What do you think?


Tanah Air yang Hilang
Buku ini mengumpulkan cerita 19 orang Indonesia yang terpaksa kehilangan tanah air dan tinggal di berbagai sudut Eropa. Mereka berkelana menyeberangi berbagai batas negara dalam ketakutan, tanpa paspor, untuk menghindari pengejaran yang dilancarkan oleh sebuah rezim yang bertahta berdasawarsa lamanya. Ketika mendapat suaka di negara baru, mereka lega. Ketika pulang ke Indonesia, mereka menggunakan paspor negara lain. Pada sebentuk hati yang sudah berpuluh tahun kehilangan tanah air, tanpa paspor yang dulu dipegang ketika meninggalkan Indonesia, pulang adalah heroisme yang datang berulang-ulang sampai akhir hayat.
Mereka sudah menjadi warga negara lain, tetapi Indonesia tetaplah tanah air mereka.
Kami tak punya kewarganegaraan. Inilah nasib yang kita tidak nyana. Padahal, posisi kita jelas. Kita setia dan cinta tanah air dengan tujuan kembali ke Indonesia untuk menyumbangkan sesuai dengan kemampuan kami masing-masing bagi kemajuan Indonesia. (hlm. 120)
Betul, walau sebagai seorang yang terhalang pulang saya mendapat pengetahuan, bisa berbahasa Albania, bisa melihat dunia, tapi apa yang bisa saya sumbangkan untuk Indonesia? Itulah soalnya. (hlm. 211)
Tujuan kami Indonesia, Bung! Bukan Belanda! Pulang untuk membangun Indonesia. Kami akhirnya tinggal di sini karena situasi yang tidak memungkinkan kami pulang pada waktu itu. (hlm. 267)
Mereka sudah menjadi warga negara lain, tetapi Indonesia tetaplah tanah air mereka.
Kami tak punya kewarganegaraan. Inilah nasib yang kita tidak nyana. Padahal, posisi kita jelas. Kita setia dan cinta tanah air dengan tujuan kembali ke Indonesia untuk menyumbangkan sesuai dengan kemampuan kami masing-masing bagi kemajuan Indonesia. (hlm. 120)
Betul, walau sebagai seorang yang terhalang pulang saya mendapat pengetahuan, bisa berbahasa Albania, bisa melihat dunia, tapi apa yang bisa saya sumbangkan untuk Indonesia? Itulah soalnya. (hlm. 211)
Tujuan kami Indonesia, Bung! Bukan Belanda! Pulang untuk membangun Indonesia. Kami akhirnya tinggal di sini karena situasi yang tidak memungkinkan kami pulang pada waktu itu. (hlm. 267)
- GenresNonfictionHistory
325 pages, Paperback
First published August 14, 2017
About the author
Martin Aleida
26 books20 followersMartin Aleida adalah seorang sastrawan yang lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara, pada 1943. Nama aslinya adalah Nurlan.
Martin mengawali karirnya sebagai wartawan di harian Zaman Baru. Profesi inilah yang mengantarkannya ke penjara, ditangkap oleh Orde Baru karena koran tersebut diterbitkan oleh Lembaga Kesenian Rakyat.
Menempuh studi lingustik di Georgetown University, Washingotn D.C, Amerika Serikat, Martin pernah bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sejumlah media massa, diantaranya Majalah Tempo di Jakarta. Kini, ia aktif sebagai anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta periode 2009 – 2012.
Martin mengawali karirnya sebagai wartawan di harian Zaman Baru. Profesi inilah yang mengantarkannya ke penjara, ditangkap oleh Orde Baru karena koran tersebut diterbitkan oleh Lembaga Kesenian Rakyat.
Menempuh studi lingustik di Georgetown University, Washingotn D.C, Amerika Serikat, Martin pernah bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sejumlah media massa, diantaranya Majalah Tempo di Jakarta. Kini, ia aktif sebagai anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta periode 2009 – 2012.
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 24 of 24 reviews
April 5, 2020
Usaha yang cukup luar biasa dari Martin Aleida untuk menemui secara langsung sekian belas eksil Indonesia yang ada di Eropa. Mereka adalah orang-orang yang tidak bisa pulang ke Tanah Air; paspornya dicabut menyusul pecahnya G30S 1965. Padahal mereka adalah para mahasiswa yang dikirim Sukarno untuk belajar ke luar negeri, yang kelak ketika mereka kembali akan menjadi para pemikir serta perancang pembangunan negara ini. Gejolak politik memaksa mereka untuk tetap bertahan, klayapan kalau dalam istilah Gus Dur, sepanjang puluhan tahun berikutnya, beberapa bahkan meninggal di negeri orang. Orde Baru tentu menjadi gerombolan yang mesti bertanggung jawab atas semua ini.
Sebuah kisah dan tragedi pahit yang didokumentasikan dengan baik oleh Martin, meski belum seluruhnya dapat direkam dan dituliskan. Satu kisah yang menjadi favorit saya adalah dari Farida Ishaja, perempuan eksil asal Medan yang kisah hidupnya paling epic di sini menurutku. Bayangkan, ia dikirim ke Vietnam pada 1964 untuk kuliah sejarah di sana. Setahun kemudian pecahlah tragedi yang membuat ia tak dapat pulang ke Tanah Air. Dalam waktu bersamaan juga pecah Perang Vietnam di mana ia mesti berlindung (dan akhirnya ikut bergerilya) melawan tentara Amerika Serikat, bertahan hidup masuk-keluar hutan untuk berperang disambi tetap belajar di universitas darurat yang didirikan di barak persembunyian. Kerennya, bapaknya melarang ia pulang dan menyuruhnya bergabung dengan pasukan pembebasan Vietnam. Perang berakhir, lantas ia terdampar dan akhirnya menetap di Belanda hingga kini sebagai seorang eksil. Getir. Namun mengasyikkan, juga membakar jiwa-jiwa yang berani melawan!
Ada banyak kisah lain yang tak kalah haru, juga berani, dalam buku ini (ada 17 cerita seluruhnya). Lengkapnya silakan baca sendiri. Yang jelas, buku ini menjadi sebuah peringatan, juga pengingat, bahwa negara ini belum benar-benar menyelesaikan bebannya di masa lalu, termasuk pada mereka yang terhalang, tidak bisa pulang ke tanah tumpah darahnya.
Martin Aleida. Tanah Air yang Hilang. (Jakarta: Kompas, 2017). xviii+326 hlm.
