Di dunia semut yang super sibuk dan penuh strata, tujuan perkawinan cuma satu: mempertahankan kelangsungan koloni. Dua ekor semut ratu —Ratu Gegana dan Ratu Darojak— bersaing menjadi alfa; yang tua menolak turun, yang muda memperebutkan kuasa. Pertempuran dua kubu ini tak terelakkan, mengguncang koloni hingga ke akar-akarnya.
KOLONI adalah fabel dengan latar di dunia serangga di bawah tanah, sebuah dunia yang kecil, nyaris dianggap tak ada, tak terlihat di permukaan, tapi sebenarnya masif, terstruktur, dan sistematis. Tak ubahnya mesin dengan surat cinta untuk budak korporat. Tak ubahnya intrik perebutan kekuasaan di dunia manusia.
Ratih Kumala, lahir di Jakarta, tahun 1980. Buku pertamanya, novel berjudul Tabula Rasa (Grasindo 2004, GPU 2014), memenangkan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003. Novel keduanya, Genesis (Insist Press, 2005). Kumpulan cerita pendeknya, Larutan Senja (Gramedia Pustaka Utama, 2006). Buku keempat berjudul Kronik Betawi (novel/GPU, 2009) yang sebelum terbit sebagai buku juga terbit sebagi cerita bersambung di harian Republika 2008. Buku kelimanya berjudul Gadis Kretek (GPU, 2012) dan buku keenamnya adalah Bastian dan Jamur Ajaib (GPU, 2015). Novelnya Gadis Kretek (GPU, 2012) masuk dalam Top 5 kategori prosa Khatulistiwa Literary Award 2012, dan telah diterjemahkan ke Bahasa Inggris –Cigarette Girl (GPU, 2015), bahasa Jerman – Das Zigarettenmadchen (culturbooks publishing, 2015), dan tengah diterjemahkan ke Bahasa Arab untuk diterbitkan di Mesir.
Selain menulis fiksi, Ratih juga menulis skenario untuk televisi dan film layar lebar. Saat ini ia tinggal di Jakarta.
Suka banget! Kebetulan saya sedang dilanda reading slump dan enggan membaca yang 'berat-berat'. Awalnya saya ragu apakah 'sanggup' membaca buku ini, apalagi kalau boleh jujur, saya benci banget sama semut 😅
Namun, ternyata buku ini sangat menyenangkan! Kalau beberapa orang bilang buku ini tentang politik dan perebutan kekuasaan, mungkin benar, tapi buat saya, 'Koloni' sejatinya adalah sebuah saga keluarga besar semut. Di sini semut jatuh cinta, berprasangka, dan berkeluarga. Intrik-intrik dan drama tentunya ada juga. Di beberapa bagian pun buku ini berhasil menyentuh hati saya sebagai seorang ibu.
Sebagai konsep cerita fabel, bisa dibilang novel ini menghadirkan kisah yang memadukan realitas dengan alegori; menjadikan semut sebagaimana fenomena ilmiah kehidupan berkoloninya, maupun "semut" sebagai metafora kehidupan politis manusia. Di sini, Ratih Kumala mengajak pembacanya menyelami dunia “koloni” yang penuh keteraturan, hierarki, dan strategi untuk bertahan hidup.
Dalam beberapa hal, novel ini menyinggung persoalan relasi kuasa, loyalitas, dan bagaimana individu kerap harus tunduk pada aturan bersama. Bukan hanya menghadirkan konflik tentang dualisme kepemimpinan (ratu semut), Ratih juga tampaknya ingin menyindir bagaimana ketimpangan peran gender dalam kehidupan koloni. Apabila dalam tatanan hidup manusia kita masih berkutat dengan isu patriarki yang tak kunjung usai, berbeda halnya dengan koloni yang menempatkan maskulinitas semut jantan di subordinat lebih rendah—merekalah jenis semut yang hanya bertugas untuk mengawini semut ratu, lalu mati syahid sesudahnya.
Dalam koloni semut, sosok ratu semut adalah pusat kehidupan. Ia menjadi sumber kelangsungan generasi karena hanya dialah yang bertugas menghasilkan telur anakan. Keberadaan dan kelangsungan koloni sepenuhnya bergantung pada semut-semut ratu, yang pada satu waktu akan naik tahta menjadi ratu semut.
Dalam Koloni, Ratih seolah-olah ingin menggambarkan bagaimana struktur kekuasaan sering berpusat pada figur tertentu—pemimpin, penguasa, atau elite—lewat karakter Momong, Gegana, Darojak, juga keturunan mereka sesudahnya, yang menentukan arah dan keberlangsungan komunitas. Ada semacam kultus terhadap entitas tunggal tersebut, sama halnya seperti semut jantan dan pekerja yang sangat bergantung pada ratunya.
Sementara itu, semut pekerja adalah mayoritas dalam koloni. Mereka membangun sarang, mencari makan, dan menjaga koloni, meski umumnya berumur pendek dan perannya sering tak terlihat. Kondisi ini bisa dikatakan mirip dengan masyarakat kelas bawah: orang-orang biasa yang menopang sistem sosial, tapi terkadang tak punya suara atau peran dalam menentukan kebijakan besar. Mereka adalah tulang punggung, tapi sekaligus yang posisinya paling rentan.
Hal lain yang ingin disinggung oleh novel ini, mungkin juga menyoal tatanan hidup kita yang sering kali terperangkap dalam sistem sosial-politik yang membatasi pilihan individu. Kadang kala, untuk bertahan, seseorang harus menyesuaikan diri dengan “aturan main koloni”—apabila berbeda sedikit saja, maka nasibnya tak akan bertahan lama di kelompok sosialnya.
“Aku tak ingin terlahir jadi semut, baik di sini maupun di koloni lain. Pokoknya aku tak ingin jadi semut lagi. Menurutku, lahir sebagai semut adalah lahir dalam koloni yang pincang, tidak adil. Yang pekerja terus bekerja, yang prajurit bisa semena-mena, yang jantan harus menunggu tak pasti, yang menjadi ratu selamanya dilayani.”
Alurnya maju tapi plotnya entah mau ke mana, kesannya cuma mengikuti bagaimana kehidupan koloni semut ini bergulir. Yang mana hal tersebut sebetulnya menarik dan bikin saya menyelesaikan buku ini. Saya sebagai pembaca diajak belajar tentang ekosistem semut.
Yang jadi komentar saya yakni sudut pandang cerita yang tidak teratur. Sering kali merasa kesulitan untuk memahami di paragraf ini siapa yang membawakan narasi dan di paragraf selanjutnya siapa yang membawakan narasi. Pembaca dibuat kewalahan untuk menerka. Ada tendensi seolah-olah ingin membongkar sekat-sekat sudut pandang agar entah-bagaimana.
Kritik sosial dalam realitasnya tajam dan mashook, tapi terlalu cepat dan “gitu doang” kalau tidak disebut terlalu kabur.
