Jump to ratings and reviews
Rate this book

成為「新二代」:多元文化與地緣政治下的跨國婚姻子女

Rate this book
★對於臺灣「新二代」及其身分認同的田野調查報告
★《跨國灰姑娘》、《拚教養》作者,臺大社會系特聘教授藍佩嘉最新著作

在臺灣,跨國婚姻子女的人數推估超過五十萬。這些孩子曾被稱為「新臺灣之子」,自新南向政策推動後,官方改稱他們「新二代」,正面標示其移民背景。然而,「新二代」如何看待這個標籤?不同族群、階級、移動經歷的二代,又如何定義自己、回答「我是誰」的提問?本書要探問的是,在地緣政治情勢與多元文化政策的張力下,這些「新二代」年輕人如何在複雜的族群身分政治中協商自我的認同。

本書深入訪談六十一位母親來自東南亞或中國大陸的成年二代子女,以及其中十五位的新移民母親。希望透過他們的生命故事,理解國家政策的轉變與地緣政治的脈絡,如何影響新移民子女的生命經驗與族群認同。母親來自不同國家的二代,尤其是「臺灣東南亞二代」與「臺灣中國二代」的經驗有怎樣的差異?他們會採取什麼樣的認同策略,來抵禦或迴避族裔╱地緣政治因素衍生的外來者汙名?而在現今的政治與社會氛圍中,這些新二代的多元文化背景,是否能順利轉化為身分紅利(比如特殊選才或入學機會)?還是造成非預期的負面後果?海外歸國子女,以及海航(逆向遷移回父母原生國度)的二代,在跨國流動的過程中,又經歷怎樣的認同變化?

本書也根據田野分析提出相關的行動建議,包括改變既定認知框架,視新移民子女為積極的行動者而非弱勢;更廣泛地界定「新二代」,看見其中的差異與不平等;以及更細緻的區辨--例如將新二代與母親國度的連結定義在文化與地方層次,而非過度上綱,避免將他們排除在共同體之外。

這些「新二代」的生命經驗與認同演變,也讓我們重新思索臺灣人的定義。隨著臺灣人口逐步納入更多元的移民來源、臺灣人的界線也不斷地被改寫與延伸。一如祖輩於不同歷史時期、在族群與文化交會處「成為」臺灣人的我們,其父母沿著移民之路進入臺灣的「新二代」,也將繼續擴展臺灣人的認同與文化邊界。

352 pages, Paperback

Published September 23, 2025

Loading...
Loading...

About the author

Pei-Chia Lan

5 books6 followers
Pei-Chia Lan (Ph.D., Department of Sociology, Northwestern University, 2000) is Professor of Sociology at National Taiwan University. Her fields of specialty include gender, work and migration. She is the author of Global Cinderellas: Migrant Domestics and Newly Rich Employers in Taiwan (Duke 2006), which won the 2007 Distinguished Book Award from the Sex and Gender Section of the American Sociological Association and the 2007 ICAS Book Prize: Best Study in Social Science from the International Convention of Asian Scholars.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (9%)
4 stars
8 (72%)
3 stars
2 (18%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
12 reviews
February 26, 2026
關於台灣以前,因為外籍配偶過多還鼓勵他們少生、補助結紮,我完全不知道的。當時社會認為會娶外籍配偶的,多是高齡、社經地位低或身障者,將其視為「高社會風險人群」,進而想控制他們的後代。
裡面的採訪片段是用原文輸出,所以有很多贅字或不知所云,看了覺得很煩躁。
在東南亞二代的部分,因為「新南向政策」讓他們從原本的劣勢轉化成優勢,成為宣傳小尖兵。但講實在話,就是妳要有「利用價值」,我們才會誇讚妳。各種政策紅利幾乎都是高學歷、中產階級的二代在申請,因為他們知道資源在哪也懂得利用;反而那些可能更需要補助的二代,認為這些政策與他們無關,因為政府沒看到他們的亮點。
書中也提到,許多外籍母親被夫家要求不准教母語。通常外語(母語)流利的二代,多是父母離異或是父親失能,且又以長子、長女最為流利。因為母親當時最痛苦委屈的時刻他們都在,所以與母親有著較為緊密的關係。
至於「中二代」,因為語言相通,明明也是二代,大家對他們的看法卻更不一樣。他們會因為兩岸政治而使生活有所轉變,通常不會說母親來自中國,而是強調來自哪個「省分」。有些切割到我想問:難道省分是獨立建國嗎?台灣社會看二代,總覺得妳們得「先是台灣人、才是某國人」,必須表忠誠,才是個「好二代」。
其實這本書寫出的很多爛事,真的都源於「父權」:限制回娘家、家中排擠外配、不准教外語、強迫吃中式料理。社會對她們的要求是:生出來的小孩是台灣人,但妳永遠不是台灣人。即便她們已經拿到身分證、台語講得比大多數人都溜,依然被當成外人。
對我來說,比起二代,我更佩服那些勇敢來台灣生活的一代。
他們不像二代,二代沒有模糊空間、無法選邊站說自己是台灣人;而一代,他們才是真正沒有退路的人。
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Hengyu.
44 reviews8 followers
October 28, 2025
大部分內容都是可以想象得到的。中配子女的經歷比較有趣,要面對搞笑的中國人,也要面對搞笑的臺灣人。
Profile Image for Else.
1 review
May 2, 2026
Well, aku yakin pencari ulasan buku ini akan kaget MENGAPA ADA ULASAN BAHASA INDONESIA SEDANGKAN BUKUNYA ITU DALAM BAHASA MANDARIN! Tapi gapapa, I am letting my intrusive thought win, and this will be my first ever review in my Goodreads (yang biasanya cuman dijadiin tracking bacaan saja ihiww) :D

