Sudahkah Anda membaca Rene Girard? Intelektual zaman ini akan ketinggalan bila belum membaca Girard, yang diakui sebagai salah satu pemikir besar abad XX. Teorinya membuat banyak orang terperangah. Teorinya seakan adalah ramalan yang kebenarannya belakangan ini terbukti... Ketika dunia dilanda kekerasan tiada habisnya.
Lewat analisis sastra, budaya, dan agama, Girard menunjukkan bahwa manusia mempunyai potensi menghancurkan dirinya sendiri dan kultur adalah bangunan yang amat rapuh. Kultur, bahkan juga agama, adalah institusi manusia yang dihantui rivalitas dan kekerasan yang bermuara pada pembunuhan kambing hitam. Girard menelanjangi muslihat dan tata karma kultural maupun religius yang kelihatannya amat luhur. Ia juga menyapa manusia secara personal, agar mendemistifikasi diri dan kembali pada keaslian dirinya. Girard pernah menjadi seorang agnostik dan ateis, namun ia bertobat dan kembali memeluk agamanya secara lebih autentik berkat penelitiannya atas lima novelis besar: Cervantes, Flaubert, Proust, Sthendhal, dan Dostojevsky.
Buku yang ditulis ke dalam lima bagian ini akan ditutup dengan 2 Ekskursus, yang pertama mengupas dan mengkritisi Kultur Batara Kala dan yang kedua bertutur mengenai Kesedihan Putri Cina... Orang-orang Cina yang selalu menjadi kambing hitam ketika terjadi pergolakan atau gesekan sosial.
Dr. Gabriel Possenti Sindhunata, SJ, or just simply call him Romo Sindu is an Indonesian Catholic priest, also an editor for local culture magazine "Basis". He also worked as journalist for national newspaper, especially for commenting football review and culture issues. His famous work was "Anak Bajang Menggiring Angin".
Bibliography: * Segelas Beras untuk Berdua, Penerbit Buku Kompas (2006) * Dari Pulau Buru ke Venesia, Penerbit Buku Kompas (2006) * Petruk Jadi Guru, Penerbit Buku Kompas (2006) * Kambing Hitam: Teori Rene Girard (2006) * Ilmu ngglethek Prabu Minohek(2004) * Mengasih Maria: 100 tahun Sendangsono (2004) as editor * Air Kata-kata (2003) * Jembatan Air Mata: Tragedi Manusia Pengungsi Timor Timur (2003) * Bola di balik bulan: Catatan sepak bola Sindhunata (2002) * Long and Winding Road, East Timor (2001) * Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman: Pilihan Artikel Basis (2001) - as editor * Membuka Masa Depan Anak-anak kita: Mencari Kurikulum Pendidikan Abad XXI (2000) * Menggagas Paradigma Baru Pendidikan: Demokratisasi, Otonomi, Civil Society, Globalisasi (2000) - as editor * Sumur Kitiran Kencana: Karumpaka ing Sekar Macapat Dening D.F. Sumantri Hadiwiyata (2000) * Sakitnya Melahirkan Demokrasi (2000) * Bisikan Daun-daun Sabda (2000) * Tak Enteni Keplokmu: Tanpa Bunga dan Telegram Duka (2000) * Bayang-bayang Ratu Adil (1999) * Menjadi Generasi Pasca-Indonesia: Kegelisahan Y.B. Mangunwijaya (1999) - as editor * Pergulatan Intelektual dalam Era Kegelisahan: Mengenang Y.B. Mangunwijaya (1999) - as editor * Cikar Bobrok (1998) * Mata Air Bulan (1998) * Sayur Lodeh Kehidupan: Teman dalam Kelemahan (1998) - as editor * Sisi Sepasang Sayap: Wajah-wajah Bruder Jesuit (1998) * Semar Mencari Raga (1996) * Aburing kupu-kupu kuning (1995) * Nderek Sang Dewi ing Ereng-erenging Redi Merapi (1995) * Hoffen auf den Ratu-Adil: das eschatologische Motiv des "Gerechten Königs" im Bauernprotest auf Java während des 19. und zu Beginn des 20. Jahrhunderts (1992) - disertasi * Baba Bisa Menjadi Indonesier: Bung Hatta, Liem Koen Hian, dan Sindhunatha, Menyorot Masalah Cina di Indonesia (1988) * Anak Bajang Menggiring Angin (1983) * Bola-Bola Nasib: Catatan Sepak Bola Sindhunata
Tanpa agama dan ritusnya, kekacauan sosial takkan terhindarkan. Masyarakat akan runtuh oleh kekerasan. -Rene Girard
Sesungguhnya kekerasan menyelimuti kita semua, Kekerasan membayang-bayangi siapa saja, tapi kita tidak menyadarinya. Bahkan dari temuan Rene Girard, kekerasan telah menjadi agen kontrol dalam setiap struktur kultur dan mitos. Agama yang berfungsi untuk menundukkan kekerasan dan menjaga supaya kekerasan itu tidak liar, pun seringkali disusupi oleh kekerasan. Kita semua adalah orang-orang yang tertawan oleh kekerasan.
