“Apa benar kamu tidak bisa baca?” Seketika itu juga wajah Sam Di Gi memerah. Dia terlihat ragu, tak bisa menjawab pertanyaan Bo Ra. “Benarkah itu?” Bo Ra sekali lagi bertanya dengan nada tidak percaya. “Justru karena itulah dia disebut si Buta Huruf.” Hyun Jin mengungkapkan hal itu tanpa menghiraukan perasaan Sam Di Gi. “Benar. Kenapa memangnya? Kamu mau apa?” Sam Di Gi sangat emosi hingga tidak sadar dia membanting buku dongeng yang dibaca Hyun Jin ke lantai. Dia tidak marah pada buku itu. Dia hanya tidak mengerti, mengapa dirinya beda dari yang lainnya.
Tokoh Bo Ra menyindir, bagaimana pengajar seringkali melewatkan hal-hal kecil keberhasilan seorang anak. Ceritanya sederhana tapi "membuka mata" bagi orang dewasa, bahwa prestasi anak sekecil apapun sangat patut untuk dihargai.
Sam Di Gi, merupakan sebuah buku anak terjemahan yang ditulis oleh penulis asal negeri ginseng. Buku ini menceritakan tentang seorang anak yang belum memiliki kemampuan membaca dan hanya tinggal bersama seorang nenek yang juga tidak memiliki keterampilan membaca yang dapat beliau ajarkan kepada sang cucu yang dipanggilnya Sam Di Gi. Jujur saja, ketika membaca awal cerita ini, perasaan iba juga sedih langsung menguasai diri saya sehingga langsung menangis karena kehidupan Sam Di Gi.
Permasalahan yang ditampilkan dalam buku ini juga tidak membuat perasaan sedih itu hilang. Mendapat ejekan, perlakuan tidak menyenangkan dari teman sebaya, bahkan dari guru yang notabene adalah sosok yang mengajari anak-anak di sekolah membuat saya berpikir jika kehidupan masa anak-anak pun terkadang menjadi berat karena belum memiliki keterampilan yang memadai yang mungkin idealnya dikuasai oleh anak seusia Sam Di Gi
Sosok teman baru yang memberikan semangat Sam Di Gi menjadi bagian yang menghangatkan hati sekaligus mengubah perasaan saya ketika membaca kisahnya sampai dengan akhir.
Ilustrasinya ciamik dengan bahasa terjemahan yang cukup singkat namun mudah dicerna pembaca
Meskipun cerita anak-anak, saya merasa kisah ini patut pula dibaca oleh pembaca dewasa, karena tidak sekadar memberikan pandangan bahwa penting untuk memberikan bimbingan terhadap anak untuk mencintai dan menyenangi kegiatan membaca, tetapi juga memandang anak-anak memiliki potensi luar biasa ketika mereka dapat menemukan sosok yang dapat memberikan dukungan,semangat, dan figur yang dapat mereka contoh yang mana dalam hal ini berkaitan dengan membangun kebiasaan membaca.
Saat Sam Di Gi membacakan buku dongeng untuk Nenek, malah keinget pas Danesh menceritakan ulang buku kesayangannya. Tentu saja dengan gaya bahasanya dia sendiri.
Buku yg mengajarkan pentingnya peran keluarga di rumah dan sekolah dalam mencerdaskan seorang anak *Pe-eR..Pe-eR...*
Heartwarming^^ Seneng banget sama buku anak yang bener-bener edukatif kayak gini. Selain buku anak yang ngehibur dan berisi pelajaran tentang kebaikan, empati, serta saling menolong, buku ini juga mempromosiin tentang semangat literasi.
Ilustrasinya juga hangat dan soft. Kalo ini buku Indonesai mungkin akan lebih terasa di hati masyarakat dengan dialek dan tempat tinggalnya.
Baca buku kok jadi teringat sebuah negeri yang memiliki 17.000 pulau di khatulistiwa (tebaak!), yang masih sering terdengar kisah-kisah sejenis ini. Kisah tentang anak yang memiliki kekurangan di sekolah dan dirisak oleh teman-temannya. Kisah tentang pendidik yang kurang memahami anak didiknya.
Anak yang dirisak itu adalah Sam Di Gi. Nama aslinya Um Sam Deok, tapi sejak kecil sang nenek memanggilnya Sam Di Gi. Di usia yang mestinya sudah bisa membaca, Sam Di Gi belum bisa. Teman-temannya mengejek, membuat Sam Di Gi marah dan mengganggu teman-temannya. Karena ulahnya tersebut, teman-teman Sam Di Gi menjauhinya. Untunglah ada Yeon Bo Ra, siswi baru yang suka membaca. Bo Ra membantu Sam Di Gi agar bisa membaca. Hiks, terharu dengan keuletan Bo Ra menolong Sam Di Gi agar bisa membaca. Sindiran untuk pendidik yang kadang kurang memahami & kurang telaten menangani anak seperti Sam Di Gi.
