Jump to ratings and reviews
Rate this book

Devil's Game

Rate this book
“Sadapti adalah permainan setan; jika lima orang membentuk lingkaran, menyalakan lilin, dan bercerita seram, orang keenam akan datang.
Orang keenam yang tak diundang. Orang keenam yang bukan manusia. Orang keenam yang mendatangkan bencana bagi lima pencerita lainnya—”

***
Bagi Rane, Devina, Rhodeo, Nanda, dan Abhirama semua itu adalah omong kosong. Lima sahabat yang pintar dan logis itu menganggap Sadapti hanyalah permainan untuk menakuti anak kecil, pengisi waktu luang, atau pengusir rasa bosan.
Namun, kini Rane tidak begitu yakin. Saat satu per satu cerita seram mereka menjelma nyata…, dan nyawa menjadi taruhannya.

220 pages

First published January 13, 2015

12 people are currently reading
57 people want to read

About the author

Cerberus Plouton

4 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
11 (25%)
4 stars
16 (37%)
3 stars
12 (27%)
2 stars
4 (9%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Kreta Amura.
12 reviews
August 12, 2019
Review ini bisa dibaca lengkap di : http://www.kretaamura.com/resensi-nov...

Devil’s Game menceritakan sebuah permainan Setan yang bernama Sadapti. Lima orang membentuk sebuah lingkaran, menyalakan lilin, dan mulai bercerita seram. Mereka harus menutup mata, dan tidak sekalipun diizinkan untuk saling berbicara ataupun menghentikan permainan.

Sebenarnya, Sadapti sendiri merupakan permainan yang sangat mirip dengan permainan jepang—saya lupa namanya, namun melibatkan seratus orang. Didorong oleh kebosanan dan rasa penasaran, Rene, Devina, Rhodeo, Nanda dan Abhirama melakukan permainan tersebut.

Akan tetapi mereka melanggar pantangan, orang keenam nyatanya datang dan ikut bercerita. Perlahan, kisah-kisah seram yang diceritakan oleh setiap tokoh menjadi kenyataan dan menghantui mereka semua.

Judul dan Desain Sampul

Desain sampul depan menggambarkan sebuah pentagram, dengan ukiran aksara jawa di tengah pentagram tersebut. Saya jadi bertanya-tanya, di satu sisi penulis ingin mengangkat tema lokal, namun tidak bisa terlepas dari simbol-simbol kebaratan yang tidak relevan dengan lokalitas. Hal tersebut juga bisa dilihat dari Judul. Alih-alih menggunakan judul yang kebaratan, mengapa tidak langsung to the point pada: Sadapti, Permainan Setan atau apalah. Selain itu, nama pena juga menggunakan nama barat, yang mana menjadi rancu bagi pembaca.

Meskipun ini adalah sesuatu yang sederhana, bagi sebagian pembaca ini adalah hal yang penting. Alih-alih memberikan kesan yang kuat, dua unsur yang berlawanan justru membuat konten novel menjadi inkonsisten.

Ide Cerita, Kisah Mistis, dan Logika Berpikir

Ide ceritanya cukup menarik, dan membuat pembaca merasa penasaran dan terus mengikuti kisahnya. Ada aspek misteri yang membuat para pembaca bertanya-tanya, siapa pelaku dan bagaimana ending ceritanya. Penulis sangat berhasil mengarahkan para pembaca untuk menebak siapa di antara dua tersangka yang merupakan dalang yang sesungguhnya. Selain itu, plot twist yang dihadirkan dalam ending cerita juga lumayan halus, tidak mendadak, dan sangat pas.

Meskipun kisah mistis atau kisah seram yang dihadirkan oleh penulis amat sangat pasaran dan tipikal kisah-kisah seram di sekolah yang sudah banyak saya dengar, namun cara bercerita penulis yang begitu mengalir membuat saya tetap merinding, dan seolah merasa itu adalah kisah yang segar. Sekaligus membuat saya nostalgia dengan sekolah saya yang juga seram, ehehe.