Sebuah kisah dan tragedi pahit yang didokumentasikan dengan baik oleh Martin, meski belum seluruhnya dapat direkam dan dituliskan. Satu kisah yang menjadi favorit saya adalah dari Farida Ishaja, perempuan eksil asal Medan yang kisah hidupnya paling epic di sini menurutku. Bayangkan, ia dikirim ke Vietnam pada 1964 untuk kuliah sejarah di sana. Setahun kemudian pecahlah tragedi yang membuat ia tak dapat pulang ke Tanah Air. Dalam waktu bersamaan juga pecah Perang Vietnam di mana ia mesti berlindung (dan akhirnya ikut bergerilya) melawan tentara Amerika Serikat, bertahan hidup masuk-keluar hutan untuk berperang disambi tetap belajar di universitas darurat yang didirikan di barak persembunyian. Kerennya, bapaknya melarang ia pulang dan menyuruhnya bergabung dengan pasukan pembebasan Vietnam. Perang berakhir, lantas ia terdampar dan akhirnya menetap di Belanda hingga kini sebagai seorang eksil. Getir. Namun mengasyikkan, juga membakar jiwa-jiwa yang berani melawan!
Ada banyak kisah lain yang tak kalah haru, juga berani, dalam buku ini (ada 17 cerita seluruhnya). Lengkapnya silakan baca sendiri. Yang jelas, buku ini menjadi sebuah peringatan, juga pengingat, bahwa negara ini belum benar-benar menyelesaikan bebannya di masa lalu, termasuk pada mereka yang terhalang, tidak bisa pulang ke tanah tumpah darahnya.
Martin Aleida. Tanah Air yang Hilang. (Jakarta: Kompas, 2017). xviii+326 hlm.
May 3, 2018
Tanah Air Yang Hilang adalah jenis buku yang wajib dibaca generasi muda yang nggak perlu mengalami kepahitan dan kekejaman rezim Orde Baru. Sembilan belas cerita para eksil '65 ini akan membuka mata banyak orang, saya jelas termasuk, bahwa nggak peduli sudah berapa puluh taun tinggal di negara orang dan jadi warga negara asing, bagi mereka, Indonesia tetaplah tanah air, nggak peduli dengan apa yang negara kita udah lakukan ke mereka.
Cerita mereka juga menyadarkan saya bahwa tragedi '65 bukanlah semata-mata karena satu partai yang kemunculannya dilarang, bahkan sampai sekarang, stigma masih melekat pada partai itu. Banyak dari para eksil ini yang bahkan nggak terlibat secara langsung dalam politik tapi terkena imbasnya. Satu yang paling bikin saya sedih adalah ketika mereka dipaksa memilih untuk mendukung pemerintahan Soeharto atau tetap setia pada Soekarno. Bagaimana bisa sebuah negara melakukan hal itu kepada warga negaranya?
Negara kita masih punya begitu banyak PR jika menyangkut tentang pelanggaran HAM. Saya nggak tahu kapan (jika memang suatu saat terjadi) tapi saya berharap sejarah yang selama ini sengaja disembunyikan akan muncul ke permukaan. Saya ingin kita belajar dan peduli pada sejarah kelam bangsa ini agar nggak terulang lagi. These stories are both heartbreaking and inspiring. Buat saya, 19 eksil beserta ratusan lainnya yang nggak terdokumentasi oleh buku ini adalah pahlawan. Keberanian mereka perlu diacungi jempol dan sudah seharusnya kita malu karena mereka tetaplah menganggap Indonesia sebagai tanah air.
Cerita mereka juga menyadarkan saya bahwa tragedi '65 bukanlah semata-mata karena satu partai yang kemunculannya dilarang, bahkan sampai sekarang, stigma masih melekat pada partai itu. Banyak dari para eksil ini yang bahkan nggak terlibat secara langsung dalam politik tapi terkena imbasnya. Satu yang paling bikin saya sedih adalah ketika mereka dipaksa memilih untuk mendukung pemerintahan Soeharto atau tetap setia pada Soekarno. Bagaimana bisa sebuah negara melakukan hal itu kepada warga negaranya?
Negara kita masih punya begitu banyak PR jika menyangkut tentang pelanggaran HAM. Saya nggak tahu kapan (jika memang suatu saat terjadi) tapi saya berharap sejarah yang selama ini sengaja disembunyikan akan muncul ke permukaan. Saya ingin kita belajar dan peduli pada sejarah kelam bangsa ini agar nggak terulang lagi. These stories are both heartbreaking and inspiring. Buat saya, 19 eksil beserta ratusan lainnya yang nggak terdokumentasi oleh buku ini adalah pahlawan. Keberanian mereka perlu diacungi jempol dan sudah seharusnya kita malu karena mereka tetaplah menganggap Indonesia sebagai tanah air.
September 18, 2022
Membaca dan menelusuri buku-buku sejarah terkait peristiwa 1965 bagiku ngeri-ngeri sedap, dan lebih banyak ngerinya. Aku takut akan segala emosi yang timbul saat sedang dan setelah membaca. Juga, banyak dari buku-buku 1965 susah dicari dan harganya bikin nangis.
Tanah Air Yang Hilang disusun oleh wartawan Martin Aleida, berisi kumpulan kisah dan kesaksian (dari tangan pertama) para eksil yang terbuang dari tanah air karena dicurigai mempunyai keterlibatan dengan PKI. Banyak di antara mereka malah tidak punya kecenderungan politik kiri sama sekali, hanya "kebetulan" dikirim belajar oleh Presiden Soekarno ke negara-negara Eropa Barat. Tahun 1965 tiba-tiba situasi politik di Indonesia berubah drastis dan Jenderal Soeharto mengambil tampuk pimpinan, dan kemudian mahasiswa-mahasiswa ini harus melalui screening yang intinya menanyakan apakah mereka mendukung Orde Baru atau tidak. Mereka yang memutuskan setia pada Presiden Soekarno paspornya dicabut, berstatus stateless dan harus mencari suaka.
Dalam lubuk hati orang-orang terbuang ini, Indonesia masih tetap tanah air, meski mereka tidak bisa pulang ke sana.
"Tanah air itu apa?"