Sam Di Gi tidak bisa membaca. Sejak kecil dia ditinggal ayahnya yang meninggal dunia karena penyakit yang mematikan. Ibunya kabur meninggalkan Sam Di Gi yang lalu dirawat oleh neneknya. Nenek Sam Di Gi sangat menyayanginya, namun tidak mampu menyekolahkannya di TK. Nenek juga tidak bisa membaca.
Saat Sam Di Gi masuk SD, semua teman-temannya tahu kalau dia tuna aksara dan memanggilnya Sam Di Gi si Buta Huruf. Hal itu membuatnya kesal dan akhirnya Sam Di Gi marah dan mengganggu teman-temannya. Sam Di Gi pun dijauhi oleh teman sekelasnya, dan tidak ada yang mau duduk sebangku dengannya.
Suatu hari, datanglah seorang anak baru bernama Yeon Bo Ra. Anak perempuan ini sangat suka membaca, dan merasa heran saat tahu Sam Di Gi tidak bisa membaca. Namun tidak seperti teman-teman lain yang mengejek Sam Di Gi, Bo Ra membawakan buku cerita untuk dibacakan kepada Sam Di Gi. Setiap hari mereka membaca buku bersama. Bo Ra membaca, Sam Di Gi mengikutinya. Sepulang sekolah, Sam Di Gi akan membacakan buku yang dipinjamkan Bo Ra kepada neneknya.
Nenek sangat senang Sam Di Gi dapat membacakan cerita untuknya. Meski pun pada awalnya Sam Di Gi hanya menebak gambar jika dia lupa pada cerita yang dibacakan Bo Ra. Lama kelamaan, Sam Di Gi mulai mengenal huruf.
Saat pembagian hasil ujian dikte di pelajaran menulis, Sam Di Gi merasakan dadanya berdebar. Tapi ketua kelas Hyun Jin berkata bahwa dilihat atau tidak, nilai Sam Di Gi pasti nol. Hal tersebut membuat Sam Di Gi lesu dan tidak lagi bersemangat menerima hasil testnya. Bo Ra menghampirinya dan melihat hasil test dikte Sam Di Gi. Dan apakah yang dilihatnya? Penasaran, kan?
Sam Di Gi ini adalah kisah kesayangan anak Korea yang telah dicetak sebanyak 100 kali dan disukai ribuan pembaca. Dengan bahasa yang sederhana dan ilustrasi yang menarik, membuat novel dalam serial KNovel ini sangat disukai sepanjang masa.
Melalui buku ini kita diajak untuk menempatkan diri sebagai seorang anak laki laki 9 tahun, kelas 2 Sd bernama Sam Di Gi. Sam Di Gi hanya tinggal berdua dengan neneknya setelah ayah nya meninggal pada usia Sam Di Gi tiga tahun dan ibunya yang pergi menghilang. Dia belum bisa membaca sehingga teman-temannya menjulukinya Sam Di Gi si Buta Huruf.
Sungguh hal menyedihkan sekali anak anak ini mencirikan bullyan terhadap anak murid lain yaitu Sam Di Gi dan murid perempuan pindahan yaitu Yeon Bo Ra. Mengatakan Yeon Bo Ra anak kampung, Sam Di Gi si buta huruf, memojokan tempat duduk Sam Di Gi dll.
Teman-temannya memandang rendah, membuly dan mengabaikan Sam Di Gi karena belum bisa membaca walaupun itu bukanlah kesalahan Sam Di Gi, Sam Di Gi cenderung melawan dengan kasar.
Saat mengetahui Sam Di Gi yang tidak bisa membaca, selama satu bulan Yeon Bo Ra murid perempuan pindahan membacakan buku dongeng kepada Sam Di Gi dan dia hanya mendengarkan, buku yang dibacakan lalu dibacakan kembali oleh Sam Di Gi kepada neneknya dirumah walaupun dia hanya menebak-nebak ceritanya dengan gambar di buku tersebut. Neneknya sangat bangga apapun yang Sam Di Gi lakukan.
