Jump to ratings and reviews
Rate this book

Hikayat Mitobotani

Rate this book
Hikayat Mitobotani merupakan catatan perjalanan yang tumbuh dari keterlibatan langsung dengan lanskap tumbuhan: pepohonan, akar, dan narasi-narasi mitologis yang masih hidup dalam ruang sehari-hari. Buku ini tidak semata-mata memetakan lokasi atau jenis flora, tapi juga menelusuri bagaimana ingatan dan pengalaman manusia terjalin erat dengan alam.

Melalui gaya penulisan yang jernih dan bersahaja, Asief menyampaikan pengamatannya dengan kepekaan etnobotanis yang reflektif. Ia mengajak pembaca untuk melihat tumbuhan tidak hanya sebagai objek kajian, tetapi sebagai penghubung antara waktu, tempat, dan ingatan yang sering kali terpinggirkan dalam narasi besar.

198 pages, Paperback

Published May 1, 2025

Loading...
Loading...

About the author

Asief Abdi

1 book1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (30%)
4 stars
15 (50%)
3 stars
6 (20%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 11 of 11 reviews
Profile Image for Reiza.
196 reviews7 followers
November 7, 2025
"Namun, semakin saya dewasa, kian saya sadar bahwa ada relasi mendalam antara manusia dan alam yang terjalin lewat kisah seram tersebut." (Hikayat Mitobotani, hal. 39)


Seringkali, hubungan kita dengan alam diawali dengan cerita-cerita pantangan. "Dilarang pipis di bawah pohon!" "Awas pakai sendal kalau menginjak tanah!" "Jangan berkata jorok kalau di hutan!" serta pantangan lainnya yang membuat kita kerap merasa alam dan kita berada dalam dunia yang berbeda. Misterius, ngeri, dan siap mencelakakan kalau kita melanggar sedikit saja pantangan yang ada. Tapi, sebagaimana penulis ceritakan dalam buku ini, banyak pantangan-pantangan tersebut dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan kita pada alam dan menjadi cara dari leluhur-leluhur kita untuk memberikan batasan sejauh mana manusia berhak memanfaatkan kekayaan alam tersebut. Walaupun, sedihnya, di alam kapitalistik yang semakin merajai sendi-sendi kehidupan, batas antara mana yang boleh dan yang tidak, perlahan-lahan semakin menipis dan bahkan hilang. Alam dipandang menjadi salah satu bentuk kuasa manusia atas dunianya.

Awalnya aku mengira buku ini akan membahas mengenai tetumbuhan semata, mengingat judul dan juga premis di halaman belakang. Ternyata lebih dari itu, buku ini mengangkat juga kisah-kisah mengenai perburuan burung, hewan kerbau yang mulai langka, serta kisah-kisah manusia menafsirkan dan mengubah bentang alam yang dia hidupi. Cukup penasaran kenapa pada akhirnya penulis (atau penerbit?) memutuskan untuk mengambil judul esai tersebut untuk mewakili keseluruhan buku yang berisi dua puluh satu catatan perjalanan.

Lewat kisah-kisahnya, ada satu pertanyaan yang menarik. Apakah masyarakat kita hanya bisa diberi larangan agar benar-benar bisa menjaga sesuatu? Karena aku pikir, perasaan larangan dan rasa takut adalah hal paling mendasar yang bersifat primordial jika dibandingkan dengan rasio atau akal. Suatu tindakan yang dilakukan atas dasar rasa takut, adalah bentuk tindakan yang paling lemah bila dibandingkan dengan melakukan sesuatu atas dasar pemikiran. Pun begitu kiranya dengan menjaga lingkungan. Di masa kini, dimana orang lebih takut tidak makan dan tidak berpenghasilan, apakah larangan berbasiskan pantangan semata masih efektif? Mungkin, cara yang lebih baik adalah menggabungkan tradisi dan kearifan lokal, dengan edukasi berbasiskan pemahaman rasional akan pentingnya menjaga kekayaan biodiversitas.

