Pertemuan Syamil dengan Maryati dan Kasman di Padang Panjang secara ajaib membawa mahasiswa jurusan sejarah itu jauh dari rumah. Lewat potongan naskah berusia seratus tahun yang dicatat oleh seorang mantan tentara Belanda bernama Alex van der Meer, Syamil menjelajah ke Sawahlunto pada tahun 1920 hingga ke Leiden pada tahun 2020. Sembari menelusuri kembali setiap jengkal sejarah bangsanya, Syamil mesti mengumpulkan petunjuk mengenai harta karun tua yang tersembunyi di negerinya.
Petualangan panjang itu mempertemukan Syamil dengan sosok-sosok baru. Beberapa kawan, beberapa lawan. Namun yang jelas, Syamil jadi tersadar bahwa kolonialisme belum sepenuhnya selesai di Indonesia.
Apa pun bahaya yang mengadang, Syamil tak berhenti. Dia menerjang hutan rimba Sumatra, mencari keberadaan Suku Anak Dalam, menemui bangsa yang hanya ada dalam legenda, dan berpacu dengan organisasi gelap dan tua yang berbahaya. Apakah Syamil berhasil menemukan potongan naskah Alex yang lain? Apakah dia dapat menemukan harta karun terpendam itu? Dalam perjalanan filologi tersebut, Syamil harus memilih, apakah kalah pada mereka yang serakah atau mati sebagai petarung.
"Kekuasaan akan menjadikan orang kenyang tiba-tiba menjadi lapar, dan orang-orang tidak haus menjadi dahaga. "
---halaman 125
"... jangan pernah percaya dengan siapa pun di dunia ini,... "
---halaman 171
"Di tengah keterbukaan informasi sekarang, tetap ada rahasia-rahasia yang mesti dijaga dan disimpan. "
---halaman 503
"Bangsa kita bukanlah bangsa yang rakus hingga harus menjajah tanah milik orang lain, bangsa kita bukanlah bangsa pembunuh hingga harus mengorbankan orang lain demi sebuah kesuksesan. "
---halaman 545-546
" ... setidaknya petualangan ini mengajarkanku banyak hal, termasuk bagaimana cara kita menghargai sejarah. Imperialisme tidak akan pernah selesai, dia hanya bertukar wajah dari zaman ke zaman, bukan?"
---halaman 549
Leiden 2020-1920 • Hasbunallah Haris • Gramedia Pustaka Utama • Cetakan I, Jakarta, 2025 • 552 halaman, 20 cm
Saya mendapatkan buku ini sebagai hadiah dari tantangan membaca #CeritaChristie2025 yang diadakan oleh Gramedia Pustaka Utama. Secara fisik tampilan buku ini oke. Judulnya membuat oenasaran, blurb-nya menarik, covernya lumayan cakep, hanya saja ketebalannya agak mengintimidasi, hahhah.
Butuh waktu kurang lebih 200 halaman sebelum saya berhasil masuk ke dalam ceritanya. Sebelum membaca buku ini, saya banyak membaca buku Agatha Christie yang, IMHO, gaya bahasanya terasa "praktis". Beralih membaca Leiden , saya merasa gaya bahasanya agak terlalu banyak " aksesoris ". Tetapi tak masalah, karena seperti yang saya bilang, hanya butuh kurang lebih 200 halaman sebelum saya terbiasa dengan gaya bahasanya dan akhirnya berhasil tenggelam ke dalan ceritanya.
Lumayan seru sih ya ceritanya. Perburuan harta karun lewat naskah kuno yang ditinggalkan oleh seorang tentara Belanda. Melibatkan jejak sejarah kerajaan besar, kolonialisme, suku pedalaman dan sebuah tempat mistis di kedalaman hutan Sumatera. Juga melibatkan sebuah organisasi berbahaya.
Seperti kutipan yang saya ambil di atas. Membaca buku ini membuat saya merasa lebih menghargai sejarah. Saya jadi tertarik menyelusuri kembali kisah-kisah para leluhur. Memastikan sekelumit kisah hidup mereka bisa diwariskan kepada keturunannya dalam bentuk tulisan.
Btw, somehow, saya sedikit merasa...errr...sedih saat membaca kutipan berikut: "Kita sudah kehilangan terlalu banyak, Eva, dan akan selalu kalah dengan orang jahat yang punya kekuasaan. " ---halaman 549
Kalimat di atas diucapkan oleh salah seorang hero di buku ini. Duh sedihnya, di dunia nyata kita sedang berjuang melawan segala jenis kejahatan, kan? Setidaknya di dunia fiksi buatlah orang jahat itu kalah untuk memberi sedikit semangat, huhu.
At last, meskipun endingnya bikin gemes, tetap saya beri 4 dari 5 cinta untuk buku ini ❤❤❤❤. Yap, I really liked it.
"Aku selalu percaya akan ada petualangan baru. Mereka yang menantang maut tidak akan mati dalam waktu dekat." (p.550)
Tak pernah Syamil duga bahwa dia yang seorang mahasiswa ilmu sejarah biasa, akan turut serta dalam sebuah ekspedisi pencarian harta karun peninggalan Belanda di Sumatera. Tidak hanya itu saja, dia pun terbang ke Leiden, salah satu kota di negeri kincir angin itu, bahkan sampai ke nagari "gaib". Beberapa kali Syamil berurusan dengan orang-orang jahat yang berupaya mengambil harta karun itu. Sungguh petualangan dengan pertaruhan nyawa.
#
Ini adalah novel yang aku tunggu-tunggu rilisnya. Karena yang juara 1, juara 3, dan naskah yang menarik perhatian juri DKJ tahun 2023 udah pada terbit, kok juara 2-nya belum. Makanya pas rilis, ga pakai babibu langsung gas membaca.
