia. Kita tahu alasannya, sebab pada masa rezim orde baru terjadi penyimpangan sejarah yang membuat para tokoh pahlawan dari haluan kiri disingkirkan. Termasuk beliau yang kita hormatkan, Tan Malaka.
Buku ini merupakan risalah sosial-politik yang ditulis Tan Malaka sekitar tahun 1926 sebagai panduan revolusioner bagi kaum pergerakan di Indonesia. Dalam buku ini, ia menguraikan konsep perjuangan kelas, peran rakyat dalam revolusi, serta strategi untuk menggulingkan imperialisme dan kapitalisme Barat.
Bagi Tan, riwayat bangsa Indonesia baru dimulai ketika masyarakatnya terlepas dari tindakan kaum imperialis. Konteksnya, pada masa itu politik di Indonesia belum pernah menjadi “a common good” alias kepunyaan umum rakyat karena masih berada dalam masa penjajahan kolonialisme Belanda. Pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat sebagaimana yang dikatakan Abraham Lincoln, dulunya belum pernah dikenal di Indonesia.
“Indonesia dapat menaikkan ekonominya jika kekuasaan politik ada di tangan rakyat. Dan Indonesia akan mendapat kekuasaan politik tidak dengan jalan apa pun, kecuali dengan aksi politik yang revolusioner lagi teratur, dan yang tidak mau tunduk.”
Lantas ia mengilustrasikan situasi politik di negara terjajah lainnya seperti India yang berhasil melawan imperialisme Inggris melalui jalur pendidikan. Saat itu, sekolah tinggi pertama di Benggala yang pada mulanya hanya boleh dimasuki oleh anak orang kaya dan aristokrasi, dengan terpaksa boleh juga dimasuki oleh anak orang biasa. Dalam waktu singkat, sekolah tinggi itu pun menghasilkan sekian banyak kaum terpelajar, hingga birokrasi Inggris merasa tak terima. Kemunculan kelas terdidik itulah yang kemudian melahirkan beberapa pemimpin pergerakan kemerdekaan yang terkenal sebagai ekstremis, yakni kaum kiri. “Demikianlah, imperialisme Inggris melahirkan musuhnya serta menggali kuburnya sendiri,” ujar Tan.
Setali tiga uang dengan Inggris, Belanda pun menganggap sekolah tinggi bagi kaum terpelajar Indonesia ibarat hantu, maka mereka menjadikan "buruh intelektual" sebagai momok. Jadi, sebisa mungkin mereka menciptakan politik pemerintah yang kemudian disimpulkan Tan dengan perkataan: “Bangsa Indonesia, harus tetap bodoh supaya ketenteraman dan keamanan umum terpelihara.” Rasanya ini sebuah kritik keras untuk petinggi negara yang menomorsekiankan prioritas pendidikan.
Dalam buku ini, Tan menguraikan mulai dari ikhtisar tentang riwayat Indonesia, cara imperialis melakukan pemerasan dan penindasan di negara terjajah lainnya, potret kapitalisme, keadaan sosial-politik pada masa penjajahan, kemungkinan revolusi yang akan timbul, hingga rencana revolusi yang ia inginkan—yang konon banyak menginspirasi Soekarno dalam menyusun proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 19 tahun kemudian.
Pada intinya, buku ini ialah tentang tujuan revolusi itu sendiri. Agar sebuah gerakan dapat mencapai tujuan, Tan Malaka menawarkan aksi massa sebagai solusi. Aksi massa seperti boikot, mogok, dan demonstrasi dapat digunakan sebagai senjata yang lebih tajam, alih-alih perebutan kekuasaan secara radikal (putch). Hanya dengan satu aksi massa yang terencana, yang akan memperoleh kemenangan, begitu kata Tan.
Akhirnya, AKSI MASSA tidak hanya menjadi dokumen sejarah, tetapi juga inspirasi bagi gerakan progresif di Indonesia. Tan Malaka menekankan betapa pentingnya kesadaran politik rakyat dan aksi langsung sebagai kekuatan utama dalam perubahan. Buku ini tetap relevan sebagai bacaan kritis bagi mereka yang tak mau dibodoh-bodohi oleh “yang dipertuan”, sebab membaca artinya melawan.