"Tanah air? Indonesia tetap tanah airku. Biar digebukin saya tetap wong jowo. Saya tetap Indonesia. Soalnya bukan di mana Anda hidup, tetapi bagaimana Anda hidup. Untuk apa Anda hidup. Ada orang yang di tanah air sendiri, tetapi tidak merasa seperti bertanah air. Ngumpet-ngumpet. Dan mereka berpikir kalau di luar negeri itu enak. Tidak begitu." (Soejono Soegeng Pangestu)
"Kalau ke Indonesia, Bung lukiskan itu sebagai pulang atau apa?"
"Tidak sebagai pulang lagi, tetapi sebagai kunjungan. Saya tak punya tempat ke mana saya pulang. Di sini juga begitu... Berangkat, ya, ke mana-mana..." (Waruno Mahdi)
Salah satu kisah paling mencengangkan adalah kisah Farida Ishaja yang dikirim belajar ke Vietnam tahun 1964, tapi malah terjebak dalam kecamuk perang Vietnam dan mati-matian harus mempertahankan hidup; masuk lubang di tanah kalau ada bom, mencari makanan di dalam hutan.
Sarmadji, sampai masa senja memutuskan tidak berkeluarga, dan bahagia hidup dalam rumah sempit yang diisinya dengan ribuan buku. Dari Wenni Santoso kita mendapatkan kisah pedih seorang istri yang mendampingi suami sampai ajal menjemput.
Kisah-kisah ini pedih, tapi juga penuh harapan. Mereka tidak menyesali semua yang terjadi, bahkan harus kehilangan tanah airpun tidak mereka sesali.
"Begitulah hidup saya: terdampar tetapi ada momen-momen bercahaya. Hidup saya memang sengsara, tetapi terkadang ada cahaya, ada cahaya di dalamnya." (I Ketut Putera)
Aku menutup lembar terakhir buku ini dengan sejuta pertanyaan. Pasalnya, ayahku juga termasuk salah satu mahasiswa yang diberangkatkan ke Uni Soviet tahun 1963. Beliau pulang ke Indonesia tahun 1968 dan menikah dengan ibu tahun 1972. Apakah waktu itu ia juga melalui screening? Apakah waktu itu ia menunjukkan dukungan terhadap Orde Baru (entah sungguh-sungguh atau untuk cari aman)? Aku bertanya pada ibuku dan beliau menjawab tidak ada masalah saat kepulangan ayah dari Soviet. Aku tidak bisa bertanya langsung pada beliau untuk menuntaskan keingintahuanku, karena beliau sudah meninggal tahun 2011. Tapi, jika beliau mengambil pilihan lain waktu itu, atau ada sesuatu yang terjadi, maka aku tidak akan ada hari ini...
Tanah Air Yang Hilang disusun oleh wartawan Martin Aleida, berisi kumpulan kisah dan kesaksian (dari tangan pertama) para eksil yang terbuang dari tanah air karena dicurigai mempunyai keterlibatan dengan PKI. Banyak di antara mereka malah tidak punya kecenderungan politik kiri sama sekali, hanya "kebetulan" dikirim belajar oleh Presiden Soekarno ke negara-negara Eropa Barat. Tahun 1965 tiba-tiba situasi politik di Indonesia berubah drastis dan Jenderal Soeharto mengambil tampuk pimpinan, dan kemudian mahasiswa-mahasiswa ini harus melalui screening yang intinya menanyakan apakah mereka mendukung Orde Baru atau tidak. Mereka yang memutuskan setia pada Presiden Soekarno paspornya dicabut, berstatus stateless dan harus mencari suaka.
Dalam lubuk hati orang-orang terbuang ini, Indonesia masih tetap tanah air, meski mereka tidak bisa pulang ke sana.
"Tanah air itu apa?"
"Tanah air? Indonesia tetap tanah airku. Biar digebukin saya tetap wong jowo. Saya tetap Indonesia. Soalnya bukan di mana Anda hidup, tetapi bagaimana Anda hidup. Untuk apa Anda hidup. Ada orang yang di tanah air sendiri, tetapi tidak merasa seperti bertanah air. Ngumpet-ngumpet. Dan mereka berpikir kalau di luar negeri itu enak. Tidak begitu." (Soejono Soegeng Pangestu)
"Kalau ke Indonesia, Bung lukiskan itu sebagai pulang atau apa?"
"Tidak sebagai pulang lagi, tetapi sebagai kunjungan. Saya tak punya tempat ke mana saya pulang. Di sini juga begitu... Berangkat, ya, ke mana-mana..." (Waruno Mahdi)
Salah satu kisah paling mencengangkan adalah kisah Farida Ishaja yang dikirim belajar ke Vietnam tahun 1964, tapi malah terjebak dalam kecamuk perang Vietnam dan mati-matian harus mempertahankan hidup; masuk lubang di tanah kalau ada bom, mencari makanan di dalam hutan.
Sarmadji, sampai masa senja memutuskan tidak berkeluarga, dan bahagia hidup dalam rumah sempit yang diisinya dengan ribuan buku. Dari Wenni Santoso kita mendapatkan kisah pedih seorang istri yang mendampingi suami sampai ajal menjemput.
Kisah-kisah ini pedih, tapi juga penuh harapan. Mereka tidak menyesali semua yang terjadi, bahkan harus kehilangan tanah airpun tidak mereka sesali.
"Begitulah hidup saya: terdampar tetapi ada momen-momen bercahaya. Hidup saya memang sengsara, tetapi terkadang ada cahaya, ada cahaya di dalamnya." (I Ketut Putera)
Aku menutup lembar terakhir buku ini dengan sejuta pertanyaan. Pasalnya, ayahku juga termasuk salah satu mahasiswa yang diberangkatkan ke Uni Soviet tahun 1963. Beliau pulang ke Indonesia tahun 1968 dan menikah dengan ibu tahun 1972. Apakah waktu itu ia juga melalui screening? Apakah waktu itu ia menunjukkan dukungan terhadap Orde Baru (entah sungguh-sungguh atau untuk cari aman)? Aku bertanya pada ibuku dan beliau menjawab tidak ada masalah saat kepulangan ayah dari Soviet. Aku tidak bisa bertanya langsung pada beliau untuk menuntaskan keingintahuanku, karena beliau sudah meninggal tahun 2011. Tapi, jika beliau mengambil pilihan lain waktu itu, atau ada sesuatu yang terjadi, maka aku tidak akan ada hari ini...