Pada saat pembagian nilai ujian dikte, Yeon Bo Ra menyadari bahwa kalimat yang di buat Sam Di Gi cukup benar walaupun ada beberapa kata yang salah, dia menulis angka 10 didepan angka 0. Lalu ibu guru menyuruh Sam Di Gi untuk membaca buku, pada satu bagian buku Sam Di Gi berhasil membaca walaupun dengan bantuan teman-teman nya membisikkan dengan pelan kata yang susah; Disaat Sam Di Gi membaca buku seolah semua anak menjadi diri Sam Di Gi.
●Gurunya tidak menghargai dan menilai kemampuan Sam Di Gi ●Guru pengganti yang mengetahui Sam Di Gi belum bisa membaca malah menjewer telinga Sam Di Gi
"Baiklah kalau buku ini tidak menarik, aku akan bawakan buku lain" "Sam Di Gi bacalah buku ini, kamu pasti suka." "Bagus sekali. Hari ini, aku membaca buku dongeng anak yang lain. Mungkin yang ini juga akan menarik." - Bo Ra
"Kenapa sih kamu malah bicara begitu? Melihatmu begitu Hyun Jin, kamu benar benar tidak sopan" "Kalian jangan lagi mengejek Sam Di Gi dengan kata-kata si buta huruf" -Yeon Bo Ra.
Wah, buku setebal 96 halaman ini mampu membuat mata saya berkaca-kaca. Benar ceritanya bisa menghangatkan hati. Keren banget perpustakaan daerah saya bisa punya buku bagus seperti ini.
Sekilas ceritanya memang cerita anak-anak, tapi sepertinya orang dewasa---terutama para guru, cocok membaca buku ini.
Seperti judulnya, buku ini menceritakan tentang seorang anak berusia 9 tahun bernama Sam Di Gi yang tidak bisa membaca. Padahal anak-anak seusianya seharusnya sudah lancar membaca.
Karena tidak bisa membaca, Sam Di Gi jadi tidak bisa mengikuti pelajaran di kelas. Karena tidak bisa mengikuti pelajaran di kelas, Sam Di Gi pun melakukan kegiatan lain, yang cenderung membuatnya menjadi seperti anak nakal yang selalu membuat ulah.
Sampai seorang murid baru bernama Yeon Bo Ra datang. Bo Ra akhirnya membuka mata guru dan teman-temannya bahwa Sam Di Gi sebenarnya anak yang baik. Bahwa Sam Di Gi tidak akan membuat ulah kalau saja dia bisa membaca. Dan untuk bisa membaca, maka Sam Di Gi harus ... , yah, silakan baca sendiri kisahnya ^^.
At last, ceritanya bagus sekali kalau menurut saya. Saya hanya tidak mengerti kenapa nenek Sam Di Gi memanggil cucunya dengan nama Sam Di Gi, bukan Um Sam Deok seperti yang seharusnya. So, 4 dari 5 bintang untuk buku ini. I really liked it.
Meski sudah kelas 2, Sam Di Gi masih belum bisa membaca, kedua orang tuanya sudah tidak ada dan dia tinggal bersama neneknya yang juga buta huruf. Di kelas Sam Di Gi terus membuat keributan, menganggu teman sebangkunya dan membuat guru kewalahan.
Suatu hari ada murid baru bernama Bora, ia seperti anak perempuan yang pintar. Ketika mengetahui Sam Di Gi tidak bisa membaca. Ia berusaha mengajak Sam Di Gi untuk belajar membaca dengan memperkenalkan buku dongeng yang bagus. Namun Sam Di Gi malah marah, terlebih ketika anak-anak lain memanggilnya Si Buta Huruf.
Kegigihan Bora, bagaimana ia dengan sabar agar minat belajar Sam Di Gi tumbuh, sifatnya yang selalu positif dan cara pandanganya terhadap nilai ujian dikte Sam Di Gi patut dicontoh semua guru.
"Nenek tidak pernah tahu kalau buku cerita itu begitu menarik. Nenek pun sepertinya harus belajar huruf padamu."
Aku tiba-tiba tersenyum saat membaca kalimat itu, aku suka endingnya, ditutup dengan sangat manis. Ini cerita bergambar yang ringan, amanat yang disampaikan juga sangat bagus dan jelas.
3.5/5 ⭐
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sam Di Gi sudah tak punya orang tua. Dia tinggal dengan neneknya yang berusia 70 tahun dan tak bisa membaca. Dia memiliki sifat-sifat baik, namun semua itu pupus karena Sam Di Gi tak bisa membaca. Sam Di Gi hanya dikenal sebagai anak yang nakal dan bodoh. Suatu hari ada seorang anak pindahan benama Yeon Bo Ra duduk di sebelahnya. Bo Ra yang dengan sabar dan tak putus asa mengajak Di Gi membaca buku cerita. Bagus sekali ceritanya. Penuh haru biru dan membuat kita bertanya : apakah aku pernah menjadi Sam Di Gi? Atau seperti Hyun Jin yang menghina dan memojokkan teman? Atau seperti Bo Ra yang mau berbagi kebaikan?