Pembaca disuguhkan dg pembukaan yang cukup impact; “Semakin besar jurang antara kelas yg memerintah dg kelas yg diperintah, semakin besar besarlah hantu revolusi.” 🙂🔪
Disebutkan juga “Kita, kaum revolusioner, pada tahun 1921 bermaksud untuk memperbaiki keteledoran pemerintah dalam pendidikan itu dengan mendirikan sekolah-sekolah sendiri.” Walau sudah berlalu 100tahun, jujur masih bingung siapakah “kita” yang disebutkan oleh Bapak Republik ini. 🏫
Politik pemerintah dalam soal pengajaran boleh disimpulkan dg perkataan: “Bangsa Indonesia, harus tetap bodoh supaya ketemtraman dan keamanan umum terpelihara”. Well if you know what it means tho 🙃
Wajar buku ini termasuk salah satu yg “dilarang” oleh pemerintah di kala itu. Dan di tahun 2025 ini, kritik beliau terkait kapitalisme, imperialisme, oligarki, spiritualisme belaka masih saja relevan. Ah andaikan beliau ada dikondisi sekarang ini, apakah Rancangan untuk Program Proletar di Indonesia masih menjadi lampiran belaka saja atau dicicil? Sepertinya masi cukup Utopia dg pergolakan komplikasi rantai kemiskinan, politik dan sosial yg terjadi🧬✨
“Kamu pahlawan dari angkatan revolusioner! Tuntunlah massa si lapar, si miskin, si hina, si melarat, si haus itu menempuh barisan musuh dan robohkanlah bentengnya itu, cabut nyawanya, patahkan tulangnya, tanamkan tiang benderamu di atas bentengnya itu.
Janganlah kamu biarkan bendera itu diturunkan atau ditukar oleh siapapun. Lindungi bendera itu dengan bangkaimu, nyawamu, dan tulangmu. Itulah tempat yang selayaknya bagimu, seorang putra Tanah Indonesia tempat darahmu tertumpah.”
Buku revolusioner dahsyat yang menggelora namun tetap sistematis dari Bung Tan Malaka yang akan terus relevan sepanjang masa. Panjang umur perjuangan!
Meskipun buku ini ditulis dengan sangat baik dan pasti merupakan terobosan pada masanya, menurut saya sebetulnya sudah tidak ada alasan untuk membaca buku ini lagi hari ini, jika dibandingkan dengan karya Tan yang lain.
Buku ini memberikan pemetaan elementer yang cukup mendasar dan cukup setia kepada ajaran/canon Marxist, mengenai borjuasi imperialis ketika kapital Indonesia masih sangat muda dan tentang cara mengorganisir massa yang belum memiliki kesadaran kelas. Pendek, tajam, tidak bertele-tele dan mudah dikutip. Tesis utama-nya adalah bahwa revolutionary organizing dalam sebuah sistem ekonomi kapitalis itu harus menunggu kesanggupan massa. Dan bahwa tanpa memperhitungan lebih dulu apakah saat untuk aksi massa sudah matang atau belum, maka massa tidak akan memberikan pertolongan kepada mereka, para tukang "putch". Tukang "putch" yang suka main bergerak sendiri ini disamakan oleh Tan dengan "orang yang lagi demam dan bermimpi" yang sekonyong-konyong keluar dari gua mereka untuk membuat rancangan menurut kemauan mereka sendiri. Kalau saya sendiri sih lebih cocok menganalogikan mereka di abad ke-21 sebagai stereotip ngab-ngab macho yang senang bersolek manis dengan estetika revolusioner tanpa pernah membaca 1 halaman-pun dari Madilog.
Pernahkah kalian berpikir bahwa apa penyebab terjadinya Aksi Massa dan mengapa Aksi Massa yang kerap terjadi seringkali tak berhasil serta hanya selalu menjadi sensasi panas yang tak berdampak?
Dalam pemikiran Tan Malaka, beliau mengungkap bahwa Revolusi yang diinginkan masyarakat akan BISA terwujud jika melakukan Aksi Massa yang benar-benar sesuai syarat dan di pimpin oleh pemimpin yang cerdik. Seringkali, Aksi Massa yang dilakukan oleh rakyat Indonesia hanya sekedar untuk pemboikotan sesuatu dan terlaksana dengan asal dan tidak memiliki taktik.
Lalu, bagaimana yang benar? Baca buku ini.
Jujur saja, saya awalnya tak mengerti apa yang sedang Tan Malaka bahas dan membaca lewat mata dan bukan lewat otak. Alias, hanya membaca dan tak memahami. Namun, setelah beberapa kali mengerutkan dahi, akhirnya saya (sedikit) paham apa yang sedang dibahas dan langsung menyadari suatu hal yang sangat, sangat, sangat dibutuhkan oleh Masyarakat Indonesia terutama Kaum Butuh sekarang.
Mungkin segitu saja review saya yang tak membantu ini.
Oktober penuh eksplorasi bacaan kayaknyaa, mencoba memahami Tan Malaka dari buku yang paling ringan. Walau katanya ini buku yang ringan tapi ga seringan itu ya buat aku, bahasa Tan di sini masih cukup sulit aku pahami—butuh dua-tiga kali baca ulang. Ditambah Tan ini suka sekali memakai pribahasa dan ungkapan. Namun, setelah membaca buku ini sedikit banyak aku paham kenapa nama Tan Malaka harum sekali di Kelana heheh Pemikiran Tan sungguh revolusioner, pemikiran Tan terlalu maju untuk orang pada masanya.
