In The Pulse of the Earth Adam Bobbette tells the story of how modern theories of the earth emerged from the slopes of Indonesia’s volcanoes. Beginning in the late nineteenth century, scientists became concerned with protecting the colonial plantation economy from the unpredictable bursts and shudders of volcanoes. Bobbette follows Javanese knowledge traditions, colonial geologists, volcanologists, mystics, Theosophists, orientalists, and revolutionaries to show how the earth sciences originate from a fusion of Western and non-Western cosmology, theology, anthropology, and geology. Drawing on archival research, interviews, and fieldwork at Javanese volcanoes and in scientific observatories, he explores how Indonesian Islam shaped the theory of plate tectonics, how Dutch colonial volcanologists learned to see the earth in new ways from Javanese spiritual traditions, and how new scientific technologies radically recast notions of the human body, distance, and the earth. In this way, Bobbette decenters the significance of Western scientists to expand our understanding of the evolution of planetary thought and rethinks the politics of geological knowledge.
Secara pragmatik, buku ini juga mau bilang kalau logika mistik itu gak buruk-buruk amat.
Ada alasan konseptual yang membuat buku ini diberi judul Geologi Politik (Political Geology). Istilah ini tidak sekadar menunjukkan keterkaitan antara ilmu bumi dan politik, melainkan pada relasi konstitutif di mana proses, materialitas, dan skala waktu geologis turut membentuk cara politik dipahami, dijalankan, dan dibatasi. Kata "politik" setelah "geologi" mengindikasikan pergeseran sudut pandang: politik tak lagi berdiri otonom sebagai urusan manusia semata, tetapi terikat pada kondisi bumi sebagai medan material dan temporal.
Makna tersebut berbeda secara mendasar apabila judul yang digunakan adalah Politik Geologi. Dalam kerangka ini, perhatian analisis akan bergeser pada praktik dan pengetahuan geologi yang dibentuk oleh relasi kekuasaan—termasuk kepentingan negara, ekonomi ekstraktif, serta konflik epistemik dalam produksi pengetahuan ilmu bumi itu sendiri.
Jika politik yang dimaksud adalah pengelolaan kekuasaan dan kebijakan, geologi politik berarti bahwa bumi atau teritori merupakan subyek politik yang dapat menentukan struktur kekuasaan dan kebijakan. Bumi atau teritori bukan obyek politik bahkan alat politik yang dianggap kosong atau mati untuk sekadar diamati, ditaklukkan, atau diperebutkan. Politik tidak hanya soal manusia dan negara, tetapi juga bumi sebagai agen.
Tentunya, argumen itu akan mendapat pertentangan dari ilmuwan antroposentris, misalnya saja Alain Badiou. Badiou sendiri tidak pernah secara langsung menentang konsep itu. Namun, kita bisa melacak perdebatan tersebut dari konsep Badiou tentang politik.
Dalam semesta pemikirannya, Badiou tidak akan memberi ruang politik bagi bumi. Politik dalam kacamata Badiou sebagai event yang bersifat emansipatoris. Baginya, peristiwa geologis tidak memungkinkan menjadi peristiwa emansipatoris, itu lebih semacam situasi saja. Misalnya, dalam kasus kehancuran peradaban Jawa Kuno, sekalipun disebabkan oleh bumi (letusan gunung) yang terjadi secara gradual, itu tak bisa dianggap politis emansipatoris. Legitimasi raja sebagai keturunan dewa—yang barangkali dianggap seharusnya bisa mengendalikan alam (void), tak hilang begitu saja dengan adanya gunung meletus itu.
Toh, struktur lama yang luluh lantak itu tak diikuti dengan transformasi radikal dalam kosmologi, subjektivitas, dan bentuk komunitas politik yang sebelumnya tak terbayangkan. Yang terjadi hanya restorasi kosmologi dan relokasi kekuasaan, sehingga tidak menghasilkan event emansipatoris maupun komunitas politik baru. Dalam konteks tersebut, bumi lebih diandaikan sebagai pemicu bukan sebagai event dan adanya bencana alam itu hanya menyingkap void. Meskipun begitu, sebenarnya masih terdapat titik temu politik antara apa yang diungkapkan Badiou tentang politik sebagai event yang diterjemahkan dalam ruang lingkup gerakan masyarakat atau momen perlawanan masyarakat terhadap logika ekplorasi dan ekploitasi bumi.
