Sepanjang Orde Baru, banyak tragedi dibisukan bersama nama-nama korban yang tak pernah dicatat kekuasaan. Mereka adalah suara yang dipaksa hilang, ingatan yang sengaja dikubur. Buku ini secara runut mencatat banyak peristiwa yang menciptakan luka bagi negeri ini, sebagai upaya agar kita terhindar dari amnesia kolektif.
Buku ini bisa di bilang ringkasan “kecil” dari berbagai kasus kekerasan yang telah terjadi pada kurun waktu 1965-1998 dari ujung Aceh hingga Papua sana. Dan juga sekarang, 2025, situasi yg mulai mengarah pada “ORDE BARU JILID II”! Yang artinya “Oligarki kapitalisme rente tetap direproduksi dan mengalami regenerasi. KKN-nya masih sama, cuman dibagi rata diantara anggota oligarki.” I mean, asdfghjk!!! Couldn’t agree more with this😶🌫️🫥😶
Setiap bab di hadirkan dengan berbagai kasus pada linea masing2 yang mana pembaca bisa menggali lebih spesifik dg acuan buku2 lain yang di paparkan. 👍🏻
Jujur buku ini SANGAT PADAT untukku!!!😵💫 Tapi ini merupakan bagian dari “MENGINGAT” yang mana merupakan satu-satunya kemewahan yang tidak akan pernah di wariskan oleh negara. 🤕 Bagaimana menurutmu?
Terima kasih kepada para penulis yang sudah menghadirkan buku ini dengan segala riset dan juga kurasi berbagai narasumber. PANJANG UMUR PERJUANGAN!!!💥
“Bagi mereka, para impunitas, melupakan adalah sebuah kemewahan. Ia menjelma bantal empuk bagi mereka yang tidur di atas tumpukan nyawa yang telah ditebas dengan tangan yang berlumuran darah; selimut hangat bagi mereka yang kariernya ditanam di atas kuburan massal tanpa nisan. Lupa adalah mesin pembersih paling efektif, sebuah orasi politik untuk membersihkan sejarah menjadi putih dan berkilau serupa lantai istana. Melupakan adalah kemewahan semacam itu. Kemewahan yang hanya dimiliki para impunitas dan pewaris tahta kekuasaan.”
Di tengah situasi dan angin politik hari-hari ini yang tampak makin menunjukkan watak politik Orde Baru, yang notabene telah ditumbangkan 27 tahun silam, keberadaan buku ini menjadi sangat penting. Empat penulis dalam buku ini seperti menyalakan alarm dan memberikan dentingan pengingat bahwa ada begitu banyak kekerasan negara yang terjadi sepanjang 32 tahun rezim Soeharto berkuasa (sejak 1966 hingga 1998) yang belum juga dituntaskan hingga kini. Impunitas dan keengganan untuk membereskan persoalan pelanggaran berat hak asasi manusia di masa lalu yang merenggut ratusan ribu nyawa warga sipil tak berdosa ini jelas membawa efek yang terus terasa hingga kini. Setiap kritik dan aspirasi dari warga negara/rakyat dibungkam, dipersekusi, bahkan dihantam dengan kekerasan oleh penguasa yang seolah tanpa konsekuensi apapun, kebal dari segala macam aturan dan bahkan nilai-nilai kemanusiaan.
Berbekal referensi dari para sejarawan andal maupun laporan dari tim pencari fakta, didukung dengan sumber-sumber primer yang tidak kalah banyak, buku ini menghadirkan semacam panduan ringkas dan mudah untuk mengetahui bagaimana kekerasan negara bekerja guna melanggengkan sistem dan kuasa rezim saat itu (dan metodenya masih diterapkan sama persis hingga kini). Kehadiran buku ini juga berada pada momentum yang tepat, yakni pada hari-hari ketika orang yang seharusnya bertanggung jawab atas serangkaian kekerasan sepanjang 32 tahun lamanya yang diuraikan dalam buku tersebut, malah justru sedang menjadi salah satu kandidat kuat pahlawan nasional. Sebuah buku penting yang selain mengajak kita untuk merawat ingatan bahwa ada begitu banyak kekerasan dan kejahatan negara yang belum dituntaskan hingga kini, juga membawa kita untuk sedapat mungkin mengantisipasi agar kekejian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Makin banyak buku tentang orde baru yang saya baca, makin terlihat betapa sedikitnya pengetahuan saya tentang orde itu. Makin yakin pula saya untuk dengan tegas mengatakan bahwa saya masuk dalam kelompok orang-orang yang tidak menyetujui Soeharto menjadi pahlawan nasional. Pahlawan ndasmu. Pemerintahan kita masih bangsat kayak sekarang juga karena orde baru yang bangsat juga. Tapi kamu tahu apa yang lebih bangsat dari itu? Melihat sosok-sosok yang dulu begitu menikmati dan menghidupi orde baru dan sosok-sosok yang berjuang menumbangkan rezim di orde tersebut sekarang duduk bersama di pemerintahan.