Bagian awal buku mudah dimengerti. Isinya sangat erat dengan sejarah Indonesia yang belum pernah aku baca di bangku sekolah. Tapi di pertengahan hingga akhir buku saya merasa bahasanya terlalu kompleks dan butuh dibaca berulang kali
Penjelasan latar belakang kenapa kita make sistem partai di sini kayaknya luhur banget awalnya... tapi kenyataannya sekarang cuma buat ditunggangin orang-orang haus kekuasaan, bukan buruh, kayak yang dicita-citain Pak Tan.
Sudah hampir seabad sejak Tan Malaka menulis buku ini dan kritiknya terhadap kapitalisme dan imperialisme masih tetap relevan. Karena penjajahan sesungguhnya tidak pernah berakhir, hanya berganti nama dengan alias globalisasi. Rancangan untuk program proletar di Indonesia masihlah rancangan, padahal jika terwujud, sangat efektif melawan tirani kapitalisme, elitisme, dan oligarki di Indonesia modern sekarang.
Membelek buku yang ditulis oleh penulis MADILOG ini sedikit sebanyak memberikan gambaran kepada diri tentang gagasan yang cuba dibawa oleh penulis.
Isunya mudah. Pada ketika buku ini ditulis dan ideanya cuba dipromosikan, Indonesia masih dicengkam dengan zalim dan rakus oleh Belanda. Makanya, penulis memberikan pandangannya berkenaan cara terbaik untuk menjatuhkan kuasa jahat Belanda yang menzalimi rakyat terutamanya kaum buruh di Indonesia.
Tindakan yang dicadangkan tidaklah berbaur anarkisme, tidak juga berbentuk diplomasi basi yang sering berlaku. Tindakan yang relevan pada mata penulis pada tahun 1926 ialah boikot dan demonstrasi beramai-ramai yang berpaksikan fikrah revolusioner.
Gambaran keadaan tindakan perlawanan penjajah yang sudah berlaku di India, Perancis dan beberapa negara lain turut disentuh oleh penulis. Bahkan, penulis dengan tidak teragak-agak mengatakan bahawa bentuk revolusi atau tindakan yang berlaku di negara lain itu tidak sesuai dilakukan di Indonesia atas beberapa sebab.
Walaupun penulis merupakan seorang yang terkehadapan dalam menyatakan ideanya yang bernas, namun mungkin terdapat beberapa sisi pandangan penulis yang boleh dikritik balas antaranya adalah berkenaan agama - Islam, secara spesifik. Kedengaran melalui tulisan penulis, agama Islam ini seakan-akan terlalu kolot di matanya.
"Umumnya bangsa kita secara lahiriah tampak modern sesuai dengan zaman kapitalis tetapi cara berpikirnya masih kuno, masih tinggal di zaman dahulu, seperti masih menganut Mahabhrata, Islam, dan berbagai macam takhayul dan kepercayaan kepada hantu, jin, kesaktian gaib, batu keramat dan lain-lain. Mereka masih terus seperti anak-anak berpikiran fantastis." (Halaman 95)
Sudah tentu, dalam isu ini, penulis silap menilai Islam. Barangkali gambaran Islam termasuk kepercayaan dalam Islam itu sampai kepada penulis dari sudut pandang yang pasif dan tidak progresif dan revolusioner. Tetapi, asal kita tahu sahaja Islam itu bertunjangkan tauhid kemudiannya membawa kepada syariat yang membanteras kezaliman dan menegakkan keadilan sosial dalam masyarakat, andaikata Islam yang diamal itu persis sebagaimana yang diajar oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, sesuai dengan perintah Allah SWT.
Agak mencuit hati apabila dalam buku yang sama, penulis memberikan beberapa cadangan adab dalam berorganisasi yang kurang lebih, boleh dikutip pembelajarannya melalui penglibatan dalam jemaah Islam dan mungkin melalui pembelajaran adab dalam Islam itu sendiri merangkum jangan memaki-hamun dalam menyatakan pendapat dan selain itu, berlapang dada dalam melaksanakan keputusan syura yang sudah tamat dibahas.
Beberapa saranan penulis berkenaan perlunya golongan buruh marhaen yang ditekan, untuk melawan kapitalis zalim yang terus-menerus menjajah dan menzalimi kaum buruh dengan gaji yang terlalu rendah tetapi pada masa yang sama, menyuruh mereka bekerja lebih masa, sangat saya setujui secara peribadi.
Beberapa kritikan penulis yang ditujukan kepada beberapa partai atau kesatuan untuk melawan penzalim di Indonesia contohnya seperti Sarekat Islam pimpinan Tjokroaminoto turut terselit serba ringkas.
Bacaan yang disertakan dengan beberapa istilah bahasa asing (barangkali Bahasa Belanda) di beberapa tempat, memaksa diri untuk kerap kali merujuk enjin carian Google untuk mencari makna perkataan tertentu dalam buku ini. Juga perlu dicari makna, istilah Indonesia yang digunakan yang sebenarnya baru untuk orang yang tidak berbahasa ibundakan bahasa Indonesia, seperti saya.
