Genta terpaksa menutup usaha toko kaset miliknya karena perubahan zaman . Orang-orang mulai beralih mendengarkan musik dari kaset pita menjadi aplikasi siaran musik. Saat hendak membersihkan tokonya, tak sengaja dia menemukan radio antik milik Romonya. Siapa sangka jika radio antik tersebut mampu membawanya menuju portal masa lalu yang disebut Dunia Kaset? Lalu apa yang terjadi selama Genta berada di Dunia Kaset? Apakah dia bisa memperbaiki kesalahannya di masa lalu? Temukan kisah Genta dan orang-orang yang terhubung dalam portal Dunia Kaset.
Awalnya aku kira buku ini hanyalah buku romansa di mana sang tokoh utama kembali ke masa lalu untuk bertemu pujaan hatinya—mungkin ada janji yang belum ditepati, ada kenangan yang ingin diingat kembali, namun ternyata tidak demikian. Buku ini lebih ke slice of life dengan bumbu magical realism. Heartwarming <3
Berawal dari warisan toko kaset milik keluarga Genta yang terpaksa harus tutup karena sudah dimakan zaman, orang tak lagi mendengar musik melalui pita kaset, serta ada konstruksi mangkrak yang menghalangi orang-orang untuk datang lagi ke toko kasetnya, Genta menemukan portal menuju “Dunia Kaset”. Dunia yang bisa membawamu ke tahun yang kamu inginkan berdasarkan tahun terbit kaset yang kamu putar.
Premisnya benar-benar fresh. Unik. Aku suka dengan konsep Dunia Kaset. Pergi ke tahun 1995 ketika album Gigi - Nirwana diputar. Pergi ke tahun 1991 ketika album Guns N' Roses - Use Your Illusion I diputar. Konsepnya sangat menarik. Pilihan albumnya pun old skool vibe banget. Curiga aku dengan penulis satu selera nih musiknya, hehe.
Tapi, ada beberapa catatan aku: 1. Mengapa setiap ke masa lalu, orang yang di masa lalu tuh selalu nggak kenal dengan orang yang dari masa depan? Apa setua itu mukanya sampai nggak dikenali lagi? Dari suaranya dan gerak-gerik juga? 2. Hubungan Irwan dan Fiona itu untuk apa? Aku nggak melihat urgensi dari mereka berdua dilibatkan dalam Dunia Kaset. Mana perasaannya escalated quickly banget. Terus pas Irwan ketemu lagi Fiona, dia bilang, “Semangat memasuki masa kuliah.” Kok Irwan di masa sekarang tahu Fiona mau kuliah? Karena nggak dijelasin detail ngobrol apa aja selama di bis. 3. Bukunya terlalu tipis. Nggak apa-apa sih kalau memang meng-cover semua cerita. Tapi, sayangnya, masih banyak yang ngeganjel. Kayak ini tuh belum selesai, ini tuh kecepatan fasenya. Sebab pusaran konfliknya banyak banget. Ada Genta, Fiona, Audena, belum lagi Melati juga ikutan.
Meskipun demikian buku ini tetap aku sukai karena premis dan ide ceritanya. Ada beberapa scene yang bikin ku mrebes mili, salah satunya saat Audena ingin ketemu [..]. Lalu, makan bareng, ngobrol, dan menghabiskan waktu bersama dia. Cry me a river!! Sebagai karya debut ini udah solid kok dan aku cukup menikmati membaca buku ini.
❝Padahal semua yang kulihat di Dunia Kaset adalah kejadian masa lalu, tapi entah kenapa semua tampak seperti baru terjadi. Aku menyaksikan kesedihanku dua kali.❞
actual rating: 3.5/5
Sering dikelilingi oleh J-Lit dan K-Lit bergenre magical realism dengan latar pertokoan justru membuatku semakin antusias ketika ada penulis Indonesia yang menghadirkan kisah serupa. Sebab, penggambaran suasana yang digunakan tentunya akan terasa lebih dekat.
Cassettes Rewind melihat potensi tersebut dengan mengajak pembaca bernostalgia bersama lagu-lagu lawas musisi Indonesia yang tak lekang oleh waktu; Chrisye, Vina Panduwinata, Gigi—meski saat ini kita mendengarkannya lewat platform streaming, bukan lagi melalui kaset dan radio yang dulu pernah populer.
Pergeseran era dan trend dalam menikmati musik membuat Genta menyaksikan sendiri keruntuhan Fore Cassettes, bisnis keluarganya yang pernah menjadi toko kaset terbesar di Surabaya pada masa jayanya di 1970an hingga tahun milenium. Ketika hendak menutup toko, Genta justru menemukan rahasia tersembunyi; radio tua yang membuka jalan ke Dunia Kaset menuju perjalanan lintas waktu ke masa lalu.
Tiketnya adalah kaset yang diputar melalui radio tape setelah menyalakan Radio Tombstone. Tahun tujuan akan mengikuti tahun rilis kaset—cukup membayangkan momen spesifik di tahun tersebut yang ingin dikunjungi. Durasinya hanya sampai lagu terakhir berakhir, dan tentu saja masa lalu tidak akan berubah, apa pun yang dilakukan—serta siapa pun yang berusaha diselamatkan.