"Apakah rasa hormat hanya berlaku untuk yang keramat? Saya pikir tidak."(Di Kaki Sang Ara Ratu, hal. 177)
Profile Image for Sarashanti.
47 reviews8 followers
April 10, 2026
Catatan perjalanan yang dilakukan untuk eksplorasi flora fauna eksotis di Indonesia. Dituliskan dengan narasi yang mengalir dengan indah. Tidak hanya menjelaskan keanekaragaman hayati secara saintifik. Namun juga tentang bagaimana pengaruh mitos dan nilai filosofis yang diyakini masyarakat setempat mampu mendorong kelestarian suatu spesies. Informatif, menghibur, sekaligus membuat kita merenungi hubungan manusia dengan alam.
Profile Image for Gusti.
23 reviews6 followers
October 3, 2025
tutur yang indah. deskripsi yang sungguh memanjakan lima indra. seperti benar-benar merasa semilir angin dan rindang kanopi pepohonan. juga, selepas baca buku ini, jadi lebih menyadari kehadiran aneka ragam pohon di jakarta yang mungkin sedang sekarat. buku ini cocok untuk kita yang suka catatan etnografi, lengkap dengan kisah wayang, legenda, dan asal-usul yang penuh misteri tapi juga redefinisi. tiga keping favoritku dari ceritanya Mas Asief: "Di Bawah Naungan Kepih dan Randu Alas", "Hikayat Mitobotani", dan "Ke Mana Perginya Kerbau-Kerbau?" dua honourable mentions: "Hantu-Hantu Kelud" dan "Tirta Amerta di Kaki Arjuna".
Profile Image for Rinaldo.
294 reviews48 followers
March 19, 2026
4.3/5

Kerusakan alam dan pudarnya budaya adalah dua isu besar bagi Indonesia dalam beberapa dekade terakhir ini. Deforestasi massal, penambangan, perburuan liar, hingga urbanisasi menggerus lapisan alam dan budaya masyarakat. Makin banyak spesies yang hilang dan kisah-kisah yang terlupakan. Bahkan, mitos dan folklor yang tadinya diciptakan untuk melindungi alam seakan ikut tergerus dan pudar.

Asief Abadi dengan ringan dan menarik namun berisi berhasil mengikat kisah-kisah perjalanannya dengan wawasan ekologis dan etnobiologi. Begitu banyak jenis pohon, tanaman, serangga, dan hewan yang kepunahannya di ujung mata karena perubahan zaman. Nama-nama mereka mulai dilupakan beserta peran mereka yang kebanyakan dari zaman agraria.

Sebagai kumpulan esai, jelas ada beberapa esai dengan topik yang beririsan atau bahkan terkesan sedikit repetitif, seperti misalnya pohon-pohon besar yang dianggap angker. Namun, ini bisa dibaca pula sebagai budaya dan ingatan kolektif berbagai masyarakat adat dengan nenek moyang yang sama. Beberapa esai juga terbaca sebagai travelogue penulis yang cenderung berat atau bias pada logistik dan kronologi. Saya rasa esai-esai terbaik di buku ini adalah bagian-bagian di mana penulis lebih banyak membahas sejarah, folklor, mitologi komparatif, dan kondisi lapangan spesies yang terkait daripada kronologi travelogue.

Akhirnya, buku ini terbaca sebagai sebuah upaya merawat ingatan dan melawan lupa, namun ada juga sedikit rasa ketidakberdayaan di mana beberapa perubahan terlalu masif dan tak terelakkan.
113 reviews
November 23, 2025
Sial, aku selalu ingin menulis seperti ini! Mencatat dan menceritakan kembali perjumpaan-perjumpaan dengan ragam flora dan fauna, mengaitkannya dengan sejarah masa lalu dan konteks masa kini, dan menyajikan semuanya dengan begitu indah. Tapi sayang sekali, pengetahuanku tentang flora dan fauna masih begitu terbatas. Syukurlah ada Asief! Ia juga bisa menjelaskan mitos-mitos dan kepercayaan yang dihidupi oleh masyarakat di Bali dengan sangat baik - "Di Kaki Sang Ara Ratu" adalah salah satu favoritku. Ia mengingatkanku pada pohon-pohon besar yang selalu kukagumi dengan takjub, yang seringkali membuatku berhenti sejenak dari perjalananku untuk memotretnya. Setelah kuingat-ingat, ini adalah kegiatan yang selalu aku lakukan kemanapun aku pergi. Memotret pohon besar. Menyentuh dan membisikinya, sembari bertanya-tanya, apa yang ia rasakan?

