Paskalina, Kosmas, dan Urbanus tumbuh di tengah pergeseran budaya tanah Papua. Saat tumang sagu dan ikan digantikan oleh kantong beras dan mi instan. Saat patung-patung sakral sudah bernilai mata uang. Saat busung lapar dan sarampa merenggut nyawa anak-anak kampung.
Orang-orang berkulit terang datang membawa pandangan baru bagi Paskalina dan Kosmas. Karena beranggapan bahwa mereka jauh tertinggal, Paskalina dan Kosmas merasa harus berlari. Namun, berbeda dengan kedua kawannya, Urbanus justru memilih tinggal di kampung.
Saat Kosmas terbang ke ibu kota dan Urbanus berdiam merawat tradisi, Paskalina justru memilih jalan lain untuk melawan takdirnya sendiri. Bagaimana mereka menghadapi kenyataan di balik megahnya harapan yang dipaksakan sehingga sulit menjadi tuan di tanah sendiri?
Paskalina adalah anak perempuan Suku Asmat, Papua. Sejak kecil Paskalina hidup mengikuti adat yang sudah ada sejak dahulu kala. Paskalina dituntut untuk mejadi perempuan cantic versi Suku Asmat. Pandai menganyam, memangkur sagu, menjala ikan dan memasak. Seumur hidup hanya berdiam diri di kampong untuk mengurus keluarga. Namun, Paskalina menolak hal itu. Paskalina ingin bersekolah, mengubah nasibnya sendiri.
Disisi lain, teman sebaya Paskalina, Kosmas memilih untuk pergi merantau ke Kota. Untuk mencari peruntungannya. Sedangkan Urbanus, lebih memilih untuk bertahan dengan masyarakat adat dan tidak akan meninggalkan warisan leluhurnya.
Sampai para “pendatang” dari luar pulau mulai hadir dan bertamu. Membawa perubahan-perubahan yang signifikan pada kehidupan sehari-hari Paskalina. Harga barang makin mahal, ikan makin sulit didapat.
Satu hal yang membuat aku ikut PO buku ini adalah topik yang diangkat. Yaitu konflik antara adat istiadat Suku Asmat dengan Mordernisasi yang hadir ke dalam kampung pedalaman di Papua. Topik yang menurutku sangat menarik. Writing style yang ngeflow dan enak banget buat dibaca makin membuat buku ini jadi page turner. Berasa sekali hasil riset yang dilakukan Intan Andaru di buku ini. Sayangnya, aku menemukan setidaknya 3 typo disini. Tapi gak terlalu menganggu pengalaman membaca.
Aku bisa merasakan deskripsi kampung tempat tinggal Paskalina. Sekaligus memahami pola pikirnya yang masih polos. Ditambah dengan tekanan dari Mama yang “meminta” Paskalina untuk tetap mengikuti adat istiadat Suku Asmat yang sudah ada sejak dulu.
Apakah aku menjadi yang pertama menulis ulasan dan memberi rate di Goodreads? Heuheuheu.
Dalam novel ini, sangat jelas tergambar kehidupan adat sekaligus kehidupan sosial dalam lingkungan Suku Asmat. Tergambar jelas juga dilema antara budaya yang telah lama dihidupi dan datangnya arus perubahan di tengah kelompok masyarakat. Semua diceritakan lewat kacamata Paskalina, seorang remaja perempuan yang lahir, tumbuh, dan menuju dewasa di lingkungan Suku Asmat.
Pilihan hidup perempuan sangat terbatas kalau fungsi fungsinya sudah matang, ngga mengenal usianya bisa dinikahkan saja. Namun yang laki-laki, kenapa menjaga diri aja ngga diajarin?
