Jump to ratings and reviews

Koloni

Semut untuk koloni, koloni untuk semut.

Di dunia semut yang super sibuk dan penuh strata, tujuan perkawinan cuma satu: mempertahankan kelangsungan koloni. Dua ekor semut ratu —Ratu Gegana dan Ratu Darojak— bersaing menjadi alfa; yang tua menolak turun, yang muda memperebutkan kuasa. Pertempuran dua kubu ini tak terelakkan, mengguncang koloni hingga ke akar-akarnya.

KOLONI adalah fabel dengan latar di dunia serangga di bawah tanah, sebuah dunia yang kecil, nyaris dianggap tak ada, tak terlihat di permukaan, tapi sebenarnya masif, terstruktur, dan sistematis. Tak ubahnya mesin dengan surat cinta untuk budak korporat. Tak ubahnya intrik perebutan kekuasaan di dunia manusia.

246 pages, Paperback

Published August 29, 2025

Loading...
Loading...

About the author

Ratih Kumala

18 books228 followers
Ratih Kumala, lahir di Jakarta, tahun 1980. Buku pertamanya, novel berjudul Tabula Rasa (Grasindo 2004, GPU 2014), memenangkan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003. Novel keduanya, Genesis (Insist Press, 2005). Kumpulan cerita pendeknya, Larutan Senja (Gramedia Pustaka Utama, 2006). Buku keempat berjudul Kronik Betawi (novel/GPU, 2009) yang sebelum terbit sebagai buku juga terbit sebagi cerita bersambung di harian Republika 2008. Buku kelimanya berjudul Gadis Kretek (GPU, 2012) dan buku keenamnya adalah Bastian dan Jamur Ajaib (GPU, 2015). Novelnya Gadis Kretek (GPU, 2012) masuk dalam Top 5 kategori prosa Khatulistiwa Literary Award 2012, dan telah diterjemahkan ke Bahasa Inggris –Cigarette Girl (GPU, 2015), bahasa Jerman – Das Zigarettenmadchen (culturbooks publishing, 2015), dan tengah diterjemahkan ke Bahasa Arab untuk diterbitkan di Mesir.

Selain menulis fiksi, Ratih juga menulis skenario untuk televisi dan film layar lebar. Saat ini ia tinggal di Jakarta.

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
66 (28%)
4 stars
110 (46%)
3 stars
55 (23%)
2 stars
3 (1%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 98 reviews
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books128 followers
September 13, 2025
Sebagai konsep cerita fabel, bisa dibilang novel ini menghadirkan kisah yang memadukan realitas dengan alegori; menjadikan semut sebagaimana fenomena ilmiah kehidupan berkoloninya, maupun "semut" sebagai metafora kehidupan politis manusia. Di sini, Ratih Kumala mengajak pembacanya menyelami dunia “koloni” yang penuh keteraturan, hierarki, dan strategi untuk bertahan hidup.

Dalam beberapa hal, novel ini menyinggung persoalan relasi kuasa, loyalitas, dan bagaimana individu kerap harus tunduk pada aturan bersama. Bukan hanya menghadirkan konflik tentang dualisme kepemimpinan (ratu semut), Ratih juga tampaknya ingin menyindir bagaimana ketimpangan peran gender dalam kehidupan koloni. Apabila dalam tatanan hidup manusia kita masih berkutat dengan isu patriarki yang tak kunjung usai, berbeda halnya dengan koloni yang menempatkan maskulinitas semut jantan di subordinat lebih rendah—merekalah jenis semut yang hanya bertugas untuk mengawini semut ratu, lalu mati syahid sesudahnya.

Dalam koloni semut, sosok ratu semut adalah pusat kehidupan. Ia menjadi sumber kelangsungan generasi karena hanya dialah yang bertugas menghasilkan telur anakan. Keberadaan dan kelangsungan koloni sepenuhnya bergantung pada semut-semut ratu, yang pada satu waktu akan naik tahta menjadi ratu semut.

Dalam Koloni, Ratih seolah-olah ingin menggambarkan bagaimana struktur kekuasaan sering berpusat pada figur tertentu—pemimpin, penguasa, atau elite—lewat karakter Momong, Gegana, Darojak, juga keturunan mereka sesudahnya, yang menentukan arah dan keberlangsungan komunitas. Ada semacam kultus terhadap entitas tunggal tersebut, sama halnya seperti semut jantan dan pekerja yang sangat bergantung pada ratunya.

Sementara itu, semut pekerja adalah mayoritas dalam koloni. Mereka membangun sarang, mencari makan, dan menjaga koloni, meski umumnya berumur pendek dan perannya sering tak terlihat. Kondisi ini bisa dikatakan mirip dengan masyarakat kelas bawah: orang-orang biasa yang menopang sistem sosial, tapi terkadang tak punya suara atau peran dalam menentukan kebijakan besar. Mereka adalah tulang punggung, tapi sekaligus yang posisinya paling rentan.

Hal lain yang ingin disinggung oleh novel ini, mungkin juga menyoal tatanan hidup kita yang sering kali terperangkap dalam sistem sosial-politik yang membatasi pilihan individu. Kadang kala, untuk bertahan, seseorang harus menyesuaikan diri dengan “aturan main koloni”—apabila berbeda sedikit saja, maka nasibnya tak akan bertahan lama di kelompok sosialnya.

“Aku tak ingin terlahir jadi semut, baik di sini maupun di koloni lain. Pokoknya aku tak ingin jadi semut lagi. Menurutku, lahir sebagai semut adalah lahir dalam koloni yang pincang, tidak adil. Yang pekerja terus bekerja, yang prajurit bisa semena-mena, yang jantan harus menunggu tak pasti, yang menjadi ratu selamanya dilayani.”
Profile Image for Puty.
Author 9 books1,480 followers
September 26, 2025
Suka banget! Kebetulan saya sedang dilanda reading slump dan enggan membaca yang 'berat-berat'. Awalnya saya ragu apakah 'sanggup' membaca buku ini, apalagi kalau boleh jujur, saya benci banget sama semut 😅

Namun, ternyata buku ini sangat menyenangkan! Kalau beberapa orang bilang buku ini tentang politik dan perebutan kekuasaan, mungkin benar, tapi buat saya, 'Koloni' sejatinya adalah sebuah saga keluarga besar semut. Di sini semut jatuh cinta, berprasangka, dan berkeluarga. Intrik-intrik dan drama tentunya ada juga. Di beberapa bagian pun buku ini berhasil menyentuh hati saya sebagai seorang ibu.
Profile Image for raafi.
977 reviews472 followers
December 2, 2025
Akhirnya selesai.

Alurnya maju tapi plotnya entah mau ke mana, kesannya cuma mengikuti bagaimana kehidupan koloni semut ini bergulir. Yang mana hal tersebut sebetulnya menarik dan bikin saya menyelesaikan buku ini. Saya sebagai pembaca diajak belajar tentang ekosistem semut.

Yang jadi komentar saya yakni sudut pandang cerita yang tidak teratur. Sering kali merasa kesulitan untuk memahami di paragraf ini siapa yang membawakan narasi dan di paragraf selanjutnya siapa yang membawakan narasi. Pembaca dibuat kewalahan untuk menerka. Ada tendensi seolah-olah ingin membongkar sekat-sekat sudut pandang agar entah-bagaimana.