Sebagai pemenang DKJ, menurutku novel ini penuturan dan penceritaannya sangat mudah dimengerti—bukan tipikal cerita absurd, plot lompat-lompat, ending yang tidak dimengerti, ada adegan 18++ yang sebenarnya penting nggak penting ke dalam cerita utama, atau kisah hisfic latar 65/98—seperti kebanyakan novel pemenang DKJ (disclaimer: ini beberapa novel DKJ yang aku sudah kubaca #hanyamengutarakanpendapat✌️).
Jadi, pas baca Leiden ini wah mudah dipahami, rate usianya 13+ yang di mana sangat aman dibaca para remaja awal yang mau nyoba baca hisfic, dan ditambah ceritanya petualangan + detektif pula, berasa sedang membaca Petualangan Lima Sekawan versi hisfic-magical realism.
#
Satu kata: Seru!!!
Membaca buku ini benar-benar serasa diajak berpetualang dengan Syamil dan kawan-kawan. Tidak hanya petualangan, tapi juga banyak belajar ilmu sejarah. Some of malah baru kuketahui saat membaca buku ini. Menambah pengetahuan baru.
Buku ini dibagi menjadi 3 bagian atau aku lebih suka menyebutnya arc.
1. Arc surat Alex Van Der Meer Di arc ini berisi Adik Simba: Apa isi suratnya, DI mana surat itu berada, Kapan menulis surat itu, SIapa Alex dan orang-orang yang disebutkan di surat itu, Mengapa surat itu menjadi rebutan bahkan sampai di zaman sekarang, dan terakhir BAgaimana surat itu membawa Syamil menemukan jejak harta karun.
Banyak insight(s) juga yang aku dapat pada arc ini. Di mana negara ini ternyata memiliki utang kolonial. Aneh, ya, Belanda yang menjajah, tapi kita yang bayar biaya perang. Dari dulu ternyata kita sudah banyak berutang.
Tentang perjuangan pahlawan di Minangkabau. Biasanya kebanyakan hisfic berlatar tanah Jawa. Tapi, ini sebuah cerita yang baru untukku membaca hisfic dari tanah Minang. Aku baru tahu pahlawan Siti Manggopoh dan juga bagaimana kekuatan orang-orang Minangkabau zaman dulu dalam memerangi penjajahan.
2. Arc Ambas Di sini genrenya jadi geser ke action-spiritual-magical realism slighty fantasy. Ambas ini semacam Saranjana atau Atlantis. Ada dan tiada. Kalau berani menceritakan ke orang luar nanti tetiba disorientasi dan amnesia. Ini beneran ada nagari seperti ini? 🤯
Ada plot twist-nya juga 👀👀 Ini arc paling deg-degan sih karena masih 40-60% buku tapi orang-orangnya terutama protagonisnya sudah berada di ujung tanduk.
3. Arc Kerkhof (the final battle) Jika di arc dua sudah ada genre aksi, di sini malah lebih-lebih. Pertarungan akhir. Aku membayangkan kalau dialihwahanakan menjadi film, bagian ini yang paling sinematik. Karena ada 2 kejadian besar dalam satu lini masa yang sama, yaitu Syamil di Indonesia dan Eva di Belanda. Ciamik banget aku bayanginnya saat Syamil tanpa sadar diikuti, terus cross-cutting ke bagian Eva ngebut kejar-kejaran seperti Dominic Teretto di Fast and Furious #hanyaimajinasipembaca.
#
Penyelesaian dan ending-nya aku suka. Sungguh realistis. Bukan plot armor yang akan selalu menang. Tetapi, tetap mix feeling (banyaknya sedih) karena ternyata dua, bukan satu 🥀
Landmark-landmark di buku ini pun sudah ku catat, mulai dari Taman Nasional Kerinci Seblat, Museum Tambang Batu Bara Ombilin, Air Terjun Tansi Ampek, dsb. Siapa tahu nanti bisa napak tilas eksplor Sumbar. Kalau bisa sekalian ke Leiden, tapi ini agak lama karena tidak punya kartu hitam seperti Syamil dan Eva, haha.
Selain itu juga aku menangkap keresahan penulis tentang naskah-naskah kuno dan peninggalan sejarah bangsa ini. Miris, ya, ketika naskah kuno milik kita malah lebih banyak di Leiden daripada di negara sendiri.
#
Akhir kata, sebagai novel pemenang ini bisa dinikmati oleh usia mulai dari 13 tahun. Narasinya pun mudah dipahami, unsur sejarah dan perpaduannya dengan cerita detektif sangat seru untuk diikuti. Cocok bagi kamu yang mau mulai baca hisfic.
#
Bangsa kita bukanlah bangsa yang rakus hingga harus menjajah tanah milik orang lain, bangsa kita bukanlah bangsa pembunuh hingga harus mengorbankan orang lain demi sebuah kesuksesan. (p.545-546)
" ... setidaknya petualangan ini mengajarkanku banyak hal, termasuk bagaimana cara kita menghargai sejarah. Imperialisme tidak akan pernah selesai, dia hanya bertukar wajah dari zaman ke zaman, bukan?" (p.549)
Leiden 2020-1920 oleh Hasbunallah Haris // GPU, 2025 // Petualangan-Misteri // 552 hal.
Rate : 4,5/5 ⭐
"Beberapa orang mengusahakan yang terbaik untuk negerinya, beberapa yang lain merusak."—hal. 304
Ringkasan :
Leiden 2020-1920 merupakan sebuah novel yang terdiri atas 3 Babak. Babak pertama mengisahkan awal mula pertemuan Syamil dengan Kasman dan Maryati, beserta misteri yang mereka bawa. Di sini, Syamil mulai mempelajari naskah yang ditulis oleh Alex van der Meer—seorang mantan tentara intelijen Belanda—yang berisi catatan perjalanan dan tugas selama di Hindia Belanda, termasuk letak harta kekayaan Belanda disimpan. Selama perjalanan membaca naskah ini, Syamil mengalami banyak hal tak terduga, bahkan ia dan Maryati harus terbang ke kota Leiden untuk mencari lanjutan naskah Alex tersebut. Di Leiden, Alex bertemu dengan Eddie, kawan lama Maryati yang juga meneliti naskah tersebut. Hingga Syamil secara tidak sengaja menemukan potongan naskah kuno lain yang mengarah pada negeri Ambas.
