“… sehari kemarin hujan gerimis mengguyur Kurusetra, Uwa Prabu. Pagi hari ini kabut terlihat pekat menyelimut padang itu....”
“... kabut…,” hanya kata-kata lirih yang keluar dari orang tua kurus itu. Wajahnya cekung. Matanya buta sejak lahir. Sang Destarastra. Bapak para Kurawa.
“… kabut itu merah….” kata seorang kekar yang bicara kepada Destarastra. Bernama Raden Sanjaya. Anak dari Arya Widura, adik Destarastra. Berkata tentang halimun pagi di penglihatan sukmanya yang tampak janggal, yang lamat-lamat berwarna merah darah.
Membaca, membuatnya tergerak untuk juga menuangkan ide, pikiran dan gagasannya dalam bentuk tulisan. Sejak tahun 1997 dia banyak menulis artikel yang lebih banyak bertema pemberdayaan diri terutama dalam lingkup diri dan keluarga. Sejak tahun 2006, Pitoyo mulai menulis buku yang mengangkat kembali falsafah dan nilai kearifan budaya Jawa yang tersalut dalam kisah-kisah Dunia Wayang.... profil selengkapnya
Sebagai seseorang yang sudah menyukai kisah pewayangan sejak kecil, saya sangat terhibur dengan novel Baratayuda karya Pitoyo Amrih. Kisah pewayangan selalu jelas menggambarkan pertarungan antara kebaikan melawan kejahatan, sikap ksatria melawan kezaliman, serta kejujuran yang menantang angkara murka. Jarang ada novel yang mengangkat kisah epik Baratayuda, dan karya Pitoyo Amrih ini berhasil membangkitkan nostalgia saya terhadap kisah klasik tersebut.
Menceritakan kisah Baratayuda dalam satu novel tentu tidak mudah, mengingat kompleksitas plotnya yang sangat banyak. Bagi pembaca yang tidak familiar dengan kisah Mahabarata dan Baratayuda, mengikuti alur cerita dalam novel ini bisa menjadi tantangan. Namun, saya mengapresiasi usaha Mas Pitoyo untuk menulis novel ini, dan saya rasa beliau cukup berhasil dalam upayanya.
Saya juga sangat menyukai cara bertutur Mas Pitoyo Amrih yang khas dan menggugah imajinasi. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang menurut saya kurang perlu, seperti cerita tentang kaum Banaspati dan Gandarwa yang memakan jasad prajurit yang tewas di Kurusetra, yang terasa diulang-ulang dan kurang relevan. Selebihnya, novel ini cukup menghibur dan memberikan perspektif baru bagi penggemar pewayangan.
Kisah tentang perang dunia Wayang, perang Baratayuda. Pertempuran hebat ,antara pihak Pandawa dan Kurawa, keduanya adalah keturunan wangsa Barata, sehingga perang ini dinamakan Baratayuda. Pertempuran antara kebaikan dan kejahatan, satu pihak ingin menguasai dan pihak lain ingin mempertahankan hak nya. sejatinya perang ini adalah perebutan kekuasaan.
Pitoyo Amrih menceritakan setiap peristiwa, latar belakang, dan suasana cukup detil, walaupun ada beberapa pengulangan yg seharusnya tidak perlu.
Membaca kisah ini membawa saya kembali ke masa berpuluh tahun yang lalu ketika membaca serial komik Mahabharata dengan tokoh-tokoh yang sama. Cerita-cerita yang mungkin menjadi awal mula saya hobi membaca..:)