Bacaan yang seringkas 148 halaman ini, sedikit sebanyak memberikan manfaat tentang cara melawan penindasan melalui revolusi terancang tanpa keganasan. Tetapi, soal cara yang sama itu boleh diaplikasikan di Malaysia, dalam melawan musuh marhaen sekarang, perlu diperhalusi.
Mungkin kita sedang membaca tentang sejarah dari penulis (manusia) yang sama, tetapi musuh kita berbeza, makanya pendekatan melawan itu juga sudah tentu tidak sama.
Pertama-tama, untuk Ardhea temanku—makasih banyak atas hadiah wisudanya yang 'merah' banget ini. Kamu tau banget, kalo aku lagi suka ngoleksi buku bersampul merah! ^^
Aku pertama kali kenal nama Tan Malaka waktu kelas 11 SMA. Tokoh ini langsung menarik untuk kutelusuri soalnya, aneh banget: di buku teks sekolah, namanya hampir enggak pernah disebut, padahal perannya luar biasa penting di masa pergerakan kemerdekaan. Beliau bukan cuma Bapak Bangsa, tapi juga tokoh yang pertama kali menggagas bentuk pemerintahan republik buat Indonesia—jauh sebelum republik itu sendiri berdiri.
Sebelumnya aku udah baca beberapa tulisan tentang beliau, tapi ini pertama kalinya aku nuntasin langsung karya aslinya!
Aksi Massa ditulis sekitar tahun 1926, di masa Tan aktif dalam gerakan bawah tanah melawan kolonialisme. Membaca buku ini tuh rasanya kayak dengerin Tan Malaka ngomel marah-marah sambil ngajakin mikir—gimana caranya berjuang yang bener.
Buku ini terdiri dari dua belas bab. Di awal, Tan ngebahas tatanan sosial masa feodalisme, khususnya di Jawa, di mana posisi sosial menentukan segalanya. Katanya, bahkan orang bodoh kayak kerbau pun akan dihormati rakyat asal punya kuasa. Itu jadi kritik awalnya terhadap struktur sosial yang timpang dan manut buta pada jabatan.
Selanjutnya, Tan ngasih studi kasus tentang Revolusi India. Inggris waktu itu nyediain pendidikan buat elite India, niatnya sih buat bikin mereka jadi alat penjajahan yaa. Tapi pendidikan tersebut malah jadi bumerang: Gandhi dan Tilak justru pakai ilmu itu buat ngelawan balik lewat gerakan massa (boikot dan nonkooperatif). Belajar dari situ, pemerintah Hindia Belanda saat itu sengaja memelihara kebodohan—mereka enggak mau rakyatnya pintar. Karena rakyat kritis=ancaman stabilitas kekuasaan. Dan... hmm, mungkin pola ini belum sepenuhnya hilang sampai hari ini? 👀
Tan juga bahas konflik kelas antara kaum borjuis dan buruh. Untuk tetap bisa ngontrol buruh, kaum elite pakai “senjata ghaib” kayak sekolah, gereja, masjid, surat kabar supaya buruh bisa patuh. Kalo itu enggak cukup, baru deh dikerahkan alat kekerasan: penjara, polisi, dan tentara😬
Salah satu poin yang paling keras dikritik Tan adalah strategi “putch”. Menurutnya, strategi ini kayak bunuh diri—enggak terorganisir dan enggak tau arah perjuangannya mau dibawa ke mana. Sebagai gantinya, untuk mendapatkan kemerdekaan, Tan menyerukan Aksi Massa: strategi revolusi yang dimulai dari pendidikan politik rakyat. Menurutnya, massa perlu ngerti KENAPA mereka harus melawan, bukan sekadar melawan aja. Makanya, aksi massa butuh pemimpin yang revolusioner—yang ngerti psikologi rakyat, bisa membakar semangat, dan mampu mengubah “kemauan” jadi “tindakan.”
Di bagian akhir buku, Tan Malaka juga menyisipkan rancangan 'program ideal' tentang masa depan Indonesia versinya—dari pendidikan sampai struktur ekonomi. Tapi walau setelah hampir seabad berlalu pun, rasanya pemikiran itu masih terlalu 'maju' buat Indonesia hari ini 😬
Aksi Massa adalah bacaan berat, tapi penting. Dari buku ini, aku jadi paham kenapa Tan Malaka dianggap “berbahaya” sama pemerintah kolonial—karena pikirannya tajam, berani, dan terlalu visioner buat zamannya.
Setidaknya sekali seumur hidup, cobalah masuk ke pikirannya lewat tulisannya ini.
“Kamu belum seorang murid, bahkan belum seorang manusia, bila kamu tak ingin merdeka dan belajar bekerja sendiri!”