Kritik sosial dalam realitasnya tajam dan mashook, tapi terlalu cepat dan “gitu doang” kalau tidak disebut terlalu kabur.
Profile Image for Putri Dewi.
122 reviews1 follower
December 9, 2025
"Aku ingin menjadi burung."
Membaca ini saat banjir Aceh Sumatra (Des 2025), rasanya sungguh dekat. Walopun bukan semut, melihat berita banjir itu aku merasa sekecil semut pekerja. Bedanya, Ratu Semut selalu ada untuk melindungi koloninya.

But anyway....

Saat aku baca, aku membayangkan visual cerita ini menjadi animasi Pixar. Dengan cerita tentang keluarga, cinta, tanggung jawab, gender equality dan, yang paling terasa untukku, kesehatan mental.

Sebagai binatang spesies manusia, pasti sulit untuk kita memahami kebahagiaan mati syahid para semut jantan. Tapi, somehow aku mengerti POV dari yang dibawakan di sini. Tidak ada derita yang lebih menyakitkan ketika kau hidup merasa useless, powerless dan hopeless. Maka ketika kematianmu useful, powerful dan membawa harapan, bukankan kita bisa mati dalam damai?
Profile Image for Lesh✨.
358 reviews10 followers
October 21, 2025
Buku ini memberikan pandangan baru melalui tokoh semut. Saya bisa membayangkan atmosfer berada di bawah tanah, berkawan dengan cacing, mengamati cara kerja semut, sampai memperebutkan takhta sebagai semut ratu.

Sebuah ilmu baru yang saya dapatkan kalau semut jantan itu tugasnya hanya kawin lalu mati. Kalau tidak kawin, maka hidup akan menjadi sia-sia dalam sebuah koloni.

Saat itu hiduplah seorang semut ratu bernama Darojak, semut nyasar di sebuah koloni yang diselamatkan oleh Mak Momong penunggu (petinggi) di sebuah koloni. Mak Momong yakin bahwa Darojak suatu hari nanti bisa memimpin koloni ini. Namun sayangnya, di dalam koloni itu ada ratu tua (Ratu Gegana) yang tidak mau lengser. Ratu Gegana tidak mau memberikan takhta itu kepada Darojak, bahkan tidak merestui hubungan cinta anaknya (Sunar) kepada Darojak hingga berujung tragis. **ini lumayan sedih di aku.

Namun, hidup harus terus berjalan. Pertumbuhan koloni semakin mengalami overpopulasi karena Ratu Gegana hanya bisa menelurkan semut jantan. Alhasil Darojak naik takhta menjadi ratu. Ratu Darojak berhasil menelurkan semut ratu yang selama ini para koloni impikan. Sayangnya, masih ada dendam yang dirasakan Ratu Gegana terhadap Ratu Darojak. Mereka menjadi rival yang sengit dengan tujuan yang sama yakni mempertahankan koloni.

Kisah di buku ini bukan hanya mewakilkan peran betina/wanita, tetapi ada juga politik, kasih sayang ibu dan anak, dinasti, percintaan, rival, dan ending yang tiba-tiba menjadi satir.

Kekurangan cerita masih bisa diterima dengan baik. Saya tidak merasa ending dibuat buru-buru. Kalau mau dipanjangin lagi memangnya harus seperti apa? Bagi saya sudah cukup dengan closure yang disajikan meskipun berakhir tragis. Ah, tapi memang part Mak Momong ini kebanyakan dan tidak ada kaitannya sampai akhir. Selain itu perselisihan Ratu Darojak dan Ratu Gegana juga masih terkesan abu-abu, bagaimana ke depannya? Tapi, overall is good.
Profile Image for aynsrtn.
656 reviews28 followers
February 2, 2026
Manusia. Aku benci hewan itu. (p.8)

Buku fabel dunia semut yang penuh satir-sarkas terhadap dunia manusia. Dan aku dapat menuliskan bahwa buku ini salah satu best read aku di tahun 2026.

Bercerita tentang dua ekor ratu semut, Ratu Gegana dan Ratu Darojak, yang bersaing untuk menjadi satu-satunya ratu di koloni mereka. Penuh intrik politik dan dinamika perebutan kekuasaan yang terlihat tidak asing seperti di dunia manusia.

Setelah membaca buku ini, aku melihat semut tak lagi sama. Pengetahuan dan ilmu baru tentang persemutan, aku dapat dari buku ini, yaitu:
- Semut menyemprotkan feromon tubuhnya langsung ke tubuh semut lain.
- Ada imigran gelap atau penyusup dalam sebuah koloni.
- Semut madu pintar mencari gula-gula.
- Ada predator yang bersembunyi di koloni semut untuk melindungi diri dari predator lain.
- Spiral kematian pada semut di mana semut akan berjalan melingkar sampai kelelahan dan mati karena kehilangan feromonnya (jejaknya terputus dari koloninya).
- Semut jantan adalah mokondo sesungguhnya karena setelah dia nggak ngapa-ngapain selain memberikan cairan spermanya dan setelah kawin, mereka mati. Sungguh hidup yang singkat dan hanya untuk kawin semata.
- Bersemut yaitu seekor burung atau hewan yang sengaja “bunuh diri” dengan menjadi makanan untuk para semut. Di mana tubuh burung itu ada parasit dan jamur yang hidup dan sengat semut yang mengeluarkan racun asam format akan membunuh parasit itu.

Bab yang paling aku suka adalah bab “Perkara Mati Syahid” yang menggali lebih dalam tentang tokoh Sunar, semut jantan yang sedang menyiapkan kematiannya sebagai upaya keberlangsungan koloni. Yang meskipun begitu, tetap saja tragis, hikss … Sunarrrr!!

Selain tokoh sentral dua ratu, ada satu tokoh yang menjadi pondasi bagi kedua ratu, yaitu Mak Momong. Beliau hadir sebagai katalis bagi Gegana dan Darojak. Meskipun lagi dan lagi, semua berakhir tragis :’)

Buku ini definisi well-written. Yang kurang adalah font-nya yang terlalu kecil, hiks.

Rekomendasi: buku sastra yang penuh ironi, satir, sarkas kehidupan semut yang sangat relate dengan dunia manusia. Cocok bagi kamu yang suka cerita fabel dengan intrik politik yang memiliki ending bersiaplah.

🌹 5 bintang untuk ia yang tak mau terlahir kembali menjadi semut.
Profile Image for Shelly.
Author 2 books45 followers
September 3, 2026
Fabel satu ini berhasil membebaskanku dari reading slump.

Berhasil namatin buku ini juni lalu dan menurutku Koloni sangat layak di re-read. Lebih karena aku kangen dengan Mak Momong dan Sunar, sih. Haha.

Selain karena mengangkat tema yang unik, Koloni berhasil mengajak pembaca mengarungi dunia semut. Bagaimana para semut makan, bertahan hidup, sampai menjalani ritual kawin. Sebuah dunia yang sering dianggap sepele oleh kita sebagai manusia.

Buatku yang nggak familier dengan dunia semut, novel ini sangat informatif.
Aku ingat di salah satu book talk, sang penulis bilang bahwa riset Koloni bisa dibilang riset yang paling terjangkau kalau dibandingkan dengan riset karya-karya beliau lainnya. Nah, sudut pandang saya sebagai penulis tergelitik. Ini bukti bahwa riset cerita nggak harus 'mahal'. Inget tuh, Shel! Haha.

