Rani bekerja sebagai editor di sebuah kantor penerbitan. Dia suka dengan kehidupan dan dunia kecilnya yang tenang di pengujung usia 20-annya, meski terkadang rekan kerjanya suka mengusiknya.
Suatu hari, proyek besar datang dari perusahaan parfum lokal yang berniat merilis produk baru lewat buku. Rani yang sudah lama bermimpi menerbitkan buku pertamanya, akhirnya mendapatkan kesempatan. Tetapi, proses pengerjaan naskah itu membawa Rani kembali pada seseorang dari masa lalunya. Seseorang yang menjadi alasan pertama Rani ingin menulis.
Apakah Rani berhasil merampungkan naskahnya? Atau dia justru semakin terjerat masa lalunya?
Hi Paus, udh lama bgt ga baca karya Rintik Sedu sksksk. Aku naksir bgt sama cover bukunya yg sooo pwetty!!
____
Tentang Rani, seorang editor di sebuah penerbit yg kebetulan diberi kesempatan untuk menerbitkan bukunya sendiri sekaligus berkolaborasi dengan merek parfum ⚱ (Aku jadi notice, kenapa yg ikut PO buku ini mendapat bookmark khusus dengan rumbai tali yang super wangi. Apakah ada kemungkinan parfumnya bakal rilis juga kah?!)
Juga tentang Surya, pemimpin redaksi di kantor penerbitan tempat Rani bekerja yang sudah sangat jelas menyukai Rani. Namun seperti yang sudah kita duga, Rani masih terbayang-bayang akan masa lalunya yang belum usai. Bukan... lebih tepatnya, masa lalu yg tidak pernah benar-benar sempat ia miliki (Eits.. tapi makna dari judul "Musim yang Tak Sempat Kita Miliki" ini memiliki dua makna berbeda ya pokoknya!!)
Anw, aku suka banget deh sama background Rani sebagai editor buku. Rasanya kayak dikasih sneak peek tentang dunia penerbitan buku yang jarang kita ketahui.
Alurnya menyoroti dua fase kehidupan Rani, kehidupan semasa kuliah bersama sosok Dipta 😮💨 dan juga kehidupan Rani sekarang ketika sudah bekerja bersama Surya 😋 (Dari emot udh ketebak kan aku tim siapa⁉️) #TimSuryaGarisKeras
Aku sempat sebel sama sikap Rani karena dia berhasil bikin aku inget sama kebodohan diriku beberapa tahun ke belakang sksksk. Tapi, aku juga cukup salut dengan character development-nya yang akhirnya bisa menyelesaikan semuanya secara dewasa. Baik itu tentang masa lalunya, proyeknya, dan juga keputusannya untuk berani melangkah maju.
Tipe buku bacaan yg bisa kalian selesaikan dgn sekali duduk karena cukup ringan. +++ Buat kalian yg masi terjebak di dalam hubungan yg bikin kalian bertanya-tanya "What are we?!" Mungkin buku ini untuk kalian guys!!!
Jujur pas melihat novelnya beredar dimana-mana, like always orang-orang di media sosial ngomongin seberapa bagusnya novel ini, udah mau taruh ekspektasi tinggi sebenarnya, tapi pas denger-denger omongan teman yang sudah baca buku ini, langsung terjun bebas dengan terus berpikir positif, ‘mungkin preferensi kali ya’. Mari kita coba ulik lagi!
Basically, novel ini bercerita tentang Rani, seorang editor di perusahaan penerbitan yang diberikan kesempatan oleh bos nya, Surya untuk menerbitkan sebuah buku dengan berkolaborasi dengan sebuah brand parfum. So, si Rani ini menulis naskah untuk mempromosikan parfumnya atau istilahnya branding lah ya, dan Rani mengambil naskah berdasarkan pengalamannya hidupnya. Kedepannya kita bakal kenalan sama Dipta, sebagai bagian dari kehidupan masa lalu Rani, yang meninggalkannya tanpa kata atau perpisahan.
