Kumpulan puisi dari para penyair Indonesia yang mewakili 3 generasi. Mereka Isma Sawitri, Poppy D. Hutagalung, Rayani Sriwidodo, Toeti Heraty Abidah El Khalieqi, Anil Hukma, Cok Sawitri, Dorothea Rosa Herliany, Medy Loekito, Nenden Lilis A., Oka Rusmini, Sirikit Syah, Dina Octaviani, Nur Wahida, Shantinned, Shinta Febriany, Putu Vivi Lestari. Editor dan Kata Pengantar oleh Toeti Heraty.
Toeti Heraty was born in 1933. An outstanding Indonesian poet with a powerful vision she is also a philosopher an art historian and a human rights activist well known for both her opposition to the Suharto regime and for her feminism.
Apa kabar Cinta, Semalam kau ada di sini, tebarkan lagi keharuman sepucuk mawar kuning yang hampir mati. Kuncup-kuncup layu merekah sesaat, terimakasih. Seperti haus yang dikenyangkan oleh seteguk air. Wajahku merona semu, hatiku tetap biru. Kau hanya datang lewat mimpi, namun ingatan tentang mimpi itu masih terbayang sampai sekarang. Hidup adalah bagian terbaik dari mati dan Kau adalah bagian terbaik dari mimpi . Tak setiap malam kau mampir ke dalam mimpiku, ketika kau datang hanya sebentar kau mampir, Kau menemuiku bagai cahaya yang melesat , seketika alam di sekitarku padam, aku telah kehilangan waktu untuk abai padamu. Aku ingin selalu tidur, terpejam dikala malam tiba, namun Lihatlah, malam tidak lagi membuatku terpejam, siang tak lagi membuatku bekerja, pikiranku asyik melukis rasa dada, mata redup tanpa cahaya, dunia tak berarti apa-apa. Aku selalu terjaga di kala malam tiba, Aku berjaga dengan segelas kopi, oh, siapa tau engkau menyapaku, harapan menusuk hati, benar nyeri. Nyatanya. Aku sendiri taklah mungkin kembali. Semua harus berlalu dan kembali dalam wajah malam. Lalu gerimis mendinginkan luka, membikin bayangan memantul galau di genangan gelas kopi. Dalam riuh angin, sunyi pun di hati, hingga gerimis henti: ingatan membuatku lunglai. Sampai kini, aku masih merasa kau milikku sendiri.
Cintaa, Andai saja bisa Aku ingin menjadi malam semalam saja supaya dapat kudatangi rumahmu, kuselimuti kau dalam lelap tidurmu dan kukunjungi mimpimu, kuingin tahu, adakah aku di situ. Dan ketika kau buka matamu aku mungkin sudah tiada. Hanya cinta yang membuatmu merasa bahwa aku pernah dan akan selalu ada .
Cintaa, Bertahun-tahun kita bersama selalu ada cerita indah, Setelah kau pergi, kau terus merampas hatiku, bahkan setelah aku membebaskan mereka menembus kulitku, membuat bekas yang tandus oleh waktu, kau tumbuh kian ganas di nafasku. Dan aku hangus dalam amarah tak putus asamu. Cinta.. Andai aku bisa memutar waktu dan jika boleh mencintai dengan sungguh, tanpa takut kelak terluka, pastilah sempurna hatiku, jika dapat dicintai sepenuh hati, tanpa membuat terikat seinci, tentulah jiwaku hidup merdeka.
Oooh Cinta Selalu Ada rasa tentram di setiap ingatan cemas padamu, adakah bayanganku yang tak bergerak di gigir tubuhmu yang rimbun cendawan dan jamur waktu. Dalam jarak dan jalan kusam yang menyatuni helaan nafasku, cemas menepi, diluar jaga didalam angin yang menolak bau tubuhmu. Andai saja engkau tau saat ini aku dipenuhi dengan kerinduan, Aku ingin melukis wajahmu yang temaram dengan kuasku yang menggeletar rindu. Di kanvas langit yang memerah akan kubingkai dengan mega senja dan kugantungkan di dinding redup bumi, Aku ingin melukismu di kanvas hatiku.