"Aku ingin menjadi burung." Membaca ini saat banjir Aceh Sumatra (Des 2025), rasanya sungguh dekat. Walopun bukan semut, melihat berita banjir itu aku merasa sekecil semut pekerja. Bedanya, Ratu Semut selalu ada untuk melindungi koloninya.
But anyway....
Saat aku baca, aku membayangkan visual cerita ini menjadi animasi Pixar. Dengan cerita tentang keluarga, cinta, tanggung jawab, gender equality dan, yang paling terasa untukku, kesehatan mental.
Sebagai binatang spesies manusia, pasti sulit untuk kita memahami kebahagiaan mati syahid para semut jantan. Tapi, somehow aku mengerti POV dari yang dibawakan di sini. Tidak ada derita yang lebih menyakitkan ketika kau hidup merasa useless, powerless dan hopeless. Maka ketika kematianmu useful, powerful dan membawa harapan, bukankan kita bisa mati dalam damai?
Buku ini memberikan pandangan baru melalui tokoh semut. Saya bisa membayangkan atmosfer berada di bawah tanah, berkawan dengan cacing, mengamati cara kerja semut, sampai memperebutkan takhta sebagai semut ratu.
Sebuah ilmu baru yang saya dapatkan kalau semut jantan itu tugasnya hanya kawin lalu mati. Kalau tidak kawin, maka hidup akan menjadi sia-sia dalam sebuah koloni.
Saat itu hiduplah seorang semut ratu bernama Darojak, semut nyasar di sebuah koloni yang diselamatkan oleh Mak Momong penunggu (petinggi) di sebuah koloni. Mak Momong yakin bahwa Darojak suatu hari nanti bisa memimpin koloni ini. Namun sayangnya, di dalam koloni itu ada ratu tua (Ratu Gegana) yang tidak mau lengser. Ratu Gegana tidak mau memberikan takhta itu kepada Darojak, bahkan tidak merestui hubungan cinta anaknya (Sunar) kepada Darojak hingga berujung tragis. **ini lumayan sedih di aku.
Namun, hidup harus terus berjalan. Pertumbuhan koloni semakin mengalami overpopulasi karena Ratu Gegana hanya bisa menelurkan semut jantan. Alhasil Darojak naik takhta menjadi ratu. Ratu Darojak berhasil menelurkan semut ratu yang selama ini para koloni impikan. Sayangnya, masih ada dendam yang dirasakan Ratu Gegana terhadap Ratu Darojak. Mereka menjadi rival yang sengit dengan tujuan yang sama yakni mempertahankan koloni.
Kisah di buku ini bukan hanya mewakilkan peran betina/wanita, tetapi ada juga politik, kasih sayang ibu dan anak, dinasti, percintaan, rival, dan ending yang tiba-tiba menjadi satir.
Kekurangan cerita masih bisa diterima dengan baik. Saya tidak merasa ending dibuat buru-buru. Kalau mau dipanjangin lagi memangnya harus seperti apa? Bagi saya sudah cukup dengan closure yang disajikan meskipun berakhir tragis. Ah, tapi memang part Mak Momong ini kebanyakan dan tidak ada kaitannya sampai akhir. Selain itu perselisihan Ratu Darojak dan Ratu Gegana juga masih terkesan abu-abu, bagaimana ke depannya? Tapi, overall is good.
Unexpectedly seruuu maksimal! Kalau aja fontnya gak semungil itu, sudah pasti kubaca sekali duduk saking memikatnya.
Koloni adalah fabel tentang asmara, keluarga, dan politik di dunia semut api yang ternyata pelik, rumit, berlapis, dan begitu menakjubkan. Dari awal baca aku langsung membayangkan kartun Antz kesukaanku dahulu. Hal pertama yang bikin takjub adalah riset penulis sehingga mampu dengan akurat menggambarkan kehidupan semut di dalam sarang mereka. Dari pembagian kasta beserta tugasnya hingga kegiatan occasional seperti "anting". Semuanya didasarkan pada fakta saintifik—aku sampe cek satu-satu. Segala informasi yang seperti pelajaran biologi itu bisa melebur langsung dengan cerita, jadi seperti menyaksikan siaran langsung keseharian mereka.
Imo, kegiatan semut yang apa adanya ternyata serupa dan menyentil kondisi politik di negaraku, bahkan tanpa narasi menyindir ke arah situ (kecuali di bagian ending). Pahitnya, segala yang terjadi di dunia semut seperti sistem kasta dan kepatuhan mutlak adalah bawaan biologis, tidak bisa diganggu gugat. Berbeda dengan yang terjadi di dunia manusia, sistem yang ada adalah imbas dari pilihan dan keputusan yang dibuat oleh sebagian pihak.
Ceritanya sendiri menarik. Seekor semut ratu muda bernama Darojak, koloninya habis tak bersisa karena "predator" yang dikendarai manusia. Tragedi ini membawanya ke sebuah koloni sejenis yang dipimpin oleh seorang ratu yang langgeng masa kuasanya bernama Ratu Gegana. Ia mengerahkan segala upaya agar bisa terus berjaya, padahal usia sudah mencapai batasnya. Hanya semut jantan yang menetas hingga terjadilah overpopulasi—krisis semut pekerja dan semut ratu untuk meneruskan keturunan. Kehadiran Darojak menyalakan kembali harapan, meski itu artinya harus menempuh banyak pertarungan demi menolong koloni dari kepunahan.
Nama tokoh-tokoh di buku ini bagus-bagusss! Jantunh Hati, Hari Bahagia, Mak Momong, Sunar, dsb.
Novel Koloni karya Ratih Kumala ini berhasil memunculkan rasa "berperikesemutan" pada diri saya. Ditengah proses membaca, sy tiba-tiba merasa sedih ketika beberapa tokoh semut mati dan beberapa diantaranya tidak mendapatkan keadilan serta kesempatan yang setara. Entahlah, novel ini memang sebuah fabel yang menceritakan tentang para ratu semut dalam upayanya mempertahankan koloninya supaya berumur panjang. Namun jika dipahami lebih dalam, gambaran yang ada dalam cerita di buku ini kenapa dekat sekali dengan kondisi politik saat ini, penuh intrik.
Menurut sy, penulis melakukan riset yang baik tentang dunia persemutan, terbukti dari penulisan anatomi tubuh semut, kebiasaan-kebiasaanya dan feromon-feromon yang dikeluarkan oleh semut, bahkan cara semut kawin terbang juga tersampaikan dengan sangat apik. Pembaca akan dibawa masuk ke dunia sarang semut yang gelap, namun punya lapis dan ruang-ruang yang terstruktur dan juga fungsi yang beragam. Karakter yang dibuat oleh penulis juga cukup merepresentasikan gambaran sebuah dinasti semut yang ternyata kompleks.
