Di dunia ini, tidak semua hal bisa kita kendalikan. Jika kita mau menghitung apa saja yang bisa dikendalikan dan apa saja yang berada di luar kuasa kita, kamu akan terkejut karena mengetahui ada begitu banyak hal yang berada di luar kendali.
Pahamilah bahwa tugasmu bukan fokus pada sesuatu yang tidak bisa kamu kendalikan, melainkan harus mengoptimalkan semua hal yang mampu kamu upayakan. Hidup sering kali memang tidak baik-baik saja. tetapi kamu tetap bisa melewatinya.
Buku ini tak hanya menjadi sebuah bacaan, tetapi juga panduan. Di kehidupan yang kerap penuh dengan kejutan, mempersiapkan diri atas berbagai kemungkinan adalah sebuah keharusan. Tetap menjadi diri sendiri di era yang penuh ekspektasi adalah kunci kebahagiaan sejati. Hidup minimalis dan tetap rendah hati membuat hidup menjadi lebih berarti. Buku indah ini akan menemanimu meraih kebahagiaan yang telah lama kamu inginkan. Selamat membaca!
Setahuku, Stoicism mulai populer di Indonesia setelah buku Filosofi Teras yang ditulis Henry Manampiring booming. Karena itulah judul Qur'anic Stoicism Philosophy langsung menarik perhatianku ketika acara Webinar-nya diluncurkan beberapa bulan lalu. Kebetulan saat aku itu lagi dalam kondisi mudah galau juga. Ketika sang penulis, Safi Sahri, muncul di layar, yang muncul di kepalaku adalah, "Dokter Richard Lee?". Ya, di mataku dia tampak sangat mirip dengan sosok dokter YouTuber mualaf itu. Tingkat percaya dirinya pun mirip. Sang penulis mengatakan bahwa dia sengaja tidak menuliskan frase "Qur'anic Stoicism Philosophy" dalam isi bukunya karena meniru konsep Surat Al-Ikhlas yang tidak mencantumkan kata-kata "Al-Ikhlas" dalam ayat mana pun. Unik juga. Dengan ringkas ia pun menjelaskan bahwa dalam Islam dan Qur'an terdapat prinsip-prinsip stoicism, yaitu soal pengendalian diri. Islam mengajarkan kita untuk fokus pada apa yang bisa kita kendalikan. Yang penting ikhtiar sebaik mungkin, untuk hasilnya, serahkan pada Allah.
Konsep tawakal inilah yang membuat ide Qur'anic Stoicism Philosophy ini jadi lebih powerful bagi orang-orang yang percaya Tuhan dan agama sepertiku. Dalam buku Filosofi Teras sendiri, stoicism lebih bersifat netral, tidak terikat pada dogma ajaran agama mana pun, dan lebih berfokus pada usaha untuk mengendalikan diri sendiri. Namun, mengendalikan diri sendiri setiap saat apalagi di tengah berbagai masalah hidup adalah sesuatu yang melelahkan, bukan? Karena itu sungguh melegakan ketika aku kemudian diingatkan lagi bahwa aku masih punya Allah, sumber kekuatan tak terbatas, yang sudah menjamin setiap aspek hidupku. Sumber kekuatan yang bisa selalu kuakses ketika aku sedang terlalu lelah menghadapi berbagai ujian.
Salah satu intisari dari ajaran Islam adalah pengendalian ego dan penyucian jiwa. Hanya jiwa-jiwa yang tenang alias nafsu muthmainnah yang bisa mencapai surga dan disambut Tuhan. Agar bisa lolos dari segala godaan dan ujian dunia, kita harus mengendalikan nafsu kita sebaik mungkin agar tidak terjerumus pada perbuatan-perbuatan tercela yang mengakibatkan kerusakan baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Sang penulis berkata, bahwa muttaqin atau orang yang bertakwa, tidak hanya merujuk pada orang yang taat, melainkan pada mereka yang secara aktif mencari petunjuk. Usaha untuk mencari petunjuk sendiri adalah sesuatu yang berarti masih dalam kendali kita. Dalam webinar itu, penulis lalu menceritakan kisah powerful yang mencerminkan praktik Qur'anic Stoicism Philosophy ini, yaitu kisah Abdurrahman bin Auf. Abdurrahman bin Auf tak keberatan meninggalkan seluruh hartanya di Mekkah agar bisa hijrah bersama Rasulullah ke Madinah. Dia kemudian dipersaudarakan dengan seorang dari kaum Anshar. Ketika sang lelaki Anshar itu menawarinya setengah harta bahkan menawarinya untuk memilih satu dari istrinya untuk ia nikahi, Abdurrahman bin Auf hanya meminta untuk ditunjukkan pasar. Dalam kondisi harus memulai segalanya dari nol di perantauan, Abdurrahman bin Auf fokus pada hal yang bisa dia kendalikan: kemampuannya berdagang. Dalam perkembangannya, setelah berhasil menjadi orang kaya, Abdurrahman bin Auf pun seolah sama sekali tak takut hartanya bakal habis karena ia terus menjadi salah satu donatur terbesar bagi perjuangan umat Islam. Dalam bukunya, penulis memberikan lebih banyak contoh penerapan stoicism dalam dunia Islam, misalnya ketika Rasulullah resah dengan kerusakan kaumnya sehingga ia sering memilih menenangkan hati dengan bertahannuts di Gua Hira sebelum beliau diangkat menjadi rasul, Ibu Nabi Musa yang menghanyutkan bayinya ke Sungai Nil demi menghindari kekejaman Fir'aun, dan reaksi Rasulullah setelah dilempari batu oleh orang Thaif dan ditawari malaikat yang ingin menghantamkan gunung pada kaum itu.