Menghangatkan hati 🤍🤍🤍 Bercerita ttg seorang anak yg msh belum bisa baca walau udh duduk di kelas 2, dia gt krn emg situasinya yg memprihatinkan, tp orang2 disekitarnya gak bersimpati dan gak mau mahamin situasi sam digi, cuma ada satu anak baru yg mau mengajak sam digi membaca buku dongeng shg perlahan Sam digi akhirnya bisa baca walau sedikit sedikit.
Buku ini mengingatkan untuk selalu membantu orang lain dan jawabannya adalah memberi dukungan yg suportif bukan pengucilan dan sindiran, dan bahwa sifat anak anak emg gampang terpengaruh oleh lingkungan sekitar mereka, makanya sebisa mungkin jaga kelakuan di depan anak-anak, krn anak2 gampang meniru.
Terharu banget sama si Bo Ra, yang gigih ngajarin Sam Di Gi. Kejadian ini sepertinya juga banyak terjadi di sekolah negeri yang muridnya sangat banyak dibandingkan sekolah swasta. Tidak semua anak mendapatkan perhatian yang sama dari guru. Akhirnya terjadilah apa yang sering dilabeli anak bodoh, anak malas, bahkan anak bandel. Seandainya tidak ada Bo Ra, bisa saja Sam Di Gi akan jadi anak yang seperti itu. Padahal pada dasarnya dia anak yang baik.
Bagus buat menanamkan nilai kebaikan pada anak atau pun peserta didik, agar kekurangan teman bukan untuk dihina atau pun dibully. Justru kelebihan pada diri bisa diajak untuk membantu teman berlatih.
Jujur aku kesel sama gurunya yg cuma bisa ngeluh tapi nda mau mengajarkan si muridnya cara membaca 😏
Cerita singkat tentang seorang anak bernama Sam Di Gi yang belum bisa membaca dan hanya tinggal bersama neneknya yang buta huruf sehingga tidak bisa membantu ia belajar. Karena tidak bisa membaca, Sam Di Gi sering diejek dan direndahkan teman-temannya, Lalu datang murid baru bernama Yeon Bo Ra yang tidak menyerah membantu Sam Di Gi belajar membaca, Buku dengan ilustrasi cantik ini cocok dibaca semua kalangan, orang tua, remaja, terutama anak-anak dan tenaga pendidik, ceritanya dekat dengan kehidupan sehari-hari, mudah dipahami, bisa dibaca sekali duduk, heartwarming dan sarat makna.
Dari sosok Bo Ra kita belajar mengasihi teman kita yang punya kekurangan, membantu mereka bangkit dan mendukung setiap usahanya.
--- Sam Di Gi : Bocah yang Tak Bisa Membaca --- Plot: Realistis di banyak sisi. Penokohan: Seperti yang telah dituliskan diatas. Gaya bercerita: Ok.
Sebenarnya saya sudah takut-takut membaca ini jika mengingat komentar teman saya. Beragam dugaan muncul di benak saya; dan semuanya dugaan yang menakutkan. Tapi ternyata toh saya tetap bisa menikmati buku ini (haha)^^. Buku ini bercerita mengenai seorang anak tuna-aksara. Bagaimana kerasnya sekelilingmu disaat kau tidak dapat membaca huruf? Tatapan miring dan cemohan mungkin akan sering terdengar, dan hal itu diaduk dalam buku ini.
Menurutku, tema buku ini agaknya terlalu berat untuk anak-anak. Ini mengingatkanku dengan buku novel anak dari Barat sana yang saya baca dulu-dulu. Tapi karena buku ini dipenuhi gambar dan warna yang menyenangkan, kurasa anak-anak pasti bisa menikmati buku ini sambil menyerap pesan moral yang diteriakkan buku ini.