Darojak, seekor semut ratu muda, terpisah dari koloninya setelah peristiwa kiamat menimpa sarang mereka. Dirinya terombang-ambing antara hidup dan mati hingga akhirnya terdampar di dekat sarang koloni semut api lainnya. Darojak pasrah ketika tubuhnya didatangi oleh semut prajurit dan semut pekerja. Dia dibawah ke sebuah bilik dan ditinggalkan di sana. Darojak yang mengira dirinya akan mati ternyata menemui takdir yang berbeda.
Di tempat itu, Darojak bertemu dengan Sunar, semut pejantan yang memberinya makan. Selain itu ada Mak Momong, semut perawat dengan badan besar yang kemudian merawatnya hingga kembali pulih. Dengan bantuan Mak Momong pula, dia bisa diterima di koloni yang baru itu sebagai semut perawat. Tetapi Mak Momong menyampaikan pada Darojak takdirnya sebagai semut ratu. Meskipun itu artinya dia harus berhadapan dengan Ratu Gegana, semut ratu di koloni itu.
Sejak membaca halaman pertama, saya tahu bahwa saya tidak akan berhenti membaca novel ini sampai tamat. Pendeskripsian koloni semut ini begitu detail. Mulai dari kasta-kastanya, tugas setiap kasta, bahkan sampai penggambaran bentuk tubuh dan aroma feromon yang dikeluarkan oleh semut dituliskan dengan cermat. Rasanya seperti menyaksikan film animasi kerajaan semut dengan cerita yang menarik.
Kisah utamanya adalah perebutan kekuasaan antara dua ratu, Ratu Gegana yang sudah tua namun menolak untuk disingkirkan berhadapan dengan Ratu Darojak, pendatang yang bertekad membesarkan koloni. Namun di antara itu, ada kisah romansa antara Darojak dan Sunar, si semut pejantan. Juga ada pengorbanan seorang Ibu demi koloni yang dipimpinnya. Karena sejatinya kehidupan semut untuk koloni, dan koloni untuk semut.
Sepanjang membaca novel ini, saya banyak mencatat quote-quote menarik. Betapa kehidupan koloni semut bisa memberikan pelajaran bagi kita manusia (yang sesungguhnya dibenci oleh para semut) untuk membina keharmonisan dalam sebuah lingkungan. Dan kalau pembaca memperhatikan dengan cermat bagian awal dan akhir dari novel ini, ada trivia yang menunjukkan di mana lokasi para koloni semut ini di tanah nusantara. Sebuah fabel yang layak untuk dikoleksi.
Baca buku ini karena hadir di launch-nya hari Jumat.
Hands down the best fabel i read this year. Cerita penuh intrik dari semut-semut yang bikin mual tapi juga gregetan. Sempet bikin meringis karena wow. Is this real guys.
“Bagaimana jika sebuah koloni semut hancur? Bisakah semut mencari koloni lain untuk bergabung?”
Siapa sangka mengikuti kisah koloni semut ternyata semenyenangkan ini, bukan hanya perihal perjuangan, penyesuaian namun juga realita sosial yang erat hubungannya dengan dunia manusia. Semua berawal dari rusaknya koloni Darojak akibat ulah manusia. Dia terluka namun masih selamat sampai akhirnya diboyong masuk ke koloni semut lain sebagai tawanan karena feromon yang dihasilkan tubuhnya asing. Di sana dia bertemu dengan Sunar, seekor semut jantan yang menaruh perhatian padanya serta Mak Momong yang memperlakukannya dengan baik. Sejak pertemuan dengan Mak Momong, Darojak akhirnya mendapatkan tugas untuk mengurus telur-telur Ratu Gegana yang tak menyukainya. Bagaimana bisa dalam satu koloni ada dua ratu? Entah kekhawatiran Ratu Gegana memang murni untuk koloni atau justru hanya menyenangkan egonya sendiri? Bagaimanapun juga sebuah koloni membutuhkan ratu kecil untuk penerus mereka namun Ratu Gegana sudah tak mampu memproduksi telur ratu. Itulah mengapa Mak Momong sangat berharap terhadap Darojak sebagai penerus koloni. Siapa sangka kisah semut ini ternyata berhasil menyentuh hati dan perasaanku tentang bagaimana Sunar dan Darojak menjalin cinta tulus kasih itu, sampai terbunuhnya Sunar karena kemarahan Ratu Gegana. Alurnya sederhana, bahasanya mudah dipahami membuat kisah dari semut koloni ini sangat menyenangkan untuk dibaca sampai tuntas. Darojak harus mengalami banyak cobaaan sampai akhirnya mampu menuntaskan tugasnya sebagai semut ratu, meski tanpa Sunar tanpa pujaan hatinya. Semuanya berjalan mulus sampai akhirnya Ratu Gegana mulai berulah kembali. Darojak sangat sabar dan penuh strategi bagaimanapun juga koloninya harus aman dan tetap berjaya. Kedua ratu itu saling melawan dan membatasi diri agar tidak saling membunuh. Namun plot twist yang disajikan di akhir sunggung mencengangkan. Bukan salah satu ratu itu yang kalah dan pergi namun semuanya musnah oleh keserakahan yang lebih besar. Hewan yang seharusnya tak ada di hutan apalagi sampai merusak ekosistem termasuk koloni semut.
Kisah tentang Penyesuaian, Bertahan dan Perlawanan Koloni menghadirkan kisah tentang penyesuaian Darojak yang masuk ke dalam koloni baru, tentang bagaimana dia akhirnya bertahan sampai perlawanan yang dilakukannya. Sebagai semut ratu dirinya sadar dia bukanlah anggota asli dari koloni sehingga kehadirannya pasti tak disukai ratu asli dari koloni tersebut. Darojak tak tahu harus bagaimana sampai akhirnya dia bertemu Mak Momong dan Sunar yang melindunginya.
Perjalanan Panjang Penuh Luka Darojak menjalani kehidupan sebagai semut ratu di koloni baru penuh lika-liku dan luka. Dia selalu was-was dengan Ratu Gegana bagaimanapun juga dialah ratu utama di dalam koloni ini meskipun dirinya sudah berhasil menelurkan ratu kecil. Ratu Gegana tak pernah puas dan tak pernah menerima kehadiran Darojak sehingga berbagai macam cara dilakukannya untuk tetap mempertahankan kekuasaan padahal kemampuannya jelas sudah berkurang. Apakah murni untuk koloni atau mengutamakan keegoisan dalam dirinya?
Akhir yang Tak Diinginkan Darojak berhasil melanjutkan koloni yang sempat punah itu bahkan dia juga bisa melahirkan koloni baru dari putrinya sendiri. Ratu Gegana masih tak tinggal diam begitupun dengan kesalahpahaman yang dialami kedua putrinya membuat semuanya semakin berantakan. Ketidakmampuan yang tak diterima dan disadari ternyata bisa membuat seseorang hilang arah. Sampai akhirnya mereka mengalami akhir yang tak diinginkan bukan hanya dari pertikaian namun dari predator yang lebih serakah lagi.
