"Di dalam sana, ruang mengambangkan nafas sang maharaja yang bertelekan dan geraklakunya lamban: Juna, rajadiraja segala rajatunda. Dialah sang raja kelembaman, raja perfeksionis pesimistis, raja pelindung kukang Jawa dan segala fauna lamban, juga fauna dalam inersia dan hibernasi. Sedangkan singa, macan tutul, burung alap-alap, dan segala elang—segenap hewan yang bergerak gesit dan penuh laga—niscaya mati dan punah tanpa ampun di sana. Tidak ada tempat lain yang lebih terjanjikan dengan banyak kemungkinan dan capaian. Tetapi di ruang itu semua gerak-gerik, tindakan, dan kejadian berlangsung lama seperti adegan slow-motion di film-film. Niatan tebersit tibatiba secara impulsif, gagasan berlimpah-ruah seperti letus kembang api warna-warni di langit malam benaknya. Segala sesuatu selalu dilatari pemikiran pelik, rencana rumit."
Nukila Amal mendapat perhatian besar di dunia sastra Indonesia setelah menerbitkan novelnya, Cala Ibi (2003), yang masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award. Kumpulan cerpennya, Laluba (2005), mendapat penghargaan Karya Sastra Terbaik majalah Tempo. Nukila juga meraih penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2008 melalui cerpennya, "Smokol." Karya terbarunya adalah buku anak Mirah Mini: Hidupmu, Keajaibanmu (2013).
Pada tahun 2006 Nukila diundang sebagai peserta Iowa International Writing Program di Amerika Serikat. Ia pernah menjadi anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan menerjemahkan sejumlah kumpulan puisi. Lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung ini juga mengelola bisnis roti dietetik.
Kadang aku takjub, dari mana datangnya keindahan? Bahasa, selain berperan sebagai medium pesan, juga melahirkan keindahan lewat kepaduan struktur, fonem, dan makna. Suatu kata mengandung makna (salah satunya) lewat rujukan. Ketika kata-kata bersesuaian dalam aturan sintaksis, muncul pesan yang dicerap nalar. Jika kata-kata yang telah dirangkai dengan benar dikurasi dengan apik, tetiba muncul perasaan indah. Perasaan itu muncul seperti merecup, emergence, dalam teori-teori fisika. Seperti dalam fisika pula, kemunculan keindahan ini tak bisa dijelaskan melalui bagian-bagiannya. Dugaanku, keindahan bahasa merecup karena fonem yang serumpun ditambah makna yang sesuai.
Novel ini adalah pelepas dahagaku akan novel yang memiliki keindahan tutur dan rima. Setiap kata benar-benar dipikirkan secara masak untuk dapat padu dengan kata dan kalimat berikutnya secara makna, serta menimbulkan rasa trans dalam membaca. Nukila Amal tahu betul bagaimana memperlakukan kata (dan juga fonem) sebagai unit terkecil makna sehingga dapat mengkonstruksi keindahan wacana.
Dalam novel, terdapat tokoh-tokoh dalam tiga generasi yang masing-masing memiliki gaya berbahasa berbeda. Tokoh Oma, mungkin baby boomer, masih separuh terpengaruh struktur berbahasa kolonial, terkadang menggunakan istilah Belanda seakan terdengar priyayi. Kin dan Juna, milenial, berbicara dengan Bahasa Indonesia EYD, dan sedapat mungkin mencari padanan istilah-istilah Inggris populer ke dalam bahasa Indonesia. Alia, gen Z, digital native yang memperlakukan bahasa Inggris seolah-olah itu memiliki hirarki semantik yang lebih tinggi dibanding bahasa Indonesia, dan juga sebagai bahasa teknologi yang melekat pada objeknya.
Menariknya, perubahan gaya berbahasa tiap genarasi hanya berubah pada tataran diksi. Entah diksi belanda, padanan dalam bahasa Indonesia, atau serapan Inggris diterima dengan lapang dada. Tak ada generasi yang benar-benar secara ekstrem mengubah aturan sintaksis bahasa Indonesia. Meskipun disebut aturan, tapi 'kan so what kalau ingin diubah? Aturan juga bagian dari kesepakatan. Bahasa bekerja karena digunakan bersama. Jika satu generasi sepakat merumuskan aturan berbahasa Indonesia yang baru, toh aturan itu mendapati fungsinya. Mungkin, suatu saat ada generasi yang berbicara dengan struktur PSKO. Siapa tahu?
Kembali ke unsur instriksik novel. Satu-satunya hal yang kurang kugemari dalam novel ini adalah konfliknya. Aku kurang menyukai novel rumah tangga, apalagi menjadi konflik utama. Tapi, Kant bilang, penilaian akan keindahan bersifat subjektif. Novel ini indah dalam gaya berbahasa, tapi kurang grande dalam tema cerita. Dan, itu adalah penilaian subjektifku.