Babak ke-2, Syamil, Maryati, dengan tambahan Eddie, kembali ke Padang untuk melanjutkan pencarian harta karun tersebut. Namun, pencarian tersebut merembet ke pencarian negeri Ambas yang misterius. Mereka berlomba dengan waktu, karena ada kelompok lain yang juga mengejar apa yang mereka cari.
Babak ke-3, Syamil dkk berhasil kembali dari pencarian negeri Ambas. Namun, banyak hal terjadi, hingga membuat keadaan berubah. Selain itu, mereka melanjutkan pencarian terhadap harta karun Belanda. Di sisi lain, ada Eva yang melanjutkan petualangan di kita Leiden, masih berkaitan dengan harta karun itu.
Ulasan :
Sebagai novel petualangan-misteri dengan sentuhan fiksi-sejarah, kisahnya cukup menegangkan. Di babak pertama, alurnya cukup lambat. Belum lagi, ada pergantian kisah antara tahun 2020 dan tahun 1920—melalui buku/naskah Alex van der Meer. Jadi, suasananya masih cukup santai. Di babak kedua dan ke tiga, alur menjadi cepat. Hal yang dikisahkan berupa petualangan mereka secara langsung ke hutan Sumatera. Lalu, petualangan berlanjut di kota Leiden.
Tokoh yang terlibat dalam novel ini cukup banyak, dan semuanya memiliki peran penting. Ada Syamil, Riza, Eva, dan Arbi sebagai golongan muda yang kritis dan memiliki kemampuan analitis yang sangat baik. Mereka juga bekerja sama memecahkan misteri di depan mereka dengan teliti, dan keputusan-keputusan mereka kadang menyusahkan mereka sendiri. Sedikit tambahan, Syamil sangat ambisius!!!
Selain itu, ada golongan tua seperti Kasman, Maryati, dan Eddie. Mereka sebagai golongan tua, tidak menggurui, tapi bahu-membahu menyelesaikan pencarian mereka. Bahkan mereka rela berkorban satu sama lain. Selain karena memang bersaudara, mereka memang tipe orang tulus yang berhati besar.
Penyampaian narasi dalam novel ini menggunakan sudut pandang penulis secara holistik. Jadi, dalam satu scene, kita bisa mengetahui apa saja yang dirasakan oleh tokoh-tokohnya. Apakah tidak membuat penasaran? Awalnya begitu, tapi ada beberapa hal yang disembunyikan penulis dan kita akan diberi penjelasan ketika keputusan itu sudah diungkap. Tenang, jiwa detektif kita akan tetap menganalisis.
Konflik utama novel ini adalah pencarian harta karun Belanda oleh dua kelompok, yakni kelompok Syamil dan kelompok Gagak Merah. Sepanjang cerita, Gagak Merah akan selalu ada dan mengiringi sebagai rival. Sebagaimana novel petualangan-misteri, banyak manuver yang disajikan penulis untuk mengecoh kita. Dan tidak lupa endingnya yang sangat unpredictable. Benar-benar di luar dugaanku saat membaca blurb novelnya.
Saat membaca Leiden 2020-1920, kita diajak berkelana ke Padang, Sawahlunto, dan Leiden. Sangat menarik karena aku sangat jarang bertemu dengan novel yang berlatar utama di Sawahlunto. Aku sangat menganjurkan kalian untuk membuka peramban atau Chrome untuk membantu mencari visualisasi dari tempat dan hal-hal yang dideskripsikan dalam novel ini. Sehingga kita benar-benar paham apa yang dibicarakan dalam novel. Tapi, tanpa itu semua, kita masih tetap bisa enjoy saat membacanya.
Tempat petualangan mereka di hutan Sumatera. Secara tidak langsung, penulis memberi tutorial menjelajah alam melalui hal-hal yang dipersiapkan dan dilakukan oleh para tokoh. Salah satu bagian yang aku sukai yaitu ketika mereka bergantian memimpin jalan, lalu Pakcik Kasman melihat salah satu jenis burung endemik hutan Sumatera, burung kuau raja. Salah satu pesan tersirat, agar kita tidak mengalihfungsikan hutan menjadi kebun sawit, tambang atau lainnya, agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Salut!!!
Novel ini mengandung banyak informasi sejarah, khususnya yang berkaitan dengan tanah Minang. Adapula kepercayaan lokal yang diangkat dalam novel ini. Semua disajikan dengan penjelasan yang mudah dipahami. Dan tentu saja, sangat page turner, hingga kita akan terus membalik halamannya untuk menamatkan novel ini.
Selain itu, aku suka ketika ada narasi atau percakapan dengan bahasa Minang. Seperti diajak belajar bahasa baru, karena aku benar-benar awam dengan bahasa Minang. Dan penulis banyak memberi catatan kaki untuk setiap istilah asing dan istilah lain yang membutuhkan penjelasan. Jadi kita tidak perlu repot untuk menerjemahkannya.
Ada beberapa twist yang dihadirkan oleh penulis. Sedikit mengecoh kita, tapi penulis menyajikan penjelasan yang logis. Namun, ada beberapa hal yang terasa mengganjal karena kurang dijelaskan, misal apa yang terjadi dengan Eddie dan rombongan setelah terpisah, dan sebagainya. Dan untuk villain, aku merasa mereka kurang dieksplorasi lebih jauh. Villain lebih banyak dijelaskan dari sudut padang Syamil dkk.