Alur ceritanya enggak jauh-jauh dengan bagaimana usaha Rani dalam mengulik memorinya tentang bagaimana peran Dipta dikehidupannya, kita sebagai pembaca bakal dibawa mengenang bagaimana manis dan pahitnya hubungan antara Rani dan Dipta saat dibangku perkuliahan, dan tak lupa peran Surya yang berusaha untuk meluluhkan hati dingin Rani karena masih terbayang-bayang masa lalunya dengan Dipta.
Sebenarnya dari awal cerita, udah ketebak bakal bagaimana endingnya sendiri, jadi saran gue enggak perlu mencari-cari yang sebenarnya enggak ada kayak plot twist atau semacamnya lah, going with the flow aja bacanya. Nothing special kayak martabak keju manis lumer sampe tumpah-tumpah kesukaan gue.
Akan tetapi, hal yang paling bikin gue kicep sama novel ini adalah isu yang dialami oleh Rani, sekali lagi gue mengapresiasi Rani karena keberaniannya dalam mengutarakan perasaannya dan kerelaannya dalam menghadapi realita yang jujur cukup menyakitkan. Gue tersentil jujur secara personal dengan hubungan Rani dan Dipta, itu sih yang paling berkesan selama membaca novel ini. Salah satu penggalan dialog yang diucapkan Rani, “Gue mau dia sama bingungnya kayak gue,”. Terkesan jahat dan enggak adil, tapi gue juga ngerasa enggak bisa membela kalau semua hal yang terjadi hanyalah dikepala Rani karena enggak berani mengungkapkannya lebih cepat diawal.
Gue cuman bisa kasih rating 3/5 karena ada beberapa hal yang menurut gue bisa lebih dikulik lagi mengenai penokohan dan latar belakang Surya dan Dipta. Meskipun, Rani adalah tokoh utamanya, menurut gue bisa lah ya dikasih alasan kenapa Surya suka banget sama Rani xixixi.
Novel yang cocok buat para backburner heuheu. Mengisahkan kehidupan seorang perempuan bernama Rani Mentari yang masih terjebak dengan perasaan masa lalunya. Kesehariannya adalah seorang editor buku di sebuah perusahaan penerbitan. Sampai akhirnya di satu kesempatan dia ditunjuk sebagai penulis untuk project kerjasama perusahaannya dengan sebuah brand parfum. sepanjang kegiatan sehari-harinya sampai saat struggle sekalipun dalam proses penulisan naskahnya, dia selalu ditemani seseorang yang selalu ada, bernama Surya Wijaya, yang mana adalah seorang pimpinan redaksi di perusahaan tempatnya bekerja. Namun perilaku atasannya ini sering mengusik hidupnya, kehadirannya pun hanya dianggap sebagai rekan kerja saja atau boleh disebut "teman dekatnya", tidak lebih. Karena bagi Rani, perasaan di masa lalunya masih belum usai dan tetap sama dengan orang lama.
"Aku sempat mengira aku akan butuh waktu lama untuk bisa pulih dari penolakannya. Kukira aku akan mengalami patah hati yang sedemikian hebatnya, seperti putus cinta yang dibicarakan orang-orang di sekitarku. Perlahan aku sadar, aku tidak pernah memulai apa pun dengannya. Aku hanya menyampaikan kekagumanku dan ingin dia tahu soal itu. Dan, ketika pada akhirnya dia mengetahui semua itu, aku diliputi kelegaan. Bersama rasa lega itu, semuanya berakhir. Pahit untuk diakui bahwa ternyata selama ini aku sendiri yang menutup pintu, hanya karena keraguanku sendiri."
Novel ringan sebagai bacaan sekali duduk (tapi diriku lagi mode slow reading saat itu ㅠㅠ) dengan konflik percintaan yang bisa saja dialami oleh setiap orang. Sesekali merasa kesal dengan tokoh utamanya, melting (karena perlakuan Surya), dan sampai terharu baca akhir kisahnya. Selain itu, penulis juga menyisipkan cuplikan kegiatan seorang editor buku, juga bagaimana perusahaan penerbitan menyelesaikan setiap projectnya. Honestly, this book is not my cup of tea. Tetapi semakin mendalami kisahnya, semakin terbawa suasana dan emosi juga bagiku. Buku yang pas untuk dibaca saat santai. Overall selain dapat kisah romance-nya, kita juga bisa dapat insight baru tentang dunia penerbitan buku.