August 19, 2017
Kalau pernah membaca buku Kembang-Kembang Genjerkarya Fransisca Ria Susanti, atau Anak-Anak Bom Atom kita akan merasakan kesedihan sekaligus kekuatan serba tidak mungkin yang dimiliki oleh korban. Kalau dalam buku ini, ialah mereka yang ketika masa pergantian pemimpin orde lama ke orde baru, terjebak dalam polemik status eksil. Mereka terjebak di luar negeri ketika g30s meledak di Indonesia, sedangkan orang-orang dalam buku secara langsung atau tidak berkaitan dengan negara-negara yang berhubungan erat dengan paham komunis. Mau tidak mau, mereka secara langsung bersifaat stateless. Dicekal, dikejar, bahkan paspor mereka disita.
Namun, menyedihkannya tidak semua orang dalam buku ini adalah mereka yang memang berafiliasi dengan paham komunis atau sub organisasi PKI. Beberapa bahkan hanyalah mendapat kesempatan tugas belajar ke luar negeri atas perintah Soekarno. Dan ketika Soeharto naik, mereka tidak mau mengakui orde baru. Karena mereka diperintah dan diberangkatkan oleh Soekarno. Maka loyalitasnya hanya untuk Soekarno.
dan nyesek.
Rezim memang kejam.
Namun, menyedihkannya tidak semua orang dalam buku ini adalah mereka yang memang berafiliasi dengan paham komunis atau sub organisasi PKI. Beberapa bahkan hanyalah mendapat kesempatan tugas belajar ke luar negeri atas perintah Soekarno. Dan ketika Soeharto naik, mereka tidak mau mengakui orde baru. Karena mereka diperintah dan diberangkatkan oleh Soekarno. Maka loyalitasnya hanya untuk Soekarno.
dan nyesek.
Rezim memang kejam.
January 16, 2018
I really recommend this book to fellow Indonesians. It tells stories about 19 political and non-political exiles who fled to Russia, China, European countries, and Vietnam, avoiding the cruel regime. Their loyalty towards Soekarno, who commanded them to study abroad in Peking and some communist countries in Europe, resulted them stateless, losing their nationality. Being separated from their families, long adventures to find shelters, changed their names (so that they are not traced), some exiles faced deadly mental stress and guilt (because they cannot take care of their sons and daughters). One exile, found committed to suicide by jumping from the 5th floor of an apartment in NL, in his hand found a handful of indonesian sands wrapped in white cloth, written "Tanah Airku Indonesia" (means: My homeland Indonesia). Tragic, the wounded-guilt that can never be vanished.
There is another story tells about an exile who had paranoia for the rest of his life. Had girlfriends who were always sent by the state as a spy. Reminded me that 1984 by Goerge Orwell under Soeharto's regime was real.
Written by Martin Aleida is a journalist, came and introducing the book to the fellow Intl. master students in Asien-Afrika Institut and telling his adventure around Europe in recording exiles stories in his late 80.
Almost 2 decades after the fall of Soeharto regime, they are back and still alive, able to share their witnesses, that they were afraid to tell. (They were threatened to tell stories, that will costs the life of their family members who still remained in Indonesia).
It made me start to think, who would judge that communism is bad now? Knowing the mass killing that happened, do we just go ahead in development and not realising our shame? How bad the story had been and what we do is just closing our eyes and ears. It would be even more shameful in our generation if we really are ignoring this.
Reading this will help to get another perspective of the history that have been manipulated.
There is another story tells about an exile who had paranoia for the rest of his life. Had girlfriends who were always sent by the state as a spy. Reminded me that 1984 by Goerge Orwell under Soeharto's regime was real.
Written by Martin Aleida is a journalist, came and introducing the book to the fellow Intl. master students in Asien-Afrika Institut and telling his adventure around Europe in recording exiles stories in his late 80.
Almost 2 decades after the fall of Soeharto regime, they are back and still alive, able to share their witnesses, that they were afraid to tell. (They were threatened to tell stories, that will costs the life of their family members who still remained in Indonesia).
It made me start to think, who would judge that communism is bad now? Knowing the mass killing that happened, do we just go ahead in development and not realising our shame? How bad the story had been and what we do is just closing our eyes and ears. It would be even more shameful in our generation if we really are ignoring this.
Reading this will help to get another perspective of the history that have been manipulated.
September 23, 2026
Reading this book has complemented my reading of Ibu Soe Tjen Marching’s book, "Yang Tak Kunjung Padam". It has also complemented the film "Eksil", which I watched several years ago. Honestly, throughout reading this book, I felt a great deal of “heartache” and “hatred” towards the New Order regime, which shamelessly and massively distorted historical narratives, even turning them into propaganda and a form of “brainwashing” for the Indonesian people, particularly the generations that are born after 1965 until now.
I vividly remember that throughout my education, from primary school to secondary school, history education always “tried” to distort the brutal historical facts surrounding the 1965 tragedy. The PKI, communism, Sukarno, and even the NASAKOM ideology were repeatedly presented as historical explanations for the atrocities that occurred in 1965, while the actual facts and the main perpetrators behind the tragedy were deliberately concealed. Even today, every 30 September, several television stations continue to broadcast propaganda films that attempt to brainwash Indonesia’s younger generation about these events.
This book is one of the works that can challenge that propaganda. It tells the stories of intellectuals who should have become the “leaders” of Indonesia, both in the present day and during the early Reformasi era, but who were simply “thrown” into foreign lands they knew nothing about. Many of the exiles and interviewees featured in this book experienced bitter lives and painful journeys after being declared “stateless” by the brutal authoritarian regime. They moved from place to place, seeking asylum in countries that were not their homeland and were thousands of kilometres away from Indonesia.
Another thing that makes me “angry” and “disgusted” with the New Order government is the fact that, after being declared “stateless”, many of these people lived in poverty and hardship. Some were forced to take precarious jobs, including working as taxi drivers, restaurant workers and servants. JUST IMAGINE!!! These were intellectuals whom the Indonesian nation and Sukarno had hoped would help prepare a bright future for Indonesia, yet they ultimately had to live as “worthless slaves” because of the “stateless” label imposed by the illegitimate and puppet government of the New Order. Imagine if the authoritarian military regime had never come to power and the 1965 tragedy had never occurred. Perhaps Indonesia would have become a developed country by now, thanks to the intellectual generation that was lost.