Di bab awal pertengkaran Juna dan Kin cukup menarik dan kepo, apalagi soal Juna yang penulis yang suka menunda. Makin ke belakang makin bingung, ini sebenernya mau ke mana arahnya, belum lagi pindah-pindah pov, gak cuma dua orang, tapi 4 orang tanpa beda font. Pembaca diajak untuk mikir ini siapa nih yang cerita, ini siapa lagi nih.
Ada isu soal kesiapan untuk punya anak, kesiapan akan kematian, dan ya begitu saja...
Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal, merupakan novel yang menceritakan kehidupan sepasang suami istri (Juna & Kin) terutama dalam hal komunikasi dan juga cara mereka merespon terhadap segala sesuatu yang terjadi atas diri mereka maupun hal-hal yang terjadi disekitarnya. Ada karakter Juna yang dipandang Kin (istrinya) sebagai sosok yang gemar menunda-nunda dan terlalu hati-hati dalam memutuskan apapun meskipun itu adalah hal yang kecil sekalipun. Padalah menurut Juna sendiri, segala sesuatu harus dipikirkan matang-matang dan pertimbangan yang cukup. Sayangnya, hal tersebut yang membuat Kin menjadi jengah karena "keleletan" suaminya yang ia anggap sudah diluar nalarnya. Sebaliknya, sosok Kin dimata Juna (suaminya) selalu dianggap terlalu "sembrono" dan memutuskan segalanya dengan terburu-buru dan juga pertimbangan yang minim. Kemudian Juna memandangnya sebagai bentuk anomali yang menurutnya sukar dipahami. Perbedaan cara berpikir tersebutlah yang akhirnya berujung pada permintaan cerai dari Kin. Selain dua karakter utama Juna dan Kin, ada juga karakter lain yang turut menilai Juna dari sudut pandang mereka yaitu keponakan Kin dan juga Mamanya Kin (mertua Juna) yang juga ternyata mempunyai gambaran sendiri mengenai Juna.
Menurut saya, ide cerita dalam novel ini cukup sederhana namun sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Berikut adalah beberapa yang bisa sy capture: 1. Tentang komunikasi yang tidak setara. Pandangan Kin terhadap sosok Juna dan sebaliknya, merupakan salah satu contoh dari komunikasi yang tidak setara. Meskipun dalam dialognya beberapa kali terjadi cukup panjang dan memunculkan argumen para tokoh/karakter, namun seolah dari mereka berdua hanya sedang mempertahankan "standar" yang mereka yakini adalah suatu kebenaran dalam mereka berkomunikasi. Sehingga tidak ada titik temu yang menghubungkan "gap" antara gaya berkomunikasi Juna dan juga Kin.
2. Ketimpangan fungsi peran dalam rumah tangga Sy mengindikasi peran Juna dan Kin sebagai suami istri hanya mengandalkan asumsi yang tidak pernah sekalipun dikonfirmasi. Upaya konsolidasi yang dilakukan juga pada akhirnya merujuk pada suatu solusi yang didasarkan pada asumsi-asumsi tanpa konfirmasi satu sama lain. Hanya mengandalkan analisa yang subjektif.
3. Kejujuran Karena komunikasi dilakukan dengan asas asumsi, oleh karenanya Juna dan Kin agaknya cukup jauh dari komunikasi yang ber-asaskan kejujuran. Sehingga hal-hal yang seharusnya bisa menjadi medium untuk saling memahami menjadi suatu keniscayaan yang tidak akan pernah terwujud.
Terkait gaya kepenulisan sendiri, sy akui memang sangat berbeda dengan karya Nukia Amal yang sebelumnya, yang penuh dengan pengandaian dan metafora. Dalam novel ini agaknya mengalir begitu saja karena penulis menggunakan diksi-diski yang sederhana. Buat sebagian pembaca mungkin mengecewakan, namun buat sy pribadi cukup melegakan karena sy bisa menyelesaikan novel ini tanpa kendala.
menarik caranya bercerita. setiap tokoh dikasih kesempatan bersuara. sulit lho teknik seperti ini. masing-masing karakter kudu kuat dan punya warna suara yang berbeda. dan, di novel ini, digarap dengan oke. tapi tetep lebih suka cerita-ceritanya la luba. untuk ikhtiar yang tak benar-benar, endingnya agak terasa hambar.
Reading Nukila’s Ikhtiar yang Tak Benar-Benar felt like being trapped in an endless, flat conversation between two narcissists who mistake boredom for depth. Every chapter dragged so much I had to revive myself with another book just to keep going. After 23 years, this is what we get? Jeez.
If there is a perfect book about not being a perfect book, then this is it. If you happen to enjoy raw sketches, random splashes of color on the floor, or footprints of god-knows-who stamped across the canvas, then this book is for you. But if you’re the type who prefers a traditional book—one that’s supposed to entertain you, not frustrate you—then stay far, far away. I swear to God, I’m not kidding! I can’t even process my own thoughts in Indonesian because I just… I just can’t. And if any of you expect this book to be a duplicate of Cala Ibi, please, I beg you, turn around and find something else. Because this is in no way—I repeat, no way—similar to Cala Ibi.
This is a whole new side of Nukila Amal we’ve never seen before. Here she is, rebellious, telling the world to shut the fuck up because she’s going to write whatever the hell she wants. I felt like I was tricked into reading something I never signed up for—but by the time I realized it, I’d gone too far to turn back. So I read it. Every single page (skimming most of them), while pressing down the frustration in my chest.
I’m so sorry that the first review of this book has to be a one-star.
Pemenang karya seni Prosa pilihan majalah Tempo tahun 2025...
Setelah buku ini memenangkan karya seni prosa pilihan majalah Tempo tahun 2025, saya langsung pesan di toko online dan menyelesaikannya dalam beberapa hari. Nukila Amal bukan termasuk penulis yang produktif, karyanya sepertinya bisa dihitung jari, tapi dia mengkompensasi kuantitas dengan kualitas.
Topik novel ini cukup umum, yaitu perbedaan cara pandang sepasang suami istri (Juna dan Kinan), si istri merasa suaminya terlalu sering menunda-nunda pekerjaan, dan si suami merasa belum siap saat istrinya menginginkan kehadiran seorang anak. Cerita yang sejatinya sederhana ini diolah menjadi sangat menarik oleh gaya penceritaan Nukila. Menggunakan sudut pandang orang pertama yang berbeda-beda (suami, istri, ibu mertua, keponakan), membuat pembaca diajak mengikuti jalan pikiran orang tersebut. Saat kita pada sudut pandang ibu mertua, kita seakan-akan menyelami pikiran yang dipenuhi ingatan masa lalu, yang sering lupa mengingat nama-nama, dan yang berpikir dengan istilah bahasa Belanda. Saat kita dalam sudut pandang si keponakan, gaya bahasa anak SMA jakarta saat ini akan bermunculan, demikian juga cara pikir yang meloncat-loncat tidak fokus. Bahkan catatan pribadi si suami, yang menjadi bab lampiran di akhir buku, juga menarik untuk memahami isi pikiran pribadi tersebut.
Ini bukan novel yang berat, tapi juga bukan bacaan yang bisa dibaca cepat sambil lalu. Saya tidak menyesal menjadikan buku ini salah satu koleksi buku fiksi Indonesia yang saya miliki.
“Cara bertutur yang enigmatik, esoterik, dan bahasa yang begitu cemerlang niscaya mengharuskan pembaca berkacamata hitam saat membaca novel ini saking silaunya” h.27
Premis dalam buku ini sederhana saja, suami istri Juna dan Kin bertengkar hebat. Puncak dari pertengkaran-pertengkaran kecil selama ini. Akhirnya jebol juga permasalahan utama dalam pernikahan mereka. Inilah yang harus mereka hadapi.
Di tengah marahnya, Kin pulang ke rumah ibunya. Di sana tak hanya sang Mama tetapi ada juga Mbok Min, kakaknya Jani, kakak iparnya Rustam, dan keponakannya Alia. Tiga hari Kin di sana menata hatinya.
Juna pun sendirian di rumah dan merasakan kekosongan yang tak pernah ada sebelumnya. Dia harus mencari tahu, sebenarnya apa sih alasan keributan mereka. Atau dia justru harus bersyukur karena akhirnya rumah tenang dan dia bisa mulai mengerjakan novelnya yang tertunda sekian tahun lamanya?
Nukila Amal mengisahkan drama rumah tangga-keluarga ini dalam 4 PoV: Kin, Juna, Dina/Mama/Oma, dan Alia. Aliran pikiran mereka disampaikan dengan mulus dan sangat membekas. Permainan bahasa dan kata-katanya indah tapi tak sampai membingungkan.
Aku pribadi bisa melihat pikiranku sendiri dalam penundaan Juna, dalam kemarahan Kin, dalam kebijaksanaan Mama. Menurutku novel ini berisi realitas keseharian yang disuarakan dengan apik.
Tak heran novel ini langsung mengantongi predikat Buku Prosa Pilihan Tempo 2025.
Buku ini menyuguhkan satire tajam atas kebiasaan menunda, sesuatu yang dilakukan hampir semua orang, termasuk dalam kepenulisan. Melalui Juna, pembaca akan menemukan bagaimana "creative block" bukanlah hambatan teknis semata, melainkan ragam pembenaran demi menghindari eksekusi.
Nukila mencoba menghadirkan gaya berbahasa tiap tokoh melalui teknik polifonik dengan POV 1. Namun, nada bicara antar-tokoh pada transisi POV cenderung serupa. Pembaca perlu "bekerja keras" untuk mengidentifikasi siapa yang tengah bersuara.
Kekurangan paling terasa ada pada struktur penceritaan yang tidak solid. Untuk sebuah novel dengan narasi lincah, diksi yang kaya, dan isu yang cukup menarik, plotnya terasa fragmentaris layaknya kumpulan cerpen yang tidak benar-benar utuh menjalin satu narasi besar. Makin ke belakang, ceritanya seolah kehilangan fokus. Persis seperti judulnya: sebuah ikhtiar yang (memang) tidak benar-benar.