Jump to ratings and reviews
Rate this book

Selendang Pelangi

Rate this book
Kumpulan puisi dari para penyair Indonesia yang mewakili 3 generasi. Mereka Isma Sawitri, Poppy D. Hutagalung, Rayani Sriwidodo, Toeti Heraty Abidah El Khalieqi, Anil Hukma, Cok Sawitri, Dorothea Rosa Herliany, Medy Loekito, Nenden Lilis A., Oka Rusmini, Sirikit Syah, Dina Octaviani, Nur Wahida, Shantinned, Shinta Febriany, Putu Vivi Lestari. Editor dan Kata Pengantar oleh Toeti Heraty.

320 pages, Paperback

First published January 1, 2006

9 people are currently reading
109 people want to read

About the author

Toeti Heraty

35 books13 followers
Toeti Heraty was born in 1933. An outstanding Indonesian poet with a powerful vision she is also a philosopher an art historian and a human rights activist well known for both her opposition to the Suharto regime and for her feminism.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (29%)
4 stars
11 (45%)
3 stars
5 (20%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (4%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Thesunan.
54 reviews20 followers
February 11, 2010
Kepada Cintaku
Di Bumi Allah

Apa kabar Cinta, Semalam kau ada di sini, tebarkan lagi keharuman sepucuk mawar kuning yang hampir mati. Kuncup-kuncup layu merekah sesaat, terimakasih. Seperti haus yang dikenyangkan oleh seteguk air. Wajahku merona semu, hatiku tetap biru. Kau hanya datang lewat mimpi, namun ingatan tentang mimpi itu masih terbayang sampai sekarang. Hidup adalah bagian terbaik dari mati dan Kau adalah bagian terbaik dari mimpi . Tak setiap malam kau mampir ke dalam mimpiku, ketika kau datang hanya sebentar kau mampir, Kau menemuiku bagai cahaya yang melesat , seketika alam di sekitarku padam, aku telah kehilangan waktu untuk abai padamu.
Aku ingin selalu tidur, terpejam dikala malam tiba, namun Lihatlah, malam tidak lagi membuatku terpejam, siang tak lagi membuatku bekerja, pikiranku asyik melukis rasa dada, mata redup tanpa cahaya, dunia tak berarti apa-apa.
Aku selalu terjaga di kala malam tiba, Aku berjaga dengan segelas kopi, oh, siapa tau engkau menyapaku, harapan menusuk hati, benar nyeri. Nyatanya. Aku sendiri taklah mungkin kembali. Semua harus berlalu dan kembali dalam wajah malam. Lalu gerimis mendinginkan luka, membikin bayangan memantul galau di genangan gelas kopi. Dalam riuh angin, sunyi pun di hati, hingga gerimis henti: ingatan membuatku lunglai. Sampai kini, aku masih merasa kau milikku sendiri.

Cintaa,
Andai saja bisa Aku ingin menjadi malam semalam saja supaya dapat kudatangi rumahmu, kuselimuti kau dalam lelap tidurmu dan kukunjungi mimpimu, kuingin tahu, adakah aku di situ. Dan ketika kau buka matamu aku mungkin sudah tiada. Hanya cinta yang membuatmu merasa bahwa aku pernah dan akan selalu ada .

Cintaa,
Bertahun-tahun kita bersama selalu ada cerita indah, Setelah kau pergi, kau terus merampas hatiku, bahkan setelah aku membebaskan mereka menembus kulitku, membuat bekas yang tandus oleh waktu, kau tumbuh kian ganas di nafasku. Dan aku hangus dalam amarah tak putus asamu.
Cinta.. Andai aku bisa memutar waktu dan jika boleh mencintai dengan sungguh, tanpa takut kelak terluka, pastilah sempurna hatiku, jika dapat dicintai sepenuh hati, tanpa membuat terikat seinci, tentulah jiwaku hidup merdeka.

Oooh Cinta
Selalu Ada rasa tentram di setiap ingatan cemas padamu, adakah bayanganku yang tak bergerak di gigir tubuhmu yang rimbun cendawan dan jamur waktu. Dalam jarak dan jalan kusam yang menyatuni helaan nafasku, cemas menepi, diluar jaga didalam angin yang menolak bau tubuhmu. Andai saja engkau tau saat ini aku dipenuhi dengan kerinduan, Aku ingin melukis wajahmu yang temaram dengan kuasku yang menggeletar rindu. Di kanvas langit yang memerah akan kubingkai dengan mega senja dan kugantungkan di dinding redup bumi, Aku ingin melukismu di kanvas hatiku.