Sebagai manusia yang tertarik dengan isu pekerja migran, terutama di Taiwan, sebenarnya fenomena pernikahan silang antara orang Taiwan dengan Asia Tenggara & China ini cukup menarik. Aku tau bahwa masih ada sebagian orang Taiwan yang cukup rasis terhadap mahasiswa/i maupun pekerja migran dari Asia Tenggara yang berada di sana, karena stigma dan kebiasaan ataupun kultur yang berbeda. (Alhamdulillah temen-temenku ngga!)

Ternyata... sejak awal adanya pernikahan silang, pemerintah Taiwan menganggap "pasangan" dari negara lain, terutama dari Asia Tenggara, merupakan "orang luar yang rendah" baik secara kualitas maupun genetik. Apalagi, kebanyakan pernikahan silang ini terjadi di antara pria Taiwan yang sudah berusia & berasal dari desa terpencil, sehingga tujuan pernikahan ini dilihat sebagai upaya untuk meneruskan keturunan. Juga tidak sedikit pernikahan silang ini terjadi karena ada transaksi jual-beli, sehingga, di fase awal, pemerintah melihat pernikahan silang beserta keturunannya ini sebagai ancaman terhadap kualitas orang Taiwan. Oleh karena itu, peraturan-peraturan pemerintah yang diterbitkan juga terlihat "sangat mengontrol" gerak-gerik mereka, seperti aturan kontrol kehamilan, kunjungan rutin dari petugas kesehatan, semua ini dengan tujuan untuk "memastikan kualitas" keturunannya tidak merusak kualitas orang Taiwan. Yang padahal, keturunan dari orang Taiwan itu sendiri terbukti secara penelitian lebih banyak mengalami gizi buruk & Berat Badan Lahir Rendah dibandingkan dari keturunan hasil pernikahan silang. Selain itu, mereka juga harus membuktikan loyalitasnya kepada Taiwan dengan menjadi ibu yang baik yang merawat anak-anaknya. Menurut aku, ini cukup membuktikan kerasisan dari pemerintah Taiwan sendiri dan ini juga yang menguatkan stigma dan label buruk ke pasangan-pasangan dari luar, terutama wanita-wanita dari Asia Tenggara. :)

Perubahan keputusan politik & peraturan pemerintah yang awalnya mengontrol pergerakan dan kualitas keturunan menjadi "menghimbau untuk mengurangi keturunan", kemudian berakhir dengan mendukung keturunan pernikahan silang ini-yang disebut dengan New Second Generation-untuk meng-embrace identitas multikultural & kemampuan bahasanya (yang dinilai memiliki nilai tambah) untuk merepresentasikan Taiwan di dunia ekonomi & perdagangan internasional, terutama di Asia Tenggara. Peraturan ini disebut dengan New Southbound Policy, yang sebenarnya lebih berpengaruh ke anak-anaknya sih.

New Southbound Policy ini menyediakan beberapa resources belajar & beasiswa untuk anak-anak keturunan pernikahan silang, dengan menganggap mereka "butuh" belajar ekstra untuk keep up dengan pendidikan dan kondisi sosial di Taiwan-yang secara tidak langsung menganggap anak-anak ini adalah bagian dari kelompok rentan. Begitu juga dengan beasiswanya, yaaa either beasiswa prestasi ataupun beasiswa kurang mampu. Semua ini dilakukan dengan harapan, anak-anak yang berhasil "memanjat tangga sosial" ini memiliki "daya jual lebih" dan mampu merepresentasikan Taiwan kelak.

