Maha menjual dirinya kepada putra tertua keluarga Admoejo. Mungkin itu kalimat yang paling tepat untuk mendeskripsikan kondisi perempuan tersebut saat ini.
Setelah bisnis rintisan keluarganya masuk dalam fase menuju kebangkrutan, Maha tidak memiliki pilihan lain selain bekerja di rumah keluarga Admoejo. Begitu pula ketika Dewan tiba-tiba menyatakan ketertarikan padanya, Maha tidak punya pilihan lain selain menyerahkan diri.
Termasuk saat duda anak satu itu secara terang-terangan memintanya untuk merahasiakan hubungan mereka, Maha tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakan. Sekalipun Maha tahu bahwa hubungan ini hanya sebatas hiburan sesaat untuk pria itu.
Saat aku membaca novel ini, aku benar2 berusaha detail dengan narasinya, karena disitulah tempat aku mengenal karakter. Dan untuk menghalau semua kata-kata orang tentang Eva dan Dewan, aku benar-benar mencoba memahami dengan interpretasiku sendiri. Aku mau lihat secinta apa Dewan ke Eva.
So this is it: Pertemuan Dewan dan Eva terjadi saat usia Dewan masih 25tahun. Yes, still young. Laki2 di umur dia sangat wajar ingin perempuan yg terbaik. Yang anggun, manis, cantik. Tempat dia bisa menjadi sebenar-benarnya pelindung. Aku memahami bahwa dari pertama kali Dewan bertemu Eva, perempuan itu tidak memiliki celah untuk dikasari.
Berbeda dengan Maha. Dari pertemuan pertama saja, sudah kacau😅.
Sebenernya aku nih penganut bahwa apa yg dimulai tidak baik, ke belakangnya jg bakal gak baik.
Berbeda dengan Eve - Dewan yg hubungannya tampak baik dr awal, Maha-Dewan tidak spt itu. Dan takdir memang ingin mempertemukan mereka dengan cara itu kan.
Maha itu, dia tahu tujuannya apa. Dia gak gampang digerakin hanya lewat emosi-emosi impulsif yang menyusahkan kelangsungan hidupnya. That's what I love about her.
Seru banget ngikutin peralihan Maha yang otaknya nggak bisa ketebak ini. Gimana ya, ada momen aku pingin misuh, sebel sama situasi dia yang sangat kasihan itu, tapi next-nya aku juga berseru buat mensoraki Maha. Rasanya pingin banget sambil ngejekin Dewan-Dewan itu 😭.
Trus Maha nih ternyata orangnya cepet move on. Apalagi kalau dia bisa melihat masa depannya lebih cerah. Duh suka sih model begini.
Sumpah Maha ga ketebak sih. Dia cerdas banget. Mana si Dewan yg awalnya jd pilihan utama tiba2 udah jadi cadangan aja apa gak kocakkk.
Dewan sama Maha nih beneran saling mengenal satu sama lain lho. One thingyg bikin aku amaze sama mereka.
Oya, untuk perbandingan perlakuan Dewan ke mantan istri vs ke Maha
Dewan ini kalau ke Eve tuh kan lembut dan menghormati karena dari Evenya jg bawaannya lembut, anggun, dan ramah tapiii kalau ke Maha itu Dewan berubah jadi nakal dan jahil. Mungkin karena Maha nih tipikal yang gak main ekspresi jadi sejak awal memang bawaannya lebih menantang aja sih si Maha menurutku.
Bukan nakal yang gemesin ya tp beneran nakal yang nyebelin yg bikin cewek bisa emosian. Andai mereka ketemu pas masih kecil pasti Dewan jg tetep jadi laki2 yang bakal dibenci Maha juga sih. Cuma klo di hubungan mereka sekarang, nakalnya Dewan tuh yg nakal dewasa gitu lho tp jadinya kayak nakal ABG gimana sih😭. Nakal, gak suka muji, marah2 tapi diem2 posesif dan nyusahin banget.
Dewan with Eve menghormati, menghargai, lembut, manis
Dewan with Maha nakal, jahil, menyebalkan, posesif, kompetitif
Aku sangat menyukai mempelajari karakter tokoh di novel ini melalui narasi yang penulis bangun. Selama kita bisa membedakan suara siapa yang sedang bernarasi, akan lebih mudah untuk memahami karakter-karakter sampai titik dimana kita bahkan bisa memahami apa yang tidak disampaikan secara eksplisit melalui narasinya. Karakter tokoh disini bisa dibaca oleh kita sebagai pembaca hanya melalui gestur, cara mereka merasa, dan mengambil keputusan dalam bertindak, dan showing karakter Maha ataupun Dewan menurutku diolah dengan sangat baik.
Aku bahkan bisa memisahkan apa yang membuat Dewan memperlakukan Maha berbeda dengan Eve. Kenapa dia cenderung merendahkan Maha, dan begitu respek pada mantan istrinya. Ya karena memang Maha dan Eve memiliki karakter yang berbeda. Tapi tentu saja aku lebih tertarik Dewan bersama Maha. Dinamikanya lebih bervariatif.
Semakin akhir, semakin terlibat perasaan sesungguhnya. Dan komunikasi mereka semakin buruk. Ya gimana enggak, Dewan dari awal ngasih boundaries ke Maha agar tidak melewati batas dan berharap lebih dalam pernikahan mereka. Meskipun ini agak paradoks ya. Dewan melakukannya karena dendamnya pada Maha jadi ia ingin menyakiti Maha dengan berkata agar Maha tidak berharap lebih dalam hubungan mereka. Maha yang berharap punya kehidupan tenang mengambil kesempatan itu karena walaupun pernikahannya tidak normal, kehidupannya sebagai Admoejo tetap merupakan pilihan terbaik dibanding pilihan lainnya.
Sebenarnya mereka itu gak ada yang salqh, tapi cara komunikasinya itu lho😭. Payah banget.
Give it applouse for Dewan possesiveness. Bukan main posesifnya Dewan. Terlebih untuk wanita yang datar seperti Maha.
Welcome to Om Dewan dan Mbak Mima-Mimi Maha era! Khas Kak Non yang romancenya dar der dor.
When I said Sankara is one the biggest manipulative red flags 🚩 you can find in a fictional man, kakaknya yang ini is one of the rudest red flag men ever🚩 Can't stand him, when she keeps telling her stupid, wh*re, and so on. Akhirnya, saya puas si character Development Om Dewan ini lumayan maju, meskipun seems not too sincere wkwkwk. Mbak Maha juga ok character developmentnya. Meskipun mundur lagi pas baca di Pangeran Mahatma era wkwkwk. Saya ga rela Mbak Maha end up sama Om Dewan ini, sama halnya spt saya ga rela Nona Tanisha end up with Tuan Sankara. The math ain't mathing. Chemistry seems off. The bed scenes are hot, the conflict is complicated, tp chemistry dibangun dari percakapan hati ke hati FL dan ML yang blm tuntas ke bangun. Ayo Kak Non lanjut extra chaptersnya untuk pasangan ini juga😁
Kalau Sebelum Berpisah emosi pembaca dibuat naik turun, di Lembayung ini emosi para pembaca dimainkan. Kita dibuat ngga bisa benci dan kesel sama semua tokohnya.
karya nonamerahmudaa sepertinya akan jadi favorit aku, di nantikan series selanjutnya dari 5 serangkai ini ♡