Aku merasa beruntung karena mengikuti webinar yang menurutku jadi pengantar dan pelengkap yang bagus untuk menikmati buku ini. Aku sendiri tak menyangka bahwa lewat webinar itu jugalah aku akan mendapatkan buku yang ingin kumiliki ini. Pertanyaan yang membuatku bisa mendapatkan buku ini adalah: "Jika Allah tidak pernah menguji hambaNya di luar batas kemampuannya, lalu kenapa ada orang yang bunuh diri dan jadi gila setelah menghadapi ujian masalah?" Jawabannya? Menarik. Jawabannya sendiri ternyata sudah tercantum di buku ini, mulai halaman 170 pada bab Bagaimana Allah Bekerja. Akan kutulis jawaban penulis itu di reviewku nanti.
*
Ada Lima Fragmen atau Lima Bab Utama dalam buku ini. Lima Fragmen itu adalah:
01: Fokus Pada Semua Hal yang Bisa Kita Kendalikan.
02: Change Your Mindset, Change Your Life
03. Keep Your Secret and Achievement
04 Seni Mengelola Tekanan Secara Qur'ani
05 Kebahagiaan Ada di Tangan Kita
Dalam Fragmen Pertama, penulis mulai memandu kita untuk merenungi bahwa tak semua hal bisa kita kendalikan. Oleh karena itu, kita perlu yakin bahwa Allah akan selalu punya solusi bagi masalah kita.
Disadari atau tidak, kerap kali respons pertama yang kita tunjukkan ketika terjadi masalah adalah menggerutu atas apa yang terjadi. Padahal, menyalahkan keadaan justru cuma membuang-buang waktu kita yang semakin lama akan semakin memperkeruh suasana dan membuat kita makin kesulitan untuk mencari jalan keluar.
(hal. 7)
This really hits on the spot. Memang itu reaksi spontanku selama ini. Rasanya benar-benar melelahkan sekaligus memalukan setiap aku lepas kendali. Karena setelah menggerutu habis-habisan, ternyata kemudian masalahnya selesai begitu saja. Ketika terjadi masalah di luar ekspektasi kita dan emosi kita semakin memuncak, penulis mencoba menyarankan praktik ini:
Coba gunakan rumus 356. 3 menit untuk menenangkan diri, 5 menit untuk berpikir, dan 6 menit untuk mengambil keputusan.
(Hal 6)
Ringkas, tapi kuyakin akan sangat membawa perubahan jika benar-benar dipraktikkan. Ada seorang praktisi spiritual dan meditasi yang menyarankanku agar menanyakan hal ini pada diriku sendiri ketika aku mulai merasakan gejolak emosi: "Mengapa aku marah/kecewa/sedih?", "Apakah hal ini pantas untuk membuatku marah/kecewa/sedih?". Mark Manson, penulis buku Seni Bersikap Masa Bodoh pernah membagikan hal ini di media sosialnya: Pikirkan apa hal yang mengganggumu saat ini bakal berarti 10 tahun kemudian. Aku tercenung saat membaca postingan itu. Karena jika merunut ke belakang, banyak masalah yang menguras emosiku sedemikian rupa bertahun-tahun lalu, ternyata sudah tak berarti lagi di masa kini. Rasanya seperti ingin menjerit, "Jadi buat apa dulu aku segalau itu kalau nyatanya sekarang semua masalah itu selesai dengan sendirinya?" Benar-benar pelajaran yang keras.
Buku ini mencantumkan dua ayat yang powerful terkait masalah ini:
"Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan (Allah) menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)Nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusanNya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu."
(QS. Ath-Thalaq. Akhir ayat 2- ayat 3).
"Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."