—
Ini pikiranku saat membaca novel ini, semacam ya ini settingnya di sebuah tanah nun jauh disana, Papua. Dulunya hidup memegang nilai-nilai leluhur dan juga mengingat bagaimana cara bersyukur pada Tuhan. Tapi semua perlahan berubah saat pendatang membawa nilai-nilai ‘bebas’ yang justru mengancam warisan mulia. Misalnya batasan antara laki-laki dengan perempuan, yang kalau kelewatan ada hal-hal yang ngga diinginkan terjadi. Buku ini membahas isu soal penyakit menular pada area sensitif, so jadi harusnya ini mereminder kalau ada batasan yang ngga boleh dilanggar. Untuk melegalkan urusannya, bukan cuma butuh kesiapan fisiknya
Nah mungkin kita pengen juga ya buat kehidupan pun maju. Namun terlupa kalau ada alam yang dikorbankan. Gimana jadinya wilayah yang alamnya subur terus bisa digerus oleh pembangunan? Memang ngga dipungkiri kalau ada pendidikan dan bikin berinovasi, cuman kan bisa diobrolin ya… batasannya. Sampai ada suatu masalah yang datang dan mengancam bagaimana kelangsungan tanah yang dirawat sejak lama. Kayak isu mendapatkan pekerjaan dan pertentangan dengan pendatang.
Isu kelokalan dan perubahan zaman ini menjadi hal yang tabu buat dibahas, bahkan sama orang lokalnya sendiri dan ngga ada pengetahuan dari leluhur. Meskipun ada bagusnya saat ajaran agama datang jadi tradisi yang merugikan dan menyeramkan perlahan terhapus karena adanya konsep dosa. Akan tetapi, dalam kehidupan dewasa, banyak situasi yang berubah termasuk kepergian seseorang.
Kurasa dari kisahnya para tokoh mengajarkan ke kita untuk bisa menerima nilai-nilai baik dan ngga mau diperlakukan ngga adil. Semacam susah mendapatkan pekerjaan karena dikuasai oleh orang baru dan warga lokalnya dipandang sebelah mata; menyingkir dari peradaban. Cukup kompleks sih bahasannya, tapi karena tokohnya ini beranjak dari remaja ke dewasa terasa personal refleksinya. Oh iya, Paskalina, salah satu tokohnya yang effort banget untuk menempuh pendidikan, sedangkan yang lainnya punya jalan lebih mudah.
Udah kali ya, kalau penasaran gimana memperjuangkan hidup, novel ini deserve the hype!
Banyak orang bilang bahwa tanah kami semakin tumbuh menjadi tempat baru. Bila orang-orang asli seperti kami tidak pintar menyesuaikan diri, kami akan tergeser dan sengsara. (Hal. 152)
“Bia dan Kapak Batu” (BdKB), sebuah novel yang menghadirkan interaksi rumit antara pelestarian dan transformasi di tanah Papua.
Buku ini mengajak untuk melihat lebih dekat dinamika yang terjadi pada suku Asmat. Melalui tokoh-tokohnya, Intan menggambarkan kehidupan sosial mereka dengan sangat eksplisit (pembagian peran laki-laki dan perempuan, memiliki pengetahuan lokal untuk bertahan hidup, mata pencaharian memangkur sagu dan menjala ikan, sistem religi yang memercayai leluhur) sekaligus memperlihatkan bagaimana mereka menyikapi modernisasi: ada yang teguh bertahan, ada yang menerima kemajuan, dan ada pula yang membuka diri tanpa menjadi lupa diri.
Lewat sudut pandang Paskalina, pembaca bakal mendapati kemajuan-kemajuan di sana: pola permukiman kampung dan distrik, memeluk agama, sistem pengobatan modern ke puskesmas dan rumah sakit, perubahan pola makan, hingga pendidikan.
Lebih jauh, Intan pun turut menunjukkan ironi pembangunan yang menggunakan semangat modernisasi tersebut dengan harga-harga barang melejit, maraknya prostitusi dan penyakit menular, persoalan kesehatan, pelayanan kesehatan tidak merata, kemiskinan sehingga banyak mengandalkan bantuan pemerintah, ketergantungan pangan, hingga modernisasi menjadi alat untuk memecah belah masyarakat.
