Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pandawa Seda

Rate this book

200 pages, Hardcover

First published June 1, 1992

13 people are currently reading
251 people want to read

About the author

R.A. Kosasih

50 books29 followers
~Disalin dari Wikipedia~

Raden Ahmad Kosasih (Bogor, Jawa Barat, 4 April 1919) adalah seorang penulis dan penggambar komik termasyhur dari Indonesia. Generasi komik masa kini menganggapnya sebagai Bapak Komik Indonesia.

Karya-karyanya terutama berhubungan dengan kesusastraan Hindu (Ramayana dan Mahabharata) dan sastra tradisional Indonesia, terutama dari sastra Jawa dan Sunda. Selain itu beliau juga menggambar beberapa komik silat yang memiliki pengaruh Tionghoa, namun tidak terlalu banyak.

Kosasih mulai menggambar pada tahun 1953 lalu ia mulai berhenti dan pensiun pada tahun 1993. Kosasih terutama menggambar sketsa-sketsa hitam-putih tanpa memakai warna.

Kosasih memulai kariernya pada penerbit Melodi di Bandung. Namun karya-karyanya yang terkenal diterbitkan oleh Maranatha. Akhir-akhir ini pada dasawarsa tahun 1990-an karya-karyanya diterbitkan ulang oleh Elex Media Komputindo dan penerbit Paramita di Surabaya.
Kosasih meninggal dunia dalam usia 93 tahun.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
75 (42%)
4 stars
53 (29%)
3 stars
33 (18%)
2 stars
10 (5%)
1 star
6 (3%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Dimas  Arya Bima.
22 reviews11 followers
September 29, 2012
sebenernya yang saya baca bukan versi ini tapi yang lama ... berhubung ga nemeu yaudah yang penting certanya sama...

ceritanya tentang akhir dari pandawa ... sedih emang karena akhirnya pandawa gugur satu persatu di mahameru

yang jelas di pandawa seda ini masing2 pandawa nemuin takdirnya ... terus muatan moral ddari akhir pandawa ini kerasa bgt karena masing2 nemu karma dan balasan dr perbuatan mereka selama di dunia
Profile Image for Nisa diani.
20 reviews4 followers
May 18, 2010
gambarnya nggak berwarna di dalamnya, sempat tertipu kirain bentuknya novel, ternyata komik :)) :P

padahal buku ini kado buat bapakku :D
Profile Image for Puspa.
168 reviews2 followers
September 22, 2020
Membaca bagian kisah pewayangan tentang Pandawa Seda membuatku sedih. Setelah peperangan Baratayuda, tidak semuanya berakhir bahagia. Ada banyak hal yang membuat Yudistira dan adik-adiknya tidak merasa tenang, mereka kemudian memilih menyepi ke puncak Himalaya.

Setelah peperangan dahsyat di Kurukshetra, ada banyak korban baik dari pihak Pandawa dan Kurawa. Drupadi merasa sedih karena anak keturunannya semua meninggal di medan laga, hanya cucu Arjuna yang selamat, Parikesit.

Istri Destarata, Gandari bersusah hati. Meskipun menang dalam pertempuran, ada rasa segan yang melekat pada Pandawa karena bibi dan paman mereka juga berduka. Gandari karena luapan emosinya mengeluarkan sumpah serapah ke Kresna karena menganggap Kresna gagal mencegah peperangan, dimana kemudian diterima Kresna dengan lapang dada. Putranya, Raden Samba beserta anak buahnya pun kemudian tewas. Kresna sendiri kemudian memilih menyingkir karena merasa tugasnya di dunia sudah berakhir.

Gandari, Destarata, Dewi Kunti, dan Arya Widura kemudian pergi bertapa. Mereka sudah tua dan ingin menyucikan diri. Akan tetapi tak terduga terjadi kebakaran yang melalap tempat mereka bertapa. Pandawa merasa begitu kehilangan.

Saat Pandawa kembali memerintah, negeri menjadi makmur sejahtera. Kemudian tibalah waktunya mereka merasa kehidupan duniawi sudah tidak menarik. Mereka pun menuju puncak Himalaya.

Drupadi ikut serta. Subadra menangis karena merasa tidak bakal lagi berjumpa dengan suaminya, Arjuna. Arjuna menitipkan Parikesit kepadanya juga di bawah asuhan Baladewa. Nantinya cucu Arjuna yang akan meneruskan tahta Hastina.

Mereka pun berangkat, siap menuju Puncak Hilamaya. Kini bukan karena pengasingan, tapi karena ingin menyucikan diri, lepas dari duniawi.

Tidak mudah menuju Puncak Himalaya. Mereka berjalan terus. Hingga, suatu ketika Drupadi tidak sanggup. Ia pun meninggal. Selanjutnya, satu-persatu Pandawa pun meninggal. Bahkan Bima yang gagah perkasa pun tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Hanya Yudistira yang berhasil menempuh hingga Puncak Himalaya. Di sana Yudistira melihat kondisi adik-adiknya dan bangsa Kurawa yang tidak seperti dugaannya, sebelum kemudian adik-adiknya ikut bersamanya ke alam kekal yang bahagia.

Kisah ini kubaca di komik Mahabarata lawas karya RA Kosasih. Sepertinya ada banyak versi cerita pasca Baratayuda.

Ulasan juga tayang di dewipuspasari.net
1 review
August 6, 2013
gdff
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.