Some of these exiles also struggled with psychological problems of mental disorders & illness. One of them even passed away because his mental illness take him to death in the accident of traffic crash accident. The traumatic experiences they endured became “ghosts” that haunted them throughout their lives and affected their mental well-being and taken their mental health. Yet, despite being betrayed by Suharto’s authoritarian military regime, and even though they were betrayed by history itself, many of them continued to love their homeland, Indonesia. Beyond the intellectual spirit that ran through their veins, they were sons and daughters of Indonesia who had been betrayed by a small number of irresponsible people driven by greed and a thirst for wealth, even people who were, in a sense, their own fellow Indonesians.
Many of them were not even members or supporters of the communist party, yet they were “imprisoned” and “banned” from their own country simply because they supported a government and leader that was considered legitimate under the law and recognised internationally at the time, the government of Soekarno. Was that wrong? Of course not. The right to support and choose a legitimate leader, one recognised by the international community, is a basic human right.
On the other hand, many of them initially travelled to China and Vietnam because they thought both of the countries will help them in the basis of the solidarity dan their closeness to Soekarno government, in the hope that, through these countries, they would eventually find a way to return to Indonesia and regain their citizenship. Sadly, instead of finding a “path” home, many became victims of the Cultural Revolution in China, while others were caught up in persecution and the violence of the Vietnam War. Just imagine: in their attempt to return to their homeland and reunite with their beloved families, they had to risk their lives and even become victims of violence and upheaval in other countries.
Speaking of family, almost 95 percent of these intellectuals never saw their parents again when they were finally able to “visit” Indonesia, because their parents had already died. Many of their siblings had also passed away. I honestly cannot imagine how painful their lives must have been.
I am an Indonesian member of the diaspora currently living on the European continent. I often miss my homeland and my family. I cannot imagine what it must have been like for these intellectuals to have their citizenship ruthlessly taken away and to be unable to return to Indonesia because of an authoritarian government that damaged the country’s history and the lives of its people, and destroyed Indonesia’s future.
They could not see their families, had to live in a foreign land thousands of kilometres from where they were born, and many endured a bitter life until their final days, even dying in isolation and loneliness. I hope that more young people in Indonesia will read this book, because it tells one of the darkest chapters and greatest wrongs of the authoritarian military New Order regime, driven by the greed and abuse of a man consumed by a thirst for power.
Totally 4.9 out of 5!
I vividly remember that throughout my education, from primary school to secondary school, history education always “tried” to distort the brutal historical facts surrounding the 1965 tragedy. The PKI, communism, Sukarno, and even the NASAKOM ideology were repeatedly presented as historical explanations for the atrocities that occurred in 1965, while the actual facts and the main perpetrators behind the tragedy were deliberately concealed. Even today, every 30 September, several television stations continue to broadcast propaganda films that attempt to brainwash Indonesia’s younger generation about these events.
This book is one of the works that can challenge that propaganda. It tells the stories of intellectuals who should have become the “leaders” of Indonesia, both in the present day and during the early Reformasi era, but who were simply “thrown” into foreign lands they knew nothing about. Many of the exiles and interviewees featured in this book experienced bitter lives and painful journeys after being declared “stateless” by the brutal authoritarian regime. They moved from place to place, seeking asylum in countries that were not their homeland and were thousands of kilometres away from Indonesia.
Another thing that makes me “angry” and “disgusted” with the New Order government is the fact that, after being declared “stateless”, many of these people lived in poverty and hardship. Some were forced to take precarious jobs, including working as taxi drivers, restaurant workers and servants. JUST IMAGINE!!! These were intellectuals whom the Indonesian nation and Sukarno had hoped would help prepare a bright future for Indonesia, yet they ultimately had to live as “worthless slaves” because of the “stateless” label imposed by the illegitimate and puppet government of the New Order. Imagine if the authoritarian military regime had never come to power and the 1965 tragedy had never occurred. Perhaps Indonesia would have become a developed country by now, thanks to the intellectual generation that was lost.
Some of these exiles also struggled with psychological problems of mental disorders & illness. One of them even passed away because his mental illness take him to death in the accident of traffic crash accident. The traumatic experiences they endured became “ghosts” that haunted them throughout their lives and affected their mental well-being and taken their mental health. Yet, despite being betrayed by Suharto’s authoritarian military regime, and even though they were betrayed by history itself, many of them continued to love their homeland, Indonesia. Beyond the intellectual spirit that ran through their veins, they were sons and daughters of Indonesia who had been betrayed by a small number of irresponsible people driven by greed and a thirst for wealth, even people who were, in a sense, their own fellow Indonesians.
Many of them were not even members or supporters of the communist party, yet they were “imprisoned” and “banned” from their own country simply because they supported a government and leader that was considered legitimate under the law and recognised internationally at the time, the government of Soekarno. Was that wrong? Of course not. The right to support and choose a legitimate leader, one recognised by the international community, is a basic human right.
On the other hand, many of them initially travelled to China and Vietnam because they thought both of the countries will help them in the basis of the solidarity dan their closeness to Soekarno government, in the hope that, through these countries, they would eventually find a way to return to Indonesia and regain their citizenship. Sadly, instead of finding a “path” home, many became victims of the Cultural Revolution in China, while others were caught up in persecution and the violence of the Vietnam War. Just imagine: in their attempt to return to their homeland and reunite with their beloved families, they had to risk their lives and even become victims of violence and upheaval in other countries.
Speaking of family, almost 95 percent of these intellectuals never saw their parents again when they were finally able to “visit” Indonesia, because their parents had already died. Many of their siblings had also passed away. I honestly cannot imagine how painful their lives must have been.
I am an Indonesian member of the diaspora currently living on the European continent. I often miss my homeland and my family. I cannot imagine what it must have been like for these intellectuals to have their citizenship ruthlessly taken away and to be unable to return to Indonesia because of an authoritarian government that damaged the country’s history and the lives of its people, and destroyed Indonesia’s future.
They could not see their families, had to live in a foreign land thousands of kilometres from where they were born, and many endured a bitter life until their final days, even dying in isolation and loneliness. I hope that more young people in Indonesia will read this book, because it tells one of the darkest chapters and greatest wrongs of the authoritarian military New Order regime, driven by the greed and abuse of a man consumed by a thirst for power.
Totally 4.9 out of 5!
January 11, 2024
Setelah G-30-S orang-orang ini dikumpulkan oleh Kedubes Indonesia dan diberi pilihan: Mendukung Pemerintahan Suharto atau tetap setia kepada Sukarno. Pilihan setia kepada Sukarno akhirnya membuat mereka klayaban di beberapa negara Eropa, dicabut paspornya dan kehilangan kewarganegaraan Indonesianya.
