alasan utama membaca buku ini adalah: mencari penjelasan hubungan batin yg spt apa antara pram dng sang ayah. menyimak tulisan2 pram. tampak sekali tidak ada gambaran ayah yg ideal/positif dalam novel maupun cerpen2 pram.
pertanyaan ini cukup lama menganggu pikiran. saya membaca 'di tepi kali bekasi' waktu masih SD. di buku, hubungan Amir dng ayahnya sudah mengundang pertanyaan. ada apa ? lalu ketika novel2 lama diterbitkan kembali satu persatu, puncak kerisauan muncul saat membaca novel 'perburuan'. jelas sekali hubungan rindu-dendam dng tokoh ayah sangat dominan. buku tsb ditulis sewaktu pram berada di penjara jatinegara. rasanya sulit membayangkan kisah tsb ditulis hanya berdasarkan imajinasi. penulis tentunya berangkat dari inspirasi yg hidup dan intens atau bahkan telah menjadi semacam trauma. di buku 'bukan pasar malam' yg ditulis sbg kenangan saat terakhir ayahnya, pram memberi gambaran yg jauh berbeda. disitu si aku, dalam cerita tsb, adalah seorang anak yg sepenuhnya menunjukan darma bakti, perhatian kepada orang tua, disaat-saat akhir hayat. sosok ayah yg sempat mengalami gejolak kejiwaan hebat oleh sebab kekecewaan thd perjuangan, kemiskinan, tergambar jelas. jika ia pejuang pendidikan di masa lalu, kenapa ia hanyut terseret cara hidup malam -judi- sedemikian jauh. namun itu gambaran subyektif dan lahiriah dari sebuah cerita, yg belum tentu menyatakan sebenarnya.. di catatan koesalah ini, 'misteri' itu terkuak.
ayah pram dalam benak koesalah memandang anak2nya, khususnya pram, inferior. disebutkan, ayahnnya tidak pernah bicara dng anak2nya dan mengangap Pram bodoh. ketika pram menyampaikan khabar baik kelulusannya, ayahnya menghardik pram "anak goblok, sana kembali.." maksudnya, pram diminta kembali ke sekolah lagi, mengulang.
pram memang mengaku bodoh. untuk jenjang pendidikan SD saja ia tempuh selama 10 tahun.
namun demikian, gurunya, bernama pak Amir, menyatakan " kamu itu sudah tamat. jadi tidak perlu lagi kamu belajar disini".
dng perasaan yg tercabik-cabik, amarah, dendam pram menangis di kuburan yg tak jauh dari sekolahnya. pengalaman itu membekas.
atas ajakan ibunya, ia diminta bekerja di sawah, menebas padi (ngoyang). dari pekerjaan itu ia bisa melanjutkan sekolah ke surabaya, di sekolah teknik radio. jepang datang, pram melarikan diri. sekolah tidak tamat. tidak mendapat ijasah. ia pulang, melaporkan kepada ayahnya dan mendapat jawaban ketus
" ah, tahu apa kamu..."
selanjutnya, pram hidup dalam dendam-tekad untuk mengalahkan keberhasilan ayahnya.
gambaran yg kontras ia tuliskan ketika pram meninggalkan jawa, menuju p. buru sebagai pesakitan. luapan emosional perhatiannya kepada anak perempuan sulungnya, begitu hidup dan kontras dng masa lalunya.
pram -dari catatan buku tsb- tampaknya seorang yg temperamental, emosional, pendendam namun juga sangat perhatian dan humanis kepada mereka yg tersisihkan. ia tak segan2 melepaskan uang receh terakhirnya untuk orang yg lebih membutuhkan. ia tampak bukan orang bisa berhitung dagang, terhadap orang lain dan terutama terhadap diri sendiri. perhatian thd adik2nya, dimana ia paling dituakan dan menjadi pengganti ayahnya, adalah perhatian seorang yg bertanggungjawab. namun dmk, ia tetap sosok yg aneh dan 'kurang bersahabat' dng hal-hal yg tidak bisa ia tolerir. melankolik berat adalah gambaran temperamen yg tepat dan tampaknya, mungkinkah itu modal besar seorang seniman. menjadi aneh dan berbeda dari yg lainnya ? :)
tentunya, kita sepakat. kehidupan yg pram lalui. baik di tengah keluarga maupun kehidupan selanjutnya yg senantiasa berada ditengah pusaran konflik sejarah, mmg unik. tidak jepang, tidak belanda, tidak indonesia, pram selalu berada dalam posisi yg berhadapan dng kekuasaan.
buku ini saya selesaikan th 2009. sumbangan yg berharga utk memahami seniman besar yg mengharumkan nama indonesia, pram bener2 melebihi prestasi bapaknya, yg tidak pernah mengajaknya bicara, selalu menganggapnya bodoh dan dianggap tidak tahu apa2.