Senang banget waktu tahu Koloni masuk daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 (kategori novel). Apalagi sekarang sudah ditranslasi ke Bahasa Inggris. Harus makin banyak orang yang baca Koloni!

Entah ini masuk kategori dystopia atau nggak, menurutku ya masuk. Hm. Apakah karena dystopia, sehingga novelnya sangat plot driven? Bisa jadi.

Beberapa kata membuatku terganggu. Ada 'keliyengan' dan beberapa diksi yang membuatku mengerutkan kening. Semoga dalam edisi berikutnya diperbaiki.

Dan ... ya. Di buku ini, manusia termasuk antagonis. Gimana dengan di dunia nyata?

Penting untuk kita berpikir ... sudah berapa banyak semut yang sengaja maupun tak sengaja kita putus hak hidupnya?

Poin: 4,8/5
Profile Image for Ms.TDA.
323 reviews10 followers
June 16, 2026
Fabel yg menyinggung banyakseluk beluk kehidupan sosial-politik dalam sebuah koloni semut. Aku menikmati setiap perjalanan kehidupan semut tiap chapternya, kaya lg nonton series Netflix and you couldn’t even put your eyes away from the book…🐜💨

Very unexpectedly enjoyable🙂‍↕️
4,4/5🌟

FYI: Oh iya, menjadi semut ratu dan ratu semut itu adalah dua hal besar yang berbeda‼️
Profile Image for nadinosaurus.
362 reviews8 followers
January 3, 2026
Unexpectedly seruuu maksimal! Kalau aja fontnya gak semungil itu, sudah pasti kubaca sekali duduk saking memikatnya.

Koloni adalah fabel tentang asmara, keluarga, dan politik di dunia semut api yang ternyata pelik, rumit, berlapis, dan begitu menakjubkan. Dari awal baca aku langsung membayangkan kartun Antz kesukaanku dahulu. Hal pertama yang bikin takjub adalah riset penulis sehingga mampu dengan akurat menggambarkan kehidupan semut di dalam sarang mereka. Dari pembagian kasta beserta tugasnya hingga kegiatan occasional seperti "anting". Semuanya didasarkan pada fakta saintifik—aku sampe cek satu-satu. Segala informasi yang seperti pelajaran biologi itu bisa melebur langsung dengan cerita, jadi seperti menyaksikan siaran langsung keseharian mereka.

Imo, kegiatan semut yang apa adanya ternyata serupa dan menyentil kondisi politik di negaraku, bahkan tanpa narasi menyindir ke arah situ (kecuali di bagian ending). Pahitnya, segala yang terjadi di dunia semut seperti sistem kasta dan kepatuhan mutlak adalah bawaan biologis, tidak bisa diganggu gugat. Berbeda dengan yang terjadi di dunia manusia, sistem yang ada adalah imbas dari pilihan dan keputusan yang dibuat oleh sebagian pihak.

Ceritanya sendiri menarik. Seekor semut ratu muda bernama Darojak, koloninya habis tak bersisa karena "predator" yang dikendarai manusia. Tragedi ini membawanya ke sebuah koloni sejenis yang dipimpin oleh seorang ratu yang langgeng masa kuasanya bernama Ratu Gegana. Ia mengerahkan segala upaya agar bisa terus berjaya, padahal usia sudah mencapai batasnya. Hanya semut jantan yang menetas hingga terjadilah overpopulasi—krisis semut pekerja dan semut ratu untuk meneruskan keturunan. Kehadiran Darojak menyalakan kembali harapan, meski itu artinya harus menempuh banyak pertarungan demi menolong koloni dari kepunahan.

Nama tokoh-tokoh di buku ini bagus-bagusss! Jantunh Hati, Hari Bahagia, Mak Momong, Sunar, dsb.
Profile Image for inas.
418 reviews37 followers
February 8, 2026
PEOPLE SHOULD READ THIS BOOK ASAAAAP 🫣🔥🔥🔥

Di luar typo yang bertebaran, buku ini sebenernya genius banget. Aku suka fakta-fakta semut yang disatukan sama konflik politik tokoh-tokohnya di sini, berasa baca Rahasia Semut (yang kubaca pas SD dulu wkwkwk) tapi versi lebih berbobot karena intrik dan konfliknya yang seru dan rumit 😆❤️

Di pertengahan, aku agak bosen, mungkin karena font-nya terlalu kecil, tapi memang perkembangan alurnya juga lambat. Baru setelah melewati pertengahan, semua konfliknya memuncak sampe akhir.

Ada banyak hal yang bikin bertanya-tanya, kenapa nggak dikasih konsekuensi dan dibiarin gitu aja. Tapi memang begitulah hidup jadi penduduk koloni. Selama masalah mereka dianggap "sepele", dan selama pemimpin koloni bisa tetep makan dan berkuasa, masalah-masalah tadi bisa dilewatin begitu aja. Dan kita sebagai pembaca cuma bisa pasrah ngikutin alur. It hits too close to home, not gonna lie 😔💔

Overall, ini BUKU YANG BAGUS BANGEEET huhuhuhu, kalo ntar laku keras sampe harus cetak ulang, tolong typo-nya dibenerin ya. Sayang kalo banyak yang notice dan jadi terganggu proses bacanya 😋✨️
Profile Image for parareads.
244 reviews1 follower
September 13, 2026
Darojak is a young queen of her fire ant colony who was forced to flee her nest due to human greed. On the run, she stumbles upon another colony and settles in, though not as a queen since they already have Queen Gegana. Meeting Sunar sparks an incredible feeling in her and completely shifts her perspective on the world.

The 3️⃣ Things:

👑𝑷𝒐𝒍𝒊𝒕𝒊𝒄𝒔 𝒂𝒏𝒅 𝒑𝒐𝒘𝒆𝒓 𝒔𝒕𝒓𝒖𝒈𝒈𝒍𝒆.⚔️
I think the main theme is really what makes this book stand out because most of the conflict actually stems from within the colony itself. You can see this in how cunning Queen Gegana is when spotting Darojak, as well as Grand Nana’s strategy in digging into Darojak and Sunar’s relationship. It really mirrors human life, which is full of jealousy and deceit.

♟️𝑯𝒊𝒆𝒓𝒂𝒓𝒄𝒉𝒚, 𝒑𝒂𝒕𝒓𝒊𝒂𝒓𝒄𝒉𝒂𝒍 & 𝒎𝒂𝒕𝒓𝒊𝒂𝒓𝒄𝒉𝒂𝒍 𝒔𝒕𝒓𝒖𝒄𝒕𝒖𝒓𝒆.
Reading this book made me realize that even creatures as tiny as ants deal with the same social classes and power dynamics as humans. Even though Queen Gegana is the queen of her colony, over time, the male ants start favoring Darojak because she’s younger. And obviously, there can’t be two queens on one throne. The intense rivalry between Gegana and Darojak is super engaging and serves as one of the book’s biggest strengths, alongside the backstory of Grand Nana and Queen Gegana.

🐜 𝑻𝒉𝒆 𝒇𝒂𝒔𝒄𝒊𝒏𝒂𝒕𝒊𝒏𝒈 𝒍𝒊𝒇𝒆𝒔𝒕𝒚𝒍𝒆 𝒐𝒇 𝒂𝒏𝒕𝒔.
If you think fables can’t teach you real facts, you’re totally wrong. Just reading this book taught me that male ants actually have wings and their purpose only for mating with the queen, and the ones we usually see are just worker ants gathering food to bring back home. Plus, how ants reproduce, how the queens release their love pheromones, how male ants die right after mating, and how nutrients and egg types determine whether an ant becomes a worker, a male, or a queen.. I love it when books drop new knowledge on you, and this is definitely one of them.