Buku ini mengisahkan sebagian dari Orang Indonesia yang terpaksa kehilangan tanah airnya dan berpindah kewarganegaraan. Meskipun sudah berpindah kewarganegaraan, tetapi Indonesia tetaplah tanah air mereka. Tanah air yang diambil secara paksa dari mereka yang mencintainya, sebagaimana cinta mereka kepada Bung Karno sebuah pilihan yang membuat mereka tersebar di beberapa negara Eropa.
Buku ini mengisahkan sebagian dari Orang Indonesia yang terpaksa kehilangan tanah airnya dan berpindah kewarganegaraan. Meskipun sudah berpindah kewarganegaraan, tetapi Indonesia tetaplah tanah air mereka. Tanah air yang diambil secara paksa dari mereka yang mencintainya, sebagaimana cinta mereka kepada Bung Karno sebuah pilihan yang membuat mereka tersebar di beberapa negara Eropa.
September 21, 2024
Hampir selalu berkaca-kaca setiap membaca kata per kata yang ditulis dari sesi berbincang singkat dengan 19 eksil yang dirangkum dalam satu buku ini.
Ada satu bagian yang cukup menohok dan membekas bahkan setelah selesai membaca, di bagian Dari Bali Tidak Menari tapi Perang mengenai sesi bincang dengan Ketut Rahendra:
Bagian ini jadi menarik buat saya karena sepanjang buku, semua eksil ditanyakan hal yang kurang lebih sama "Apakah pernah menyesal?" dan jawaban berbeda muncul di bagian cerita Ketut Rahendra. Saat itu saya berpikir "Ternyata ada juga yang menyesali jalan hidup yang dipilihnya, mungkinkah akan ambil jalan berbeda jika di beri kesempatan?".
Tapi pemikiran itu berhenti tak jauh dari situ, beberapa halaman selanjutnya, di bagian penutup cerita Ketut Rahendra, beliau menyampaikan pernyataan final:
Saya rasa akan selalu ada ruang untuk berandai-andai, "Bagaimana seandainya saya tidak memilih jalan ini, melainkan yang itu pada waktu itu? Akankah hidup lebih baik bagi saya, bagi orang-orang di sekitar saya?". Namun pada akhirnya, semua yang terlibat rasanya sama-sama tahu konsekuensi dari sikap dan aksi yang telah diambil serta tentunya tidak pernah ada penyesalan telah berpegang teguh pada nilai dan ideologi yang dipercayainya.
Ikut terkesan dengan perjuangan hidup para eksil dalam mencari suaka ke berbagai negara yang mau menerima mereka; sia-sia menjalani studi yang bahkan mungkin tidak bisa dipakai untuk bekerja karena ijazahnya tidak diakui; keselamatan diri dan orang terdekat terancam karena pergolakan politik baik di dalam maupun luar negeri; terhambat untuk kembali ke tanah air hingga dicabut kewarganegaraannya dan tidak pernah punya kesempatan untuk benar-benar bisa pulang ke tanah kelahirannya, Indonesia.
Sekian lama waktu berlalu, semua tampak tak lagi memiliki penyesalan, mungkin masih tersisa sedikit kekecewaan tapi sudah lebih legowo dan berserah pada keadaan. Dengan caranya masing-masing—meskipun sudah tidak tercatat sebagai Warga Negara Indonesia—mereka mengekspresikan kecintaan dan kerinduan mereka pada tanah air, lewat tanaman khas Indonesia yang ditanam di area tempat tinggal; hiasan khas daerah yang dipamerkan di sudut rumah; tumpukan-tumpukan buku perjuangan yang memenuhi seisi penjuru rumah; mendirikan restoran masakan Indonesia; mengajari dan memperkenalkan bahasa Indonesia kepada orang asing; menjadi penerjemah bahasa Indonesia dalam urusan diplomasi politik; dan semua upaya pekerjaan yang mereka lakukan sejauh ini, meskipun tampak kecil tetap berarti besar bagi Indonesia. Mimpi untuk membangun Indonesia masihlah tersimpan meski tak lagi berstatus warga negara dan tinggal nun jauh di negeri orang.
Presiden Indonesia sudah melemparkan janji manis dan secercah harapan bagi para eksil untuk bisa kembali ke tanah air dan memperoleh penyelesaian masalah yang adil, namun sayangnya sampai saat ini para eksil masih menjadi orang-orang klayaban dan penyelesaian masalah masih sangat jauh dari kata tuntas.
Negara berutang banyak pada mereka dan korban situasi politik lainnya.
Ada satu bagian yang cukup menohok dan membekas bahkan setelah selesai membaca, di bagian Dari Bali Tidak Menari tapi Perang mengenai sesi bincang dengan Ketut Rahendra:
"Bagaimana perasaan Bung?" (Penulis bertanya kepada Ketut Rahendra setelah beliau bercerita mengenai proses mendapatkan kewarganegaraan lain setelah menjadi stateless)
"Saya tidak gembira. Tidak punya perasaan apa-apa. Karena terpaksa. Menyesal. Kok saya terpaksa menjadi warga negara Belanda."
Bagian ini jadi menarik buat saya karena sepanjang buku, semua eksil ditanyakan hal yang kurang lebih sama "Apakah pernah menyesal?" dan jawaban berbeda muncul di bagian cerita Ketut Rahendra. Saat itu saya berpikir "Ternyata ada juga yang menyesali jalan hidup yang dipilihnya, mungkinkah akan ambil jalan berbeda jika di beri kesempatan?".
Tapi pemikiran itu berhenti tak jauh dari situ, beberapa halaman selanjutnya, di bagian penutup cerita Ketut Rahendra, beliau menyampaikan pernyataan final:
"Sampai ke balik dunia, ke Kuba, ikut Vietnam Utara dalam Perang Vietnam, menyerahkan diri pada Belanda, perang lagi di dalam keluarga. Kalau tak teguh tentu menyesali hidup."
"Tidak. Ini sudah risiko pilihan hidup saya."
Saya rasa akan selalu ada ruang untuk berandai-andai, "Bagaimana seandainya saya tidak memilih jalan ini, melainkan yang itu pada waktu itu? Akankah hidup lebih baik bagi saya, bagi orang-orang di sekitar saya?". Namun pada akhirnya, semua yang terlibat rasanya sama-sama tahu konsekuensi dari sikap dan aksi yang telah diambil serta tentunya tidak pernah ada penyesalan telah berpegang teguh pada nilai dan ideologi yang dipercayainya.
