Merujuk pandangan Prof. Budi Darma (kritikus sastra, Guru Besar Universitas Negeri Surabaya) , ada tiga ciri cerpen Gunawan Maryanto. Pertama, cerpen identik dengan puisi. Kedua, cerpen adalah alusi. Ketiga, cerpen identik dengan dunia asing. Karena cerpen identik dengan puisi, maka cerpen Gunawan Maryanto bertitik berat pada retorika, bukan dua komponen utama dalam cerpen-cerpen tradisional, yakni penokohan dan alur. Cerpen adalah alusi, karena itu sebagian cerpen Gunawan Maryanto berdasarkan teks yang sudah ada sebelumnya, seperti novel, puisi dan penelitian. Bahkan, sebetulnya cerpen Gunawan tidak secara langsung merupakan alusi pun, tidak lepas dari teks-teks yang sudah ada sebelumnya. Retorika cenderung untuk tidak menyentuh realitas yang sebenarnya, sementara alusi adalah teks yang secara tidak langsung diangkat ke dalam teks lain, karena itu jangan heran, cerpen Gunawan Maryanto menawarkan dunia yang asing
Gunawan Maryanto. Bergiat sebagai penulis dan sutradara dari Teater Garasi: Laboratorium Penciptaan Teater. Saat ini menetap di Jogja. Karya-karya tulisnya berupa prosa dan puisi serta kritik seni pertunjukan terpublikasikan lewat Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Bernas, BlockNotProse, BlockNotPoetry, On/Off, Jurnal Kolong Budaya, Jurnal Puisi, Jurnal Prosa, Jurnal Cerpen, Jurnal Kalam dan LeBur Theater Quarterly. Bukunya yang telah terbit adalah Waktu Batu (sastra lakon, ditulis bersama Andri Nur Latif dan Ugoran Prasad, IndonesiaTera 2004), Bon Suwung (kumpulan cerpen, InsistPress 2005, Longlist Khatulistiwa Award 2005) dan Galigi (kumpulan cerpen, Penerbit Koekoesan 2007, LongList Khatulistiwa Award 2007). Pada tahun 2004 puisinya yang berjudul Kupanggil Kau Batu mendapat nominasi Anugrah Sih Award dari Jurnal Puisi dan tahun 2007 puisi Jineman Uler Kambang mendapat Anugrah Budaya dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk Media Cetak dan Elektronik katagori puisi. 1 cerpen dan 3 puisinya masuk ke dalam 20 Cerpen Indonesia Terbaik dan 100 Puisi Indonesia Terbaik Anugerah Sastra Pena Kencana 2008 (PT. Gramedia Pustaka Utama). Juga pernah diundang untuk membacakan karyanya di Bienal Sastra Internasional Utan Kayu 2005 dan Ubud Writers and Readers Festival 2006.
kata-kata adalah dunia. kemudian menjelmalah manusia, bumi, batu, nasib, waktu, juga cerita. kun fayakun. pun tuhan ketika menciptakan dunia butuh kata-kata. kehidupan setelahnya juga butuh. untuk melenyapkan dunia juga butuh kata. wow. dahsyat ya.
sejarah manusia juga penuh kata-kata. mantra, nujum, debat, pun karya sastra: puisi, cerpen, novel. berkhayal pun juga butuh kata-kata. sayangnya, kita mulai lepas dari kekuatan kata. kita lebih percaya 'benda'.
gunmar dalam bon suwung ini mencoba menghadirkan lagi kekuatan kata-kata. tanpa bertujuan untuk menggelar aneka makna di balik tafsir, gunmar saya kira berhasil pada titik tertentu. ketika anda mulai tak tertarik dengan wanita berbikini. anda cukup jatuh cinta kepada kata. menikah dengan kata. dengan mas kawin tanda baca.
saya terpesona melihat cara gunmar menyusun silsilah cerita. penokohan menjadi jalinan runut dan mendalam. semacam puisi panjang tentang sebuah kisah lama. hal ini sekaligus menjadi kelemahan gunmar. butuh nafas panjang untuk membaca cerita dalam buku ini. butuh kesunyian untuk menggenapkan makna. melelahkan. sebaiknya anda membaca buku ini dalam keadaan gembira. agar beberapa pesan kesedihan gunmar dapat anda terima dengan ikhlas.
gunmar berhasil menularkan ketidakpercayaan kepada benda. sebagaimana kita seringkali tak percaya dengan apa yang terucap dari lidah kita.
duh. review gak jelas. jangan percaya sama saya ya. sebaiknya anda buang buku ini deh. sebaga tanda simpatik bahwa korban lapindo masih lebih layak untuk dipikirkan. daripada memusingkan pengrajin kata satu ini.