Cintaa..
Di Tengah cinta yang luas ini mengapa rasa takut menjangkauku dadaku berdarah dan gemetar tetapi orang-orang menganggapnya CAHAYA. Dengan mata haus kejelasan mereka berbondong-bondong memandangi CAHAYA. Kini yang kupunya rasa malu dan luka-luka ini di atas bumi yang bebas, jiwaku mengapa setiap jalan dipenuhi kerinduan, aku bahkan tak dapat menjangkau DIRIMU yang menerimaku sebagai kegelapan

Cintaa..
Percayalah, tidak ada yang berubah dalam hari-hariku. Aku masih orang yang sama yang menunggu kehadiranmu, masih berharap kamu segera datang menyapa aku, menemani kesepian dan kesendirianku, dan bilang kamu bersedia apabila aku meminangmu. Didalam penantianku akan ku tanam pokok-pokok melati di hatiku dan kuantar bunga-bunganya kepada hatimu

Selamat UlangTahun dan Valentine

Kuningan 10 Februari 2010

Jodoh CIntamu




----------------------------------------------------------------


gara2 review dari Indri dan Panda saya jadi tertarik baca buku ini.. mo menyelami puisi2 di dalam buku ini dan membiarkan diri ini tertohok, atau lebih tepatnya "kasuat2" ahahha

sebuah surat buat Cinta.. kalo ada yg ketemu sama si Cinta, tolong sampaikan surat ini, makasih.. :D
catatan yg pake font italic adalah puisi yang saya kutip dari buku ini.

kesimpulan saya setelah membaca buku ini adalah, tidak ada kesimpulan, review ini hanya wujud kerinduan kebosanan saya saja, saya hanya menuliskan What I learned from this book yaitu puisi ini bisa dibuat jadi surat. (ini termasuk kesimpulan bukan sih.?)
terima kasih.

Profile Image for Rhea.
263 reviews72 followers
June 21, 2011
Mungkin aku harus berterima kasih sama mbak Indri dan Panda, karena gara-gara mereka berdua, aku tau buku ini ada. *hadeeh, selama ini kemana saja nduk*

Buku yang mungkin susah-susah gampang didapat, mengingat aku sudah keliling toko buku ternama di Surabaya, niat pisan cari buku ini, tetap gak dapat. Eh, malah dapat di emperan pinggir jalan. Wah, betapa beruntungnya. Emang sih bukan di kota Surabaya. :D

Buku kumpulan puisi dari 17 penyair perempuan Indonesia yang memiliki corak dan warna masing-masing. Berdasarkan kata pengantar dari buku ini, puisi yang disajikan terbagi menjadi 3 ruang. Ruang pertama beraspirasi "kesetaraan". Ruang kedua beralih orientasi pada "perbedaan". Ruang ketiga feminisme dalam konteks globalitas. Ruang tiga ini dengan segala sebutan baru tetap pula masih melanjutkan isu-isu ruang pertama dan kedua.

Membaca puisi ini benar-benar menyihirku untuk terus terpaku dan membacanya. Rangkaian kata yang tak harus berirama tapi menghasilkan deretan kata yang indah.

Aku sangat suka dengan puisi Cok Sawitri yang sangat sederhana namun mengena dan kurang suka dengan puisi Oka Rusmini.

Beberapa bagian dalam puisi ini bisa dibilang merupakan representasi hati. *uhuk*
Seperti puisi ini, ingin rasanya kukirimkan padamu.

Aku Ingin Melukismu hal.183

aku ingin melukis wajahmu yang temaram
dengan kuasku yang menggeletar rindu
di kanvas langit yang memerah
akan kubingkai dengan mega senja
dan kugantungkan di dinding redup bumi

aku ingin melukis wajahmu yang memijar
dengan kuasku yang menggelepar rindu
di kanvas bumi yang berembun
akan kubingkai dengan bias pagi
dan kupampangkan di bentangan biru langit

aku ingin melukismu
di kanvas hatiku!