Ikut terkesan dengan perjuangan hidup para eksil dalam mencari suaka ke berbagai negara yang mau menerima mereka; sia-sia menjalani studi yang bahkan mungkin tidak bisa dipakai untuk bekerja karena ijazahnya tidak diakui; keselamatan diri dan orang terdekat terancam karena pergolakan politik baik di dalam maupun luar negeri; terhambat untuk kembali ke tanah air hingga dicabut kewarganegaraannya dan tidak pernah punya kesempatan untuk benar-benar bisa pulang ke tanah kelahirannya, Indonesia.
Sekian lama waktu berlalu, semua tampak tak lagi memiliki penyesalan, mungkin masih tersisa sedikit kekecewaan tapi sudah lebih legowo dan berserah pada keadaan. Dengan caranya masing-masing—meskipun sudah tidak tercatat sebagai Warga Negara Indonesia—mereka mengekspresikan kecintaan dan kerinduan mereka pada tanah air, lewat tanaman khas Indonesia yang ditanam di area tempat tinggal; hiasan khas daerah yang dipamerkan di sudut rumah; tumpukan-tumpukan buku perjuangan yang memenuhi seisi penjuru rumah; mendirikan restoran masakan Indonesia; mengajari dan memperkenalkan bahasa Indonesia kepada orang asing; menjadi penerjemah bahasa Indonesia dalam urusan diplomasi politik; dan semua upaya pekerjaan yang mereka lakukan sejauh ini, meskipun tampak kecil tetap berarti besar bagi Indonesia. Mimpi untuk membangun Indonesia masihlah tersimpan meski tak lagi berstatus warga negara dan tinggal nun jauh di negeri orang.
Presiden Indonesia sudah melemparkan janji manis dan secercah harapan bagi para eksil untuk bisa kembali ke tanah air dan memperoleh penyelesaian masalah yang adil, namun sayangnya sampai saat ini para eksil masih menjadi orang-orang klayaban dan penyelesaian masalah masih sangat jauh dari kata tuntas.
Negara berutang banyak pada mereka dan korban situasi politik lainnya.
May 12, 2019
Buku ini adalah hasil wawancara Martin Aleida terhadap eksil indonesia yang kehilangan kewarganegaraan pasca tragedi 65
Banyak cerita pilu, dan getir yang disajikan
Bagaimana perjuangan anak bangsa yang berpuluh tahun klayaban tanpa tanah air yg dirampas oleh bengisnya rezim militer
Disini kita diajarkan kesetiaan dan idealisme baja, seperti jawaban seorang eksil yang ditanya mengenai persetujuannya terhadap Jendral Soeharto, "kami dikirim oleh presiden soekarno untuk belajar dan untuk mengabdikan ilmu di indonesia, dan kami hanya setia kepada soekarno" tanpa takut konsekuensi setelahnya
Buku ini ditulis dengan kalimat2 sastra kelas atas, sangat nikmat dibaca
sangat baik dibaca untuk generasi sekarang
Banyak cerita pilu, dan getir yang disajikan
Bagaimana perjuangan anak bangsa yang berpuluh tahun klayaban tanpa tanah air yg dirampas oleh bengisnya rezim militer
Disini kita diajarkan kesetiaan dan idealisme baja, seperti jawaban seorang eksil yang ditanya mengenai persetujuannya terhadap Jendral Soeharto, "kami dikirim oleh presiden soekarno untuk belajar dan untuk mengabdikan ilmu di indonesia, dan kami hanya setia kepada soekarno" tanpa takut konsekuensi setelahnya
Buku ini ditulis dengan kalimat2 sastra kelas atas, sangat nikmat dibaca
sangat baik dibaca untuk generasi sekarang
This entire review has been hidden because of spoilers.
March 12, 2024
Hasil wawancara dengan orang “klayaban” di Eropa ini sungguh memberikan gambaran tentang dampak G30S terhadap mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri. Mereka dikirim oleh Presiden Soekarno untuk belajar ke luar negeri agar nanti ilmunya dapat diaplikasikan untuk membangun Indonesia. Setelah pecahnya G30S, mereka dilakukan screening dengan inti pertanyaannya adalah “Pro-Soekarno atau Pro-Soeharto?” Banyak yang memilih untuk “Pro-Soekarno”, oleh karena itu passport mereka dicabut oleh pemerintah Indonesia dan menjadi eksil. Keadaan tersebut memaksa mereka untuk mencari suaka di beberapa negara Eropa. Banyak orang mengganggap kejadian ini sebagai terhapusnya satu generasi intelektual Indonesia.
July 22, 2019
I never wonder that back then in 1960s when everything was chaos in Indonesia, the same condition also confronted by Indonesian living abroad, even probably they faced a more misery live. Leaving their family, their motherland, begging for new nationality and so on. Thank's to this book which give me a glimps of how hard live was at that time. Yet, the"interview script" which mainly use in this book unfortunatelly never be my cup of tea when it comes to a book. So how about 3 out of 5?
May 24, 2026
This book feels like a short story anthology compiled in a biography, or maybe a collection of biographies. It features interviews with Indonesian exiles in Europe, including the Netherlands, France, and Germany. Every chapters follow Mr. Aleida's journey as reporter who interviewed the exiles about their life and connection to Indonesian history. Reading this book was like watching a documentary.
August 23, 2026
Dari buku ini kita jadi tahu :
1. Mahasiswa yg diutus ke Peking adalah simpatisan PKI dan onderbownya. Dan mereka ada yg bertahan di revolusi kebudayaan ada yg pilih menghindar.
2. Mahasiswa yg dikirim ke eropa rata bukan simpatisan PKI tapi sukarnois.
3. Ada prosedur setuju/tidak setuju denga orde baru.
4. Banyak yg menikah dengan warlok saat lulus kuliah.
5. Sebagian besar negara memperlakukan mereka dengan baik.
Sekian
1. Mahasiswa yg diutus ke Peking adalah simpatisan PKI dan onderbownya. Dan mereka ada yg bertahan di revolusi kebudayaan ada yg pilih menghindar.