Lewat buku ini, Girard mengajak kita melacak akar kekerasan itu. Girard membongkar fenomena-fenomena dalam literatur sastra tragedi. Bagimana kita saling membenci karena lelah mengejar hasrat yang tak kunjung padam, suatu hasrat segitiga yang disebut girard sebagai hasrat mimesis. Lalu bagaimana masyarakat yang terjangkit kekerasan mencari kambing hitam untuk dikorbankan guna menyalurkan hasrat kekerasannya.
ada bagian yang mengharukan dari buku ini. yakni bagian belakang, bagian kesaksian dari rama sindhu yang di dalam dirinya terkandung persilangan ras yang membuatnya bergulat terus-menerus sepanjang hidupnya. lain dari itu, buku ini adalah buku pertama saya mengenal girard, yang kemudian disusul membacai buku dia yang lain seperti 'violence and the sacred'. saya mengenal girard mula-mula dipicu oleh diskusi di milis gkjnet tentang film 'the passion of christ'nya mel gibson.istilah mimesis yang dipahami secara baru itu membuat saya penasaran utk tahu lebih lanjut bagaimana kekerasan itu ditiru dan dibiakkan dalam relasi sosial.
Bisa dibilang buku ini merupakan genre non fiksi terbaik, sejauh saya membaca buku hingga bulan ini. Garis besar buku ini mewacanakan asal mula, konsep dan ide terkait kekerasan yang dijabarkan berdasarkan tiga tinjauan yakni sastra, antropologi dan agama. Sesuai yang tercantum pada sampul buku. Terdapat juga analisis berdasarkan teori mimesis, kambing hitam yang dijelaskan dalam bentuk fase yang berkesinambungan dan ada penekanan seperti transisi wacana yang menjadikannya bagian paling menarik. Di beberapa narasi, terdapat beberapa kerumitan. Hal ini mungkin disebabkan oleh penulis yang menjelaskan ulang teori dari sang penggagas utama berdasarkan rujukan buku-bukunya. Dengan demikian, butuh mendalami masing-masing buku agar bisa lebih mengigit poin utama masing-masing teori. Namun, menurut saya buku ini sudah sangat baik dalam menjelaskan ulang garis besar tinjauan dan fase-fase teori beserta implementasinya. Buku ini sangat baik dalam mengaitkan diskursus dengan lingkungan sosial. Selain itu, terdapat identifkasi berdasarkan contoh alur dan penokohan literarur yang menunjukkan sebuah karya sastra tidak hanya berisi narasi cerita, tetapi memiliki ambisi yang serius. Pada bagian akhir ekskursus, penulis menutup buku dengan pengalaman dan pandangan pribadi berdasarkan relevansi wacana bab sebelumnya. Membuat saya selaku pembaca ikut merasakan keterikatan emosi dan pengalaman.
Beberapa waktu yang lalu, para pejabat tinggi negara berkumpul bersama di Mahkamah Konstitusi untuk mendiskusikan ulang Pancasila. Menurut mereka, Pancasila masih relevan dan bangsa ini memang harus kembali pada khitah Bhineka Tunggal Ika. Jika dulu Orde Baru menggunakan Pancasila sebagai alat legitimasi negara atas tindakan represif yang melahirkan kekerasan oleh negara, kini, tiga belas tahun setelah reformasi agaknya nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila mesti dipahami sebagai benih asli dari rahim bangsa ini dan patut mendapat tempat sebagai ideologi.
Para pejabat itu mengakui kegelisahan tentang fenomena kekerasan horizontal yang kerap terjadi. Kekerasan yang mengatasnamakan identitas agama, adat, etnis serta dorongan-dorongan primordial komunitas menjadi pangkal dari tindakan agresif-destruktif yang terjadi secara kolektif dan meluas. Para petinggi negeri berharap dengan mengampanyekan kembali nilai-nilai Pancasila pada lini birokrasi, dan memberikan pendidikan terus-menerus kepada masyarakat, bangsa ini bisa keluar dari keterpurukan dan krisis sosio-kultural.
Kekerasan. Satu kata yang sejak zaman lampau coba dipahami, dimaknai, dikendalikan, dikelola, bahkan dijinakkan. Sindunata dalam buku “Kambing Hitam” (2006) mencoba menelusuri kerangka teoretik kekerasan dari seorang pemikir Prancis, Rene Girard. Penulis mendedahkan konsepsi Girard tentang Mimesis dan Kambing Hitam sebagai upaya memetakan hubungan kekerasan dan masyarakat dalam sejarah umat manusia. Girard berupaya membuktikan bahwa manusia memiliki rivalitas dengan sesamanya dan cenderung terjerumus dalam pola kekerasan yang destruktif, melalui penyelidikan karya-karya sastra, penyelidikan antropologi dan berupaya membongkar agama beserta mitos dan ritusnya.