Berbahagialah kita yang masih punya kampung halaman dan kenangannya. 💗
Betapa rindunya hati ini selepas membaca Bolpuna Mania: Cerita-Cerita dari Nusa Tenggara Timur. Baru melihat sampulnya saja, spontan terkenang kisah perjalanan di sana.
Berpetualang dari Ende ke Larantuka untuk ikut perayaan Paskah Semana Santa berusia 5 abad, melewati jalanan rusak menuju Titik Nol Kilometer Selatan di Pulau Rote, mengenakan tenun cantik dari Maumere, melihat langsung Uem Bubu di Mollo, hingga bertemu pejuang lingkungan Mama Lodia di Fatumnasi.
Betapa nostalgianya membaca buku ini, membangkitkan memori akan magisnya tanah Timur, pun dengan kebaikan orang-orang di sana.
Iri sekali membaca cerita kampung halaman yang ditulis Romo Amanche Franck Oe Ninu (tulisannya lucu betul!), Diana Timoria, Armin Bell, Carlin Karmadina, dan Romo Ansel Langowuyo.
Mayoritas nama yang asing di telinga, tapi justru di situ letak penasarannya. Tiap-tiap penulis dan kisahnya punya sesuatu yang spesial. Serunya bermain bola bersama kawan, mendaki gunung diiringi lagu masa kecil, juga belajar menenun bersama ibu & nenek.
“Sederhana, tapi gak semua orang punya (kenangannya).” Begitulah kira-kira.
Di baliknya, ada hal lebih penting yang diangkat untuk dicermati bersama, yakni soal isu ekologi & pergeseran budaya.
Tau-tau di kepala udah bersarang pertanyaan lanjutan:
1. Mungkinkah anak-anak yang jago bermain bolpuna mendapat kesempatan untuk berkembang dan masuk tim besar?
2. Bagaimana cara agar anak-anak di wilayah timur bisa terpapar lebih banyak bacaan berkualitas?
3. Bagaimana peran perempuan dalam komunitas adat membuka peluang kerja baru di era modernisasi?
4. dll.
Omong-omong, aku sedikit kecewa sehabis membaca halaman terakhir. Kurang puas. Ingin rasanya membaca kisah-kisah lain dari timur sana karena 112 halaman gak cukuuup~
Semoga Bolpuna Mania bukan cuma mengajak kita untuk mengarsip dan merawat ingatan, melainkan mencari jalan keluar akan isu-isu sistemik dan sosial-budaya di NTT, yang nyatanya masih terjadi hingga kini.