Pei-Chia Lan (Ph.D., Department of Sociology, Northwestern University, 2000) is Professor of Sociology at National Taiwan University. Her fields of specialty include gender, work and migration. She is the author of Global Cinderellas: Migrant Domestics and Newly Rich Employers in Taiwan (Duke 2006), which won the 2007 Distinguished Book Award from the Sex and Gender Section of the American Sociological Association and the 2007 ICAS Book Prize: Best Study in Social Science from the International Convention of Asian Scholars.
Well, aku yakin pencari ulasan buku ini akan kaget MENGAPA ADA ULASAN BAHASA INDONESIA SEDANGKAN BUKUNYA ITU DALAM BAHASA MANDARIN! Tapi gapapa, I am letting my intrusive thought win, and this will be my first ever review in my Goodreads (yang biasanya cuman dijadiin tracking bacaan saja ihiww) :D
Sebagai manusia yang tertarik dengan isu pekerja migran, terutama di Taiwan, sebenarnya fenomena pernikahan silang antara orang Taiwan dengan Asia Tenggara & China ini cukup menarik. Aku tau bahwa masih ada sebagian orang Taiwan yang cukup rasis terhadap mahasiswa/i maupun pekerja migran dari Asia Tenggara yang berada di sana, karena stigma dan kebiasaan ataupun kultur yang berbeda. (Alhamdulillah temen-temenku ngga!)
Ternyata... sejak awal adanya pernikahan silang, pemerintah Taiwan menganggap "pasangan" dari negara lain, terutama dari Asia Tenggara, merupakan "orang luar yang rendah" baik secara kualitas maupun genetik. Apalagi, kebanyakan pernikahan silang ini terjadi di antara pria Taiwan yang sudah berusia & berasal dari desa terpencil, sehingga tujuan pernikahan ini dilihat sebagai upaya untuk meneruskan keturunan. Juga tidak sedikit pernikahan silang ini terjadi karena ada transaksi jual-beli, sehingga, di fase awal, pemerintah melihat pernikahan silang beserta keturunannya ini sebagai ancaman terhadap kualitas orang Taiwan. Oleh karena itu, peraturan-peraturan pemerintah yang diterbitkan juga terlihat "sangat mengontrol" gerak-gerik mereka, seperti aturan kontrol kehamilan, kunjungan rutin dari petugas kesehatan, semua ini dengan tujuan untuk "memastikan kualitas" keturunannya tidak merusak kualitas orang Taiwan. Yang padahal, keturunan dari orang Taiwan itu sendiri terbukti secara penelitian lebih banyak mengalami gizi buruk & Berat Badan Lahir Rendah dibandingkan dari keturunan hasil pernikahan silang. Selain itu, mereka juga harus membuktikan loyalitasnya kepada Taiwan dengan menjadi ibu yang baik yang merawat anak-anaknya. Menurut aku, ini cukup membuktikan kerasisan dari pemerintah Taiwan sendiri dan ini juga yang menguatkan stigma dan label buruk ke pasangan-pasangan dari luar, terutama wanita-wanita dari Asia Tenggara. :)
Perubahan keputusan politik & peraturan pemerintah yang awalnya mengontrol pergerakan dan kualitas keturunan menjadi "menghimbau untuk mengurangi keturunan", kemudian berakhir dengan mendukung keturunan pernikahan silang ini-yang disebut dengan New Second Generation-untuk meng-embrace identitas multikultural & kemampuan bahasanya (yang dinilai memiliki nilai tambah) untuk merepresentasikan Taiwan di dunia ekonomi & perdagangan internasional, terutama di Asia Tenggara. Peraturan ini disebut dengan New Southbound Policy, yang sebenarnya lebih berpengaruh ke anak-anaknya sih.
New Southbound Policy ini menyediakan beberapa resources belajar & beasiswa untuk anak-anak keturunan pernikahan silang, dengan menganggap mereka "butuh" belajar ekstra untuk keep up dengan pendidikan dan kondisi sosial di Taiwan-yang secara tidak langsung menganggap anak-anak ini adalah bagian dari kelompok rentan. Begitu juga dengan beasiswanya, yaaa either beasiswa prestasi ataupun beasiswa kurang mampu. Semua ini dilakukan dengan harapan, anak-anak yang berhasil "memanjat tangga sosial" ini memiliki "daya jual lebih" dan mampu merepresentasikan Taiwan kelak.