✍🏻: @gadiskretek
👨🏻‍💻: @dalihsembiring
🖨️: @penguinbookssea
📖: 272
⭐: 4.5/5

Thank you @saumjhaa and @penguinbookssea for this ARC and PR package. Love the tote bag and the pins! ♥️👑🐜
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
330 reviews7 followers
October 2, 2025
Novel Koloni karya Ratih Kumala ini berhasil memunculkan rasa "berperikesemutan" pada diri saya. Ditengah proses membaca, sy tiba-tiba merasa sedih ketika beberapa tokoh semut mati dan beberapa diantaranya tidak mendapatkan keadilan serta kesempatan yang setara. Entahlah, novel ini memang sebuah fabel yang menceritakan tentang para ratu semut dalam upayanya mempertahankan koloninya supaya berumur panjang. Namun jika dipahami lebih dalam, gambaran yang ada dalam cerita di buku ini kenapa dekat sekali dengan kondisi politik saat ini, penuh intrik.

Menurut sy, penulis melakukan riset yang baik tentang dunia persemutan, terbukti dari penulisan anatomi tubuh semut, kebiasaan-kebiasaanya dan feromon-feromon yang dikeluarkan oleh semut, bahkan cara semut kawin terbang juga tersampaikan dengan sangat apik. Pembaca akan dibawa masuk ke dunia sarang semut yang gelap, namun punya lapis dan ruang-ruang yang terstruktur dan juga fungsi yang beragam. Karakter yang dibuat oleh penulis juga cukup merepresentasikan gambaran sebuah dinasti semut yang ternyata kompleks.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book278 followers
November 4, 2025
Darojak, seekor semut ratu muda, terpisah dari koloninya setelah peristiwa kiamat menimpa sarang mereka. Dirinya terombang-ambing antara hidup dan mati hingga akhirnya terdampar di dekat sarang koloni semut api lainnya. Darojak pasrah ketika tubuhnya didatangi oleh semut prajurit dan semut pekerja. Dia dibawah ke sebuah bilik dan ditinggalkan di sana. Darojak yang mengira dirinya akan mati ternyata menemui takdir yang berbeda.

Di tempat itu, Darojak bertemu dengan Sunar, semut pejantan yang memberinya makan. Selain itu ada Mak Momong, semut perawat dengan badan besar yang kemudian merawatnya hingga kembali pulih. Dengan bantuan Mak Momong pula, dia bisa diterima di koloni yang baru itu sebagai semut perawat. Tetapi Mak Momong menyampaikan pada Darojak takdirnya sebagai semut ratu. Meskipun itu artinya dia harus berhadapan dengan Ratu Gegana, semut ratu di koloni itu.

Sejak membaca halaman pertama, saya tahu bahwa saya tidak akan berhenti membaca novel ini sampai tamat. Pendeskripsian koloni semut ini begitu detail. Mulai dari kasta-kastanya, tugas setiap kasta, bahkan sampai penggambaran bentuk tubuh dan aroma feromon yang dikeluarkan oleh semut dituliskan dengan cermat. Rasanya seperti menyaksikan film animasi kerajaan semut dengan cerita yang menarik.

Kisah utamanya adalah perebutan kekuasaan antara dua ratu, Ratu Gegana yang sudah tua namun menolak untuk disingkirkan berhadapan dengan Ratu Darojak, pendatang yang bertekad membesarkan koloni. Namun di antara itu, ada kisah romansa antara Darojak dan Sunar, si semut pejantan. Juga ada pengorbanan seorang Ibu demi koloni yang dipimpinnya. Karena sejatinya kehidupan semut untuk koloni, dan koloni untuk semut.

Sepanjang membaca novel ini, saya banyak mencatat quote-quote menarik. Betapa kehidupan koloni semut bisa memberikan pelajaran bagi kita manusia (yang sesungguhnya dibenci oleh para semut) untuk membina keharmonisan dalam sebuah lingkungan. Dan kalau pembaca memperhatikan dengan cermat bagian awal dan akhir dari novel ini, ada trivia yang menunjukkan di mana lokasi para koloni semut ini di tanah nusantara. Sebuah fabel yang layak untuk dikoleksi.
Profile Image for Nyimas Gandasari.
44 reviews7 followers
February 15, 2026
saya suka sekali ketegangan dan konflik di awal cerita sampai pertengahan. setelahnya (meski masih bisa diikuti) sedikit agak membosankan. tetapi isu-isu yang dihadirkan melalui kisah semut-semut ini (mulai dari kesetaraan, relasi antar kelas) selalu penting buat disimak.
69 reviews
August 24, 2025
Baca buku ini karena hadir di launch-nya hari Jumat.

Hands down the best fabel i read this year. Cerita penuh intrik dari semut-semut yang bikin mual tapi juga gregetan. Sempet bikin meringis karena wow. Is this real guys.
Profile Image for Nia potterr.
254 reviews10 followers
May 1, 2026
kayak jadi pov semut tapi lucu ohh gini ya rasanya jadi semut
Profile Image for Rakha G. Mahardika.
13 reviews
June 14, 2026
Ada 1 kemiripan novel ini dengan Attack on titan. Nothing change meskipun semua ratu semut sudah dibunuh dan daratan mereka diubah menjadi IKN koloni akan terus berjalan dengan caranya tersendiri.
Profile Image for Haura K..
60 reviews
January 22, 2026
This read took me on a ride! While certain expectations of mine weren't met, there were moments when it blew me away. It was a story filled with romance, greed--both ants' and humans'--, and the roles we partake in society to ensure its continuity. I think this was my first time reading a full-on fable, so it was interesting to read the humanization of a creature that has seemed so trivial in our daily lives. Finishing this book has made me become more careful about where I stomp my shoes!

What I enjoyed the most was the highlight on the Queens' lives and duties, which gave a different perspective compared to our traditional patriarchal values. The Queen decides whether a colony shall rise or fall. Male ants, apart from their sole responsibility to mate, have no other purpose. Makes you think if this were to happen to humans - would we be a different society if we were set on a matriarchal system?

I have to say that I hate Queen Gegana with all my guts. When she murdered Sunar in cold blood, in front of an in love Darojak, my jaw fell to the floor. I thought they were going to be endgame! Alas, there is no happy ending in an ant's love story. In the end, the author created this touching moment where Darojak & Sunar 'reunited', indicating their story will always meet a tragic end.

The story started and ended with the cruelest predator of them all: human beings. Their greed was the one that destroyed Darojak's first and last colony. In a way, it criticizes our tendency to disregard nature for the sake of development. Can't help but think every time we are disturbed by the existence of animals, it is we who actually barged into their territory in the first place.

----------------------

Beberapa ekspektasi saya tidak terpenuhi, tetapi ada momen momen di mana ceritanya membuat saya terpukau. Koloni bercerita mengenai romansa, kerakusan--baik pada semut maupun manusia--, dan peran yang kita ambil untuk memastikan keberlangsungan suatu masyarakat. Sepertinya ini fabel dewasa pertama yang saya baca--pengalaman menarik membaca cerita yang memanusiakan makhluk yang selama ini keberadaannya tidak kita anggap. Mengingatkan saya untuk lebih berhati - hati ketika melangkah di kedepannya.