Melalui buku ini, Tan Malaka menunjukkan kepercayaannya bahwa radikalisme dalam revolusi, sebagaimana dilakukan oleh para putch dalam Revolusi Prancis, adalah aksi tidak terorganisir yang dimaksudkan untuk unjuk diri tanpa memperkirakan akibat jangka panjangnya.
Tan Malaka mengingatkan bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya akan rempah dan kopi untuk para penjajah. Dengan demikian, Indonesia lebih cocok menyerang secara ekonomi dan politik dibandingkan melalui radikalisme. “Aksi Massa” adalah solusi yang ditawarkan oleh Tan Malaka, yakni perlawanan melalui demonstrasi, boikot, dan mogok.
Revolusi terjadi ketika massa berkumpul, menuntut pemerintah, dan menyuarakan suaranya. Radikalisme bukan jalan yang tepat. Revolusi menuntut kejelasan dan kedalaman akan tuntutan rakyat, bukan sekadar kericuhan untuk menarik perhatian pemerintah. Perspektif baru kembali dibuka oleh buku ini, sungguh bacaan yang bermanfaat.
Meskipun demikian, banyak pertanyaan yang muncul dalam kepalaku. Bagaimana dengan situasi sekarang dimana pemerintah menutup telinga atas tuntutan rakyat? Jangankan mendengarkan tuntutan rakyat, perhatian saja tidak diberikan. Andaikata petinggi mau turun ke jalan, bertemu dengan demonstran—bukan malah diusir dengan kekuatan militer, diskusi bermutu pasti akan terjadi. Namun, kejadian belakangan ini menunjukkan bagaimana pemerintah memilih pura-pura tuli dibandingkan menemui rakyat untuk diajak berdiskusi.
Demonstrasi yang damai bahkan tidak diindahkan pemerintah. Kurang damai apa aksi kamisan yang dilaksanakan setiap hari Kamis—sejak jauh sebelum kelahiranku sampai di titik di ambang aku menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Hukum? Namun, apakah aksi yang kian damai itu didengarkan pemerintah? Justru pelanggar berat HAM, Soeharto, malah dinobatkan sebagai pahlawan nasional.
Mungkin karena perbedaan zaman, mungkin juga karena pandangan Tan Malaka yang terlalu idealis, buku “Aksi Massa” tidak menjawab pertanyaanku malah memantik semakin banyak pertanyaan.
Meskipun demikian, “Aksi Massa” adalah buku yang layak diberikan kesempatan untuk membaca. Banyak informasi baru yang aku dapatkan, perspektif baru, dan pendapat yang berseberangan namun berhasil membukakan mataku.
Buku ini tuh literally mind-opening. Aku baca ini sebagai buku pertama karya Tan Malaka dan langsung ngeh, "Oh... jadi begini ya akar dari banyak hal yang masih kejadian sampe sekarang." Ditulis tahun 1926, tapi rasanya kayak beliau nulis ini kemarin sore karena relevansinya masih nempel banget sama kondisi kita hari ini.
Aksi Massa bukan sekadar teori revolusi, bukan pula manifesto politik biasa. Ini semacam blueprint buat perjuangan kelas tertindas, dari buruh sampai kaum intelektual yang belum sempat ‘didekati’ sistem. Beliau dengan tajam mengkritik kapitalisme, kolonialisme, dan juga organisasi borjuis yang katanya perjuangan tapi cuma ngurusin kepentingan elite.
Salah satu hal yang paling ngena buatku: Tan Malaka bilang kalau Belanda tuh takut sama rakyat Indonesia yang cerdas. That’s why akses pendidikan sengaja dipersulit. “Bangsa Indonesia harus tetap bodoh agar ketenteraman dan keamanan umum terpelihara.” Bruh… That line hit HARD. Sounds familiar, doesn’t it?
Dan tentu, beliau nggak sekadar ngeluh. Dia kasih concrete ideas tentang strategi perlawanan lewat aksi massa — bukan perebutan kekuasaan secara brutal, tapi boikot, mogok kerja, sampai demonstrasi terorganisir yang melibatkan rakyat banyak.
Ada banyak kutipan yang bisa bikin merinding, apalagi bagian penutup: "Lindungi bendera itu dengan bangkaimu, nyawamu, dan tulangmu. Itulah tempat yang selayaknya bagimu, seorang putra Tanah Indonesia tempat darahmu tertumpah."
Kalau kalian kira ini buku berat, well... yes and no. Bahasanya memang padat dan kadang lampau, tapi semangatnya begitu hidup. You just feel like Tan Malaka is in the room with you, yelling truths and demanding you to wake up. Aku rasa anak muda sekarang perlu banget baca ini, biar tahu bahwa perjuangan itu bukan hanya lewat hashtag dan konten IG, tapi lewat kesadaran kolektif yang dibangun terus-menerus.