Buku terbaru karya Tsana (Rintik Sedu) yang sudah kesekian saya baca. Jika melihat tema yang diangkat saya rasa masih memiliki kesamaan dengan karya sebelum-sebelumnya seperti Geez & Ann, Kata, hingga Pukul Setengah Lima. Tema yang diangkat yaitu mengenai genre romance dimana tokoh utama terjebak pada perasaan dirinya sendiri dan masa lalunya.
Buku ini termasuk buku yang ringan dan bisa dibaca tidak sampai 1 minggu mungkin selesai jika kalian tidak sibuk. Sebelum memutuskan untuk membeli buku Musim Yang Tak Sempat Kita Miliki ini, saya sempat membaca melalui websitenya rintik sedu meskipun versi drafnya. Saat saya baca drafnya saya merasa asik dan tertarik pada ceritanya hingga tuntas saya baca tidak lebih dari 1 jam. Begitu bukunya rilis saya orang yang pasti akan membelinya, meskipun kalah war saat launching hehe.
Jadi jika kalian sudah membaca karya Rintik Sedu sebelumnya, rasanya mungkin sudah familiar bagaimana ceritanya akan berjalan dan akan berakhir seperti apa. Menurut saya, Rintik Sedu mampu memainkan perasaan pembacanya melalui relativitas/perspektif pengalaman pembacanya hingga bisa senyum-senyum sendiri (termasuk saya) saat membaca buku ini -- hehe.
Bagi kalian yang mungkin maju mundur mau membeli dan membaca buku ini, cukup rekomen untuk mengisi waktu luang dengan bacaan ringan, apalagi kalian yang jadi backbuner (eh). Atau kalian bisa baca di websitenya Rintik Sedu MYTSKM terlebih dahulu, karena versi drafnya itu berisi point-point yang kurang lebih bakal lebih lebar ceritanya di bukunya, meskipun versi drafnya itu 'nggantung' ya hehe.
...Bagaimana caranya mengakhiri sesuatu yang tidak jelas dan bahkan belum pernah dimulai?...
finally finished this book.. and wow the dejavu was real. the whole time I was reading, I kept thinking, wait.. is this Rani's story or mine? LOL.
btw, this is actually my first time reading a book by Rintik Sedu, and I was genuinely surprised by how insanely relatable it is. the story reflects romantic relationships that so many people experience.. messy, confusing, and full of unspoken expectations (yes, I'm absolutely one of the casualties here) 🥴
I'd 100% recommend this book to anyone who's stuck in that "what are we, and where is this even going?" please read this book if you're in that kind of relationship situation, seriously wkwk. it's also perfect for those of you who struggle to open your heart to someone new because you're still stuck on someone from the past. if that's you, please read this and learn from Rani's story ‼️😭 honestly, while reading it, I felt like the book was constantly calling me out.. like a wake-up reminder not to keep living in denial all the time, LOL.
personally, I think the book is really engaging. the plot is simple, but the forward-and-backward timeline is handled smoothly, so it never feels confusing or overwhelming. what really stands out for me is how focused the story is on romance.. every narration feels intentional and hits right in the feels. some parts were so painfully accurate that I had to pause, stare into space, and reflect for a bit wkwk. anw, this very gen-z coded hm 😛✨
selesai juga membaca Musim yang Tak Sempat Kita Miliki karya Rintik Sedu, dan jujur, ini adalah karya pertama Rintik Sedu yang aku baca.
Novel ini bercerita tentang Rani, seorang editor di penerbitan, yang sedang mengerjakan proyek besar dan justru harus berhadapan dengan masa lalunya. Bukan masa lalu yang penuh drama, melainkan hubungan dan kesempatan yang tidak pernah benar-benar sempat dimiliki.