Aku setuju dengan beberapa komentar negatif dalam buku mengenai peraturan ini, yaitu pemerintah dengan naifnya menganggap bahwa semua keturunan pernikahan silang ini MAMPU MEMAHAMI BAHASA & KULTUR NEGARA ASAL IBUNYA, sehingga dapat dimanfaatkan untuk memajukan perekonomian Taiwan dalam kancah internasional. Balik lagi ke stigma & label sosial di atas, apa yang pemerintah tidak sadar dari dampak keputusan politiknya dulu adalah perjuangan & pengalaman wanita-wanita ini melawan stigma & diskriminasi dari keluarga pasangannya sendiri, tidak sedikit yang menyebut mereka "orang luar", menuduh mereka menikah cuman demi uang, melarang mereka memasak masakan negara asalnya, dan juga melarang mereka untuk mengajarkan bahasa ibunya ke anaknya sendiri. :''))))

Eits, ini kita belum ngomongin bagaimana stigma sosial ini kemudian memengaruhi mental state anak-anak keturunan pernikahan silang ini, let alone ke tahap "merepresentasikan Taiwan di kancah internasional" (menghela napas). Jujur, aku mewek banget pas baca bagaimana wanita-wanita tangguh ini survive dalam lingkungan yang penuh diskriminasi, satu hal yang aku notis dari hasil wawancara mereka adalah mereka seriiiiingggg banget menggunakan kata:

"pelan-pelan... pelan-pelan..."

yang menunjukkan harapan dan doa mereka bahwa semua kondisi ini akan membaik ke depannya, entah itu dengan melihat anaknya menjadi mandiri ataupun keadaan ekonomi yang lebih baik, hueeeekkk T________T long live wanita-wanita tangguh di seluruh dunia! :')

Ok, balik lagi ke topik, berbagai label, stigma, limitasi, diskriminasi, dan larangan-baik untuk membawa ataupun menurunkan bahasa dan kultur negara asal ibu-inilah yang kemudian membuat anak-anak hasil pernikahan silang ini mengalami KRISIS IDENTITAS. Karena lingkungan sosialnya yang diskriminatif membuat mereka merasa mereka bukan sepenuhnya orang Taiwan, tapi mereka juga merasa mereka tidak cukup menahu soal negara asal ibunya (Asia Tenggara) untuk menyebut diri mereka mix-race. Penelitian dalam buku ini juga kemudian menunjukkan bahwa hubungan antar ibu dan anak merupakan salah satu unsur yang akan memengaruhi bagaimana anaknya menavigasi & menetapkan identitas mereka. Biasanya, anak yang cukup dekat dengan ibu dan keluarga ibunya akan dengan lantang mengakui bahwa mereka adalah orang Taiwan dan juga keturunan Asia Tenggara, tapi ada juga yang merasa dirinya adalah orang Taiwan sepenuhnya karena mereka lahir dan tumbuh di Taiwan.

Selain menilik bagaimana perjalanan New Second Generation ini dalam menetapkan identitas mereka, juga diceritakan tentang pengalaman mereka saat sekolah, bagaimana mereka biasanya menunjukkan atau menghilangkan identitas mix-race karena lingkungan sekolah yang diskriminatif, menyamakan mereka dengan pekerja migran yang notabene sering dianggap bau & berisik ataupun pekerja rumah tangga yang dianggap rendah di sana. Jika lingkungan sekolahnya cukup suportif, mereka akan menunjukkan identitas mix-race-nya, jika tidak, mereka akan menghilangkan itu. Belum lagi dilema & imposter syndrome yang dialami mereka karena merasa beasiswa & spotlight yang didapatkan ini karena identitas mereka sebagai mix-race yang multikultural, instead of kemampuan mereka sendiri.

Selain itu, mereka juga merasa risih karena media sering kali mempotret mereka sebagai kelompok rentan yang berhasil memanjat tangga sosial-yang padahal beberapa di antaranya memang beruntung karena orangtuanya mampu memberikan resources yang lebih banyak. Dalam wawancara juga ditemui pemberitaan berlebihan yang tidak sesuai dengan hasil wawancara, sehingga diminta untuk take-down.