Nenden Lilis A - 1993

atau yang ini,


Warna hal.271

Aku masih memintal bayang
: senyummu
berenda renda, bersulam sulam, bermanik manik
dan payetnya mengilau di permukaan selendang
alangkah manis lenggak lenggokku pagi ini
bermandi cahaya
di kedalaman sukma yang sedang berdendang senang

tak ada yang bisa menebak warna warni selendang itu
birukah, merahkah, ungukah
karena warna telah menjadi milikku sendiri
seperti mandolin yang terpetik di bilik hati
tak satupun mendengar dawainya bergetar
hanya nada, hanya alunannya membahana

Aku masih mengintai
: langkah seksimu
sambil mebayangkan suatu saat kau milikku
selamanya

Shantined

Peringatan: mambaca puisi ini bisa menambah galau di hati.
*menulis rifiu sambil kedinginan di kantor*
Profile Image for Pandasurya.
177 reviews119 followers
November 7, 2009
Selendang Pelangi, Selendang Puisi


Puisi lahir dari sepi. Dan kita tak pernah bertanya untuk apa. Seperti bunga mawar yang tak pernah ditanya untuk apa dia ada. Bunga mawar ada begitu saja tanpa kenapa. Tidak selamanya dalam hidup ada hal-hal yang bisa ditanya untuk apa, apa maksudnya, atau untuk tujuan apa. Tidak semua hal harus penting sebagaimana tidak semua harus ada apa atau kenapa mengapa.

Mereka yang terlalu serius menjalani hidup dengan tekanan rutinitas yang padat dan terlalu tegang biasanya sulit menikmati puisi, apalagi memahaminya. Maka mungkin untuk itulah buku seperti ini ada. “Selendang Pelangi”, judulnya. Kumpulan puisi isinya. Karya 17 penyair perempuan Indonesia.

Kenapa hanya 17? Bisa jadi pertanyaan ini tidak terlalu penting. Kalau pun misalnya hanya 10, maka orang bisa bertanya pula, kenapa hanya 10? Tapi kalau pun “terpaksa” mau dikaitkan dan dicarikan jawabannya, mungkin sengaja dipilih 17 penyair karena angka 17 adalah “angka keramat” atau semacam “nomor cantik“ di negeri ini. Dan bukan kebetulan pula jika kata ‘cantik’ juga identik dengan kaum perempuan. Jadi kenapa 17? Sangat boleh jadi karena dikaitkan dengan hari kemerdekaan negeri ini yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus.

Kenapa pula judulnya “Selendang Pelangi”? Kombinasi dua kata ‘Selendang’ dan ‘Pelangi’ memang membentuk nama yang indah. Rasanya seseorang memang harus terlahir sebagai orang Indonesia untuk memahami betul arti kata ini. Judul “Selendang Pelangi” tentu dipilih bukan tanpa alasan atau kebetulan.

Seperti yang ditulis di sampul belakang dan di pengantar buku ini, selendang adalah atribut perempuan Indonesia yang bisa dipakai untuk menggendong anak kecil sambil mengerjakan pekerjaan rumah, atau membawa jamu gendong untuk dijajakan, membawakan makan untuk suami di sawah, lalu menjadi pelengkap busana resmi pada resepsi di istana. Atau melengkapi gemulai sutra yang melambai menghias pundak selebriti di berbagai acara gemerlap. Selendang adalah pelindung terhadap cuaca tetapi pula terhadap tatapan liar para pria. Selendang dalam berbagai bahan, kasar atau halus, sederhana atau mewah, jelas berdaya guna.

Pelangi di langit adalah lambang harapan dan menghibur kemurungan hati. Permainan antara cahaya matahari dan berjuta-juta prisma titik air menghasilkan lengkungan luas berbagai warna lembut di langit. Tepat kiranya buku ini dinamai “Selendang Pelangi“ karena memuat karya 17 penyair perempuan dengan corak dan warnanya masing-masing.

Dengan 320 halaman dan lebih dari 200 puisi, buku ini bisa dibilang cukup tebal untuk ukuran buku puisi. Dan puisi-puisinya pun cukup bagus, menghimpun sejumlah karya dari nama-nama seperti Isma Sawitri, Toety Heraty, Cok Sawitri, Oka Rusmini, Dorothea Rosa Herliany, Rayani Sriwidodo, Medy Loekito, dan sejumah penyair muda perempuan.