Overall, this book is a revolutionary torch that still burns bright, meski Tan Malaka sendiri udah “dibunuh” dua kali — secara fisik, dan secara sejarah. Tapi kalo kalian udah baca ini, you’re helping him live on.
🩶 Read it. Digest it. Fight with it. Karena membaca itu melawan — dan Aksi Massa adalah senjatanya.
seriously, what a RIDE! (menghela napas panjang) aku mengeluarkan buku ini dari rak dan memutuskan membaca bersamaan dengan aksi # reset indonesia agustus lalu. sepanjang membaca, aku seringkali mendapati badanku merinding setelah sadar bahwa tidak banyak perubahan terjadi pada kondisi rakyat kita baik sekarang maupun seabad yang lalu (saat buku ini ditulis). entah tan yang memandang jauh ke depan, atau kita yang sebenarnya tidak pernah melepaskan diri dari kolonialisme (cuma penjajahnya saja yang berganti wajah). ini adalah buku tan malaka pertama yang berhasil aku tamatkan, setelah aku gagal dengan spektakuler membaca madilog versi gramedia, dan belum punya energi yang cukup untuk membaca dari penjara ke penjara. tapi gaya penulisan tan, yang meskipun bahasanya agak tidak umum (biasanya karena beliau menulis dengan bahasa asing), yang kronologis membantuku memahami apa yang ingin beliau sampaikan. secara umum, buku ini mengulas tentang gambaran revolusi khas tan malaka, yang dianggapnya paling ideal untuk dilakukan di indonesia (pada masa itu). cara tan menjelaskan mengenai kondisi rakyat indonesia, bagaimana partai politik tidak bekerja cukup keras (menurutnya) untuk memperjuangkan kemerdekaan, hingga perilaku penjajah menjelaskan dengan baik rasa frustrasi yang dimilikinya. tan menganggap bahwa rakyat kita tidak memiliki tokoh pemimpin yang ideal untuk menggalakan aksi massa; yang dalam penilaiannya harus terstruktur, masif, dan tanpa meninggalkan satu lapis masyarakat pun dalam tuntutannya. membaca ini, aku jadi paham kenapa tan digambarkan sebagai orang yang menganggap pemerintah indonesia pada era pasca kemerdekaan sebagai 'berkompromi dengan belanda' dan tidak 'merdeka 100 persen'. lewat aksi massa, tan malaka menghendaki revolusi dan bukan negosiasi. "manusia haruslah berdaya, mencoba berjuang, kalah atau menang dalam ikhtiarnya itu. sebab, inilah yang dinamakan hidup!" katanya di halaman 139. ah, untung saja aku baca buku ini. semoga pemikiranmu abadi dalam hatiku, tan malaka.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Di dalam masa revolusilah tercapai puncak kekuatan moral, terlahir kecerdasan pikiran dan teraih segenap kemampuan untuk mendirikan masyarakat baru.” This quote perfectly captures what Tan Malaka reminds us of — what revolution truly means, and why it matters in the first place.
Aksi Massa by Tan Malaka is a historical book about revolution, power, and society, centering on Indonesia during the colonial period. He explains the state of the country at that time and how the people should be ready for change.
It’s my first Tan Malaka’s book as well as my first historical read. I do have the infamous Madilog, but I think Aksi Massa is more first-timer-friendly since it’s thinner and lighter in substance.
You just have to admire Tan Malaka at this point — his thoughts were way ahead of his time. The story and situations feel so real, not to mention some sharp critiques from the man himself. He wasn’t afraid to reveal taboo angles from his perspective, and I didn’t expect the writing to be quite this simple — even though he still keeps his signature tone.
One of my favorite parts is when he gives honest critique to some of the most famous independence movements and organizations, despite his closeness with them. For context, we Indonesians often tend to overglorify things from the pre-independence era, so it’s kinda good for us to know who they really were and what actually happened.
Although I’ve mentioned the book’s honesty, you can’t really remove the emotional bias behind it. Some chapters feel repetitive — it feels like he wants to be heard about certain things, yet loses sight of the bigger picture.
Nevertheless, there are so many lessons I learned from the book, especially as an Indonesian. If you think Madilog is too heavy, then you should give Aksi Massa a go. It’s really good to give further context to most of Malaka’s writings.
I’d give this read a high 4 stars — definitely a must-read for those of you historical freaks.
Tan Malaka. Bapak Republik Indonesia yang kembali ramai diperbincangkan ini berhasil membuat aku haus akan informasi. Kalau kata beberapa orang, jika ingin mengetahui pemikiran beliau, mulailah dengan membaca buku-bukunya.
Aksi Massa menjadi pilihan pertamaku. Walaupun buku ini terbilang tipis, isinya sangat berbobot dan penuh akan gagasan revolusioner. Menurut Tan Malaka, aksi massa tidak akan berhasil tanpa adanya seorang pemimpin pergerakan massa yang cerdas dan bijaksana serta memahami reaksi rakyat terhadap kejadian politik dan ekonomi. Ia harus bisa mendukung yang lemah, membuka mata mereka yang tertutup, serta membangunkan mereka yang terdiam untuk bersama massa menuntut hak dan kemerdekaan.
