Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mereka Hilang Tak Kembali: Sejarah Kekerasan Orde Baru 1966-1998

Rate this book
Sepanjang Orde Baru, banyak tragedi dibisukan bersama nama-nama korban yang tak pernah dicatat kekuasaan. Mereka adalah suara yang dipaksa hilang, ingatan yang sengaja dikubur. Buku ini secara runut mencatat banyak peristiwa yang menciptakan luka bagi negeri ini, sebagai upaya agar kita terhindar dari amnesia kolektif.

211 pages, Paperback

Published September 30, 2025

6 people are currently reading
107 people want to read

About the author

Aristayanu Bagus

1 book1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
16 (45%)
4 stars
19 (54%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Ms.TDA.
241 reviews4 followers
November 1, 2025
Buku ini bisa di bilang ringkasan “kecil” dari berbagai kasus kekerasan yang telah terjadi pada kurun waktu 1965-1998 dari ujung Aceh hingga Papua sana. Dan juga sekarang, 2025, situasi yg mulai mengarah pada “ORDE BARU JILID II”! Yang artinya “Oligarki kapitalisme rente tetap direproduksi dan mengalami regenerasi. KKN-nya masih sama, cuman dibagi rata diantara anggota oligarki.” I mean, asdfghjk!!! Couldn’t agree more with this😶‍🌫️🫥😶

Setiap bab di hadirkan dengan berbagai kasus pada linea masing2 yang mana pembaca bisa menggali lebih spesifik dg acuan buku2 lain yang di paparkan. 👍🏻

Jujur buku ini SANGAT PADAT untukku!!!😵‍💫
Tapi ini merupakan bagian dari “MENGINGAT” yang mana merupakan satu-satunya kemewahan yang tidak akan pernah di wariskan oleh negara. 🫩🤕
Bagaimana menurutmu?

Terima kasih kepada para penulis yang sudah menghadirkan buku ini dengan segala riset dan juga kurasi berbagai narasumber. PANJANG UMUR PERJUANGAN!!!💥
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books99 followers
November 10, 2025
“Bagi mereka, para impunitas, melupakan adalah sebuah kemewahan. Ia menjelma bantal empuk bagi mereka yang tidur di atas tumpukan nyawa yang telah ditebas dengan tangan yang berlumuran darah; selimut hangat bagi mereka yang kariernya ditanam di atas kuburan massal tanpa nisan. Lupa adalah mesin pembersih paling efektif, sebuah orasi politik untuk membersihkan sejarah menjadi putih dan berkilau serupa lantai istana. Melupakan adalah kemewahan semacam itu. Kemewahan yang hanya dimiliki para impunitas dan pewaris tahta kekuasaan.”
Profile Image for Willy Alfarius.
94 reviews7 followers
November 6, 2025
Di tengah situasi dan angin politik hari-hari ini yang tampak makin menunjukkan watak politik Orde Baru, yang notabene telah ditumbangkan 27 tahun silam, keberadaan buku ini menjadi sangat penting. Empat penulis dalam buku ini seperti menyalakan alarm dan memberikan dentingan pengingat bahwa ada begitu banyak kekerasan negara yang terjadi sepanjang 32 tahun rezim Soeharto berkuasa (sejak 1966 hingga 1998) yang belum juga dituntaskan hingga kini. Impunitas dan keengganan untuk membereskan persoalan pelanggaran berat hak asasi manusia di masa lalu yang merenggut ratusan ribu nyawa warga sipil tak berdosa ini jelas membawa efek yang terus terasa hingga kini. Setiap kritik dan aspirasi dari warga negara/rakyat dibungkam, dipersekusi, bahkan dihantam dengan kekerasan oleh penguasa yang seolah tanpa konsekuensi apapun, kebal dari segala macam aturan dan bahkan nilai-nilai kemanusiaan.

Berbekal referensi dari para sejarawan andal maupun laporan dari tim pencari fakta, didukung dengan sumber-sumber primer yang tidak kalah banyak, buku ini menghadirkan semacam panduan ringkas dan mudah untuk mengetahui bagaimana kekerasan negara bekerja guna melanggengkan sistem dan kuasa rezim saat itu (dan metodenya masih diterapkan sama persis hingga kini). Kehadiran buku ini juga berada pada momentum yang tepat, yakni pada hari-hari ketika orang yang seharusnya bertanggung jawab atas serangkaian kekerasan sepanjang 32 tahun lamanya yang diuraikan dalam buku tersebut, malah justru sedang menjadi salah satu kandidat kuat pahlawan nasional. Sebuah buku penting yang selain mengajak kita untuk merawat ingatan bahwa ada begitu banyak kekerasan dan kejahatan negara yang belum dituntaskan hingga kini, juga membawa kita untuk sedapat mungkin mengantisipasi agar kekejian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Profile Image for jessie.
169 reviews9 followers
November 2, 2025
Makin banyak buku tentang orde baru yang saya baca, makin terlihat betapa sedikitnya pengetahuan saya tentang orde itu. Makin yakin pula saya untuk dengan tegas mengatakan bahwa saya masuk dalam kelompok orang-orang yang tidak menyetujui Soeharto menjadi pahlawan nasional. Pahlawan ndasmu. Pemerintahan kita masih bangsat kayak sekarang juga karena orde baru yang bangsat juga. Tapi kamu tahu apa yang lebih bangsat dari itu? Melihat sosok-sosok yang dulu begitu menikmati dan menghidupi orde baru dan sosok-sosok yang berjuang menumbangkan rezim di orde tersebut sekarang duduk bersama di pemerintahan.