Dan bagian akhir babak ketiga, menurutku, benar-benar membutuhkan buku ke-2. Alias, masih belum tuntas loh itu. Kenapa sudah tamat?!!
petualangan syamil yang sangat-sangat panjang dan memberikan ilmu sejarah yang sangat bagus. banyak plothole menurut aku :( (harta karunnya gimana? trus naskah alex bagaimana? apakah karema udh dijual jadi gadicari lagi?) sehingga masih banyak pertanyaan yang masih berputar di pikiran aku. lalu setelah naskah itu hilang ada lagi naskah baru sehingga jadi membuat perjalanan baru lagi dan menambah tokoh-tokoh lainnya. cukup seru karena juga ada perjalanan ke negeri ambas tapi jadi malah ngalor ngidul kemana-mana gt ya si syamil hahaha
Menyelesaikan buku ini dalam 6 hari dan berhasil menjadikanku seolah sejarawan yang terlibat langsung dalam ekspedisi yang berbahaya.
Serius, aku dibawa sejauh ini?!
Siapa sangka perjalanan Syamil ke Padang justru mempertemukannya dengan Maryati dan Kasman sekaligus berkenalan dengan sepenggal naskah kuno tahun 1920 yang ditulis Alex van Der Meer, seorang anggota badan intelijen Belanda pada saat itu. Dari situlah petualangan panjang dan melelahkan dimulai, ekspedisi yang semula untuk menemukan penggalan naskah lain justru berbelok kepada pencarian negeri Ambas yang misterius di tengan hutan Sumatra.
Awalnya aku kira genre historical-fiction pada umumnya, tapi, kok bisa-bisanya unsur fantasi terselip di sini? Lebih dari itu, kita berhadapan dengan kepingan puzzle yang tercerai dan harus disusun satu per satu. Sebuah teka teki besar yang menuntun pembaca untuk ikut berperan sebagai detektif sekaligus sejarawan.
Terdiri atas 3 babak, di babak pertama kita diajak berkelindan dengan naskah kuno Alex van Der Meer yang membawa Syamil ke Leiden di tahun 2020. Babak kedua arah cerita bertukar, pembaca diajak mengabaikan sementara naskah itu, dan berfokus pada pencarian negeri Ambas dengan portal di mana hanya orang-orang tertentu yang bisa memasukinua. Ini bagian paling seru buatku. Babak terakhir menuturkan perjalanan selepas ekspedisi dan perburuan harta suci yang sempat disinggung penghuni negeri Ambas.
Cerita fantasi seperti ini yang aku gemari. Disisipi unsur-unsur magis dan mistis menjadikan cerita terasa semakin menantang dan mendebarkan. Di sisi lain, buku ini kaya dengan cerita sejarah Nusantara pada masa kolonialisme Belanda khususnya di Ranah Minang.
Menelusuri hutan Sumatra dengan segala tantangan untuk bertahan hidup di rimba raya, ditambah lagi diculik oleh suku primitif bersenjatakan sumpit beracun, ah, cuma mereka yang bernyali besar yang mampu melakukannya, aku cuma baca tapi rasanya udah menciut duluan.
Meski konflik yang dihadapi berlapis-lapis, tapi gaya penuturan penulis yang runut dan mudah dimengerti sangat mempermudah aku untuk menyelesaikan buku ini. Meski sayangnya masih ada beberapa plot hole yang belum terjawab buatku, kayanya harus baca ulang.
Tokohnya cukup banyak, sempat agak bingung, ditambah lagi pas baca bikin waspada sama semua karakter, ini beneran protagonis, apa siasat, begitu juga sebaliknya..
Banyak tokoh sejarah yang hadir, juga tempat-tempat yang bernilai historis yang rasanya ingin aku kunjungi secara langsung.
Bagian akhir yang sempurna buatku, sangat realistis dan masuk akal meski diselimuti dengan duka. Harus ada buku keduanya, sih. Gagak Merah tetap gak bisa dibiarkan begitu saja.
Termasuk buku yang aku perhitungkan dan ceritanya layak diangkat ke layar lebar.
📄 552 halaman 🇮🇩 Bahasa Indonesia 📍 Fiksi Historis, Detektif, Petualangan, Magis, Arkeologi, Filologi
Syamil adalah seorang mahasiswa jurusan sejarah. Dia sangat menyukai sejarah, terutama sejarah kolonialisme Belanda saat menjajah Indonesia. Belanda menjajah Indonesia, menyebabkan rakyat Indonesia menjadi tawanan, pekerja bahkan babu di Tanah sendiri.
Suatu ketika Syamil bertemu dengan Maryati dan Kasman yang sedang dalam perjalanan untuk menelurusi jejak kakeknya, Alex van der Meer. Alex adalah PID (intelejen Belanda) yang dikirim ke Hindia Belanda dengan sebuah misi rahasia. Namun, misi Alex malah berujung pada perebutan harta karun Belanda.
Syamil merasa tertarik dengan hal tersebut. Memberanikan diri ikut dalam petualangan Maryati dan Kasman menguak rahasia yang ada pada catatan harian yang ditulis Alex. Namun, dalam prosesnya Syamil cs bertemu dengan banyak pihak dan banyak halangan. Sebuah organisasi Gagak Merah berusaha untuk menghalangi mereka menemukan harta karun itu. Jika diperlukan, Gagak Merah akan "menghapus" musuh-musuh mereka.
🇳🇱🇳🇱🇳🇱🇳🇱🇳🇱🇳🇱
Aku suka banget dengan buku ini. Jujur pas awal baca aku merasa Leiden 2020-1920 ini mirip dengan Rasina karya Iksaka Banu. Ternyata makin kebelakang makin beda feel nya.