Point Menarik dan Unggul dari Buku: • Uniknya buku Koloni ini menggunakan sudut pandang semut beserta tokoh-tokoh lain seperti ulat dan belalang. Kita seolah diajak masuk untuk melihat bagaimana pembagian tugas semut di koloni sampai dengan kehidupan mereka. • Semut memiliki kekompakan dan kesadaran terhadap tanggungjawabnya masing-masing baik semut jantan, semut pekerja maupun semut dayang dan semut ratu. Namun di sini kita diperlihatkan bagaimana seorang ratu yang tak mau jabatannya tergeser meskipun dirinya sudah tak memiliki kecakapan itu. • Sentuhan keserakahan manusia yang merusak ekosistem bahkan koloni semut. Bukankah tak seharusnya mereka merambah hutan? Namun mereka tetap saja melewati batas wilayah yang seharusnya. Bahkan semut saja lebih tahu diri dibandingkan mereka. • Alurnya mudah dipahami dengan diksi yang sederhana justru membuat pembaca mampu tenggelam dalam setiap detail yang diceritakan.
Tokoh, Alur dan Pengembangan Karakter Dari awal Darojak adalah tokoh semut yang banyak mengalami pengembangan karakter menuju lebih baik. Dia adalah sosok semut tahan banting dan mampu beradaptasi dengan cepat terhadap lokasi barunya. Awalnya mungkin takut dan penuh kewaspadaan namun akhirnya dia mampu melaksanakan tugasnya dengan baik untuk melanjutkan kelangsungan koloninya. Begitu juga dengan Sunar yang banyak diam dan hanya memantau akhirnya mau bertindak. Sosok Mak Momong yang misterius dan kisah di baliknya termasuk Ratu Gegana yang sampai akhir hanya mengikuti ego besar dalam dirinya.
Penekanan Konflik dan Eksekusi Konsep Cerita Buku Koloni membawa konflik masuknya Darojak ke dalam koloni baru karena koloni asalnya sudah hancur. Tentang bagaimana dia akhirnya beradaptasi dan menjadi ratu di koloni baru tersebut. Namun ternyata inti ceritanya bukan hanya di situ saja melainkan ada sentuhan predator besar yang merusak semuanya. Proses eksekusi ceritanya cukup menarik menggabungkan kisah mengharukan dengan akhir yang mengharukan juga. Bagaimana Darojak terpisahkan dengan Sunar dan bagaimana akhirnya mereka dipertemukan kembali.
Penyelesaian Cerita dan Ekspektasi Pembaca Jujur saja aku terkejut dengan akhir yang diceritakan dari buku koloni ini seolah mengulang kerusakan yang terjadi di awal cerita. Ternyata predator ini memang menghancurkan semuanya bukan hanya koloni semut namun merambah yang bukan menjadi wilayahnya. Koloni melebihi ekspektasiku sebagai pembaca mulai dari kisah cinta semut yang unik dan juga bagaimana pertemuan mereka yang berhasil membuatku terharu.
Seberapa Jauh Buku Ini Mencapai Tujuannya? Koloni berhasil mencapai tujuannya sebanyak 95% dari 100% mulai dari pembawaannya yang unik, pemilihan tokoh semut dan riset mendalam dari masing-masing tugas semut tentu saja membuat buku ini tak asal-asalan saat dinikmati. Kisahnya memang ringan namun mampu merepresentasikan realita dan relevansinya dengan kehidupan manusia. Bagaimana perebutan kekuasaan terjadi, bagaimana pihak lemah terinjak dan juga bagaimana sesuatu yang lebih besar akhirnya mampu menghancurkan semuanya.
Apa yang Kurang dari Buku dan Harapan dari Pembaca Buku ini seolah tak menghadirkan kekurangan apapun dalam segi pembawaan sampai dengan nasihat yang ingin diungkapkannya. Mulai dari prolog sampai epilog kesannya memang pas dan seimbang seolah kisah semut ini dibuat berdasarkan kehidupan semut di duni nyata. Kisah Darojak dan Sunar ibarat kisah cinta terlarang dari koloni berbeda meskipun akhirnya Darojak mendapatkan posisi ratu namun harapannya musnah. Belum lagi kisahnya yang selalu waspada dengan Ratu Gegana yang penuh kebencian. Harusnya Ratu Gegana tahu diri dengan kemampuannya yang sudah banyak berkurang dan justru memberikan ruang aman untuk Darojak apalagi tak ada keinginan menguasai dari sosok Darojak.
Pelajaran yang Diberikan dan Sasaran Pembaca Koloni mengajarkan kita arti tanggungjawab mengenai tugas yang sudah seharusnya kita emban sejak awal pembagian. Semut rukun saling membantu dan melengkapi agar koloninya tetap berjaya tanpa menuntut satu dengan lainnya. Bagaimana jika sebuah kelompok dipenuhi orang-orang jujur dan bertanggungjawab tentu saja akan memberikan suasana nyaman dan aman untuk semua orang yang ada di dalamnya. Koloni cocok untuk pembaca yang menginginkan sentuhan berbeda dari sudut pandang semut termasuk konflik, cara bertahan sampai dengan cara menyelesaikan masalah mereka. Kisahnya unik namun tetap sesuai untuk diadaptasi pada kehidupan kelompok manusia.
Masih selaras dengan tujuan kak Ratih berkarya yang pengin pembaca membaca dengan senang, selama baca novel ini aku senang. Senang banget! Takjub dengan ceritanya yang kaya akan ilmu dan sarat makna, serta penggambaran latar dan segala macamnya yang detail abis. Emosional pula. 🫠 Baca Koloni berasa baca ensiklopedi hewan khusus semut. 🐜
Kesannya sih ceritanya kayak biasa aja, tapi kalau menilik lebih dalam, hal-hal yang diangkat justru melekat dengan kita; tradisi, kekodratan, politik kekuasaan, sejarah (semut), aturan, identitas, standar, hubungan ibu anak, dll. Kenyang. ❤
Ratih Kumala’s Koloni is one of those rare novels that makes you stop and wonder how much of our human drama can be mirrored by the lives of creatures as small as ants. At the heart of the story is a matriarchal colony, a society where the females rule, but instead of utopia we see a raw and ruthless portrait of power. Ratu Gegana, the reigning queen, is the perfect embodiment of how authority can corrupt even within a so-called “natural order.” She is jealous, vindictive, and obsessed with domination, willing to crush not only her rivals but even her own offspring if they dare threaten her throne. Through Gegana, the Author reminds us that power does not magically become kinder in the hands of women—it can be just as cruel, hungry, and destructive.