(Q.S. Al-Baqarah, ayat 153)
Selama ini aku begitu sering cemas karena banyak hal. Begitu cemas sampai-sampai rasanya aku lupa kalau punya Tuhan. Imanku kepada takdir seolah luntur begitu saja setiap kali aku merasa menabrak tembok. Padahal, sudah berkali-kali Allah memberikan bantuan tak terduga bagiku. Membuktikan bahwa ketakutan dan kecemasan terbesarku sebenarnya tidak pernah terjadi. Hingga kini alhamdulillah aku bisa bertahan dan baik-baik saja. Ayat-ayat itu, terutama yang dari Surat Ath-Thalaq seperti menghembuskan angin sejuk dalam jiwaku.
Sebagai umat Islam, kita sering diingatkan bahwa hidup ini hanyalah ujian sebelum kita memasuki kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Karena itu berbagai masalah yang terjadi dalam hidup kita sebenarnya adalah suatu keniscayaan yang wajar. Namun, berapa banyak di antara kita yang memahami hal ini ketika diuji dengan masalah?
"Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad), kabar gembira kepada orang-orang sabar." (Q.S. Al-Baqarah ayat 155)
Jika kita perhatikan, Allah sendiri yang menyatakan kalau Dia akan menguji kita dengan berbagai hal, seperti ketakutan, kelaparan, takut miskin dan menderita, takut kehilangan orang yang dicintai, dan berbagai ujian lainnya. Memang begitulah sifat dasar dunia. Jika hanya kesenangan saja yang kita inginkan, bukan dunia tempatnya. Kesadaran semacam ini perlu kita tanamkan dalam hati sehingga kita bisa memandang sebuah masalah sebagai sesuatu yang alami dan wajar-wajar saja.
(hal 25)
Dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 286, Allah berfirman bahwa dirinya tidak akan membebani seseorang kecuali menurut kesanggupannya.
Kalau kita merasa bahwa masalah yang kita hadapi begitu berat hingga kita merasa tidak mampu menjalaninya, percayalah bahwa itu hanya perasaan kita. Allah lebih tahu kapasitas hambaNya dan berat beban yang dapat kita tanggung.
Aku punya analogi menarik berkaitan dengan hal ini. Seorang insyinyur teknik mesin pasti tahu berapa nilai kekerasan dan tegangan tarik bagi sebuah baja ST-37. Ia tahu persis bahwa kekuatan benda itu berada pada rentang 200-230 HB, sedangkan tegangan tariknya berada pada rentang 301-327 Mpa. Dia juga tahu kalau baja itu tidak boleh menerima tegangan tarik lebih dari rentang yang diizinkan atau ia akan putus.
Jika seorang insyinyur teknik saja tahu kemampuan maksimal dari sebuah benda yang tidak ia ciptakan sendiri, lalu bagaimana mungkin Allah yang telah menciptakan kita semua tidak tahu sampai sejauh mana kemampuan yang kita miliki?
(hal 38-39)
Ini analogi yang sungguh luar biasa. Aku langsung teringat pada pertanyaan yang kulontarkan pada penulis saat webinar. Dalam buku ini, penulis memang sering sekali bermain dengan analogi-analogi menarik yang bisa menyederhanakan konsep yang rumit. Namun, pertanyaan itu masih menggantung di kepalaku, karena nyatanya, beberapa orang "putus" setelah diuji sedemikian rupa. "Putus" di sini maksudnya menjadi gila atau bahkan bunuh diri. Oke, kita lanjutkan dulu.
"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu." (Q.S. Az-Zariyat: 56)
Dari ayat tersebut, mayoritas dari kita mungkin akan berpikir, "Oh, berarti tujuan kita diciptakan oleh Allah hanya untuk beribadah saja, ya?"
Betul, tapi hati-hati dalam memaknai kata "beribadah". Kita kerap terjebak dan mengasosiasikan "beribadah" hanya pada ritual-ritual formal sesuai ajaran syariat, seperti salat, zakat, haji, dan ibadah formalistis lainnya.
(...)
Kata "beribadah" kepada Allah tidak bisa kita persempit hanya menjadi ritual formal yang sudah ditentukan oleh syariat. Membantu orang yang kesusahan, menjadi perantara bagi datangnya rezeki orang lain, berlaku adil, peduli dan empati terhadap sesama, dan semua hal yang berkaitan dengan kemanusiaan juga merupakan ibadah.
(Hal. 49-50)
Dalam buku Filosofi Teras sendiri, Henry Manampiring pun sempat membahas soal ini, betapa banyak orang beragama yang justru menggunakan alasan agama untuk menyakiti orang lain atau untuk bertengkar.
Saat sedang emosi, kita cenderung menyalahkan pihak eksternal. Pikiran kita segera menyusuna argumentasi dan pembenaran atas emosi yang sedang bergejolak. Ego kita akan berkata bahwa kita ada di posisi yang benar dan memang layak marah.