Intan menuliskan BdKB layaknya catatan harian dengan POV 1, diksi sederhana, dan nuansa Papua-nya tergambarkan dengan baik. Hanya saja, plot ceritanya cenderung datar sehingga bagi sebagian pembaca berpotensi mengalami kejenuhan.
di usia yang semakin matang, saya semakin sadar bahwa sekolah juga bisa di mana saja dan keluarga juga bisa dari siapa saja, orang-orang baik yang kita temui
2026 masih awal but I think I got my favorite book this year. Yes, this one! Menceritakan tentang Paskalina, seorang gadis yang tumbuh di pedalaman Papua. Tidak ingin berakhir seperti kedua orangtuanya, ia memilih jalan lain untuk 'maju' dengan caranya sendiri. Kisah cinta monyet, cinta sejati, keluarga, hingga realita disajikan beraneka ragam seperti menu 4 sehat 5 sempurna (wkwkwkwk) Bukan cuma kisah Paskalina yang ku dapat saat baca buku ini, tapi banyak insight baru, seperti apa maksud judul Bia dan Kapak Batu, bagaimana wanita hidup disana, serta sejauh mana 'perkembangan' membawa mereka. Pas baca ini, jujur aja aku ngerasa mixed feelings karena di satu sisi aku senang tokoh2 disini dapat perhatian untuk berkembang, tapi di sisi lain marah karena hal itu jg mengikis tradisi serta adat mereka. But dont worry, the writer didnt left me hanging, beliau menyuguhkan ending tentang bagaimana mereka harus memanfaatkan kemajuan tanpa melupakan tradisi dan adat. Tidak ada gading yg tak retak, begitupula dengan buku ini. Menurutku alangkah baiknya kalimat atau kata dari bahasa asli diletakkan di bawah paragraf jadi pembaca nggak perlu bolak balik halaman belakang buat baca glosarium. Lalu, di bagian tengah ada kata2 'jadwal jaga', ini mungkin bisa buat orang yg ga familiar jadi bingung.
Bia dan Kapak Batu adalah buku yang mengejutkan untukku. Selain formatnya yang hampir seperti cerita pendek, juga karena tulisannya yang deskriptif dan membuatku seperti merasakan langsung pengalaman yang sama sekali berbeda dengan apa yang kualami sehari-hari.
Buku ini bercerita tentang perbedaan dan perubahan. Tentang Paskalina yang bersekolah dan lama-lama menyadari bahwa kakinya berdiri di 2 tempat yang berbeda. Bersama Bu Guru yang membantunya memahami pentingnya pendidikan, dan bersama Mama yang disegani, taat adat, dan memintanya untuk tidak pergi ke distrik sebelah untuk bekerja. Apa benar pendidikan menjamin kehidupan yang layak? Apa benar bertahan dengan adat membuat orang terjebak dan tidak berdaya? Lalu, apa benar pembangunan dan perubahan yang dilakukan pendatang, semuanya adalah demi kehidupan yang lebih nyaman? Kehidupan siapa?
Menurutku, Bia dan Kapak Batu bukan sekedar cerita yang eye-opening dan membantu kita memproses perubahan dan pembangunan bersama Paskalina, tapi buku yang membuatku berefleksi tentang perbedaan dan bagaimana selama ini aku menghadapinya. Such a good and very important book for everyone.
Karena sudah pernah baca bukunya Intan yang ini Perempuan Bersampur Merah dan melihat ada buku barunya, trus di belakang buku juga dibaca dan menarik, tak ragu kubeli ini akhir tahun lalu. Dan benar... aku suka.
Cerita Paskalina, perempuan tanah papua yang menuturkan banyak hal tentang kampungnya, tentang cerita cintanya dari kecil hingga dewasa, tentang hal-hal yang menarik sekali dari sisi perempuan muda. Tentang impian seorang perempuan. Ah, Paskalina untuk tidak berjodoh sama Kosmas :D