In contrast, Mak Momong feels like the wise shadow of history, a former queen whose legend lives on in the colony. She is clever, strategic, and hardworking, the kind of leader who knows survival is not about brute force but about long-term vision. Her presence in the novel becomes a benchmark of what leadership could look like if grounded in resilience and foresight rather than paranoia and ego. Yet even with Mak Momong, the Author doesn’t indulge in pure nostalgia; the colony’s struggles under her era show that even the most brilliant queen cannot escape the cycle of labor, sacrifice, and hierarchy that defines their world. What makes her fascinating is not perfection, but the way her character forces us to ask whether survival always has to come at the cost of individual freedom.
Then there is Darojak, the young queen with a tragic path carved before she even has a chance to live fully. Unlike Gegana, she is not blinded by the hunger for control; she is compassionate, empathetic toward the other ants, and full of defiance against the looming presence of humans who threaten their fragile ecosystem. Her resilience is striking—despite loss, danger, and betrayal, she refuses to surrender her sense of justice. Darojak becomes the moral heart of the book, offering a glimmer of hope that a different kind of leadership is possible, one not built solely on domination but on solidarity. And yet, the novel does not let us rest in this hope, because even Darojak’s strength is circumscribed by the demands of her role: to lead, to reproduce, to be the colony’s center whether she chooses it or not.
What ties all these queens together is the ants’ blind devotion to them. The Author crafts this loyalty as both awe-inspiring and terrifying. The workers’ readiness to obey every command and to live or die for their ruler is a chilling mirror of our own societies, where idolizing one leader—be it a political figure, a cultural icon, or a supposed savior—can strip away our capacity to think and act for ourselves. Koloni ultimately delivers a sobering message: whether under patriarchy or matriarchy, when power is funneled into the body of a single individual, society risks losing its balance. The ants may seem distant from us, but the echoes of their world ring uncomfortably close to home.
Still, the Author does not stop at dissecting internal conflict; she shifts our gaze outward. The true enemy of the ants is not another queen, nor the workers who follow her, but humanity itself—merciless, destructive, and indifferent to their existence. Darojak’s hatred of humans, born from watching her colony destroyed at both the beginning and the end of the story, becomes a sharp reminder that all the squabbles within the nest are meaningless when a greater, external cruelty looms. It forces us to reflect on how often we misdirect our anger at each other, while the real forces shaping our suffering remain unchallenged.
This makes Koloni an especially compelling adult fable. By magnifying the ants’ society, the Author exposes the grim reality of human communities, especially among the working class: even when survival is fragile and oppression inevitable, hierarchies persist, and infighting continues. The ants mirror our own flaws—the way we cling to power, the way we divide ourselves into rulers and ruled—even though all of it could be wiped out in an instant by a power beyond our control. At the end of the day, maybe the biggest danger isn’t being ruled by a bad queen—but forgetting that someone bigger can crush us without even looking down.
This read took me on a ride! While certain expectations of mine weren't met, there were moments when it blew me away. It was a story filled with romance, greed--both ants' and humans'--, and the roles we partake in society to ensure its continuity. I think this was my first time reading a full-on fable, so it was interesting to read the humanization of a creature that has seemed so trivial in our daily lives. Finishing this book has made me become more careful about where I stomp my shoes!
What I enjoyed the most was the highlight on the Queens' lives and duties, which gave a different perspective compared to our traditional patriarchal values. The Queen decides whether a colony shall rise or fall. Male ants, apart from their sole responsibility to mate, have no other purpose. Makes you think if this were to happen to humans - would we be a different society if we were set on a matriarchal system?
I have to say that I hate Queen Gegana with all my guts. When she murdered Sunar in cold blood, in front of an in love Darojak, my jaw fell to the floor. I thought they were going to be endgame! Alas, there is no happy ending in an ant's love story. In the end, the author created this touching moment where Darojak & Sunar 'reunited', indicating their story will always meet a tragic end.
The story started and ended with the cruelest predator of them all: human beings. Their greed was the one that destroyed Darojak's first and last colony. In a way, it criticizes our tendency to disregard nature for the sake of development. Can't help but think every time we are disturbed by the existence of animals, it is we who actually barged into their territory in the first place.
----------------------
Beberapa ekspektasi saya tidak terpenuhi, tetapi ada momen momen di mana ceritanya membuat saya terpukau. Koloni bercerita mengenai romansa, kerakusan--baik pada semut maupun manusia--, dan peran yang kita ambil untuk memastikan keberlangsungan suatu masyarakat. Sepertinya ini fabel dewasa pertama yang saya baca--pengalaman menarik membaca cerita yang memanusiakan makhluk yang selama ini keberadaannya tidak kita anggap. Mengingatkan saya untuk lebih berhati - hati ketika melangkah di kedepannya.
Saya menikmati penekanan terhadap kehidupan dan tugas seorang ratu semut. Ini memberikan perspektif yang berbeda dibandingkan manusia yang memiliki tradisi patriarki. Ratu semut yang bisa menentukan sebuah koloni bisa hidup atau mati. Sedangkan semut jantan, di luar tugas mereka untuk kawin, tidak memiliki peran lain yang berarti. Saya jadi membayangkan jika ini terjadi ke manusia - apakah kita akan menjadi masyarakat yang berbeda jika kita menganut sistem matriarki?
Saya sebal sekali dengan Ratu Gegana. Ketika dia membunuh Sunar dengan kejam, di depan Darojak yang mabuk cinta, mulut saya sampai menganga. Saya kira mereka akan berakhir bersama! Namun, memang tidak ada akhir yang bahagia dari kisah cinta sepasang semut. Di akhir, penulis membuat sebuah momen mengharukan yang 'mempersatukan kembali' Darojak dan Sunar, menandakan bahwa cerita mereka selalu berakhir tragis.
Ceritanya berawal dan berakhir dengan keberadaan predator paling jahat: manusia. Keserakahan merekalah yang menghancurkan koloni pertama dan terakhir Darojak. Ini juga menjadi kritik terhadap tendensi manusia untuk tidak mengacuhkan alam demi pembangunan. Padahal, ketika kita merasa terganggu oleh keberadaan hewan sekitar, kitalah yang mendatangi--dan akhirnya merusak-- habitat mereka.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Absolutely a fun and easy read. I wanted to keep following Darojak around inside the fire ant's nest and colony, from her old colony to the new and also, her last colony.
In the midst of a state of a country like this, apalagi di tengah banjir Sumatera Desember ini, reading this book can also be heartbreaking knowing that so many animals have lost their habitats or dead. Ceritanya terasa dekat.
What a well and beautiful written of satire in one book. I love how a fable story can depicted all the crazy shits happening in this world. I think animals deserve to speak up. That they have lost their homes, families, and chances to live.
Membaca buku ini terasa seperti diminta duduk (dengan senang hati) dan mendengarkan hewan bercerita, Darojak bercerita. Tentang semut, tugas-tugasnya, cintanya pada koloninya. Dan bagaimana manusialah yang merupakan hewan predator paling ganas dan mematikan.