Saya menikmati penekanan terhadap kehidupan dan tugas seorang ratu semut. Ini memberikan perspektif yang berbeda dibandingkan manusia yang memiliki tradisi patriarki. Ratu semut yang bisa menentukan sebuah koloni bisa hidup atau mati. Sedangkan semut jantan, di luar tugas mereka untuk kawin, tidak memiliki peran lain yang berarti. Saya jadi membayangkan jika ini terjadi ke manusia - apakah kita akan menjadi masyarakat yang berbeda jika kita menganut sistem matriarki?

Saya sebal sekali dengan Ratu Gegana. Ketika dia membunuh Sunar dengan kejam, di depan Darojak yang mabuk cinta, mulut saya sampai menganga. Saya kira mereka akan berakhir bersama! Namun, memang tidak ada akhir yang bahagia dari kisah cinta sepasang semut. Di akhir, penulis membuat sebuah momen mengharukan yang 'mempersatukan kembali' Darojak dan Sunar, menandakan bahwa cerita mereka selalu berakhir tragis.

Ceritanya berawal dan berakhir dengan keberadaan predator paling jahat: manusia. Keserakahan merekalah yang menghancurkan koloni pertama dan terakhir Darojak. Ini juga menjadi kritik terhadap tendensi manusia untuk tidak mengacuhkan alam demi pembangunan. Padahal, ketika kita merasa terganggu oleh keberadaan hewan sekitar, kitalah yang mendatangi--dan akhirnya merusak-- habitat mereka.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Readingwithhirai.
268 reviews8 followers
January 21, 2026
“Bagaimana jika sebuah koloni semut hancur? Bisakah semut mencari koloni lain untuk bergabung?”

Siapa sangka mengikuti kisah koloni semut ternyata semenyenangkan ini, bukan hanya perihal perjuangan, penyesuaian namun juga realita sosial yang erat hubungannya dengan dunia manusia. Semua berawal dari rusaknya koloni Darojak akibat ulah manusia. Dia terluka namun masih selamat sampai akhirnya diboyong masuk ke koloni semut lain sebagai tawanan karena feromon yang dihasilkan tubuhnya asing. Di sana dia bertemu dengan Sunar, seekor semut jantan yang menaruh perhatian padanya serta Mak Momong yang memperlakukannya dengan baik. Sejak pertemuan dengan Mak Momong, Darojak akhirnya mendapatkan tugas untuk mengurus telur-telur Ratu Gegana yang tak menyukainya. Bagaimana bisa dalam satu koloni ada dua ratu? Entah kekhawatiran Ratu Gegana memang murni untuk koloni atau justru hanya menyenangkan egonya sendiri? Bagaimanapun juga sebuah koloni membutuhkan ratu kecil untuk penerus mereka namun Ratu Gegana sudah tak mampu memproduksi telur ratu. Itulah mengapa Mak Momong sangat berharap terhadap Darojak sebagai penerus koloni.
Siapa sangka kisah semut ini ternyata berhasil menyentuh hati dan perasaanku tentang bagaimana Sunar dan Darojak menjalin cinta tulus kasih itu, sampai terbunuhnya Sunar karena kemarahan Ratu Gegana. Alurnya sederhana, bahasanya mudah dipahami membuat kisah dari semut koloni ini sangat menyenangkan untuk dibaca sampai tuntas. Darojak harus mengalami banyak cobaaan sampai akhirnya mampu menuntaskan tugasnya sebagai semut ratu, meski tanpa Sunar tanpa pujaan hatinya. Semuanya berjalan mulus sampai akhirnya Ratu Gegana mulai berulah kembali. Darojak sangat sabar dan penuh strategi bagaimanapun juga koloninya harus aman dan tetap berjaya. Kedua ratu itu saling melawan dan membatasi diri agar tidak saling membunuh. Namun plot twist yang disajikan di akhir sunggung mencengangkan. Bukan salah satu ratu itu yang kalah dan pergi namun semuanya musnah oleh keserakahan yang lebih besar. Hewan yang seharusnya tak ada di hutan apalagi sampai merusak ekosistem termasuk koloni semut.

Kisah tentang Penyesuaian, Bertahan dan Perlawanan
Koloni menghadirkan kisah tentang penyesuaian Darojak yang masuk ke dalam koloni baru, tentang bagaimana dia akhirnya bertahan sampai perlawanan yang dilakukannya. Sebagai semut ratu dirinya sadar dia bukanlah anggota asli dari koloni sehingga kehadirannya pasti tak disukai ratu asli dari koloni tersebut. Darojak tak tahu harus bagaimana sampai akhirnya dia bertemu Mak Momong dan Sunar yang melindunginya.

Perjalanan Panjang Penuh Luka
Darojak menjalani kehidupan sebagai semut ratu di koloni baru penuh lika-liku dan luka. Dia selalu was-was dengan Ratu Gegana bagaimanapun juga dialah ratu utama di dalam koloni ini meskipun dirinya sudah berhasil menelurkan ratu kecil. Ratu Gegana tak pernah puas dan tak pernah menerima kehadiran Darojak sehingga berbagai macam cara dilakukannya untuk tetap mempertahankan kekuasaan padahal kemampuannya jelas sudah berkurang. Apakah murni untuk koloni atau mengutamakan keegoisan dalam dirinya?

Akhir yang Tak Diinginkan
Darojak berhasil melanjutkan koloni yang sempat punah itu bahkan dia juga bisa melahirkan koloni baru dari putrinya sendiri. Ratu Gegana masih tak tinggal diam begitupun dengan kesalahpahaman yang dialami kedua putrinya membuat semuanya semakin berantakan. Ketidakmampuan yang tak diterima dan disadari ternyata bisa membuat seseorang hilang arah. Sampai akhirnya mereka mengalami akhir yang tak diinginkan bukan hanya dari pertikaian namun dari predator yang lebih serakah lagi.

Point Menarik dan Unggul dari Buku:
• Uniknya buku Koloni ini menggunakan sudut pandang semut beserta tokoh-tokoh lain seperti ulat dan belalang. Kita seolah diajak masuk untuk melihat bagaimana pembagian tugas semut di koloni sampai dengan kehidupan mereka.
• Semut memiliki kekompakan dan kesadaran terhadap tanggungjawabnya masing-masing baik semut jantan, semut pekerja maupun semut dayang dan semut ratu. Namun di sini kita diperlihatkan bagaimana seorang ratu yang tak mau jabatannya tergeser meskipun dirinya sudah tak memiliki kecakapan itu.
• Sentuhan keserakahan manusia yang merusak ekosistem bahkan koloni semut. Bukankah tak seharusnya mereka merambah hutan? Namun mereka tetap saja melewati batas wilayah yang seharusnya. Bahkan semut saja lebih tahu diri dibandingkan mereka.
• Alurnya mudah dipahami dengan diksi yang sederhana justru membuat pembaca mampu tenggelam dalam setiap detail yang diceritakan.

Tokoh, Alur dan Pengembangan Karakter
Dari awal Darojak adalah tokoh semut yang banyak mengalami pengembangan karakter menuju lebih baik. Dia adalah sosok semut tahan banting dan mampu beradaptasi dengan cepat terhadap lokasi barunya. Awalnya mungkin takut dan penuh kewaspadaan namun akhirnya dia mampu melaksanakan tugasnya dengan baik untuk melanjutkan kelangsungan koloninya. Begitu juga dengan Sunar yang banyak diam dan hanya memantau akhirnya mau bertindak. Sosok Mak Momong yang misterius dan kisah di baliknya termasuk Ratu Gegana yang sampai akhir hanya mengikuti ego besar dalam dirinya.