Kepada kalian yang ditinggalkan keluarga, kawan, dan kekasih yang dihilangkan, saya bersama kalian dalam doa dan harapan. Izinkan saya mengingat bersama dengan kalian.
Profile Image for Devina Yuliarni.
55 reviews2 followers
October 28, 2025
Yang Hilang, Yang Tak Kembali, dan Yang (Mungkin) Terlupakan

Memadukan berbagai sumber, mulai dari riset arsip, publikasi media cetak, laporan NGO, serta kesaksian korban; Mereka Hilang Tak Kembali mengajak pembaca untuk mengingat kembali serangkaian peristiwa masa lampau dalam perjalanan sejarah politik Indonesia yang (bisa jadi) terlupakan. Dimulai dari peristiwa G30S pada tahun 1965 yang melatarbelakangi pergantian kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru, penulis menyajikan perspektif baru di luar pemberitaan yang dipublikasikan ke masyarakat umum melalui berbagai narasumber yang terkurasi. Ditulis oleh empat penulis sekaligus; Aristayanu Bagus, AS Rimbawana, Deby Hermawan, dan Putro Wasista, buku ini menyajikan runutan peristiwa politik dari tahun 1965 sampai dengan 1998.

Satu kejadian bisa menghadirkan seribu sudut pandang. Mereka Hilang Tak Kembali menyajikan sudut pandang yang komprehensif dan lugas dengan menghimpun lebih dari satu narasumber. Narasi yang tegas dan to-the-point mengajak pembaca untuk mengingat dan memaknai kembali peristiwa-peristiwa sejarah yang hampir terlupakan sehingga terhindar dari amnesia kolektif. Saya mengapresiasi keberanian penulis dan penerbit untuk menyuarakan kembali serangkaian kisah yang (hampir) terlupakan. Ditambah lagi, dengan adanya catatan bibliografi sungguh memudahkan pembaca untuk dapat mengetahui kredibilitas sumber referensi yang ada dan bahkan dapat dijadikan rujukan untuk bacaan selanjutnya.

Dari kurasi berbagai narasumber yang terhimpun, saya berharap proporsi liputan mengenai kesaksian atau wawancara dengan korban bisa mendapat sorotan lebih untuk menyeimbangkan data dari NGO dan pemberitaan media yang mendominasi.

Overall, Mereka Hilang Tak Kembali merupakan sebuah pengingat bahwa perlawanan bukan hanya melalui membaca, tapi juga mengingat. Buku ini aku rekomendasikan untuk kamu yang menyukai genre sejarah dan kamu yang tertarik untuk mengeksplor perspektif lain yang kredibel dari serangkaian peristiwa yang terjadi di Orde Baru.

Terima kasih Kak Romlah dan Buku Mojok atas kesempatannya untuk dapat me-review buku ini. Sukses selalu untuk Team Buku Mojok.
10 reviews
December 9, 2025
Kekerasan, propaganda, dan manipulasi berita yang disampaikan pemerintah kala itu dapat digambarkan secara ringkas, akan tetapi dapat dengan mudah dimengerti pembaca. Semakin dalam membaca buku ini, semakin saya sadar bahwa saya perlu belajar lebih dalam lagi mengenai sejarah yang tidak pernah diajarkan sebelumnya semasa sekolah. Nama korban dan keluarga korban mungkin dapat dengan mudah dilupakan oleh mereka yang tangannya berlumuran darah dan masih terus “mencuci tangan”. Akan tetapi, mereka yang hilang dan tak kembali selalu menjadi simbol, lambang, serta semangat bagi mereka yang terus mencari keadilan.
Profile Image for Nanda Supriani.
42 reviews3 followers
December 21, 2025
A book that lays bare a series of dark chapters from the New Order era. The histories that will never be taught in classrooms.

This book feels not just important but essential reading for every Indonesian. In fact, this bitter truth deserves a place in the school curriculum.

Why is it so hard to admit that we once lived in the era where The Authority used their power to repressed the civilian? Why is it so difficult to acknowledge that this country was built amid an ocean of civilian blood?

Ongoing repression by authorities even today makes me question whether there has ever been a leader who truly cared about building Indonesia during their term rather than simply clinging to power?
Profile Image for Alfin Rizal.
Author 10 books50 followers
December 19, 2025
buat yang baru mau mengenal sejarah kekerasan sepanjang 65 hingga 98, bisa banget dimulai dari baca buku ini. udah dipadatkan, runut, spesifik, dan dilengkapi penyebutan buku-buku acuannya. silakan, nanti bisa dibandingkan dengan jilid 9 dari buku penulisan ulang sejarah yang baru diluncurkan itu.
Profile Image for Evita Oktaviani.
42 reviews
December 3, 2025
Buku yang menceritakan secara ringkas sejarah kelam negara Indonesia yang tidak diceritakan secara gamblang di dalam pelajaran sejarah Indonesia. Bukunya bagus
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.