Kepada kalian yang ditinggalkan keluarga, kawan, dan kekasih yang dihilangkan, saya bersama kalian dalam doa dan harapan. Izinkan saya mengingat bersama dengan kalian.
Penulis menceritakan narasi sejarah kekerasan orde baru dengan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti, setidaknya untuk saya yang awam dengan sejarah negara sendiri. Membaca buku ini membuat saya merasa kesal terhadap rezim tersebut dan tidak berdaya terhadap korban, baik yg merenggut nyawa maupun yang tidak jelas statusnya seperti apa sampai saat ini. Saya setuju dengan pendapat penulis bahwa kita sudah sepatutnya menolak lupa terhadap peristiwa2 tersebut. Selain itu, secara keseluruhan, ada beberapa narasi yang disampaikan oleh penulis yang sangat saya sukai, berikut diantaranya; "...ingatan adalah kemewahan terakhir untuk memutus rantai trauma yang mengikat. ingatan telah bertransformasi menjadi cinta. cinta dengan segala sejarah yang rumpang." - hal. 190. "di balik trauma atas luka yang menjalar dalam sobekan buku sejarah, mengingat bertransformasi menjadi cinta. ... namun ini bukan cinta yang pasif dan sentimental. ini adalah cinta yang menuntut, yang bertahan, yang menjadi bahan bakar bagi ingatan untuk terus menyala. ... pada ujungnya, kemewahan yang tidak bisa dilindas mesin kekerasan hanyalah ingatan dan cinta." - hal. 197. my heart goes with all of the victims.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Menurut saya buku ini cocok untuk pemula yang ingin mengetahui tentang orde baru. Terima kasih kepada para penulis, karena buku ini wawasan saya jadi bertambah, bisa mengetahui kejadian kejadian fakta dari para korban, saksi, dan laporan lainnya. Setelah membaca buku ini saya berharap bisa memiliki kesempatan untuk mengikuti aksi kamisan, walaupun entah kapan akan terjadi.
Kekerasan, propaganda, dan manipulasi berita yang disampaikan pemerintah kala itu dapat digambarkan secara ringkas, akan tetapi dapat dengan mudah dimengerti pembaca. Semakin dalam membaca buku ini, semakin saya sadar bahwa saya perlu belajar lebih dalam lagi mengenai sejarah yang tidak pernah diajarkan sebelumnya semasa sekolah. Nama korban dan keluarga korban mungkin dapat dengan mudah dilupakan oleh mereka yang tangannya berlumuran darah dan masih terus “mencuci tangan”. Akan tetapi, mereka yang hilang dan tak kembali selalu menjadi simbol, lambang, serta semangat bagi mereka yang terus mencari keadilan.
A book that lays bare a series of dark chapters from the New Order era. The histories that will never be taught in classrooms.
This book feels not just important but essential reading for every Indonesian. In fact, this bitter truth deserves a place in the school curriculum.
Why is it so hard to admit that we once lived in the era where The Authority used their power to repressed the civilian? Why is it so difficult to acknowledge that this country was built amid an ocean of civilian blood?
Ongoing repression by authorities even today makes me question whether there has ever been a leader who truly cared about building Indonesia during their term rather than simply clinging to power?