Penekanan Konflik dan Eksekusi Konsep Cerita
Buku Koloni membawa konflik masuknya Darojak ke dalam koloni baru karena koloni asalnya sudah hancur. Tentang bagaimana dia akhirnya beradaptasi dan menjadi ratu di koloni baru tersebut. Namun ternyata inti ceritanya bukan hanya di situ saja melainkan ada sentuhan predator besar yang merusak semuanya. Proses eksekusi ceritanya cukup menarik menggabungkan kisah mengharukan dengan akhir yang mengharukan juga. Bagaimana Darojak terpisahkan dengan Sunar dan bagaimana akhirnya mereka dipertemukan kembali.

Penyelesaian Cerita dan Ekspektasi Pembaca
Jujur saja aku terkejut dengan akhir yang diceritakan dari buku koloni ini seolah mengulang kerusakan yang terjadi di awal cerita. Ternyata predator ini memang menghancurkan semuanya bukan hanya koloni semut namun merambah yang bukan menjadi wilayahnya. Koloni melebihi ekspektasiku sebagai pembaca mulai dari kisah cinta semut yang unik dan juga bagaimana pertemuan mereka yang berhasil membuatku terharu.

Seberapa Jauh Buku Ini Mencapai Tujuannya?
Koloni berhasil mencapai tujuannya sebanyak 95% dari 100% mulai dari pembawaannya yang unik, pemilihan tokoh semut dan riset mendalam dari masing-masing tugas semut tentu saja membuat buku ini tak asal-asalan saat dinikmati. Kisahnya memang ringan namun mampu merepresentasikan realita dan relevansinya dengan kehidupan manusia. Bagaimana perebutan kekuasaan terjadi, bagaimana pihak lemah terinjak dan juga bagaimana sesuatu yang lebih besar akhirnya mampu menghancurkan semuanya.

Apa yang Kurang dari Buku dan Harapan dari Pembaca
Buku ini seolah tak menghadirkan kekurangan apapun dalam segi pembawaan sampai dengan nasihat yang ingin diungkapkannya. Mulai dari prolog sampai epilog kesannya memang pas dan seimbang seolah kisah semut ini dibuat berdasarkan kehidupan semut di duni nyata. Kisah Darojak dan Sunar ibarat kisah cinta terlarang dari koloni berbeda meskipun akhirnya Darojak mendapatkan posisi ratu namun harapannya musnah. Belum lagi kisahnya yang selalu waspada dengan Ratu Gegana yang penuh kebencian. Harusnya Ratu Gegana tahu diri dengan kemampuannya yang sudah banyak berkurang dan justru memberikan ruang aman untuk Darojak apalagi tak ada keinginan menguasai dari sosok Darojak.

Pelajaran yang Diberikan dan Sasaran Pembaca
Koloni mengajarkan kita arti tanggungjawab mengenai tugas yang sudah seharusnya kita emban sejak awal pembagian. Semut rukun saling membantu dan melengkapi agar koloninya tetap berjaya tanpa menuntut satu dengan lainnya. Bagaimana jika sebuah kelompok dipenuhi orang-orang jujur dan bertanggungjawab tentu saja akan memberikan suasana nyaman dan aman untuk semua orang yang ada di dalamnya.
Koloni cocok untuk pembaca yang menginginkan sentuhan berbeda dari sudut pandang semut termasuk konflik, cara bertahan sampai dengan cara menyelesaikan masalah mereka. Kisahnya unik namun tetap sesuai untuk diadaptasi pada kehidupan kelompok manusia.
Profile Image for Airypriatna.
13 reviews2 followers
June 8, 2026
Merasa ka karakternya kurang dieksplor padahal ada banyak karakter, ya walopun memang sudah dari awal dikasih tau kalo temanya ya Koloninya itu sendiri, jadi kurang merasa terikat aja dengan karakternya
Profile Image for Launa.
253 reviews50 followers
October 24, 2025
Masih selaras dengan tujuan kak Ratih berkarya yang pengin pembaca membaca dengan senang, selama baca novel ini aku senang. Senang banget! Takjub dengan ceritanya yang kaya akan ilmu dan sarat makna, serta penggambaran latar dan segala macamnya yang detail abis. Emosional pula. 🫠 Baca Koloni berasa baca ensiklopedi hewan khusus semut. 🐜

Kesannya sih ceritanya kayak biasa aja, tapi kalau menilik lebih dalam, hal-hal yang diangkat justru melekat dengan kita; tradisi, kekodratan, politik kekuasaan, sejarah (semut), aturan, identitas, standar, hubungan ibu anak, dll. Kenyang. ❤

Baca selengkapnya: bit.ly/koloniratih
Profile Image for Veronica.
27 reviews
May 23, 2026
babe would you love me if i were a neurodivergent ant in IKN?
Profile Image for Nita.
97 reviews21 followers
September 14, 2025
Ratih Kumala’s Koloni is one of those rare novels that makes you stop and wonder how much of our human drama can be mirrored by the lives of creatures as small as ants. At the heart of the story is a matriarchal colony, a society where the females rule, but instead of utopia we see a raw and ruthless portrait of power. Ratu Gegana, the reigning queen, is the perfect embodiment of how authority can corrupt even within a so-called “natural order.” She is jealous, vindictive, and obsessed with domination, willing to crush not only her rivals but even her own offspring if they dare threaten her throne. Through Gegana, the Author reminds us that power does not magically become kinder in the hands of women—it can be just as cruel, hungry, and destructive.

In contrast, Mak Momong feels like the wise shadow of history, a former queen whose legend lives on in the colony. She is clever, strategic, and hardworking, the kind of leader who knows survival is not about brute force but about long-term vision. Her presence in the novel becomes a benchmark of what leadership could look like if grounded in resilience and foresight rather than paranoia and ego. Yet even with Mak Momong, the Author doesn’t indulge in pure nostalgia; the colony’s struggles under her era show that even the most brilliant queen cannot escape the cycle of labor, sacrifice, and hierarchy that defines their world. What makes her fascinating is not perfection, but the way her character forces us to ask whether survival always has to come at the cost of individual freedom.

Then there is Darojak, the young queen with a tragic path carved before she even has a chance to live fully. Unlike Gegana, she is not blinded by the hunger for control; she is compassionate, empathetic toward the other ants, and full of defiance against the looming presence of humans who threaten their fragile ecosystem. Her resilience is striking—despite loss, danger, and betrayal, she refuses to surrender her sense of justice. Darojak becomes the moral heart of the book, offering a glimmer of hope that a different kind of leadership is possible, one not built solely on domination but on solidarity. And yet, the novel does not let us rest in this hope, because even Darojak’s strength is circumscribed by the demands of her role: to lead, to reproduce, to be the colony’s center whether she chooses it or not.

What ties all these queens together is the ants’ blind devotion to them. The Author crafts this loyalty as both awe-inspiring and terrifying. The workers’ readiness to obey every command and to live or die for their ruler is a chilling mirror of our own societies, where idolizing one leader—be it a political figure, a cultural icon, or a supposed savior—can strip away our capacity to think and act for ourselves. Koloni ultimately delivers a sobering message: whether under patriarchy or matriarchy, when power is funneled into the body of a single individual, society risks losing its balance. The ants may seem distant from us, but the echoes of their world ring uncomfortably close to home.

