Berlin, 1970 Di bawah bayang-bayang Perang Dingin dan Tembok yang membelah Ibukota Jerman, Karel Manurung hidup dan bekerja. Arsitek kelahiran Semarang dan lulusan Weimar ini seorang asisten riset di Baueakademie, lembaga yang. merancang pembangunan kembali Jerman Timur yang hancur oleh Perang Dunia II.
Ia juga diam-diam jadi informan Stasi, dinas rahasia Jerman Timur, dan yakin bahwa sosialisme Jerman akan menyelamatkan masa depan. Sementara itu Yosef, adiknya--seorang mahasiswa teknik di Brno, Czecho (slowakia)--terlibat dalam aksi menentang pemerintah komunis di Praha.
Yosef jadi buron dan hilang.
Novel Goenawan Mohamad ini berbentuk "mozaik", antara lain tersusun dari potongan-potongan cerita yang ditulis Supiyati Manurung, istri seorang tahanan politik, dari pelbagai tempat di sekitar Semarang, Jawa Tengah.
Ia membentuk sebuah alegori tentang Perang Dingin, perang yang--seperti dikatakan seorang tokohnya--"menguasai hidup kita sampai ke tulang punggung". Perang yang mengguncang Indonesia dalam beberapa ledakan kekerasan.
Ia seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas. Tanpa lelah, ia memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu sekali menulis kolom “Catatan Pinggir” di Majalah Tempo.
Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo kelahiran Karangasem Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, ini pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum.
Ia juga pernah menjadi Nieman fellow di Universitas Harvard dan menerima penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori Consience in Journalism dari Nieman Foundation, 1997. Secara teratur, selain menulis kolom Catatan Pinggir, ia juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun (Tokyo).
Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas VI SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian, kakaknya yang dokter (Kartono Mohamad, mantan Ketua Umum PB IDI) ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B. Jassin. “Mbakyu saya juga ada yang menulis, entah di harian apa, di zaman Jepang,” tutur Goenawan.
Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Di sana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.
Goenawan Mohamad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga memberikan pelatihan bagi para jurnalis tentang bagaimana membuat surat kabar yang profesional dan berbobot. Goenawan juga melakukan reorientasi terhadap majalah mingguan D&R, dari tabloid menjadi majalah politik.
Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Pak Harto diturunkan pada 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.
Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohamad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tomy Winata, (17/5/2004). Pernyataan Goenawan yang dimuat Koran Tempo pada 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Arta Graha itu.
Goenawan yang biasa dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.
Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), dan Catatan Pinggir (1982).
Hingga kini, Goenawan Mohamad banyak menghadiri konferensi baik sebagai pembicara, narasumber maupun peserta. Salah satunya, ia mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 dimana Bill Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumah.
Baru kali pertama ini aku membaca sebuah montase. Hah? Membaca montase? Iya, memang awalnya aku juga mengernyitkan dahi ketika mendapati novel dengan kover minimalis, gambar sket cepat dua buah menara, yang satu diam di tempat dan yang lain seperti bisa berjalan dan sedang menganga. Judul Manurung tertulis kapital semua dengan warna oranye menyala diikuti frasa "sebuah montase". Bukankah montase itu soal kompilasi gambar ya, yang disusun dan terhubung satu sama lain dengan satu tema besar? Hmm... sepertinya menarik.
Kesan pertamaku pada buku ini adalah buku ini terasa mahal dan eksklusif. Ada dua lapisan kover: kover dalam berwarna putih polos dengan huruf timbul “Manurung,” dan pelindung luar bertekstur menyerupai kertas buffalo berwarna krem.. Ketika aku buka-buka sekilas, warna fontnya tidak cuma hitam, ada juga font warna oranye. Pemilihan warna oranye pada kertas bookpaper menghasilkan kontras yang lemah, karena itu warna tersebut tampak menyatu dengan latar dan membuatku agak pusing ketika membacanya. Meski demikian, desain keseluruhan terasa elegan dan terkonsep.
Karel Manurung, tokoh utama, sedang dalam pencarian adiknya yang hilang karena melawan ideologi komunis. Ia adalah seorang arsitek dan juga seorang asisten riset di sebuah institusi di Jerman Timur. Karel juga seorang yang kiri, yakin bahwa pemikiran kiri dapat menyelamatkan Jerman diperkuat dengan ayahnya yang seorang kiri pula.