Sayangnya pendidikan masih menjadi suatu hal yang mahal harganya bahkan dari sebelum Indonesia merdeka. Dalam bukunya, Tan Malaka menulis "Politik pemerintah ini dalam soal pengajaran boleh disimpulkan dengan perkataan: Bangsa Indonesia, harus tetap bodoh supaya ketentraman dan keamanan umum terpelihara". Miris bukan? Bahkan aku beneran cukup tercengang sepanjang membaca buku ini. Berkali-kali berkata dalam hati, "Hah? Serius? Kok bisa pas gini ya dengan situasi kita sekarang?" —Buku ini saja baru ditulis sekitar tahun 1926.
Di sini aku menyadari bahwa ideologi dan pemikiran Tan Malaka masih amat sangat relevan hingga saat ini. Sedikit miris karena rasanya kok negara kita gak belajar dari sejarah ya? Kok bisa hal-hal seperti ini tidak berubah dan masih terus terulang hingga sekarang?
So, kalau kamu ingin membaca tulisan Tan Malaka untuk yang pertama kalinya, mungkin Aksi Massa bisa menjadi pilihan untuk mulai berkenalan dengan sosok Tan Malaka.
Huft, baru selesai baca buku Aksi Massanya Tan Malaka dan gila kompleks sekali. Ditulis dengan latar kolonialisme yang sangat dekat, mampu menyadarkan bagaimana kondisi rakyat di waktu itu. Dengan pengaruh bahasa melayu yang masih kental membuat buku ini terasa lebih puitis untuk mata saya. Diksi dan gaya tulisan Tan Malaka sangat kuat, menyentil, tegas dan menggerakkan. Saya cukup kaget melihat kritik habis-habisan yang ditujukan kepada organisasi-organisasi yang dalam buku pelajaran sejarah dikenal sebagai organisasi pergerakan. Kritikan itu tak bisa dipungkiri dipengaruhi oleh paham komunisme yang dibawa Tan Malaka. Sebagai generasi dengan pandangan yang lebih netral pada komunisme, saya merasa cita-cita masyarakat komunis Tan Malaka terlalu utopis. Buktinya berpuluh-puluh tahun setelah buku ini ditulis belum ada negara komunis murni yang berhasil. Saya membayangkan bagaimana pendapat Tan Malaka melihat kebanyakan negara-negara komunis jatuh ke tangan kediktatoran?
Tapi semangat Aksi Massa yang dibawa masih tetap relevan hingga saat ini. Sebagai buku yang di tulis hampir 100 tahun lalu, cukup mengejutkan menemui ternyata kita masih berkutat pada hal-hal yang sama : pembodohan, politik pecah belah dan "Tuan" yang semena-mena. Miris rasanya politik yang dipakai Belanda untuk membodohi dan memecah belah masih dipakai hari ini walau dalam bentuk berbeda, buzzer contohnya. Tan Malaka menyorot poin penting dari sebuah gerakan adalah adanya persatuan dari seluruh elemen masyarakat untuk sama-sama bergerak, terarah dan bersama-sama.
Aksi Massa itu rasanya kayak diajak turun langsung ke tengah kerumunan. Panas, berisik, penuh teriakan, tapi juga penuh harapan dan amarah. Dari awal baca, suasananya udah kerasa tegang dan padat, seolah-olah kita bukan cuma jadi pembaca, tapi saksi. Yang paling kuat dari novel ini adalah atmosfernya. Aksi demonstrasi, keresahan massa, benturan antara idealisme dan kekuasaan digambarkan dengan hidup. Kita bisa ngerasain capeknya turun ke jalan, takutnya kalau situasi berubah ricuh, tapi juga keyakinan bahwa suara harus tetap disuarakan. Tokoh-tokohnya terasa manusiawi. Mereka bukan pahlawan sempurna, tapi orang-orang biasa yang punya rasa ragu, marah, takut, dan nekat. Justru itu yang bikin ceritanya kena. Ada dilema batin, ada konflik internal, dan ada rasa “ini bisa kejadian di siapa aja”.
Bahasanya cenderung lugas dan tajam. Nggak terlalu berbunga-bunga, tapi pas. Beberapa dialognya kerasa realistis, kayak obrolan orang-orang yang lagi ada di situasi genting. Novel ini juga bikin mikir soal posisi kita sebagai individu di tengah gerakan besar: sejauh mana kita berani bersuara, dan apa risikonya. Minusnya, buat sebagian pembaca, ceritanya bisa terasa berat dan melelahkan secara emosi. Alurnya juga nggak selalu cepat ada bagian yang harus dibaca pelan supaya konteks dan maknanya nyampe. Jadi ini jelas bukan novel buat cari hiburan ringan. Tapi kalau kamu suka cerita yang punya muatan sosial, realis, dan berani, Aksi Massa itu kuat banget. Habis baca, rasanya bukan cuma “oh ceritanya bagus”, tapi juga ada rasa gelisah dan refleksi yang tertinggal :]
Buku yang ngejelasin mengenai sudut pandang Tan terhadap Indonesia (sosial, politik, dsb). Selain itu didalamnya juga ngejelasin mengenai paham marxisme. *ini sudah jelas karena Bapak Tan seorang Marxis (yang nasionalis) sejati!