Still, the Author does not stop at dissecting internal conflict; she shifts our gaze outward. The true enemy of the ants is not another queen, nor the workers who follow her, but humanity itself—merciless, destructive, and indifferent to their existence. Darojak’s hatred of humans, born from watching her colony destroyed at both the beginning and the end of the story, becomes a sharp reminder that all the squabbles within the nest are meaningless when a greater, external cruelty looms. It forces us to reflect on how often we misdirect our anger at each other, while the real forces shaping our suffering remain unchallenged.

This makes Koloni an especially compelling adult fable. By magnifying the ants’ society, the Author exposes the grim reality of human communities, especially among the working class: even when survival is fragile and oppression inevitable, hierarchies persist, and infighting continues. The ants mirror our own flaws—the way we cling to power, the way we divide ourselves into rulers and ruled—even though all of it could be wiped out in an instant by a power beyond our control. At the end of the day, maybe the biggest danger isn’t being ruled by a bad queen—but forgetting that someone bigger can crush us without even looking down.
Profile Image for Faa bambi .
29 reviews
December 11, 2025
Absolutely a fun and easy read. I wanted to keep following Darojak around inside the fire ant's nest and colony, from her old colony to the new and also, her last colony.

In the midst of a state of a country like this, apalagi di tengah banjir Sumatera Desember ini, reading this book can also be heartbreaking knowing that so many animals have lost their habitats or dead. Ceritanya terasa dekat.

What a well and beautiful written of satire in one book. I love how a fable story can depicted all the crazy shits happening in this world. I think animals deserve to speak up. That they have lost their homes, families, and chances to live.

Membaca buku ini terasa seperti diminta duduk (dengan senang hati) dan mendengarkan hewan bercerita, Darojak bercerita. Tentang semut, tugas-tugasnya, cintanya pada koloninya. Dan bagaimana manusialah yang merupakan hewan predator paling ganas dan mematikan.

Buku ini juga tidak hanya satir tentang manusia dan perilaku yang menghancurkan, tapi juga membicarakan ketubuhan, gender roles, dan juga perempuan yang selalu dilihat sebagai objek, terutama dalam melahirkan anak, dari kacamata dan dimensi semut api, yang merupakan serangga sosial hidup di dalam koloni yang mempunyai lebih dari satu ratu.
Hal ini bisa dilihat pada bagian anak pertama Ratu Darojak, Ratu Jantung Hati yang merasa tubuhnya hanya pabrik untuk bertelur saja.

Juga "semut jantan" hanya goler-goler kaki dan tidak berguna. Yang ini menurut saya fakta. Laki-laki tidak berguna! Coba saja kalau laki-laki di dunia ini mempunyai takdir sama seperti semut jantan, yang rentang waktu hidupnya hanya 2 minggu dan setelah kawin mereka mati.

Terakhir, yang menarik bagi saya adalah tentang koloni yang dibangun oleh para ratu semut. Membuat saya berkaca bahwa manusia pun harus berkomunitas dan bersolidaritas. Di koloni semut, ada yang menyakiti dan ada yang membahagiakan. Aku hanya berharap, di tengah hidup yang sudah susah dan mematikan yang tersistematis seperti ini, kita tidak saling melukai. Itu saja.

Buku ini harus dibaca, kritik dan frustrasi seorang penulis Indonesia dalam sebuah cerita perjalanan ratu semut api dan koloninya, di tengah situasi negara carut marut seperti ini.
Profile Image for Rhea.
61 reviews
January 2, 2026
Penasaran gimana caranya melihat politik dari kacamata semut? Nah buku ini cocok buat kamu.

Menceritakan bagaimana perjalanan seorang semut ratu bernama Darojak yang kehilangan seluruh koloni nya karena ulah manusia hingga akhirnya ditemukan oleh koloni lain dan menjadi ratu semut di koloni baru.

Jujur ini menarik banget karena dijelasin dengan detail terkait anatomi semut, jenis-jenis semut, isi sarang semut sampai bagaimana semut kawin terbang. Yup kawin terbang, aku juga baru tahu. Haha.

Di sini kita bisa melihat bagaimana setiap semut dilahirkan dengan takdir masing-masing yang tidak bisa diubah sampai akhir hayat mereka karena sudah terikat dengan tubuh mereka. Dan apabila semut tidak melakukan tugasnya maka koloni bisa terancam.

Hal ini lah yang terjadi di koloni yang didatangi oleh Darojak, di mana sang Ratu Semut Gegana tidak mau menelurkan semut ratu karena merasa terancam dengan posisinya. Dia hanya menelurkan semut jantan yang terus menerus menjadi beban karena hanya menghabiskan makanan dan tidak bisa kawin karena tidak ada semut ratu di koloninya. Akibatnya satu koloni bisa terancam punah karena timpang, semut pekerja akan terus berkurang sementara semut jantan melebihi populasi. Dengan datangnya Darojak ada harapan bagi koloni untuk bisa menelurkan semut ratu dan semut pekerja. Hingga akhirnya terjadi perebutan kekuasaan antara Ratu Semut Gegana dan Ratu Semut Darojak untuk menguasai koloni hingga berakibat pada koloni secara keseluruhan.

Kita bisa lihat bagaimana perebutan kekuasaan baik di dunia semut maupun di dunia manusia hanya akan mengorbankan rakyat. Rakyat yang hanya bisa terus bekerja tanpa bisa mengeluh sementara yang berkuasa bisa berbuat seenaknya. Sungguh ironis.

Aku suka sekali bagaimana penulis menggambarkan segala sesuatu tentang semut karena terlihat riset yang mendalam. Bagaimana konflik dibangun dan konklusinya pun aku rasa cukup menggigit dan alurnya bikin penasaran. Aku juga suka bagaimana hal-hal yang kita tabur itulah yang akan kita tuai di akhir, inilah yang digambarkan oleh buku ini.
Profile Image for Hamidah Effendi.
666 reviews7 followers
August 11, 2026
📚 Buku yang buat aku Google sesuatu 😂

Disebabkan buku Koloni oleh Ratih Kumala ni, aku tiba-tiba masuk kelas Biologi Semut secara tidak rasmi. 😂

Aku Google macam-macam—semut kahwin macam mana, ratu semut tu macam mana, beza semut jantan dengan semut pekerja, betul ke ada semut yang tugasnya mengasuh telur… SEMUA AKU GOOGLE! 😆😅

Dan paling kelakar, lepas baca buku ni, tengok semut dekat taman pun rasa macam, “Eh… kau ni pekerja ke? Ratu? Jantan?” 🤣

Aku suka gaya penulisan buku ni. Walaupun dalam Bahasa Indonesia, masih sangat mudah nak faham dan hadam. Tak berat, tak rumit dan jalan ceritanya buat aku terus nak tahu apa yang berlaku seterusnya. Confirm bukan buku yang buat aku rasa nak DNF. 😂

Lepas tu ada kisah Ratu Darojak dan Sunar yang berjaya buat aku blushing sendiri. 🫣❤️ Ada sikit rasa roller coaster dalam buku ni—kejap senyum, kejap tegang, kejap… ehhh apasal jadi macam ni pula? 😆

Tapi ending dia… sedih. 🥲

Sebab musuh koloni semut bukan sekadar koloni lain atau haiwan lain. Manusia juga boleh menjadi ancaman kepada mereka.