Setting ceritanya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dunia kerja. Proyek kreatif. Deadline. Keputusan-keputusan yang harus diambil ketika perasaan belum tentu siap. Semua terasa nyata dan mudah dibayangkan.
Sepanjang membaca, aku sempat greget juga dengan Rani yang rasanya lama sekali menangkap sinyal perasaan dari Surya. Tapi justru di situ aku merasa karakternya manusiawi. Tidak reaktif. Tidak impulsif. Rani lebih banyak berpikir, menimbang, dan membiarkan waktu bekerja lebih dulu.
Aku menyelesaikan buku ini dalam sekali duduk. Bukan karena ceritanya heboh atau penuh sensasi, tapi karena alurnya terasa dekat dan pelan-pelan menarik untuk diikuti.
Yang paling aku suka adalah bagaimana Rani menyelesaikan masa lalunya dan menutup proyek yang ia kerjakan. Caranya dewasa, tenang, dan tidak berisik. Ending-nya memberi rasa tuntas, tanpa perlu drama berlebihan.
Buku ini cocok untuk kamu yang masih memikirkan hubungan yang bahkan belum pernah benar-benar dimulai.
honestly, this book is such a page turner if you enjoy get yourself into the plot and curious to look forward for things that might happened. sebenarnya ini adalah salah satu sisi positif dari buku ini yang menurut gua bisa gua sampaikan ke para calon pembaca. the book is light and relatable i think that is the main reason why this book became such a page turner.
dibalik sisi positif pasti ada negatifnya. pertama, the monologue feels repetitive. bagi gua pribadi dengan penulis mendeskripsikan perasaan Rani saja sudah cukup tidak perlu menambahkan monolog-nya. karena, ya, sebagai pembaca rasanya gua baca ulang apa yang udah gua baca sebelumnya dan gua juga udah prediksi apa isi pikiran Rani. kedua, character depth Surya cukup minim dalam buku ini, mungkin akan lebih baik bila penulis menambahkan alasan mengapa Surya bisa jatuh cinta kepada Rani. penasaran, sih, jujur. ketiga, untuk penulisan flashback bagi gua akan lebih baik kalau dipisah. barangkali tujuannya biar transisinya nampak mulus tapi justru gua harus baca ulang lagi untuk mencerna kapan Rani sedang berjalan di masa lalu dan masa kini. keempat, alur cerita ini terlalu mudah diprediksi.
kalau soal masa lalu dan masa kini, kalian tahu kan harus pilih yang mana? terutama bila orang yang berada di masa sekarang terlihat mengusahakan? ya.. begitulah ending nya begitu pula alurnya. mudah diprediksi.
“Musim yang Tak Sempat Kita Miliki” itu rasanya seperti baca sesuatu yang… dekat banget sama kenyataan banyak orang: perempuan yang sering kali nggak sadar mana laki-laki yang betul-betul tulus mencintainya, karena terlalu fokus ngejar seseorang yang selalu ada di kepalanya.
Yang bikin kerasa adalah betapa mudahnya kita, terutama sebagai perempuan, mengabaikan orang yang benar-benar hadir dan berjuang. Kita pikir semua itu cuma candaan, perhatian kecil, atau hal-hal yang ‘nggak penting’. Padahal, seringnya justru di situlah ketulusan tinggal. Tapi kita baru ngeh setelah keduanya sama-sama pergi — yang dikejar menjauh, yang mengejar akhirnya lelah.
Untungnya, novel ini nggak ngasih kita luka yang terlalu dalam. Ending-nya bahagia — perempuan itu nggak kehilangan dua-duanya, tapi akhirnya memilih pria yang memang mencintainya dengan sepenuh hati. Rasanya kayak dikasih napas lega: “Oh, akhirnya dia sadar juga.”
Buat aku, buku ini semacam pengingat bahwa cinta yang tulus itu kadang hadir dalam bentuk yang sederhana banget, yang justru sering kita anggap remeh. Dan jujur aja, baca ini bikin aku ikut mikir ulang tentang perjalanan cinta sendiri — tentang bagaimana kita kadang melihat yang jauh, padahal kebahagiaan bisa saja datang dari arah yang nggak kita bayangkan.