Segala syarat dan ketentuan Dunia Kaset ditulis dengan detail dan terperinci, yang sayangnya menurutku sebenarnya bisa disajikan dengan lebih ringkas sehingga lebih mudah dipahami oleh pembaca. Jujur saja, aku tidak cukup membacanya sekali dan baru bisa memahami beberapa poin sambil jalan. Namun yang aku suka, syarat ini tidak dijabarkan berulang setiap kali ada orang baru yang ingin pergi ke masa lalu. Hanya guncangan dan denging radio antik saja yang menandakan perpindahan waktu ke Dunia Kaset.
Genta, Fiona, Audena, dan Melati dengan kaset pilihan yang membawa mereka kembali ke masa lalu. Hal yang kusukai dari perjalanan lintas waktu ini adalah areanya nggak terbatas di dalam Fore Cassettes saja. Mereka bisa pergi ke mana pun asalkan kembali ke toko ketika lagu terakhir selesai.
Penulis berhasil membuatku merasakan perasaan sedih dan ketidakberdayaan para tokoh karena tidak bisa menyelamatkan orang yang mereka sayangi. Ini membuatku berefleksi, apakah jika punya kesempatan, aku juga akan kembali ke masa lalu dengan konsekuensi harus merasakan duka yang sama untuk kedua kalinya?
Aku tidak menduga akan ada unsur romansa yang disisipkan. Yang cukup mengganggu dan tidak kutemukan urgensinya adalah antara Fiona dan Irwan yang hanya bersama beberapa menit saja di masa lalu. Padahal sebelumnya Fiona digambarkan kesal dan enggan, tetapi dirinya berakhir mengakui bahwa Irwan menarik dan meneteskan air mata karena harus berpisah.
Lewat Cassettes Rewind, kita diingatkan bahwa life goes on. Kehidupan terus berlanjut. Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi kita masih dapat mengubah hidup menjadi lebih baik lagi berdasarkan pilihan kita hari ini.
Sebagai novel debut, Cassettes Rewind bisa membuatku menantikan karya Elsinna Widy ke depannya. Memang ada beberapa bagian yang dapat ditulis dengan lebih baik lagi, tapi idenya yang fresh dan keputusannya menulis novel magical realism dengan tema time travel bernuansa nostalgia membuatku penasaran kisah apa lagi yang akan ditulisnya pada karya selanjutnya.
"Jika mendengarkan lagu bisa membawamu pada memori yang pernah terjadi, maukah kamu mendengarkan lagu itu lagi melalui kaset pita dan radio? Jika iya, coba pejamkan matamu dan bayangkan. Lagu dari kaset mana yang ingin kamu dengar?"
Dalam Cassettes Rewind, Genta yang terpaksa harus menutup usaha toko kaset miliknya, secara tidak sengaja menemukan kunci lemari jati tua warisan ayahnya yang telah lama tidak bisa dibuka. Di dalam lemari itu dia menemukan Radio Tombstone 1930-an yang secara turun temurun diwariskan ke anak cucu, serta kaset-kaset lawas kesukaan keluarganya. Genta yang ingin bernostalgia mendengarkan lagu Guns n Roses tiba-tiba menemukan dirinya terlempar ke tahun 1991, tahun saat Forte Cassettes masih merupakan toko kaset yang populer dan ramai dengan pengunjung. Di sana dia bertemu dengan dirinya yang masih SMA, serta Rama dan Ibu nya yang masih muda. Forte Cassettes ternyata menyimpan rahasia besar yang memungkinkan seseorang dapat kembali ke tahun saat album kaset yang ia dengar dirilis. Cerita-cerita dalam buku ini dihubungkan dengan 1 benang merah yang sama. Kita akan bertemu dengan Melati yang kehilangan sahabat baiknya, Audena yang merindukan sosok Ibu yang belum pernah dia temui, dan Fiona yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah.
Ketika mulai membaca Cassettes Rewinds saya langsung tersenyum-senyum sendiri dengan konsep unik yang diangkat oleh penulis. Mendengarkan lagu lewat kaset pita adalah bagian dari kenangan masa kecil dan remaja yang manis bagi saya. Sepanjang buku penulis banyak menyelipkan sejarah kaset pita, berikut lagu-lagu lawas favorit yang bisa kita dengarkan sembari membaca. Ide cerita ini terasa segar dan saya rasa pasti akan mengundang nostalgia bagi generasi 70-90 an seperti saya.
Tapi mungkin karena ini karya debut masih ada beberapa hal yang terasa kurang pas walaupun tidak terlalu mengganggu, Saya merasa suara Audena di sini kurang cocok dengan gambaran gadis SMA, tapi terasa seperti tokoh anak-anak. Selain itu bagi saya akan terasa lebih menyenangkan kalau peraturan untuk masuk ke dunia kaset disederhanakan sehingga pembaca manja seperti saya tidak perlu terlalu banyak berpikir >_<
Secara keseluruhan novel tipis ini sangat menarik, punya ide yang segar, dan dapat dibaca dalam sekali duduk. Drama keluarga yang menyisakan sedikit kesedihan tapi terasa ringan dan manis.
