Ki Dalang Sujiwo Tejo kali ini tak bercerita tentang Arjuna dan Pasupati. Ia bercerita tentang Adi dan saksofon yang dimainkan bagi kekasih-kekasihnya. Tejo juga tak bercerita tentang Kunti, melainkan tentang Melati, seorang perempuan yang cinta pada suaminya sekaligus juga cinta pada temannya yang berbeda dengan kekasihnya. Kali ini tak juga ada cerita tentang Srikandi. Hanya ada Anis, perempuan yang hatinya terlalu peka bagi sifatnya yang sangat mandiri, percaya diri, dan agak tomboy. Tak ada kisah Kresna, yang kadang bijaksana, kadang licik. Yang ada hanya Tejo yang mengantar para tokoh dalam buku ini pada nilai-nilai baru dalam bersahabat, bercinta, dan bersanggama. THE SAX bukanlah lakon wayang yang bisa dinikmati semalam suntuk sambil menikmati jajanan pasar. THE SAX adalah buku yang bisa dibaca sambil menunggu panggilan nomor urut pemeriksaan kandungan. Karena buku ini bercerita tentang Adi, Melati, dan Anis, orang-orang yang lahir dan hidup di kota besar, yang menikmati kehidupan yang bising, yang liar, yang bukan tradisi, yang selalu mencari gairah-gairah baru dalam setiap perjumpaan, percintaan, dan keharuan.
Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962; umur 47 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia adalah lulusan dari ITB. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo".
Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.
Pertama saya mau cerita, saya nemuin buku ini ndak sengaja di sebuah bazaar buku. Sampe sekarang saya gak tau ini buku asli atau replika, tapi kayaknya sih aseli. Hahaha
Terus soal isinya, saya masih bisa menikmati sampai 3/4 bagian dari awal, karena penutupannya terasa dipaksakan. Maksud saya harusnya cerita ini bisa teruuus dituliiiis ya karena ceritanya dibuat mengaliiir dan terasa aneh bila punya "ending". Hehe
Saya kagum dengan cara mbah Tejo mengaitkan seluruh tokoh dalam novel yang bukan novel beneran ini.
Yang lebih penting, ada pengetahuan besar yang hendak dibagi penulis bagi pembaca buku ini. Sila baca :)
Ra ngerti lagi, tapi cukuplah Mbah Jiwo ini patut diacungi jempol sebab karya-karyanya yang hebat. Dari alur cerita sendiri sebetulnya aku sedikit kurang puas karena endingnya nampak dipaksakan. Tapi sejujurnya, tulisan penulis tetaplah keren dengan gaya bahasa yang unik ini.
Gini. Emmmmm.... Gini, ya... Kita tau dalam novel itu adalah penokohan, alur, setting, konflik dan bla-bla-bla. Sebagai novel, The Sax sudah gagal. Ora jelas. Yang nulis orang gila.
Tapi secara karya seni, yang bisa menyentuh hatimu tanpa perlu meributkan pakem-pakem yang sudah ada, The Sax sangat berhasil.
Here's the reading tip in case you read The Sax: dont put any effort to understand where the hell the story's going, what the fuck the charachters are doing, just go on read. Tenggelamlah pada setiap kalimatnya. Itu saja
Sujiwo Tejo adalah seniman yang jujur mengangkat hal-hal yang tidak dianggap oleh orang kebanyakan. Namun sebenarnya ada disekililing kita. Ia seolah meletakkan cermin di depan kita untuk melihat refleksi diri kita sebenarnya. Walaupun gaya bahasa dan alur cerita buku ini agak susah dimengerti, namun buku ia hanya perlu dinikmati.
Beli buku ini sewaktu Sujiwo mementaskan monolog di perpustakaan British Council Jakarta. Ceritanya sangat tidak enak dibaca. Titik. Aku menyimpan ini karena ada tanda tangan pengarangnya. Bukan karena penggemar yang bersangkutan,tapi ga tega 'membuang' buku.
pusing. terlalu matematis. ga ngerti maksudnya apa. mungkin ini bentuk tulisan sujiwo yang kreatif. (dan memang sih, beliau khan lulusan matematika ...eh DO apa ya? :D)
Agak bingung menggolongkan buku ini sebagai novel atau karya sastra ya? Membaca isinya pun nggak segampang membaca resensinya. Seperti menonton film dengan alur back forward