Cintaa.. Di Tengah cinta yang luas ini mengapa rasa takut menjangkauku dadaku berdarah dan gemetar tetapi orang-orang menganggapnya CAHAYA. Dengan mata haus kejelasan mereka berbondong-bondong memandangi CAHAYA. Kini yang kupunya rasa malu dan luka-luka ini di atas bumi yang bebas, jiwaku mengapa setiap jalan dipenuhi kerinduan, aku bahkan tak dapat menjangkau DIRIMU yang menerimaku sebagai kegelapan
Cintaa.. Percayalah, tidak ada yang berubah dalam hari-hariku. Aku masih orang yang sama yang menunggu kehadiranmu, masih berharap kamu segera datang menyapa aku, menemani kesepian dan kesendirianku, dan bilang kamu bersedia apabila aku meminangmu. Didalam penantianku akan ku tanam pokok-pokok melati di hatiku dan kuantar bunga-bunganya kepada hatimu
gara2 review dari Indri dan Panda saya jadi tertarik baca buku ini.. mo menyelami puisi2 di dalam buku ini dan membiarkan diri ini tertohok, atau lebih tepatnya "kasuat2" ahahha
sebuah surat buat Cinta.. kalo ada yg ketemu sama si Cinta, tolong sampaikan surat ini, makasih.. :D catatan yg pake font italic adalah puisi yang saya kutip dari buku ini.
kesimpulan saya setelah membaca buku ini adalah, tidak ada kesimpulan, review ini hanya wujud kerinduan kebosanan saya saja, saya hanya menuliskan What I learned from this book yaitu puisi ini bisa dibuat jadi surat. (ini termasuk kesimpulan bukan sih.?) terima kasih.
Mungkin aku harus berterima kasih sama mbak Indri dan Panda, karena gara-gara mereka berdua, aku tau buku ini ada. *hadeeh, selama ini kemana saja nduk*
Buku yang mungkin susah-susah gampang didapat, mengingat aku sudah keliling toko buku ternama di Surabaya, niat pisan cari buku ini, tetap gak dapat. Eh, malah dapat di emperan pinggir jalan. Wah, betapa beruntungnya. Emang sih bukan di kota Surabaya. :D
Buku kumpulan puisi dari 17 penyair perempuan Indonesia yang memiliki corak dan warna masing-masing. Berdasarkan kata pengantar dari buku ini, puisi yang disajikan terbagi menjadi 3 ruang. Ruang pertama beraspirasi "kesetaraan". Ruang kedua beralih orientasi pada "perbedaan". Ruang ketiga feminisme dalam konteks globalitas. Ruang tiga ini dengan segala sebutan baru tetap pula masih melanjutkan isu-isu ruang pertama dan kedua.
Membaca puisi ini benar-benar menyihirku untuk terus terpaku dan membacanya. Rangkaian kata yang tak harus berirama tapi menghasilkan deretan kata yang indah.
Aku sangat suka dengan puisi Cok Sawitri yang sangat sederhana namun mengena dan kurang suka dengan puisi Oka Rusmini.
Beberapa bagian dalam puisi ini bisa dibilang merupakan representasi hati. *uhuk* Seperti puisi ini, ingin rasanya kukirimkan padamu.
Aku Ingin Melukismu hal.183
aku ingin melukis wajahmu yang temaram dengan kuasku yang menggeletar rindu di kanvas langit yang memerah akan kubingkai dengan mega senja dan kugantungkan di dinding redup bumi
aku ingin melukis wajahmu yang memijar dengan kuasku yang menggelepar rindu di kanvas bumi yang berembun akan kubingkai dengan bias pagi dan kupampangkan di bentangan biru langit
aku ingin melukismu di kanvas hatiku!