2. Mahasiswa yg dikirim ke eropa rata bukan simpatisan PKI tapi sukarnois.
3. Ada prosedur setuju/tidak setuju denga orde baru.
4. Banyak yg menikah dengan warlok saat lulus kuliah.
5. Sebagian besar negara memperlakukan mereka dengan baik.
Sekian
January 1, 2019
Sejujurnya miris, mendengar beberapa generasi millenial memilih tidak mau balik setelah lulus kuliah di luar negeri, ‘menghilangkan’ pengabdian pada bangsanya....berarti....mereka belum merasakan ‘kehilangan’ tanah air sebagaimana sosok-sosok inspiratif buku ini... yakin gak mau balik? Bacalah dan sebisa mungkin temui mereka!
May 26, 2026
Just imagine how Indonesian intellectual society could have evolved if the exiles had been allowed to return home. But then again, we can’t even begin to imagine what this country would look like if the regime had survived until today. And Suharto never truly apologized for any of it. Not in his lifetime.
April 25, 2023
Belajar banyak tentang kehidupan eksil di zaman orba. Yang selalu saya ingat, tidak semua orang yang dilarang pulang adalah orang yang pantas diperlakukan seperti itu. Mereka hanya mengikuti hati nurani mereka
November 1, 2024
as standard as an interview, great insight and experience but not coherent for each other stories but also connected so it feels confusing sometimes (the feeling when read a chapter is i think i knew him before but forget which one bcs too much name talked in this book)
Want to Read
June 20, 2020Cara bacanya gimana ya? Tolong kasih tau saya
February 19, 2024
Selalu menyentuh. Orang-orang hebat yang terpaksa kehilangan negerinya sendiri padahal impian mereka dan ruh hidup mereka ada di negeri yang bahkan ngeanggap mereka pun ngga sama sekali😭
August 22, 2024
salute
July 21, 2026
Terlalu meromantisasi tokoh yg problematik saat ini. Hingga pada titik muak dan sering on-off bacanya.
March 1, 2018
Pertama kali saya mengenal nama Martin Aleida, ketika mengikuti perkembangan IPT 1965. Prosesnya dalam merampungkan buku ini kalau tidak salah sempat disinggung saat itu, dan akhirnya ketika buku ini muncul, tanpa keraguan saya buru.
Kumpulan cerita 19 eksil korban situasi politik Indonesia ini mengajak saya untuk merasakan kondisi panasnya situasi tersebut, serta perjuangan yang harus dihadapinya masing-masing. Dalam prosesnya, mereka dihadapkan pada pilihan-pilihan berikut konsekuensi yang akan menentukan masa depannya di tanah terasing. Mereka berangkat atas nama tugas negara, dan pilihan mereka berakhir atas nama loyalitas. Loyalitas pada identitas Indonesia yang begitu melekat dengan visi revolusi Soekarno saat itu.
Buku ini menangkap kehidupan para korban hari ini; keseharian, tanggapan tentang Indonesia hari ini, dan refleksi setelah melewati masa sulit itu. Saya mengaggumi kesanggupan dan niat bulat penulis untuk menemukan dan mengumpulkan kembali kisah-kisah manusia Indonesia yang terdampar dan tercecer di daerah yang begitu jauhnya.
Saya sangat merekomendasikan bagi para pembaca buku ini untuk melanjutkan menemukan sejarah dan fakta yang pernah dicoba dihapus, dengan membaca buku-buku yang berelasi kuat.
Berikut beberapa rekomendasi saya,
Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno
G30S dan Kejahatan Negara
Kumpulan cerita 19 eksil korban situasi politik Indonesia ini mengajak saya untuk merasakan kondisi panasnya situasi tersebut, serta perjuangan yang harus dihadapinya masing-masing. Dalam prosesnya, mereka dihadapkan pada pilihan-pilihan berikut konsekuensi yang akan menentukan masa depannya di tanah terasing. Mereka berangkat atas nama tugas negara, dan pilihan mereka berakhir atas nama loyalitas. Loyalitas pada identitas Indonesia yang begitu melekat dengan visi revolusi Soekarno saat itu.
Buku ini menangkap kehidupan para korban hari ini; keseharian, tanggapan tentang Indonesia hari ini, dan refleksi setelah melewati masa sulit itu. Saya mengaggumi kesanggupan dan niat bulat penulis untuk menemukan dan mengumpulkan kembali kisah-kisah manusia Indonesia yang terdampar dan tercecer di daerah yang begitu jauhnya.
Saya sangat merekomendasikan bagi para pembaca buku ini untuk melanjutkan menemukan sejarah dan fakta yang pernah dicoba dihapus, dengan membaca buku-buku yang berelasi kuat.
Berikut beberapa rekomendasi saya,
Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno
G30S dan Kejahatan Negara
May 21, 2025
Menurut Samardji dari Stichting Perhimpunan Dokumentasi indonesia, hingga 2016 tercatat 130 eksil sudah meninggal dunia di Eropa Barat. Sekitar 30-an hilang tak tercatat.
Butuh 7 hari untuk membaca habis buku ini. Sangat emosional, para eksil memiliki pandangan politik yang berbeda dan keunikan perjalanan hidupnya masing-masing.
Terdapat perkataan dari salah satu eksil, Waruno Mahdi yang membekas di ingatan saya, "... sejak ibu saya harus pindah dari apartemennya ke panti jompo, saya tak bisa lagi mengatakan di mana rumah untuk pulang. Sampai Februari 1967, paspor saya menyebutkan bahwa rumah saya berada di Indonesia, sejak april 2000 dikatakan rumah saya itu di Jerman. Tetapi, di antara dua kurun waktu itu, pasporku sekalipun tak bisa mengatakannya kepadaku."
Butuh 7 hari untuk membaca habis buku ini. Sangat emosional, para eksil memiliki pandangan politik yang berbeda dan keunikan perjalanan hidupnya masing-masing.
Terdapat perkataan dari salah satu eksil, Waruno Mahdi yang membekas di ingatan saya, "... sejak ibu saya harus pindah dari apartemennya ke panti jompo, saya tak bisa lagi mengatakan di mana rumah untuk pulang. Sampai Februari 1967, paspor saya menyebutkan bahwa rumah saya berada di Indonesia, sejak april 2000 dikatakan rumah saya itu di Jerman. Tetapi, di antara dua kurun waktu itu, pasporku sekalipun tak bisa mengatakannya kepadaku."
Displaying 1 - 24 of 24 reviews