Selain bertema perempuan, tema-tema puisi di dalamnya pun cukup beragam dan memikat kesadaran. Ada tentang cinta, tentang Jakarta, alam, pengalaman hidup, kemanusiaan dan banyak lagi.

Dan hati siapa pula yang takkan meleleh, berbunga-bunga, bila menerima puisi berikut ini dari sang pujaan hati:

Mimpi

Hidup adalah bagian terbaik dari mati
Dan kau adalah bagian terbaik dari mimpi

(Isma Sawitri, h. 38)

Terkadang puisi singkat yang lahir dari sepi bisa membuat kita tertegun tanpa kata. Seperti yang berikut ini:

Adalah Adalah

Batin hening
di tengah hingar
duniawi

Perjalanan
adalah perhentian
tiada henti

perhentian
adalah perjalanan
itu sendiri

(Rayani Sriwidodo h. 76)

Di bagian lain ada puisi yang bisa membuat kita tersenyum tulus:

Ada yang Kucinta Pada Jakarta


Kali pasir, kali multi guna
Anugrah khas kota bagi warga tercinta

Lihatlah di hilir
Seseorang bersuit ria ke arah gadis itu
“Sialan,” sergah si gadis
“Lagi ngeden sempat-sempatnya naksir gue”

(Rayani Sriwidodo, h. 83)

Dan melalui puisi akhirnya kita juga tau, meski kematian selalu datang menjemput, perempuan selalu melahirkan kehidupan. Mereka berjuang tanpa henti melawan kodrat alam itu. Mereka tau akan kalah, tapi mereka tetap berjuang. Dan itulah keberanian sejati. Seperti yang ditulis Cok Sawitri di h. 148:

Mereka yang berperang itu perempuan, tuanku

Kematian luruh seperti daun, para perempuan itu
berkata: dalam kegelapan kami adalah cahaya

(Pandasurya, Okt’09)
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
October 12, 2009
a gift : my first poetry book

*****

Kata Burung

Sayalah si terbang bebas di angkasa
untuk temukan diri
terikat gravitasi

Sementara yang berpijak
yang tak kunjung maklum
masih saja ingin menjadi burung

(Rayani Sriwidodo, 1985)

*****

makasih Panda buat bukunya, dan diskusi2 menarik ketika menjelajahi isi buku ini..

Terkadang puisi hanya memberikan arti yang dipahami oleh penulisnya sendiri. Membaca buku ini di keheningan malam akan mengubah diriku yang penceria menjadi sedikit.... mellow..

Dari karya2 tersebut saya paling suka karya2 Cok Sawitri yang sederhana, namun bermakna dalam, seperti dalam kehidupan sehari2, perasaan sehari2, dan tentang memahami hidup. Selain itu, karya Toety Heraty juga sangat kuat rasa keperempuanannya, juga dengan puisi2 bertema Jakarta..

Ada bagian2 dimana saya merasa ditampar, karena seringkali menganggap hidup ini hanyalah permainan belaka, karena belum satu gelombang menghancurkan saya, walau saya tidak ingin itu terjadi.

Penjelajahan, kebebasan, banyak diserukan disini. Tidak menyitir dari sisi feminis, lebih pada kata2 yang halus sehingga tidak sadar agak tersindir.



1 review
August 23, 2022
Good
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for nur'aini  tri wahyuni.
909 reviews30 followers
October 3, 2014
Selendang Pelangi, judulnya. selendang, salah satu jati diri perempuan, dan pelangi, yang berwarnawarni seperti kehidupan kami, perempuan. 17 penyair perempuan dengan talenta luar biasa membayangi 3 hari saya, menekan seluruh ego untuk sejenak membaca barisbaris kata yang mungkin saja adalah kenangan masa lalu mereka, atau sekadar harapan tentang masa depan yang belum tentu ada. ada kesesakan, ada kisah asmara yang usai bahkan sebelum dimulai, dan ada banyak cerita tentang perempuan yang mungkin terlupa oleh banyak orang. antalogi yang menarik, membuat saya tergiur untuk menulis baitbait lagi. selalu begitu, kadang rindu memang harus dipancing dahulu.

Profile Image for Shanti.
1 review1 follower
Read
December 6, 2008
puisi puisi puisi puisi puisi p u i s i.....puisiku ada disini.....
Displaying 1 - 10 of 10 reviews