Nenden Lilis A - 1993
atau yang ini,
Warna hal.271
Aku masih memintal bayang : senyummu berenda renda, bersulam sulam, bermanik manik dan payetnya mengilau di permukaan selendang alangkah manis lenggak lenggokku pagi ini bermandi cahaya di kedalaman sukma yang sedang berdendang senang
tak ada yang bisa menebak warna warni selendang itu birukah, merahkah, ungukah karena warna telah menjadi milikku sendiri seperti mandolin yang terpetik di bilik hati tak satupun mendengar dawainya bergetar hanya nada, hanya alunannya membahana
Aku masih mengintai : langkah seksimu sambil mebayangkan suatu saat kau milikku selamanya
Shantined
Peringatan: mambaca puisi ini bisa menambah galau di hati. *menulis rifiu sambil kedinginan di kantor*
Puisi lahir dari sepi. Dan kita tak pernah bertanya untuk apa. Seperti bunga mawar yang tak pernah ditanya untuk apa dia ada. Bunga mawar ada begitu saja tanpa kenapa. Tidak selamanya dalam hidup ada hal-hal yang bisa ditanya untuk apa, apa maksudnya, atau untuk tujuan apa. Tidak semua hal harus penting sebagaimana tidak semua harus ada apa atau kenapa mengapa.
Mereka yang terlalu serius menjalani hidup dengan tekanan rutinitas yang padat dan terlalu tegang biasanya sulit menikmati puisi, apalagi memahaminya. Maka mungkin untuk itulah buku seperti ini ada. “Selendang Pelangi”, judulnya. Kumpulan puisi isinya. Karya 17 penyair perempuan Indonesia.
Kenapa hanya 17? Bisa jadi pertanyaan ini tidak terlalu penting. Kalau pun misalnya hanya 10, maka orang bisa bertanya pula, kenapa hanya 10? Tapi kalau pun “terpaksa” mau dikaitkan dan dicarikan jawabannya, mungkin sengaja dipilih 17 penyair karena angka 17 adalah “angka keramat” atau semacam “nomor cantik“ di negeri ini. Dan bukan kebetulan pula jika kata ‘cantik’ juga identik dengan kaum perempuan. Jadi kenapa 17? Sangat boleh jadi karena dikaitkan dengan hari kemerdekaan negeri ini yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus.
Kenapa pula judulnya “Selendang Pelangi”? Kombinasi dua kata ‘Selendang’ dan ‘Pelangi’ memang membentuk nama yang indah. Rasanya seseorang memang harus terlahir sebagai orang Indonesia untuk memahami betul arti kata ini. Judul “Selendang Pelangi” tentu dipilih bukan tanpa alasan atau kebetulan.
Seperti yang ditulis di sampul belakang dan di pengantar buku ini, selendang adalah atribut perempuan Indonesia yang bisa dipakai untuk menggendong anak kecil sambil mengerjakan pekerjaan rumah, atau membawa jamu gendong untuk dijajakan, membawakan makan untuk suami di sawah, lalu menjadi pelengkap busana resmi pada resepsi di istana. Atau melengkapi gemulai sutra yang melambai menghias pundak selebriti di berbagai acara gemerlap. Selendang adalah pelindung terhadap cuaca tetapi pula terhadap tatapan liar para pria. Selendang dalam berbagai bahan, kasar atau halus, sederhana atau mewah, jelas berdaya guna.
Pelangi di langit adalah lambang harapan dan menghibur kemurungan hati. Permainan antara cahaya matahari dan berjuta-juta prisma titik air menghasilkan lengkungan luas berbagai warna lembut di langit. Tepat kiranya buku ini dinamai “Selendang Pelangi“ karena memuat karya 17 penyair perempuan dengan corak dan warnanya masing-masing.
Dengan 320 halaman dan lebih dari 200 puisi, buku ini bisa dibilang cukup tebal untuk ukuran buku puisi. Dan puisi-puisinya pun cukup bagus, menghimpun sejumlah karya dari nama-nama seperti Isma Sawitri, Toety Heraty, Cok Sawitri, Oka Rusmini, Dorothea Rosa Herliany, Rayani Sriwidodo, Medy Loekito, dan sejumah penyair muda perempuan.