Namun, coba kita renungkan sejenak. Bukankah semua hal di dunia ini pada mulanya bersifat netral? Yang menyebabkan suatu hal itu menyebalkan atau tidak sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Hujan di pagi hari pada dasarnya merupakan peristiwa alam yang netral dan wajar-wajar saja. Akan tetapi, hujan di pagi hari bisa menjadi sangat menyebalkan ketika kita sudah punya agenda outdoor yang harus dibatalkan karena hujan.
(Hal. 55-56)
Bagian ini mengingatkanku pada sekelumit ajaran Buddha, soal bagaimana persepsi sering mengacaukan pikiran. Penulis lalu mencontohkan soal bagaimana Rasulullah memilih untuk fokus pada ketenangan hati dan pikiran beliau sendiri ketika menghadapi umatnya yang jahiliyah.
Menghadapi kebobrokan umatnya yang sedemikian rupa, Rasulullah memutuskan untuk fokus pada apa saja yang bisa ia kendalikan, yaitu hati dan pikiran beliau sendiri. Sebab, perilaku kaumnya ada di luar kuasanya. Beliau tidak langsung emosi, menunjukkan kebencian, dan menyerang mereka secara verbal atas keburukan yang telah terang-terangan dilakukan. Beliau mengajari kita bahwa dalam kondisi yang amat buruk dan berpotensi mempengaruhi emosi, kita perlu membenahi hati dan pikiran agar tidak larut pada hal yang sedang terjadi. Mengendalikan hati dan diri. Itulah kuncinya.
(hal. 61)
Sikap Rasulullah inilah yang perlu kita tiru. Jangan hanya fokus pada bagian poligaminya saja!
Di akhir Fragmen 01, pada halaman 64, penulis menyarankan kita untuk membuat tabel untuk mencatat:
1. Apa atau Siapa yang Membuat Kita Tak Nyaman
2. Hal yang Membuat Kita Tak Nyaman dari kolom 1
3. Bagaimana kita menghadapinya.
Inilah bagian favoritku dari buku ini. Penulis menawarkan beberapa metode writing therapy di beberapa babnya.
Dalam Fragmen Kedua, penulis memandu kita untuk mengubah pola pikir kita demi meraih kehidupan yang lebih baik. Penulis mengingatkan kita berhati-hati dengan pikiran kita, karena Allah itu berdasarkan persangkaan hambaNya. Misalnya, jika kita berpikir kita bodoh, tak kompeten, dan tak punya kemampuan, afirmasi negatif itu akan masuk ke alam bawah sadar dan akhirnya akan memengaruhi pola pikir dan perilaku kita. Kita tidak punya kendali atas apa yang orang lain pikirkan dan katakan pada kita, tapi kita punya kuasa atas pikiran dan ucapan kita sendiri.
Penulis juga mengingatkan agar kita tidak menyia-nyiakan waktu. Mereka yang menyia-nyiakan waktunya selama hidup di dunia adalah orang yang merugi. Penulis memberikan kisah soal Alexander Agung sebelum kematiannya, dan kisah tentang seorang guru yang mengajarkan makna kehidupan kepada tiga muridnya dengan menyuruh mereka menyusuri gua yang gelap.
Penulis kemudian mengingatkan bahwa ketentuan Allah selalu logis. Kita harus yakin bahwa Allah akan selalu memberi jalan, bagaimanapun bentuknya. Kita juga perlu menyadari bahwa kasih sayang Allah punya banyak bentuk. Misalnya, tiba-tiba ban motor kita kempes sehingga kita tidak bisa melanjutkan perjalanan. Bagaimana jika itu terjadi karena ternyata jalanan yang akan kita lewati akan longsor? Allah itu Maha Tahu. Dan Allah tak punya kepentingan apa pun atas segala ketetapan yang ia berikan pada manusia.
Agar bisa meraih spiritual transcendence, penulis menyarankan untuk rutin salat tahajud, sebagaimana yang tercantum dalam Surat Al-Isra ayat 79. Mereka yang salat tahajud mendapat janji bahwa "mudah-mudahan ia akan diangkat ke tempat yang terpuji". Penulis juga menyarankan kita untuk memberikan diri kita afirmasi positif tiap pagi. Dengan begitu kita terbiasa mengucapkan hal yang baik-baik hingga hal ini mengubah pola pikir kita.
Hawa nafsu manusia adalah sesuatu yang tidak ada batasnya (hal. 98)
Kebahagiaan adalah penerimaan diri atas situasi yang dialami. (...) Saat kita menerima semua hal yang kita alami, semua barang yang kita miliki, dan waktu yang Allah beri, percayalah kita akan merasa bahagia. (...)