Leiden menyajikan double plot untuk awal cerita. Sumatra tahun 2020 dan Leiden sampai Hindia Belanda tahun 1920. Tentunya untuk mengenalkan awal konflik utama dalam buku ini.
Buku setebal 552 halaman, aku libas habis dalam 4 hari. Dan sepertinya jadi penutup tahun 2025 yang sempurna. Genre cerita yang berubah-ubah membuat aku jadi penasaran dan ingin terus membaca. Ada beberapa kata yang masih typo. Tapi gapapa lah.
Jempol untuk Habunallah Haris. Bukunya keren abis bang.
Syamil tak menduga, pertemuan singkatnya dengan Maryati dan Kasman akan menyeretnya pada misteri besar. Sebuah naskah kuno peninggalan PID Belanda, Alex van der Meer, membuka jejak menuju harta curian yang terkubur di tanah Sumatra. Mengikuti potongan catatan yang ada, mereka berpacu menyingkap rahasia yang disembunyikan seabad lalu. Apakah mereka bisa menemukan harta kartun itu? Novel ini terdiri dari 3 babak. BABAK I mengajak kita mengikuti Syamil menelusuri jejak catatan Alex, dari Sawahlunto tahun 1920 yang membuka sisi kelam kolonialisme di Sumatra Barat, hingga Leiden tahun 2020, tempat ia bertemu Eddie yang juga meneliti naskah Alex. Penelusuran itu membuka jalan menuju sebuah manuskrip kuno yang mengarah pada harta karun yang lebih besar, Negeri Ambas.
BABAK II menyeret Syamil dan timnya jauh ke pedalaman Gunung Kerinci, mengejar bangsa misterius yang hidup dalam legenda dan Negeri Ambas, tempat liminal yang mengaburkan batas realitas. Namun, mereka bukan satu-satunya yang mengincarnya dan setiap langkah berubah menjadi perlombaan yang berpotensi merenggut nyawa.
Di BABAK III, fase paling genting dimana Syamil dan timnya berhasil kembali dari Negeri Ambas, meski dengan harga yang besar. Petunjuk baru dari naskah Annie Smit, istri Alex, menuntun mereka pada perburuan terakhir. Di dua tempat berbeda, Syamil dan Eva berpacu melawan organisasi Gagak Merah untuk menemukan harta suci atau Karbit Agung.
Leiden 2020-1920 karya Hasbunallah Haris, peraih Juara II Sayembara Novel DKJ 2023, menawarkan fiksi sejarah yang berbeda. Alih-alih sekadar merekonstruksi masa kolonial, novel ini merangkai sejarah dengan petualangan, misteri, dan gaya investigatif ala novel detektif. Setiap petunjuk membuka lapisan misteri baru dan ketegangan, membuat pembacanya ikut menelusuri jejak yang tak pernah benar-benar selesai di masa lalu.
Sebagai pembaca yang tumbuh dengan kisah berlatar Jawa, novel ini benar-benar membuka wawasanku tentang sejarah, budaya, dan mitologi Sumatra—banyak hal yang baru aku ketahui justru lewat petualangan Syamil ini. Cara penulis mengangkat isu sejarah dan budaya maritim Nusantara terasa natural, tidak menggurui dan membosankan. Di balik alurnya yang penuh misteri, ada kesadaran perlahan yang muncul tentang sejarah panjang Indonesia. Bagian paling menohok buatku adalah ketika menyadari bahwa banyak naskah kuno milik bangsa Indonesia justru tersimpan di negara lain.
Dan risetnya? Solid banget! Terlihat jelas gimana latar belakang penulis sebagai peneliti sastra dan sejarah ikut membentuk detail yang akurat dan kaya. Tiap adegan dan latar terasa hidup, dan alur petualangan fiski sejarah nya disusun rapi dari awal sampai akhir. Jujur, aku sempat jiper waktu lihat ketebalannya, tapi pas udah baca, ternyata narasinya mengalir halus, ringan, lugas, dan surprisingly mudah diikuti!🙌🏼
All in all, aku sangat menikmati novel ini!💖 Perjalanan Syamil bukan hanya soal harta karun, tapi juga usaha memahami dan menyelamatkan kepingan sejarah bangsa yang tercecer dan dikuasai pihak asing. Buat kamu yang suka historical fiction penuh petualangan, organisasi rahasia, pengkhianatan, dan misteri berlapis—novel ini patut kamu coba!❤️🔥
Sayangnya, aku kurang puas sama endingnya. Penyelesaiannya sih realistis, tapi aku ngerasa ceritanya belom sepenuhnya tuntas. Seolah masih ada ruang untuk petualangan Syamil berikutnya. Apa mungkin memang belum selesai?🤔
Oh iya, aku sempet nemuin beberapa typo. Gatel pengen benerin, tapi gak sampe ganggu keseluruhan cerita kok. Mungkin bisa jadi cacatan untuk perbaikan cetakan berikutnya~
bercerita tentang syamil, seorang mahasiswa jurusan ilmu sejarah yang terlibat dalam petualangan mencari harta karun dari era penjajahan belanda bersama maryati, kasman, dan beberapa orang lain yang tiba-tiba harus terlibat dengannya. mereka harus mencari kepingan-kepingan puzzle yang hilang dalam mencari jejak itu, termasuk menelaah naskah-naskah kuno sampai mengunjungi berbagai macam tempat.
diawali dari mempelajari naskah alex, seorang pemuda belanda yang ditugaskan pemerintahnya sebagai mata-mata di hindia belanda pada tahun 1920. di naskahnya alex menceritakan gimana dia menyaksikan betapa kejam dan liciknya belanda ketika sedang menjajah indonesia. di sini juga ada hint tentang lokasi dari harta karun yang sedang berusaha dicaritahu syamil dkk.
