Jump to ratings and reviews
Rate this book

Medan Medan

Rate this book
Mau membangun koran di kota Medan dalam situasi media daring dan media massa yang begitu masif? Sepertinya itu pemikiran gila!

Nyatanya, Laung memilih niat gila itu. Dia punya konsep, punya kenekatan yang tak terpikir pekerja atau pebisnis koran lain di ibu kota Sumatra Utara tersebut. Melalui bantuan masa lalu serta mantan anggotanya saat jadi redaktur pelaksana dan pemimpin redaksi di koran sebelumnya, Laung pun mulai menjalankan konsep yang dimilikinya.

Dia beri nama koran barunya: Medan Raya.

Terbit sore dan berdialek Medan. Muncul Pilu, seorang wartawan gadungan, yang paham bisnis maupun teknis koran. Pengalaman tak bergaji di media abal-abal juga kehadiran kawan-kawan kecil saat tinggal di Langsa membuat Pilu berbeda. Pilu dan banyak wartawan gadungan lainnya kemudian bergabung dengan Laung membangun Medan Raya.

Apakah Medan Raya berhasil mengarungi medan pertempurannya? Atau koran ini justru akan kalah dengan arus perkembangan zaman dan intrik politik yang merajalela?

392 pages, Paperback

Published October 29, 2025

Loading...
Loading...

About the author

Muram Batu

6 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (62%)
4 stars
2 (25%)
3 stars
1 (12%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Rizkana.
252 reviews29 followers
February 17, 2026
"Benar kata orang, kalau mau kaya jangan jadi wartawan, tapi jadilah pemilik koran."


Gara-gara novel ini, saya jadi kepikiran untuk mencari lebih banyak lagi novel berlatar belakang daerah-daerah lain di Indonesia.

"Medan ini luas, kenapa harus berpikir sempit?"


Ya, latar belakang cerita ini begitu kuat dan layak dipuji. Mengambil latar cerita di Kota Medan, penulis rajin membawa pembaca menelusuri seluk-beluk kota. Kekhasan pendukung latar, seperti bahasa, budaya, makanan,sampai ke karakteristik dinamika politik pun tak ketinggalan diangkat. Ekspektasi pembaca akan judul novel ini seolah dijaga agar jangan sampai terasa kurang Medan-nya :DD

"Tenang saja di boncengan, jangan goyang!"


Dari segi alur, mungkin bolehlah saya menginterpretasikan bahwa ada dua alur utama di sini. Satu, dipimpin Laung. Dua, dipimpin Pilu. Keduanya punya alur cerita yang menarik. Laung dengan idealismenya. Pilu dengan praktikalnya. Keduanya juga didukung oleh porsi tokoh pendukung yang cukup banyak.

"Apalah arti jabatan? Tanggung jawabnya saja yang besar, lainnya tidak!"


Nah, dari segi penokohan, ada banyak yang hadir. Mula-mula saya khawatir akan dibanjiri karakter yang datang cuma sesekali dan insignifikan. Untungnya, penulis masih bisa mempertahankan kehadiran masing-masing karakter supaya kemunculannya memang terasa perlu untuk menggerakkan cerita. Interaksi antartokohnya pun menarik diikuti; Dapot yang inspiratif untuk Pilu, Laung yang begitu hangat dan dapat diandalkan oleh rekan-rekannya, bahkan mentoring ala Pilu kepada para wartawan junior.

"Kita jangan serakah, Pil. Siapa pun yang serakah tak disukai orang. Apa yang dia kasih, terima saja."


Mungkin, informasi teknis di sepertiga cerita, tentang bagaimana strategi Laung menjalankan korannya terasa terlalu panjang, tetapi buat saya masih bisa ditoleransi. Malah cukup seru karena, selain banyak pandangan menarik dan pelajaran hidup yang disuguhkan, informasi ini jadi pelajaran tambahan tentang dunia jurnalistik. Pembaca, boleh dikatakan, menang banyak.

"Koran harus masuk ke setiap kecamatan. Memberitakan masyarakat dan bukan pejabatnya. Menggambarkan aktivitas dan bukan wacana."
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book277 followers
May 25, 2026
Laung, seorang wartawan di sebuah media cetak nasional di Medan, memimpikan untuk membuat koran dengan gaya yang khas. Ketika hampir semua koran terbir di pagi hari dengan membawa berita atau kejadian kemarin, Laung ingin berita hari itu diterbitkan di koran sore hari. Dia tahu, tantangan membuat koran bernama Medan Raya ini suatu tantangan besar. Dia butuh orang-orang yang kompeten.

Pilu, salah satu watawan gadungan. Disebut gadungan karena dia tidak bernaung secara resmi sebagai orang pers di bawah media tertentu. Tulisannya tajam, instingnya sebagai wartawan juga mumpuni. Dia pandai mencari dan mengolah berita.

Kedua orang inilah yang menjadi tokoh utama dalam novel Medan Medan. Saya baru tahu sebuah media cetak yang dikelola dengan baik bisa mendapatkan keuntungan sampai miliaran rupiah dalam waktu setahun. Angka yang sangat menggiurkan. Tapi siapapun tahu bagaimana pekerjaan wartawan yang tak kenal waktu itu. Sepadanlah dengan penghasilannya. Itupun dengan catatan jika berhasil.

Dibuka dengan perjalanan hidup Laung dan Pilu secara bergantian, novel ini menarik karena menggunakan dialek Medan dalam kalimat-kalimatnya. Ada banyak sekali tokoh yang terlibat, tapi ga akan membuat pening pembaca karena alur ceritanya memang menarik.
Profile Image for Arutala.
548 reviews2 followers
August 8, 2026
Liku-liku dunia jurnalistik dengan segala persaingan antar wartawan baik yang resmi maupun gadungan, perhitungan laba rugi dalam mempertahankan perputaran tiras koran sangat menggelitik dan membuka wawasan.

Dengan latar kota Medan yang bergejolak dan dinamis, Pemred Laung dan wartawan gadungan Pilu memberi warna dan nuansa cerita yang apa adanya disertai masalah klasik; uang sogokan.

Cerita yang sarat dengan dinamika politik dan berbalut dunia kuli tinta zaman koran masih eksis ini seolah memberi tanda senja kala penerbitan koran yang makin meredup ditingkah oleh dendam dan intrik klasik soal periuk nasi.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews