Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ikhtiar yang Tak Benar-Benar

Rate this book
"Di dalam sana, ruang mengambangkan nafas sang maharaja yang bertelekan dan geraklakunya lamban: Juna, rajadiraja segala rajatunda. Dialah sang raja kelembaman, raja perfeksionis pesimistis, raja pelindung kukang Jawa dan segala fauna lamban, juga fauna dalam inersia dan hibernasi. Sedangkan singa, macan tutul, burung alap-alap, dan segala elang—segenap hewan yang bergerak gesit dan penuh laga—niscaya mati dan punah tanpa ampun di sana. Tidak ada tempat lain yang lebih terjanjikan dengan banyak kemungkinan dan capaian. Tetapi di ruang itu semua gerak-gerik, tindakan, dan kejadian berlangsung lama seperti adegan slow-motion di film-film. Niatan tebersit tibatiba secara impulsif, gagasan berlimpah-ruah seperti letus kembang api warna-warni di langit malam benaknya. Segala sesuatu selalu dilatari pemikiran pelik, rencana rumit."

240 pages, Paperback

Published August 16, 2025

4 people are currently reading
26 people want to read

About the author

Nukila Amal

14 books54 followers
Nukila Amal mendapat perhatian besar di dunia sastra Indonesia setelah menerbitkan novelnya, Cala Ibi (2003), yang masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award. Kumpulan cerpennya, Laluba (2005), mendapat penghargaan Karya Sastra Terbaik majalah Tempo. Nukila juga meraih penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2008 melalui cerpennya, "Smokol." Karya terbarunya adalah buku anak Mirah Mini: Hidupmu, Keajaibanmu (2013).

Pada tahun 2006 Nukila diundang sebagai peserta Iowa International Writing Program di Amerika Serikat. Ia pernah menjadi anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan menerjemahkan sejumlah kumpulan puisi. Lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung ini juga mengelola bisnis roti dietetik.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (12%)
4 stars
3 (18%)
3 stars
5 (31%)
2 stars
5 (31%)
1 star
1 (6%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Nike Andaru.
1,642 reviews111 followers
December 23, 2025
95 - 2025

Di bab awal pertengkaran Juna dan Kin cukup menarik dan kepo, apalagi soal Juna yang penulis yang suka menunda.
Makin ke belakang makin bingung, ini sebenernya mau ke mana arahnya, belum lagi pindah-pindah pov, gak cuma dua orang, tapi 4 orang tanpa beda font. Pembaca diajak untuk mikir ini siapa nih yang cerita, ini siapa lagi nih.

Ada isu soal kesiapan untuk punya anak, kesiapan akan kematian, dan ya begitu saja...
Profile Image for Lommie  Ephing.
116 reviews2 followers
October 5, 2025
sorry to say, ini soal selera aja sih. Mungkin kisah di buku ini memang tak cocok untukku. sekian dan terima kasih
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
293 reviews6 followers
November 10, 2025
Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal, merupakan novel yang menceritakan kehidupan sepasang suami istri (Juna & Kin) terutama dalam hal komunikasi dan juga cara mereka merespon terhadap segala sesuatu yang terjadi atas diri mereka maupun hal-hal yang terjadi disekitarnya. Ada karakter Juna yang dipandang Kin (istrinya) sebagai sosok yang gemar menunda-nunda dan terlalu hati-hati dalam memutuskan apapun meskipun itu adalah hal yang kecil sekalipun. Padalah menurut Juna sendiri, segala sesuatu harus dipikirkan matang-matang dan pertimbangan yang cukup. Sayangnya, hal tersebut yang membuat Kin menjadi jengah karena "keleletan" suaminya yang ia anggap sudah diluar nalarnya. Sebaliknya, sosok Kin dimata Juna (suaminya) selalu dianggap terlalu "sembrono" dan memutuskan segalanya dengan terburu-buru dan juga pertimbangan yang minim. Kemudian Juna memandangnya sebagai bentuk anomali yang menurutnya sukar dipahami. Perbedaan cara berpikir tersebutlah yang akhirnya berujung pada permintaan cerai dari Kin. Selain dua karakter utama Juna dan Kin, ada juga karakter lain yang turut menilai Juna dari sudut pandang mereka yaitu keponakan Kin dan juga Mamanya Kin (mertua Juna) yang juga ternyata mempunyai gambaran sendiri mengenai Juna.

Menurut saya, ide cerita dalam novel ini cukup sederhana namun sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Berikut adalah beberapa yang bisa sy capture:
1. Tentang komunikasi yang tidak setara.
Pandangan Kin terhadap sosok Juna dan sebaliknya, merupakan salah satu contoh dari komunikasi yang tidak setara. Meskipun dalam dialognya beberapa kali terjadi cukup panjang dan memunculkan argumen para tokoh/karakter, namun seolah dari mereka berdua hanya sedang mempertahankan "standar" yang mereka yakini adalah suatu kebenaran dalam mereka berkomunikasi. Sehingga tidak ada titik temu yang menghubungkan "gap" antara gaya berkomunikasi Juna dan juga Kin.

2. Ketimpangan fungsi peran dalam rumah tangga
Sy mengindikasi peran Juna dan Kin sebagai suami istri hanya mengandalkan asumsi yang tidak pernah sekalipun dikonfirmasi. Upaya konsolidasi yang dilakukan juga pada akhirnya merujuk pada suatu solusi yang didasarkan pada asumsi-asumsi tanpa konfirmasi satu sama lain. Hanya mengandalkan analisa yang subjektif.

3. Kejujuran
Karena komunikasi dilakukan dengan asas asumsi, oleh karenanya Juna dan Kin agaknya cukup jauh dari komunikasi yang ber-asaskan kejujuran. Sehingga hal-hal yang seharusnya bisa menjadi medium untuk saling memahami menjadi suatu keniscayaan yang tidak akan pernah terwujud.

Terkait gaya kepenulisan sendiri, sy akui memang sangat berbeda dengan karya Nukia Amal yang sebelumnya, yang penuh dengan pengandaian dan metafora. Dalam novel ini agaknya mengalir begitu saja karena penulis menggunakan diksi-diski yang sederhana. Buat sebagian pembaca mungkin mengecewakan, namun buat sy pribadi cukup melegakan karena sy bisa menyelesaikan novel ini tanpa kendala.
Profile Image for Alfin Rizal.
Author 10 books50 followers
December 19, 2025
menarik caranya bercerita. setiap tokoh dikasih kesempatan bersuara. sulit lho teknik seperti ini. masing-masing karakter kudu kuat dan punya warna suara yang berbeda. dan, di novel ini, digarap dengan oke. tapi tetep lebih suka cerita-ceritanya la luba. untuk ikhtiar yang tak benar-benar, endingnya agak terasa hambar.
Profile Image for Chikako.
4 reviews
September 22, 2025
Reading Nukila’s Ikhtiar yang Tak Benar-Benar felt like being trapped in an endless, flat conversation between two narcissists who mistake boredom for depth. Every chapter dragged so much I had to revive myself with another book just to keep going. After 23 years, this is what we get? Jeez.
Profile Image for kalvid.
21 reviews1 follower
September 6, 2025
If there is a perfect book about not being a perfect book, then this is it. If you happen to enjoy raw sketches, random splashes of color on the floor, or footprints of god-knows-who stamped across the canvas, then this book is for you. But if you’re the type who prefers a traditional book—one that’s supposed to entertain you, not frustrate you—then stay far, far away. I swear to God, I’m not kidding! I can’t even process my own thoughts in Indonesian because I just… I just can’t. And if any of you expect this book to be a duplicate of Cala Ibi, please, I beg you, turn around and find something else. Because this is in no way—I repeat, no way—similar to Cala Ibi.

This is a whole new side of Nukila Amal we’ve never seen before. Here she is, rebellious, telling the world to shut the fuck up because she’s going to write whatever the hell she wants. I felt like I was tricked into reading something I never signed up for—but by the time I realized it, I’d gone too far to turn back. So I read it. Every single page (skimming most of them), while pressing down the frustration in my chest.

I’m so sorry that the first review of this book has to be a one-star.
Displaying 1 - 7 of 7 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.