Kenapa seseorang merasa tidak bahagia dengan hidupnya? Jawabannya karena dia tidak menerima apa yang menjadi takdirnya. Ia mencari sesuatu yang lain, yang bisa mengisi kekurangannya, dengan harapan bisa mendapatkan kebahagiaan. (hal. 99)
Selalu ingat bahwa semua yang ada di dunia ini sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Kita tak bisa mengukur kehidupan seseorang hanya dari perspektif kita (hal. 101)
Lalu kemudian ada analogi soal orang kaya yang meski kebutuhannya tercukupi tapi mungkin saja ia terus terbebani dengan pikiran untuk terus mengembangkan usaha baru dan mengembangkan usaha lama hingga harus lembur, susah tidur, dan terpaksa minum obat tidur.
Bertawakallah pada Allah, begitu orang-orang sering menasihati. Namun, bagaimana praktiknya?
Meski kita sering mengatakan, "Aku serahkan semua hasilnya kepada Allah. Apa saja yang aku terima tidak masalah," kenyataannya kita masih memiliki ekspektasi pada suatu hal yang kita upayakan. Tawakal kita masih bercampur dengan ekspektasi pribadi. Ketika akhirnya gagal, kita tak benar-benar bisa menerimanya sebagai keputusan terbaik, tapi masih merasa bahwa kita berhak untuk mendapatkannya. (hal. 104)
Sebagai manusia, kita sering lupa bahwa faktor terpenting penentu takdir adalah: apakah itu akan memberikan manfaat atau kemaslahatan untuk kita, atau justru mengakibatkan mudarat untuk kedepannya? Seberapa besar manfaat yang akan kita dapatkan justru bisa jadi parameter yang lebih objektif, ketimbang seberapa besar usaha yang kita lakukan. Allah sudah mengajarkan pada kita bahwa berusahalah semampunya dan biarkan hasil ditentukan olehNya. (hal. 105)
Contohnya di Perang Badar. Secara kalkulasi logika manusia, jumlah pasukan muslim yang hanya 313 orang tidak mungkin bisa menang melawan 1000 orang pasukan kafir Quraisy. Apalagi saat itu mereka sedang berpuasa Ramadan. Namun, mereka bertawakal, berdoa yang terbaik, dan berperang sekuat tenaga. Akhirnya Allah memberikan kemenangan. Kisah ibu Nabi Musa yang menyelamatkan anaknya dengan menghanyutkan ke sungai Nil juga bisa jadi contoh sikap tawakal.
Di akhir fragmen, dari halaman 115-116, penulis menyarankan kita untuk berlatih mengubah pola pikir dengan membuat tabel dengan kolom 1 untuk menulis hal-hal yang dibayangkan, dan kolom 2 untuk menulis kenyataan yang terjadi. Metode ini benar-benar seperti metode CBT (Cognitive Behavioral Therapy)!
“Bagaimana cara hidup sederhana dan bebas tekanan menurut Al-Qur’an?
Terkadang kita seolah terbawa arus untuk mengikuti segala perkembangan tren dan juga apa yang banyak dilakukan oleh orang lain. Lantas yang menjadi pertanyaan adalah perlukah kita melakukannya? Memangnya kenapa kalau kita tidak melakukannya? Kalau bisa menjawab dua pertanyaan ini kita bisa lebih mudah menyaring mana yang penting dan mana yang sebaiknya tidak perlu dilakukan. Sama halnya dengan menjalani hidup cukup, sederhana dan minimalis sesuai penjelasan di dalam Al-Qur’an.
Tidak ada yang menjanjikan bahwa hidup akan baik-baik saja dan selalu dilimpahi keberhasilan. Ada kalanya kita memang harus gagal dan diuji dalam kesulitan tentu saja siapa manusia yang senang menjalaninya? Namun ketika kita melibatkan Allah SWT terhadap semua hal yang terjadi dalam hidup menjadi lebih ringan. Membaca buku ini ternyata berhasil membuka pandangan dan pemikiran saya terkait menjalani kehidupan yang lebih tenang dan minim tekanan. Lagi-lagi masalahnya adalah ekspektasi yang terlalu tinggi dan standar orang lain yang tentu saja tidak sesuai dengan diri kita sendiri. Manusia adalah makhluk yang unik dengan kemampuan masing-masing sehingga sama sekali tak pernah bisa disamakan.