Hal itu agak sedikit berbeda dengan Bruno Latour yang memandang politik sebagai hubungan yang berkelanjutan antara bumi dan manusia. Misalnya dalam Down to Earth, Latour menjelaskan bahwa perubahan iklim menandai permulaan rezim politik baru yang menempatkan bumi sebagai aktor politik utama. Hal tersebut memaksa kita untuk memikirkan ulang politik berdasarkan keterikatan ekologi dan keberlangsungan hidup. Politik zaman kiwari harus mencakup agensi dari material planet.
Konsepnya tentang Terestrial menggambarkan bahwa kesadaran dan politik manusia perlu digeser untuk menjauh dari mimpi-mimpi modernis yang global dan di luar dunia ini menuju pemahaman yang berakar pada tempat dan berbasis lokasi yang terkait dengan kita dan zona kritis bumi yang rapuh (Gaia). Hal ini melibatkan pengakuan akan ketergantungan kita pada tanah-tanah tertentu dan jaringan non-manusia, menciptakan bentuk-bentuk politik baru yang berakar pada penghormatan terhadap dunia hidup lokal yang beragam, serta memahami Bumi bukan sebagai planet yang jauh, melainkan sebagai habitat yang langsung, kompleks, dan secara bersama-sama harus kita hidupi.
Latour tak ingin Bumi dipandang sekadar faktor produksi yang dilihat dari jauh melalui abstraksi. Ia menginginkan "Bumi yang akhirnya dipahami dari dekat" (lihat Down to Earth hal. 74), yang mana dengan begitu akan terlihat agen-agen yang mampu menggantikan "sentris" mana pun termasuk antroposentris. Sampai titik ini, saya menemukan kesamaan antara Bruno Latour dan Mbah Maridjan—berdasarkan temuan Bobbette terkait kisah heroik Mbah Maridjan pada 2006. Keduanya beririsan dalam resistensi atas pandangan modern yang memisahkan bumi dengan masyarakat dan praktik koeksistensi melalui korespondensi dengan entitas non-manusia—konsep komposisi dan diplomasi Latour.
Bagi saya sederhana, geologi politik ini merupakan kerangka berpikir yang cukup optimis untuk membangun tatanan sosial dan politik yang sinergis antara manusia dengan bumi. Bahwa dengan melihat alam atau bumi sebagai subyek, ada kesempatan bagi manusia untuk berdialog atau membina komunikasi politik dengannya. Sekalipun itu terasa seperti takhayul, praktik semacam itulah yang sudah lazim dilakukan dengan berbagai contoh yang dijabarkan oleh Bobbette mulai dari elit politik Keraton Yogyakarta hingga nasional. Dalam beberapa kasus, kekuasaan manusia kadang membutuhkan bumi untuk memberikan legitimasi politik.
Apa yang diajukan oleh Bobbette didukung oleh temuan dan tafsirnya—yang didasarkan pada simpatinya pada konsep geopuitikanya Umbgrove meskipun tak diungkapkan secara blak-blakan—atas hubungan harmonis antara aktivitas poleksosbudhankam masyarakat Jawa dan dampaknya pada lanskap politik nasional. Salah satu pertautan yang menurut saya memiliki dampak massif secara sosial dan politik itu terjadi pada pelibatan ilmuwan geologi dalam proyek-proyek pemerintah (van Bemmelen era pemerintah kolonial Hindia-Belanda dan John Katili era Orde Baru). Hal demikian turut membuka ruang bagi kapitalisme kroni, proyek infrastruktur yang koruptif, dan politik bencana. Kendati demikian, proyek itu didasarkan juga pada kacamata geodeterminisme yang melihat fitur-fitur geologis memiliki dampak yang panjang terhadap sosio-humaniora, ekonomi, bahkan perilaku memilih atau preferensi kebijakan politik. Yang mana, dampak itu memerlukan pengecekan para ilmuwan secara menyeluruh atas warisan historis tanah yang dipijaknya.
Di satu sisi, peran para ilmuwan terhadap perkembangan ilmu bumi tak bisa dianggap remeh. Jawa dan khususnya Merapi menjadi semacam laboratorium global atas kemunculan mahzab dan teori-teori baru terkait ilmu bumi. Meskipun mereka ini juga menjadi kurir pembawa pesan untuk memberikan justifikasi bagi proyek-proyek eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya alam kelas penguasa. Setidaknya, mereka sempat meletakkan ilmu pengetahuan penuh ketidakberdayaan diri di hadapan kekuasaan. Dalam konteks era pemerintahan kolonial, pelibatan ilmuwan bukan berarti bentuk kebaikan hati yang layak diglorifikasi, sebab kepentingan utamanya tetap berpijak pada aspek ekonomi yang eksploitatif.