Yang Hilang, Yang Tak Kembali, dan Yang (Mungkin) Terlupakan
Memadukan berbagai sumber, mulai dari riset arsip, publikasi media cetak, laporan NGO, serta kesaksian korban; Mereka Hilang Tak Kembali mengajak pembaca untuk mengingat kembali serangkaian peristiwa masa lampau dalam perjalanan sejarah politik Indonesia yang (bisa jadi) terlupakan. Dimulai dari peristiwa G30S pada tahun 1965 yang melatarbelakangi pergantian kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru, penulis menyajikan perspektif baru di luar pemberitaan yang dipublikasikan ke masyarakat umum melalui berbagai narasumber yang terkurasi. Ditulis oleh empat penulis sekaligus; Aristayanu Bagus, AS Rimbawana, Deby Hermawan, dan Putro Wasista, buku ini menyajikan runutan peristiwa politik dari tahun 1965 sampai dengan 1998.
Satu kejadian bisa menghadirkan seribu sudut pandang. Mereka Hilang Tak Kembali menyajikan sudut pandang yang komprehensif dan lugas dengan menghimpun lebih dari satu narasumber. Narasi yang tegas dan to-the-point mengajak pembaca untuk mengingat dan memaknai kembali peristiwa-peristiwa sejarah yang hampir terlupakan sehingga terhindar dari amnesia kolektif. Saya mengapresiasi keberanian penulis dan penerbit untuk menyuarakan kembali serangkaian kisah yang (hampir) terlupakan. Ditambah lagi, dengan adanya catatan bibliografi sungguh memudahkan pembaca untuk dapat mengetahui kredibilitas sumber referensi yang ada dan bahkan dapat dijadikan rujukan untuk bacaan selanjutnya.
Dari kurasi berbagai narasumber yang terhimpun, saya berharap proporsi liputan mengenai kesaksian atau wawancara dengan korban bisa mendapat sorotan lebih untuk menyeimbangkan data dari NGO dan pemberitaan media yang mendominasi.
Overall, Mereka Hilang Tak Kembali merupakan sebuah pengingat bahwa perlawanan bukan hanya melalui membaca, tapi juga mengingat. Buku ini aku rekomendasikan untuk kamu yang menyukai genre sejarah dan kamu yang tertarik untuk mengeksplor perspektif lain yang kredibel dari serangkaian peristiwa yang terjadi di Orde Baru.
Terima kasih Kak Romlah dan Buku Mojok atas kesempatannya untuk dapat me-review buku ini. Sukses selalu untuk Team Buku Mojok.
“Pada akhirnya, kasus ini dibuat oleh negara dan negara pula yang emoh menyelesaikan.”
Ternyata masih banyak dosa pemerintah orde baru yang belum saya tau. Lewat buku ini pun pandangan saya semakin terbuka bahwa era pemerintahan Soeharto memang sekelam itu. Pada akhirnya, rakyat berusaha melawan, tapi lagi-lagi rakyat yang jadi korban. Miris.
Meski membahas terkait sejarah dan politik, tapi bahasa yang digunakan cukup mudah dipahami. Salah satu buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca, setidaknya sekali seumur hidup.
Buku ini adalah catatan singkat tentang catatan genosida di Indonesia. Ketika begitu banyak kejahatan yang ditutupi rezim. Begitu banyak rakyat dibungkam Bahkan mereka yang dibunuh dan dilenyapkan begitu saja. Tanpa ada kejelasan sampai hari ini.
Buku ini merangkum kekerasan dan kekejian rezim dari awal 1960 - awal 2000. Dari PKI , Talang Sari, sampai Semanggi Dari Munir, Marsinah, sampai Elang Dan semua nama-nama yang tidak tercatat dan nyaris terlupakan.
buat yang baru mau mengenal sejarah kekerasan sepanjang 65 hingga 98, bisa banget dimulai dari baca buku ini. udah dipadatkan, runut, spesifik, dan dilengkapi penyebutan buku-buku acuannya. silakan, nanti bisa dibandingkan dengan jilid 9 dari buku penulisan ulang sejarah yang baru diluncurkan itu.
Menggambarkan kisah kekerasan dan rencana sistematis orde baru yang berkuasa puluhan tahun dengan segala problematikanya. Buku ini kembali mengingatkan akan duka yang tak pernah padam, duka yang menuntut keadilan, duka yang meminta tanggung jawab negara atas segala dosa yang telah mereka perbuat.
Buku yang menceritakan secara ringkas sejarah kelam negara Indonesia yang tidak diceritakan secara gamblang di dalam pelajaran sejarah Indonesia. Bukunya bagus