Di satu sisi, saya senang dengan kerasnya penceritaannya dan saya menaruh simpati pada tokoh utama. Syukurlah makin kebelakang, suasananya sudah makin ringan berkat tokoh anak gadis itu. Disisi lain, endingnya itu ala film Ghibli kebanyakan ya (dalam satu dua judul tertentu). Ada yang bisa menangkap maksudku (haha)? [7.8/10]
Aku kurang bisa menikmati gambarnya... orz Dan kisahnya itu...agak bikin kesal (; ̄Д ̄) dan ending-nya dibiarkan begitu saja~
Paling nggak 2 ☆ ini karena ngertilah maksudnya si penulis, bahwa pesan moralnya itu: jangan menghina orang lain karena kita sendiri sering berlaku hina ─=≡Σ((( つ≧▽≦)つ//eh.bukan.yah XDD
Manis, hangat, dan menggugah. Saya pikir ini penting dibaca oleh anak-anak agar mereka terbiasa untuk menghargai orang lain sejak dini. Juga penting dibaca bagi pengajar agar mampu mengapresiasi kemampuan siswa tanpa terlalu terpaku dengan standar nilai.
Pernahkah kamu mendapat pengalaman tidak menyenangkan di sekolah saat kecil? Bagaimana perasaanmu jika di sekolah kamu selalu menjadi bahan cemooh teman sekelas karena sesuatu yang menjadi kekuranganmu?
Hal itulah yang dialami Um Sam Deok, yang lebih senang disebut Sam Di Gi. Sam Di Gi sebenarnya adalah anak yang baik dan lucu. Hanya saja dia belum bisa membaca, suatu hal yang tidak lazim bagi siswa yang sudah duduk di kelas dua SD. Hal itu membuat Sam Di Gi kerap dipermalukan oleh guru kelasnya yang sudah angkat tangan dalam mengajar Sam Di Gi membaca. Tidak hanya itu, teman-temannya juga kerap mengejek Sam Di Gi. Bukan saja karena kemampuan membaca yang berbeda dari teman-temannya, tapi juga karena penampilan Sam Di Gi yang lusuh.
Sam Di Gi memang berasal dari keluarga sederhana. Ia hanya tinggal berdua dengan neneknya yang sudah renta dan buta huruf. Ayahnya sudah lama meninggal dan ibunya meninggalkan Sam Di Gi saat masih kecil. Praktis, tidak ada yang membantunya belajar membaca ketika di rumah, dan Sam Di Gi jadi kesulitan mengikuti pelajaran membaca di sekolah. Rasa malu akibat perlakuan teman-teman dan ketidakmampuan dalam membaca membuat Sam Di Gi malu dan marah. Ia kerap membalas teman-teman yang mengejeknya. Dari situlah ia dikucilkan dan dianggap sebagai pembuat onar. Dapatkah Sam Di Gi membaca pada akhirnya? Adakah teman yang dapat memahami dan mau membantunya belajar membaca?
Mengikuti kisah Sam Di Gi, Bocah yang Tak Bisa Membaca membuatku tercenung dan sejenak kembali pada masa kecil. Saat kita masih duduk di bangku sekolah dasar, pasti ada saja teman kita yang kerap diomeli atau dipermalukan karena tidak menguasai pelajaran. Ada juga teman yang kerap berbuat jahil dan mengganggu teman sekelas lainnya. Mungkin saat kecil kita menganggap anak-anak itu pengganggu atau bahan lelucon, tapi bisa jadi mereka melakukan hal-hal itu karena berbagai alasan yang tidak pernah mereka ceritakan. Siapa tahu di balik itu semua, mereka adalah anak yang butuh bantuan, atau justru anak yang menyenangkan bagi keluarganya, seperti halnya Sam Di Gi yang sangat perhatian dan kerap menghibur neneknya. Novel anak Korea ini memiliki cerita yang sederhana, namun menurutku maknanya begitu dalam. Kita sebagai pembaca seakan diingatkan untuk saling menghargai sesama dan tidak menjadikan kekurangan fisik atau mental seseorang sebagai bahan cemooh. Justru kita harus berusaha untuk lebih menerima dan membantu ketika mereka memerlukan.
Buku ini mengisahkan tentang Sam Di Gi, seorang anak laki-laki kelas 2 SD, belum memiliki kemampuan agar dirinya bisa membaca seperti teman yang lain. Ia dijadikan oleh teman-temannya sebagai bahan mengolok olok, akibat keadaannya. Bahkan, seorang guru merasa heran, pada Sam Di Gi yang tidak bisa membaca buku, diusianya sekarang ini.
Ayahnya telah meninggal. Ibunya pergi entah ke mana. Tinggallah Sam Di Gi bersama neneknya.
Berbeda dengan guru dan teman-temannya, neneknya sangat menyayangi Sam Di Gi. Berkali-kali ia menyebut Sam Di Gi “anak pintar”, walaupun ia tahu bahwa Sam Di Gi belum bisa membaca.