tapi, ternyata ga sampai situ aja. petualangan mencari harta karun ini membuat syamil dkk harus mencari tahu lebih banyak lagi di luar tujuan mereka di awal. termasuk mencaritahu keberadaan negeri yang tersembunyi bernama ambas. mereka harus menjelajahi hutan pedalaman sumatera, ketemu orang-orang primitif, sampe harus memasuki 'dunia lain'.
dalam upaya menyatukan benang merah dari hasil temuan mereka selama itu, ternyata harus membuat mereka jadi terlibat dengan organisasi rahasia yang punya power besar. dan itu mengancam keselamatan mereka semua, termasuk nyawa dan nasib keluarga.
dan endingnya.. duh, miris. ada bagian sedihnya karena geng syamil harus kehilangan beberapa orang yang sudah terlibat selama ini dengan mereka. sebenernya realistis juga ending yang begini. karena pada kenyataannya orang-orang biasa kayak syamil dkk bakal susah menaklukkan orang-orang dengan pengaruh dan kekuatan yang lebih besar.
sejujurnya, masih banyak hal-hal yang aku penasaran banget tapi nggak dijelasin di buku ini. contoh: kenapa syamil cepat banget percaya sama orang baru padahal di satu sisi dia juga gampang curiga? kenapa arbi yang harus jadi tumbal? gimana eddie bisa jadi satu-satunya yang selamat di antara empat orang yang diusir kepala suku? kenapa maryati dan riza nggak dari awal aja menjelaskan semua isi naskah alex dan annie yang mereka tau ke tim mereka tanpa harus nunggu momen-momen tertentu?
tapi, mungkin ga semua-semuanya juga harus dijelaskan sama penulisnya ya, hehehe.
satu hal yang jadi inti besar dari buku ini adalah: bahwa penjajahan itu nggak pernah hilang dari bangsa ini. cuma model penjajahannya beda aja sekarang, mainnya lebih bersih.
ini buku BAGUS DAN SERU BANGET! salah satu novel hisfic indonesia terbaik yang pernah aku baca. banyak fakta-fakta sejarah dan ilmu baru yang baru aku tau setelah baca buku ini. penulisannya juga masih mudah dipahami.
salut sih sama penulisnya. pasti butuh waktu lama dan effort yang ga main-main waktu ngeriset sampe bisa menghasilkan buku sekeren ini.
good luck, buat penulis! ditunggu karya selanjutnya.
“... Imperialisme tidak akan pernah selesai, dia hanya bertukar wajah dari zaman ke zaman, bukan?”
#lintangbookreview Leiden 2020-1920 | Hasbunallah Haris
Awalnya, premis hisfic + misteri soal naskah kuno zaman Belanda ini udah sukses bikin penasaran. Sempat agak terintimidasi sama tebalnya, tapi begitu baca... it’s sooo page turner!🤩
Petualangan Syamil (si tokoh utama) ini bukan cuma soal ‘perburuan harta karun’ biasa. Dia dan rekan-rekannya harus menelusuri rimba belantara, berkonflik dengan organisasi rahasia yang sangat berbahaya, demi menguak naskah kuno dari tahun 1920. Taruhannya? Bukan cuma harta karun, tapi juga nyawa dan mungkin kepingan sejarah bangsa yang hilang.
Karakterisasinya pas. Tokohnya memang banyak, sesuai dengan skala petualangannya yang epik, tapi penulis berhasil memberi porsi yang seimbang. Kita diajak menebak-nebak siapa kawan sejati dan siapa lawan dalam selimut.
Tapi, “bintang” utama dari novel ini adalah RISET-nya. Asli sih, ini nggak main-main.🙂↕️ Penulisnya nggak cuma nyajiin sejarah imperialisme, tapi juga ngasih wawasan soal Blok Barat/Timur, kekuatan maritim Nusantara, VOC, sampai jejak kerajaan di Sumatera. Aku juga takjub sama detail unsur mistis, mitos, dan cerita rakyat lokalnya. Banyak banget informasi baru.
Pembaca juga diajak virtual traveling dari Air Terjun Tangsi Ampek, bertahan hidup dalam menembus Taman Nasional Kerinci Seblat, sampai ke jalanan Leiden dan Amsterdam di Belanda sana.
Secara penulisan, diksinya ringan. Plot twist dan jejak petualangannya bikin ini jadi page-turner. Salut sama penulisnya yang bisa merangkai semua kepingan plot yang terpisah 100 tahun jadi satu kesatuan yang utuh.🤯
Jujur, aku sempat bingung karena misi petualangannya terasa “bercabang”, dan ending-nya pun open ending. Ternyata, jawabannya adalah: buku ini bakal jadi SERIES!😱 Jadi, wajar kalau belum semua fakta terkuak.
Overall, novel ini jadi pengingat yang “menusuk” tentang gimana kita seharusnya menghargai sejarah dan warisan budaya. Jangan sampai sejarah kita lebih terawat di negara lain, sementara kita sendiri kehilangan jejaknya.
3.6 out of 5! I wish I could give more than 4 but sadly I expected too much from this book to be honest. This book really has a good blurb but I found several aspects from this book which I considered making this book far from my expectation at first:
1. Too many overlapping conflicts (problems) in the book which make me hardly understand what is the main conflict in this book tbh? The same conflict that being retold in the blurb section or the additional variety of conflicts which also takes almost 80 percent of the story in this book
2. Too much local history information involved in this book. As someone who was not born or lived in Sumatera (esp West Sumatra) this book quite gives a shock for me as too much information of the local history of Sumatra which makes the reader confused with it. The reader is already confused with overlapping conflicts yet the reader is even more confused with the local story. The way that author tried to retell about the local history itself like half retell and not the whole retelling local history (come on, not everyone knows the local history of Sumatra and came from West Sumatra). And I think the book is not quite friendly for a beginner of historical fiction reader because of this.