Mitos dan legenda masa lalu adalah upaya nenek moyang dan leluhur kita untuk menghormati alam; ia membuat kita, manusia, rendah hati dan mawas diri, bahwa kita bukan satu-satunya yang penting, apalagi pusat dari semesta raya ini. Ya, sama seperti pendekatan yang Arief lakukan dalam menulis esai-esai ini - rendah hati, penuh rasa keingintahuan, dan tentu saja penghormatan. Ia pengingat yang baik untuk melangkah dengan kehati-hatian sembari memerhatikan 'yang biasa' dan mempelajari makna di baliknya.

Intinya, jangan sombong, kita tuh cuma manusia!
Profile Image for raafi.
956 reviews466 followers
September 12, 2025
Sebuah karya tulis yang cukup potensial. Di awal, saya merasa betul-betul terpukau. Utamanya karena penulis terkesan paham betul dengan mitos-mitos yang melingkupi objek yang dia datangi. Selain itu, wawasan literatur yang dikutipnya juga cukup luas.

Namun, semakin ke belakang, saya merasa tulisannya terkesan repetitif. Padahal, antara satu objek dengan objek lain yang diangkatnya berbeda-beda. Begitupun dengan mitos atau kepercayaan yang “menempel” bersama dengan objek-objek yang diceritakan tersebut. Saya menilai kerangka tulisannyalah yang hampir sama sehingga saya terkesan seperti itu. Hampir di setiap akhir tulisan, penulis menekankan keterkaitan antara menjaga lingkungan dan melestarikan mitos demi kelangsungan hidup bumi.

Terlepas dari itu, saya dibikin terpukau dengan foto-foto yang disertakan pada setiap tulisan. Saya tentu mengasumsikan bahwa foto-foto tersebut merupakan hasil jepretan penulis sendiri. Saya sedikit membatin, “Wah, ini kurang. Saya ingin melihat lebih ini. Tolooong.” Itu karena pada setiap tulisan hanya diberikan satu foto.

Saya berandai-andai bahwa penulis bisa membuat buku foto yang ciamik di masa mendatang. Saya sungguh menanti itu terjadi.
6 reviews
April 7, 2026
buku catatan perjalanan ini seru. semacam perpaduan cerita-cerita botani beserta mitos yang melingkupinya. beberapa diksi puitis yang dipakai rasanya menambah kedalaman rasa tentang tempat yang dikunjungi. penjelasan ilmiah-biologisnya juga jadi penyeimbang. dan aku setuju, bahwa kepercayaan dan ketakutan akan mitos membawa manusia pada ketakziman terhadap alam.
cerita favoritku secara personal adalah "hikayat mitobotani", "ke mana perginya kerbau-kerbau", "piramida lawu", "yang sekarat di tanah kapur".
Profile Image for Steven S.
726 reviews66 followers
January 4, 2026
Catatan perjalanan yang bikin kita ikut di dalamnya. Mengenal alam. Lebih kenal lagi dengannya adalah keunggulan buku ini.
Profile Image for Dian Safitri.
32 reviews
March 2, 2026
baca buku ini krn dpt rekom dr temen pas ngebahas soal banjir Sumatera kmrn

literally semua kejadian skrg udah dikupas tuntas di sini. bagus sih bukunya krn gak mendiskreditkan local genius.

sukaa krn membahas alam dr pendekatan kearifan lokal👍🏻

gue setuju sama kata2 penulis di bagian Sekapur Sirih:

“Perjalanan tak ubahnya aktivitas kontemplatif”

soalnya gue kalo lagi main juga suka bgt observe dan kontemplasi haha

membahas lebih dekat soal tumbuhan dan hewan endemik Indonesia, atau bahkan sesimple kerbau dan kupu2, dan peninggalan2 bersejarah.
Displaying 1 - 11 of 11 reviews