Kisah Karel yang berjalan maju sesekali diselingi potongan kisah dari sudut pandang ibunya—ditandai dengan font oranye—yang menggambarkan keadaan di Indonesia pada periode yang sama. Perang Dingin yang berkecamuk di Eropa, nyatanya berpengaruh juga pada dunia, khususnya di Indonesia. Selesai membaca ini, keingintahuanku akan Perang Dingin dan hubungannya dengan tragedi '65 semakin meningkat. Aku tersadar bahwa seberpengaruh itu ideologi bagi dunia, bahkan dua kubu saling serang, saling memperalat negara-negara lain di luar Eropa untuk menyebarkan ideologi terbaik versi mereka.
Penggunaan montase pada buku ini merupakan pilihan yang tepat, kita seperti ditampilkan kumpulan kertas-kertas bergambar lengkap dengan takarirnya. Kertas-kertas tersebut disusun dengan rapi, dan setiap kertasnya diberi benang merah yang menyambungkan antar kisah tersebut. Kita, pembaca, disuguhkan betapa menderitanya manusia di dunia tahun 60-an. Tak hanya Eropa yang penuh dengan mata-mata, tak lupa dampaknya terhadap Indonesia yang menewaskan ratusan ribu orang tidak bersalah.
Ada beberapa kosakata Ceko yang menarik untuk dikulik. Misalnya, "Praha hl.n." berarti stasiun utama Praha atau dalam bahasa Cekonya, Prague Hlavni Nadrazi. "StB", Statni Bezpecnost adalah pasukan kepolisian rahasia. "Kavarna", kafe.
Secara kronologi, bisa dikatakan kalau lamanya perjalanan Manurung hanya hitungan bulan. Mulai dari dia ditawari untuk bergabung dengan polisi rahasia untuk menjadi informan mereka, sampai dia bertemu dengan Yosef. Dan dalam perjalanannya ia dihadapkan oleh mencekamnya kehidupan di Eropa, khusunya di Jerman. Ia bisa, sebenarnya, dengan bebas berkeliaran tetapi dalam kebebasan itu tersebar ribuan mata-mata yang siap mencatat gerak-gerik Karel, maka ia harus berwaspada.
Obrolannya dengan beberaoa karakter juga menjelaskan keadaan di Eropa sana. Salah satunya adalah obrolannya dengan Farzad, atasannya di institusi tempatnya ia bekerja. Mereka berbincang tentang bungkus coklat yang dikemas menarik. Dan dari bungkus coklat itu, Farzad mampu menganalogikannya dengan kemasan kapitalis yang amat menarik orang-orang. Kapital-liberalis memperkenalkan desain bangunan minimalis, dan karya seni abstrak untuk menunjukkan kebebasan terhadap kekangan teori dan kebebasan berekspresi. Begitu hebatnya pengaruh politik hingga dapat mengubah arsitektur dan kesenian menjadi bentuk yang baru.
Namun, kukira buku ini harusnya hanya memiliki 70-90 halaman saja karena banyak sekali spasi di buku ini. Bahkan ada paragraf yang isinya cuma kalimat. Setiap dialog juga diberi spasi. Secara estetik memang bagus dan menarik seperti layaknya puisi kontemporer yang tidak hanya mengandalkan tulisan yang indah melainkan penataan puisi tersebut agar menarik pula secara visual. Halaman tebal, isi cuma sedikit, aku bahkan dapat menyelesaikannya dalam satu hari saja.
Dua bagian terakhir dalam buku ini mengakhiri ceritanya dengan satu kata yang sama: "menangis". Bukan, tak cuma kata, tetapi kalimat yang sama persis: "Sebenarnya ia menangis". Tangisan di bagian terakhir adalah tangisan Manurung mengingat adiknya, Yosef. Tangisan di bagian sebelumnya adalah tangisan Sumantri mengingat adiknya, Sukra.
Ada pesan yang begitu subtil bahwa perang dalam berbagai bentuknya hanyalah melahirkan tragedi. Manurung, tokoh utama novel ini, hanya representasi dari jutaan orang lain yang terasing akibat perang dan harus berjuang melawan kesepian itu. Namun, perang di sini bukanlah pertempuran di palagan dengan granat dan senapan bersahut-sahutan. Ini adalah perang ideologi antara nasionalisme dan komunisme yang terjadi pada 1960-an hingga 1970-an akhir.
Manurung, manusia dengan identitas yang begitu pelik, terjebak dalam Perang Dingin itu. Novel ini dengan lirih menarasikan perjalanan dan perjuangan Manurung sebagai orang Indonesia yang tinggal di Jerman, pernah aktif di gerakan komunis, dan diam-diam menjadi informan dinas rahasia Jerman Timur.
Cerita berliku-liku tak hanya dari kaca mata Manurung, tetapi juga adiknya, Yosef dan ibunya, Supiyati. Cerita yang menyajikan sisi lain orang Indonesia dalam pusaran perang besar saat itu.