Buku ini berhasil menjabarkan setiap bab dan sub bab penting menjadi sebuah kisah, sebab akibat, penalaran dan juga bahan renungan yang seimbang. Bukan tipe buku yang hanya berisi nasihat maupun uraian mengenai makna harfiah dari sebuah firman Allah SWT melainkan juga berhasil menuangkan hubungan komunikasi yang interaktif antar pembaca dan dirinya sendiri. Ada beberapa bagan, tabel, kerangka berpikir dan juga sheet yang bisa kita isi untuk berkomunikasi tentang apa sebenarnya kemauan dan kenyataan yang terjadi di lapangan. Bahasa yang digunakan sangat komunikatif dan mudah dipahami, cocok sebagai bahan diskusi dengan orang tua maupun teman. Terkadang ketika memahami makna terjemahan asli dari sebuah ayat memang banyak yang tidak bisa langsung menangkap maksudnya namun ketika sudah ditafsirkan dengan contoh masalah maupun peristiwa yang terjadi kita bisa menjadi lebih enteng dalam menerapkannya.
Prinsip hidup yang diberikan juga realistis menggabungkan pemikiran yang didukung dengan sumber asli dari ayat Al-Qur’an jadi tidak hanya bisa mendapatkan tekanan minim beban di dunia namun juga menumpuk pahala berlapis di akhirat karena mengikuti sunnah kehidupan yang seharusnya. Apa yang menyebabkan kita mudah putus asa? Apa yang membuat kita lelah menjalani kehidupan? Semuanya terjawab lengkap dengan cara-cara praktikal yang bisa langsung diterapkan.
Point Menarik: • Buku ini menggabungkan filosofi hidup stoicism lebih tenang didukung dengan sumber dari ayat Al-Qur’an. • Penjelasan sangat mudah dipahami dan jelas lengkap dengan contoh konkrit jadi lebih enak untuk dibayangkan. • Nasihat dan bahasan yang diberikan runtut tidak bertele-tele atau diulang2 fokus pada inti masalahnya. • Ada contoh masalah yang dijelaskan penyelesaiannya dalam bentuk narasi cerita sehingga lebih menarik untuk dipahami dan langsung bisa ditangkap maksudnya. • Ada penjelasan sebab akibat yang dibuat dalam bentuk bagan/kerangka berpikir/diagram agar kita tidak lupa dengan bahasan yang diberikan • Setiap analogi dan perbandingan kiasan yang digunakan cukup logis merepresentasikan bahasan utama dari setiap sub bab. • Ada quotes menarik sebagai penyemangat dan reminder atas bahasan yang sudah dibaca. • Ada bagian berbicara dan evaluasi terhadap diri sendiri. • Cukup interaktif dengan adanya sheet yang bisa digunakan untuk berkomunikasi dan menyelesaikan masalah sendiri dari penyebab yg terjadi. • Ada afirmasi diri untuk mengajak kita berpikir positif dan meringankan pikiran agar mood menjadi lebih baik.
Pelajaran yang Bisa Diambil: Banyak dari kita yang masih terbelenggu dengan ego dan capaian tanpa batas namun kita lupa bertanya pada diri sendiri apakah semua itu memang kemauan kita atau hanya sekedar agar gugur kewajiban dari tuntutan sosial dan duniawi? Lantas sebenarnya kehidupan seperti apa yang kita kejar dan batas kebahagiaan itu seperti apa? Coba lebih banyak berkomunikasi dengan diri sendiri dan memahami penyebab diri tertekan. Kita harus percaya bahwa Allah SWT sudah menakar semuanya tidak lebih dan tidak kurang. Jangan sampai kita bisa dikendalikan oleh pikiran, sebaliknya kitalah yang harus mampu mengendalikan pikiran. Jadilah manusia yang taat, sederhana, cukup dan pantang menyerah dalam menjalani kehidupan, libatkanlah Allah SWT untuk semua jalan yang sedang ditempuh.
Untuk Siapa Buku Ini Wajib Dibaca? Buku ini wajib dibaca untuk manusia yang kebingungan mencari arah tujuan dan ingin memperbaiki alur hidup melalui prinsip hidup dari Al-Qur’an. Buku ini bisa dijadikan acuan pemahaman yang lebih mudah mengenai cara-cara mengatasi beban tekanan dan juga latihan self-control yang lebih baik bagi umat Islam karena sumbernya jelas. Buku ini bisa dibaca untuk siapapun yang merasa sangat jauh dari Allah SWT dan merasa kehidupannya sangat berat karena ujian hidup.
236 halaman ini sukses bikin aku berhenti sejenak, mikir, dan refleksi diri 💚
Sejak pertama lihat cover tosca-nya, aku langsung penasaran. Buku ini lahir dari keresahan penulis tentang banyaknya orang yang terlalu sibuk mengkhawatirkan hal-hal di luar kendali, padahal Al-Qur’an sudah memberi pedoman yang jelas: manusia hanya dituntut berusaha semampunya, sementara hasil akhirnya ada di tangan Allah. Dari situlah gagasan Stoicism—filsafat Yunani tentang pengendalian diri—dipertemukan dengan nilai-nilai Qurani, dan ternyata prinsip Qurani justru lebih dominan.