Logika berpikirnya cukup runut dan sistematis. Jadi, pembaca tidak akan bingung dengan narasi besarnya. Meskipun, ada beberapa plot hole yang membuat saya terganggu. Pertama, karakter yang ada dapat dikata terlalu polos, dan cenderung bodoh. Meskipun beberapa dari mereka sering menang olimpiade dan ikut bimbel di mana-mana. Mereka seperti tokoh yang statis, bahkan cenderung dipaksakan harus pasrah menghadapi segala kemalangan yang menimpa mereka.

Kedua, motif membunuh dan menyengsarakan dari kedua tokoh atagonis menurut saya, kurang kuat dan kurang terkait. Maksud saya, bagaimana bisa seorang membenci tanpa pernah berinteraksi satu sama lain? Secara tidak sadar, saya khawatir hal seperti ini justru akan menegaskan pada pembaca di bawah umur, bahwa membenci seseorang itu tidak mengapa, asalkan memiliki alasan. Tapi, alasan untuk membenci dan mendengki haruslah kuat, untuk bisa sampai pada tahap ingin membunuh dan menyengsarakan. Jika karena begitu saja, well… rasanya jadi kurang menarik dan kurang realistis saja.

Gaya Bahasa dan Diksi

Tidak ada yang bisa saya komentari dari aspek ini. Sejauh ini penulis cukup membuat saya nyaman dengan gaya bahasanya. Saya tidak bisa berkata bagus, namun tidak juga bisa berkata kurang bagus. Sejauh ini, cukup saja.

Apa yang Saya Suka dan Tidak Suka

Meskipun saya telah mengutarakan beberapa keunggulan dan kelemahan pada beberapa pembahasan sebelumnya, namun sekiranya perlu saya utarakan apa yang sangat saya suka dan tidak saya suka, atau mengganggu menurut saya.

Faktanya, tidak ada yang benar-benar saya suka dari novel ini, eheheh. Tapi biarpun demikian, saya tidak pernah menyesal membeli novel ini karena untuk penulis yang tidak se-terkenal Tere Liye, Cerberus Plouton cukup menghibur pria malang yang kesepian ini dengan kisah-kisah seram yang biasa tapi tetap memukau dalam suatu cara.

Berlanjut pada hal yang mengganggu dan paling tidak saya suka, penulis tidak memberikan harapan sama sekali pada setiap karakter untuk melawan atau mencapai suatu penyelesaian. Hal tersebut membuat pembaca frustasi, sekaligus mencari-cari makna: mengapa saya membaca cerita ini.

Setiap pembaca menginginkan sebuah penyelesaian. Entah pada akhirnya setiap tokoh berhasil mencapainya, atau malah tidak sama sekali. Itu persoalan lain lagi. Tapi pada Devil’s Game, dari awal penulis tidak memberikan harapan atau solusi bagi para tokohnya. Padahal, jika solusi tersebut ada, mungkin cerita akan menjadi lebih seru dan menegangkan. Dan mungkin, penulis juga bisa menyisipkan sebagian adegan aksi, eciecie.

Penilaian & Kesimpulan

Untuk sebuah novel yang saya temukan dalam etalase diskonan, saya berikan anugerah penilaian 3.8. Saya tidak kejam, bahkan saya sudah sempatkan kesempatan untuk memberikan ulasan, yang mana sangat jarang saya lakukan kalau novel atau buku yang saya baca tidak penting-penting amat. Intinya, ini adalah sebuah novel yang cukup berkualitas dalam kelasnya. Devil’s Game menyajikan sebuah cerita horror misteri, penuh teka-teki tanpa cacat logika yang begitu berarti.
Profile Image for Titis Wardhana.
995 reviews14 followers
December 28, 2017
Sebenernya gw baca High School Terror dulu, tapi entah kenapa yang selese ini duluan.

Rane, Devina, Abhirama, Rhodeo, dan Nanda berteman dekat dan ikut bimbel bersama. Suatu hari, Devina yang sangat menyukai hal-hal mistis mengajak teman-temannya untuk melakukan wisata malam ke tempat-tempat horor yang terkenal berhantu di kota itu. Acara itu akan diakhiri oleh mereka dengan melakukan permainan Sadapti hanya karena merasa penasaran dengan permainan itu.