Keadaan kelasnya berubah ketika datang seorang murid baru yang cerdas, Yeon Bo Ra. Bo Ra merupakan anak perempuan yang disebut anak kampung oleh teman-temannya, karena berasal dari provinsi yang jauh. Terlepas dari itu semua, ia anak yang cerdas dan gemar membaca.
Mengetahui Sam Di Gi belum bisa membaca, ia berinisiatif untuk membawakan Sam Di Gi buku cerita dan membacakannya. Awalnya Sam Di Gi menolak. Lama kelamaan, Sam Di Gi membawa buku tersebut dan membacakannya untuk sang Nenek, walaupun pada akhirnya ia terpaksa harus mengarang cerita di depan neneknya karena belum bisa membaca.
Setelah kejadian itu, Bo Ra selalu membela Sam Di Gi. Misalnya, saat pelajaran dikte. Awalnya, Sam Di Gi selalu mendapatkan nilai nol di pelajaran tersebut. Belakangan Bo Ra membelanya dengan mengatakan pada gurunya untuk memberi nilai pada Sam Di Gi, setidaknya karena ada beberapa huruf yang benar, meskipun bukan kata atau kalimat utuh.
Berkat kegigihan Bo Ra mengajarkan Sam Di Gi, lambat laun akhirnya ia bisa membaca. Teman-teman dan gurunya pun mengapresiasi Sam Di Gi.
Cerita yang sederhana, tapi ada banyak makna yang bisa kita ambil. Pertama, karakter Bo Ra menampar kita yang sering kali melewatkan keberhasilan kecil seseorang. Small progress is still progress.
Kedua, kenyataannya, memang, tak semua anak mendapat perhatian yang sama. Meskipun dalam kasus ini Sam Di Gi juga mengikuti salah satu kelas khusus, tetapi acapkali sang guru tidak sabar untuk mengajari anak tersebut.
Ketiga, setiap orang perlu diberi kepercayaan. Seperti Bo Ra yang tak lelah percaya bahwa Sam Di Gi akan bisa membaca, seperti itu pulalah kepercayaan diri Sam Di Gi tumbuh.
Um Sam Deok, sejak kecil dipanggil Sam digi oleh nenek yang merawatnya. Ayahnya meninggal saat dia masih kecil, ibunya yang konon sedang bekerja tak pernah kembali. Sam digi besar dan tumbuh bersama nenek tau buta aksara. Hal itu membuat Sam Digi yang duduk di kelas 2 belum bisa membaca sama sekali.
Sam Digi mengalami masa-masa yang buruk: diejek, dirisak, dikucilkan. Belum lagi guru pembimbingnya di kelas kurang memahami dirinya dan tidak mencoba memahami. Sam Digi pun mendapat perlakuan kurang tepat.
Buku ini membuatku berkaca-kaca, sangat menginspirasi. Tidak hanya menyuguhkan situasi bagaimana manghadapi anak-anak seperti Sam Digi, tetapi juga menyadarkan cara mamandang kenakalan Sam Digi dari sudut yang berbeda.
Yeon Bo Ra, gadis perempuan yang baru pindah sekolah datang menawarkan sebuah pertemanan yang manis dan tulus. Dengan ketelatenan yang dimiliki, penolakan tidak berarti. Pertemanan mereka pun perlahan menghangat, tumbuah, dan berkembang menular ke teman-teman yang lain. Kegigihan Sam Digi memberikanku kekaguman dalam bentuk lain. Dia berhasil meruntuhkan egonya dan menerima Yeon Bo Ra sebagai teman dan mentor terbaiknya. Aku paling suka bagian endingnya!
Ya, sesuai dengan judulnya, buku ini berkisah tentang Sam Di Gi, bocah kelas 2 SD yg gak bisa baca. Gimana bisa? Ya, dia cuma tinggal sama neneknya yg juga buta huruf. Karena gak bisa baca itu dia di-bully sama temen2 kelasnya yg ngebikin dia jadi anak yg 'kasar' sampe gurunya pun kewalahan ngadepin dia.
Sampai suatu ketika, datanglah seorang murid pindahan, Yeon Bo Ra namanya. Setelah menyadari kalau Sam Di Gi gak bisa baca, dia gigih banget tuh ngajarin Sam baca, tiap hari bacain dongeng pas jam istirahat. Apakah sikap baiknya disambut baik oleh Sam Di Gi? Apakah Bo Ra berhasil mengubah Sam Di Gi?