3. Too many characters involved which makes the reader dizzy. I even need to re-read several sections of this book or take quite a minute for me to remember from which pages "A" character appeared
4. Slow pace. Not many readers enjoyed slow pace story plot
5. Cliff hanger ending, which tbh makes me disappointed in the end as I read like almost half of 1100 pages yet the ending left me with cliffhanger.
But I still appreciate the author efforts while doing the research about this. I could feel the author doing his extensive research about local history of West Sumatra, sadly it is not delivered well in the book. Yet, the plot is quite interesting, for those who loved the adrenaline rush and the kind of detective hisfic plot, this book can be an option in your wishlist.
kisah tentang petualangan Syamil untuk menguak sejarah bangsanya, latar lokasi berada di sumatera barat dan leiden. Syamil adalah mahasiswa jurusan sejarah, ia diajak oleh Maryati dan Kasman untuk membahas potongan naskah berusia 100 tahun yang dicatat oleh seorang mantan tentara Belanda bernama Alex van der meer. Kemudian petualangan dilanjutkan masuk ke hutan berada di Dharmasraya untuk menemui tempat bernama Ambas. Mereka sempat diserang oleh suku pedalaman tersebut namun akhirnya mereka berhasil masuk ke Ambas. Orang-orang disana sudah memperingatkan untuk tidak boleh menceritakan bagaimana tentang Ambas ini ke orang diluar sana. Namun Maryati dan Kasman menceritakan itu ke Riza (dosen Syamil) akibatnya mereka tiba tiba pingsan dan hilang ingatan sementara. Selama petualangan mereka tersebut banyak halangan dari lawan yang juga mengincar naskah kuno tersebut. Bahkan kumpulan naskah yang ada di Riza dicuri oleh rivalnya yaitu Gagak merah. endingnya saat Syamil, Kasman dan Maryati pergi ke Sawahlunto untuk mendatangai kuburan Belanda, disana mereka diincar oleh Erwin (yang menolong persiapan data syamil saat ke belanda), Erwin berhasil membunuh Kasman dan Maryati.
Ceritanya sebenarnya seru, apalagi latar lokasinya di sumatera barat kampung halamanku. Untuk para sejarawan pasti akan menyukai buku ini. Namun untuk para awam mungkin agak susah memahami karena beberapa ada tokoh2 dan peristiwa sejarah yang tidak familiar. Penulisannya juga dapat dipahami dengan mudah. buku ini seru, apalagi kalau main ke sawahlunto habis baca ini pasti bakal lebih seru heheh
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sebelum mulai ngereview, mau sedikit curhat. Akhir bulan lalu aku baca buku yang pace-nya lambat banget. Hampir DNF tapi masih diterusin. Pas udah tinggal 2 bab terakhir, bingung kenapa masih banyak masalah belum selesai. Jadilah ngecek di goodreads, and guess what? Bukunya ternyata bagian dari series. Jadi emosi 😠😠
Ga nyangka bakalan ngalamin hal yang sama pas baca buku ini.
Pas selesai baca, yang pertama kepikiran adalah, "Ini masih ada kelanjutannya ga sih?" Karena endingnya terlalu open ending buat aku. Masalah di bagian pertama ga selesai, di bagian kedua juga sama, dan di bagian ketiga tau-tau udahan.
Pas baca blurb, ekspektasi aku buku ini bakal berisi tentang fiksi sejarah yang kental sama unsur misteri. Bener sih... tapi blurbnya lupa mention kalo ada unsur paranormalnya juga. Buat orang yg kurang suka novel misteri dengan dipengaruhi unsur paranormal, this book is not for you.
Meskipun ada beberapa hal yg ga sreg, tapi tetep salut sama penulisnya. Cara dia nulis enak dibaca. Selain itu kerasa banget kalo penulisnya suka sejarah sumatra dan tau banyak soal itu. Dan cara dia mendeskripsikan daerah yang MC datangi, membuat jadi pengen berkunjung kesana juga. Buat yang suka short chapters, buku ini cocok banget. Meskipun 500++ halaman, ga terlalu kerasa monoton karena tiap chapter ga panjang.
By the way, saran aja nih buat penerbit. Mungkin rating umurnya bisa diubah. Di buku ini kan ada adegan merokok. Dan yang merokok itu bukan hanya orang di sekitar MC, tapi si MCnya juga. Padahal rating buku ini 13+. Rasanya agak gimana..gitu🙄
Untuk sebuah cerita tentang harta karun rahasia yang melibatkan inteligen dan organisasi rahasia, langkah-langkah Syamil dan grupnya terkesan tidak berhati-hati dan tanpa kalkulasi. Bahkan Syamil, yang seolah ditulis mengambil peran sebagai "pemecah misteri yang berbakat dan diberkati", jarang disebut pendirian dan pemikirannya soal usaha pencarian naskah dan pusaka, dan hanya selalu terseret oleh rencana orang-orang di sekitarnya.
Bagian paling menarik adalah tentang dunia Ambas, yang sayangnya seperti dipotong porsinya dan dilupakan secara tiba-tiba. Kilas balik sejarah lewat naskah pribadi lama juga cukup seru diikuti, meskipun secara realistis tidak mungkin naskah seperti itu ditulis dengan gaya tulis novel yang begitu detail. Sedangkan sisa cerita petualangan memiliki tokoh dan suasana yang dirancang dengan bagus.