Hantunya serem-serem menurut gw, tapi bukannya kalo ingin melakukan sesuatu yang masih berasa asing, bukannya riset dulu. Bukan setelah kejadian baru ke perpus. Apalagi di sini ada Abhirama yang cerdas. Selain itu, di bagian yang pas Rane pergi dari pos kereta api, timingnya agak janggal. Paling gak dia jalannya uda agak jauh dong dari tempat itu. Sebenernya masih ada yang jadi pertanyaan buat gw, tapi ga papa deh soalnya ceritanya cukup serem.
1 review
June 23, 2020
This book always make me corious to read
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Azhar.
58 reviews1 follower
January 6, 2022
Cover & Judul
Sebenarnya cerita yang diangkat adalah cerita lokal tetapi novel malah tidak menggambarkan ke lokalan itu, dan malah mengambil judul yang ke barat-baratan. Judul Devils game mungkin bisa diganti dengan sadapti atau apa, begitu pula dengan nama pena si penulis yang saya mengira orang luar.

Review lengkap...
https://www.instagram.com/p/CYTDXZkrZ...
Profile Image for Anindito Alfaritsi.
65 reviews7 followers
September 13, 2015
I bought this on a whim. Kebetulan butuh jeda dari beberapa bacaan berat. Lalu kebetulan aku emang lagi nyari seri horor remaja yang lumayan buat referensi.

Ini cerita klasik tentang gimana sekelompok remaja melakukan permainan terlarang, dan jadinya mendapatkan banyak kengerian supernatural karenanya. Ada banyak kalimat yang penulisannya kurang nyaman dan bisa diperbaiki. Lalu kalau kau perhatiin baik-baik, sebenarnya ada lumayan banyak detil cerita yang kurang masuk akal. Tapi kayak banyak film horor yang berkesan, kau ngambil buku ini bukan karena pengen nyari cerita bagus, melainkan karena nyari cerita yang seru. Lalu ya, novel ini termasuk yang kayak gitu.

Enggak benar-benar bisa dibilang bagus. Tapi seru.

Berlatar di Madiun, suatu kota yang tentangnya, sebenarnya enggak banyak aku tahu, seorang cowok remaja bernama Rane, bersama teman-teman dekatnya di bimbel, memutuskan melakukan suatu permainan cerita-ceritaan bernama Sadapti buat mengusir bosan. Hal-hal nakutin lalu terjadi.

Bagusnya buku ini dibanding novel-novel horor sejenis, mungkin ada pada porsi adegan horornya bila dibandingkan dengan durasinya. Terlepas dari bagus atau enggaknya, adegan-adegan seramnya itu lumayan banyak. Ide-ide yang ditampilkan di dalamnya terus terang jadi lebih menarik buatku ketimbang plotnya sendiri. Lalu bagusnya, ceritanya berhasil ditutup dengan lumayan apik.

Tentang karakterisasinya, sebenarnya tokoh-tokohnya lumayan tropey dengan watak yang enggak benar-benar meyakinkan. Lalu enggak benar-benar ada misteri yang menarikmu masuk atau gimana; the things just kinda happen.

Tapi perkembangannya sendiri emang menarik.

Sebenarnya aku kasih nilai sekitar 2,7 bintang. Tapi kayaknya bisa kubuletin ke atas.

Kalo kau bener-bener lagi bosen dan ingin baca novel horor yang pendek dan refreshing, lalu bisa enggak ngemasalahin beberapa kekurangannya, ini judul yang aku sarankan.
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
October 2, 2015
"Devil's Game" bercerita tentang Rane, Devina, Rhodeo, Nanda, dan Abhirama, lima sekawan di tempat bimbingan belajar yang terkenal karena kelebihan masing-masing. Suatu hari, karena ajakan Devina, mereka berlima memainkan Sadapti, sebuah permainan menceritakan kisah seram, lalu meniup api lilin hingga padam. Awalnya mereka berpikir kalau ini hanyalah sebuah permainan konyol, hingga salah satu dari mereka meninggal dengan cara yang sama dengan cerita horornya.

Waktu pertama kali novel ini keluar, saya langsung memasukkannya ke daftar baca saya. Waktu itu saya tertarik dengan premisnya, juga karena saya suka dengan "Tujuh Hari di Villa Mencekam" (review di sini) karya penulis. Sayangnya, setelah membaca novel ini, saya agak kecewa.