Sebagai sebuah buku debut ini termasuk menarik banget ceritanya untuk diikutin. Nggak perlu banyak mikir tinggak duduk manis langsung kelar. Timetravel kayak gini termasuk cerita fresh banget di aku jadi cukup berkesan selama baca. Meskipun ada beberapa typo penulisan dan ada beberapa dialog dan alur cerita yang menurutku masih ngeganjal tapi masih enjoy buat di baca. Semoga ke depannya bisa lebih baik secara penulisan dan ditunggu lahirnya cerita-cerita menarik lainnya dari ka Elsinna💗
"Maukah kamu kembali sejenak ke masa lalu lewat sebuah lagu?"
Itu tema besar Cassettes Rewind menurut saya. Kalau di Funiculi Funicula kembali ke masa lalu lewat secangkir kopi, di Cassettes Rewind lewat sebuah kaset.
Genta, tokoh utama kisah ini terpaksa harus menutup Forte Cassettes, usaha toko kaset miliknya. Orang-orang sudah meninggalkan kaset, dan mendengarkan musik dari aplikasi musik. Pada saat Genta bersih-bersih toko, sesuatu yang ajaib terjadi. Melalui radio antik milik ayahnya juga sebuah radio tape dan kaset-kaset kesukaan anggota keluarga yang ayahnya simpan di sebuah lemari, Genta kembali ke masa lalu.
Ide ceritanya unik. Jujur saja kadang ada perasaan, "bagaimana kalau bisa kembali ke masa lalu", dan di buku ini perasaan itu bisa diwujudkan. Cara yang dipilihnya unik, kaset.
Ceritanya mudah diikuti, dan bukan Genta saja yang bisa ke masa lalu, tapi juga orang-orang terdekat Genta. Kaset yang bisa membawa ke masa lalunya ada Guns N' Roses, Gigi, Vina Panduwinata, Chrisye (pilihan lagunya, saya cocok sih, hehe).
Sedikit typo tidak jadi masalah. Ada sedikit yang bikin saya agak bertanya-tanya, ketika para tokoh kembali ke masa lalu, kenapa tidak ada yang curiga dengan wajah yang mungkin mirip, ataukah memang wajahnya jauh berbeda? Pada akhirnya, kita tidak boleh selalu melihat ke belakang, ke masa yang telah lalu. Kita hidup di masa sekarang, dan itulah kehidupan yang harus dijalani.
Pastinya saya suka dengan cerita di buku ini. Denger-denger ini novel debut penulis, tapi udah keren banget. Menantikan karya berikutnya.
Bagaimana jika kamu ingin kembali ke masa lalu melalui kaset, lagu apa yang ingin kamu dengar?
Begitulah sekiranya isi dari Cassettes Rewind. Genta yang awalnya tidak tahu apa-apa bahwa ia diwariskan sebuah radio Tombstone—radio antik milik Forte Cassettes, toko milik ayah Genta yang kemudian diambil alih oleh Genta sendiri, ternyata bisa membawa orang ke masa lalu.
Tiba-tiba saja Genta seperti mendapat keanehan setelah memutar dan menyetel radio tersebut kala hujan deras. Ia hanya diberi dua kesempatan. Ada kaset side A dan B. Ia dapat kembali ke masa lalu ketika dirinya masih muda dan harus kembali lagi ke masa depan ketika kaset side B telah habis. Kalau tidak segera kembali, ia akan terjebak di masa lalu.
Genta sendiri memiliki anak gadis bernama Audena. Kisah Genta dan Audena sendiri sangat pilu karena Audena tumbuh tanpa seorang ibu. Genta memposisikan diri dengan dua peran dan menggantikan peran seorang ibu yang tak mudah.
Aku suka ketika kehadiran Fiona si penyusup memasuki Forte Cassettes. Dari situlah yang membuat semua tokoh menjadi terhubung. Fiona adalah anak dari Melati sementara Melati adalah sahabat Diandra. Dan Diandra adalah adik Genta. Semua tokoh ini akan merasakan pergi ke masa lalu. Meski kembali ke masa lalu tidak akan bisa mengubah segalanya. Mereka yang datang ke masa lalu hanya ingin sekadar mengintip kenangan lama saat mereka masih belia dan bertemu orang tersayang.
Novel debut dari penulis ini membawakan sebuah genre magical realism, time loop, heartwarming yang meninggalkan kesan hangat setelah selesai membaca. Meski aku sempat bingung dengan alur waktu ketika Fiona hadir tapi ketika dibaca lebih lanjut ternyata bisa dipahami secara perlahan. Isi babnya juga sedikit dan page turner sehingga membacanya tak membutuhkan waktu lama. Cocok untuk yang sedang mencari bacaan ringan dan pendek!