Buku ini juga tidak hanya satir tentang manusia dan perilaku yang menghancurkan, tapi juga membicarakan ketubuhan, gender roles, dan juga perempuan yang selalu dilihat sebagai objek, terutama dalam melahirkan anak, dari kacamata dan dimensi semut api, yang merupakan serangga sosial hidup di dalam koloni yang mempunyai lebih dari satu ratu. Hal ini bisa dilihat pada bagian anak pertama Ratu Darojak, Ratu Jantung Hati yang merasa tubuhnya hanya pabrik untuk bertelur saja.
Juga "semut jantan" hanya goler-goler kaki dan tidak berguna. Yang ini menurut saya fakta. Laki-laki tidak berguna! Coba saja kalau laki-laki di dunia ini mempunyai takdir sama seperti semut jantan, yang rentang waktu hidupnya hanya 2 minggu dan setelah kawin mereka mati.
Terakhir, yang menarik bagi saya adalah tentang koloni yang dibangun oleh para ratu semut. Membuat saya berkaca bahwa manusia pun harus berkomunitas dan bersolidaritas. Di koloni semut, ada yang menyakiti dan ada yang membahagiakan. Aku hanya berharap, di tengah hidup yang sudah susah dan mematikan yang tersistematis seperti ini, kita tidak saling melukai. Itu saja.
Buku ini harus dibaca, kritik dan frustrasi seorang penulis Indonesia dalam sebuah cerita perjalanan ratu semut api dan koloninya, di tengah situasi negara carut marut seperti ini.
Penasaran gimana caranya melihat politik dari kacamata semut? Nah buku ini cocok buat kamu.
Menceritakan bagaimana perjalanan seorang semut ratu bernama Darojak yang kehilangan seluruh koloni nya karena ulah manusia hingga akhirnya ditemukan oleh koloni lain dan menjadi ratu semut di koloni baru.
Jujur ini menarik banget karena dijelasin dengan detail terkait anatomi semut, jenis-jenis semut, isi sarang semut sampai bagaimana semut kawin terbang. Yup kawin terbang, aku juga baru tahu. Haha.
Di sini kita bisa melihat bagaimana setiap semut dilahirkan dengan takdir masing-masing yang tidak bisa diubah sampai akhir hayat mereka karena sudah terikat dengan tubuh mereka. Dan apabila semut tidak melakukan tugasnya maka koloni bisa terancam.
Hal ini lah yang terjadi di koloni yang didatangi oleh Darojak, di mana sang Ratu Semut Gegana tidak mau menelurkan semut ratu karena merasa terancam dengan posisinya. Dia hanya menelurkan semut jantan yang terus menerus menjadi beban karena hanya menghabiskan makanan dan tidak bisa kawin karena tidak ada semut ratu di koloninya. Akibatnya satu koloni bisa terancam punah karena timpang, semut pekerja akan terus berkurang sementara semut jantan melebihi populasi. Dengan datangnya Darojak ada harapan bagi koloni untuk bisa menelurkan semut ratu dan semut pekerja. Hingga akhirnya terjadi perebutan kekuasaan antara Ratu Semut Gegana dan Ratu Semut Darojak untuk menguasai koloni hingga berakibat pada koloni secara keseluruhan.
Kita bisa lihat bagaimana perebutan kekuasaan baik di dunia semut maupun di dunia manusia hanya akan mengorbankan rakyat. Rakyat yang hanya bisa terus bekerja tanpa bisa mengeluh sementara yang berkuasa bisa berbuat seenaknya. Sungguh ironis.
Aku suka sekali bagaimana penulis menggambarkan segala sesuatu tentang semut karena terlihat riset yang mendalam. Bagaimana konflik dibangun dan konklusinya pun aku rasa cukup menggigit dan alurnya bikin penasaran. Aku juga suka bagaimana hal-hal yang kita tabur itulah yang akan kita tuai di akhir, inilah yang digambarkan oleh buku ini.
Novel ini mengambil sudut pandang yang unik, dari semut. Ceritanya menggambarkan struktur sosial dalam koloni semut, mulai dari semut ratu, semut penjaga, semut jantan, hingga semut pekerja. Secara garis besar, konflik utama berpusat pada keberadaan dua ratu dalam satu koloni: Ratu Gegana dan Ratu Darojak.
Menariknya, menurut penulis, novel ini awalnya tidak diniatkan sebagai fabel, melainkan tetap mempertahankan tokoh manusia. Hal ini membuat saya penasaran: bagaimana jadinya jika cerita ini tetap menggunakan karakter manusia? Apakah konflik dan dinamika sosialnya akan terasa berbeda?
Sebagai saran, sebelum membaca novel ini, ada baiknya mencari tahu dulu tentang siklus hidup semut dan peran masing-masing jenis semut dalam koloni. Di dalam novel, penjelasan mengenai hal-hal seperti feromon, perbedaan antara ratu muda dan ibu ratu, siklus hidup semut, proses perkawinan semut serta alasan keberadaan dua ratu dalam satu koloni sangat minim. Saya pribadi sempat kebingungan di awal, tapi akhirnya memahami setelah mencari informasi tambahan di internet.
Dari segi plot,
Endingnya terasa terlalu mendadak, seolah ingin memberikan kesan tragis dan mengejutkan, tapi sayangnya kurang berhasil menyentuh secara emosional. Mungkin Mbak Ratih bisa meminta masukan dari suaminya, Eka Kurniawan, untuk bagian ending karena beliau cukup piawai dalam meramu akhir cerita yang shocking dan tragis, haha
Buku ini memuat kisah sekumpulan ibu yang buruk—jika tak ingin disebut gagal.
Secara teknis, bagian yang menyebut “Darojak” di satu kalimat, kemudian “Ratu Darojak” di kalimat berikutnya, kemudian “Darojak” lagi di kalimat setelahnya juga cukup mengganggu kenikmatan membaca. Bintang tiga cukup fair diberikan.
Fully impressed with the unique storyline tbh!! As always from Ratih Kumala, she always writes her works by slipping sense of morale of humane inside of the storyline. In this story, Ratih Kumala expressed how greediness and selfishness can destroy the whole community. This story is a fable one tbh by explaining the commune of red ant which is led by 2 queens, Gegana and Darojak. I think this is the first fable work that I have ever read in my life. Since fable novels actually are kind of rare especially in Indonesia rarely the author takes out this genre as the base of their story genre. This novel is actually superb, I loved how the story goes but sadly I am not quite satisfied with the ending which tends to be cliffhanger since I hate the cliffhanger ending. I also feel that the storyline was too rushed at the end and the ending felt too forced. Other than that I am quite satisfied with the storyline, the unexpected plot twist of events that happened to each character like Mak Momong and Sunar. Even though I think their character could sustain until the end of the story since they are also important and the main figure in the story.