Sejujurnya, ini bukunya menarik banget, aku bacanya sayang sayanggggggg hahahahahaha T________T dan sebenarnya masih banyak detail yang tidak aku cerita di atas karena bisa keriting ya ges ya jari aku. Padahal ini hasil penelitian tapi author mengemas hasil penelitiannya menjadi cerita sangat menarik dan luwes banget untuk dibaca! Semoga suatu hari buku ini juga diterbitkan dalam berbagai bahasa. :)
Profile Image for Jeany  Lin.
211 reviews12 followers
January 2, 2026
研究還是很紮實的,寫的有深入淺出,很好看。

我覺得可能因為我自己是移民身分,所以看這本書覺得很有趣。

包含他裡面提到新二代受訪者覺得自己母親已經拿身分證了,還是被當成越南人,很不平。

我就思考了一下,欸,我入籍了也是被當成台灣人啊。不過我是沒什麼困擾⋯

其實我看他第六章談臺灣中國第二代子女,和最後結語問「誰是臺灣人」,感覺相當微妙。

是說這本我覺得和最近看的《兩張面孔的人》感覺可以一起看待。

尤其是《兩》裡面講到的,現在的好移民是以前的壞移民這段~

我記得小時候東南亞籍配偶承受蠻多污名化的,體感地位比中配低(?

但這本書讀完,覺得南向政策後,加上太陽花運動等,臺灣中國第二代看起來是更戰戰兢兢。

但話說看到他們很多自我描述的認同,就又覺得,嗯,很微妙⋯就也難怪大家都對臺灣中國第二代有意見啊⋯
Profile Image for Jianwen.
45 reviews
January 7, 2026
這本書開展出「新二代」的群像,讓讀者知道他們絕非同質的群體,而是擁有多元各異的生命經驗。作者帶我們看見他們的種種遭遇,包括因身分而來的污名化,以及國家政策如何影響他們的認同,有影響社會如何觀看他們。

本書帶給我最大的啟發,就是看見宏觀政策與微觀個體間交互的動態過程。身分認同從來不是自然而然形成的,而是受到多重因素影響。

身為一名新二代,在閱讀其他受訪者的生命經驗時,容易就可以產生共鳴。不過,本書也是有缺點的。比如我認為摘錄受訪者談話的引文,可以把無意義的贅字去掉。畢竟口語跟書面語是有很大差異的。作者這麼做可能是為了忠實反映;但閱讀時我也會因此受到干擾。

揉雜帶來超越的可能。如同杜韻飛《未來祖宗像》的攝影作品,這些不見得看得出差異的二代青年,將會成為台灣人未來的祖宗。
Profile Image for R..
47 reviews
March 14, 2026
滿搞笑的,新南向政策之前,整體社會氛圍是不該教小孩媽媽的母語(通常是來自所謂的第三世界),不然小孩說話會有口音、中文不流暢,之後到「這些小孩未來可以給國家帶來一些好處」才開始推動新政策,但日常生活還是會遇到很謎的人。讀完有解答了我小時候的一些疑惑。
新二代多數沒有明顯可見的外表差異,因為台灣丈夫在尋找外籍伴侶時就偏好中國漢人、或外表較接近台灣人的越南女性,好生出看起來像台灣人的孩子。二代的口音跟一般台灣孩子差不多,因為孩子在家裡不被鼓勵學習母親的語言,孩子也都採用台灣父親的姓氏。換言之,母親的文化差異在他們成長的過程中被刻意抹去。
國家的階層化,結合了膚色分類、移民來源國的雙重階序。「混血兒」首先面臨的是外貌的檢視,長相越近似高加索人的外貌,就會得到更多的肯定或誤認。歐美、日本的國家排序為高,東南亞仍然排在底層。同學根據白人中心的審美觀稱讚二代的外貌。
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for CJ LIU.
3 reviews
February 21, 2026
現在的臺灣很需要的一本書。高中升大學時初讀藍佩嘉的《跨國灰姑娘》,可知作者���於臺灣的移民與移工的關懷,本書亦延續作者對於族群議題的叩問,尤其在社會共識逐漸兩立的現在,我們確實該認真去問(或不能停止去問):「臺灣人是誰?」
Profile Image for cmt.
23 reviews
March 30, 2026
這本書處理臺灣東南亞二代以及臺灣中國二代的劃界認同議題。二代的身分認同會受到國族階序想像以及階級的影響。這讓他們在成長過程中容易受到部落污名與地緣政治污名的影響。

但以污名這個主題來說,應該是配偶會有更強烈的連結(買賣婚、中國在地協力者),研究二代的重要性其實不太明確。
Displaying 1 - 8 of 8 reviews