Di tengah redupnya daya pikir kritis, ketika mahasiswa mau saja diperalat untuk melanggengkan kekuasaan, misalnya dengan menjadi penggugat batas usia capres-cawapres ke MK, minimnya kekritisan dunia akademik yang malah sibuk obral gelar profesor, Toko Buku Terakhir dan Klub Buku Baca di Bandung hadir dan menjadi energi untuk merawat kewarasan. Toko Buku Terakhir menghidupkan kembali imajinasi bahwa reformasi belum selesai.
Meneruskan mimpi sang ayah dan merawat budaya literasi di keluarga, Hanif dan teman-temannya mendirikan Toko Buku Terakhir di sebuah sudut sejuk Kota Bandung. Bersemangat menciptakan tidak hanya iklim perbukuan yang maju, tetapi juga dunia literasi yang tanpa henti menyongsong kesehatan akal pikir, berbagai tantangan muncul, mulai dari permasalahan internal sampai persuasi, teror, penyerangan dan pembakaran yang mengancam keberlangsungan toko.
Bara Kata di Toko Buku Terakhir menyisakan sebuah awan pertanyaan yang layak dipikirkan terkait pentingnya dukungan keluarga, kegigihan, persahabatan, dan persaudaraan menjaga api perjuangan di tengah krisis yang melanda bangsa.
I’m afraid I must be blunt, this book is genuinely dreadful. It very nearly landed me in a total reading slump.
Contrary to the synopsis, the narrative feels more like an autobiography, focusing on the author’s own life experiences and his visits to "famous" bookshops, or a repetitive list of every book he has ever read. Like literally 90 pages of the books talking about this (while the book had only 170 pages in total). The plot is lamentably predictable. While I felt a desperate urge to simply get to the end, the story was hardly enchanting, both the plot and the dialogue were remarkably bland and too predictable.
In my estimation, sixty per cent of the book was dedicated to the author’s own life rather than the promised plot. It is painfully obvious that the author has cast himself as the main character. I am quite surprised that Kompas Publisher opted to produce such a work, it was tedious, dull, and offered very little substance.
I had expected this to be a highlight of my year given the promising premise, but it has turned out to be the worst book I have read so far. I’m not entirely sure why the book is quite so poor, but it is likely because the majority of the author's previous work is non-fiction. As this is his first foray into fiction, he has perhaps failed to capture the essence or the "feel" required to craft a truly compelling storyline and plot of the fiction work. I can only justify a rating of 1.5 out of 5. Do not waste your time or money on this. It is incredibly insipid, and I am simply relieved that my struggle to finish it is finally over, as I came very close to adding it to my "did not finish" list.
Thanks to give me a literally trauma but I will just read the author's book once in my life.
Bara Kata di Toko Buku Terakhir karya Usman Kansong
📄 172 halaman 🇮🇩 Bahasa Indonesia 📍 Fiksi 🏢 Penerbit Buku Kompas
Hardy adalah seorang Direktur Pemberitaan sebuah perusahaan media. Selama ini, Hardy dan Naima, istrinya, selalu menyempatkan untuk membaca buku. Kebiasaan ini pun diturunkan mereka berdua kepada ketiga anaknya, Hanif, Leyla dan Barka. Perjalanan hidup Hardy sebagai jurnalis membawanya ke negara-negara lain demi meliput berita. Selama perjalanannya, Hardy selalu menyempatkan dirinya mampir ke toko buku. Kadang toko buku mainstream, kadang toko buku alternatif. Berbagai cerita disampaikan Hardy melalui buku ini.
Mimpi Hardy sejak dahulu adalah membuka dan memiliki toko buku sendiri. Namun, sampai tua pun, mimpi itu belum terwujud. Sampai suatu ketika, anak bungsu Hardy dan Naima, Hanif, berencana untuk berbisnis dengan membuka Toko Buku di Bandung. Hanif adalah mahasiswa semester akhir di Bandung dan ingin belajar berbisnis. Melalui bantuan kedua orangtuanya, Hanif membuka Toko Buku Terakhir.
Melalui Toko Buku Terakhir, Hardy berhasil mewujudkan cita-citanya. Toko Buku Terakhir menjadi sebuah suaka bagi pembaca buku di Bandung. Tempat lahirnya Klub Buku Baca di Bandung, lahirnya para mahasiswa berpikirian kritis, lahirnya perlawanan atas kebijakan pemerintah yang coba-coba, sampai menjadi korban atas tindakan perusakan oleh oknum organisasi intoleran.
📚📚📚📚📚📚
Buku ini sebenarnya berisi sedikit memoar perjalanan hidup sang penulis, Usman Kansong. Dengan sedikit tambahan tentang pemikirannya tentang toko buku, buku fisik vs buku digital, perkembangan dunia perbukuan sampai tingkat literasi masyarakat di Indonesia. Banyak sekali judul buku yang dibahas singkat di buku ini, dan jujur membuat aku penasaran. Salah satunya adalah buku berjudul "Saudagar Buku di Kabul".
Perjalanan Toko Buku Terakhir pun lumayan berat. Berawal dari toko buku biasa sampai membuat klub buku sendiri. Bahkan sampai mendapatkan teror dan perusakan (vandalisme) dari kelompok organisasi intoleran yang menganggap Toko Buku Terakhir beraliran komunis dan liberalis.
Sebuah karya yang menurutku layak dibaca bagi teman-teman yang mencari buku tentang kiprah seorang jurnalis yang cinta buku. Dan sedikit kritik kepada pemerintah.