Agama dan imajinasi kerap dipandang sebagai dua hal yang saling menolak. Yang satu seperti rapi tertata, satunya lagi mengembara tanpa batas.
Padahal, keduanya berbagi tujuan yang sama: membayangkan suatu ideal yang mungkin di balik apa-apa yang kasat mata.
Lewat renungan dalam buku Agama dan Imajinasi, Haidar Bagir memaparkan bahwa justru dengan imajinasi lah beragama, utamanya berislam, akan lebih lapang dan mendalam. Lapang secara horizon pemaknaan, sekaligus mendalam secara spiritual.
Haidar Bagir membagi renungannya ke dalam 2 bagian: 1) Dasar filosofis yang memungkinkan bersuanya “agama” dan “imajinasi”; dan 2) Penerapan imajinasi dalam pemahaman dan praktik beragama, mulai dari kehidupan spiritual, tafsir, fikih, hingga psikologi dan relasi sosial.
Selamat menjelajahi dunia imajinasi, dunia di mana kebebasan dan ketertataan berpadu harmonis!
In a way, buku ini sungguh thought-provoking. Melalui buku ini, pandangan saya pada akhirat, neraka, dan siksa kubur berubah. Yang lebih utama, buku ini membahas bahwa imajinasi ternyata penting dalam keyakinan/spiritualitas seseorang. Semoga bisa mengulas lebih panjang.
“Dalam tradisi filsafat Islam, imajinasi adalah fondasi makrifat, pengalaman langsung terhadap hakikat melalui citra batiniah.”
#lintangbookreview Agama dan Imajinasi | Haidar Bagir
Sering kali, agama dan imajinasi dipandang sebagai dua kutub yang berlawanan. Agama itu kaku, tertata, dan penuh aturan; sementara imajinasi itu liar, bebas, dan tanpa batas. Benarkah keduanya harus saling menolak?
Lewat buku terbarunya, penulis menawarkan sebuah tesis yang menyejukkan. Beliau berargumen bahwa imajinasi justru bisa menjadi jembatan vital untuk “menjelajahi kedalaman dan kelapangan spiritual Islam.”
Buku ini hadir sebagai antitesis dari cara beragama yang kaku, tertutup, dan intoleran, yang sering kali lahir dari pemahaman teks yang “tidak imajinatif”.
Kekuatan utama buku ini adalah kemampuannya membuka perspektif baru. Pada Bagian I, kita diajak memahami landasan teoretisnya: bagaimana imajinasi berperan dalam khazanah irfan (mistisisme), ta’wil (penafsiran batin), hingga bagaimana ia bisa menumbuhkan toleransi sosial.
Lalu di Bagian II, kita diajak “terjun” langsung melihat penerapan tafsir imajinatif pada konsep-konsep inti Islam. Penulis mengajak kita merenungkan makna batin dari Ayat Kursi, hakikat qadhā dan qadar, makna tersembunyi Isra’ Mi’raj, hingga menyentuh bab-bab yang menggugah pikiran dan mencerahkan seperti “Tak Ada Siksa Kekal Abadi” dan “Akhirat Itu Sekarang, dan di Sini”.
Jujur, ini bukan bacaan yang ringan. Sesuai dengan kedalaman materinya, bahasanya cukup “berat” dan filosofis. Penulis banyak menggunakan terminologi tafsir dan tasawuf yang spesifik, sehingga butuh fokus ekstra untuk mencernanya.
Meski begitu, buku ini adalah sebuah santapan intelektual dan spiritual yang bergizi tinggi. Setiap babnya benar-benar berhasil menantang dan membuka cara pandang kita. Ini adalah jawaban bagi yang merindukan pengalaman beragama yang lebih adem, mendalam, dan lapang, jauh dari kekakuan.
Buku ini aku rekomendasikan bagi siapa saja yang memang ingin mendalami dunia tafsir, tasawuf, dan filsafat Islam.💛