Ini buku untuk anak-anak, tapi pesannya ngena bgt buat aku. Dari buku ini, aku makin sadar kalau semua anak itu unik. Keunikannya bisa dilihat dari kemampuan, cara belajar, dan hal-hal yang mampu menarik perhatiannya. Meski dalam satu kelompok belajar yg sama, mempelajari sesuatu dg cara yg sama, mereka tetap unik karena punya pola perkembangan yg berbeda. Ada yg gampang ngerti, ada yg susah ngerti. Kalau anak gak ngerti2 jangan emosi ya, Ayah & Bunda biar anak gak ikutan emosi wkwkwk.
PR kita: kenali anak, kenali kebutuhannya, cari metode belajar yg tepat. Juga, jangan lupa untuk mengapresiasi anak, segimana pun hasilnya.
Btw, berlaku juga di setiap lini kehidupan, di lingkungan mana pun kau berada. Kalau temenmu lemot, jangan dibully! Kalau bawahanmu susah ngerti, bimbing dia biar jd hebat kaya kamu!
Membaca kisah Sam Di Gi kembali mengingatkan saya pada masa kecil, ketika baru mulai menginjak Sekolah Dasar dan masih menemui kesulitan dalam mengeja. Seperti jiwa anak kecil lainnya, yang kadang merasa masa bodoh, tetapi di sisi lain juga ada rasa cemas dan malu akan ketertinggalan oleh teman-teman.
Novel anak ini merupakan bacaan yang ringan, dengan ilustrasi yang turut memberi gambaran, dan cukup tepat menjadi inspirasi untuk diceritakan kepada anak yang mungkin mengalami masalah serupa seperti Sam Di Gi. Kehadiran Yeon Bo Ra, teman baru yang perhatian dan giat membantu Sam Di Gi, dapat menjadi contoh positif dan tanpa disadari memberi solusi terbaik untuk mengajak atau menarik minat anak untuk belajar membaca.
Secara tidak langsung, melalui karakter Yeon Bo Ra, novel ini juga menyentil pentingnya mengembangkan rasa kepedulian, toleransi dan sikap apresiasi, terutama pada anak seperti Sam Di Gi. Bahwa sejatinya, karakter anak seperti Sam Di Gi tidak seharusnya dihakimi, melainkan harus dibantu dan didorong untuk maju dengan cara yang lebih sesuai, terutama dalam hal memberikan penghargaan pada tiap proses belajarnya.
sam di gi di kenal sebagai anak yang buta huruf, karena alasan itu dia di jauhi dan di jadikan bahan bulanan oleh teman-teman sekelasnya. padahal sam di gi tinggal seorang diri dengan neneknya yang sudah tua renta dan tidak bisa membaca, karena itulah tidak ada yang bisa mengajarinya membaca. sampai suatu saat datang lah bo ra, anak perempuan sederhana dari desa yang senang membacakan sam di gi buku dongeng dan tak pernah absen dalam memberikan motivasi kepada sam di gi.
bacaan ringan yang bisa selesai dalam sekali duduk karena cuma sekitar 100 halaman, bacanya juga memanjakan mata karena banyak ilustrasi cantik di dalamnya. masalah terjemahan juga oke sih, bacanya ngalir aja karena kosa katanya sederhana. mungkin karena ini buku dongeng kali ya, jadi biar bisa di pahami sama anak kecil. ceritanya juga banyak pesan moral, bisa jadi pilihan untuk bahan bacaan si kecil. terutama soal bullying dan kepedulian terhadap sesama, bisa di tekankan juga masalah passion setiap anak yang bisa berbeda-beda (well, kalau soal ini tergantung sudut pandang kalian sih) intinya, dongengnya bagus, baik secara alur dan ilustrasi.
lewat buku Sam Di Gi (Bocah yang tak bisa membaca) ini, kita akan diajak untuk merasakan bagaimana bila menjadi sam di gi, bocah yang sampai sd nya belum bisa baca tulis huruf. ia hidup bersama neneknya yang juga asing akan huruf. satu-satunya jalan ia belajar yaitu sekolah. tapi ternyata ia tertinggal dibanding teman2nya yg udah pada jago baca. katanya sih mereka udh jago sejak tk. sayangnya, sam di gi tdk punya privilege itu. sedih, ktk ia dipoyok oleh temen2nya, malah dijuluki "si buta huruf" atau "si aneh" juga gurunya yang tdk cukup considerate.
hingga tiba saatnya, bora si anak baru yang ceria dan rajin membaca ini terus memaksa sam di gi untuk membaca buku cerita miliknya. duh, gemes sih ktk bora excitedly told the stories she had read and when she handled the annoying classmates. yang namanya bora pinter2 ya 😂😂😂
kisah ini bikin aku hampir nangis pagi ini.
apakah bora berhasil membujuk sam di gi membaca buku2 cerita favoritnya? duh baca deh 💯
buku tipis sekitar 90an halaman ini juga diwarnai gambar2 yg bikin mata segar.