Another kind of work from Ratih Kumala that is worth your time to be read! Definitely 4.4 out of 5 from me!
Ibarat sebuah konten, Ratih Kumala memberi hook yang tepat dengan mengajak pembaca mengenakan kacamata asing: kehidupan seekor semut. Serangga yang kerap berkeliling di sela-sela lemari, makanan manis, dan ruang-ruang terdekat dengan manusia ini justru menghadirkan kesan menyentil ketika dilihat dari sudut pandang manusia.
Penulis menyuguhkan cerita yang ringan sekaligus bermakna. Nilai-nilai kehidupan semut yang relevan dengan kehidupan manusia membuat novel ini terasa dekat. Begitu dekatnya, novel fabel ini seolah menjadi cermin atas ulah manusia, yang disampaikan melalui kehidupan semut dan koloninya—mulai dari gotong royong, pelaksanaan tugas sesuai titah dan label (peran), hingga proses membangun dan menghancurkan yang dipaparkan secara dramatis.
Konflik progresif yang dijelaskan secara ringan dan padat membuat pembaca memahami bahwa kehidupan tetap berjalan sesuai naluri, berdasarkan peran dan tujuan. Secara tidak langsung, dampak yang ditimbulkan dapat bersifat negatif maupun positif—ibarat pedang bermata dua.
Jika diperbolehkan untuk menilai, Koloni merupakan novel satir yang mengajak pembaca berpikir ulang tentang hal-hal yang sebenarnya krusial, tetapi kerap dianggap remeh—baik oleh manusia, maupun oleh sesama semut dalam cerita ini.
Novel ini keren banget!!! Riset penulisnya gak main-main. Setelah baca novel ini jadi mulai berempati dengan dunia semut. Padahal biasanya kalau ada semut pasti langsung disapu atau dikasih kapur semut. Saya belajar tentang koloni semut, struktur masyarakat semut, dan bagaimana para semut menjalani kehidupannya. Ternyata, struktur masyarakatnya mirip dengan struktur masyarakat pada manusia. Tapi, dalam koloni semut, semut Ratu (betina) punya kekuasaan mutlak dan pemimpin koloni sedangkan semut jantan justru punya peran yang marjinal. Senyum jantan punya tubuh yang lemah, tidak bisa bekerja, sehingga menjadi beban bagi koloni. Peran semut jantan juga hanya untuk membuahi semut Ratu lalu mati. Yang menarik, diksi yang dipilih juga disesuaikan dengan anatomi tubuh semut, seperti batang rahang (bukan batang hidung), seenak rahang (bukan seenak jidat), dan lainnya. Beberapa istilah diubah menggunakan kata rahang, karena rahang merupakan identitas seekor semut. Novel ini mencoba mengkritisi keserakahan manusia yang merusak alam. Jadi, novel ini merupakan salah satu novel wajib dibaca. Bahasanya ringan, tapi maknanya dalam banget.
Sebagai seorang budak korporat perempuan, saya sering berandai-andai rasanya tidak menjadi manusia, hidup sebagai hewan atau rasanya hidup di masyarakat nonpatriarki. Imajinasi saya tampaknya cukup terjawab melalui "Koloni" karya Ratih Kumala.
Karya ini mengajak pembaca untuk menjadi seekor serangga kecil, semut. Namun, semut yang menjadi tokoh utama bukanlah semut pekerja biasa, melainkan seekor semut ratu bernama Darojak. Diksi-diksi dan alur cerita yang diracik oleh Ratih Kumala mampu membuat saya berubah dari seorang manusia menjadi semut. Saya merasa menjadi makhluk kecil yang hidup di lingkungan sosial yang besar dan kompleks. Saya pun jadi bisa menerka-nerka rasanya hidup di masyarakt matriarki. Kata-kata yang dipilih oleh Ratih begitu cantik sehingga saya tidak merasa seperti membaca buku, melainkan saya seperti menonton suatu drama musikal.
[[SPOILER]]
Secara garis besar, saya amat menikmati "Koloni". Namun, saya enggan memberikan lima bintang pada ulasan ini, sebab menurut saya Ratih Kumala kurang bisa mengeksekusi akhir dari novel ini. Akhir terkesan dibuat buru-buru dan sengaja dibuat menegangkan. Namun, menurut saya, Ratih Kumala gagal dalam membangun tempo ketegangan yang memuncak di akhir cerita.
Why did Sunar die before he could complete his task? It's heartbreaking to know that he died while experiencing love.
I often wonder if real ant colonies behave in the same way as described in this book, but it does provide a poignant illustration of what it might be like if we were led by a woman, specifically a queen. This queen is forced to step into a leadership role, constantly striving to do what’s best for her colony and her people. Yet, in a very human moment, she struggles with her duties because, as a woman, she may instinctively choose to follow her feelings rather than pure logic.
The narrative beautifully highlights how the principle of "Semut untuk koloni, koloni untuk semut" is challenged by the queen when her child is in peril. In that moment, her love for her child takes precedence over the needs of the colony.
In the end, it reminds us that it is hard to become a mother, there’s no single correct approach to raising a child; every decision is a reflection of our deep, complex emotions.
Selesai baca buku Koloni karya Ratih Kumala. Jadi ini novel fabel, tentang semut ratu bernama Darojak yang harus menyesuaikan diri di koloni baru, terus bakal ada drama perebutan kekuasaan. Bukunya bahas kepemimpinan, dinasti, persaingan, hubungan ibu dan anak, bisa nyenggol kemana aja pokoknya. Oh iya ada romance-nya juga, bikin senyum-senyum ngeliat semut PDKT, gemas haha. Kutipan menarik banyak sih di buku ini, cuma paling gong menurutku ini “Koloni ini kita bangun bersama. Ini bukan dinasti cuma milikmu!”
Abis baca buku ini gue nyari semut kawin di YouTube, penasaran haha. Dulu pas kecil kayaknya pernah nonton di TV, lupa-lupa inget. Kudos buat penulis, riset tentang dunia semutnya apik, jelasin anatomi semut, feromon-feromon mereka, suasana sarang, proses kawin, ngerawat telur semut, pembaca jadi lebih paham tentang semut, informatif lah. Bukunya ringan, cuma 240 halaman, bacanya ngalir aja gitu. Ending-nya bukan keresahan mba Ratih Kumala saja, cuma keresahan warga Indonesia hehe.
Koloni, by Ratih Kumalasari adalah salah satu fabel terbaik saat ini. Saya pikir fabel ini adalah satu-satunya yang eksis di jagat sastra indonesia, (mungkin satu-satunya fabel bertema dewasa) namun setelah saya browsing di internet banyak juga judul-judul fabel lainnya dari penulis lain (kebanyakan memang dongeng anak)
Koloni, bercerita tentang kelompok semut merah dengan dua ratu penguasa, Gegana dan Darojak. Sebuah fabel penuh intrik dan mellow drama. Ratih Kumalasari dengan apik membangun dunia koloni semut merah, menambahkan pengetahuan tentang anatomi semut dan sistem berkoloni mereka. Menunjukkan dengan apa adanya kehidupan dunia hewan yang kejam, tidak pandang bulu dan kelam.
