“Kenapa aku selalu lupa? Orang-orang yang penting, kenangan, semuanya pergi entah ke mana. Aku, aku sekarang ingat mencintaimu, juga menikah denganmu. Meski begitu… aku tidak ingat namamu.”
Let me say, this book is so much better than Giselle! Perlu kita ketahui sebelumnya, Giselle terbit awal 2019 dan cukup membuat saya merasa kecewa (karena menurut saya, Giselle adalah satu-satunya karya Akiyoshi Rikako yang gaya penulisannya benar-benar baru. Genre-nya pun lebih ke drama dibanding crime dan fokus utama jelas pada karakteristik beserta perasaan tiap tokohnya. Membaca Giselle lantas membuat saya berpikir, ‘apakah ini sungguhan karya Akiyoshi-sensei?’ karena gap style-nya memang sejauh itu. Unsur mistis pun lebih mendominasi (sedikit mengingatkan saya pada The Dead Returns dan Scheduled Suicide Day, namun pada Giselle—porsinya dirasa berlebihan). Namun, akhirnya Akiyoshi-sensei kembali ke gayanya yang semula—genre crime dan misteri yang membuat pembaca bingung dengan siapa pelaku sebenarnya di balik kasus tersebut.
Memory of Glass berkisah tentang ‘aku’ (Kashihara Mayuko) yang menderita gangguan ingatan eksekutif (ia hanya bisa mengingat sesuatu yang disampaikan pada dirinya selama 10-20 menit saja) dan merupakan gejala sisa dari kecelakaan sewaktu ia berusia 21 tahun. Menurut penjelasan para polisi, dia membunuh seorang pria bernama Gouda Mikinari atas dasar balas dendam (karena Gouda membunuh orangtuanya) dan melaporkan dirinya sendiri sesaat sebelum dia pingsan di TKP.
Jujur, awal ceritanya begitu membosankan. Setiap membuka lembarannya, akan terbesit pemikiran ‘kenapa aku membaca novel ini? Bukankah pelakunya sudah diketahui? Apa gunanya aku membacanya sampai akhir?’ tetapi—tunggu dulu—pelakunya sendiri saja tidak bisa mengingat apa-apa dengan baik, lho? Apakah memang benar dia pelakunya?
Sepanjang cerita, kita menyelam pada penyelidikan untuk memastikan siapa pelakunya, lengkap dengan bumbu-bumbu perasaan yang terselip. Kita dibuat meraba-raba siapakah pelaku yang sebenarnya, karena memang kurangnya informasi yang didapatkan para detektif, ditambah kesaksian Mayuko yang tidak bisa dipercaya—mengingat gangguan ingatan yang dideritanya. Novel ini baru terasa seru dari pertengahan sampai akhir, twist-nya bertubi-tubi dari rentang yang disebutkan tadi, ditambah unsur angst sebagai penutup (sebenarnya tidak hanya di epilog, perjalanan membaca novel ini pun kita akan dibuat sedih dengan sosok Mayuko dan Yuka).
Hendak menambahkan, Yuka adalah salah satu detektif yang mengusut kasus pembunuhan terhadap Gouda Mikinari. Dia juga bisa disebut sebagai deuteragonis dalam Memory of Glass (yang posisinya seperti second lead character, karena sumbangsih pemikiran dan luapan perasaannya terhadap kasus Mayuko tidaklah terkira). Menurut saya, unsur kesedihannya lebih ‘dapat’ dibanding Giselle yang notabene ber-genre drama. Penutupan ceritanya pun nendang dan dipenuhi kutipan inspiratif, sangat berbeda dengan akhir gelap yang disajikan pada Girls in The Dark.
Akhir kata, Memory of Glass sukses menempati posisi keempat dari karya-karya Akiyoshi-sensei yang pernah saya baca. 4.7/5 untuk Akiyoshi Rikako kali ini!