Cerita tentang persahabatan dan ketekunan. Dilengkapi dengan ilustrasi berwarna, buku ini asyik untuk dinikmati dan sangat menghangatkan hati.
Sam Di Gi, tinggal berdua dengan neneknya. Meski usianya sembilan tahun dan telah duduk di kelas 2 SD, Di Gi belum bisa membaca. Hal itu membuat ia sering menjadi bahan olok-olok temannya. Tak ingin menjadi bulan-bulanan, Sam Di Gi mempertahankan diri dengan berbagai cara yang diketahui anak kecil, diantaranya menjulurkan lidah, mendorong, menjauhkan diri dari teman-teman tanpa perlu diminta.
Ketika seorang murid baru, Yeon Bo Ra, datang ke kelasnya, Sam Di Gi belajar cara baru untuk mempertahankan diri. Bo Ra tak hanya menawarkan persahabatan, ia juga mengajarkan Sam Di Gi tentang ketulusan, ketekunan, dan sifat pantang menyerah.
Akhir ceritanya manis sekaliii! benar-benar menggambarkan bagaimana kebaikan dan ketekunan, pada akhirnya selalu berhasil mengalahkan kejahatan.
Salah satu alasan aku suka buku aneka genre dari aneka target umur adalah kadang kita bisa dapet satu dua ilmu hidup yang kadang dengan sejalannya waktu, kita lupakan. Buku ini mengenalkan kita pada Sam Di Gi, bocah kelas 2 SD yang belum bisa membaca dan jadi objek cemohan di sekolah. Yang bikin sedih tak cuma anak-anak, guru juga tampak tak perduli.
Walaupun buku ini kurang dari 100 halaman tapi sukses menggambarkan kendala kenapa anak ini belum bisa membaca. Dan mengadapi tekanan yang berat di sekolah membuat anak ini merespon dengan cara defensive dan kasar. Seorang anak baru membawa perubahan pada Sam Di Gi dengan persahabatan, cara belajar yang lebih efektif dan ketulusan untuk membantu.
Sebagai buku anak, cerita ini sederhana tapi menyentuh. Pembaca usia muda juga bisa mendapat banyak pesan moral tanpa merasa digurui. Ilustrasi penghias buku ini juga cantik dan membuat suasana baca jadi jauh lebih menyenangkan.
Buku ini mengajak kita untuk menyelami kisah Sam Di Gi, bocah aneh yang tidak bisa membaca. Permasalahan yg diangkat di buku ini bener2 relate sama kehidupan bermasyarakat, bahkan sampai sekarang. Karena latar tempatnya juga kebanyakan di sekolah, di mana aku juga berkecimpung di dunia itu, baca kisah Sam Di Gi sedikit banyak jadi mengingatkan aku dengan beberapa muridku, dan menyadari bagaimana baiknya menghadapi murid seperti Sam Di Gi.
Aku suka dengan endingnya, meski ga terlalu tuntas, tapi berhasil menempatkan Sam Di Gi di posisi yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan Sam Di Gi oleh Yeon Bo Ra bener2 bikin aku kagum dengan sosok Yeon Bo Ra!
Ilustrasi pendukungnya juga, meski fokusnya lebih ke ilustrasi tokoh, tapi ini bantu banget buat kita membayangkan latar yang ada dalam cerita.
Dari buku ini kita belajar untuk bisa memandang seseorang dengan penuh kasih sayang. Karena tentu, bukankan manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing?
Awal mula membaca cerita ini rasanya begitu perih. Sam Di Gi seorang bocah kelas 2 SD tidak bisa membaca. Ia hidup hanya dengan seorang nenek yang tidak bisa membaca pula. Saat usia 3 tahun ayahnya meninggal karena terkena penyakit yang mematikan, akhirnya ibunya yang menjadi tulang punggung hilang, yang akhirnya neneknya yang berusia 70 tahun merawat Sam Di Gi.
Untuk ukuran cerita anak yang dibaca oleh orang dewasa, ini sangat ringan, tetapi tidak kehilangan akan makna. Dengan ilustrasi yang menarik dan cerita tidak terlalu panjang, hal tersebut malah membuat buku ini sangat menarik untuk dibaca. Sayangnya, buku ini tidak ada tanda untuk usia berapa, yang tertera dalam sampul belakang buku ini hanya keterangan Novel Anak.