Setelah menyelesaikan membaca, ada beberapa hal mengganjal bagi saya yang perlu disebutkan. Pertama, terkait mengapa Riza tidak memberitahu dari awal soal naskah Annie di kuburan Belanda. Kedua, kurang ada alasan mengapa Kamil dan grupnya dibunuh sedangkan Maryati, Kasman, bahkan Eva dibiarkan hidup untuk memasuki dunia Ambas. Ketiga, akhir cerita yang tidak memuaskan dan sikap yang mengandung kontras; kekalahan telak di adegan perkelahian terakhir tetapi Syamil justru seolah menantikan petualangan selanjutnya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Mentok di 3 bintang, sorry.. Padahal pas baca blurb nya dan tau kalau dia pemenang DKJ, aku ga pikir panjang langsung CO, tapi makin kebelakang aku makin struggle buat namatin ceritanya :( ceritanya kaya dipaksa, terlalu banyak lapisan cerita dalam 1 novel ini, sampe di bab-bab akhir aku mulai bingung sebenernya apa yang jadi inti ceritanya Sebenernya dari awal pun aku merasa motivasi tokoh utama untuk terlibat kasus Maryati dan Kasman kurang, oke, si Tokoh Utama ini, Syamil, suka bgt sm sejarah, tapi masa dia ga curiga ngobrol di angkot sm stranger trs diundang ke suatu tempat (Pantai gandoriah) terus tiba-tiba ada adegan tembak-menembak. Kalau aku sih mundur, realistis aja, sayang badan sendiri :) tapi riset penulis patut diapresiasi. Cukup banyak data yang aku yakin penulis riset cukup lama, still good for the data :)
DNF.... kayaknya memang bukan saya target pasarnya. This would go hard for a 13 year old though (persis rating resminya). Banyak fact dumping yang sebenernya gak ngaruh banyak ke cerita, sekalinya ngaruh, insertionnya juga kurang halus gitu. Plot holes termasuk detil lebih jauh rekrutmennya si Syamil yang nyaris gaada (kecuali penyebutan selewat aja) juga bikin kurang sreg sama nih buku. Masuknya subplot kedua yang melibatkan Eva juga agak ???? dan tiba-tiba dua karakter utama lain jadi "ilang". Cukup disayangkan mengingat ini pemenang ajang sastra yang cukup bergengsi. Tapi mungkin worldbuildingnya masih bisa diapresiasi kali ya.
Kaya akan sejarah dan tokoh bangsa yang seringkali kita lupakan. Quotes di setiap awal bab sangat menyentuh dan relatable. Perjuangan tidak pernah ada habisnya dan terkadang kita harus “kalah” oleh orang dengan kekuasaan serta licik.
1/2 buku menarik, sejarah menarik, penggabungannya menarik, tapi 1/2 buku tidak menarik. karakter baru yang muncul di akhir2 agak kurang, apalagi muncul di seperempat terakhir. punya potensi, tapi sayang, terlalu mau bicara banyak, tapi terlalu sedikit halaman.
Berharap banyak dari naskah yang meraih Juara II Sayembara Novel DKJ 2023, terlalu banyak yang ingin dibahas pada novel namun berujung ketidakjelasan cerita mau di bawa kemana apalagi pada 2/3 akhir novel.
jujur ... aku agak kecewa sama ending buku ini, meski emang bisa dibilang realistis sih, kalo misalnya mereka lanjutin pencarian mereka, kita bisa memperkirakan bahaya apa yang akan mereka temui.
bercerita tentang syamil, seorang mahasiswa jurusan sejarah, yang nggak menyangka hidupnya akan penuh petualangan menantang. syamil bertemu dengan maryati dan kasman, yang ternyata merupakan keturunan orang belanda.
orang belanda itu bernama alex. di masa lalu, alex menyimpan harta karun di sebuah tempat. pencarian syamil, maryati, dan kasman akan harta karun itu, ternyata membawa mereka pada hal lain yang lebih besar.
tentu saja ada pihak dengan kekuatan lebih besar yang juga mencari apa yang mereka cari. mereka berlomba dengan organisasi tersebut untuk melakukan pencarian, pencarian yang berujung membuat mereka mengalami hal yang tak diinginkan.
pada awalnya aku cukup sulit mengikuti, memahami, narasi yang dibangun oleh penulis. tapi, aku akui dari pertengahan menuju akhir cerita, tegangnya tuh berasa, seolah aku ikut petualangan mereka juga.
aku setuju sama salah satu ulasan di goodreads kalau buku ini lumayan banyak "aksesorisnya" sebenernya bagus sih jadi nambah pengetahuan baru, cuman aku tuh lebih penasaran ke kisah syamil, bukan ke kisah kisah masa lalu.
tapi kalau dipikir lagi, petualangan syamil gak akan lengkap tanpa kisah kisah masa lalu itu. ini kenapa jadi kontradiktif sih HAHAH akhir kata, aku cukup menikmati membaca buku leiden ini.
Awalnya saya antusias saat membaca blurb buku, apalagi karena novel ini juara 2 sayembara DKJ. Namun, unsur sejarah di sini sangat info-dump. Setiap bertemu suatu tokoh, pasti diikuti lima lembar lebih paparan sejarah yang sebenarnya tidak dibutuhkan dalam cerita. Aksinya juga nyaris tidak ada, kita hanya membaca tokoh-tokoh tersebut duduk-duduk dan itu terus berulang selama 500 halaman. Ada berapa kali adegan Syamil duduk di ruang tamu Bu Riza, coba? Sekalinya terdapat aksi, malah diceritakan lewat tell, not show. Penggambaran karakternya pun tidak subtil melalui tindakan tokoh (saya sedikit curiga Syamil adalah self-insert penulis). Selain itu, saya mengira novel ini berpusat pada penulusuran Hindia Belanda tahun 1920. Akan tetapi di tengah, tiba-tiba fokusnya bergeser ke konspirasi dan perjalanan mistis spiritual ke kota mitos. Saya mengakui penulis novel ini pandai dalam menulis non-fiksi sejarah, tapi banyak yang harus diperbaiki lagi dalam membuat novel fiksi.