Ratih Kumalasari, menambahkan sentilan kecil di bagian akhir ceritanya. Sebuah metafora untuk menggambarkan manusia itu sendiri yang carut marut. Sebuah novel yang cukup padat, 243 halaman dan cukup menghibur. Dalam kepala saya pun ini seperti menonton a Bugs Life animanis Disney Pixar yang dimix dengan melowdramatis ala anime Petualangan Hachi.
Buku ini menceritakan tentang seekor semut ratu bernama Darojak yang terpisah dari koloninya dan terpaksa bergabung dengan koloni lain yang sudah memiliki semut ratu, yaitu Ratu Gegana. Persaingan timbul ketika karena satu dan lain hal Ratu Gegana tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai ratu, sedangkan Darojak yang merupakan outsider dari koloni tersebut mulai mendapatkan dukungan untuk menjadi ratu koloni itu
Verdict : buku ini menarik karena banyak hal yang tersirat seperti intrik politik, intergenerational trauma, dan suatu universe dimana perempuan yang diutamakan (koloni semut is definitely not a man’s world). Tapi menurutku narasinya terlalu perfunctory dan minim emosi. Backstory dari masing2 tokoh kurang bisa menarik empati meskipun ada satu hal admirable yang hampir dimiliki semua tokoh, mereka punya sense of duty. Meski demikian, prosa Ratih Kumala sangat mudah dicerna dan ringan, sehingga buku ini mudah untuk dinikmati. 3/5
Buku Koloni ini spt ensiklopedia semut yg dijadikan novel. Banyak banget pengetahuan ttg semut dan koloninya. Misal semut jantan langsung mati stlh kawin, gmn caranya koloni semut membuat rakit dari telur, larva, dan pupa saat mereka kebanjiran, cara semut berkomunikasi, dst.
Fabel ini lumayan seru, ttg dinamika kehidupan semut dan perebutan kekuasaan antar ratu semut. Ternyata rumit juga ya kehidupan mereka. Penulis Koloni sm dengan penulisnya Gadis Kretek yg filmnya ditayangkan bbrp tahun lalu (yg main Dian Sastro) jd memang penulis yg sudah pny nama.
"Lahir sebagai semut adalah lahir dalam koloni yg pincang, tidak adil. Yang pekerja terus bekerja, yg prajurit bisa semena-mena, yg jantan harus menunggu tak pasti, yg menjadi ratu selamanya dilayani."
Covernya cakep, format kartu remi. Pembatas bukunya juga kayak gitu. Aku suka. Kreatif 👍
Novel fabel langka yg menceritakan kondisi politik di konoha dengan perumpamaan semut.. tokoh2nya ada seekor ratu senior bernama gegana yg haus kekuasaan dan tidak mau turun tahta atau adanya ratu lain. Kemudian ada ratu darojak, ratu pendatang yg menggulingkan kekuasaan ratu darojak, tapi sayangnya darojak menelurkan anak prematur dan cacat yg akan memimpin koloni dan mengacak2 sistem hanya krn dia anak ratu. Dan ada juga mak momong, ratu paling bijak tapi malah digulinglan kekuasaannya secepat itu oleh gegana. Ada juga pasukan semut jantan yg rela mati demi koloninya dan keberlangsungan hidup koloni, walaupun pengorbanan mereka tidak pernah dianggap. Dan ada juga semut prajurit yg selalu bekerja, mencari makan, menantang bahaya di luar sarang yg hasilnya hanya diserahkan kpd semut ratu.. Riset yg dilakukan penulis juga sangat mendalam, memberikan pengetahuan baru ttg hidup semut yg mengubah sudut pandang pembaca setiap melihat semut.. pokoknya nih novel mantap lah..
Lahir sebagai semut adalah lahir dalam sebuah koloni yang tidak adil. Yang pekerja terus bekerja, yang prajurit bisa bertindak semena-mena, semut jantan harus menunggu dalam keadaan tidak pasti, yang menjadi Ratu akan selamanya dilayani dan harus bertelur terus demi keberlangsungan koloni. Koloni, berpusat pada pertarungan 2 Ratu semut. Ratu Gegana, sang penguasa lama yang enggan turun tahta dan Ratu Darojak, Ratu pendatang dari generasi muda yang diselamatkan dan masuk ke dalam koloni. Mak Mamong sebagai semut tua (mantan Ratu) menjadi yang paling bertanggung jawab demi keberlangsungan koloni.
Baca ini karena katanya fabel satir yang menggunakan kehidupan dunia semut untuk menggambarkan realitas politik dan perebutan kekuasaan di dunia manusia. Emang iya sih ada kritik sosial tapi kurang tajam dan sekedarnya aja, apalagi narasi yg di ceritakan tdk urut dan agak overwhelming. Tapi lebih suka ke dinamika yg terjadi antar semut. Ada kisah tidak akurnya hubungan ibu dan anak, persaingan rasa iri antar saudara kandung, ada sedikit berbau-bau romance dan gambaran hubungan antara penguasa dan bawahan. Alurnya maju, ceritanya panjang, endingnya mendadak (apa karena later belakang yang dipilih IKN sebelum hutannya dibabat,enthlah).
Perasaan sepanjang baca ini : tenang. Ceritanya terasa sangat sederhana, walau nilai-nilai yang diangkat juga sebetulnya 'berat'. Kekuasaan, iri hati, cinta, duka, kelas. Suka banget gimana rasa sedih dan berduka di sini gak dieksploitasi, rasanya kaya diajarin hidup tetap berjalan walau di tengah duka. Rasa sedihnya nyata banget, tapi kaya ngalir gitu aja. Sampe akhirnya perasaan tenang sepanjang baca buku ini kaya dijatuhkan dan ditampar-tampar selama baca 1 bab terakhir. Cuma bisa bengong dan ketawa saking 'HAH'-nya. Ending yang mungkin terlalu cepat dan kurang halus, tapi perasaan waktu bacanya asik banget berasa dikagetin.
Novel soal koloni semut api yang menarik dan fresh. Perebutan kekuasaan jadi ratu semut membuat Ratu Gegana dan Ratu Darojak bersaing. Kita bakal diajak menyelami dunia semut yang jarang kita temukan di novel lain.
Penceritaan yang emosional membuat kisahnya enak diikuti dan saya seperti sedang menonton drama korea yang kolosal begitu. Tokoh-tokohnya juga disusun utuh dan latar belakangnya terpaparkan dengan baik. Ada kejutan cerita yang bikin saya tercenung.