Berbeda dengan "Tujuh Hari di Villa Mencekam", atau karya non horor si penulis, saya merasa gaya penulisan di sini sangat canggung. Banyak pengulangan tidak perlu yang terjadi. Pendeskripsian tokoh-tokohnya juga terasa malas dan klise.

Dari segi cerita, saya suka dengan deskripsi horornya. Bagian horornya ini punya cara bercerita yang lebih luwes dibandingkan narasi biasanya. Hanya saja, saya merasa (peringatan bocoran cerita)

Secara keseluruhan, "Devil's Game" ini punya bagian horor yang cukup baik. Porsinya pas dengan narasi yang enak. Sayangnya gaya bercerita keseluruhan dan karakter-karakternya tidak begitu bagus. Tapi, ceritanya terasa sekali punya materi film. Mungkin bisa diangkat juga ke layar lebar seperti THdVM.

Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 Young Adult Reading Challenge
Profile Image for Dedul Faithful.
Author 7 books23 followers
May 27, 2015
Membaca buku ini akan menggiring Anda terus-menerus olahraga jantung. Karena banyak sekali kejutan yang tidak mainstream dalam buku ini. Tidak hanya menyeramkan, buku ini patut diacungi jempol karena penulisnya mengolah sedemikian rupa rangkaian ceritanya agar saling berkaitan logis. Meskipun penampakan hantunya di setiap bab ada, tetapi tidak serta merta hal tersebut memberika clue misteri sepanjang buku bersampul jingga gelap ini. Ada kalanya pembaca akan terkecoh sendiri dengan misteri yang ditabur penulis sepanjang cerita.
Saat Anda sampai di penghujung cerita, Anda akan sadar bahwa buku ini bukan sekadar buku horor biasa. Tetapi amanat yang termaktub di dalamnya sungguh menginspirasi. Bahwa janganlah mau mencoba bermain api jika tidak mau menanggung resiko. Pun, bukanlah tindakan baik juga ketika kita menyimpan dendam dalam hati kita untuk waktu yang lama. Buku ini bukan sekedar salah satu sastra popular gotik yang menawan, tetapi bisa jadi ia hadir sebagai bentuk inovasi akan jenuhnya pasar buku horor yang selalu mengeksploitasi hantu-hantu mainstream yang kadang hadir tanpa asal-usul yang jelas, bahkan malah dijadikan bahan lelucon.[]
Profile Image for Nisa Shofa.
81 reviews
August 15, 2015
3.5 bintang sebenarnya. Sayang, goodreads nggak ngasih bintang pecah-pecah hahaha.
Aku baca Devil's Game ini selama 2 hari. Coba cerita-cerita di permainan di Devil's Game belum pernah kudengar semua, pasti kukasih 4 bintang. Sayang, beberapa cerita, seperti bus hantu aku udah pernah baca ceritanya dulu di majalah story. Dan, ada beberapa miss-logic di cerita ini. Kayak, bukannya Devina yang paling suka sama hal-hal mistis? Tapi, kenapa saat si Rane ngajak main permainan itu malah Devina jadi ragu?
Overall, suka sih sama story tellingnya Mbak Yo ini. Santai tapi tetap serem. Tapi, kadang aku missunderstood sama beberapa PoV yang sebenernya ditulis buat nambahin rasa serem tapi aku malah geli sendiri. Menarik tema yang diangkat. Permainan tradisional yang sebelumnya belum pernah kudenger.
Profile Image for Lala.
128 reviews46 followers
May 5, 2015
Entah waktu saya baca, saya lagi takut2nya apa gimana tapi buku ini emang nyeremin. Page turning banget, dan saya sama sekali ga ngerasa bosen bacanya. Seru dan bikin penasaran, emg typical buku2 karangan si penulis.
Profile Image for Edotz Herjunot.
Author 5 books14 followers
November 14, 2015
Buku ini sukses bikin gue ikutan ngerasa tegang pas ngebacanya.. horornya dapet banget, dan sukses bikin penasaran bikin gue pengen buru2 buka halaman selanjutnya.

menurut gue, buku ini bakalan keren banget kalo sampe dibikin filmnya. Apalagi kalo disutradarai sama Koya Pagayo. wuih~
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.