Menariknya, buku ni tunjuk dunia semut yang penuh dengan peraturan dan sistem tersendiri. Sang ratu terus hidup demi kelangsungan koloni. Semut jantan pula selepas menjalankan tugasnya untuk membiak, hayatnya memang boleh berakhir begitu sahaja. Semut pekerja? Terus bekerja dengan tempoh hidup yang mereka ada.

Dan aku yang konon-konon baca buku fiksyen dengan tenang, boleh pula pergi tengok video kehidupan semut sebenar. 😭

Bila tengok semut jantan dan ratu selepas mengawan…
YA ALLAH. SADISNYA DUNIA SEMUT. 🤕😵‍💫😂

Bacalah. Best! 🐜📚

Aku beli buku ni dulu sebab ternampak ulasan daripada geng kaki buku Indonesia. And yes! Setakat ni buku yang direcommend, semuanya seru banget! 😆❤️

Sekarang tinggal berharap Digul pula berjaya aku habiskan tahun ni. 😂

Kesimpulan: datang sebab nak baca cerita semut, balik-balik jadi penyiasat kehidupan semut. 🐜🔎🤣
2 reviews
September 16, 2025
Novel ini mengambil sudut pandang yang unik, dari semut. Ceritanya menggambarkan struktur sosial dalam koloni semut, mulai dari semut ratu, semut penjaga, semut jantan, hingga semut pekerja. Secara garis besar, konflik utama berpusat pada keberadaan dua ratu dalam satu koloni: Ratu Gegana dan Ratu Darojak.

Menariknya, menurut penulis, novel ini awalnya tidak diniatkan sebagai fabel, melainkan tetap mempertahankan tokoh manusia. Hal ini membuat saya penasaran: bagaimana jadinya jika cerita ini tetap menggunakan karakter manusia? Apakah konflik dan dinamika sosialnya akan terasa berbeda?

Sebagai saran, sebelum membaca novel ini, ada baiknya mencari tahu dulu tentang siklus hidup semut dan peran masing-masing jenis semut dalam koloni. Di dalam novel, penjelasan mengenai hal-hal seperti feromon, perbedaan antara ratu muda dan ibu ratu, siklus hidup semut, proses perkawinan semut serta alasan keberadaan dua ratu dalam satu koloni sangat minim. Saya pribadi sempat kebingungan di awal, tapi akhirnya memahami setelah mencari informasi tambahan di internet.

Dari segi plot,

Endingnya terasa terlalu mendadak, seolah ingin memberikan kesan tragis dan mengejutkan, tapi sayangnya kurang berhasil menyentuh secara emosional. Mungkin Mbak Ratih bisa meminta masukan dari suaminya, Eka Kurniawan, untuk bagian ending karena beliau cukup piawai dalam meramu akhir cerita yang shocking dan tragis, haha
Profile Image for Finn (theroyaltyreader).
313 reviews9 followers
August 24, 2026
“To be born an ant is to be born into a lopsided, unjust society.“

Long live the Queen….feels bittersweet to me. Titles never meant to be indulge for ants society. It is the biggest responsibility towards the survival of its species.

A fable that mirroring human corporate ladders and political power wars which where the ants characters are humanized and thus get triggered emotionally so easy. It takes us in an underground ant society where the political turmoil happens between a senior bitter queen, Queen Gegana and a newbie rival, Queen Darojak.

Can’t help myself to reminisce on A Bug’s Life but make it darker and matriarchal. Discussing about the workers trapped in an eternal capitalist loop, born to labor, not to live. And the whole setup screams this old proverb “When elephants fight, grass gets trampled.” Another vital key raised, humans are solely responsible for the destruction of animal’s habitat. It wasn’t all over but it exists brutally where it should be.

Going into the writing, quick and sharp writing. I devoured it real fast and can’t stop. I’m so invested and sat during the reading session. Despite the heavy themes, it’s dramatic in the best way because there’s a little touch of romance as well as the motivation for me to turn the pages.

Therein the story really successfully prompting me to root for Darojak and wishing her all good things but life doesn’t follow the mortal rules. They bend and go straight whenever it fits.

Overall, Colony left a mark because it shifted my perspective on ants and humans entirely. The correlation resonates and it lingers. The book is packed with facts and life lessons, woven seamlessly into every chapter. Satirical but spot-on. Fans of Animal Farm will certainly able to appreciate this.
Profile Image for Zhou.
149 reviews2 followers
September 3, 2026
Edit: I complained to my husband about this book and he said romANTasy HAHAHAHAHAA

Eew what is this ant smut, this is what I imagine The Fourth Wing to be like but with ants

Yes... I think I need sweet-stuff, Darojak murmured. She looked around at the twisting corridors, uncertain. Which way? She was not familiar with this part of the nest. Darojak lifted her antennae and sniffed the air, trying to catch a trail she recognized. But it was still difficult to tell which direction to take. The lingering scent of grief on her body still overwhelmed everything else.

Seeing this, Sunar stepped closer. I know every path in this nest.

He leaned in until their faces were close, brushing lightly against her so that his scent would cling to her antennae—something she could follow Darojak had never been this close to a male ant before. He was handsome. She felt heat rise to her face. Quickly she lowered her gaze, afraid he might notice.

Follow me, Sunar said gently. I know a special food storage chamber.

As if under a spell, the young queen followed the male ant. Along the way, Sunar continued releasing faint trails of pheromones. Every so often he glanced back, making sure Darojak had not lost his scent. Each time he smiled, her heart began to beat faster. She had never felt anything like this before.


This was part of my latest book haul in August and I thought it was interesting because it was published under Penguin SEA; I'd picked it up as my next read after having to deal with a sudden ant infestation in the house this morning (the bait is working great so far) and I even felt bad for the ants for a while. Just a while. Now I'm doubling down on the ant baits. NO ANT SEX IN MY HOUSE
Profile Image for _booksagsm.
654 reviews14 followers
September 14, 2026
This is my first book by Ratih Kumala, although I have heard a lot about her work, especially "Cigarette Girl". So when I got an advance copy of "Colony", I was quite excited to finally read her. The book follows Darojak, a young fire ant queen whose colony is destroyed because of deforestation. Displaced and alone, she finds her way into another colony, ruled by Queen Gegana, an ageing queen who sees Darojak more as a threat than a newcomer.

What follows is a fascinating story of survival, power and jealousy inside the colony. Darojak slowly becomes important because she can help produce a new generation of ants, but this also makes Queen Gegana insecure about losing her position. There is rivalry between the queens, alliances are formed, relationships develop and some of them end tragically. Meanwhile, the worker ants continue to keep the entire colony alive, even though they have almost no power in the system.

What I found most interesting is that Colony is not really about ants. It uses the ant colony to talk about us — how power can make people insecure, how leaders can become obsessed with holding on to their position, and how ordinary people often carry the burden of keeping a system running. The environmental angle also stayed with me because the ants lose their home because of human actions.

I really enjoyed the first 80% of the book, although I did feel that some of the later conflicts could have been explored more. I wanted more chaos, more consequences and a stronger payoff to some of the events. Still, Colony is a very unusual and thought-provoking read. It may be about a colony of ants, but ultimately it is a story about power, survival, politics, insecurity and the cost of human interference with nature.
Displaying 1 - 30 of 98 reviews