Yang paling nempel buatku adalah pesan sederhana tapi dalam: kita tidak bisa mengontrol segalanya, tapi kita bisa mengatur hati, emosi, dan tindakan kita. Sejak bab pertama, aku langsung diingatkan untuk fokus pada apa yang bisa dilakukan, bukan tenggelam dalam “seandainya” yang hanya bikin capek dan nyesel.
Aku juga menemukan praktik afirmasi positif di sini. Sebelum baca buku ini aku sudah mencobanya, tapi penulis kembali mengingatkanku, bahwa afirmasi tidak membuat hidup bebas dari masalah, tapi membuat kita lebih positif dalam menjalaninya. Ditambah bagian refleksi diri berupa kolom khusus, yang jujur saja, membuatku lebih jujur dalam mengenal diriku sendiri.
Gaya penulis ringan tapi tetap insightful. Penjelasannya selalu dilengkapi analogi dan kisah inspiratif, dari zaman Rasulullah sampai cerita modern, sehingga konsep Stoicism dan Qur’an terasa dekat dan mudah dipahami. Memang ada beberapa pengulangan, tapi menurutku itu justru sebagai penekanan. Ilustrasi dan layout berwarna ungu juga menambah kenyamanan, bikin aku bisa menuntaskan bacaan ini dengan cepat.
Buku ini juga banyak bicara tentang cara kita menghadapi tekanan hidup dan menemukan kebahagiaan sejati. Tekanan digambarkan seperti rumus sederhana: jika gaya hidup kita diperkecil dan kemampuan diri diperluas, tekanan yang terasa akan lebih ringan.
Sedangkan kebahagiaan dipetakan dalam tingkatan: mulai dari yang bersifat material, naik ke qana’ah (merasa cukup), lalu ridho Allah, hingga puncaknya adalah kesadaran spiritual bahwa semua berasal dari Allah dan akan kembali pada-Nya.
Intinya, buku ini cocok untuk siapa saja yang ingin hidup lebih tenang, reflektif, dan bermakna. baik kamu yang baru memulai perjalanan refleksi diri, sedang berjuang menghadapi tekanan hidup, maupun yang ingin mengenal Stoicism dari perspektif Islami.
💡 Catatan penting: Buku self-improvement tidak akan berefek kalau hanya dibaca, ia baru terasa saat dipraktikkan. Jadi jangan cuma disimpan di rak buku, mulai langkah kecilmu sekarang. Dan kalau kamu penasaran seperti apa detailnya, menurutku buku ini layak banget untuk kamu miliki di rak sekaligus jadi pengingat dalam keseharian. Mulailah dengan basmallah, dan akhiri dengan hamdalah. ^^9
Buku ini remindernya bagus sekali. Aku rasanya kayak diingat kembali soal pentingnya membaca. Entah membaca buku maupun membaca Al-qur'an. Dengan membaca, kita bisa mengenali masalah kita dengan melihat masalah-masalah orang lain dan bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah itu.
Buku ini terbagi dalam 5 Fragmen: 1. Fokus pada semua hal yang bisa kita kendalikan 2. Change Your Mindset, Change Your Life 3. Keep Your Secret and Achievement 4. Seni Mengelola Tekanan Secara Qur'ani 5. Kebahagiaan Ada di Tangan Kita
Aku suka sekali bagaimana penulis mengemas insightnya dengan analogi-anologi sederhana dan diilustrasikan dengan adanya unsur rumus matematika atau fisika.
Misal, pada penjelasan F masalah = -F Solusi. Artinya, penulis bilang bahwa setiap masalah itu ada solusinya. Bahkan, dalam diagram semesta yang diperkenalkan juga, penulis bilang kita adalah bagian dari masalah dan jalan keluar melewati masalah itu.
Masalah dan solusi adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Seolah mengingatkan kita juga dengan firman Allah SWT bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Memang untuk menyakini itu tidaklah mudah. Tapi, kembali penulis mengingatkan kita untuk tanamkan kesadaran bahwa hidup ini bukanlah tempat ideal. Akan selalu ada masalah yang terjadi. Sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan.
Jadi, pertanyaannya apa yang perlu kita lakukan? Disini kembali penulis mengingatkan bahwa semisal semua orang punya ekspektasi. Tapi, tidak semua orang mampu memenuhi ekspektasi itu.