Menurut saya buku MYTSKM adalah bacaan yang cukup ringan sekaligus related dengan kehidupan gen z sekarang. Tema yang diangkat di dalam buku ini begitu dekat dengan kehidupan para gen z akhir-akhir ini. Meskipun saya tidak terlalu relate dengan isi bukunya, tapi saya menikmati seluruh ceritanya. Buku ini bagi saya pribadi yang sudah seperempat abad hidup di bumi merupakan hiburan di kala waktu luang. Saya bisa bilang ini bacaan ringan karena saya sendiri merasa tidak begitu relate dan sudah melewati fase-fase hubungan yang 'kayaknya' seperti cerita di dalam buku ini. Hehe
Waktu pertama kali baca draft nya di website Rintik Sedu, saya langsung teringat dengan buku Kata. Si penulis sendiri pun juga sempat merasakan nostalgia buku Kata ketika menulis buku MYTSKM karena menurut saya memang ceritanya memiliki beberapa kesamaan.
Meromantisasi masa lalu. Terjebak oleh perasaannya sendiri. Memilih orang lama atau orang baru. Antara yang tidak jelas tapi dia suka, atau yang jelas tapi dia tidak suka. Ya, semacam itulah.
Baca buku ini sekali duduk (4 jam) karena urgensi pekerjaan. Untuk manusia 20-an yang baca buku dengan tema dan gaya penceritaan seperti ini, seperti diajak kembali menjadi anak sekolahan. Senyum sendiri di beberapa bagian karena merasakan polosnya cinta. Selesai baca buku ini, jadi buat mikir, kayaknya perasaan romantis tuh memang ngajak manusia untuk bertingkah menye dan polos aja. Kedewasaan dan kebijakaan adalah impian, tapi jadi menye adalah cinta juga, kok.
Happy to read this because there’s writer's pov, Japan, and first-love story. How funny it is because for the last few days I've been talking and thinking about those 3 topics. I didn't fall for this book coincidentally.
Talking about writing techniques, this was my first encounter with Rintik Sedu. Of course there are several unnecessary parts and made me thinking, "so what?" "you dont need to put this, tho" But it's good.
If you want to read something nostalgic, just feel the love, don't hesitate to try. This won't suit everyone, but there is no harm to try.
Jujurr, ni buku memperbaiki reading slump ku. Karena alurnya yang bikin selalu penasaran. Hownya itu lho.
yah, as always dalam setiap buku itu udah pasti ada maksud tertentu dari ceritanya ya. Mungkin sepenangkapanku bahwasanya kita itu bolehlah punya masa lalu seperti apapun, mau itu baik atau buruk. Namun, jika masa lalu itu membuat kita gak bisa maju ataupun membuat kita buruk, buat apa? Bolehlah kalau semisal masa lalu kita itu menjadikan kita sebagai "kita" yang benar-benar inginkan. Namun, bagaimana jika masa lalu itu hanya membuat kita jalan di tempat bahkan mundur?
Memang rasional dan emosional itu kadang gak selalu bisa disatukan, namun ada kalanya dua hal tersebut jika disatukan akan menjadi kesatuan yang hebat.
Ini pandanganku yah, aku tau kadang aku masih belum paham dengan apa yang aku pelajarin atau pahami. Mungkin ini batasan dari pemikiranku kali ya? namun apa salahnya jika aku gak berusaha untuk melewati batasan itu dan meningkatkan cap dari pemikiran? Semoga saja...
Ini tentang Rani seorang editor buku yang berkesempatan menjadi penulis untuk berkolaborasi perilisannya nanti bersama parfum Kowe. Surya, pemimpin redaksi yang dikenal teman-teman sekantornya sangat dekat dengan Rani itu sebenarnya memiliki perasaan lebih dengan Rani. Namun, Rani terjebak perasaan dengan Dipta teman kuliahnya dulu. Rani pikir, dia tidak akan pernah bertemu Dipta. Tapi suatu waktu, Tuhan mengizinkannya untuk bertemu Dipta dan profess tentang perasaannya.