Disini juga bahas mengenai pengorganisasian aksi revolusi yang harus memperhatikan kesiapan massa. Dibahas juga mengenai borjuasi imperialis dan ekonomi kapitalis bangsa Indonesia. Bukunya juga ada yang mengomentari mengenai kekuatan massa PKI namun untuk melakukan aksinya masih belum karena kurangnya pengorgasian dan diikutsertakannya massa yang besar tsb.
Banyak banget kutipan yang aku suka dalam buku ini, salah satunya kutipan yang merupakan prinsip Bapak Tan Malaka dalam upaya meraih kemerdekaan
|| jangan kita menggantungkan diri semata-mata kepada pertolongan luar negeri. Hendaknya kita berkeyakinan kepada kekuatan sendiri dari awal sampai akhir. (hal. 137)
|| Akuilah dengan tulus, bahwa kamu sanggup dan mesti belajar dari orang Barat. Tapi kamu jangan jadi peniru orang Barat, melainkan seorang murid dari Timur yang cerdas, suka mengikuti kemauan alam dan seterusnya dapat melebihi kepintaran guru-gurunya di Barat. (hal. 140)
Buku yang buat aku sendiri tidak bisa habis sekali duduk, dan bakal aku reread lagi karena pembahasannya yang cukup 'mendaging' didalamnya. Tapi selebihnya, susunan kalimatnya cukup mudah dimengerti sekalipun tetap bikin mikir dulu😅.
Walaupun usia buku ini sudah mencecah satu abad lamanya namun serasanya masih sesuai lagi untuk dibaca di abad 21 ini. Mengikut rekod buku ini ditulis pada tahun 1926 saat beliau berada dalam pengasingan di luar negeri.
Perjuangan yang dibawa oleh Tan Malaka bagi membangkitkan kesedaran dalam kalangan rakyat untuk mandiri dan bebas daripada imperialis ternyata mendapat kejayaan pada akhirnya.
Buku AKSI MASSA ini bagi aku seperti risalah-risalah Al-Imam Asy-Syahid Hassan Al-Banna yang tidak hanya sekadar untuk dibaca tetapi ia adalah tulisan untuk dilaksana dan dipraktikkan.
Penjajahan selama lebih 300 tahun telah memberi kesan yang sangat besar kepada rakyat ketika itu sehingga lemah dan tidak berdaya untuk melakukan perlawananan atas nama kebebasan.
Buku ini memberi panduan kepada rakyat untuk bangkit melawan berdasarkan tuntutan dan keperluan pada ketika itu lantaran penindasan yang kejam dan tak berperikemanusiaan.
Ada juga perbincangan dalam buku ini yang memerlukan pencerahan dan perbahasan lanjut menurut kaca mata seorang muslim yang berpegang kuat dengan kemuliaan dan keaslian ajaran Islam.
Namun begitu tak dapat dinafikan bahawa banyak anjuran dan cadangan di dalamnya yang seiring dengan peninggalan Nabi SAW. Baginda juga boleh dikatakan seorang revolusioner yang mengeluarkan manusia daripada perhambaan kepada manusia kepada perhambaan kepada Pencipta manusia.
Sebuah lagi karya Tan Malaka yang harus dibaca jika anda seorang peminat, penggemar, apatah lagi seorang yang mengaku sosialis yang menetap di ranah nusantara. Tan Malaka, seorang teoritikus sekaligus aktivis politik kiri yang militan, meskipun diburu di mana-mana, masih sempat membikin bermacam pamphlete dan buku, baik senipis-nipisnya, mahupun setebal MADILOG.
Tan Malaka dalam buku ini menolak idea anarkis, teroris, atau istilahnya 'putch'. Justeru itu dia menolak dua pemberontakan PKI yang dilakukan pada hujung tahun 20an dan sekali lagi pada tahun 40an. Kerana itu dia dituduh sebagai 'Trotskyist' oleh musuh-musuh politiknya yang juga berseragam Kiri. Tan Malaka lebih menumpukan pada revolusi yang matang -meskipun sangat utopia, kerana revolusi selalunya berlaku bukan seperti yang dirancang-
Tan Malaka meski dibunuh oleh bangsanya sendiri, bagaimanapun selepas kewafatannya, nama dia kembali dicari gali, dan mulai harum subur dan mekar mewangi, dia diangkat sebagai pahlawan nasional!