Tidak semua teh diseduh dengan takaran yang tepat—ada yang terlalu pahit, hambar, atau kelewat manis hingga menusuk tenggorokan. Begitu pula hidup, hadir dalam rasa yang tak selalu bisa kita pilih.
Ada kalanya hari terasa seperti air yang belum mendidih, ada kalanya pula terlalu panas hingga melukai. Dan di antara secangkir kehidupan yang kita miliki, terkadang segalanya dibiarkan mendingin, tanpa tahu apakah masih ada rasa yang bisa dinikmati esok hari.
Kuharap, kamu bisa membaca buku ini dengan hati. Mari duduk bersama sebagai seorang teman. Mari saling mendengarkan dan memahami sebagai seorang sahabat. Mari saling memeluk sebagai keluarga.
Sebuah pembukaan di buku ini yang membuatku terus membaca lembar demi lembar hingga selesai. Sejujurnya ini adalah kali pertama aku menyelesaikan buku self-improvement. Selalu membaca fiksi dan non-fiksi sejarah dan kebutuhan pekerjaan, kini aku “menantang” diri sendiri untuk membaca buku genre lain, salah satunya self-improvement. Dan berhasil.
Sebagai tea-addict, buku ini langsung menyita perhatianku dari mulai sampul yang begitu teduh dan judulnya. Not a Cup of Sweet Life. Seperti halnya teh yang dianalogikan di kehidupanku sekarang: tidak manis, begitu hambar, dan hampir dingin. Buku ini hadir menemani tanpa terkesan menggurui ataupun menceramahi.
Melalui 16 bab di buku ini, aku diajak memahami hal-hal sederhana yang sering aku lupakan, yaitu tentang kegagalan, membandingkan diri, kehilangan, dan belajar menerima diri sendiri.
Buku ini memiliki format seperti bercerita, membagikan pengalaman pribadi penulis, apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya, dan insight(s) yang didapatkan penulis dari tokoh-tokoh lain, dan pengalaman lainnya dengan analogi secangkir teh—yang tak apa-apa jika hambar. Ada kata-kata dan kalimat puitis yang merepresentasikan setiap babnya.
Ada satu bagian yang paling membekas buatku. Bahwa kita sering terlalu fokus pada apa yang tidak kita punya, sampai lupa menikmati apa yang sudah kita miliki. Sama seperti teh dalam cangkirku, aku sibuk mencari rasa manis, padahal hangatnya saja sudah cukup menenangkan.
Buku ini juga mengajarkan bahwa kegagalan bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Seperti teh yang kadang terasa pahit di awal, tapi justru itu yang membuat kita belajar menikmati rasa dengan lebih utuh.
Cara penyampaiannya sederhana dan hangat, seperti teman yang duduk di samping kita. Sesuai yang ditulis di pembukaan oleh penulisnya, mari duduk bersama sebagai seorang teman. Dan buku ini menurutku berhasil mengajakku berbincang selayaknya teman. Meskipun di beberapa bagian terasa repetitif, tapi justru di situlah letak “pengingat”-nya. Ya, seperti meminum teh yang sama berkali-kali, rasa yang sama tapi tetap menenangkan.
Setelah membaca buku ini, aku merasa jadi lebih lembut pada diri sendiri. Belajar menerima bahwa hidup nggak harus selalu “manis” untuk tetap bisa dinikmati. Mungkin, hidup memang bukan secangkir teh manis. Tetapi, selalu pantas untuk diperjuangkan.
Buku ini aku rekomendasikan bagi kalian yang baru mencoba dan menjajal genre self-improvement [sama sepertiku]. Cocok bagi kamu yang lagi capek, sering membandingkan diri, atau merasa tertinggal dari orang lain. Buku ini nggak ada teori psikologi yang rumit, hanya berupa pengingat-pengingat sederhana yang sering kita lupa.