Kisah ini sederhana, tapi penuh makna. Bagaimana cara Rani mencintai, melepas, dan menerima perasaan-perasaan yang datang, semua terasa penuh makna. Aku sendiri pernah di posisi persis saat Rani harus menghadapi Dipta. Rasanya... penasaran? Beli aja bukunya!
Aku beri bintang lima karena menurutku Tsana berhasil potraying man written by woman yang bikin pembaca (aku) deg-degan dan pengin gigit bantal tiap Surya godain Rani.
Sebagai slow reader, buku ini seketika mengubahku menjadi pembaca dengan skill bookstagram. Aku melahap seluruh halamannya kurang dari 4 jam.
Paling suka setiap bagian flashbacknya, kok bisa sih penulisannya se-flowy itu? Aku sangat menikmati alurnya.
Untuk selipan bacaan, buku ini sangat menghibur dan untuk aku yang belum pernah terlibat dalam hubungan romantis, banyak situasi dan kondisi serta perasaan yang bikin "ohhh kaya gini ternyata kalo orang udah kecintaan ya" "ohhh kalau ngelakuin itu artinya ini.."
Honestly, this is the first book of his that I read and I immediately fell in love, karena selama bertahun² ini aku sempet bingung ngatasi reading slump dan ya aku bisa kembali menikmati membaca karna buku ini. sebenernya aku beli random, dan gak nyangka bakal berarti banyak, beberapa tahun terakhir ini aku cuman beli dari pendapat org² tapi entah knp selalu boring, sampai aku baca MYTSKM dan aku sadar, belilah buku yg bikin nyaman saat dibacanya, bkn beli krn pendapat org lain yg blg km kan udh dewasa, ngapain baca buku begituan, harusnya beli yg inilah itulah. cukup dengar kata hati aja.
untuk endingnya menurutku durasinya kecepetan, maksudku knp ga ditambahin extra part si RaYa pas di Tokyo🤧
but, untuk keseluruhan udah ok banget jarna kebanyakan relate sama kehidupan
selama baca buku ini itulah kata" yang aku keluarkan, geregetnya dapet, alurnya cepet, perkembangan karakternya gokil abisss OMGGG!!! MUAHHH BENER" SELERA GUAHH BETTT🤌
aku juga puas banget di endingnya karena rani sama surya, apa itu dipta? MINGGIR LO!
dan guys buku ini bikin aku percaya kalau suka tuh bener" bisa mampir bahkan berdiam karena T E R B I A S A
sama kaya rani yang terbiasa dengan keberadaan surya, yang nemenin dia makan, ngopi, ke toko buku, nonton konser, awalnya dia pikir itu annoying bangetttt tapi dude...dia ngerasa kehilangan karena surya pergi...
SURYA JUGA GREEN FLAG BETTT, DIMANA NYARI YANG KAYA KAMU SURRR???!!! GUAH MAU BETTT AARGGHHHH
okay sekian dan saya akan membaca karya rintik sedu lainnya, BYE! 👋✨️
Aku memutuskan untuk beli buku ini karena relate sama ceritanya. Aku tim surya btw. Butuh waktu sekitar 6 hari untuk membacanya, tentu karena hecticnya perkuliahan. Menurutku termasuk novel ringan ya. Bisa dibaca sekali duduk. Baca 1 bab aja ngga cukup, kaya harus selesai saat itu juga wkwk seseru itu. Buku ini cocok untuk kaum backburner. Buku ini juga cocok untuk kamu yang masih gamon. Apalagi gamon dari hubungan yang nggak pernah dimulai.