Banyak temuan-temuan istimewa terkait aktivitas poleksosbudhankam masyarakat hingga tataran elit dan kaitannya dengan bumi. Pembacaannya terhadap sumber-sumber riset terdahulu, termasuk yang berbahasa Belanda (ilmuwan-ilmuwan pemerintah kolonial Hindia-Belanda), kepekaan dan ketajamannya pada lanskap historis Indonesia dan masyarakat Jawa, serta temuan lapangan mutakhir memperkuat argumentasi yang diajukan.
Jika dirangkum, buku ini merupakan paparan hasil riset tentang praktik geologi politik di Indonesia, khususnya Jawa dan Keraton Yogyakarta. Secara metodologis, konsep dan temuan yang dipaparkan cukup kuat untuk dipertanggungjawabkan, meskipun pandangan Bobbette lebih terasa sebagai proyek sederhana dari geopuitika Umbgrove yang lebih ambisius. Mulanya, saya hampir meragukan konsep ini cukup aplikatif untuk membaca fenomena alam dan sosial di lain konteks wilayah, sebelum ia memperkuat posisinya dengan mengutip Umbgrove tentang Chile.
Pertemuan Bobbette dengan Suparno dan Santoso bikin saya berpikir kalau Eleven di Stranger Things itu bukan fantasi yang eksesif-eksesif amatlah.**
Friend was recommending this based on a similar approach and research I've done in Merapi for a feature film. This is a great read. Almost 100-year history of Merapi observation was unfolded, seeing the connection to link the political and the geo. It keeps reminding me that the Indonesian archipelago is a complex and complicated landscape where worldviews collapse, the rationalist and the mystic are constantly collaborating while at the same time fighting each other. However, conclusion could've been more grounded - I feel it was a little too vague. Shout out to Pak Surono which is mentioned in this book!
🌋Perpaduan geologi, teologi islam di Jawa, kosmologi, mistisme, dan juga politik digabungkan oleh penulis dalam buku ini memberiku banyak perspektif dan juga belajar lagi dan lagi tentang sejarah yg bukan hanya Merapi saja tapi lebih kompleks. Agak cukup pusing karena byk hal yg aku tidak familiar, tp disitulah letak keasyikan tersendiri nya😵💫🤓
Ada banyak sekali hal yg membuatku tercengang, beberapa diantara nya: - Jawa telah menjadi pusat intelektual narasi bumi selama lebih dari seabad. Masyarakat di Jawa secara tradisional ditata dengan prinsip bahwa geologi adalah perkara sosial, bahwa sejarah sosial adalah sejarah geologi, dan bahwa gunung berapi adalah suatu tata masyarakat. - Pada Jawa kolonial di peralihan abad ke-20, Hindia Belanda menanam dan mengekspor produk botani (rempah2, beras, teh, tembakau, obat2an, karet, jati, dan kina) ke pasar Eropa dan menjadikan Belanda sebagai salah satu negara terkaya di Eropa. - Kesenjangan global antar negara2 kaya dan miskin adalah akibat distribusi sumberdaya. - Revivalisme sejarah menghubungkan masa kini dg masa lalu, tetapi itu juga merupakan perpanjangan dari dimensi edukatif “utang kehormatan” kolonial Belanda kepada kaum pribumi; itu akan mengajarkan kaum pribumi tentang budaya mereka yang terlupakan. Dengan tujuan untuk menggerogoti Islam Jawa. - Jatuhnya Jawa kuno karenanya bukan peristiwa tunggal melainkan lebih berupa kemunduran multidimensi dari sistem sosial dan alam yang berlangsung secara bertahap. - Negara sering dikaitkan dengan korupsi dan inkompetensi. Infrastruktur negara seperti jaringan radio dan telepon di kaitkan dengan kapitalisme kroni yang menyalurkan modal kepada mereka yang berkuasa di pusat2 perkotaan dataran rendah. Oleh karenanya, para ilmuwan merupakan representrasi negara dan terlibat dalam korupsinya. - Pos-pos pengamatan tidak hanya memperluas negara sampai ke wilayah pedalamannya; pada saat yang sama pos-pos pengamatan itu menciptakan situs tempat ketegangan geopolitik global modern terjadi, dan menyatukan lingkup-lingkup ini—politik, planet, dan tubuh. ⛰️
Terjemahannya asyik: seru kayak baca novel. Perspektif, isi atau isunya sangat menarik & layak dibaca, terutama buat pecinta alam (gunung + laut = bumi), karena memadukan geologi - politik - sejarah (kolonial) - mistikisme/teosofi (di Jawa/Indonesia) lewat samudra Hindia & gunung Merapi.