Aku setuju dengan beberapa komentar negatif dalam buku mengenai peraturan ini, yaitu pemerintah dengan naifnya menganggap bahwa semua keturunan pernikahan silang ini MAMPU MEMAHAMI BAHASA & KULTUR NEGARA ASAL IBUNYA, sehingga dapat dimanfaatkan untuk memajukan perekonomian Taiwan dalam kancah internasional. Balik lagi ke stigma & label sosial di atas, apa yang pemerintah tidak sadar dari dampak keputusan politiknya dulu adalah perjuangan & pengalaman wanita-wanita ini melawan stigma & diskriminasi dari keluarga pasangannya sendiri, tidak sedikit yang menyebut mereka "orang luar", menuduh mereka menikah cuman demi uang, melarang mereka memasak masakan negara asalnya, dan juga melarang mereka untuk mengajarkan bahasa ibunya ke anaknya sendiri. :''))))
Eits, ini kita belum ngomongin bagaimana stigma sosial ini kemudian memengaruhi mental state anak-anak keturunan pernikahan silang ini, let alone ke tahap "merepresentasikan Taiwan di kancah internasional" (menghela napas). Jujur, aku mewek banget pas baca bagaimana wanita-wanita tangguh ini survive dalam lingkungan yang penuh diskriminasi, satu hal yang aku notis dari hasil wawancara mereka adalah mereka seriiiiingggg banget menggunakan kata:
"pelan-pelan... pelan-pelan..."
yang menunjukkan harapan dan doa mereka bahwa semua kondisi ini akan membaik ke depannya, entah itu dengan melihat anaknya menjadi mandiri ataupun keadaan ekonomi yang lebih baik, hueeeekkk T________T long live wanita-wanita tangguh di seluruh dunia! :')
Ok, balik lagi ke topik, berbagai label, stigma, limitasi, diskriminasi, dan larangan-baik untuk membawa ataupun menurunkan bahasa dan kultur negara asal ibu-inilah yang kemudian membuat anak-anak hasil pernikahan silang ini mengalami KRISIS IDENTITAS. Karena lingkungan sosialnya yang diskriminatif membuat mereka merasa mereka bukan sepenuhnya orang Taiwan, tapi mereka juga merasa mereka tidak cukup menahu soal negara asal ibunya (Asia Tenggara) untuk menyebut diri mereka mix-race. Penelitian dalam buku ini juga kemudian menunjukkan bahwa hubungan antar ibu dan anak merupakan salah satu unsur yang akan memengaruhi bagaimana anaknya menavigasi & menetapkan identitas mereka. Biasanya, anak yang cukup dekat dengan ibu dan keluarga ibunya akan dengan lantang mengakui bahwa mereka adalah orang Taiwan dan juga keturunan Asia Tenggara, tapi ada juga yang merasa dirinya adalah orang Taiwan sepenuhnya karena mereka lahir dan tumbuh di Taiwan.
Selain menilik bagaimana perjalanan New Second Generation ini dalam menetapkan identitas mereka, juga diceritakan tentang pengalaman mereka saat sekolah, bagaimana mereka biasanya menunjukkan atau menghilangkan identitas mix-race karena lingkungan sekolah yang diskriminatif, menyamakan mereka dengan pekerja migran yang notabene sering dianggap bau & berisik ataupun pekerja rumah tangga yang dianggap rendah di sana. Jika lingkungan sekolahnya cukup suportif, mereka akan menunjukkan identitas mix-race-nya, jika tidak, mereka akan menghilangkan itu. Belum lagi dilema & imposter syndrome yang dialami mereka karena merasa beasiswa & spotlight yang didapatkan ini karena identitas mereka sebagai mix-race yang multikultural, instead of kemampuan mereka sendiri.
Selain itu, mereka juga merasa risih karena media sering kali mempotret mereka sebagai kelompok rentan yang berhasil memanjat tangga sosial-yang padahal beberapa di antaranya memang beruntung karena orangtuanya mampu memberikan resources yang lebih banyak. Dalam wawancara juga ditemui pemberitaan berlebihan yang tidak sesuai dengan hasil wawancara, sehingga diminta untuk take-down.
Sejujurnya, ini bukunya menarik banget, aku bacanya sayang sayanggggggg hahahahahaha T________T dan sebenarnya masih banyak detail yang tidak aku cerita di atas karena bisa keriting ya ges ya jari aku. Padahal ini hasil penelitian tapi author mengemas hasil penelitiannya menjadi cerita sangat menarik dan luwes banget untuk dibaca! Semoga suatu hari buku ini juga diterbitkan dalam berbagai bahasa. :)