Aku gamau spoiler, intinya adalah “mau orang lama atau orang baru, yang minang tetap sumatra barat”
Buku Rintik Sedu pertama yang aku baca dan memuaskan sih, mungkin karena bisa relate juga kali ya. At first, I don’t really like Surya because all he did seemed to be just some love bombing (?), and it make me realize maybe its true that some actions need to be supported with sincere words. Tapiiii, Surya bener-bener gak nyerah dan how can we found love this pure in real life??? Dia literally udah di tahap apa aja deh yang penting Rani bahagia. Well, Rani and Surya finally get the happy ending that they deserve
aku baca review beberapa orang, mereka menilai buku ini cringe. mungkin karena belum kenal gaya menulis Tsana kali, ya? menurutku pribadi Musim yang Tak Sempat Kita Miliki termasuk cerita yang rapi, walaupun aku sempat menemukan jejak-jejak typo, but secara keseluruhan alurnya bagus... ngga ada plot holes yang gimana-gimana. khas Tsana banget, lompat-lompat antara masa kini (present) dan lampau (past). aku suka banget Rani akhirnya sadar tentang perasaan dirinya sendiri, jadi aku ga perlu maki-maki di akhir (lain cerita sama buku sebelumnya).
what a good storieessss!🥺 isi ceritanya mostly relate denganku hehe, makanya hanya membutuhkan 2 hari untukku menyelesaikan buku ini. endingnya pun melegakan, aku suka sekaliiiiiiii~
“Aku meyakini bahwa apa yang digariskan untuk selesai, ya sudah seharusnya selesai. Kalau kita paksakan untuk terus berlanjut, kita justru menghalangi apa yang seharusnya datang berikutnya. Jalan hidup yang seharusnya kita jalani, terhalang karena kita yang terus melihat ke belakang," — MYTSKM, Rintik Sedu
Gue mengerti kalau Rintik Sedu itu punya ciri khas saat dia menyampaikan sesuatu cerita. Tetapi, terkadang gue nggak nyaman sama beberapa yang disampaikan.
Bukan suatu yang nggak nyaman sampai berhenti baca. Cuman, kayak... ngerasa 𝙘𝙧𝙞𝙣𝙜𝙚 karena menyampaikannya terlalu terkesan lebay dan alay.
Tapi untuk novel MYTSKM menurut gue lebih oke daripada Pukul Setengah Lima.
Ini adalah buku tsana pertama yang aku baca, overall aku masih menikmati alur dan ceritanya, walaupun di awal-awal masih belum terbiasa dengan gaya romance khas tsana, karena referensi novel romance ku cuma Tere liye selama ini. Tidak sabar membaca buku-buku tsana yang lain, next pukul setengah lima.
Bukunyaa menarikk. Baru kali ini baca buku dengan plot seperti ini. Terus bahasanya ringan dan kekinian. Mudah di cerna pokoknyaa.
Dari judul bukunya, kukira bakal bahas tentang masa lalu gitu. Ternyataaa dugaanku salaah wkwkw. Romancenya oke bangett ngga kaku dan bikin saltinkkkk. Seneng bgt sama endingnyaaa. #timsurya
setuju sekali sama orang-orang yang bilang kalau buku ini lebih bagus dari pada karya awal nya rintik sedu menurut aku ini lebih enak di baca nya flow cerita nya juga enak bahasa yang dipakai juga tidak terlalu di puitis kan karena menurut aku untuk buku beliau yang 'kata' itu terlalu di puitis kan gitu TAPI aku lupa juga soo BRB after rereading the book!!
Gaya Plot yang cukup menarik, Cerita Flashback dibuat didalam sebuah Novel yang digarap. Menceritakan kembali kisah masa lalu yang belum selesai tapi menjadi sesuatu yang bernilai seperti novel. Kenangan masa lalu yang jadi cuan. Cinta tumbuh karena ter”biasa” bisa mengalahkan kenangan.
Ini buku Rintik Sedu pertamaku. Target pembacanya memang remaja yaa. Gaya nulisnya bagus, rapih banget. Tapi secara plot cerita masih sederhana yaa, konfliknya kurang greget. Dialog antar tokoh flat tidak menonjolkam kekuatan masing masing karakter.
Bacanya cepat karena alurnya ringan dan bahasa/penulisannya mudah untuk dicerna. Ceritanya cukup simple sebenernya, banyak yang relate di dunia nyata. Endingnya gregettt, pengen banget ada lanjutannya.