Selain bertema perempuan, tema-tema puisi di dalamnya pun cukup beragam dan memikat kesadaran. Ada tentang cinta, tentang Jakarta, alam, pengalaman hidup, kemanusiaan dan banyak lagi.
Dan hati siapa pula yang takkan meleleh, berbunga-bunga, bila menerima puisi berikut ini dari sang pujaan hati:
Mimpi
Hidup adalah bagian terbaik dari mati Dan kau adalah bagian terbaik dari mimpi
(Isma Sawitri, h. 38)
Terkadang puisi singkat yang lahir dari sepi bisa membuat kita tertegun tanpa kata. Seperti yang berikut ini:
Adalah Adalah
Batin hening di tengah hingar duniawi
Perjalanan adalah perhentian tiada henti
perhentian adalah perjalanan itu sendiri … (Rayani Sriwidodo h. 76)
Di bagian lain ada puisi yang bisa membuat kita tersenyum tulus:
Ada yang Kucinta Pada Jakarta
… Kali pasir, kali multi guna Anugrah khas kota bagi warga tercinta
Lihatlah di hilir Seseorang bersuit ria ke arah gadis itu “Sialan,” sergah si gadis “Lagi ngeden sempat-sempatnya naksir gue”
(Rayani Sriwidodo, h. 83)
Dan melalui puisi akhirnya kita juga tau, meski kematian selalu datang menjemput, perempuan selalu melahirkan kehidupan. Mereka berjuang tanpa henti melawan kodrat alam itu. Mereka tau akan kalah, tapi mereka tetap berjuang. Dan itulah keberanian sejati. Seperti yang ditulis Cok Sawitri di h. 148:
Mereka yang berperang itu perempuan, tuanku … Kematian luruh seperti daun, para perempuan itu berkata: dalam kegelapan kami adalah cahaya … (Pandasurya, Okt’09)
Sayalah si terbang bebas di angkasa untuk temukan diri terikat gravitasi
Sementara yang berpijak yang tak kunjung maklum masih saja ingin menjadi burung
(Rayani Sriwidodo, 1985)
*****
makasih Panda buat bukunya, dan diskusi2 menarik ketika menjelajahi isi buku ini..
Terkadang puisi hanya memberikan arti yang dipahami oleh penulisnya sendiri. Membaca buku ini di keheningan malam akan mengubah diriku yang penceria menjadi sedikit.... mellow..
Dari karya2 tersebut saya paling suka karya2 Cok Sawitri yang sederhana, namun bermakna dalam, seperti dalam kehidupan sehari2, perasaan sehari2, dan tentang memahami hidup. Selain itu, karya Toety Heraty juga sangat kuat rasa keperempuanannya, juga dengan puisi2 bertema Jakarta..
Ada bagian2 dimana saya merasa ditampar, karena seringkali menganggap hidup ini hanyalah permainan belaka, karena belum satu gelombang menghancurkan saya, walau saya tidak ingin itu terjadi.
Penjelajahan, kebebasan, banyak diserukan disini. Tidak menyitir dari sisi feminis, lebih pada kata2 yang halus sehingga tidak sadar agak tersindir.
Selendang Pelangi, judulnya. selendang, salah satu jati diri perempuan, dan pelangi, yang berwarnawarni seperti kehidupan kami, perempuan. 17 penyair perempuan dengan talenta luar biasa membayangi 3 hari saya, menekan seluruh ego untuk sejenak membaca barisbaris kata yang mungkin saja adalah kenangan masa lalu mereka, atau sekadar harapan tentang masa depan yang belum tentu ada. ada kesesakan, ada kisah asmara yang usai bahkan sebelum dimulai, dan ada banyak cerita tentang perempuan yang mungkin terlupa oleh banyak orang. antalogi yang menarik, membuat saya tergiur untuk menulis baitbait lagi. selalu begitu, kadang rindu memang harus dipancing dahulu.