Banyak cara yang bisa dilakukan sebagai usaha untuk terkenal. Kalau Anda merasa punya bakat di bidang tarik suara atau tari-tarian, segeralah ikut ajang pencarian bakat. Merasa tidak punya bakat di kedua bidang itu? Berjoget-jogetlah sambil komat-kamit mengikuti lirik sebuah lagu - jangan lupa untuk menyalakan alat perekam - dan segeralah unggah ke youtube. Siapa tahu nasib Anda akan sama dengan duet keong racun. Atau, suara Anda sangat bagus tapi tidak ingin ikut ajang idol-idolan? Rekam saja diri Anda saat bernyanyi, dan (lagi) segera unggah ke youtube. Mungkin, Anda akan menjadi the next Justin Beiber, atau Greyson Change.
Tapi ingat, tidak ada jaminan Anda akan terkenal. Namanya juga hanya usaha untuk terkenal, tergantung juga dengan amal ibadah Anda. Meski sebenarnya, menjadi terkenal itu sangat mudah di Indonesia yang sepertinya sangat suka dengan yang serba instan. Namun, seperti uang panas, easy come easy go, keterkenalan itu juga bisa pudar dengan cepat.
Nah, seperti remaja pada umumnya, Judy Moody juga ingin terkenal. Dia ingin dirinya diliput, entah di radio, surat kabar, atau televisi. Semua bermula karena si Queen Bee, Jessica Finch, sang juara mengeja dalam bahasa Inggris se-Virginia Utara. Kemenangan Jessica diliput oleh surat kabar setempat. Dan dia pun terkenal. Ternyata, ayah Judy juga pernah menang kuis di radio. Terkenal. Sewaktu SMA, ibunya bergabung dengan paduan suara Glee yang juga pernah diliput. Terkenal. Bahkan Stink, adiknya, pernah diliput surat kabar dan televisi karena lahir di kursi belakang jip. Dia merasa semua orang di sekitarnya bisa terkenal. Sementara dia, sama sekali belum pernah. Tidak ada hal yang bisa membuat dia terkenal.
Tekad sudah bulat, dia pun mencoba banyak hal untuk menuju pintu keterkenalan. Mencoba hal-hal yang bodoh pun dia lakukan, yang penting tenar. “Mengubah” biji cherry yang baru dia makan menjadi biji cherry peninggalan George Washington 250 tahun yang silam. Tapi, gagal. Membawa Mouse, kucingnya, mengikuti kontes binatang peliharaan. Hampir berhasil. Lho? Memang, dia meraih juara dua dan berhak menerima pita biru, voucher belanja, dan fotonya akan dipajang di koran Virginia Utara. Tapi kecelakaan kecil terjadi saat sesi foto para pemenang, sehingga hanya siku tangan Judy yang masuk koran. Tidak menyerah, Judy mencoba hal lain. Dia berniat memecahkan rekor sebagai manusia kaki seribu. Tapi kembali sebuah kecelakaan terjadi, ukuran jari kelingking Frank Pearl berubah menjadi dua kali lebih besar dari ukuran normal, dan terkulai ke arah yang salah alias patah. Gagal lagi.
Akhirnya, dia sukses menjadi terkenal bukan karena melakukan hal-hal yang konyol, tapi setelah diam-diam melakukan perbuatan yang baik. Memang, dia terkenal secara misterius. Perbuatannya diberitakan di koran, tapi namanya tidak dicantumkan. Yah . . . seperti Spiderman a.k.a Peter Parker atau Clark Kent a.k.a Superman yang tidak hanya ingin melakukan perbuatan baik tanpa ada keinginan untuk terkenal atau mendapat pujian. Bagi Judy, terkenal secara misterius sudah lebih dari sekedar terkenal. Memangnya, dia melakukan apa?
Sama seperti “Judy Moody – Lagi Mood, Bukan Mood Bagus, Mood Jelek” yang sudah saya baca sebelumnya, buku ini juga dilengkapi dengan illustrasi. Covernya masih tetap keren, ceritanya masih bagus dan lucu. Kalau di “Judy Moody – Lagi Mood, Bukan Mood Bagus, Mood Jelek”, ceritanya lebih memperlihatkan sisi kreatif Judy, sementara buku ini memperlihatkan kejujuran dan kebaikan hati Judy. Sempat berbohong tapi kemudian badannya merasa “gatal-gatal” sehingga menceritakan yang sebenarnya pada Mr. Todd.
Sempat mendewakan keterkenalan, tapi kemudian memprioritaskan perbuatan baik. Sementara, menjadi terkenal hanyalah sebagai bonus dari perbuatan baik itu.