Makanya, penulis bilang, "jadikan orang lain sebagai penonton sebuah pertunjukkan. Mereka boleh mengomentari jalannya pertunjukkan, tapi hal itu tak lantas mengubah jalannya cerita bukan? Mengomentari pertunjukan adalah hak mereka, sedangkan mempertahankan jalannya cerita adalah hak sutradara dan para pemain pementasan." -Hal 137
Jadi, aku kembali diyakinkan bahwa memang hidup ini pasti selalu muncul masalah. Kadang menyebalkan, kadang merepotkan, kadang menyedihkan. Hidup tidak selalu baik-baik saja. Tapi, seperti penulis bilang, "hidup adalah tanggung jawab kita sendiri dan kita bisa melewatinya." Sehingga, aku merasakan bahwa seberat apa pun masalah yang nanti akan datang, aku harus belajar mengenali masalah itu dan menghadapinya, serta gak lupa meminjam kekuatan dari doa kepada sang pencipta. Semoga senantiasa dikuatkan apa pun ujian hidup yang menerpa diri.
Buku ini sangat cocok dibaca untuk dijadikan pengingat diri dengan bahasa yang ringan dan ilustrasinya juga sangat membantu tiap-tiap poin pembahasannya.
Pernah baca buku Filosofi Teras? Atau buku-buku bertema stoikisme yang lain? Yep, buku ini juga bertema bagaimana cara menjadi stoik, tetapi dibalut dengan nilai-nilai keislaman. Tak lupa beberapa surat al-Qur'an dan Hadis dicantumkan untuk menguatkan bahwa stoikisme itu ternyata sudah diajarkan dalam Islam, tinggal kita yang pintar atau tidak menerapkannya.
Suka banget dengan bukunya karena dari fragmen 1 sampai fragmen 5 isinya full of reminder. Baca bukunya berasa tenang karena jadi banyak merenung tentang berkehidupan di dunia. Sedikit banyak ada poin-poin yang sudah kuterapkan, tetapi ada juga poin yang buat aku berpikir "iya juga ya, kenapa aku ngga gini waktu itu".
Aku suka cara penulis menyampaikan poin di tiap bab-nya. Sisipan ayat al-Qur'an dan Hadis yang menguatkan opini, cerita-cerita pendek nan seru yang banyak akan pelajaran, dan bahkan di tiap fragmennya terdapat kolom jurnal tentang refleksi diri. Rasanya seperti diajak untuk melihat diri sendiri apakah sudah mengambil pelajaran dari buku atau belum. Penulis juga memberikan ilustrasi-ilustrasi yang menunjang poin penulis. Gaya tulisannya yang mengalir membuatku tidak bosan dan berasa jadi teman yang sedang dinasehati.
Hal yang aku dapatkan dari buku ini adalah aku semakin yakin kalau dunia ini cuma permainan. Jadi, hidup dan jalani sebaik-baiknya. Kalau ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita, it's okay, ini cuma dunia kok, toh ada Allah Swt yang mengendalikan ini semua. Fokus kita sebagai manusia adalah mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan, yaitu hati dan pikiran kita, karena sekecil apapun itu Allah Swt sudah memperhitungkan semua yang datang pada kita.
Sangat kurekomendasikan bagi seluruh manusia untuk membaca buku ini. Mau rentang usia berapapun, kita semua butuh reminder untuk mengingatkan peran kita sebagai manusia di dunia yang tidak seberapa ini. Jujur, buku ini akan selalu aku baca ulang sebagai self-reminder kalau hati aku sedang sumpek masalah dunia. Membacanya bagai dilahirkan kembali sebagai manusia. Personal rate dariku 4.5☆.
Honestly, aku suka banget sama konsep kovernya. Filosofinya dapet banget. Menggabungkan karakter para filsuf islam dengan anak muda kekinian yang haus pada ilmu dan pengetahuan. Aku udah baca bukunya dan emang seseru itu. Banyak story telling based on experience penulisnya. Kalau ada buku yang mau aku rekomendasikan di tahun ini, aku sarankan buat baca buku ini sih. Semoga buku ini nantinya bisa jadi nominasi book of the year yang dibaca oleh semua kalangan. Buat yang udah punya bukunya, happy reading ya!
Buku yang inspiratif. Konsepnya segar karena menggabungkan filosofi stoic ala Yunani Kuno dengan konsep-konsep yang ada di dalam al-Quran. Awalnya nggak expect bahwa bukunya akan dikemas dengan ringan ala fiksi. Baca 200 halaman sama sekali nggak terasa. Kalau ada sekuelnya aku juga mau baca sih. Semoga segera rilis deh sekuel yang semoga lebih seru lagi.
Bahasanya mudah dipahami dan mengalir. Disusun dengan ringkas dan to the point. Di dalam buku ini banyak analogi yang digunakan dan bisa dibilang ini buku self help versi qur'ani. Cocok dibaca untuk seseorang yang ingin improve diri.