Saya sedang didongengi. Dengan cerita yang asing bagi saya. Asing dengan keseharian saya. Asing dengan latar belakang budaya saya. Tapi meskipun begitu entah kenapa saya tetap bisa menikmatinya. Walau saya tak mengenal sama sekali nama-nama tokoh yang tersebut dalam “Bon Suwung”. Paling-paling saya hanya tahu nama Kala, Sri, Siwa, itu pun sekadar tahu tapi tak begitu kenal dan memahami kisah masing-masing tokoh tersebut.
Saya sedang didongengi. Oleh seorang paman, ayah, atau kakek yang paham betul bagaimana cara membuat keponakan, anak, atau cucunya menjadi tertarik dengan hal asing yang akan ia kisahkan. Sebagaimana anak kecil di suatu malam menjelang tidur, saya pun larut dalam tutur katanya, dalam suaranya yang berat, dalam dongengnya. Ia begitu pandai membuat saya masuk ke dalam hal baru dan asing bagi saya. Dan saya tidak risih hingga menepis atau menolaknya. Saya melangkahkan kaki dan menjulurkan kepala pelan-pelan, semakin dalam ke dalam ceritanya.
Saya sedang didongengi. Saya merasa tak mampu untuk berkomentar apa-apa.
Saya sedang didongengi. Kadang tentang sesuatu hal yang lain, jauh dari tempat saya hidup dan berada. Kadang tentang diri saya sendiri! Di cerita pertama, Jangan Bilang-Bilang Kala, saya seperti dikisahkan tentang sebuah mitos atas diri saya sendiri. Jangan Bilang-Bilang Kala bercerita tentang awal mulanya pantangan-pantangan yang sering kita dengar dari orang-orang tua, seperti misalnya ‘jangan duduk di depan pintu’. Saya tak tahu apakah itu benar atau hanya mitos. Ah, saya juga tak perlu memikirkan, saya sedang didongengi dan hanya ingin mendengarkan.
Saya sedang didongengi. Sambil berbaring, saya mendengar suara pendongeng itu semakin lama semakin berat. Tapi anehnya, saya tidak mengantuk. Saya terus mendengarkan. Bahkan sampai di akhir dongeng, saya masih mendengar suara. Suara lain, tentang dongeng yang lain.
Saya sedang dindongengi. Saya tak ingin berkomentar, atau lebih tepatnya, saya tak sanggup berkomentar. Sebab saya didongengi tentang hal yang asing. Tapi saya menikmatinya. Saya memang jarang didongengi, atau lebih tepatnya, saya tak pernah didongengi.
Saya sedang didongengi. Ini semacam masa kecil yang kurang bahagia.
Seolah-olah membaca kisah mitos dalam buku-buku sastera tradisional yang pernah aku pelajari dulu. Atau lebih pada kisah dongeng yang berat. Juga perulangan pada hikayat-hikayat lama yang terlalu asing bagi aku. Paling suka; Yu Siti, Bunga Api, Khima dan Bon Suwung.
gaya bahasa cindhil di buku ini sangat berirama. orang mungkin menyebut seperti puisi tapi saya lebih suka menyebut seperti bernyanyi di pementasan teater. atau seperti pembacaan dongeng anak-anak. ya, tulisan-tulisan di dalam buku ini bersuara (halah istilah apa ini).
kisahnya sendiri bertolak dari kisah-kisah legenda (atau mitos?) jawa yang saya yakin didahului dengan riset mendalam. karena bukan hanya semacam varian atau penceritaan ulang (ini saya belum yakin karena saya harus pelajari legenda2 yang bersangkutan terlebih dahulu). bukan macam kisah pelesetan yang banyak dilakukan komik jepang saat ini.
tokoh-tokohnya saling bertautan satu sama lain, membuat buku ini sangat kuat sebagai satu kesatuan (atau juga tulisan-tulisan cindhil yang lain?) karena galigi sempat disebutkan dalam salah satu cerita, hanya selintasan memang.
Serasa memutar ulang waktu, ke masa-masa kecil dulu. Dongeng-dongeng yang sering kudengar diceritakan kembali dengan cara yang sama sekali lain. Bila dahulu dongeng-dongeng itu hidup karena bibir simbah yang tak lelah mendongengkannya, kini dongeng-dongeng itu hidup dengan sendirinya. Tokoh-tokohnya saling bersahutan, membuai pembacanya dalam campuran rasa takjub, gembira, dan tak sabar bagaimana kelanjutan cerita.
Aku menjadi anak kecil saat membaca buku ini, sebagai sebuah kumpulan cerpen terpilih, Bon Suwung menawarkan sebuah realitas yang lain. Kadang jika kita terlalu terbiasa pada dunia, sulit untuk menerima 'dunia lain' yang disajikan oleh Gunawan.
satu lagi, aku kembali jatuh cinta, pada Khima, gadis buta yang memainkan sitar dalam salah satu cerpen ini
Mas Cindhil memang tak pernah mengecewakan. Diksi, rasa, gaya tutur, hingga atmosfir yang dibawanya dalam Bon Suwung membuat saya terbang-terbang sepanjang kisah. Kalau masalah riset mah, saya gak meragukan.